Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Aman di dalam Tangan Allah

Aman di dalam Tangan Allah

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. Sebab semua orang yang dipilih-Nya dari semula, mereka juga ditentukan-Nya dari semula untuk menjadi serupa dengan gambaran Anak-Nya, supaya Ia, Anak-Nya itu, menjadi yang sulung di antara banyak saudara. Dan mereka yang ditentukan-Nya dari semula, mereka itu juga dipanggil-Nya. Dan mereka yang dipanggil-Nya, mereka itu juga dibenarkan-Nya. Dan mereka yang dibenarkan-Nya, mereka itu juga dimuliakan-Nya. Sebab itu apakah yang akan kita katakan tentang semuanya itu? Jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita? Ia, yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua, bagaimanakah mungkin Ia tidak mengaruniakan segala sesuatu kepada kita bersama-sama dengan Dia? Siapakah yang akan menggugat orang-orang pilihan Allah? Allah, yang membenarkan mereka? Siapakah yang akan menghukum mereka? Kristus Yesus, yang telah mati? Bahkan lebih lagi: yang telah bangkit, yang juga duduk di sebelah kanan Allah, yang malah menjadi Pembela bagi kita? Siapakah yang akan memisahkan kita dari kasih Kristus? Penindasan atau kesesakan atau penganiayaan, atau kelaparan atau ketelanjangan, atau bahaya, atau pedang? Seperti ada tertulis: “Oleh karena Engkau kami ada dalam bahaya maut sepanjang hari, kami telah dianggap sebagai domba-domba sembelihan.” Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Rom.8:28-39

Eksposisi Surat Roma (22)

Bagian Alkitab yang kita baca ini memperlihatkan betapa exciting-nya Paulus menceritakan kasih Tuhan. Ada semacam rantai yang begitu ditarik, di belakangnya ada rantai yang tidak habis-habis muncul. Kasih Allah kepada kita telah memilih kita dari semula, kita dipanggilNya, kita dibenarkanNya, kita dimuliakanNya. Itu sebab tidak mungkin ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus, baik itu penganiayan, penderitaan, segala kesulitan dan kesesakan, bukan saja hal yang bersifat fisik, tetapi kuasa yang di atas dan di bawah, segala kuasa apapun tidak ada yang sanggup bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Mengerti akan hal ini biar kita menjadi orang Kristen yang menjalani hidup sebagai pemenang, the winner, the conqueror. Itu merupakan kalimat-kalimat Paulus yang luar biasa.

Sdr yang suka memancing ikan, bayangkan begitu ada ikan menyangkut di kailmu lalu waktu kau tarik, di belakangnya ikut sepuluh ikan lain. Yang paling membuat saya senang adalah beli satu coral yang kecil dan murah, waktu ditaruh ke dalam aquarium baru tahu di balik coral itu keluar anak udang yang lebih mahal daripada coral-nya. Sdr beli satu barang, setelah beli baru tahu ternyata ada rentetan bonus gratis yang jauh lebih mahal harganya daripada barang itu. Itu merupakan satu kegembiraan yang saya coba ajak sdr membaca bagian ini. Paulus mengekspresikan sukacitanya seperti itu. Apa yang kita peroleh dari Tuhan, di belakangnya memiliki rentetan rantai anugerah yang tidak ada habis-habisnya. Itu sebab bagi saya Rom.8 harus menjadi bagian firman Tuhan yang selalu memberikan kekuatan bagi kita di tengah awan gelap hidup ini, memberikan sukacita untuk kita boleh terus maju menjadi orang Kristen yang mencintai dan mengasihi Tuhan sebab kasih yang Tuhan beri kepada engkau dan saya sulit untuk bisa kita ekspresikan dengan kata-kata, itu sebab kita menemukan reaksi demi reaksi keluar terus dari kalimat Paulus menjadi rantai yang tidak ada habis-habisnya.

Rom.8 ini bicara mengenai beberapa hal yang penting, tetapi Paulus tidak mau bicara mengenai hal itu hanya sebagai sepotong kalimat saja melainkan dia bahas itu semua secara tuntas. Inti sampai Rom.8 sebenarnya Paulus ingin menekankan betapa dahsyatnya benefit dan keuntungan yang kita dapat sebagai hasil dari karya Tuhan Yesus dua ribu tahun yang lalu mati bagi kita di atas kayu salib sebagia penebusan Tuhan yang final bagi engkau dan saya. Kita selamat bukan karena perbuatan baik, kita selamat oleh sebab penebusan Yesus Kristus melalui kematianNya di atas kayu salib. Paulus tidak berhenti sampai di situ karena Paulus kemudian mengajak kita dengan tuntas melihat lebih dalam. Hal yang dia angkat adalah apakah karya keselamatan Tuhan Yesus di atas kayu salib itu merupakan rencana Allah yang “mendadak” ataukah merupakan rencana yang Allah buat sejak kekekalan? Pertanyaan selanjutnya, kalau Yesus sudah menebus kita di atas kayu salib, apakah keselamatan itu bersifat permanen dan tidak akan berubah ataukah mungkin keselamatan itu akan hilang di tengah jalan? Paulus membahas dua aspek itu.

Kekristenan bukan hanya bicara ikut Yesus kita masuk surga. Tetapi Paulus lebih dalam ingin memberikan confident kepada kita karena kadang-kadang kita melewati perjalanan hidup yang kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan bisa membuat kita ragu, bimbang dan gelisah. Hari ini Paulus dengan rantai kalimat ini ingin memberitahukan kita efek dari keselamatan penebusan Tuhan Yesus di atas kayu salib bersifat permanen, tidak berubah dan secure selama-lamanya di dalam hidup kita. Itu yang menjadi kekuatan pada waktu ada ancaman aniaya datang kepada kita, pada waktu hidup kita tersendiri kehilangan segala-galanya, tetap kasih Tuhan tidak pernah berubah.

Sampai di sini, tidak berarti di dalam Kekristenan tidak ada suara yang menolak konsep ‘eternal security’ ini. Khususnya di dalam arus kelompok Arminianism yang dimulai oleh seorang teolog Belanda bernama Jacobus Arminius yang mengatakan memang betul Tuhan menyelamatkan kita tetapi keselamatan itu bisa menjadi tidak permanen di dalam hidup engkau dan saya tergantung apakah kita tetap setia tahan dan tidak menolak Tuhan sampai akhir.

Saya melihat ada hal yang tidak logis di dalam pemikiran dia. Paulus jelas mengatakan, adakah yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus? Tidak ada. Dari kesulitan hidup, penganiayaan, penderitaan, tantangan, hingga kematian, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus. Selanjutnya, kuasa yang ada di bawah, kuasa yang ada di atas, artinya termasuk kuasa si Jahat yang berusaha menarik engkau keluar dari keselamatan Kristus, mungkinkah kuasa-kuasa itu bisa menyebabkan keselamatanmu hilang? Tidak bisa. Kalau begitu, kata Paulus, bisakah Tuhan sendiri yang ‘menyesal’ sudah menyelamatkanmu baru tahu engkau bukan anak Tuhan yang baik, lalu membatalkan keselamatan itu? Paulus bilang, tidak. Bahkan Kristus sendiri tidak bisa menggugat kita, sebaliknya Dia adalah Pembela kita di hadapan Allah selama-lamanya. Mungkinkah Allah sendiri yang kemudian membatalkan sekuritas keselamatanmu? Jawabannya, tidak mungkin.

Maka sekarang tanya kepada kelompok Arminian, kalau begitu masuk akalkah kalau Allah sendiri tidak membatalkan, kuasa kegelapanpun tidak bisa membatalkan, segala realita hidup kita tidak sanggup bisa mencopot kita dari keselamatan itu, pertanyaannya apakah kita sendiri bisa melakukannya dan Tuhan hanya berdiam diri? Satu tanda tanya besar buat saya. Sayangnya pengajaran dari kelompok Arminian ini telah mempengaruhi beberapa teolog di dalam gerakan Metodis dan belakangan mengembangkan holiness movement yang menjadi cikal bakal bagi munculnya gerakan Pentakosta dan Karismatik yang tidak menerima konsep keselamatan Allah yang bersifat secure selama-lamanya. Buat mereka ada kemungkinan keselamatan itu bisa hilang, sehingga keselamatan itu tergantung kepada kita berapa kuat kita bisa setia kepada Tuhan. Jujur, berdasarkan interpretasi atas data-data di Alkitab, pengajaran bahwa keselamatan kita bisa hilang itu terlalu sedikit dan begitu terbatas adanya. Paling tidak mereka berangkat dari dua dasar argumentasi. Yang pertama, berdasarkan pengalaman yang mereka lihat di dalam hidup sehari-hari, ada orang yang sudah dibaptis, sudah ikut melayani, tahu-tahu meninggalkan imannya. Tidak usah cari jauh-jauh, dari dua belas murid Yesus saja ada satu yang seperti itu, yaitu Yudas Iskariot. Dia bukan saja ikut Tuhan, sudah melayani, bahkan bisa mengusir Setan, dsb tetapi pada akhirnya dia menjadi murtad dan binasa, berarti ini membuktikan tidak menjadi jaminan orang yang sudah mengakui Yesus, sudah menjadi Kristen, bisa selamat sampai akhir. Pengalaman di dalam dunia modern juga kita bertemu bukan saja orang Kristen biasa, bukan saja orang yang sudah melayani Tuhan, tetapi bahkan ada orang yang sudah menjadi pendeta, sudah naik mimbar, sudah melayani, tetapi akhirnya meninggalkan Tuhan. Pengalaman sehari-hari kita menemukan ada orang-orang yang seperti itu. Yang kedua, Ibr.6:4-6 sering menjadi argumentasi dari kelompok ini. Ayat 6 bicara mengenai fakta realita yang dilakukan oleh sebagian orang yang pernah mengaku sebagai orang Kristen yaitu di depan umum kemudian menyangkal Tuhan dan tidak lagi menjadi orang Kristen. Pertanyaan yang lebih dalam adalah: benarkah mereka dari awalnya sungguh-sungguh orang Kristen, atau orang yang sudah mengalami kelahiran baru yang sejati? Nampaknya, penulis Ibrani sendiri memberikan ‘question mark,’ indikasinya karena dia menggunakan beberapa kata yang agak sedikit memberikan kesan ini. Dua kali dia menyebut kata “mengecap” dalam bagian ini. Kata “mengecap” adalah kata yang penting untuk menyatakan seseorang melakukan sesuatu tetapi tidak berarti menerimanya dengan sungguh-sungguh. Contoh, pada waktu di atas kayu salib seseorang memberikan anggur asam ke mulut Yesus, maka Yesus hanya “mengecap”-nya tetapi kemudian menolaknya. Jadi “mengecap” berarti tindakan yang seolah-olah kelihatan menerima tetapi tidak menerima dengan sungguh-sungguh. Penulis Ibrani dua kali menyebut orang-orang ini “mengecap” firman Tuhan yang baik, “mengecap” karunia Allah, namun kemudian mereka murtad. Ini indikasi dari penulis Ibrani, secara yang kelihatan mereka melakukan semua itu menunjukkan memang mereka adalah orang Kristen tetapi apakah mereka sungguh-sungguh orang Kristen sejati, dia meragukannya. Yang kedua, penulis Ibrani langsung memberikan perbedaan bicara mengenai orang-orang ini sebagai “mereka” dengan kata ganti orang ketiga jamak dalam bagian ini. Berarti dia memisahkan diri tidak termasuk kepada mereka, dan dia memisahkan penerima suratnya juga tidak termasuk kepada mereka. Pada ayat-ayat selanjutnya baru penulis Ibrani meng-include penerima suratnya sebagai kelompok yang dia sebut “kita” (ayat 19)”our hope is strong and safe.” Pengharapan kita kepada Tuhan itu kuat dan aman seperti jangkar kapal yang dilabuhkan kepada batu karang yang kokoh yaitu Yesus Kristus sendiri.

Maka selebih dari itu kita akan menemukan keindahan demi keindahan firman Tuhan selalu memberikan kemenangan, sukacita, janji dan penghiburan kepada engkau dan saya bicara begitu terang di sini, cinta kasih Tuhan begitu indah. Keselamatan itu bersifat secure, aman dan kokoh adanya. Bagaimana kita tahu, bagaimana kita membuktikan bahwa keselamatan itu kokoh? Semua orang yang lahir baru sejati pasti akan terpelihara imannya sampai akhir. Sebaliknya, orang yang terpelihara imannya sampai akhir membuktikan dia adalah orang lahir baru sejati. Iman kita bisa terpelihara sampai akhir bukan tergantung berapa kuatnya iman itu, berapa teguhnya, karena sesungguhnya iman kita mudah sekali goyah terkena goncangan gelombang, ketakutan dan keraguan. Tetapi sekuritas iman kita berada di tangan Tuhan yang kuat dan perkasa. Beberapa ayat, Yoh.10:28-29 ”…mereka tidak akan binasa selama-lamanya dan seorangpun tidak dapat merebut mereka dari tangan Bapa.” Keselamatan kita kekal karena keselamatan itu ada di dalam tangan Bapa yang besar dan perkasa, lebih besar daripada siapapun. Tidak ada siapapun yang bisa merebutnya dari tangan Bapa. Sdr juga bisa membaca satu ayat lagi dari Yoh.6:39-40. Dua ayat ini saja sudah jelas memberikan kepada kita kekuatan yang dahsyat bagaimana benefit dari penebusan Kristus di atas kayu salib bersifat kekal dan bersifat permanen di dalam hidup engkau dan saya. Tetapi orang yang terpelihara imannya sampai akhir itu memberikan indikasi kepada kita memang betul he is a true born again Christian. Jangan heran, waktu Paulus menulis suratnya sudah ada indikasi di dalam gereja yang kelihatan sebagai kumpulan orang yang berbakti di dalam satu komunitas tidak berarti semua adalah saudara sejati, tidak berarti semua adalah a true born again Christian. Ada beberapa ayat penting di antaranya 1 Yoh.2:19 “memang mereka berasal dari antara kita tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk kepada kita sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk kita niscaya mereka tetap bersama-sama kita…” Apa buktinya seseorang adalah orang lahir baru sejati? Buktinya adalah dia akan tetap setia. Maka Tuhan Yesus pernah berkata engkau adalah murid-muridKu jika engkau tetap tinggal di dalam firmanKu. Namun bukan karena kita takut kehilangan keselamatan itu maka kita terus berusaha tinggal di dalam firman Tuhan tetapi karena orang yang lahir baru sejati memang memiliki attitude sikap hatinya memperlihatkan kerinduan untuk terus-menerus bertumbuh menjadi orang Kristen yang sampai akhir setia kepada Tuhan. Kita tidak perlu heran secara kelihatan jelas di tengah-tengah gereja Tuhan yang kelihatan ada orang-orang yang pergi berbakti namun tidak semua sesungguhnya belong to us, kata rasul Yohanes.

Sampai di sini kita menemukan ada garis yang sangat tipis sekali menunjukkan seseorang itu betul-betul orang Kristen yang sejati yaitu dia setia sampai akhir. Hanya itu bukti yang bisa kita lihat. Tetapi Alkitab memberikan satu hal yang penting bagaimana orang itu bereaksi jujur kepada Tuhan mengenai imannya, hanya orang itu dan Tuhan saja yang tahu. Dalam 2 Kor.13:5 Paulus menyuruh kita untuk menguji diri sendiri pribadi lepas pribadi apakah kit a truly born again Christian karena kita tidak punya tanda eksternal yang memperlihatkannya. Tetapi kita bisa menyelidiki diri kita sendiri dan bisa memiliki pengetahuan itu, apakah kita beriman sejati kepada Kristus, pernahkah mengundang Yesus tinggal di dalam hati kita. Kalau tida, sehebat-hebatnya orang itu memperlihatkan hal-hal eksternal seolah-olah dia adalah milik Tuhan, someday semua itu akan collapse. Maka kembali lagi kepada prinsip ini, sampai akhir hidup seseorang dengan tekun setia mengikut Tuhan sampai akhir, itu yang menjadi bukti bahwa dia adalah sungguh-sungguh milik Tuhan.

Dia yang sungguh-sungguh beriman dan percaya Kristus mendapatkan satu jaminan sukacita Tuhan pelihara, Tuhan jaga, Tuhan akan terus sertai bagaimana keselamatan itu menjadi keselamatan yang permanen tidak pernah berubah di dalam hidup kita. Mengapa selain faktor kesulitan, penganiayaan, tantangan bisa menyebabkan kita seperti ‘domba sembelihan’ menurut istilah Paulus, karena percaya Tuhan menyebabkan hal itu, artinya saya ingatkan jaman itu seseorang menjadi Kristen tidak semudah resiko kita skearang mengikut Tuhan. Kalimat Paulus, ‘barangsiapa mengaku Yesus sebagai Tuhan maka dia akan diselamatkan’ bukan hanya dalam konteks kita mengatakan hal itu di dalam doa pertobatan kita tetapi sebagai satu pengakuan yang dengan berani confess di dalam kerajaan Romawi yang menjadikan caesar sebagai satu-satunya tuhan mereka. Sehingga pengakuan itu memiliki resiko yang berat sekali konsekuensinya seperti domba yang siap dan rela dibawa ke pembantaian mati demi iman kepada Yesus Kristus. Mungkin kesulitan hidup, tantangan di dalam ekonomi menyebabkan orang lari meninggalkan Tuhan. Banyak yang lari mungkin karena waktu menjadi orang Kristen dia diiming-imingi dengan asumsi salah menjadi orang Kristen. Tawaran-tawaran bahwa menjadi orang Kristen akan diberkati, diberi kelancaran, kesuksesan, kekayaan, kesembuhan, semua itu kita pikir akan menjadi iklan mujarab membuat orang mau percaya Tuhan, tetapi justru akhirnya dengan konsepsi itu orang menjadi kecewa waktu hal-hal itu tidak terjadi di dalam hidupnya. Iman yang didasarkan oleh konsep yang keliru adalah iman yang berbahaya.

Yang kedua, kenapa kita perlu memegang konsep eternal security itu kuat-kuat di dalam hidup kita? Sekarang Paulus bicara soal pada waktu di atas tahta Allah ada Kristus yang menjadi Pembela kita, membela iman kita, Dia yang terus berdoa di hadapan Allah. Saya percaya Paulus mengingatkan akan hal ini karena Setan selalu berusaha melakukan rongrongan di dalam hati kita dengan meng-accused kita sebagai orang berdosa yang tidak layak di hadapan Tuhan. Saya sudah pernah menjelaskan mengapa Roh Kudus selalu bersaksi bersama-sama kita bahwa kita adalah anak-anak Allah (Rom.8:16) yaitu karena saya percaya di dalam hati seorang yang ikut Tuhan ada dua suara lain yang selalu muncul selain suara Roh Kudus yang selalu confirm bahwa engkau adalah anak Allah, sekalipun engkau mengecewakan Tuhan dengan hidup tidak setia dan kurang taat kepadaNya. Tetapi ada suara lain yaitu suara hati nurani yang guilty dan kemudian kompromi dengan kelemahan kita sehingga tidak maju-maju menolak dosa, tidak berani hidup lebih suci dengan konsekuensi pengorbanan yang lebih besar dan selalu men-discourage kita untuk tidak menjadi orang Kristen yang whole-heartedly ikut Tuhan. Jadi orang Kristen yang “sedang-sedang” saja, tidak perlu terlalu suci. Suara yang satu lagi adalah suara Setan yang selalu accused, selalu membesar-besarkan dosa dan kesalahan kita seolah-olah kita sudah tidak punya pengharapan akan pengampunan Tuhan lagi. Suara itu menyuruh kita keluar dari gereja, meninggalkan Tuhan karena kita dituduhnya sebagai orang yang munafik. Suara itu menyuruh kita untuk melarikan diri dari Tuhan. Tuhan sudah tidak sayang kepada kita, itu suara Setan yang menuduh kita. Paulus mengingatkan kita, tidak ada yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus, bahkan Kristus sekalipun karena Dia adalah Pembela kita yang senantiasa membela kita dari segala accusation dari si Setan. Betapa indah kalimat ini, fakta penebusan Kristus menjadi penebusan kekal bagi kita dan hari demi hari Dia terus menjadi Pembela kita. Mengapa? Sebab kita sering lari menjauh dari Dia karena merasa tidak layak. Tuhan bilang, jangan lari. Balik kembali kepadaKu. Suara Roh Kudus selalu berkata, engkau adalah anak Allah.

Saya begitu terharu, Rom.8 ini ditulis ditutup oleh seorang hamba Tuhan yang menjalani pelayanannya penuh dengan tantangan, kesulitan dan air mata. Dia sudah pernah didera tiga kali dengan deraan yang sangat menyakitkan, dia pernah dirajam dilempari batu sampai hampir mati. Kapalnya pernah karam. Penderitaan fisik yang dia alami begitu berat dan luar biasa. Tetapi semua itu tidak pernah menyurutkan hatinya mengasihi Tuhan sebab dia tahu kasih Tuhan teruji dan terbukti begitu limpah sampai selama-lamanya. Dia tahu ada si Jahat yang selalu berusaha menyeret, menipu dan menuduh kita untuk menjauh dari Tuhan, tetapi Paulus mengingatkan kita, kita memiliki Kristus yang terus menjadi Pembela kita selama-lamanya. Maka kalimat-kalimat ini ditulis Paulus menjadi satu rangkaian kemenangan orang Kristen, jalani hidupmu more than conqueror. Hidup maju terus, hidup bertumbuh terus, hidup berjuang terus menjadi orang Kristen karena di situ membuktikan you are a true born again Christian. Saya harap ini boleh menjadi kekuatan yang mendorong kita, memberikan kekuatan untuk setiap hari ikut Tuhan terus-menerus maju dan bertumbuh. Rasakan sukacita Paulus ini dengan hati yang sama, nikmati perasaan joyful itu. Mari kita mencintai dan melayani Tuhan juga dengan hati yang seperti itu. Semakin kita melakukannya kita akan menemukan keindahan demi keindahan muncul darinya. Biar kemenangan ini menjadi nyata di dalam perjalanan iman kita, biar kita setia dan tekun dan sabar menjalani hidup Kristen kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

21 Februari 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: