Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Persembahan: Sukarela atau Sesuka Hati?

Persembahan: Sukarela atau Sesuka Hati?

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati.

Rom.12:1

Eksposisi Surat Roma (26)

‘Karena itu demi kemurahan Allah aku menasehatkan kamu supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, kudus dan berkenan kepada Allah. Itu adalah ibadahmu yang sejati’ (Rom.12:1)

Ayat ini diawali dengan kata “karena itu” membuktikan kepada kita bahwa di awal dari kalimat ini tetap harus ada satu awal yang menjadi awal dari segala-galanya. Adalah suatu hal yang sedih jikalau kita menyaksikan orang yang sudah berhasil melupakan akar darimana dia datang. Adalah suatu hal yang sangat menyakitkan hati jikalau ada orang yang tidak pernah menghargai bahwa segala hal yang dia dapat, kesuksesan yang dia raih, itu semua memiliki akar awalnya. Demikian juga dengan hidup Kekristenan kita, mengawali bagaimana kita hidup di hadapan Tuhan, Paulus mengawali kalimat ini dengan kata “karena itu,” berarti apa yang kita lakukan, apa yang kita kerjakan, apa yang bisa keluar dari hidup kita pasti berangkat dan memiliki sumber terlebih dahulu. Namun ayat ini menjadi indah adanya karena ini seolah-olah merupakan suatu konsekuensi logis dari sesuatu yang tidak mungkin tidak merupakan rantai yang saling terikat. Tetapi kalau itu adalah rantai yang saling terikat, apakah berarti segala hal yang kita kerjakan selanjutnya ke depan adalah karena ada ikatan di belakangnya, haruskah kita melakukannya dengan terpaksa? Haruskah kita lakukan itu dengan hati yang merasa didesak dan didorongkah? “Kenapa saya harus?” Mungkin pertanyaan ini sering muncul di dalam hati orang percaya. Namun sekali lagi, bagi saya ayat ini sangat indah, Paulus mulai dengan kata “karena itu,” tetapi di tengahnya ada satu kata”demi kemurahan Allah,” yang sangat penting sekali untuk memberitahukan kepada kita apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidup kita adalah sesuatu yang tidak bisa kita ganti dan balas kembali. Tetapi apa yang Tuhan tuntut kepada kita memang merupakan sesuatu konsekuensi logis, karena engkau terlebih dahulu sudah diberi sesuatu oleh Tuhan, maka mari kita mempersembahkan sesuatu kepadaNya. Tetapi bisa jadi pemberian kita membalas apa yang Tuhan telah perbuat akhirnya kita rasa menjadi sesuatu keharusan dan keterpaksaan dari hati kita. Maka keluar satu kata yang indah luar biasa, “Karena itu demi kemurahan Allah, aku mendesakmu…” Tuhan telah mengerjakan keselamatan kita dengan begitu besar dan dahsyat, tetapi pada waktu Tuhan meminta kembali kepada kita, Dia tidak memintanya sebagai suatu hal yang memaksa kita. Paulus tidak bilang “I command you…” tetapi juga bukan bilang “I counsel you…” Kata yang dipakai oleh Paulus di sini adalah “I urge you… aku mendesak engkau…” untuk mempersembahkan hidupmu kepada Tuhan. Kata ‘urge’ berarti dia bukan sesuatu keharusan tetapi bukan juga merupakan suatu nasehat yang boleh tidak boleh dilakukan, terserah. Dengan mengggunakan kata ‘urge’ ini Paulus tidak sekedar menasehati sebagai pilihan kita, terserah kita mau atau tidak mau. Dengan kata ini dia mengingatkan kita, kalau kita tidak berespons demikian kita adalah orang yang tidak tahu berterimakasih. Kenapa? Karena semua yang ada di dalam hidup engkau dan saya, semua yang terjadi di dalam hidup kita sekarang disebabkan karena kemurahan Allah yang tidak ada habis-habisnya, yang dibahas oleh Paulus dengan tuntas sebelas pasal panjangnya, kenapa kita tidak sanggup bisa melihat betapa besar the mercy of God di dalam hidup kita? Namun dia juga tidak mau memakai kata “aku memerintahkan kamu…” karena Allahpun tidak ingin mendapatkan sesuatu dari hidup kita yang lahir dari keterpaksaan. Maka dengan kata ‘urge,’ Allah tidak paksa namun Paulus membuka hati kepada kita mari dengan sukacita dan sukarela kita datang membawa satu korban persembahan kepada Tuhan.

Kemudian Paulus bicara mengenai bagaimana hal yang indah yang akan kita beri dengan kaya sekali mengenai konsep persembahan yang ada di dalam PL. Itu sebab untuk mengerti Rom.12:1 ini kita akan melihat latar belakang bagaimana Tuhan sendiri mengajak kita melihat konsep sacrifice/persembahan dalam PL. Sepuluh pasal pertama dari kitab Imamat bicara mengenai regulation yang Tuhan berikan kepada bangsa Israel berkaitan dengan sacrifice persembahan kepada Tuhan. Dengan memberikan peraturan ini, tidak bisa tidak bangsa Israel selalu harus ingat kenapa Tuhan memberi sepuluh hukum dan peraturan mengenai persembahan seperti ini, waktu Tuhan memberi sepuluh hukum, Ia mengawali dengan kalimat “karena Aku, Tuhan, yang sudah membawa engkau keluar dari perbudakan di Mesir…” Ingat di situ hidupmu tidak punya harapan, tidak ada masa depan. Dengan tanganKu yang kuat dan penuh kasih, Aku bawa hidupmu keluar dari sana. Maka aturan dan hukum ini tidak boleh dilihat menjadi suatu keterpaksaan, tidak boleh dilihat menjadi satu hal yang memberatkan hidup perjalanan kita mengikut Tuhan.

Di situ paling tidak sdr akan menemukan ada lima macam sacrifice yang Musa atur di situ. Korban bakaran, korban sajian, korban keselamatan, korban penghapus dosa dan korban penebus salah. Lima macam sacrifice ini memang diatur oleh Tuhan agar bangsa Israel bawa kepada Tuhan, tetapi tidak semua dari lima macam sacrifice ini yang merupakan compulsory. Hanya dua sacrifice yang compulsory sedangkan yang tiga lainnya adalah voluntarily. Dua sacrifice yang wajib yaitu korban keselamatan dan korban penghapus dosa, dilakukan karena berkaitan sebagai bayang-bayang dari korban Tuhan Yesus kepada kita. Bukan Tuhan mau sesuatu dari kita, bukan Tuhan mau barang yang mahal dari kita, tetapi itu menjadi bayang-bayang dari korban yang mahal yang Tuhan Yesus berikan melalui penebusanNya kepada kita.

Tuhan menyuruh orang Israel membawa korban keselamatan berupa sapi atau kambing. Tidak kurang daripada itu. Nanti di dalam sacrifice yang lain, bagi orang yang sangat miskin, Tuhan mengijinkan mereka membawa burung merpati. Sekalipun miskin, mereka tetap harus membawa sapi atau kambing yang terindah dan terbaik karena di situ mereka menghargai arti pengorbanan Tuhan yang mahal kepada manusia. Korban keselamatan adalah korban yang memang wajib kita bawa kepada Tuhan satu kali setahun sebab kita tahu kita orang yang berdosa, bawa sapi atau kambing yang terbaik, tidak boleh ada cacat cela dan tidak ada yang boleh ambil sedikitpun. Seluruhnya harus dibakar di atas mesbah untuk Tuhan. Korban penghapus dosa adalah berkaitan dengan kesadaran bahwa ada hal-hal yang telah kita lakukan dengan tidak sengaja. Maka waktu seseorang datang kepada Tuhan, mungkin ada hal-hal yang tanpa disadari telah dia lakukan, maka itu harus dibereskan dengan korban penghapus dosa. Inipun adalah korban yang harus dipersembahkan seluruhnya. Namun hubungan kita dengan Tuhan bukan hanya dibereskan dengan dua korban ini. Hubungan kita dengan Tuhan harus lebih dalam daripada itu. Tetapi Tuhan tidak mewajibkan tiga macam persembahan yang selanjutnya. Tuhan hanya menjadikan itu sebagai sesuatu yang voluntarily sacrifice. Kita bisa melihat pada waktu anak-anak Ayub habis berpesta, lalu Ayub berpikir mungkin anak-anaknya berbuat salah di situ, lalu dia membawa korban bakaran kepada Tuhan. Sdr bisa melihat di beberapa tempat di Alkitab, Abraham misalnya, juga membawa korban bakaran kepada Tuhan. Ini korban yang bersifat voluntarily. Jadi selain korban penghapus dosa dan korban keselamatan, Tuhan mengatakan lakukan satu korban bakaran yaitu satu korban untuk kita mencetuskan perasaan betapa dalamnya cinta kita kepada Tuhan, satu korban untuk mencetuskan berapa taatnya kita kepada Tuhan. Ini tidak dilakukan satu kali setahun, tetapi terserah berapa banyak kali engkau mau lakukan. Seberapa dalam kita merasa keluarga kita sudah jauh dari Tuhan lalu kita membawa mereka kembali dengan mengadakan korban bakaran kepada Tuhan. Korban ini bersifat sukarela, korban ini bersifat tidak diatur berapa kali silakan lakukan berdasarkan berapa dalam cinta kita kepada Tuhan. Korban kedua yang bersifat voluntarily adalah korban sajian. Korban ini adalah korban secara khusus membawa hasil panen, hasil pekerjaan tangan kita sebagai korban syukur karena apa yang Tuhan sudah kerjakan di dalam hidupmu. Korban sajian ini kemudian dibawa ke hadapan Tuhan sebagai hasil dari panen yang berlimpah, hasil gandum yang banyak, ternak sapi yang berbiak, semua kita bawa sebagai syukur kepada Tuhan. Sebagian korban itu dibakar sebagai persembahan bagi Tuhan dan sebagian lagi diberikan kepada keluarga imam dan orang Lewi. Sdr perhatikan korban lainnya tidak bisa diberikan kepada keluarga imam. Maka hal yang jahat telah dilakukan oleh anak-anak imam Eli ketika mereka mengambil korban yang bukan menjadi hak mereka. Korban sajian ini bukan saja merupakan korban syukur kepada Tuhan tetapi juga bersyukur secara sosial, menjadi berkat bagi keluarga imam dan orang Lewi yang melayani di rumah Tuhan. Lalu kroban yang ketiga adalah korban damai sejahtera atau peace offering. Korban ini tidak punya alasan khusus melainkan sebagai satu acknowledge how good is God in your life. Satu korban yang kita beri dengan sukacita dan sukarela karena Tuhan sudah terlalu baik di dalam hidupmu. Tidak memiliki acuan sebab akibat apa-apa, melainkan hanya didorong oleh kesadaran betapa besar cinta kasih Tuhan kepada dia. Maka melihat konsep korban, ada dua yang wajib dan ada tiga yang sukarela ini, maka bagaimana dengan hidup korban orang Kristen di dalam PB? Kita sudah tidak lagi hidup di dalam hukum PL maka keluar kalimat penting dari rasul Paulus, bagaimana itu sekaligus satu keharusan kewajiban tetapi itu adalah sukarela yang Tuhan tidak paksa. Maka dengan sukarela kita datang memberi kepada Dia, tetapi ingat baik-baik, tidak boleh dengan sesuka hati. Memberi sesuatu kepada Dia yang sudah melakukan hal yang begitu besar kepada kita, kita memberi dengan sukarela tetapi tidak boleh sesuka hati. Bedanya dimana? Sesuka hati berarti waktu saya suka, saya beri hati. Kalau saya lagi tidak suka, hati tidak ada. Itu namanya sesuka hati, terserah saya.

Kita bisa memberi sebabnya bukan dari kita, source-nya dari Tuhan. Tetapi walaupun source-nya dari Tuhan tidak berarti itu harus sebagai paksaan. Ini bukan hal yang gampang. Orang selalu datang kepada saya dengan pertanyaan, “Berapa besar sih saya harus kasih kepada Tuhan? Bagaimana mendefinisikan sepersepuluh, pemasukan kotor atau sesudah dipotong pajak?” Pertanyaan terus muncul seperti itu. Maka sdr pegang ayat Rom.12:1 ini baik-baik. ‘Karena Allah penuh dengan segala kemurahan yang tidak ada habis-habisnya,’ kata Paulus. Kemurahan Allah itu luar biasa dahsyat dan dalam, sampai-sampai Yesus mengatakan orang jahat sekalipun tetap memperoleh hujan dan berkat dariNya. Itu adalah cinta kasih kemurahan Allah yang luar biasa. Tuhan mau kita datang kepada Dia dengan sukarela tetapi kita tidak boleh datang sesuka hati kita kepadaNya. Maka Paulus bilang, beri persembahan hidup kepada Tuhan bukan dengan keterpaksaan nanmun dengan sukarela, tetapi bukan dengan sesuka hati. Mempersembahkan sesuatu yang paling indah yang kita bisa beri kepada Tuhan dan sangat menarik sekali persembahan itu cuma satu, yaitu tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Puji Tuhan, keluar kalimat ini. Persembahan kita, sacrifice kita kepada Tuhan adalah tubuh yang Tuhan sudah tebus ini. Dengan menggunakan tubuh sebagai sacrifice kepada Tuhan maka tidak ada orang yang boleh minder dan bilang dia tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Sacrifice kepada Tuhan tidak berkaitan dengan berapa banyak yang kita miliki, berapa harta kekayaan kita. Dengan memakai kata ‘persembahkan tubuhmu,’ berarti semua kita memiliki kemungkinan memberi persembahan kepada Tuhan dan semua kita tidak boleh minder berkata kita tidak punya apa-apa untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Puji Tuhan!

Kita lahir telanjang, untuk memberitahukan kepada kita semua yang kita miliki sekarang ini cuma atribut yang melekat kepada kita. Kita mati, kita tidak bawa apa-apa ke sana. Itu sebab Tuhan tidak mengatakan beri apa yang ada padamu, tetapi Dia hanya mengatakan berikan tubuhmu sebagai a living sacrifice bagiNya, itu yang terpenting. Dengan mengatakan persembahkan tubuh berarti Tuhan tidak mau pemberian materi kita saja tetapi Tuhan mau hati dari orang-orang yang memberi. Tetapi bagaimana indahnya pemberian kita kepada Tuhan dan bagaimana kita boleh melihat prinsip penting ini? Sacrifice adalah satu kata yang sangat indah luar biasa. Persembahan korban menjadi satu kata yang indah. Dengan mengerti arti kata ini akan membuat kita belajar memberi dengan benar kepada Tuhan.

Apa yang menyebabkan persembahan kita menjadi agung dan besar di hadapan Tuhan? Yang pertama, adalah dengan mengerti perbedaan antara sacrifice and offering. Offering selalu lahir dari perasaan karena ada sesuatu yang keluar dari diri kita, tetapi sacrifice selalu keluar dari apa yang masih ada tersisa di dalam diri kita. Itu dua hal yang berbeda. Maka korban persembahan tubuh kita menjadi indah dan agung pada waktu kita melihat beberapa konsep ini. Tuhan sudah memberi banyak, tetapi Tuhan tidak memaksa kita untuk memberi balik kepada Dia sepadan dengan yang sudah Dia berikan kepada kita. Dia hanya minta kita memberi dengan sukarela. Kalau sacrifice itu lahir dari orang yang menyadari bahwa relationshipnya dengan Tuhan adalah suatu relationship kasih persahabatan. Maka waktu Yesus Kristus mengeluarkan kalimat yang begitu agung, memperlihatkan perbedaan yang begitu dalam antara Kekristenan dengan agama yang lain, Yesus mengatakan, “Tidak ada kasih yang begitu besar daripada kasih seorang sahabat yang memberikan nyawanya bagi temannya.” Tuhan tidak memakai sebutan lain selain engkau dan saya adalah sahabat-sahabat Tuhan Yesus. Maka satu sacrifice menjadi indah karena kita tahu yang disebut dengan pengorbanan yang besar adalah satu pengorbanan yang lahir karena kita tahu kita sudah terlebih dahulu mendapatkan kasih Tuhan yang terlalu besar itu kepada kita.

Satu ayat yang sangat menyentuh hati saya dalam 1 Kor.4:7, memperlihatkan bagaimana Paulus sangat mengerti konsep mengenai kasih yang berkorban/sacrifice love tetapi bagaimana dia menyatakan kesedihan hatinya karena hal itu tidak ada di dalam diri jemaat Korintus. ”…dan apakah yang engkau punyai yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang sudah terima, mengapa kamu seolah-olah bilang belum terima?” Ini adalah dua langkah yang menyedihkan luar biasa. What do you have that you did not receive? Semua yang kita miliki sesungguhnya adalah pemberian yang kita terima. Tetapi jemaat Korintus tidak mau mengakui kebenaran ini. Yang lebih celaka lagi, sudah terima bilang belum terima. Sadar diri sudah terima, itu hal yang penting. Yang kedua, apa yang kita miliki sekarang adalah karena kita terima terlebih dahulu. Dalam Luk.7 pada waktu Yesus makan di rumah seorang Farisi, datang seorang wanita yang mencuci kaki Yesus dengan air matanya dan menyekanya dengan rambutnya. Orang Farisi tidak bisa terima akan hal ini, lalu Yesus mengeluarkan kalimat yang penting, menegur secara halus tetapi merupakan satu kesadaran yang dalam pada waktu seseorang sanggup mengeluarkan great sacrifice because he realised he already received great gifts from God. “Siapakah yang lebih berterimakasih, orang yang dosanya diampuni lebih banyak atau yang lebih sedikit?” Tidak berarti kita punya dosa lebih sedikit daripada orang lain karena semua kita sama berdosa di hadapan Tuhan. Yang Tuhan Yesus maksudkan di sini adalah bagaimana seseorang bisa menyadari berapa besar yang Tuhan sudah beri kepada kita pasti akan melahirkan berapa dalam sukarela dan sukacita kita memberi kepada Tuhan.

Yang kedua, satu sacrifice itu menjadi indah dan agung sebab kita mengerti konsep ekonomi dari Tuhan yaitu bukan berapa lebar yang bisa kita beri melainkan berapa dalam yang kita gali dari hidup kita. Pemberian janda miskin di Bait Allah ditinjau dari kuantitas pemberiannyaadalah pemberian yang begitu sedikit dibanding dengan pemberian orang lain yang mampu memberi. Tetapi ditinjau dari dalamnya dia menggali dan menguras sesuatu dari hidupnya, dia memberi lebih banyak daripada yang sudah diberi oleh orang-orang yang lain yang datang ke Bait Allah. Itulah yang disebut dengan great sacrifice. Itulah yang Tuhan Yesus ajarkan kepada murid-murid dengan mata rohani yang tidak terlihat. Mari kita belajar akan apa yang disebut dengan sacrifice dalam pengertian itu.

Yang ketiga, satu sacrifice itu menjadi indah, besar dan agung sebab kita memahami durasi hidup kita yang sementara ini di dalam durasi kebaikan Allah dari kekal sampai kekal adanya. Maka Paulus mengatakan, segala penderitaan yang kita alami di dalam dunia ini tidak layak jika dibanding dengan segala kebesaran anugerah dan janji surgawi yang akan Tuhan berikan kepada kita. Paulus mengatakan, semua penderitaan, semua yang kita beri, semua yang ada pada kita sekarang, jikalau dibandingkan nanti dengan yang mulia dan agung dari Tuhan itu tidak ada arti apa-apa. Maka mari kita belajar di dalam slice hidup kita yang sangat pendek dan singkat ini kita memberi sesuatu yang indah dan agung kepada Tuhan. Hidup kita hanya satu kali, hidup yang terlalu cepat berlalu dan pada waktu kematian pada akhirnya datang, apa yang tinggal di dalam hidup engkau dan saya?

Terakhir, saya ingin mengutip doa raja Daud di dalam 1 Taw.29:14 “Sebab siapakah aku ini dan siapa bangsaku sehingga kami mampu memberikan persembahan sukarela seperti ini? Sebab dariMulah segala-galanya dan dari tanganMulah sendiri persembahan yang kami berikan kepadaMu.” Daud menyadari mereka mampu, Daud menyadari kerelaan mereka memberi melebihi daripada apa yang dipikirkan, betapa indah luar biasa segala persembahan itu. Tetapi dia sadar semua itu datang dari Tuhan sesungguhnya. Karena itu saudara-saudaraku, aku mendesak hatimu, beri sacrifice yang terindah dan teragung kepada Tuhan yaitu hidupmu kepadaNya menjadi korban yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Tuhan. Itu adalah ibadah kita yang sejati.

Pdt. Effendi Susanto STh.

18 April 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: