Home > Uncategorized > Sentralitas Allah yang Berdaulat

Sentralitas Allah yang Berdaulat

Saudara-saudara, keinginan hatiku dan doaku kepada Tuhan ialah, supaya mereka diselamatkan. Sebab aku dapat memberi kesaksian tentang mereka, bahwa mereka sungguh-sungguh giat untuk Allah, tetapi tanpa pengertian yang benar. Sebab, oleh karena mereka tidak mengenal kebenaran Allah dan oleh karena mereka berusaha untuk mendirikan kebenaran mereka sendiri, maka mereka tidak takluk kepada kebenaran Allah. Sebab Kristus adalah kegenapan hukum Taurat, sehingga kebenaran diperoleh tiap-tiap orang yang percaya. Sebab Musa menulis tentang kebenaran karena hukum Taurat: “Orang yang melakukannya, akan hidup karenanya.” Tetapi kebenaran karena iman berkata demikian: “Jangan katakan di dalam hatimu: Siapakah akan naik ke sorga?”, yaitu: untuk membawa Yesus turun, atau: “Siapakah akan turun ke jurang maut?”, yaitu: untuk membawa Kristus naik dari antara orang mati. Tetapi apakah katanya? Ini: “Firman itu dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu.” Itulah firman iman, yang kami beritakan. Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan. Karena Kitab Suci berkata: “Barangsiapa yang percaya kepada Dia, tidak akan dipermalukan.” Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan. Tetapi bagaimana mereka dapat berseru kepada-Nya, jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia, jika mereka tidak mendengar tentang Dia. Bagaimana mereka mendengar tentang Dia, jika tidak ada yang memberitakan-Nya? Dan bagaimana mereka dapat memberitakan-Nya, jika mereka tidak diutus? Seperti ada tertulis: “Betapa indahnya kedatangan mereka yang membawa kabar baik!”

Rom.10:1-15

Eksposisi Surat Roma (25)

Rom.9-11 bicara mengenai satu tema yaitu apa artinya menjadi orang Israel, kita mungkin tidak melihat apa relevansi dari bagian ini berkaitan dengan hidup kita sehari-hari. Namun di bagian ini kita menemukan Paulus bukan saja berbicara mengenai hal-hal historis fakta hidup dari orang Israel tetapi di balik dari semua apa yang terjadi Paulus ingin memberikan kepada kita satu prinsip yang penting luar biasa yaitu Allah kita adalah Allah yang bekerja, kadang-kadang Dia bekerja dengan ajaib dan misteri di luar dari pengetahuan kita. Allah yang kita sembah adalah Allah yang setia dengan firmanNya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang bekerja di belakang layar mendatangkan segala sesuatu indah pada waktunya. Ini adalah maksud dan rencana Tuhan yang indah, khususnya secara mata jasmani orang melihat apa yang Tuhan janjikan khususnya kepada orang Israel, umat yang Tuhan sudah pilih di dalam PL tetapi di dalam perjalanan proses waktu dan sejarah mengapa justru banyak orang Israel akhirnya tidak percaya kepada Kristus. Paulus sendiri merasa sedih hatinya. Dia mengungkapkan dengan jujur dan dengan hati penuh dengan kasih, kalau bisa tukar barter, kalau bisa orang Israel secara jasmani darah dan daging akhirnya boleh percaya Yesus dan harga yang harus dibayar demi untuk mereka bisa percaya Yesus adalah aku tidak masuk surga, aku rela.

Apakah firman Allah gagal? Firman Tuhan tidak akan mungkin gagal (Rom.9:6). Harus kita akui dengan jujur hidup kita sebagai orang Kristen adalah satu hidup yang bergumul di antara realita kehidupan yang kadang-kadang tidak sinkron dan tidak harmonis dengan apa yang kita percayai di dalam Tuhan. Kita percaya akan kebaikan dan janji Tuhan, kita tahu bahwa janji Tuhan tidak pernah bersalah. Tetapi di dalam keterbatasan dan limitasi mata kita, pengalaman hidup kita hari ke sehari kadang kala kita tidak melihat harmonisnya. Maksudnya adalah yang Tuhan janjikan begitu banyak tetapi yang kita lihat faktanya terjadi di dalam hidup kita kadang-kadang begitu sedikit bahkan mungkin bertolak belakang daripada apa yang Tuhan janjikan. Itu realita pergumulan kita, bagaimana menjawab akan hal itu? Kadang-kadang respons dan cara orang Kristen menjadi keliru dan salah. Karena apa yang Tuhan janjikan tidak nyata dan tidak terealisir di dalam hidup kita, itu berarti Tuhan tidak sanggup menggenapkan apa yang Dia janjikan. Maka yang Dia firmankan hanya sebatas Dia hanya bisa janji tetapi tidak terjadi di dalam hidupku sehingga kita bertanya-tanya apakah firman Tuhan bisa gagal? Akibatnya mungkin kita menjadi kecewa, mungkin kita menjadi undur dan lari dari Tuhan.

Tapi saya senang dengan kalimat yang diucapkan oleh C.S. Lewis dalam bukunya “The Problem of Pain,” buku yang dia tulis setelah isterinya yang sangat ia kasihi meninggal dunia karena kanker. Dia mengatakan, sekuat-kuatnya saya hidup di atas muka bumi ini mungkin hanya 70-80 tahun, di dalam jangka waktu yang sangat singkat itu anggap kata selama itu saya tidak pernah mengecap satupun kebaikan Tuhan terjadi di dalam hidupku, tetap saya tidak berhak untuk mengatakan Allah itu tidak baik. Karena sebelum aku lahir, aku tidak punya pengertian dan pengetahuan tentang kebaikan Allah. Sesudah saya mati sayapun tidak bisa tahu lagi apakah setelah itu terjadi kebaikan Tuhan, itu sebab walaupun mataku tidak melihat, pengalaman hidupku tidak merasakan baiknya Tuhan terjadi, tetap saya tidak punya hak bilang Tuhan tidak baik. Itu sikap iman. Ketika kita ada di dalam pergumulan apa yang Tuhan sudah janji, apa yang menjadi conviction dari iman saya kepada Tuhan tidak ada di dalam hidup saya terjadi secara harmonis.

Kaitannya dengan umat Israel adalah seperti ini. Banyak orang di dalam Gereja Mula-mula yang mempertanyakan melihat realita yang mayoritas percaya Tuhan Yesus dan ikut Tuhan itu bukan orang Yahudi. Kalau begitu apakah Tuhan sudah membuang orang Israel sebagai umat Tuhan? Kalau Tuhan sudah membuang orang Israel sebagai umat Tuhan, berarti apakah janji-janji Tuhan yang dinyatakan di dalam PL bahwa umat Israel akan menjadi seperti bintang banyaknya di angkasa dan seperti pasir banyaknya di pantai itu tidak terjadi dan tidak tergenapi? Apakah firman Tuhan dan janji Tuhan itu gagal? Paulus bilang, tidak. Tetapi problemnya adalah bagaimana kita memberi definisi mengenai apa artinya ‘the true Israel’? Bukan Tuhan itu berubah. Tetapi sebenarnya Tuhan sudah memberikan “hint” di dalam PL bahwa yang disebut ‘the true Israel’ itu bukan semata-mata orang Israel yang lahir darah dan daging belaka. Tuhan mengambil keputusan yang menjadi anak perjanjian adalah Ishak, bukan Ismael. Lalu dari Ishak kita melihat ada dua anak yaitu Esau dan Yakub, yang sebenarnya dua-dua adalah keturunan Abrahan yang punya hak yang sama. Tetapi sebelum keduanya bisa mengambil keputusan dan memilih, Allah telah melakukan pemilihan yaitu melalui garis keturunan Yakublah yang menjadi umat Allah. Dari situ kita bisa melihat bukan karena seseorang itu lahir sebagai orang Israel secara jasmani maka dia otomatis menjadi umat Tuhan.

Dalam beberapa ayat terakhir di pasal 9 ini Paulus mengutip kalimat dari nabi Hosea dan Yesaya bahwa yang dulunya bukan umat sekarang disebut sebagai umat Tuhan. Orang-orang yang bukan Israel sekarang boleh menjadi umat Tuhan. Maka ‘the true Israel’ bukan darah dan daging Israel tetapi orang-orang dari bangsa lainpun dapat menjadi umat Tuhan. Sekarang, bagaimana caranya mereka bisa menjadi umat Tuhan? Peraturan di PL mengatakan orang yang bukan dari bangsa Israel boleh menjadi umat Tuhan secara “proselit” yaitu melakukan beberapa persyaratan tertentu yang secara kelihatan yaitu dengan sunat dan menaati hukum Taurat.

Namun sekarang dengan cara apa orang bukan Israel menjadi umat Allah? Mereka tidak lagi berdasarkan cara PL yaitu dengan disunat dan dengan melakukan hukum Taurat tetapi dengan percaya dan beriman kepada Kristus. Kenapa Kristus berhak dan boleh menjadi cara dan persyaratan orang bukan Yahudi untuk menjadi umat Allah? Rom.10:4 mengatakan “karena Kristus adalah kegenapan hukum Taurat…” Rom.10:12 “Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani karena Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang…” Paulus mencetuskan perasaan hati kepada orang Israel ataskeunggulan mereka yang kita tidak boleh remehkan. Salah satunya adalah orang-orang ini adalah orang-orang yang ‘zealous’ yang memiliki semangat perjuangan untuk melakukan sesuatu yang harus kita hargai. Cuma sayangnya semangat mereka yang luar biasa itu diarahkan kepada hal yang salah. Bahaya sekali. Agama menjadi bahaya kalau agama memperjuangkan sesuatu dengan semangat keagamaan yang tinggi tetapi memperjuangkan apa yang bukan kebenaran sejati. Paulus bilang, orang-orang Yahudi ingin menjadi benar, memperjuangkan kesungguhan hidup untuk benar di hadapan Tuhan, cuma sayang sekali mereka memperjuangkannya dengan cara yang salah. Sehingga akhirnya seumur hidup kebenaran yang mereka cari hanyalah kebenaran diri sendiri dan tidak pernah bisa melihat kebenaran Allah. Itu kesimpulan Paulus di Rom.10:2-3. Mereka mendirikan kebenaran mereka sendiri sehingga mereka tidak mau takluk kepada kebenaran Allah.

Kepercayaan manusia dan agama manusia di atas muka bumi ini kalau mau dibagi berdasarkan darimana datangnya sumber agama dan kepercayaan itu, maka agama di atas muka bumi ini langsung kita bagi menjadi dua saja. Yang satu, jalur yang mengatakan sumber agama mereka muncul berdasarkan bagaimana manusia yang berusaha mendirikan agama itu. Di atas muka bumi ini hanya ada tiga agama yang mengaku bahwa agamanya itu berasal dari luar, karena itu adalah wahyu Tuhan yang menuntun kepada mereka . Mereka mengatakan sumber agama mereka, sumber kitab suci mereka bukan dari hasil bikinan manusia tetapi diberikan oleh Allah yang mewahyukan kepada mereka, yaitu agama Yahudi, agama Kristen dan agama Islam. Di luar daripada itu, agama-agama yang ada ialah hasil pemikiran dan refleksi dari perasaan keagamaan yang ada di dalam hati manusia.

Maka agama ada di jalur yang satu ini, satu usaha dan keinginan manusia bagaimana untuk bisa menjadi orang yang lebih baik. Sehingga terjadilah struktur pemikian dan aturan-aturan yang muncul sehingga bisa menjadi filsafat dan tata keagamaan seseorang.

Tiga agama mengatakan kepercayaan mereka didasarkan kepada Allah yang memberikan wahyu, yaitu Islam, Kristen dan Yahudi. Pertanyaan kedua, berdasarkan dengan cara apakah kita boleh mendapatkan satu hidup yang lebih baik? Agama juga dibagi menjadi dua dan hanya Kekristenan berada sendiri di sisi yang satu. Semua agama yang lain berangkat dengan asumsi kalau mereka berbuat baik dan tidak melanggar hukum, tidak berbuat dosa dan melakukan hal-hal yang diajarkan apa yang diberikan oleh agama dengan taat dan baik, itu akan membawa mereka masuk ke surga. Hanya Kekristenan yang mengatakan tidak demikian. Tidak mungkin dengan perbuatan baik ataupun segala hal yang baik di dalam diri kita memungkinkan kita untuk mendapatkan anugerah dan hidup yang kekal dari Tuhan. Hanya ada cara satu-satunya yaitu dengan beriman dan percaya akan apa yang Tuhan sudah kerjakan bagiku.

Mengapa Kristus boleh menjadi kegenapan hukum Taurat? Rom.10:5 menjadi jawabannya “sebab Musa menulis tentang kebenaran yaitu orang yang melakukan hukum Taurat akan hidup karenanya…” Orang Yahudi mau mencari kebenaran? Silakan. Kebenaran apakah bisa didapatkan di dalam hukum Taurat? Ya, kata Musa dan kata Paulus di sini. Tetapi syaratnya satu: orang itu harus menjalankan semua dari hukum Taurat sepenuhnya dengan tanpa cacat cela baru dia boleh hidup. Kalau sampai di situ, maka inilah conviction dari iman Kekristenan: tidak ada orang di atas muka bumi ini yang pernah dan yang bisa menyelesaikan semua tuntutan hukum Taurat dengan tanpa cacat cela selain Yesus Kristus. Penulis Ibrani mengatakan Yesus Kristus juga mengalami pencobaan yang sama seperti kita, cuma apa bedanya Yesus Kristus dengan kita? Kita dicobai, kita jatuh di dalam dosa; Kristus dicobai dan Dia tidak berdosa. Kepada orang-orang Yahudi dan pemimpin-pemimpin agama yang melawan Tuhan Yesus dan mempertanyakan apa dasar ajaran Yesus, Yesus balik menantang mereka, “Siapa di antara kamu yang bisa menunjukkan kepadaKu apa kesalahanKu?” Mereka sama sekali tidak mendapatkan kesalahan apapun pada diriNya. Paulus mengatakan, Yesus Kristus adalah kegenapan hukum Taurat. Prinsip hukum Taurat sebenarnya hanya satu. Dan sebenarnya kalau sdr meneliti peraturan-peraturan yang dicatat di dalam kitab Imamat sebenarnya semua peraturan itu bukan untuk membuat sdr lebih suci tetapi peraturan-peraturan itu diberikan supaya sdr boleh membereskan dosa sdr di hadapan Tuhan, bukan? Ada korban-korban untuk pengampunan dosa, ada korban penghapus dosa harian, mingguan, tahunan dsb. Ada kerban bakaran yang hanya boleh dilakukan oleh imam. Dengan kata lain semua peraturan di dalam hukum Taurat adalah peraturan yang dibuat karena kasihan kepada kita manusia yang berdosa. Artinya tidak ada kemungkinan setiap hari kita tidak berbuat dosa. Tetapi kalau Tuhan tidak memberi cara untuk membereskan dosa kita, betapa kasihannya kita. Maka hukum Taurat diberikan kepada kita supaya bagaimana berbelas kasihan kepada kita. Seluruh peraturan hukum Taurat hanya bicara mengenai bagaimana membereskan manusia yang berdosa. Itu sebab hanya satu yang mengerjakan, melakukan hukum Tuaran tanpa cacat cela dengan tuntas yaitu Yesus Kristus. Maka siapakah orang Israel yang sejati? Orang Israel yang sejati bukan berdasarkan warna kulit dan darah dan daging melainkan orang-orang yang percaya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat. Mengapa Yesus bisa membenarkan kita? Sebab Yesus bukan menggagalkan dan bukan membuang hukum Taurat melainkan Dia menggenapi hukum Taurat. Maka muncul kalimat ini, sekarang tidak peduli apakah dia orang Yahudi ataukah dia orang Yunani semua boleh menjadi ‘the true Israel,’ semua boleh menjadi umat Tuhan asalkan dengan mulut kita mengaku Yesus Kristus adalah Tuhan dan dengan hati kita beriman kepadaNya maka kita akan diselamatkan.

Paulus kemudian mengangkat satu aspek yang sangat indah sekali karena dia kemudian mengutip satu keluhan dari nabi Yesaya, Tuhan, kami terus menyampaikan dan memberitakan firman kepada orang Israel tetapi mereka tidak mau menerima dan tidak mau percaya Tuhan. Paulus tuntas memberitahukan di dalam Rom.10:14-15, tetapi bagaimana mereka bisa berseru kepadaNya jika mereka tidak percaya kepada Dia? Bagaimana mereka dapat percaya kepada Dia jika mereka tidak mendengar tentang Dia? Bagaimana mereka dapat mendengar tentang Dia jika tidak ada yang memberitakannya? Kalau engkau berseru dan percaya kepada Kristus sehingga diselamatkan. Apakah itu berdasarkan kemauan hatimu? Paulus kemudian mengingatkan bagaimana engkau bisa berseru kalau tidak percaya? Bagaimana engkau bisa percaya kalau tidak ada yang memberitakannya? Kalau begitu orang bisa percaya karena jasanya siapa? Jasa pendeta dan pemberita Injilkah? Paulus tidak berhenti sampai di situ, maka dia teruskan lagi, bagaimana mereka dapat memberitakan jikalau mereka tidak diutus? Siapa yang utus? Bukan gereja dan bukan badan misi tetapi Tuhan yang panggil. Maka orang itu bisa percaya Tuhan karena mereka mendengar Injil. Orang itu mendengar Injil karena ada yang memberitakan. Dan orang itu bisa memberitakan Injil karena ada yang mengutusnya. Yang mengutusnya adalah TUhan sendiri. Maka semua kembali kepada prinsip ini, pada waktu Paulus bicara mengenai iman, mengenai bagaimana orang bisa percaya Tuhan, Paulus tidak akan pernah melepaskan prinsip yang penting ini: bagaimana Tuhan mengatur dan take control segala sesuatu.

Di dalam Rom.11 tidak heran Paulus melihat betapa keluhan dan hati begitu banyak orang di PL. Nabi Yesaya mengeluh kepada Tuhan, dia memberitakan firman tetapi mengapa tidak banyak orang yang mau percaya Tuhan. Firman Tuhan mengatakan bukan berdasarkan keinginan orang itu dia percaya Tuhan atau tidak. Kalau begitu, betapa sulitnya kita. Tetapi kita percaya pada waktu kita memberitakan Injil, pada waktu kita berkhotbah, pada waktu kita bawa seseorang kepada Tuhan, Tuhan yang merubah hati orang. Pada waktu kita melihat betapa sedikitnya orang yang pergi ke gereja ketimbang pergi ke bar, Tuhan bukankah bisa membuat orang percaya menjadi lebih banyak? Kalau dasarnya dari kekuatan kita, kalau dasarnya hanya dari apa yang kita lihat, kadang-kadang kita bisa kecewa. Ini yang kita lihat di dalam Rom.11:3, berdasarkan kekecewaan hati dari nabi Elia pada waktu dia mengira hanya tinggal dia seorang diri yang percaya Tuhan. Siapa orang yang tinggal setia di jaman Elia? Dia mengira hanya dia sendiri yang tinggal dan dia merasa apakah rencana Tuhan itu gagal adanya? Tetapi jawaban Tuhan mengejutkan dia, “Aku masih meninggalkan tujuh ribu orang bagiku yang tidak pernah menyembah Baal.” Bagaimana sdr bisa lihat Paulus membicarakan hal-hal yang berat dan susah mengenai teologis tetapi Paulus tidak pernah melepaskan aspek praktis yang menguatkan iman kita. Pada waktu kita melihat rencana Tuhan seolah-olah gagal di dalam hidup kita, Paulus memberikan kekuatan bahwa cara bekerja Tuhan tidak seperti yang kita pikirkan. Pada waktu saya melayani, sdr melayani, dua tiga lima tahun, kita tidak melihat progress yang ada mungkin bisa membuat hati kita menjadi lemah.

Adoniram Judson melayani di Burma sampai akhir hidupnya hanya satu orang yang percaya. Apakah berarti pelayanan Tuhan gagal? Apakah berarti kuasa Tuhan tidak bekerja di situ? Tetapi sejarah memperlihatkan bagaimana kesetiaan hamba Tuhan ini walaupun hanya satu orang yang menjadi Kristen tetapi ada satu hal yang dia kerjakan yaitu menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Burma yang bisa menjadi berkat dan membawa orang percaya kepada Tuhan melaluinya. Kita sering bertanya-tanya kenapa orang yang ikut Tuhan tidak lebih banyak daripada orang yang ikut dunia? Kita sudah melayani Tuhan bertahun-tahun lamanya mungkin kita bisa menjadi kecewa pada waktu kita melihat realita. Kalau kita hanya berdasarkan kekuatan diri, tenaga kita, kemauan dan kesungguhan kita, kita akan merasa lemah karena tidak melihat hasil yang kita harapkan. Pada waktu kita taruh semua, apa yang terjadi di dalam hidup kita kembali kepada sentralitas Allah yang berdaulat, pada waktu kita berhasil dan sukses, bisa melayani dan banyak orang bertobat, balik kepada Tuhan dan membawa syukur kepadaNya. Kembali kepada sentralitas Allah yang berdaulat. Saya bisa sebab semata-mata Tuhan yang bekerja. Tetapi pada waktu kita merasa apa yang kita kerjakan dalam hidup ini tidak mendatangkan satu progresif yang terjadi, balik lagi kepada sentralitas Allah yang berdaulat, itu yang menopang dan memberi kekuatan kepada sdr. Hampir kecewa dan gagal Elia, bukan? Sia-sia melayani, sudah memberitakan firman kepada orang-orang yang sudah berbalik dari Tuhan tetapi mereka tidak mau mendengar apa yang dia katakan. Yesaya juga mengeluh seperti itu, dia memberitakan tetapi tidak ada yang peduli. Tetapi cara Tuhan bekerja begitu indah. Ketika Elia hampir kecewa, maka Tuhan memberitahukan dia apa yang selama ini dia tidak pernah tahu. Elia, engkau melihat dengan matamu, engkau melihat tidak ada orang yang percaya Tuhan, tetapi Aku berkata kepadamu, ada tujuh ribu orang di Israel yang seumur hidupnya tidak pernah menyembah Baal. Itu memberi kekuatan dan semangat kepada kita.

Bicara mengenai Israel kita merasa seolah-olah hal ini tidak ada kaitannya dengan kita, tetapi biarlah setelah membahas hal ini kita bisa melihat surat Roma begitu kaya dan indah memperlihatkan kita aspek-aspek yang indah dan penting di dalam hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

21 Maret 2010

Categories: Uncategorized
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: