Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Makna di Balik Penderitaan

Makna di Balik Penderitaan

Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia. Sebab aku yakin, bahwa penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita. Sebab dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan. Karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan oleh kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukkannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah. Sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin. Dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yaitu pembebasan tubuh kita. Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun. Demikian juga Roh membantu kita dalam kelemahan kita; sebab kita tidak tahu, bagaimana sebenarnya harus berdoa; tetapi Roh sendiri berdoa untuk kita kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan. Dan Allah yang menyelidiki hati nurani, mengetahui maksud Roh itu, yaitu bahwa Ia, sesuai dengan kehendak Allah, berdoa untuk orang-orang kudus.

Rom.8:17-27

Eksposisi Surat Roma (20)

Di dalam hidup kita, kita harus memiliki dua ‘sekolah’. Yang satu adalah sekolah kesuksesan, yang satu lagi sekolah kegagalan. Di dunia ini seringkali kita hanya diajar bagaimana untuk berhasil, sukses dan sukses di dalam hidup ini. Tetapi pada waktu kita terbentur dengan segala kesulitan dan kegagalan, tidak ada orang yang pernah melatih dan mengajar kita bagaimana bisa melewati segala kesulitan dan kegagalan itu. Kita menemukan begitu banyak orang hidup dengan asumsi-asumsi yang salah: saya hidup di dalam dunia ini saya seharusnya, sepatutnya, dan itu adalah hak saya untuk bisa menikmati segala yang baik. Itu adalah hak saya untuk mendapatkan segala kesuksesan di dalam hidup. Kalau kita hidup dengan asumsi bahwa tidak semestinya saya mengalami kesulitan dalam hidup, jujur saya harus mengatakan kepada sdr, bahwa orang seperti ini akan mengalami kesulitan hidup jauh lebih susah di dalam dunia ini. Tetapi kalau kita sudah mempersiapkan hati kita selalu siap sedia bahwa ada hal-hal yang tidak terduga di luar dari rencana kita dan bukan hal yang kita inginkan bisa terjadi di dalam hidup kita, saya percaya kita akan menjalani hidup ini jauh lebih indah dan jauh lebih baik.

Rom.8:17 merupakan ayat yang penting, Paulus mengatakan kita pasti akan mendapatkan segala warisan sebab kita adalah anak-anak Allah. Itu bukan janji kosong sebab Kristus Yesus sudah datang di atas muka bumi ini dan Dia yang sekarang ada di surga menjadi ‘Saudara Sulung’ kita, maksudnya lihat contoh Kristus, lihat bukti itu, engkau dan saya adalah anak-anak Allah. Jikalau Dia sudah menikmati segala keindahan sukacita surgawi, engkau dan saya akan mendapatkannya juga karena kita sudah menerima penebusan Kristus. Tetapi sekaligus langsung Paulus mengatakan kalau kita menerima segala kemuliaan, segala berkat, segala hal yang indah di dalam Kristus, jangan lupa kitapun juga harus mengikuti dan melewati proses perjalanan hidup yang sama seperti Kristus. Tidak ada kemuliaan tanpa penderitaan, tidak ada mahkota singgasana tanpa mahkota duri di atas kayu salib. Maka bagi Paulus penderitaan yang ada pada diri anak-anak Tuhan itu justru menjadi bukti bahwa kita adalah anak-anak yang sah di hadapan Tuhan.

Sampai di situ, Paulus kemudian mengelaborasi konsep mengenai penderitaan ini. Dari ayat 18-27 dia sedikit meluas bicara mengenai penderitaan bukan saja kepada anak-anak Tuhan, tetapi sekaligus bicara mengenai ‘the cosmic suffering,’ penderitaan yang berada secara universal. Paulus tidak saja bicara tentang orang Kristen yang menderita tetapi semua mahluk mengalami penderitaan. Jadi terjadi perubahan mulai dari ayat 17 bicara mengenai penderitaan kita, lalu ayat 18 dia melebar dan menjelaskan konsep mengenai penderitaan secara umum. Dia bicara mengenai penderitaan di sini dengan memakai istilah ‘keluhan.’ Kita menemukan tiga macam keluhan di dalam perikop ini. Yang pertama adalah keluhan seluruh mahluk. Ini adalah keluhan yang muncul akibat dunia jatuh di dalam dosa. Yang kedua adalah keluhan orang percaya. Ini adalah keluhan akibat proses pengkudusan di dalam hidup orang percaya dan merupakan satu keluhan yang paradoks. Anak Tuhan hidup di dalam rentang emosi yang seperti ini, di satu sisi kita mengeluh karena kita berada di dalam proses pengkudusan, kita mau melakukan apa yang Tuhan sudah berikan tetapi mengapa hal yang tidak baik yang justru kita lakukan. Tetapi hidup kita tidak terus berada di dalam sisi itu. Ada satu dimensi lain di dalam hidup orang Kristen yang tidak ada di dalam diri orang lain yaitu Roh Kudus adalah Roh yang memberi hidup dan damai sejahtera. Jadi hidup orang Kristen berada di dalam rentang emosi seperti itu. Keluhan, perasaan frustrasi, perasan mengapa Tuhan terlalu jauh di dalam hidupku, namun sekaligus perasaan peace oleh karena kita memiliki Roh Kudus yang memberikan damai sejahtera sebab kita tidak lagi berada di bawah penghukuman Allah. Yang ketiga di ayat 26b adalah keluhan dari Roh Kudus, the groaning of the Holy Spirit. Roh Kuduspun berkeluh kesah di dalam hati kita.

Maka pada waktu kita berada di dalam suffering, ayat 17 Paulus bilang tidak ada satupun dari kita yang akan luput darinya karena itu menjadi contoh dan bukti engkau adalah anak-anak Allah. Anak Allah yaitu Yesus Kristus, Saudara Sulung kitapun selama hidup di atas muka bumi ini tidak diluputkan dari proses penderitaan dan kesulitan itu. Itu sebab pada waktu kita mengalaminya, kita harus memiliki suatu pengharapan dan keyakinan bahwa ini adalah bagian di dalam hidup kita karena Kristuspun mengalami hal itu. Yang kedua, di ayat 20 Paulus lebih melebarkan karena itu merupakan realita dan fakta dari hidup kita sehari-hari. Kita jadi anak Tuhan ataupun bukan anak Tuhan, kita hidup di bawah hukuman akibat dosa, bahkan seluruh mahluk berada di bawah keluhan karena dunia ini sudah ditaklukkan di bawah penghukuman dosa. Mari kita tidak tertipu oleh pembuaian ajaran bahwa orang Kristen tidak akan mengalami penderitaan, bahwa kita akan hidup di dalam kesuksesan, segala hal yang kita doakan dan usahakan pasti Tuhan akan sertai dan berkati dengan segala kelancaran. Tidak heran banyak orang Kristen sudah salah guna memakai doa Yabez, ‘Tuhan, berkatilah apa yang aku kerjakan. Buatlah itu menjadi berlipat ganda dsb.’ Bagi saya itu adalah ajaran yang keliru luar biasa. Keliru, sebab doa Yabez adalah hanya salah satu contoh doa yang dicatat di Alkitab. Contoh doa tidak boleh menjadi prinsip doa. Itu kesalahan besar. Karena ada banyak contoh doa di dalam Alkitab yang tidak seperti itu. Salah satunya adalah doa Paulus meminta Tuhan mencabut duri dari tubuhnya. Sampai tiga kali dia meminta, tetapi Tuhan mengatakan ‘Cukuplah kasih karuniaku.’ Stop jangan doa lagi. Sekalipun di dalam sakit yang terus-menerus muncul di dalam hidupmu, sakit itu begitu berat, tetapi ditopang oleh anugerah Tuhan engkau sanggup bisa mengatasi dan melewati akan hal itu. Itu contoh doa. Ada contoh doa Yabez. Yabez mengalami penderitaan dan kesulitan di dalam hidupnya dan dia berdoa kepada Tuhan lalu Tuhan menjawab doa Yabez. Di sini Paulus ingin mengatakan kepada kita, pada waktu kita mengalami segala kesulitan dan penderitaan di dalam dunia ini, kita tidak terlepas dan tidak terluput, kita sama seperti orang yang lain sebab kita hidup di dalam dunia ini, berada di atas muka bumi ini, satupun di antara kita tidak bisa terlepas dari hal-hal seperti ini.

Gempa terjadi di Haiti dan terjadi kontroversi ketika sebagian orang Kristen mengatakan itu pasti karena Tuhan menghukum Haiti yang penuh dengan segala sinkretisme. Haiti jago santet orang dengan ilmu voodoo-nya. Tetapi jangan lupa bahwa pada waktu gempa itu terjadi, bukan saja orang yang tidak percaya yang meninggal, tetapi di situ ada juga gereja, hamba-hamba Tuhan, anak-anak Tuhan, ada misionari, ada orang-orang yang mau membantu Haiti juga mati ditimpa dan hilang lenyap oleh karena bencana itu. Pada waktu murid-murid Yesus melihat seorang buta di tepi jalan, mereka lalu berpikir dia buta karena dosa dia atau karena dosa orang tuanya. Tetapi Yesus mengatakan jangan mengambil kesimpulan sebab-akibat seperti itu (Yoh.9). Pada waktu ada kasus menara di dekat Siloam roboh dan menimpa orang hingga mati, Yesus mengatakan jangan kira itu adalah karena dosa mereka (Luk.13). Dengan kalimat seperti ini Yesus hanya ingin mengajak kita supaya melihat dan jangan terlalu cepat menarik sebab-akibat seperti itu supaya kita tidak jatuh dengan menghakimi orang dengan cara seperti itu. Pasti Tuhan yang adil akan menghakimi setiap orang. Kita tidak tahu misteri di balik hal-hal itu tetapi semua peristiwa yang sakit, menyedihkan dan memilukan hati itu tidak akan menjadi keterkejutan tiba-tiba ketika dia datang ke dalam hidupmu sebab karena kita sudah siap sedia seperti yang firman Tuhan katakan satupun di antara kita tidak akan terluput dari hal itu, siapapun dia. Ada pendeta yang pulang berkhotbah, di tengah jalan mengalami tabrakan dan besi yang tajam menembus tubuhnya hingga dia meninggal. Ada orang yang sudah melakukan begitu banyak hal yang baik, tiba-tiba meninggal di usia yang muda. Kita tidak bisa mengerti akan hal itu. Ada orang yang mencintai dan melayani Tuhan tetapi tiba-tiba mengalami segala sakit penyakit dan kebangkrutan yang mendadak di dalam hidupnya. Kita bisa terkejut dan kaget jikalau kita berasumsi bahwa orang yang mencintai Tuhan tidak akan mengalami hal-hal seperti itu. Kita tidak berbeda dengan orang yang tidak percaya Tuhan.

Paulus mengkomparasi akibat kejatuhan manusia di dalam dosa di Rom.8 ini dengan Kej.3. Di sini Paulus mengatakan akibat dosa kita semua mengeluarkan keluhan yang sama, keluhan yang keluar dari mulut anak Tuhan karena akibat dosa yang mengutuk dunia ini keluhan yang juga bisa keluar dari mulut orang-orang lain dan juga merupakan keluhan yang muncul dari semua mahluk. Seluruh ciptaan mengeluh. Dosa menghasilkan tiga aspek di sini dan kita semua takluk di bawahnya. Satu, tidak ada satupun di antara kita yang tidak takluk kepada kesia-siaan (ayat 20), the futility of life. Semua kita takluk di bawah kesia-siaan hidup. Maksudnya di sini, semua kita karena akibat dosa takluk di bawah the unfairness of life. Ini adalah kutukan Tuhan secara spesifik kepada Adam, dengan susah payah engkau akan bekerja dan semak dan onak duri akan dihasilkan tanahmu (Kej.3:18). Dengan kata lain tidak ada orang yang hidup di atas muka bumi ini tidak pernah mengeluarkan keluhan harus berjuang untuk supaya bisa mendapatkan sesuap nasi bagi dirinya. Kita bekerja dengan susah payah, justru mendapatkan onak duri sebagai hasilnya. Ada orang lain yang tidak bekerja dengan susah payah setiap hari makan dari hasil kerja keras orang lain.

Melihat kesulitan dan penderitaan terjadi di sekitar kita, hati kita sedih dan berkeluh kesah. Kenapa hidup di muka bumi seperti ini? Ada orang mempunyai kualitas hidup yang baik, dengan integritas dan kejujuran tetapi selama-lamanya menjalani hidup yang susah dan diperlakukan dengan tidak adil oleh orang lain. Ada orang sudah bekerja setengah mati di kantor dengan baik-baik, ingin hidup jadi orang Kristen yang jujur, tetapi teman-teman yang setiap kali kerjanya cuma mengobrol naik terus jabatannya. Itu namanya kesia-siaan hidup, the unfairness of life. Ayat 19-21 Paulus sedikit menyinggung mengenai aspek eskatologis, ketika Tuhan Yesus datang kembali ke dua kalinya, di situlah finalitas penderitaan selesai dan tidak ada lagi air mata, tidak ada lagi sakit, tidak ada lagi proses penuaan, tidak ada lagi kematian. Itulah keindahannya. Itu sebab pada waktu sampai di situ Paulus mengatakan satu kalimat kemenangan, “Sebab aku yakin bahwa penderitaan sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan datang” (Rom.8:18).

Ada beberapa kalimat kemenangan yang Paulus teriakkan di dalam Rom.8 ini. Yang pertama adalah Rom.8:1, “Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus!” Yang kedua, ayat 18 di atas. Yang ketiga, “Apakah yang bisa memisahkan kita dari kasih Kristus?” (Rom.8:35). Kematian, penderitaan, penganiayaan, kelaparan atau ketelanjangan? Ini semua menjadi puncak keindahan dari surat Roma.

Ayat 20, yang Paulus maksud dengan ‘semua mahluk’ itu siapa? Ada yang mengatakan itu adalah orang-orang lain yang belum percaya Tuhan. Tetapi saya lebih setuju mengatakan semua mahluk di sini mengacu kepada semua creation, semua ciptaan Tuhan. Semua ciptaan Tuhan menantikan kapankah hal itu akan terjadi. Paulus memakai ayat ini untuk dikomparasi dengan Kej.3 pada waktu Adam berdosa bukan saja Adam menerima akibat dosa, bukan saja Hawa menerima akibat dosa, tetapi dunia ciptaan yang baik ini juga berada di bawah kutukan dosa. Bukan mereka yang mau, tetapi Tuhan yang menaklukkan dunia yang diciptaNya kini berada di bawah kutukan dosa. Manusia tidak sanggup bisa melihat keindahan alam semesta dengan baik. Manusia tidak bisa mengeksplorasi dunia demi untuk kesejahteraan orang banyak, manusia hanya sanggup bisa mengeksploitasi alam demi untuk kekayaan diri sendiri. Itulah yang terjadi. Melihat keindahan dunia, ada jejak kaki manusia yang merusak di situ. Keindahan dari dunia yang baik ini tetapi ada kutukan dosa di situ, kita mengeluh. Maka Paulus memakai bahasa personifikasi ini, di dalam diri seluruh mahluk. Mereka juga mengeluh kapankah dunia ini ditransformasi semua menjadi indah, perfect dan begitu lengkap? Sekarang hidup di dalam dunia yang terkutuk seperti ini semua kita takluk di bawah unfairness life.

Ayat 21, ini yang kita sebut sebagai “the cosmic redemption.” Maka sampai pada akhir Alkitab mencatat akan ada langit yang baru dan bumi yang baru. Bumi yang dicipta ini pada waktu Yesus datang kembali akan dikuduskan dari dosa dan bumi ini tidak akan dihilangkan dan dilenyapkan melainkan akan ditransformasi oleh Tuhan. Itu sebab Yes.65:25 mengatakan pada waktu itu serigala dan anak domba akan makan rumput bersama-sama. Singa akan makan jerami bersama lembu. Itu bicara mengenai ‘the cosmic redemption.’ Tidak akan ada lagi permusuhan, tidak akan ada lagi hal-hal yang merusak alam semesta ini sebab semua yang Tuhan ciptakan itu menjadi indah dan ditransformasi. Maka penebusan Tuhan yang terakhir bukan bicara nanti di surga kita akan terus melayang di awan-awan kepada satu dunia yang lain, tetapi engkau dan saya akan tinggal dan hidup di dalam langit dan bumi baru dimana Tuhan dan manusia tidak lagi dipisahkan oleh dosa tetapi berada di dalam satu kebersamaan. Bukan saja kita orang percaya, tetapi semua ciptaan yang indah dan baik berada di situ.

Yang kedua, semua kita berada di bawah perbudakan kebinasaan, “the bondage of decay.” Tuhan berkata kepada Adam, ”…engkau akan kembali kepada tanah sebab dari situlah engkau diambil” (Kej.3:19). Akibat dosa maka maut datang ke dalam hidup manusia. Tidak ada satupun yang escape di atas muka bumi ini, ketika satu kehidupan muncul berarti kehidupan itu cepat atau lambat berada di dalam proses the bondage of decay, kita semua akan menuju ke situ. Engkau dan saya yang sudah ditebus oleh Tuhan, kita tidak akan takut menghadapi kematian karena kita percaya satu kali kelak Tuhan akan memberikan tubuh kemuliaan kepada setiap kita. Tetapi di dalam dunia yang begitu terbatas, kadang-kadang spirit kita, roh yang ada di dalam kita memang bereaksi tidak menginginkan limitasi itu. Kita tidak ingin menjadi tua. Tetapi kita tidak bisa escape darinya, semua kita satu kali kelak akan menghadapi kematian. Yang ketiga, semua kita yang hidup di atas muka bumi ini ditaklukkan kepada “sakit bersalin” (ayat 22). Sekali lagi, Paulus mengacu kepada Kej.3 Tuhan bicara kepada Hawa “dengan sakit bersalin engkau akan melahirkan.” Bagaimana menafsir ayat ini? Apakah berarti kalau Hawa tidak jatuh di dalam dosa dia waktu melahirkan tidak melewati proses sakit bersalin? Sakit yang diakibatkan dosa kepada Hawa bukan dalam pengertian fisik bahwa Tuhan akan menambah kesakitannya tetapi lebih di dalam pengertian bahwa setelah melahirkan, perasaan sakit itu akan menjadi painful. Yang kita lahirkan itu adalah satu kehidupan. Yang kita lahirkan dengan susah payah itu adalah anak-anak kita yang dengan susah kita besarkan tetapi seringkali akibat dosa, yang seharusnya anak itu berterimakasih, anak itu berbakti dan berguna di dalam masyarakat, anak itu menjadi baik dan bertanggung jawab kepada orang tua, tetapi justru menjadi anak yang lari dan liar dan mengecewakan hati kita. Itu arti dari ayat ini. Dengan melahirkan engkau akan mendapatkan sakit dan susah yang lebih banyak. Memperoleh anak itu adalah satu berkat tetapi sekaligus di situ bisa menjadi painful yang besar dan berat di dalam hidup kita.

Tetapi ada ‘blessing in disguise’ dengan Paulus mengatakan kata “sakit bersalin” ini sebagai metafora dari penderitaan orang Kristen. Kita bandingkan ini dengan kalimat Tuhan Yesus di dalam Yoh.16:21 seorang wanita mengalami proses kesakitan yang luar biasa waktu bayinya akan keluar tetapi begitu dia melihat bayinya, segala kesakitan itu hilang lenyap. Penderitaanmu di atas muka bumi ini, sakitmu di atas muka bumi ini seperti sakit seorang wanita bersalin. Berarti dua hal bagi saya, pertama penderitaan dan sakit yang ada di dalam hidup sdr adalah suatu hal yang harus kita alami dan kita jalani, melewati satu proses perjuangan supaya kita bisa menghasilkan satu hasil di belakang. Maka tidak usah takut menghadapi kesulitan dan penderitaan sebab memang tidak ada hal di atas muka bumi ini yang datang secara gampang di dalam hidup kita. Semua perlu proses, seperti seorang perempuan yang melahirkan, perlu perjuangan menghasilkan sesuatu. Yang kedua, dengan memakai istilah ‘giving birth’ untuk mencetuskan suffering berarti di belakang dari suffering itu ada joy. Itu bukan sesuatu yang tidak punya arti dan nilai. Maka mengapa Paulus memakai satu metafora yang indah ini. Semua kita takluk di bawah sakit, semua kita berada di bawah penderitaan, semua kita mengalami painful life. Tetapi mari kita lihat perbedaannya. Painful kita bukan seperti suffering yang datang seperti ketiban tangga. Painful kita bukan seperti sedang jalan-jalan tahu-tahu ada batu nyasar menimpa kepala kita. Painful kita adalah satu painful yang memperjuangkan sesuatu yang indah lahir dari hidup kita. Di balik dari semua sakit itu lebih indah akan muncul darinya. Itu yang memberikan sukacita bagi kita.

Jadi anak Tuhan, jangan biarkan kita merasa hidup kita itu lebih jelek, lebih buruk dan lebih gelap daripada orang lain. Jadi anak Tuhan jangan juga memiliki asumsi yang salah bahwa kita akan terlepas dan terluput dari hal-hal yang dialami oleh orang-orang yang lain yang tidak percaya dan kiranya tidak timpa kepada kita. Apa yang memberikan perbedaan? Kita punya pengharapan, yaitu pengharapan yang diberikan oleh Tuhan. Pengharapan itu disebut pengharapan karena kita tidak melihat realitanya sekarang. Kita hidup berpengharapan sebab kita tahu di belakang dari proses giving birth ada satu kehidupan yang indah. Kedua, keluar kalimat kemenangan ini, penderitaan yang aku alami sekarang ini tidak ada apa-apanya dibanding dengan kemuliaan yang Tuhan akan berikan nanti. Ini yang membedakan engkau dengan orang yang tidak punya pengharapan. Ini yang membedakan kita dengan orang-orang yang tidak memiliki Kristus. Maka melewati hal yang sama, kita bereaksi dengan cara yang berbeda.

Pdt. Effendi Susanto STh.

7 Februari 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: