Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Mempersembahkan Totalitas Hidup

Mempersembahkan Totalitas Hidup

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Rom.12:1

Eksposisi Surat Roma (27)

Semua orang yang mempelajari surat-surat rasul Paulus melihat keunikan cara Paulus menulis surat dan hampir semua setuju selalu Paulus bicara bagian yang pertama mengenai teologi, pengajaran dan doktrin terlebih dahulu, lalu kemudian di bagian yang terakhir Paulus baru bicara mengenai etika Christian life, bagaimana kita hidup. Pasal 1-11 dari surat Roma, Paulus membangun dasar teologi yang penting kenapa kita menjadi anak Tuhan, apa arti anugerah keselamatan di dalam iman kita ditebus secara cuma-cuma oleh Kristus Yesus. Setelah itu maka pasal 11 diakhiri dengan satu doxology yang penting sekali, bicara mengenai sentralitas alam semesta ini, sentralitas hidup kita, “Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya” (Rom.11:36). Baru dengan dasar doktrin yang benar, apa sebabnya saya hidup, apa yang menopang hidup saya, barulah kita bisa bicara mengenai etika, bicara mengenai moralitas orang Kristen. Maka pasal 12 adalah awal bicara mengenai bagaimana orang Kristen seharusnya hidup di dalam dunia ini.

Menarik sekali, kita jelas tahu hukum Tuhan merupakan perintah, berarti merupakan keharusan dan kewajiban bagi kita, namun di dalam Rom.12:1 Paulus menggabungkan dua hal ini menjadi indah. ‘Karena itu,’ karena apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita maka barulah kita berespons kepadaNya. Karena apa yang Tuhan sudah kerjakan, berarti tidak bisa tidak, kita harus melakukan dengan membalas kembali apa yang Tuhan sudah lakukan. Tetapi Tuhan tidak menginginkan setiap kita melakukan sesuatu bagi Dia dengan keterpaksaan. Maka Paulus selain bicara mengenai kewajiban, dia juga bicara mengenai desakan etika kita bukan merupakan sesuatu yang dipaksakan. Paulus mengatakan “I urge you…” ini bukan sekedar suatu nasehat, suatu ‘counsel,’ yang kalau kita tidak turuti tidak apa-apa. Namun Paulus tidak mau memakai kata “I command you…” sebagai suatu kata yang keras dan kuat sehingga akhirnya kita bisa menjadi terpaksa. Maka dengan kata ‘urge’ Paulus mendorong kita dengan sangat untuk melakukannya dengan melihat hal itu sebagai sesuatu hal yang penting. Maka hidup persembahan pelayanan kita kepada Tuhan dikerjakan dengan sukarela tetapi tidak boleh kita kerjakan dengan sesuka hati. Sebab semua yang kita miliki itu bukan punya kita, yang ada di dalam hidup kita bukan karena kekuatan kemampuan kita tetapi karena kita mendapatkannya dari Allah yang terlebih dahulu sudah memberi. Pada waktu kita memberi balik kepadaNya, Tuhan ingin kita melakukannya sebagai ‘a cheerful Christian,’ mempersembahkan hidup dengan sukacita di hadapan Tuhan.

Lalu point kedua yang sangat unik di dalam Rom.12:1 ini adalah terobosan konsep mengenai worship ibadah orang Kristen. “Inilah ibadahmu yang sejati,” dalam terjemahan yang lebih akurat adalah “a reasonable worship,” karena Paulus memakai kata ‘logikon’ yang sama akar katanya dengan logos dan logika. Ibadah orang Kristen di sini merupakan satu terobosan yang luar biasa karena Paulus memberikan pengertian yang lebih dalam daripada konsep ibadah orang Yunani dan sekaligus memberhentikan konsep korban di dalam ibadah orang Yahudi di dalam PL. Apakah itu ibadah orang Kristen? Apa yang harus kita beri sesudah Tuhan memberi kepada kita? Bawalah tubuhmu, persembahkanlah itu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus, dan yang berkenan kepada Tuhan. This is our reasonable worship. Membawa tubuh, berarti tidak ada satupun orang Kristen yang boleh minder di hadapan Tuhan dan di hadapan orang Kristen lainnya. Tidak ada satupun orang Kristen yang boleh mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan kepada Tuhan.” Tuhan tidak bicara mengenai atribut hidup kita, tetapi Dia bicara mengenai esensi yang paling penting: bring your body. Menggunakan kata ‘tubuh,’ berarti Paulus menerobos konsep religius dan ibadah orang Yunani karena bagi sebagian besar filsafat orang Yunani yang disebut spiritual tidak pernah meng-include tubuh. Justru bagi orang Yunani tubuh ini adalah penjara jiwa. Tubuh inilah yang membuat kita tidak memiliki spiritual life. Kalau bisa, tubuh ini disiksa, tubuh ini disingkirkan. Maka di dalam konsep Roma Katolik di abad pertengahan dan masih tetap berpengaruh hingga kini adalah men-seperate spiritual dengan body. Sehingga kalau sdr membaca sejarah Gereja, sdr bisa menemukan banyak monastery yang ingin memiliki hidup rohani dengan cara menyiksa diri dan tubuh ini. Ada monastery yang memberi kamar untuk seorang priest hanya berukuran 1mx1m dan hanya memperbolehkan mereka minum air putih dan roti, karena menganggap tubuh ini tidak bisa berbagian di dalam ibadah kepada Tuhan dan tubuh ini justru menjadi penghalang. The true worship is to bring and to sacrifice your body, kata Paulus. Tubuh tidak menjadi penghinaan karena kita diciptakan Tuhan dengan totalitas.

Paulus di sini juga sekaligus menerobos konsep ibadah korban orang Yahudi karena di dalam ibadah orang Yahudi mereka datang membawa sacrifice kambing, domba dan sapi. Tetapi ibadah orang Kristen tidak lagi membawa semua itu melainkan kita membawa tubuh kita. Memang Kekristenan tidak bisa lepas dari PL karena itu adalah cara Tuhan bekerja memperlihatkan kepada kita bahwa melalui korban di dalam PL nantinya kita melihat korban Yesus di PB. Tetapi setelah Yesus Kristus memberikan diriNya menjadi korban di PB, kita tidak lagi melakukan apa yang dituntut di dalam PL. Maka orang Kristen sudah berbeda dengan orang Yahudi. Kekristenan bukanlah sempalan dari Yudaisme. Kekristenan berbeda dengan Yudaisme. Konsep Kekristenan tidak lagi membawa korban binatang itu tercatat dengan jelas sekali di dalam Ibr.9:26 dalam terjemahan bahasa Inggris ”…through the sacrifice of Jesus Christ, He put the end of this age…” Ini kata yang penting ‘put the end of this age,’ berarti ada jaman yang berakhir, ada era yang sudah selesai.

Rom.12:1 adalah etika orang Kristen yang nanti elaborate hingga pasal 12-15 yang intinya secara singkat bisa dikatakan inilah hidup etika orang Kristen yang saya buat dengan kata-kata sendiri: be a sacrificing-full Christian, be a worship-full Christian, dan be a mercy-full Christian. Nanti tiga point ini akan berulang muncul hingga pasal 15. Kadang-kadang kita tidak berani memberi segala sesuatu, mengkorbankan sesuatu melebihi daripada apa yang Tuhan sudah beri kepada kita. Kenapa kita takut? Kenapa kita masih menyimpan sesuatu untuk diri kita sendiri? Seringkali karena kita terikat oleh satu konsep: kalau saya memberi nanti saya tidak bisa mendapatkan balik. Kita tidak boleh memiliki konsep seperti itu di hadapan Tuhan sebab kita akan kecewa dan malu sendiri waktu kita memberi sesuatu kepada Tuhan jangan lupa prinsip Tuhan Yeus di dalam Injil Yohanes: engkau akan menjadi mata air yang tidak akan pernah habis melimpah mengalir keluar. Kalau kita terlalu takut menjadikan hidup kita penuh dengan sacrifice bagi Tuhan, itu seperti memberi dengan mangkuk takaran kecil, dan nanti pada waktu kita ketemu Tuhan, Tuhan akan memberi kepada kita seturut dengan mangkuk yang engkau pakai buat Tuhan. Baru nanti kita sadar, mestinya dari dulu kita pakai karung beras. Itu yang dimaksud oleh Tuhan Yesus dengan kalimat, “Ukuran yang engkau pakai akan diukurkan kepadamu” (Luk.6:38). Pada waktu kita memberi sesuatu kepada Tuhan, maka hidup kita akan menjadi mata air yang tidak akan pernah habis-habisnya mengalir di hadapan Tuhan. Tuhan tidak pernah memaksa tetapi kita juga tidak boleh dengan sesuka hati di dalam hidup menjadi orang Kristen yang memberi persembahan kepada Tuhan. Ibadah kita adalah logikon worship. Mengapa Paulus memakai kata itu? It is a reasonable worship, satu ibadah yang memiliki unsur rasio di dalamnya. Ibadah yang ada kata ‘akal budi’ di dalamnya. Paulus memakai kata ini saya percaya ini berarti orang Kristen waktu berbakti tidak lagi bertanya mengapa hidupku harus berbakti kepada Dia? Sebab kita sendiri sudah fully known kita sendiri tahu dengan sungguh-sungguh mengapa kita berbakti dan beribadah kepada Tuhan. Di dalam ibadah yang sejati Tuhan tidak menuntut banyak, hanya yang simple dan reasonable, Dia hanya menuntut engkau membawa apa yang ada padamu, yaitu tubuhmu dan hidupmu sebagai persembahan yang hidup. Dengan memberikan tubuh, ini menjadi hal yang unik karena dengan demikian berarti Paulus tidak ingin orang mengerti konsep rohani itu bersifat abstrak. Memberikan tubuh kepada Tuhan adalah suatu hal yang konkrit, jelas.

Yang ketiga, memberi persembahan tubuh sebagai ibadah, maka Kekristenan menerobos konsep ibadah itu tidak lagi pergi ke satu ‘sacred place.’ There is no sacred hours, there is no sacred place. Kita tidak lagi beribadah pergi ke Bait Allah baru kita anggap itu sebagai ibadah. Ibadah yang sejati adalah in your body. Dari situ nanti Paulus kembangkan konsep ini di dalam surat 1 Korintus, tubuhmu adalah bait Allah. Bukan tempat tertentu, hari raya tertentu, baru itu disebut sebagai ibadah. Ibadah yang sejati adalah bagaimana totalitas hidup orang Kristen itu dipersembahkan kepada Tuhan menjadikan kehadiran Tuhan di dalam hidupmu. Itulah ibadah kita. Sekarang hidupmu adalah bait Allah maka serahkanlah tubuhmu menjadi persembahan to be a logikon worship. Jadikanlah tubuh ini menjadi persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah.

Dalam pembukaan dari buku The Shorter Catechism muncul pertanyaan ini, “What is the chief end of men?” Apa yang menjadi tujuan yang terutama dari hidup manusia? Jawabannya adalah “The chief end of men is to glorify God and to enjoy Him forever.” Ini dua kata yang bagus sekali karena mengingatkan kita, to glorify God adalah satu aspek Teosentris, itu berkaitan dengan relasi kita kepada Tuhan. Dalam 1 Kor.10:31 Paulus mengatakan apapun yang kita kerjakan dan lakukan semua adalah untuk kemuliaan Tuhan. Memuliakan Tuhan lebih daripada sekedar bersyukur kepadaNya. Bersyukur atas berkatNya itu adalah salah satu bagian dari memuliakan Tuhan Allah karena kita mengakui semua datangnya dari Dia. Intinya hanya satu: lakukan segala sesuatu dengan satu kesadaran bahwa sekarang hidup kita menjadi ibadah bagiMu. Yang dikerjakan oleh tanganku, apa saja yang dilakukan oleh tubuhku, saya mau semua itu memuliakan Engkau. To glorify God. Itu merupakan tujuan hidup kita.

Yang kedua, The Shorter Catechism mengingatkan bahwa kita juga memiliki kebutuhan yang lain di dalam tubuh kita selain makan dan minum. Maka bagian ini bicara mengenai aspek Antroposentris, to enjoy. Tuhan menciptakan segala sesuatu di dalam dunia ini untuk kita nikmati. Dalam 1 Tim.4:3-5 kita diingatkan Tuhan memberikan segala sesuatu untuk kita nikmati. Tidak ada sesuatupun yang haram, semua itu indah dan baik asal kita tahu darimana datangnya dan untuk apa itu diberikan kepada kita. Bawa ucapan syukur kepadaNya atas apa yang kita terima, apa yang kita makan, apa yang kita nikmati. Maka apa yang menjadi tujuan hidup kita, yaitu to glorify Him tetapi sekaligus juga to enjoy Him forever. Tetapi pleasure itu bukan menjadi the chief end, happiness itu bukan menjadi the chief end dari hidup kita. Tujuan hidup orang dunia ini adalah supaya hidup mereka bahagia dan memiliki damai. Maka the chief end di sana adalah happiness itu sendiri, pleasure itu sendiri. Tetapi sebagai anak Tuhan kita harus belajar mengerti Tuhan tidak melarang kita memiliki pleasure, Tuhan tidak melarang kita memiliki happiness, tetapi itu bukan menjadi tujuan akhir kita. Melalui apa yang Tuhan beri kepada kita mari kita memuliakan Tuhan di situ.

Seorang teolog Reformed John M. Frame mencoba mengkonkritkan dua hal ini, hidup orang Kristen yang mempersembahkan tubuhnya sebagai persembahan ibadah di hadapan Tuhan, seperti yang Tuhan Yesus katakan, “Cari dahulu kerajaan Allah maka semua akan ditambahkan kepada kita.” Apa itu kerajaan Allah? Kerajaan Allah itu berarti kita merindukan Allah bertahta dan memerintah di dalam seluruh aspek di dalam dunia ini, dimanapun kita berada, di situ kita melihat Allah menjadi Raja memerintah alam semesta ini. Melalui dua hal yang kita kerjakan, yaitu melalui mandat budaya seperti yang Tuhan katakan di dalam Kej.1:28 “Penuhi bumi ini dan kelola dan usahakanlah alam semesta ini.” Kita dipanggil oleh Tuhan menjadi seorang yang bekerja dengan baik di dalam profesi apapun. Sdr menjadi karyawan, kerja di satu kantor, dsb, di situ sdr memuliakan Tuhan, sdr aktif sebagai orang Kristen bekerja di situ dengan hati yang tulus dan dengan satu kesadaran apa yang bisa sdr kerjakan bagi keuntungan pekerjaan Tuhan. Itulah yang membedakan the chief end kita di atas muka bumi ini.

Yang kedua, selain mandat budaya, Tuhan memanggil kita untuk menggenapkan mandat Injil, “Pergi danjadikan semua bangsa muridKu.” Baru kita mengerti apa arti dan indahnya hidup kita di hadapan Tuhan. Mengapa? Kita balik kepada Ibr.9:26 tadi, “Through the sacrifice of Jesus Christ, He put the end of this age…”Bandingkan kalimat ini dengan Ef.1:21 dimana Yesus Kristus akan menjadi Raja di atas segala raja dan lebih besar kuasaNya daripada siapapun juga ‘in this age and the age to come.’ Melalui dua kata ini Gerhardus Voss seorang hamba Tuhan Reformed di dalam buku Eskatologinya mengatakan engkau dan saya sekarang hidup di dalam satu era yang dia sebut dengan istilah ‘Semi-Eskatology.’ Ada satu hal yang unik di dalam kitab Injil, Yesus datang maka jaman akhir itu akan tiba in the future, tetapi sekaligus dalam Injil sdr juga menemukan kalau Yesus mengusir Setan dan menyembuhkan orang sakit, itu berarti jaman akhir itu sudah tiba. Antara ‘akan datang’ dan ‘sudah datang,’ dua-duanya benar adanya. Maka Gerhardus Voss mengatakan ‘this age’ itu bicara mengenai satu era sejak Allah menciptakan langit dan bumi di awal sampai kepada datangnya Yesus Kristus kali kedua. Tetapi datangnya Yesus Kristus pertama kali, pelayananNya di atas muka bumi dua ribu tahun yang lalu adalah ‘the age to come’ sudah datang hingga nanti Yesus datang kali kedua. Berarti ada masa dimana dua era ini saling bersentuhan yaitu dari kedatangan Yesus Kristus yang pertama dan kedatangan Yesus Kristus kali yang kedua. Di situ sdr dan saya hidup di dalam dunia ini, dan di situ kita sadar bukan ‘this age’ kita akan tinggal selama-lamanya tetapi pada ‘the age to come.’ Jangan salah konsep, jangan pikir setelah kita mati dan ketemu Tuhan Yesus lalu kita akan melayang-layang di awan yang empuk di sana. Hidup orang Kristen, kita mengerjakan apapun di dalam dunia ini fokus kita bukan kepada dunia ini melainkan kepada dunia yang akan datang. Di situlah indahnya etika orang Kristen. Di situlah kemudian Paulus mengatakan di dalam 1 Kor.15:58, karena kebangkitan Kristus maka apapun yang kita kerjakan, apapun yang kita lakukan, apapun yang kita layani bagi Tuhan tidak akan pernah menjadi sia-sia.

Setelah Tuhan tebus hidup kita, setelah Tuhan beri makna dan arti dalam hidup kita, bawa hidup itu menjadi persembahan yang indah kepada Tuhan. Kita bicara mengenai ibadah, kita bicara mengenai etika, itu adalah berarti seluruh totalitas hidup kita. Bukan apa yang kita lakukan di dalam sacred place, bukan apa yang kita lakukan dalam hal-hal rohani saja, tetapi semua yang berkaitan dengan seluruh sendi-sendi kehidupan kita, itulah arti mempersembahkan tubuh. Rohani tidak hanya berkaitan dengan soal apa yang kita doakan atau apa yang kita lakukan sebagai satu ritual tetapi semua termasuk apa yang kita kerjakan dengan tangan kita. Ini merupakan terobosan konsep yang luar biasa. Sehingga tidak peduli dimanapun kita berada, apapun yang kita kerjakan, apa status hidup kita, kita tetap mengerjakannya bagi Tuhan. Dalam surat Kolose Paulus berbicara kepada para budak, “Apa saja yang engkau kerjakan di dalam dunia ini, perbuatlah itu dengan segenap hati seperti bagi Tuhan, semuanya tidak akan sia-sia…” (Kol.3:23). Sdr tahu pada waktu itu budak mengerjakan segala pekerjaan yang terhina apapun juga, termasuk membersihkan kandang kuda tuannya dan mengerjakan semua hal yang kotor. Apa rohaninya, apa aspek spiritualnya, apa ibadahnya di dalam seluruh aspek pekerjaan seperti itu? Kita melihat apapun juga yang kita kerjakan tidak lagi bersifat duniawi. Apapun yang dilakukan oleh tubuhmu bukan lagi merupakan ‘unspiritual things’ jika semua itu engkau lakukan sebagai sesuatu untuk memuliakan dan melayani Tuhan. Ini arti konsep ibadah yang Paulus katakan sebagai persembahan tubuh sebagai a true worship. Dengan demikian kita bukan beribadah jam 9.30-11 lalu selesai. Kita ibadah bukan dalam pengertian kita sedang menyisihkan sedikit waktu bagi Tuhan pada hari Minggu. Ibadah berarti seluruh hidup kita, apa yang kita kerjakan dan lakukan.

Yang ketiga, Alkitab selalu mengingatkan kita kesetiaan kita, pengobanan kita di atas muka bumi ini bukan saja tidak akan sia-sia tetapi Tuhan akan membalas itu berkali-kali lipat menjadi reward yang akan. Tetapi bedanya, kita tidak melakukan hal-hal yang baik supaya kita mendapat reward. Namun Alkitab tidak mengatakan bahwa tidak ada reward nantinya sebagai sesuatu hal yang mengingatkan kita mari kita kerjakan sesuatu hari ini karena kita tahu apa yang kita lakukan ini untuk sesuatu yang indah di hidup yang akan datang.

Dalam 1 Tim.6:17-19 yangmengingatkan orang-orang yang kaya ‘in this age’ agar jangan tinggi hati dan ingatkan mereka untuk menjadi kaya di dalam hal lain yaitu kaya di dalam kebajikan, kaya di dalam memberi, kaya di dalam membagi dan dengan demikian mengumpulkan baginya satu harta yang baik untuk hidup yang akan datang. Mengapa kita harus berbuat baik, mengapa kita harus menjadi orang Kristen yang memancarkan kemuliaan Allah, mengapa kita harus hidup mengasihi orang, dsb tidak di dalam ‘short term concept’: saya baik sekarang supaya orang nanti membalas kepada saya. Konsep ini penting mengajak kita melihat supaya dari sekarang kita ingat kita hidup di dalam dunia ini tetapi fokus kita bukan di sini. Kita tahu apa yang kita kerjakan sekarang tidak pernah sia-sia, kita mau kejar terus supaya someday ‘in the age to come’ kita sungguh-sungguh bisa melihat apa yang kita lakukan dan kerjakan di dalam hidupku sekarang ini menjadi sesuatu hal yang tidak bisa diambil dan direbut siapapun. Kiranya Tuhan pimpin dan sertai hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

25 April 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: