Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Spiritual Conflict in Christian Life

Spiritual Conflict in Christian Life

Aku manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini? Syukur kepada Allah! oleh Yesus Kristus, Tuhan kita. Jadi dengan akal budiku aku melayani hukum Allah, tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa.

Rom.7:24-26

Demikianlah sekarang tidak ada penghukuman bagi mereka yang ada di dalam Kristus Yesus. Roh, yang memberi hidup telah memerdekakan kamu dalam Kristus dari hukum dosa dan hukum maut. Sebab apa yang tidak mungkin dilakukan hukum Taurat karena tak berdaya oleh daging, telah dilakukan oleh Allah. Dengan jalan mengutus Anak-Nya sendiri dalam daging, yang serupa dengan daging yang dikuasai dosa karena dosa, Ia telah menjatuhkan hukuman atas dosa di dalam daging, supaya tuntutan hukum Taurat digenapi di dalam kita, yang tidak hidup menurut daging, tetapi menurut Roh. Sebab mereka yang hidup menurut daging, memikirkan hal-hal yang dari daging; mereka yang hidup menurut Roh, memikirkan hal-hal yang dari Roh. Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera. Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya. Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah. Tetapi kamu tidak hidup dalam daging, melainkan dalam Roh, jika memang Roh Allah diam di dalam kamu. Tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus. Tetapi jika Kristus ada di dalam kamu, maka tubuh memang mati karena dosa, tetapi roh adalah kehidupan oleh karena kebenaran. Dan jika Roh Dia, yang telah membangkitkan Yesus dari antara orang mati, diam di dalam kamu, maka Ia, yang telah membangkitkan Kristus Yesus dari antara orang mati, akan menghidupkan juga tubuhmu yang fana itu oleh Roh-Nya, yang diam di dalam kamu. Jadi, saudara-saudara, kita adalah orang berhutang, tetapi bukan kepada daging, supaya hidup menurut daging. Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup. Semua orang, yang dipimpin Roh Allah, adalah anak Allah. Sebab kamu tidak menerima roh perbudakan yang membuat kamu menjadi takut lagi, tetapi kamu telah menerima Roh yang menjadikan kamu anak Allah. Oleh Roh itu kita berseru: “ya Abba, ya Bapa!” Roh itu bersaksi bersama-sama dengan roh kita, bahwa kita adalah anak-anak Allah. Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah, yang akan menerimanya bersama-sama dengan Kristus, yaitu jika kita menderita bersama-sama dengan Dia, supaya kita juga dipermuliakan bersama-sama dengan Dia.

Rom.8:1-17

Eksposisi Surat Roma (19)

Bapa Reformator Martin Luther memberikan ilustrasi yang sederhana tetapi bagi saya sangat akurat menjelaskan apa yang Paulus ajarkan di dalam Rom.6-7. Ilustrasi ini menceritakan ada satu orang sakit pergi kepada dokternya dan berkata kepadanya, “Dokter, saya kira-kira sudah dapat cara yang tepat untuk bisa menyembuhkan penyakit saya. Saya pikir saya pasti akan sehat kalau saya makan vitamin dan berolah raga rutin setiap hari, pasti penyakit saya akan segera sembuh.” Dokternya menjawab, “Vitamin dan olah raga itu bukan membuatmu sembuh tetapi akan membuatmu makin sakit.” Pasien itu menyanggah, “Jadi, maksud dokter vitamin itu tidak sehat dan olah raga itu berarti tidak sehat?” Dokter menjawab, “Oh, bukan seperti itu. Vitamin itu sehat, olah raga itu sehat, tetapi metode ini tidak akan bisa membuat kamu lebih sehat karena itu bukan cara untuk menyembuhkan penyakitmu.” Orang sakit itu menggambarkan manusia berdosa yang berpikir bagaimana bisa menyelesaikan problem dosanya. Namun manusia yang berdosa memiliki keterbatasan sehingga tidak sanggup bisa melihat apa sebenarnya problem yang menyebabkan dia terus hidup di dalam kematian rohani. Lalu kemudian dia mengambil diagnosa yang salah, dia berpikir kalau dia melakukan semua yang diperintahkan oleh hukum Taurat dan hidup suci maka dia akan masuk surga. Namun dalam Rom.6-7 Paulus memberikan argumentasi bahwa hukum Taurat diberi bukan membuatmu makin benar tetapi justru membuatmu makin mengerti apa itu dosa. Tidak berarti hukum Taurat itu tidak baik. Hukum Taurat itu suci, hukum Taurat itu adil, hukum Taurat itu benar, tetapi bukan itu yang membuatmu makin sehat.

Itu sebab Rom.8:1-4 merupakan langsung kesimpulan Paulus, kita hanya punya dua pilihan: hidup di bawah hukum Tauratkah atau hidup di bawah hukum Roh Kudus. Apa yang perlu dan harus manusia lakukan di bawah hukum Taurat untuk memperoleh hidup yang kekal sudah terbukti tidak mungkin terjadi. Itu sebab supaya kutuk dari hukum Taurat tidak tertimpa kepada kita, Allah mengutus Yesus Kristus di dalam daging menjadi manusia seperti kita, tunduk di bawah hukum Taurat supaya menggenapi seluruh tuntutan hukum Taurat. Allah mengutus AnakNya di dalam daging supaya menggenapkan semua apa yang dituntut oleh hukum Taurat bagi kita. Itu berarti kita manusia yang sudah salah diagnosanya mengenai dosa harus benar-benar tahu betapa seriusnya problem dosa itu, tidak bisa hanya diselesaikan dengan cara you sedikit berbuat baik untuk bisa selamat. Tuhan melakukan “operasi yang besar” menyembuhkan kita terlebih dahulu baru kita bisa hidup dengan setia berjalan di dalam kehendak Tuhan dan menjalankan firman Tuhan dengan rajin dan sukacita. Maksudnya adalah kita baru bisa sehat kalau terlebih dahulu menerima anugerah keselamatan yang Allah lakukan di dalam Kristus. Sesudah itu, sebagaimana orang sakit menjadi sehat makan vitamin dan berolah raga, tentu dia akan semakin sehat. Dengan demikian apakah hukum Taurat tetap kita jalankan sesudah kita mendapat keselamatan di dalam Kristus? Ya. Perintah Tuhan harus kita taati? Ya. Firman Tuhan harus kita ikuti? Ya. Itu semua makin menyehatkan kita, makin membuat kita menjadi orang Kristen yang bertumbuh di dalam kesucian kita.

Di pasal 7 nada Paulus bersifat keluhan, ‘siapa yang bisa melepaskan aku dari tubuh maut ini?’ Mengenai ayat ini saya ingin menjelaskan dan memperbandingkan, baik di dalam filsafat Yunani mulai dari Plato dan Aristotle, mereka sudah melihat bahwa tubuh ini menjadi penjara bagi jiwa. Konsep samsara di dalam Buddhism juga memiliki konsep seperti ini, karena Siddharta Gautama melihat bagaimana melepaskan hidup ini dari kesusahan dan penderitaan yang tidak habis-habisnya dari dunia ini. Dua-dua filsafat dari Barat maupun Timur ini memiliki kesamaan yaitu tubuh ini jahat, tubuh inilah yang meracuni dan merusak jiwa kita yang baik. Akibatnya cara yang diambil buat Siddharta Gautama adalah meninggalkan istana, mengganti baju kebesarannya dengan baju yang sederhana, lalu masuk ke hutan untuk bertapa. Hidup di dalam dunia ini meninggalkan semua yang bisa mengotori rohaniku, maka saya mau tinggalkan hidup seperti ini.

Berbeda dengan konsep Paulus. Dalam Fil.1:23 Paulus menyatakan isi hatinya, meskipun hidup ini penuh dengan pergumulan melawan dosa, Paulus tidak bersikap ‘escapees’ dari dunia ini, menganggap dunia ini terlalu jahat, saya tidak ingin hidup di sini dan saya ingin lari dari dunia ini. Tidak demikian buat Paulus. Tetapi ayat ini penting untuk kita lihat betapa Paulus groaning dan betul-betul bergumul. Di dalam surat Korintus Paulus juga groaning dan mengeluh betapa selama hidup di dalam dunia ini kita masih hidup jauh dari Tuhan. Kalau ditanyakan kepadaku, aku lebih suka ke sana, bertemu dengan Tuhan. Tetapi kalau Tuhan masih memberi nafas hidup kepadaku sampai hari ini, saya akan tetap hidup di dalam dunia ini mengerjakan hal yang paling indah dan yang paling baik bagi Tuhan. Groaning ini lumrah terjadi kepada orang-orang yang sudah memiliki Roh Tuhan, yang memiliki arahan hidup yang tahu dengan serius apa artinya kita menjadi orang Kristen. Kalau kita tidak punya keluhan betapa rindunya ingin bersama Tuhan dan kita lebih suka dan merasa hidup nikmat di dalam dunia ini lebih menarik, there is something wrong dengan kerohanian kita.

Saya ajak sdr melihat beberapa ayat penting bicara mengenai what is the goal of God’s calling, apa yang menjadi tujuan dari panggilan Tuhan dalam hidup kita. Tuhan menebus kita, Tuhan menjadikan kita anak-anakNya, apa yang menjadi tujuan akhirnya? Tujuan akhirnya adalah your sanctification and your holiness, kekudusan dan kesucianmu. Ef.1:4 dan 2 Kor.7:1 mengatakan tujuannya supaya kita hidup kudus dan tidak bercacat di hadapanNya. Namun hidup kita di atas muka bumi ini akan mendatangkan keluhan rohani yang lebih dalam seperti kalimat Paulus kalau kita memiliki pengertian konsep yang sangat sensitif bagaimana kita hidup di tengah kesucian. Adanya konsep kesucian Tuhan membuat kita punya keinginan kalau bisa aku ingin hidup suci tanpa dosa, kalau bisa seperti ada di surga, itu yang paling indah. Tetapi kita masih hidup di dalam dunia yang berdosa, itu yang Paulus katakan di dalam Rom.7:26 dengan akal budiku aku melayani hukum Allah tetapi dengan tubuh insaniku aku melayani hukum dosa. Maksudnya tidak berarti bahwa sebenarnya saya sebagai orang Kristen sih kepingin mencintai Tuhan tetapi setiap hari saya bikin dosa, tidak apa-apa toh someday saya akan ketemu Tuhan. Itu adalah penafsiran yang salah terhadap ayat ini. Kalimat ini harus kita mengerti sebagai cetusan dari keluhan Paulus, secara pikiran, hati, mental dan kehendaknya aku sungguh-sungguh ingin taat kepada Tuhan tetapi secara praktisnya dalam hidup sehari-hari aku selalu gagal di dalam mencapai hal itu. Keluhan ini muncul karena adanya standar kesucian yang Tuhan taruh di dalam hati kita, adanya Roh yang Suci yang ingin memimpin hidup kita untuk selalu menyenangkan Tuhan sesempurna mungkin tetapi karena hidup di dalam dunia yang berdosa dan karena ada dosa di dalam hati kita yang selalu melemparkan panah api keraguan, yang selalu melemparkan panah api pencobaan, yang selalu melemparkan panah api distraction di dalam hidup kita setiap hari, itu semua membuat kita rindu sekali ketemu dengan Tuhan, hidup bersama Tuhan menjadi hal yang paling indah karena di situ kita bisa mencetuskan our perfect obedience. I can please You perfectly, o God. John Wesley mengatakan someday nanti kita hidup di surga kita akan hidup di dalam “Angelic obedience,” ketaatan yang penuh dan sempurna.

Maka Rom.7 ini adalah keluhan dari anak Tuhan yang sudah lahir baru, keluhan orang Kristen yang ingin seluruh hidupnya dipakai menjadi senjata kebenaran Allah tetapi di dalam prakteknya kita kadang-kadang jatuh dan gagal. Semakin kita mengerti konsep kesucian Tuhan, semakin kita memiliki perasaan groaning seperti ini. Namun masuk Rom.8 ada nada lain. Sdr perhatikan hidup orang Kristen berada di dalam range emosi yang sangat unik ini. Rom.8:6 “karena keinginan daging adalah maut tetapi keinginan roh adalah hidup dan damai sejahtera.” Life and peace. Spirit yang dibawa oleh kedagingan menuju kepada kematian, tetapi Roh Kudus yang tinggal di dalam hati kita adalah the Spirit of life and the Spirit of peace.

Tetapi kita perhatikan, kita adalah manusia berdosa yang kecenderungannya melawan Tuhan. Roh Kudus bekerja pertama kali melalui kelahiran baru. Lahir baru berarti mengubah arah dari keinginan kita yang terus-menerus melawan Tuhan menuju kepada arah sekarang saya mau hidup dan saya mau menyenangkan Tuhan. Proses perubahan itu hanya bisa terjadi melalui pekerjaan Roh Kudus yang kita sebut sebagai ‘melahir-barukan’ kita. Kalau demikian, apakah berarti dengan kekuatan saya sendiri dan kemampuan saya sendiri sanggupkah saya bisa menjalani hidup suci semata karena hati kita sudah mau taat dan mau cinta Tuhan? Sudah ditebus Tuhan itu adalah anugerah yang pertama, lalu sesudah itu selanjutnya hidup saya adalah bagaimana saya dengan kekuatan sendiri bisa hidup taat, setia dan tidak berbuat dosa? Itu konsep yang keliru. Alkitab tidak bicara soal self-help setelah engkau ditebus oleh Tuhan. Maka sampai di sini muncul satu kebenaran: kita bisa hidup suci dan kudus tidak terlepas dengan bagaimana kita hidup dipimpin oleh Roh Kudus. Kita bisa hidup self control karena semata-mata ada Roh Kudus yang memimpin hati kita.

Bapa Gereja St. Agustinus menyebutkan dua istilah “Prevenient grace” dan “Cooperative grace.” Prevenient grace artinya anugerah datang kepada kita tanpa ada kekuatan dari kita, anugerah itu semata-mata diberi oleh Tuhan kepada kita. Di sini berkaitan dengan lahir baru, kita tidak punya keinginan untuk mencintai Tuhan waktu kita masih berdosa. Keinginan itu hanya datang melalui anugerah Tuhan yang terlebih dahulu merubah kita. Itu yang disebut sebagai Prevenient grace. Cooperative grace Rom.8:13 Paulus mengatakan, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati. Konsekuensi logisnya, kalimat selanjutnya ialah ‘tetapi jika kamu hidup menurut Roh, kamu akan hidup.’ Tetapi kalau memang begitu, berarti semata-mata Roh Kudus yang bekerja. Maka berdasarkan ayat ini kita melihat “cooperative grace” di sini: tetapi jika kamu hidup menurut Roh, maka kamu akan mematikan kedaginganmu, baru kamu akan hidup. Maka proses sanctification kita itu bersifat cooperative grace. Bukan self help. Karena ada Roh Kudus yang suci dan benar, yang pasti akan melakukan proses sanctification di dalam hidup sdr, tetapi proses itu tidak melepaskan perjuangan orang Kristen di dalam konflik peperangan rohaninya mematikan kedagingan. Engkau akan hidup jika engkau mematikan kedagingan itu. Sampai di sini kita menemukan tidak pernah ada konsep jalan hidup orang Kristen itu adalah jalan hidup yang gampang dan mudah di dalam peperangan rohani. Sdr dan saya harus pegang baik-baik, selalu akan terjadi spiritual conflict di dalam hidup kita. Di tengah spiritual conflict itu kita kadang-kadang mengeluh kepada Tuhan, karena hati ingin, pikiran suka akan hukum Tuhan, tetapi mengapa secara praktis kadang-kadang kita gagal. Tetapi di sini sekaligus kita tidak boleh melepaskan satu fondasi pikiran yang kuat akan janji Tuhan. Maka Rom.8:1 ini perlu kita tanam di dalam hati kita, the assurance of your faith. Di dalam Yesus Kristus tidak ada lagi penghukuman bagi orang percaya. Maka walaupun kadang-kadang kita ditipu oleh dosa, walaupun kadang-kadang kita ditembak dengan panah api akhirnya kita gagal dan menyerah kepada pencobaan yang diberikan oleh dosa, itu tidak boleh melepaskan perasaan peace and assurance kita ikut Tuhan selama-lamanya.

Bagaimana secara praktisnya Paulus memperlihatkan cara Roh Kudus memimpin kita, memberikan kekuatan kepada kita di tengah-tengah kita menghadapi peperangan rohani ini. Rom.8:9b ”…tetapi jika orang tidak memiliki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus.” Setiap orang yang sudah percaya Yesus pasti memiliki Roh Kudus, tetapi kita tidak boleh baik: orang itu bisa memiliki Roh Kudus tanpa percaya kepada Kristus. Saya pernah membaca satu kejadian gejala-gejala yang terjadi di Toronto Blessing beberapa tahun yang lalu, menceritakan ada seorang wartawan atau cameraman yang hadir di dalam peristiwa itu lalu terjatuh dan tertawa juga kurang lebih dua tiga jam. Orang-orang mengatakan, ‘you juga mendapatkan the blessing of Holy Spirit’ tetapi wartawan itu mengatakan ‘but I still don’t believe in Jesus Christ.’ Bagi saya Alkitab tidak memiliki konsep seperti itu. Alkitab mengatakan siapa milik Kristus, dia pasti memiliki Roh Kudus. Kalau begitu apakah fenomena itu menyatakan kehadiran Roh Kudus? Tidak. Sebab begitu Roh Kudus bekerja, orang itu pasti menerima Kristus. Barangsiapa menerima Kristus di dalam hatinya, maka Roh Kudus tinggal di dalam dia.

Rom.8:14 “semua orang yang dipimpin Roh Allah adalah anak Allah.” Ayat seperti ini muncul dua kali, yaitu di dalam Gal.5:16 yang mendorong kita untuk berjalan di dalam Roh Kudus, walk in Spirit. Bagaimana cara Roh Kudus di tengah groaning kita ingin berjalan mengikut Tuhan tetapi seringkali gagal, kemudian memberikan perasaan peace and assurance, jaminan selalu dalam hati kita muncul. Ada beberapa point di sini. Pertama, mari kita sebagai orang Kristen bersikap kooperatif kepada Allah Roh Kudus, menyerahkan hidup kita di bawah penyertaan dan pimpinan Dia. Pada waktu mendengar firman Tuhan mari kita dengan rendah hati belajar taat menjalankan segala prinsip firman Tuhan. Kalau kita dipimpin Roh Kudus, perasaan peace dan assurance muncul karena adanya pimpinan ini menjadi bukti kita adalah anak-anak Allah.

Rom.8:16 “Roh itu bersama-sama kita bersaksi bahwa kita adalah anak-anak Allah.” Kenapa ayat seperti ini muncul? Karena sdr akan bertemu groaning kedua muncul di sini, Paulus mencetuskan kembali perasaan keluh kesah orang Kristen, oleh Roh itu kita berseru, “Ya Abba, ya Bapa.” Kata ‘berseru’ di sini terjemahan bahasa Inggrisnya adalah ‘cry out.’ Kata ini tiga kali muncul di dalam PB, yang satu adalah di tempat ini, kemudian yang kedua pada waktu Yesus berseru di atas kayu salib “Eli, Eli, lama sabakhtani?” dan yang ketiga waktu perempuan di dalam kitab Wahyu 12 sakit bersalin dan berteriak kesakitan. Kalau diperbandingkan dengan serua Yesus di atas kayu salib dan seruan perempuan yang sakit bersalin, kira-kira bagaimana seruan yang dimaksud dalam Rom.8:15 ini? Roh Kudus di dalam hati kita cry outYa Abba, ya Bapa.” Ini adalah groaning yang dahsyat, namun disampaikan kepada Abba, yang memperlihatkan relasi yang begitu dekat dan intim dengan Bapa kita di surga. Maka di sini Paulus mengerti konsep pergumulan orang Kristen. Pergumulan itu begitu dahsyat, tetapi jangan pernah melupakan pergumulan itu kita jalani bersama Roh Kudus yang menyertai hidup orang Kristen. That’s why groaning, peace and assurance harus selalu bersatu. Kita memang tidak pernah melihat Roh Kudus secara kasat mata. Namun puji Tuhan, kenapa Roh Kudus diberikan kepada kita supaya ini menjadi kekuatan yang memberikan penghiburan kepada kita waktu kita menjadi anak Tuhan, berjalan di dalam dunia yang penuh dengan tantangan kesulitan dan air mata kita groaning, kita groaning sebab kita rindu taat kepada Tuhan secara sempurna tetapi kita gagal dan gagal lagi. Di situ seringkali muncul suara yang mengajak sdr lari jauh dan pergi dari Tuhan. Maka kita perlu suara Roh Kudus yang selalu mengingatkan kita dengan assurance dan peace, “Engkau adalah anak Allah.”

Ibr.12:4 mengingatkan bahwa hidup sebagai hidup sebagai anak Tuhan tidak akan lepas dari konflik rohani. Dalam surat ini penulis Ibrani menegur jemaat dengan kalimat, “Dalam pergumulan kamu melawan dosa ini engkau belum sampai mencucurkan darah.” Menjadi anak Tuhan kita ada konflik rohani. Tetapi kalau konflik rohani itu belum sampai membuat kita mencucurkan darah menghadapi pergumulan dosa. Namun realita yang terjadi di situ jemaat menjadi kecewa dan undur. Itu sebab muncul peringatan di dalam Ibr.10:25 ”…janganlah menjauhkan diri dari pertemuan ibadah kita seperti yang dibiasakan beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasehati…” Ayat ini memberikan kepada kita satu indikasi bisa jadi anak-anak Tuhan menjadi kecewa kepada Tuhan dan meninggalkan Tuhan. Mereka bergumul, mereka kecewa, mereka menghindarkan diri dari persekutuan orang percaya. Kita memang bergumul dan berkeluh kesah, tetapi kita tidak boleh melupakan bahwa orang Kristen menghadapi segala kesulitan, tantangan dan air mata, kita memiliki apa yang tidak bisa direbut oleh dunia ini yaitu peace and assurance. Itu muncul sebab adanya Roh Kudus di dalam hati kita yang selalu mengingatkan kepada kita bahwa kita adalah anak-anak Allah sebab Roh yang ada di dalam kita bukan saja Roh yang memberikan hidup tetapi juga adalah Roh yang memberikan damai sejahtera.

Biar kita memperoleh kemenangan rohani di tengah-tengah perjalanan hidup kita mengikut Tuhan. Satu kali kelak kita akan berjumpa dengan Tuhan, di situ kita akan mencetuskan sukacita kita yang sempurna dan ketaatan kita yang paling sempurna di hadapan Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

31 Januari 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: