Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > KebaikanNya yang Tersembunyi

KebaikanNya yang Tersembunyi

Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Rom.8:28

Eksposisi Surat Roma (23)

Sdr yang suka mempelajari cara mesin bekerja di dalam jam otomatik akan menemukan bagaimana mesin itu bekerja dengan unik sekali. Jam itu berputar karena ada per di dalam yang terus berputar. Tetapi ada satu hal yang sangat unik sekali, jam itu pasti akan jalan dengan baik karena selain ada mesin yang berputar secara ‘clockwise’ pasti ada bagian roda gigi yang berputar ‘anti-clockwise.’ Tidak ada mesin yang dibuat semuanya berputar maju searah jarum jam karena kalau dibuat semua seperti itu, mesin itu pasti tidak jalan. Sdr yang belajar mekanik pasti tahu akan hal ini, yaitu satu mesin akan berjalan karena ada satu roda yang berputar melawan arah barulah mesin itu akan berjalan indah dan harmonis.

Hidup Kekristenan kita saya percaya boleh diilustrasikan seperti jam. Ada roda-roda gigi yang Tuhan putar menuju ke depan, membuat hidup kita maju, membuat hidup kita bertumbuh. Tetapi unik sekali, kadang-kadang Tuhan harus memberi kepada kita satu mesin yang berputar mundur ke belakang, yang mungkin menciptakan kesulitan, kegagalan kepada kita. Tetapi pada waktu kita lihat semua itu dari jauh, baru kita lihat betapa indahnya hidup itu berjalan dengan harmonis karena memerlukan dua movement itu di dalamnya. Rom.8:28 berbicara mengenai bagaimana Tuhan menenun mengatur secara harmonis bukan saja hal-hal yang indah dan baik yang menyukakan kita datang menciptakan kebaikan, tetapi di dalam segala sesuatu Tuhan bekerja mendatangkan kebaikan bagi orang-orang yang mengasihi Dia.

Saya tidak pernah melupakan pengalaman memori bertemu dengan seorang ibu beberapa tahun yang lalu. Waktu itu saya pulang ke kampung halaman saya dalam rangka memperingati 100 hari kematian papa saya. Di dalam kebaktian itu hadir seorang ibu yang sudah saya kenal sejak waktu saya masih kecil. Saya senang sekali mengetahui bahwa ibu itu sudah menjadi Kristen dan percaya Tuhan. Saya tahu dia mempunyai seorang anak perempuan yang kira-kira usianya sama dengan saya. Yang menyedihkan adalah anak perempuan itu lahir cacat mental sehingga sampai usia dewasa dia tetap harus dirawat seperti bayi oleh ibunya. Anak ini tidak bisa dilepas untuk independen karena dia tidak mampu merawat dirinya sendiri, bahkan mengganti baju, mandi, apapun, harus terus ditolong oleh ibunya. Kita mungkin bisa bertanya kepada Tuhan, dimana kita bisa menemukan keindahan dan kebaikan melalui apa yang dialami oleh dia. Kalau kita sakit sementara, kalau kita gagal sementara, kegagalan itu mungkin tidak bersifat permanen di dalam hidup kita. Tetapi jikalau kesulitan dan kegagalan itu terus menjadi sesuatu yang bersifat permanen, kita akan bertanya dimana kebaikan Tuhan di situ. Namun saya sangat terkejut sebab bukan itu pertanyaan yang ibu ini ajukan kepada Tuhan. Dia tidak mengeluhkan betapa susah dan sulitnya apa yang selama ini dia alami. Saya tidak menemukan setitikpun kekecewaan pada dirinya. Saya tidak menemukan pertanyaan “Why, God?” muncul dari mulutnya. Tetapi dia hanya menyatakan kekuatiran nanti kalau dia meninggal, siapa yang akan merawat anak dia.

Itu sebab mari kita lihat beberapa hal yang sangat unik dari Rom.8:28 ini. Yang pertama, Paulus mulai dengan kalimat, “kita tahu.” Paulus bukan bilang “kita buktikan Allah itu baik di dalam hidup kita,” melainkan kata ini yang dia pakai, “kita tahu.” Banyak orang tidak mau percaya Tuhan sebab mereka berangkat dengan epistemologi ini, melalui eksperimen dan melalui ratio. Kalau hal itu bisa masuk akal saya, baru saya terima itu menjadi kebenaran. Kalau saya bisa lihat dan buktikan, eksperimen dengan mata dan telingaku, baru saya terima itu sebagai kebenaran. Maka pada waktu kita masuk ke dalam realita Tuhan menyertai, memimpin dan membentuk hidup kita, kita mungkin akan kecewa menggunakan cara itu sebab memang bukan cara itu yang kita pakai. Bagi Paulus mungkin kita tidak lihat, mungkin kita tidak buktikan, tetapi kita tahu Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu.

Di dalam buku “The Problem of Pain,” C.S. Lewis mengatakan kalau saya tidak melihat kebaikan Tuhan di dalam pengalaman hidupku yang begitu pahit hingga sampai mati, saya tetap tidak punya hak untuk mengatakan Tuhan itu tidak baik. Saya tidak punya hak mengukur kebaikan Tuhan berdasarkan hidupku yang hanya 70 tahun. Sebelum saya lahir saya tidak punya pengetahuan akan kebaikan Tuhan, sesudah saya matipun saya tidak tahu kebaikan Tuhan. Bagaimana dengan umurku yang hanya 70 tahun saya boleh punya hak menilai kebaikan Tuhan? Itu sebab bila sampai matipun saya tidak menemukan kebaikan dalam hidupku tetap saya tidak boleh mengatakan Tuhan itu tidak baik. Itu sebab Paulus memulai ayat ini dengan kalimat “kita tahu…” itu adalah satu conviction of faith.

Aspek yang kedua saya angkat dari Rom.8:28 ini adalah Tuhan bekerja untuk kebaikan siapa? Ayat ini bilang Tuhan bekerja untuk kebaikan mereka yang mengasihi Dia. Berarti ini untuk kebaikan engkau dan saya. Tetapi standar kebaikan siapa? Jawabannya, bukan standar kebaikan kita yang menjadi ukuran di sini. Ini yang sering menjadi gap di dalam pemahaman kita bagaimana melihat kebaikan itu. Di situlah maka bisa terjadi clash antara Tuhan bilang ini adalah kebaikan tetapi kita bilang ini bukan kebaikan. Maka bukan tidak ada kebaikan. Ayat ini jelas bilang: for your goodness. Tetapi yang menjadi problem kita adalah bagaimana kita menaruh standar apa itu yang namanya kebaikan. Maka kita harus belajar dengan rendah hati untuk menilai sebab kelemahan kita menilai adalah karena kita selalu berpikir kalau hidup kita lancar, sukses dan baik, tidak ada sakit-penyakit, dsb itu yang kita namakan kebaikan. Kalau setiap hari kita jalani Tuhan terus memimpin, menyertai dan memberkati itu yang kita namakan kebaikan. Tetapi kalau kita mengalami hal-hal yang menurut kita tidak sepatutnya terjadi di dalam hidupku maka kita bilang itu bukan kebaikan. Itu adalah kebaikan menurut standar manusia. Ayat ini bilang Tuhan mendatangkan kebaikan di dalam segala sesuatu. Apakah dosa juga termasuk di dalamnya? Apakah decision yang salah yang kita buat juga termasuk di dalamnya? Apakah ketidak-hadiran Tuhan di dalam hidup kita juga termasuk di dalamnya? Apa arti kata “segala sesuatu” itu? Segala sesuatu berarti semuanya, bukan? Maka ada 3 hal yang mungkin harus kita tanyakan baik-baik: bagaimana standar kebaikan Tuhan itu? Di dalam segala sesuatu, termasuk di dalam kesulitan yang terjadi di dalam hidup sehari-hari kita, Tuhan bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita. Yang kedua, di dalam yang saya sebut sebagai pergumulan rohani yang luar biasa terjadi yaitu ketika Tuhan ‘diserse’ dari hidup kita, when God is silent in your life, itupun termasuk di dalam segala sesuatu. Yang ketiga, di dalam keputusan yang salah, di dalam langkah kita yang tidak obey kepada Tuhan, di dalam kitapun berbuat dosa, tidak berarti Tuhan setuju akan hal itu tetapi tidak berarti Tuhan di luar kontrol dan tidak bisa merubahnya menjadi kebaikan bagi kita.

Alkitab memberikan beberapa ayat-ayat penting memperlihatkan bagaimana segala kesulitan dan tantangan yang ada di dalam hidup kita bekerja mendatangkan kebaikan bagi kita. Yang pertama, Ul.8:2 Tuhan “sengaja” membuat bangsa Israel melewati segala kesulitan selama 40 tahun berada di padang gurun mendatangkan kebaikan pada akhirnya mereka menengok ke belakang, yaitu Tuhan mendidik mereka untuk rendah hati. Dimana kebaikan dari semua kejadian itu? Semua itu Tuhan lakukan untuk mendatangkan a humble heart di dalam hati kita. Hati yang rendah di hadapan Tuhan karena kita sadar dan kita tahu betapa kita bergantung sepenuhnya kepada Tuhan. Kadang-kadang di tengah hidup yang kita bisa kontrol, kita bisa atur, kita bisa planning, kita kadang-kadang lupa, seolah-olah kitalah yang menjadi pemilik tunggal seluruh hidup kita. Tetapi pada saat Tuhan memberikan ijin ada hal-hal yang tidak bisa kita kontrol, hal-hal di luar planning kita, bersentuhan dengan kehidupan kita, bagaimana kita bereaksi di situ? Tuhan hanya minta kita bereaksi dengan satu hal: belajar rendah hati. Belajar rendah hati berarti tahu posisiku di hadapanNya, aku dicipta oleh Dia, Dia adalah Pencipta hidupku. Belajar rendah hati berarti tahu dimana letak saya di dalam relasi yang benar dengan Tuhan. Kadang-kadang di tengah kesuksesan kita akan berjalan datar. Tetapi sdr dan saya harus mengakui kadang-kadang pada waktu kita mengalami kesulitan dan setelah melewatinya kita bersyukur kepada Tuhan karena di situ Tuhan justru memberikan hal yang luar biasa indah kepada kita. Mari kita lihat perjalanan bangsa Israel selama 40 tahun ini dengan satu kalimat yang bagus yang Tuhan pakai di dalam Kel.13:17-18, “Allah menuntun bangsa itu jalan berputar di padang gurun…” Jalan yang satu lebih pintas, lebih cepat, cuma ada kesulitanya yiatu mereka akan menghadapi peperangan yang dahsyat. Tetapi tidak berarti jalan di padang gurun tidak ada tantangan kesulitan. Namun Tuhan tidak mau menuntun di jalan yang cepat karena mungkin burden tantangan yang dialami tidak sanggup dihadapi oleh bangsa Israel. Maka jalan berputar adalah jalan yang lebih baik. Tetapi jalan berputar tidak sama dengan jalan berputar-putar. Yang berputar-putar adalah orang yang tidak ‘ngeh, sudah dikasih tahu, sudah diajar dan diberi pendidikan, terus mengulang kesalahan yang sama. Orang yang hidupnya tidak pernah maju, itu namanya berputar-putar. Tidak tahukemana arah dan tujuan hidupnya, itu namanya berputar-putar. Berputar adalah suatu momen sementara dalam hidupmu yang terjadi tujuannya bukan supaya you kehilangan arah, tetapi mungkin ditarik lebih jauh sedikit, diarahkan kepada sesuatu yang tidak mudah, tetapi setelah sdr lihat ke belakang sdr bisa bersyukur Tuhan memberimu kemungkinan seperti itu. Berputar bisa berarti anda tidak naik kelas. Berputar bisa berarti yang you inginkan tidak tercapai. Sudah bid rumah tidak dapat, lalu sdr kesal dan pikir hanya itu rumah yang terindah dan terbaik. Setelah lewat baru sdr tahu rumah yang sdr beli sekarang adalah memang anugerah dan berkat Tuhan bagimu. Banyak hal kita harus belajar tenang, belajar sabar, kalau memang bukan waktu Tuhan kita pasrah. Kenapa? Karena di situ kita belajar, we are only God’s servants, He is the Lord of my life. Tuhan ijinkan kadang-kadang hidupmu berputar, mengalami sesuatu hingga terhambat beberapa waktu lamanya demi satu tujuan yaitu kita belajar rendah hati kepada Dia.

Yang kedua, apa maksud dan tujuan Tuhan melalui kesulitan hidup kita? Apa goodness yang akhirnya kita belajar daripadanya? Kita belajar mengenali ini yang namanya dosa yang tidak menyukakan hati Tuhan. Pada waktu ada kesulitan datang kepada kita, ada tantangan datang kepada kita, kita harus berhenti sejenak bertanya di dalam hati kita, Tuhan, saya mengalami seperti ini apa yang saya belajar darinya? Apakah saya cepat-cepat harus mengenali apakah ini adalah dosa yang tidak menyukakan hati Tuhan? Kadang-kadang Tuhan jewer telinga kita. Kadang-kadang Tuhan pukul kehidupan kita dengan satu tujuan cepat-cepat kita sadar ini tidak menyukakan hati Tuhan.

Yang ketiga, Tuhan Yesus memberikan ilustrasi hidup kita ini seperti ranting di satu pohon anggur yang harus dibersihkan sehingga lebih berbuah (Yoh.15:2). Apa tujuan Tuhan melalui ‘pruning’ yang muncul? Yaitu menjadi obat untuk lebih menyehatkan iman kita. Tuhan itu kadang-kadang saya begitu kagum menciptakan dunia ini. Banyak sekali tanaman yang sdr makan makin pahit itu makin sehat. Kalau sdr terus digigit nyamuk, belajar makan pare. Atau belajar makan daun pepaya yang pahitnya minta ampun tetapi di baliknya mendatangkan keindahan kesehatan bagi kita. Ada begitu banyak hal yang kita belajar dari wisdom nature yang Tuhan ciptakan. Tidak selamanya kebaikan itu harus datang bersifat supranatural dalam hidup kita. Tuhan bekerja melalui hal-hal yang natural di atas muka bumi ini, kita belajar banyak hal. Semua makanan yang enak dan manis masuk ke dalam mulut kita tetapi enak di kantong dokter juga waktu sdr sakit. Obat itu menyehatkan iman kita kata Amsal.

Yang keempat, dalam Mzm.119:67, pemazmur bersyukur kepada Tuhan, before I’ve been afflicted, I went astray. Sebelum kesulitan dan penindasan dan hal-hal yang menjepit di dalam hidupku, aku tidak sadar hidupku itu sudah jauh dan lari dari Tuhan. Itu sebab puji Tuhan, melalui hal itu aku kembali kepada Tuhan. Di sinilah kebaikan Tuhan terjadi melalui kesulitan yang ada. Dia membuat kita lebih mendekat dan lebih mencari Tuhan. Kebaikan yang terselubung yang terjadi pada diri engkau dan saya justru terjadi ketika kita sadar betapa lemah dan kecilnya hidup kita ketika kita mengalami kesulitan kita bisa datang dan lari mendekat kepada Tuhan.

Yang kelima, apa yang kita belajar dari kesulitan yang mendatangkan kebaikan? Sdr justru akan menemukan kesulitan rohani makin membuat kita menyadari betapa berlimpahnya penghiburan yang sejati dari Tuhan. Itu dikatakan oleh Mzm.30:6 “Sebab sesaat saja Ia murka tetapi seumur hidup Ia murah hati…” Pada saat kesulitan datang, itu hanya sesaat, kata pemazmur. Tetapi seumur hidup kita melihat kemurahan Tuhan itu panjang adanya. Hanya satu malam kita mengeluarkan tangisan, di pagi hari kita menyatakan sukacita dan sorak sorai. Ayat ini memberikan janji yang pasti kepada kita. Tuhan kita bukan the joy-killer. Tuhan bukan seperti orang yang tidak senang kalau orang senang. Tuhan kita bukan ‘schadenfreude’ yang senang kalau orang menderita. Tuhan hanya seketika saja murka tetapi seumur hidup kita Dia memberi sukacita. Pada waktu kita mengalami kesulitan, kita belajar di situ melihat betapa besarnya pengharapan, penghiburan datang kepada kita. Air mata keluar sedih pada waktu kita mengalami kesulitan, sesudah itu datanglah kedamaian di dalam kedalaman hati sebab kita tahu betapa indahnya Tuhan memberi kekuatan dan penghiburan kepada kita.

Yang terakhir, kesulitan itu mendatangkan kebaikan sebab di situ kita belajar menjalani perjalanan hidup kita sebagai anak Tuhan berjalan dengan iman dan bukan dengan melihat. Paulus berkata, I walk by faith, not by sight. Itu perjalanan hidup orang Kristen. Maka pada waktu orang bertanya, kenapa kamu yang ikut Tuhan hidupnya tidak lebih baik daripada orang-orang yang lain, tanya balik kepada dia, menurutmu apa standar kebaikan itu? Kita harus terima Rom.8:28 sepenuhnya bilang Allah bekerja dalam segala sesuatu untuk kebaikan kita. Tetapi menjadi anak Tuhan kita belajar memakai standar kebenaran kebaikan yang Tuhan. Hidupku sebagai orang Kristen engkau bilang tidak lebih baik daripada orang lain? Saya mau koreksi satu hal karena di situ asumsimu tidak sama dengan saya. You sudah berasumsi hidupku tidak lebih baik sebab you sudah menaruh standar kebaikan menurutmu ikut Tuhan berarti harus seperti ini dan itu, bukan? Belum tentu standarmu itu harus menjadi cara dan standar yang benar adanya. Pakai standar bagaimana Tuhan menuntun dan memimpin hidup kita dan hasilnya ayat ini sudah bilang yaitu bagi kebaikan engkau dan saya.

Selanjutnya, selain kesulitan kita menemukan di dalam Alkitab ada moment-moment tertentu Tuhan itu seolah-olah silent, deserse dan diam dari hidup anak-anakNya. Mulai dari kalimat Tuhan Yesus di atas kayu salib, “Eli, Eli, lama sabakhtani?” Allahku, Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Kita menemukan kalimat itu muncul dengan pedihnya. Pemazmur mengatakan, siang malam aku berdoa kepadaMu, mengapa Engkau tidak menjawab aku? Tidak berarti Tuhan betul-betul meninggalkan kita, tetapi ada moment-moment hidup kita kadang-kadang kita bertemu dengan aspek seperti itu. Ayub dengan jujur berkata, Tuhan, kemanapun aku pergi mencari Engkau, aku tidak menemukan Engkau di situ. Satu keluhan yang dalam. Bukan merupakan hal yang mengejutkan kadang-kadang kita bisa mengalami hal seperti itu. Sekali lagi, semua hal itu Tuhan kerjakan demi untuk mengerjakan kebaikan bagi kita.

Daud bersalah mengambil Batsyeba dengan tidak benar. Lalu akibat kesalahan dosanya dia melakukan dosa yang lebih besar yaitu membunuh suami Batsyeba. Tidak ada kebaikan di dalam dosa itu sendiri. Tidak ada kebaikan di dalam keputusan yang salah kita ambil. Tidak boleh juga kita kemudian berpikir karena Tuhan bisa mendatangkan kebaikan melalui dosa, maka tidak apa-apa kita berbuat dosa karena pasti nanti jadi baik. Jangan memiliki konsep seperti itu. Kita hanya berkata, walaupun kadang-kadang kita mengalami kesulitan, kekeliruan, mengambil jalan yang fatal menurut orang di dalam hidup kita, tidak berarti hidup orang Kristen itu final dan habis selesai. Sesudah Tuhan menegur dosa Daud dan menghukum Daud, anak yang lahir dari Batsyeba itu mati. Tetapi Tuhan memberi kesempatan kepada Daud dan Batsyeba yang bertobat dengan menurunkan silsilah keturunan melalui Batsyebalah Yesus Kristus lahir ke dalam dunia ini. Point saya adalah Tuhan memakai anak-anak yang lahir dari Batsyeba. Ambil Batsyeba apakah keputusan yang salah? Jelas itu salah. Perbuatan dosakah? Jelas itu perbuatan dosa. Sekali lagi, tidak ada kebaikan di dalam perbuatan dosa. Kedua, you tidak boleh karena khotbah saya lalu kemudian berbuat dosa. Tetapi saya hanya ingin mengatakan God is in control. Kadang-kadang di dalam kegagalan yang paling dalampun yang you pikir tidak ada jalan keluar, di situ Tuhan bekerja dalam segala hal. Di dalam decision making yang sdr rasa fatal sekalipun tetap Tuhan bisa bekerja mendatangkan kebaikan. Yang dituntut dari kita hanya meminta ampun kepada Tuhan. Yang dituntut dari kita adalah merendahkan diri berserah kepadaNya. Yang dituntut dari kita adalah tidak lagi mengulang hal yang sama. Selebihnya, tangan Tuhan bisa menenun benang yang hitam dan yang merah, Dia jalin pelan-pelan lalu kemudian setelah lewat berapa tahun you akan bilang terima kasih kepada Tuhan, karena all things work together for my goodness. Kita bersyukur karena Allah tidak pernah meninggalkan kita. Dia penuh dengan kecemburuan menginginkan hidup kita sepenuhnya kepada Dia. Karena itu biarlah kita membawa hati kita kepadaNya, jangan ada keinginan dan hal-hal yang Tuhan tidak Tuhan suka masih berada di situ. Kita akan tahu Allah turut bekerja di dalam segala hal untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia dengan sepenuh hati.

Pdt. Effendi Susanto STh.

7 Maret 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: