Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Penyucian yang Progresif

Penyucian yang Progresif

Sebab kamu tidak akan dikuasai lagi oleh dosa, karena kamu tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia. Jadi bagaimana? Apakah kita akan berbuat dosa, karena kita tidak berada di bawah hukum Taurat, tetapi di bawah kasih karunia? Sekali-kali tidak! Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kematian, maupun dalam ketaatan yang memimpin kamu kepada kebenaran? Tetapi syukurlah kepada Allah! Dahulu memang kamu hamba dosa, tetapi sekarang kamu dengan segenap hati telah mentaati pengajaran yang telah diteruskan kepadamu. Kamu telah dimerdekakan dari dosa dan menjadi hamba kebenaran. Aku mengatakan hal ini secara manusia karena kelemahan kamu. Sebab sama seperti kamu telah menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kecemaran dan kedurhakaan yang membawa kamu kepada kedurhakaan, demikian hal kamu sekarang harus menyerahkan anggota-anggota tubuhmu menjadi hamba kebenaran yang membawa kamu kepada pengudusan. Sebab waktu kamu hamba dosa, kamu bebas dari kebenaran. Dan buah apakah yang kamu petik dari padanya? Semuanya itu menyebabkan kamu merasa malu sekarang, karena kesudahan semuanya itu ialah kematian. Tetapi sekarang, setelah kamu dimerdekakan dari dosa dan setelah kamu menjadi hamba Allah, kamu beroleh buah yang membawa kamu kepada pengudusan dan sebagai kesudahannya ialah hidup yang kekal. Sebab upah dosa ialah maut; tetapi karunia Allah ialah hidup yang kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita.

Rom.6:14-23

Eksposisi Surat Roma (17)

Rom.6-8 merupakan kelanjutan tema dari pembenaran kita di dalam Yesus Kristus. Pembenaran tidak terjadi sebab kita berbuat baik maka Allah membenarkan hidup kita. Pembenaran terjadi semata-mata karena Kristus sudah mati menggantikan dosa kita. Itu sebab pasal 6-8 bicara mengenai pengudusan orang Kristen. Kita menjalani hidup kudus sebab terlebih dahulu kita sudah dibenarkan.

Bagaimana kita menjalani hidup Kristen kita, khususnya bagaimana saya hidup di dalam pengudusan hari demi hari? Pertanyaan ini harus dijawab dengan jelas terlebih dahulu. Salah konsep mengenai pengudusan bisa mendatangkan cara hidup orang Kristen yang salah. Pernyataan Paulus, ‘tidakkah kamu tahu?’ itu menjadi penting untuk mengajar how do you know the aspects of sanctification. Bagi saya, salah satu kesalahan terbesar yang muncul di dalam Kekristenan adalah konsep pelepasan. Ada orang mengatakan kalau engkau sesudah menjadi orang Kristen masih melakukan dosa tertentu, maka dosa itu masih ada di dalam dirimu dan engkau perlu mengalami pelepasan. Ada orang yang selalu jatuh di dalam dosa perzinahan, hamba Tuhan tertentu mengatakan itu karena masih ada ‘roh zinah’ di dalam dirinya maka perlu pelepasan. Ada orang waktu kecil dikasih minum air abu hio dari temple, lalu hamba Tuhan mengatakan itu berarti Setan masih ada di dalam dirimu dan harus dimuntahkan. Ada orang lain bertanya kenapa kalau kebaktian mendengar khotbah selalu mengantuk? Hamba Tuhan mengatakan itu karena ada ‘roh ngantuk’ di dalam dirimu maka perlu pelepasan. Setelah menjalani pelepasan maka hidupmu akan bebas dan suci dan terbebas dari dosa-dosa seperti ini. Kemudian terjadi, tiga bulan selanjutnya orang itu berzinah lagi, orang itu mengantuk lagi, maka pendeta itu mengatakan roh zinah dan roh ngantuk itu masuk lagi. Pelepasan adalah konsep yang keliru karena dosa tidak bisa diusir dari hidup orang dan dia memiliki kuasa yang tetap ada. Yang kedua, konsep pelepasan menjadi berbahaya karena membuat orang Kristen bisa excused diri dan mempersalahkan pihak lain yang membuat dia berbuat dosa dan tidak merasa bertanggung jawab atas dosa yang diperbuatnya.

Di sisi lain kita melihat ada kelompok kaum Holiness Movement yang ada di dalam gereja Metodis yang mengatakan orang Kristen bisa mencapai hidup yang sinless, suci tanpa dosa di atas muka bumi ini. Akibatnya dengan konsep seperti ini bisa mendatangkan perasaan guilty feeling yang berkelebihan di dalam diri orang Kristen.

Saya ingin clear-kan hari ini konsep mengenai pengudusan yaitu Paulus membahas dua hal yang penting, kita berada di bawah kasih karunia, maka kita bukan lagi berada di bawah dosa dan tidak berada di bawah hukum Taurat. Waktu hidup kita ditebus oleh Kristus bukan kuasa dosa itu hilang dari hidup kita, yang ada ialah wilayahnya berpindah. Tadinya kita berada di dalam wilayah dosa, kita hamba dosa, kita dikuasai oleh dosa, dosa itu tuan dan kita budaknya. Maka penebusan Kristus membawa kita keluar dari wilayah dosa dan masuk kepada wilayahnya Tuhan. Di sini berarti orang Kristen yang sudah ditebus oleh Kristus pada saat yang sama memiliki manusia baru, nature yang baru, maka attitude kita, sikap kita, keinginan kita sama sekali baru yaitu mau melakukan apa yang Tuhan mau, meskipun pada saat yang sama dosa itu tetap tinggal di dalam hidup kita. Cuma bedanya, dulu dosa adalah tuan kita, sekarang meskipun dosa tetap ada di dalam kita, dia bukan lagi tuan kita. Dulu sebelum kita percaya Kristus, dosa memiliki kuasa dan power yang betul-betul ganas, dahsyat dan menipu dan sepenuhnya mengontrol kita sehingga tidak bisa tidak kita pasti menaatinya. Sekarang sesudah kita percaya Kristus, kuasa dan sifat dosa tetap sama namun dosa tidak lagi bisa mengontrol kita. Kita bisa mengatakan tidak terhadap dosa. Itu sebab Tuhan Yesus mengatakan jangan lagi memperhambakan hidupmu di bawah kuasa dosa. Artinya, kuasa dosa tetap ada tetapi kita bisa untuk tidak memperhambakan diri kepadanya. Seorang hamba Tuhan bernama J.C. Ryle mengatakan, “True Christianity is a fight.” Kekristenan yang sejati adalah satu hidup peperangan. Dengan konsep itu maka kita menyadari arti pengudusan bukan dosa itu dilepas begitu saja dari kita, dia tetap tinggal di dalam kita dan kita hidup berjuang hari demi hari bagaimana berperang mengatakan tidak, never surrender lagi di bawah kuasa dosa.

Dengan demikian, mungkinkah hidup orang Kristen bisa hidup perfect dan sempurna tanpa berbuat dosa lagi di dalam dunia ini? Jawabannya, tidak. Di dalam “Doa Bapa Kami” Tuhan Yesus mengajar kita untuk meminta pengampunan akan dosa kita kepada Bapa. Dalam 1 Yoh.1:8 tertulis barangsiapa mengatakan dia tidak lagi berdosa maka dia adalah penipu dan kebenaran tidak ada di dalam dia. 1 Yoh.3:9 mengatakan “Setiap orang yang lahir dari Allah tidak berbuat dosa lagi sebab benih ilahi tetap ada di dalam dia…” Orang Kristen memiliki ciri pertumbuhan di dalam kesucian, yaitu kalau dia sudah lahir dari Allah orang itu tidak lagi berbuat dosa. Kalimat ini mungkin kurang terlalu tepat diterjemahkan karena berdasarkan tenses-nya kalimat itu lebih tepat dikatakan ‘will not continuously to sin’. Artinya orang sudah mengalami lahir baru tidak akan terus-menerus berbuat dosa. Maka mungkinkah kita bisa jatuh dan khilaf? Mungkin saja. Tetapi tidak pernah menjadikan itu sebagai sesuatu kekhilafan yang terus-menerus. Kalau ada orang bilang ‘orang itu sudah mengaku sebagai orang Kristen, sudah dibaptis, sudah ikut ke gereja, tetapi kenapa hidupnya tidak mengalami perubahan?’ Kita tidak bisa melihat ciri eksternal bahwa seseorang itu sudah lahir baru. Kita tidak bisa melihat ciri eksternal bagaimana justification itu sudah terjadi atas diri seseorang. Yesus berkata, lahir baru itu seperti angin yang bertiup. Kita cuma bisa rasakan kehadirannya tetapi tidak bisa melihat angin itu darimana dan kemana berlalunya, demikian halnya dengan lahir baru. Maka anehlah kalau hamba Tuhan perlu menumpangkan tangan kepada orang sampai orang itu muntah-muntah dan itu dianggap menjadi ciri lahir baru dan Roh Kudus sudah tinggal di dalam dirinya. Itu sebab bicara bagaimana iman seseorang kepada Tuhan, bagaimana hidup relasi seseorang kepada Tuhan hanya dia dan Tuhan yang tahu. Dalam 2 Kor.13:5 Paulus meminta orang Kristen untuk menguji dan menyelidiki diri sendiri apakah dia yakin Kristus ada di dalam hatinya atau tidak. Bagaimana mengetahui tanda eksternal dari kelahiran baru? Rasul Paulus sendiripun tidak bisa tahu. Itu sebab dia bilang, ujilah dirimu sendiri. Kelahiran baru dan pembenaran Tuhan tidak ada ciri eksternal sebagai tandanya, tetapi yang ada ialah dua hal yang penting bagi saya yaitu pada orang itu terlihat progressive sanctification yang disertai dengan keinginan dan usaha orang itu memperlihatkan buah-buah dari pertobatannya. Buah-buah pertobatan itu disebutkan oleh Paulus di dalam 2 Kor.7:11 yaitu kesungguhan yang besar, pemberesan diri, kejengkelan terhadap diri yang tadinya hidup di dalam dosa, ketakutan, kerinduan, kegiatan dan readiness to see justice done. Yang kedua, progressive sanctification menjadi ciri eksternal yang kelihatan dari orang yang sungguh-sungguh sudah mengalami kelahiran baru. Kita memang tidak akan menjadi orang Kristen yang bisa hidup bersih dari dosa, tetapi kita akan mengalami proses pertumbuhan dan pengudusan. Di sini Paulus kemudian memberikan prinsip bagaimana mengalami penyucian yang progresif itu.

Pertama, dahulu kita serahkan diri kepada dosa, kita menjadi senjata dari dosa, dipakai menjadi alat dosa. Sekarang kita menjadikan diri kita sebagai senjata kebenaran. Lalu muncul argumentasi, lho bukankah katanya kita sudah bebas dari dosa, kalau sudah bebas lalu kemudian menjadi hamba kebenaran, bukankah itu namanya status tidak bebas? Dibebaskan dari hamba dosa lalu menjadi hamba kebenaran, jadi tetap hamba dong. Ini salah pengertian. Waktu Paulus bilang kita tidak lagi menjadi hamba dosa tidak berarti dosa sudah pergi dari dirimu, tetapi maksudnya kita tidak lagi menjadi budak dosa.

Kedua, waktu Paulus mengatakan kita tidak lagi di bawah hukum Taurat bukan berarti kita tidak lagi melakukan segala aturan yang ada di dalam hukum Taurat. Maksud Paulus kita tidak lagi berada di bawah hukum Taurat artinya ‘the covenant of work’ Tuhan kepada Adam di taman Eden yaitu manusia bisa mendapat hidup kekal dengan cara taat tanpa cacat cela melakukan semua hukum yang diperintahkan oleh Tuhan sebagai cara satu-satunya itu tidak lagi berlaku atas kita. Kita tidak lagi di bawah hukum Taurat artinya kita tidak lagi dengan cara melakukan hukum Taurat baru kita bisa menerima hidup yang kekal, sebab prinsipnya cuma sederhana, jika sedikit saja kita tidak taat kepada satu perintah hukum Taurat maka kita sudah melanggar semua perintah hukum Taurat. Kita tidak lagi di bawah hukum Taurat bukan berarti kita tidak melakukan apa yang diperintahkan hukum Taurat melainkan cara itu tidak lagi menjadi cara Tuhan membenarkan kita. Namun setelah kita dibenarkan, kita melakukan setiap yang diperintahkan Tuhan, kita tidak lagi mencuri, kita tidak lagi berdusta, kita taat menghormati orang tua, dsb bukan sebagai cara untuk masuk surga tetapi sebagai bukti kita sudah jadi orang Kristen.

Proses pengudusan orang Kristen adalah proses pengudusan yang tidak boleh netral, kata Paulus. Kalau kita sudah ditebus dari dosa, kita yang tadinya budak dosa sekarang harus menjadi budak kebenaran. Di situlah baru kita menemukan hidup kita sungguh-sungguh merdeka dan dibenarkan oleh Tuhan. Ini adalah hal yang sangat paradoks. Yesus berkata, “My truth will set you free.” Kita melakukan hukum Tuhan, kita taat kepada perintah Tuhan, kepada kebenaran firman Tuhan, justru di situ kita menemukan kemerdekaan dan kebebasan yang sejati. Maka prinsip pertama dari pengudusan di dalam Rom.6:17 sangat unik, dengan segenap hati kita menaati hukum Tuhan karena kita dibawa masuk kepada hukumnya Tuhan. Dengan kalimat ini Paulus ingin mengatakan kepada kita hukum Tuhan itu adalah sesuatu yang sudah patent, kita tidak boleh melakukan ketaatan kita kepada Tuhan berdasarakan preferensi kita sendiri, mana hukum yang kita suka itu yang kita taati. Itu yang Paulus katakan ketaatan kita adalah ketaatan dimana kita dibawa masuk kepada hukum Tuhan.

Kadang selesai kebaktian ada orang bilang, “Pak Effendi terima kasih, hari ini khotbahnya bagus sekali.” Tetapi yang bahaya kalau ditambah dengan kalimat ini, ”…khotbahnya bagus sekali untuk suami saya, atau untuk isteri saya, atau untuk anak saya, atau untuk orang itu…” Maksudnya khotbah ini kena sekali, memang cocok untuk dia, biar dia yang diubah karena problemnya di dia. Kalimat ini menarik, Paulus bilang, engkau taat dengan segenap hati kepada firman Tuhan, bukan engkau yang suka-suka pilih mana firman Tuhan tetapi engkau dimasukkan kepada kebenaran firman Tuhan. Dulu engkau adalah hamba dosa, sekarang dengan segenap hati engkau taat kepada kebenaran firman Tuhan.

Apa ciri dari progressive sanctification? Yaitu hati yang setia dan taat total bagaimana kita takut dan hormat terus menjalankan firman Tuhan. Itu ciri yang pertama. Itu sebab Yakobus selalu mengingatkan kita, jangan menjadi orang Kristen yang hanya mendengar firman tetapi menjadi pelaku firman (Yak.1:22). Ada satu hal yang sangat menyedihkan di dalam Yeh.33:30-33 yang bagi saya menjadi peringatan Tuhan yang seringkali menjadi hal yang terus terjadi di dalam kehidupan kita bergereja dimana-mana. Di dalam Yehezkiel ini, hal yang luar biasa terjadi. Orang menyukai khotbah nabi Yehezkiel, di mana-mana mereka mempercakapkannya dan mengundang orang lain untuk mendengar khotbahnya, tetapi Tuhan bilang, mereka suka mendengar firman tetapi tidak melakukannya. Mulut mereka penuh dengan kata-kata cinta kasih tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sangat menyedihkan, bukan? Berbeda dengan nabi Yeremia yang ditolak dan tidak didengar orang, nabi Yehezkiel sangat disukai orang tetapi bagi mereka Yehzkiel adalah entertainer firman Tuhan karena mereka hanya suka mendengar tetapi tidak pernah mau melakukannya.

Proses penyucian dimulai dengan sikap kita tidak mau lagi menjadi hamba dosa tetapi sekarang dengan wholeheartedly committed to obey Him, put ourselves into the truth of His word wholeheartedly. Sanctification hanya bisa terjadi dengan satu sikap tunduk kepada kebenaran firman Tuhan, dia menjadi otoritas yang tertinggi di dalam hidupku, tidak ada yang lain. Waktu saya tunduk, saya menghargai, saya mencintai, saya menghormati dan saya menjalankan firman Tuhan. Maka proses pengudusan bagi Calvin tidak pernah terlepas dari konsep ini: kalau Roh Kudus bekerja, itu pasti di dalam firman Tuhan. Kalau firman Tuhan yang sejati disampaikan, Roh Kudus pasti bekerja. Kalau ada orang berusaha men-separate, mereka mengagung-agungkan karya fenomena Roh Kudus tetapi tidak pernah membawa orang mencintai dan menjalankan firman Tuhan, itu bukan cara Tuhan.

Paulus menetapkan prinsip ini: tidakkah engkau tahu ketika engkau sudah ditebus oleh Kristus, engkau berada di dalam Kristus? Sekarang hidupmu bagaimana? Hidupmu taat segenap hati kepadaNya.

Kedua, hidup di dalam proses pengudusan adalah satu peperangan yang tidak pernah ada habis-habisnya. Di dalam peperangan itu mungkin kita kalah satu dua kali, tetapi kita tidak boleh lupa janji Tuhan, pada akhirnya nanti kita akan mengalami kemenangan di dalam pertempuran yang terakhir. Dengan janji itu, jangan ada orang yang menjalani hidup Kekristenannya dengan spirit kalah dan berhenti untuk berjuang di dalam peperangan rohani kita. Ini adalah hal yang tidak gampang sebab musuh kita itu luar biasa dahsyatnya. Maka di sini Paulus memberikan indikasi ‘senjata’ untuk menggambarkan peperangan rohani kita. Dahulu engkau memakai seluruh hidupmu menjadi senjata yang dipakai untuk melakukan dosa. Sekarang pakai seluruh hidupmu untuk menjadi senjata kebenaran. Waktu kita pakai hidup kita menjadi senjata dosa, buah apa yang kita dapat? Ini kalimat yang luar biasa, dulu waktu belum bertobat kita berbuat dosa dan bangga akan hal itu. Sesudah kita bertobat, sekarang kita menjadi malu akan perbuatan dosa kita. Dan yang lebih dahsyat adalah konsekuensi selanjutnya, hasil apa yang terjadi dari hal itu yaitu kita memetik kematian yang kekal. Rom.6:22, Paulus mengontraskan selanjutnya, kita menjadi senjata kebenaran supaya kita bisa memetik buah-buah yang membawa kita kepada pengudusan yang membawa kita kepada hidup kekal. Menjadi hamba dosa kita serahkan hidup menjadi hamba dosa. Menjadi hamba dosa, tidak ada hal yang kita petik daripadanya selain rasa malu dan yang lebih bahaya adalah kematian yang kekal. Tetapi sekarang kita bukan lagi hamba dosa melainkan hamba Kristus, kita serahkan hidup kita menjadi senjata kebenaran, supaya di dalamnya kita memetik buah-buah yang mendatangkan pengudusan dan hasilnya adalah hidup yang kekal.

Secara elaborasi di pasal 7 nanti Paulus akan memperlihatkan betapa peperangan rohani itu tidak gampang. Itu sebab tidak bisa tidak kita harus alert dan berjaga-jaga di dalam hidup kita hari demi hari. Sdr akan menemukan juga kalimat Tuhan Yesus yang mengingatkan betapa seriusnya peperangan rohani dan betapa berbahayanya jika kita tidak berjaga-jaga dalam Mark.14:38 “Roh memang ingin tetapi daging terlalu lemah.” Your spirit is willing to serve God but your flesh is so weak. Yesus menyadarkan kita akan hal itu. Dalam 1 Kor.9:27 Paulus mengatakan “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya…” Ini menggambarkan hypotetical perasaan dan ketakutan Paulus jangan sampai kita yang pergi memberitakan Injil tetapi hidup kita adalah hidup yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Maka Paulus mengatakan hari demi hari aku terus melatih diri. Roh ingin tetapi tubuh ini lemah. Itu sebab tubuh ini perlu didisiplin, didisiplin, didisiplin. Keinginan kita perlu dijaga dan dikontrol. Belajar besyukur dan belajar menikmati apa yang Tuhan kasih dengan segala kelimpahan syukur dan bukan untuk diri sendiri. Di situlah hari demi hari kita mendisiplin diri.

Rom.7:23-24 menyatakan mengapa kita perlu disiplin? Sebab peperangan itu tidak bersifat netral. Artinya, pada waktu kita berhenti kita mungkin bisa kalah. Ada dua hukum yang terus berjuang di dalam diri kita. Yang satu adalah hukum yang ingin cinta Tuhan, tetapi di pihak lain ada hukum lain yang terus menarik aku untuk tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan.

Dalam Gal.5:24 Paulus mengatakan barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Ini adalah proses yang painful sebab diri sendiri yang menyalibkan diri sendiri. Itu sebab melalui ayat-ayat ini sekaligus kita melihat bagaimana kita bisa bertumbuh. Pertumbuhan itu mari kita lihat dengan satu janji dari Tuhan, kita sudah dimerdekakan dari dosa, kita sudah memiliki hidup yang kekal, mari kita belajar taat kepada Tuhan. Hari ini saya mengajak sdr untuk menjalani proses bertumbuh menjadi orang Kristen. Satu, serahkan diri kita menjadi senjata kebenaran. Tidak ada jalan lain. Kita tidak mungkin bisa menjadi orang Kristen yang netral. Kita hanya pakai hidup kita menjadi senjata bagi dosa atau kita pakai hidup kita menjadi senjata bagi kebenaran. Taat sepenuhnya kepada kebenaran firman Tuhan. Kedua, berjuang hari demi hari di dalam peperangan rohani. Kiranya Tuhan memimpin kita hari demi hari berjuang hidup membuktikan kepada orang lain dan kepada dunia ini bahwa kita adalah anak-anak Tuhan dengan menyatakan pertumbuhan di dalam anugerah Tuhan dengan segala kerendahan hati menjadi orang Kristen yang taat kepada Tuhan. Bukan kita lebih suci daripada orang lain, tetapi biar kita menjadi orang-orang Kristen yang mengetahui betapa Tuhan adalah suci dan kudus adanya sehingga kita hidup sebagaimana seharusnya menjadi anak-anak Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

17 Januari 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: