Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Peperangan antara Daging dan Roh

Peperangan antara Daging dan Roh

Sebab kita tahu, bahwa hukum Taurat adalah rohani, tetapi aku bersifat daging, terjual di bawah kuasa dosa. Sebab apa yang aku perbuat, aku tidak tahu. Karena bukan apa yang aku kehendaki yang aku perbuat, tetapi apa yang aku benci, itulah yang aku perbuat. Jadi jika aku perbuat apa yang tidak aku kehendaki, aku menyetujui, bahwa hukum Taurat itu baik. Kalau demikian bukan aku lagi yang memperbuatnya, tetapi dosa yang ada di dalam aku. Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Jadi jika aku berbuat apa yang tidak aku kehendaki, maka bukan lagi aku yang memperbuatnya, tetapi dosa yang diam di dalam aku. Demikianlah aku dapati hukum ini: jika aku menghendaki berbuat apa yang baik, yang jahat itu ada padaku. Sebab di dalam batinku aku suka akan hukum Allah, tetapi di dalam anggota-anggota tubuhku aku melihat hukum lain yang berjuang melawan hukum akal budiku dan membuat aku menjadi tawanan hukum dosa yang ada di dalam anggota-anggota tubuhku. Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Rom.7:14-26

Eksposisi Surat Roma (18)

Hidup sebagai orang percaya bukan satu hidup yang pasif. Waktu kita menjadi anak Tuhan, Tuhan menyelamatkan dan membenarkan kita, memberikan hidup yang kekal nanti di surga. Namun Tuhan tidak memanggil kita untuk tinggal diam menantikan penggenapan dari janji itu. Sebaliknya, Dia ingin kita menjalani satu hidup yang secara aktif berjuang dan berperang melawan segala sifat kedagingan dan hidup menyatakan segala sifat kekudusan yang menjadi ciri dari seorang anak Tuhan. Dalam bagian ini Paulus mengatakan yang membuat kita bisa berjuang dan berperang melawan segala sifat kedagingan adalah karena yang pertama kita sudah ditebus oleh Yesus Kristus dan yang kedua ada Roh Kudus di dalam hidup kita yang memampukan kita untuk memiliki keinginan untuk hidup suci di hadapan Tuhan. Itu hidup peperangan rohani kita. Pasal 7 dari surat Roma ini Paulus bicara mengenai perjuangan kita hidup di satu pihak ingin hidup menaati segala hal yang baik yang Tuhan berikan di dalam hukumNya, tetapi di pihak lain ada satu kuasa yang berjuang untuk selalu membawa kita melanggar akan hukum Allah. Keadaan ini membuat kita menjadi frustrasi dan kadang menjadi lemah. Namun Paulus juga menjelaskan apa sebenarnya makna dan fungsi hukum Taurat bagi kita sebagai anak-anak Tuhan.

Hukum Taurat muncul memiliki fungsi ini:

1. Menyadarkan kita bahwa dosa itu konkrit. Sebelum hukum Taurat ada, orang punya keinginan untuk mengambil milik orang lain tetapi tidak melihat hal itu sebagai pelanggaran kepada hukum. Tetapi setelah hukum Taurat ada, pelanggaran dan dosa menjadi sesuatu yang konkrit menyatakan pelanggaran kita. Paulus mengatakan, ”…justru oleh hukum Taurat aku mengenal dosa” (Rom.7:7).

2. Hukum Taurat itu ada memberitahukan kepada kita bahwa pelanggaran dosa kita bukan bersifat horisontal tetapi bersifat vertikal. Waktu kita melakukan sesuatu pelanggaran, hal itu bukan saja berkaitan dengan orang lain kita rugikan, tetapi berkaitan dengan Allah yang membuat hukum itu. Melakukan pelanggaran berarti tidak menaati Allah yang membuatnya.

3. Hukum Taurat itu ada hanya untuk memberitahukan kepada kita bahwa dia tidak sanggup untuk membuat engkau bisa lebih baik. Hukum Taurat tidak sanggup melepaskan engkau dari kuasa dosa. Hanya kematian Kristus di atas kayu salib menebus kita dari dosa, melepaskan kita dari belenggu kuasa dosa. Itu yang menjadi kekuatan kita untuk memiliki hidup yang baru. Kedua, adanya Roh Kudus yang diberikan di dalam hatimu yang secara naturnya memiliki keinginan yang selalu bertentangan dengan keinginan roh, di situlah peperangan rohani engkau dan saya bagaimana kita bisa hidup terus menerus berjuang menghadapi keinginan daging yang melawan keinginan roh.

Menghadapi itulah maka Paulus kemudian berbicara mengenai peperangan rohani di dalam Rom.7 ini. Mari kita lihat beberapa hal yang penting untuk memberitahukan kepada kita bahwa ini adalah peperangan rohani yang dihadapi setiap orang Kristen.Paimg tidak ada dua hal yang penting di sini muncul. Yang pertama, di dalam terjemahan bahasa Indonesia mungkin kurang terlalu jelas tetapi di dalam terjemahan bahasa Inggris kita menemukan perbedaan di dalam penggunaan tenses-nya. Rom.7:7-13 Paulus memakai bentuk Past Tense, lalu Rom.7:14-26 Paulus memakai bentuk Present Tense. Pembedaan tenses ini membuat kita bisa mengambil kesimpulan bahwa ayat 7-13 Paulus bicara mengenai hidup manusia yang belum mengenal Tuhan, belum mengalami penebusan dan pengampunan dan pembenaran dari Kristus. Sedangkan ayat 14-26 Paulus bicara mengenai hidup kita sekarang, hidup orang percaya. Ini adalah satu bagian yang begitu real dan nyata dari pergumulan yang dihadapi oleh seorang rasul Tuhan, memberitahukan kepada kita di dalam peperangan rohani itu engkau dan saya tidak bisa bermain-main dan tidak bisa lengah sedikitpun. Paulus mengatakan, di dalam hidup kita mengalami peperangan itu dan di dalam peperangan itu kadang-kadang kita kalah karena keinginan daging kita membuat kita hanya melakukan apa yang kita tidak ingin dan sebaliknya tidak melakukan apa yang seharusnya kita lakukan.

Yang kedua, pergumulan yang digambarkan Paulus di dalam Rom.7:14-26 ini pasti bukan pergumulan dari orang yang belum lahir baru. Mengapa saya mengambil kesimpulan itu? Sebab kalau kita bilang ini adalah pergumulan orang yang masih belum lahir baru, itu bertentangan dengan konsep teologi Paulus di ayat 22 ”… di dalam batinku aku suka akan hukum Taurat.” Mari kita bandingkan dengan Ef.2:1 “Dahulu kamu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosamu.” Di sini Paulus bicara mengenai realita dan kondisi orang yang belum ditebus. Bagi Paulus orang yang belum lahir baru, yang masih hidup di dalam dosa, yang belum ditebus oleh Kristus, mereka berada di dalam kondisi rohani seperti ini, mati di dalam dosa dan pelanggaran. Artinya mereka yang hidup di dalam dosa dan berada di dalam dosa tidak memiliki keinginan untuk melakukan apapun yang Tuhan perintahkan. Sedangkan di dalam Rom.7:22 Paulus mengatakan di dalam hatinya dia suka akan hukum Allah. Bagaimana mungkin itu adalah kesukaan orang yang belum lahir baru? Maka ayat ini memberikan indikasi bahwa ini adalah satu kesaksian Paulus bicara mengenai peperangan rohani yang ada di dalam dirinya, sekaligus juga bicara mengenai peperangan rohani yang ada di dalam hidup setiap kita. Kenapa Paulus memberitahukan hal ini kepada kita dengan seolah-olah bernada betapa beratnya peperangan rohani ini? Jawabannya singkat dan sederhana, dari sini Paulus ingin memberitahukan kepada kita setiap kali kita menang di dalam dosa, itu pasti bukan datangnya dari kekuatan diri kita sendiri. Setiap kali kita bisa menang terhadap dosa, itu sebab karena Yesus Kristus sudah mati menebus dosa engkau dan saya, final. Tidak ada yang bisa kita tambahkan lagi kepada kematian Kristus. Sehingga walaupun kita berada di dalam peperangan rohani dan kadang kala tidak melakukan apa yang Tuhan mau, Paulus dengan jujur memberitahukan hal itu dengan jujur dan terbuka. Itu adalah fakta dan realita yang sering kita alami. Tetapi bukan karena kita sanggup bisa menang, itu menjadi bukti bahwa kita menambahkan sesuatu kepada penebusan yang dilakukan Kristus. Itu sebab Paulus dengan jujur bicara mengenai peperangan rohani yang kita kadang kala tidak bisa menang di dalamnya oleh karena adanya belenggu dosa yang membawa kita terseret lagi ke situ. Sampai di sini kita akan melihat beberapa hal yang penting.

Yang pertama, mari kita buka 2 Kor.5:6-10. Ini adalah keluhan Paulus hidup di dalam tubuh yang lemah ini betapa sulit dan susahnya. Maka kalau boleh pilih, dia lebih senang hidup bersama Tuhan di surga karena dengan demikian berarti sampai ketemu dengan Tuhan itulah moment dimana kita tidak lagi hidup di dalam kelemahan tubuh ini, maka kita berhenti berjuang dan berperang di dalam tubuh yang berdosa ini. Kalau disuruh memilih, aku lebih suka pergi ke sana, kata Paulus. Kita bandingkan dengan Rom.7:24 Paulus berseru, “Aku manusia celaka! Siapa yang dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini?” Bagaimana menafsir kalimat ‘siapa yang dapat melepaskan aku dari tubuh maut ini’? Apa yang dimaksud Paulus di sini? Kebanyakan penafsir setuju kenapa dilema peperangan rohani itu muncul, karena Paulus mengatakan bahwa kita hidup di dalam dunia ini kita masih memiliki tubuh yang begitu lemah. Itu sebab keluhan ini muncul. ‘Aku manusia celaka!’ Aku ingin sekali kalau bisa lepas dari tubuh yang binasa seperti ini.

Tetapi kita tidak perlu takut. Pertama, kita percaya someday kita akan bertemu dengan Kristus, memiliki tubuh kemuliaan. Di situlah kita berhenti berdosa. Di dalam tubuh yang masih lemah ini kita mungkin sekali masih gampang berbuat dosa. Maka baik di dalam surat kepada jemaat Korintus maupun kepada Filipi, Paulus mengatakan hal yang sama. Aku ingin kalau bisa cepat-cepat ketemu Kristus. Tetapi kalau aku masih diberi kesempatan untuk hidup, melalui hidupku ini aku memberitakan Injil. Selama kita masih diam di dalam tubuh yang fana ini kita masih jauh dari Tuhan, tetapi aku ingin sekali someday ketemu dengan Dia.

Yang kedua, secara elaborasi di pasal 7 ini Paulus memperlihatkan betapa peperangan rohani itu tidak gampang. Itu sebab tidak bisa tidak kita harus alert dan berjaga-jaga di dalam hidup kita hari demi hari. Tuhan Yesus juga mengingatkan betapa seriusnya peperangan rohani dan betapa berbahayanya jika kita tidak berjaga-jaga dalam Mark.14:38 “Roh memang ingin tetapi daging terlalu lemah.” Your spirit is willing to serve God but your flesh is so weak.

Di dalam teologi St. Agustinus dari Hippo menyebutkan beberapa posisi orang berkaitan dengan dosa. Yang pertama, Adam sebelum jatuh di dalam dosa berada di dalam posisi yang dia sebut ‘posse peccare, posse non peccare,’ satu status innocent yaitu able to sin, able not to sin – bisa berdosa, bisa tidak berdosa. Sesudah Adam jatuh di dalam dosa hingga sebelum Kristus datang menebus dosa, itu adalah status ‘non posse non peccare,’ not able not to sin, tidak dapat tidak berdosa. Sesudah kita ditebus oleh Kristus hingga kita bertemu denganNya, kita berada di dalam status ‘posse non peccare,’ able not to sin, bisa tidak berdosa. Nanti sesudah kita bertemu dengan Kristus, itu adalah periode yang Agustinus sebut ‘non posse peccare,’ kita tidak berdosa lagi. Di situlah segala keindahan kemuliaan Kristus boleh kita nikmati sepenuhnya. Maka inilah keluhan Paulus, selama aku masih hidup di dalam tubuh yang sudah dicemari dosa ini aku terus berjuang dan berperang untuk supaya tidak berdosa. Itu adalah peperangan yang berat karena aku berjuang untuk tidak melakukan apa yang diingini oleh tubuh yang berdosa ini. Bicara mengenai hal ini, mari kita melihat beberapa contoh praktis yang diberikan oleh rasul Yakobus di dalam Yak.1:12, bagaimana step dan langkah kejatuhan yang bisa membawa kita ke dalam dosa. Datangnya pencobaan di dalam hidup kita itu belum menjadi dosa. Yang bisa menang dan bertahan terhadap pencobaan itu Yakobus sebut berbahagia. Yak.1:15, pencobaan itu datang munculnya dari keinginan (desire) dan apabila keinginan itu telah dibuahi, dia melahirkan dosa dan apabila dosa itu sudah matang, dia melahirkan maut. Apakah adanya keinginan itu salah bagi orang Kristen? Tidak. Hidup kita tidak lepas daripada keinginan. Tubuh kita memiliki keinginan. Tetapi Yakobus mengingatkan jangan sampai keinginan itu berubah menjadi dosa di dalam hidup engkau dan saya.

Yang ketiga, dalam 1 Kor.9:27 Paulus mengatakan “Aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya…” Ini menggambarkan hypotetical perasaan dan ketakutan Paulus jangan sampai kita yang pergi memberitakan Injil tetapi hidup kita adalah hidup yang tidak berkenan di hadapan Tuhan. Maka Paulus mengatakan hari demi hari aku terus melatih diri. Roh ingin tetapi tubuh ini lemah. Itu sebab tubuh ini perlu didisiplin. Keinginan kita perlu dijaga dan dikontrol. Belajar besyukur dan belajar menikmati apa yang Tuhan kasih dengan segala kelimpahan syukur dan bukan untuk diri sendiri. Di situlah hari demi hari kita mendisiplin diri. Rom.7:23-24 menyatakan mengapa kita perlu disiplin? Sebab peperangan itu tidak bersifat netral. Artinya, pada waktu kita berhenti kita mungkin bisa kalah. Ada dua hukum yang terus berjuang di dalam diri kita. Yang satu adalah hukum yang ingin cinta Tuhan, tetapi di pihak lain ada hukum lain yang terus menarik aku untuk tidak melakukan apa yang Tuhan perintahkan. Paulus menyadari hal itu. Itu sebab belajar hidup berjuang bagaimana menang terhadap segala keinginan daging yang bisa datang membuahkan dosa di dalam hidup kita. Masih ingat bagaimana Paulus mendorong kita untuk mendisiplin hidup, belajar terus mengontrol bagaimana bisa bertahan menghadapi segala kelemahan daging ini.

Di dalam kisah Sodom dan Gomora, saya menemukan degradasi kelemahan dan kejatuhan yang muncul di dalam hidup Lot. Satu kata yang unik sekali dicatat di dalam Kej.19:16 “ketika Lot berlambat-lambat…” Ini bukan dalam pengertian Lot jalannya lambat dan pelan, melainkan memiliki arti betapa sayangnya dia melepaskan semua yang indah dan baik yang ada di kota Sodom dan Gomora. Masih untung Lot tidak menengok ke belakang seperti isterinya. Dalam Luk.17:32 Yesus mengeluarkan kalimat pendek, “Remember Lot’s wife!” Kata ini menarik, ‘berlambat-lambat.’ Betapa mudahnya dan betapa gampangnya keinginan yang ada di dalam dunia ini membuat kita berjalan lambat dan pelan di dalam pertumbuhan rohani kita.

Nanti di dalam Rom.8 Paulus memberikan kepada kita bagaimana kita bisa hidup menang di dalam peperangan rohani ini. Namun sebelum sampai ke bagian itu, melalui khotbah saya hari ini biar kita sekali lagi mengoreksi diri kita di hadapan Tuhan. Akui di hadapanNya, Tuhan, saya punya keinginan, saya punya kebutuhan, tetapi biar segala keinginan dan kebutuhan itu tidak menjadi penghalang bagiku mengutamakan Tuhan dan mencintai Tuhan di dalam hidupku hari lepas hari. Jangan biarkan begitu banyak keinginan kita di dalam dunia ini membuat kita dijerat dan tidak sanggup untuk bisa maju terus melihat panggilan surgawi kita lebih utama dan lebih mulia di dalam hidup kita. Biar kita belajar melalui firman Tuhan supaya di dalam peperangan-peperangan rohani yang ada di dalam hidup kita membuat kita sadar ada musuh di dalam hati kita yang tinggal di sana, yang kadang mengecoh dan menipu kita. Biar setiap hari kita berjalan mengikut Tuhan, kita selalu ingat harta kami yang terindah adalah menjalani panggilan hidup bersama Tuhan. Minta Tuhan selalu memimpin di dalam perjalanan hidup kita, melengkapi kita dengan segala hal yang kita butuhkan untuk menang di dalam peperangan itu.

Pdt. Effendi Susanto STh.

24 Januari 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: