Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > The Condition of Human Sins

The Condition of Human Sins

Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: “Orang benar akan hidup oleh iman.” Sebab murka Allah nyata dari sorga atas segala kefasikan dan kelaliman manusia, yang menindas kebenaran dengan kelaliman. Karena apa yang dapat mereka ketahui tentang Allah nyata bagi mereka, sebab Allah telah menyatakannya kepada mereka. Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih. Sebab sekalipun mereka mengenal Allah, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Allah atau mengucap syukur kepada-Nya. Sebaliknya pikiran mereka menjadi sia-sia dan hati mereka yang bodoh menjadi gelap. Mereka berbuat seolah-olah mereka penuh hikmat, tetapi mereka telah menjadi bodoh. Mereka menggantikan kemuliaan Allah yang tidak fana dengan gambaran yang mirip dengan manusia yang fana, burung-burung, binatang-binatang yang berkaki empat atau binatang-binatang yang menjalar.

Roma 1:16-23

Ada satu pengalaman yang sangat lucu dengan anak saya yang kedua beberapa minggu yang lalu. Dia baru saja pulang les, hari itu dapat hasil ujiannya. Waktu saya bertanya kepada dia, bagaimana hasil ujiannya, dia tidak mau memberitahu dan hanya menjawab, “Papa jangan marah sama saya sebab saya sudah marah kepada diri saya sendiri…” Dengan sendirinya sdr bisa tahu kira-kira dia dapat angka berapa, bukan? Dia tahu dapat angka jelek berarti layak dimarahi, tetapi saya tidak boleh marah karena dia sudah lebih dulu memarahi dirinya sendiri, tidak boleh ditambah lagi. Bolehkah seperti itu? Tentu tidak boleh. Kenapa? Sebab persoalannya kehadiran diri anak saya tidak bisa terlepas dari saya sebagai papanya. Tanpa saya, anak saya tidak ada. Kalau dia muncul dengan sendirinya maka dia bertanggung jawab kepada dirinya sendiri. Tetapi relasi saya dengan dia adalah relasi papa dan anak, sehingga segala sesuatu yang berkaitan dengan dirinya mau tidak mau tetap ada kaitannya dengan saya. “Papa berhak marah kepadamu sebab papa sudah memberi tanggung jawab minta you belajar baik-baik tetapi you tidak belajar. You boleh marah kepada diri sendiri sebab seharusnya you mengerjakan sesuatu dengan baik tetapi ternyata tidak. Papa juga harus menegur sebab papa sudah kasih kesempatan les tetapi you main-main.” Ilustrasi ini hanya ingin memberitahukan kepada kita untuk mengkaitkannya dengan bagaimana relasi Tuhan dengan manusia. Manusia mengatakan, “Hidup saya urusan saya sendiri, saya tidak mau care dengan Tuhan…” Hal seperti itu tidak bisa terjadi sebab walaupun manusia tidak mau mengakui Tuhan yang menciptakannya, kehadiran dia bukan datang dengan sendirinya. Paling tidak ada hubungan relasional dengan orang tua. Kalau ada seorang tertangkap basah mencuri, lalu dia bilang kepada polisi, “Pak polisi jangan hukum saya karena saya sudah menghukum diri saya sendiri.” Tidak bisa, bukan? Dia merasa bersalah, itu adalah satu aspek. Tetapi mengambil barang orang lain sehingga merugikannya ada satu hubungan relasional. Itu sebab dia bersalah bukan saja ‘feel guilty’ tetapi dia juga bersalah di dalam masyarakat. Suka tidak suka, akui atau tidak, kita mengaku harus bertanggung jawab kepada orang lain dan bertanggung jawab kepada Tuhan. Orang menerima pendapat yang pertama yaitu dia bertanggung jawab kepada orang karena orang bisa dilihat, tetapi menolak pendapat yang kedua –bertanggung jawab kepada Tuhan- karena mempertanyakan eksisitensi Tuhan. Maka pertanyaan ini harus mendapat jawabannya dulu: Bagaimana saya tahu Tuhan itu ada? Apa buktinya Dia ada? Namun tidak melihat Tuhan ada tidak berarti kita tidak punya relasi bertanggung jawab kepada Dia.

Saya pakai contoh sederhana lagi. Kita tidak melihat hukum gravitasi, kita boleh bilang kita tidak percaya adanya hukum gravitasi, tetapi sdr dan saya harus akui ada satu hukum relasi kita dengan gravitasi yang tetap berlaku sampai kapanpun. Sehebat-hebatnya ilmu bela diri seseorang, dia tidak bisa jatuh ke atas. Semua jatuh ke bawah. Kita tidak melihatnya tetapi kita memiliki hubungan relasional dengan hukum gravitasi. Hubungan relasional itu menyebabkan kalau saya melanggarnya maka akan ada konsekuensinya. Di dalam relasi kita dengan Tuhan juga seperti itu. Saya tidak memulai eksposisi ini dari ayat 1-15 sebab itu adalah pendahuluan penjelasan Paulus mengapa dia menulis surat kepada mereka. Namun saya akan secara khusus mengeksposisi surat Roma mulai dari ayat 16 dan 17 sebab kedua ayat ini merupakan ayat-ayat yang sangat penting Paulus taruh di depan apa tujuannya menulis surat Roma ini. Paulus berkata, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya” (Rom.1:16).

Surat Roma merupakan satu surat yang sangat penting khususnya bagi Gerakan Reformasi. Martin Luther akhirnya mengalami satu perubahan dan pencerahan pikiran ketika dia membaca Rom.1:17. Inilah kebenaran Allah, kebenaran Allah nyata kepadaku bukan dengan saya mendapatkan kebenaran, bukan karena saya melakukan hal yang benar, tetapi ayat ini mengatakan kebenaran Allah hanya bisa kita dapat terima melalui iman. Bukan melalui apa yang engkau peroleh, bukan melalui apa yang engkau kerjakan dan lakukan, tetapi melalui apa yang engkau terima dengan hanya beriman kepada Tuhan. Kehidupan Gereja pada waktu itu adalah satu kehidupan Gereja yang telah kehilangan konsep anugerah, yang ada ialah kalau engkau mau selamat, bayar dengan uangmu atau lakukan berbagai disiplin rohani. Luther adalah seorang yang ingin punya hubungan yang benar dengan Tuhan. Setiap kali bangun pagi dia rasa hidupnya masih belum beres di hadapan Tuhan. Setiap kali mengaku dosa, dia hanya disuruh berdoa “Bapa Kami” dan berpuasa. Luther merasa semua itu masih belum cukup maka dia melakukannya dengan menaiki tangga gereja yang begitu keras dengan lututnya, dengan berusaha menyiksa diri agar Tuhan merasa kasihan melihat usaha dia seperti itu. Namun sesudah melakukan semua itu tetap dia tidak merasa punya hubungan yang benar dengan Tuhan. Sampai akhirnya dia membaca Rom.1:17 itu, matanya menjadi terbuka dan celik. Kebenaran Tuhan sudah tersedia baginya, tidak perlu melakukan apa-apa. Yang perlu dilakukan hanya satu yaitu menerimanya dengan iman.

Tahun ini menjadi tahun yang khusus membahas keindahan dan pentingnya Reformed Theology. Tanggal 10 Juli 1509 adalah hari kelahiran John Calvin, tepat 500 tahun yang lalu. Martin Luther, John Calvin dan Ulrich Zwingli merupakan tiga tokoh yang sangat penting di dalam Gerakan Reformasi. Reformasi adalah satu keinginan untuk kembali kepada kemurnian ajaran Alkitab dan salah satu kemurnian ajaran Alkitab adalah konsep mengenai sola fide, kita diselamatkan dan dibenarkan oleh Tuhan hanya melalui iman. Sola gratia, bukan melalui apa yang kita lakukan tetapi melalui apa yang Tuhan Yesus sudah lakukan di atas kayu salib dan kita terima itu sebagai anugerah dari Tuhan.

Surat Roma, terutama pasal 1:16-17 memulai dengan inti Injil itu. Sdr perhatikan, ini adalah konsep yang begitu God-centered. Ada tiga kata penting di situ yang semuanya berkaitan dengan Tuhan. Pertama, “the power of God,” Injil itu berkaitan dengan kekuatan Allah. Kedua, Injil itu berkaitan dengan “the righteousness of God.” Injil bukan human-centered. Kekristenan bukan usaha manusia yang mencari Tuhan, bukan the holiness of men di hadapan Tuhan, melainkan sejak awal Paulus sudah memakai dua kata yang agung ini, artinya you bisa selamat atau tidak bukan soal berapa kuatnya iman kita kepada Tuhan tetapi berkaitan dengan the power of God and the righteousness of God.

Setelah itu Paulus pindah topik, yang hari ini akan saya bahas, yaitu mulai dari ayat 18. Di sini Paulus berbicara mengenai satu topik yang negatif. Orang suka ‘the power of God,’ orang suka ‘the righteousness of God,’ tetapi orang tidak suka dengan ‘the wrath of God,’ murka Allah. Maka sdr perhatikan, mulai ayat 18 Paulus tidak lagi bicara tentang anugerah Tuhan, tidak lagi bicara mengenai kebenaran Tuhan, tetapi dia bicara tentang satu konsekuensi negatif pada waktu kita melihat kebenaran Tuhan itu. Intinya adalah kita tidak mungkin akan bisa menghargai betapa indahnya kebenaran Tuhan tanpa sungguh-sungguh kita memahami betapa dahsyatnya murka Tuhan.

Cara penulisan Paulus di dalam surat Roma adalah langsung mulai dengan kesimpulan bagaimana kita bisa memiliki hubungan yang benar dengan Tuhan, starting point keselamatan bukan dari manusia tetapi dari ‘the power of God.’ Kesimpulan kedua, keselamatan itu adalah berkaitan dengan soal ‘the righteousness of God,’ yaitu bagaimana hubungan kita benar dengan Tuhan. Tidak ada hal yang bisa manusia kerjakan. Sesudah itu baru Paulus memulai dengan argumentasinya untuk menunjang bahwa keselamatan itu semata-mata the righteousness of God. Rom.3:9 merupakan kesimpulan dari Rom.1:18 hingga pasal 3 dimana Paulus berargumentasi mengenai dosa untuk membuktikan kalimatnya yaitu semua manusia –baik Yahudi maupun non Yahudi- di hadapan Tuhan semua berdosa. All men, Jews and non Jews are sinners. Pasti orang tidak suka kalau kesimpulan muncul dulu tanpa ada dukungan bukti. Orang menuntut praduga itu harus ada bukti-buktinya. Di sinilah kita melihat keindahan bagaimana Paulus menyusun satu argumentasi di sini. Paulus mulai dengan kalimat ini, Tuhan murka dengan orang yang berdosa tetapi tetap tidak pernah mau mengaku dia berdosa. Banyak orang sudah sakit tetapi tidak mau mengaku sakit dan tidak mau diobati. Bagi saya itu lebih bahaya. Tidak mau mengaku sakit tetap tidak bisa menghilangkan fakta dan realita sakit.

Maka Paulus memulai dengan kalimat ini dan kalimat ini memang tidak enak, “Tuhan murka.” Selanjutnya dia berkata, apakah ada pembenarannya Tuhan itu murka? Maka Rom.1:18ff Paulus memberikan argumentasi Kekristenan bukanlah agama yang selalu mempersalahkan orang, seolah-olah meng-accused orang tanpa dasar. Tuhan itu murka and His wrath is justified. Layaklah Tuhan marah kepada kita. Ada dua hal yang penting muncul di sini. Pertama, orang-orang non Yahudi tidak bisa mempunyai alasan untuk mengatakan bahwa mereka tidak mengenal Tuhan. Tuhan layak marah sebab Tuhan sudah memperlihatkan kemungkinan menyadari ada Tuhan tetapi manusia tidak mau mengakuiNya. Kedua, ketidak-inginan manusia mengakui adanya Tuhan bukan sebab pengenalan akan Tuhan tidak ada tetapi karena manusia menindas kebenaran dan menolak keberadaan Tuhan. Itu sebab Tuhan layak murka, sebab ada hubungan relasional antara Allah dengan manusia.

Kita meninjau dari beberapa sisi apa akibat dari kejatuhan manusia di dalam dosa di dalam realita kehidupan manusia. Ada beberapa akibat yang terjadi. Manusia akan binasa. Manusia dicengkeram oleh Setan, di bawah kontrol dan penguasaan kerajaan kegelapan. Akibat dosa maka kita terbelenggu oleh our sinful nature. Tetapi ada aspek lain yang bagi saya sangat menarik sekali terutama waktu kita melihat Kej.3, ada 4 point muncul di situ. Pertama, terjadi kerusakan relasional antara manusia kepada Tuhan, manusia kepada sesama dan diri, manusia kepada alam. Sebelum jatuh di dalam dosa, manusia mempunyai hubungan relasional yang harmonis. Waktu Tuhan membawa Hawa kepada Adam, Adam mengeluarkan satu kalimat yang sangat romantis, “Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” Kalimat itu mengungkapkan isi hati Adam, “Eve, you are part of my life, my soul mate.” Begitu jatuh di dalam dosa, relasi itu menjadi berubah. Adam mempersalahkan Hawa, demikian seterusnya. Kedua, terjadi kebingungan Epistemologi. Setan tidak usah menipu dan mengajarkan seribu satu macam dosa. Dia hanya memberikan kekacauan epistemologi sehingga manusia sendiri yang menciptakan derivative dosa yang begitu banyak.

Apa itu Epistemologi? Dalam ilmu filsafat secara singkat Epistemologi adalah “how do we know we know?” Sdr bilang bunga itu berwarna merah, maka Epistemologi akan bertanya, how do you know bunga itu merah? Sebab mataku melihat bunga itu merah. Tetapi kalau bunga itu ditaruh di ruangan yang gelap, bukankah warnanya tidak lagi merah?

Pengetahuan sdr datangnya dari mana? Di dalam Epistemologi, pengetahuan itu datang dari 4 jalur. Pertama, saya tahu sebab ada otak saya yang berpikir. Maka sesuatu menjadi benar kalau tidak bertentangan dengan logika Rasional otak saya yang berpikir. Tetapi tidak semua kebenaran itu kita terima dengan otak saja. Bagaimana sdr tahu api itu panas? Dengan pikiran, sampai kapanpun sdr tidak dapat. Kita tahu api itu panas dengan menggunakan indera perasa. Inilah jalur kedua, yaitu pengetahuan itu kita dapat lewat jalur Empiris. Saya tahu sebab saya melihat, saya tahu sebab saya mengecap, saya tahu sebab saya mengalami. Ilmu science adalah ilmu yang dengan sangat ketat menerapkan dua epistemologi ini, rational dan empiris. Dari situ mereka menyusun hukum dan dalil yang berlaku dimanapun sdr berada.

Science akan menerima sesuatu sebagai kebenaran kalau hal itu masuk akal dan bisa dibuktikan secara empiris. Tetapi kebenaran itu bukan hanya melewati dua jalur epistemologi ini sebab ada begitu banyak hal di dalam dunia ini yang kita ketahui tidak melewati dua jalur ini. Salah satu yang paling sederhana adalah epistemologi apa yang dipakai untuk mengetahui bagaimana saya tahu saya jatuh cinta? Kalau sdr menuntut penjelasan yang rasional dan empiris, sdr tidak akan ketemu jawabannya. Seseorang jatuh cinta bukan karena faktor-faktor itu. Kita di sini bertemu dengan jalur epistemologi yang ketiga yaitu Subyektifisme. Manusia punya ratio, manusia punya perasaan, manusia emosi, tetapi ada satu hal yang membedakan manusia dengan binatang, sebab kita adalah satu person yang memiliki free will yang bertanggungjawab. Itulah subyek di dalam diri yang bisa mengenali sesuatu yang melampaui apa yang kita buktikan dan apa yang kita pikirkan. Itulah subyektifisme. Sdr kadang-kadang memakai subyektifisme di dalam memilih dan memutuskan sesuatu. Jalur keempat adalah Autoritarianisme, yaitu ada satu subyek di atas sdr yang memberikan segala sesuatu dan sdr terima itu sebagai kebenaran tanpa sdr pertanyakan. Antara lain, sdr percaya apa yang orang tua sdr katakan itu benar adanya, sdr percaya apa yang hamba Tuhan katakan karena percaya otoritas dia, sdr percaya apa yang guru ajarkan, dsb. Hampir kebanyakan dari seluruh kebenaran yang sdr terima itu adalah dari jalur autoritarianisme dan sdr pasti tidak akan lulus sekolah kalau di kelas terus “ngeyel” waktu guru sedang mengajar, selalu bertanya, “Masa sih? Yang bener?”

Waktu Tuhan bilang kepada manusia, “Jangan makan buah pohon pengetahuan itu karena engkau akan mati nanti.” Apa yang Tuhan katakan adalah kebenaran sepenuhnya dan Dia tidak pernah menjadi sumber ketidakbenaran. Namun Iblis menimbulkan kekacauan epistemologi. Tuhan hanya minta Adam memegang satu epistemologi yang benar yaitu percaya, tetapi akhirnya Iblis mengacaukan sehingga manusia mencari kebenaran dengan epistemologi empiris. Semua yang Tuhan katakan baru terbukti benar atau tidak kalau sudah dicoba dulu. Benarkah engkau akan mati kalau makan buah itu? Jangan percaya dulu, coba dulu. Seluruh pengalaman kegagalan kita di dalam hidup yang berdosa ini berangkat dari kekacauan epistemologi ini, bukan? Kita tidak lagi menggunakan epistemologi ‘Lord, I trust and depend on You.’ Kita selalu minta lihat dan bukti di hadapan Tuhan untuk bisa percaya apa yang Tuhan katakan benar.

Ketiga, akibat kejatuhan manusia di dalam dosa, manusia kehilangan the truth of paradox. Paradox bukanlah hal yang bertentangan, melainkan suatu kebenaran yang tidak bersifat logis sebab akibat seperti cara berpikir kita. Banyak kebenaran paradox yang muncul di dalam Alkitab, misalnya Yesus berkata, “Siapa yang ingin menjadi yang terbesar di dalam Kerajaan Surga haruslah menjadi yang terkecil,” “Siapa yang terus mempertahankan hidupnya, dia akan kehilangannya,” “Siapa yang tidak menyayangkan hidupnya akan mendapatkannya kembali.” Itu semua adalah kebenaran paradox. Kalau kita ikut Tuhan terus menuntut kebenaran logis sebab akibat saja, kita akan menjadi sempit. Orang yang berpikir dia akan disayang Tuhan, diberkati, kalau sehat berarti imanmu beres, kalau engkau sakit berarti ada something’s wrong. Itu semua adalah pikiran sebab akibat. Keempat, akibat dosa terjadi hal yang disebut sebagai self deception. Inilah kebahayaan dosa yang paling besar. Setelah manusia jatuh di dalam dosa, Tuhan mengajukan tiga pertanyaan kepada Adam, tetapi Adam tidak menjawab apa yang Tuhan tanyakan kepadanya. Pertanyaan pertama, “Di manakah engkau?” Adam menjawab, “Setelah mendengar suaraMu aku menjadi takut sehingga aku bersembunyi.” Tuhan selanjutnya bertanya, “Siapa yang memberitahu engkau telanjang? Apakah engkau makan buah itu?” Adam tidak menjawab pertanyaan itu, sebaliknya Adam mempersalahkan Tuhan. Bagi saya ini merupakan point yang penting, di sini saya menafsirnya sebagai the self deception of sin. Adam tidak menjawab tidak berarti Adam tidak tahu jawabannya. Adam tidak menjawab, itu merupakan salah satu cara manusia berdosa untuk menghindari persoalan dan mencari excuse bahwa dia tidak tahu jawabannya. Tidak memberi jawaban tidak berarti manusia tidak tahu. Maka sdr akan mengerti kenapa Paulus di awal surat Roma ini bicara mengenai dosa dengan mengkaitkannya antara murka Tuhan kepada orang berdosa. Kenapa Tuhan marah kepada orang berdosa? Kenapa Tuhan murka? Apa pembenarannya Tuhan marah kepada manusia berdosa? Maka Paulus memberi jawabannya. Pertama, apa yang perlu manusia ketahui tentang Allah itu sudah Tuhan ksih tahu. Manusia tidak menerima itu bukan karena informasinya tidak jelas tetapi manusia menindas kebenaran Tuhan dengan kelaliman. Maka tidak heran waktu kita memberitakan Injil orang bilang “Saya tidak perlu Tuhan. Saya orang yang cukup baik, dsb” Kalimat-kalimat seperti itu adalah kalimat yang bersifat self deception. Kenapa saya mengatakan seperti itu?

Hari ini saya ingin mengajak sdr memperhatikan apa yang Paulus katakan di dalam bagian ini, orang yang berdosa menindas kebenaran dan tidak akan mau mengaku dirinya berdosa. Itulah self deception. Self deception ini akan selalu muncul di dalam kehidupan dan itu membuktikan kita tidak bisa melepaskan relasi kita dengan Tuhan. Tidak heran waktu St. Agustinus bertobat, dia mengeluarkan kalimat ini, “Jiwaku baru bisa tenang pada waktu kembali kepada Tuhan yang menciptakannya.”

Pdt. Effendi Susanto STh.

12 Juli 2009

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: