Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Hidup di dalam Kehendak Allah

Hidup di dalam Kehendak Allah

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Rom.12:1-2

Eksposisi Surat Roma (29)

Di dalam hidup ini kita tidak akan mungkin menghindar setiap aspek melewati tiap detik dan menit hari ke sehari mau tidak mau untuk mengambil keputusan. Orang yang tidak mau mengambil keputusan itupun sudah merupakan satu keputusan. Sekecil apapun keputusan kita, hidup kita adalah satu hidup yang mengambil keputusan. Pada hari ini kita akan melihat apa yang membedakan keputusan yang kita ambil dengan keputusan-keputusan yang diambil oleh orang-orang lain. Saya percaya sebagai orang-orang yang cinta Tuhan kita ingin keputusan yang kita ambil dalam hidup kita biar menjadi keputusan yang seturut dengan kehendak dan rencana Tuhan. Orang yang mencintai Tuhan adalah orang yang dalam hati kecilnya setiap kali mengambil keputusan membawanya di dalam doa karena dia tahu bukan saja dia tidak ingin mengambil keputusan yang salah tetapi karena tahu setiap aspek kehidupannya dia tidak mau tidak diberkati dan tidak berkenan kepada Tuhan. Tetapi pada waktu kita mengatakan hidup kita seperti itu, saya ingin bertanya, kenapa begitu banyak orang Kristen yang sudah mengambil sikap untuk ambil keputusan yang seturut dengan kehendak Tuhan masih saja penuh dengan rasa bersalah. Kenapa ambil keputusan akhirnya selalu takut? Kenapa ambil keputusan akhirnya kehilangan sukacita? Dan lebih lagi, kenapa orang selalu datang kepada saya bertanya, ‘Pak, apakah keputusan saya ini benar?’ Seolah-olah saya ini seorang yang jago, yang selalu bisa mengetahui bahwa keputusan yang sdr ambil itu pasti benar atau pasti salah? Saya bilang, “Berdoa dong.” Lalu sdr jawab, “Sudah doa, pak.” Lalu, kenapa masih ragu? Kita kehilangan prinsip yang penting dari Paulus, kehendak Tuhan itu indah, baik, sempurna dan berkenan kepada Allah. Saya tahu kita mau sampai di situ, tetapi mengapa di dalam proses mengambil keputusan itu kita penuh dengan rasa guilty, kita takut bersalah kepada Tuhan, kita kehilangan sukacita dan penuh keraguan seolah-olah keputusan yang kita ambil ini tidak seturut dengan apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita?

Saya pikir dalam-dalam, saya percaya persoalannya bukan di dalam motivasi kita, bukan karena firman Tuhan kurang jelas, tetapi ada kemungkinan di dalam pemikiran teologis kita yang tanpa sadar walaupun sudah ikut Tuhan, sudah ke gereja berpuluh-puluh tahun, tanpa sadar ada konsep teologis yang keliru terselip di dalam cara kita berpikir untuk mengenal kehendak Tuhan. Pikiran teologis yang keliru itulah yang menyebabkan kita kehilangan sukacita, ragu dan penuh dengan rasa bersalah, seolah-olah kita tidak menjalankan kehendak Tuhan di dalam keputusan kita. Ada dua hal yang menurut saya menjadi kesalahan konsep teologis berkaitan dengan mengerti kehendak Tuhan. Yang pertama adalah kesalahan konsep yang sudah ditanam di dalam diri kita seolah-olah Tuhan itu punya “blue print” bagi kehidupan sdr dan seumur hidup kita mencari kehendak Tuhan harus betul-betul “klop” dengan blue print itu. Jadi rencana kehendak Tuhan itu seperti menembakkan target harus pas di tengah. Sdr mungkin pernah dengar hamba Tuhan bilang, “Berdoalah kepada Tuhan, pasti kehendak dan rencanaNya pasti akan dibukakan. Kita harus berjalan di dalam kehendak dan rencana Tuhan, sebab kalau tidak you mungkin akan kehilangan sukacita dan berkat Tuhan yang sepenuhnya yang ingin Tuhan beri kepadamu.” Itu sebab mengapa kita megambil keputusan penuh dengan rasa guilty dan ragu dan kehilangan sukacita. Di belakangnya karena itu, karena kita pikir Tuhan sudah atur sedemikian rupa dari A-Z, termasuk harus menikah dengan siapa. Maka mencari jodoh harus yang betul-betul pas, memang sih boleh menikah dengan siapa saja, tetapi kalau bukan dengan ‘tulang rusuk’ yang Tuhan sudah rencanakan, pernikahanmu nanti kurang bahagia. Akhirnya sudah memutuskan untuk menikah, di hari pernikahan menjadi tidak bahagia dan ragu apakah keputusannya mengambil dia benar atau tidak. Mencari kehendak Tuhan berarti harus betul-betul tahu persis yang Tuhan sudah rencanakan itu. Betul, Tuhan punya kehendak secara pribadi bagi setiap kita tetapi bagi saya tidak ada dicatat dimanapun soal blue print itu. Bagaimana sdr tahu dan dimana patokannya setelah sdr ambil satu keputusan yakin itu adalah kehendak Tuhan dan tidak ragu lagi? Bukankah Paulus bilang kita bisa tahu itu adalah kehendak Tuhan bagi hidupmu yang indah, baik dan berkenan kepada Tuhan? Akibat kesalahan konsep itu maka setelah orang mengambil satu keputusan lalu tiba-tiba di dalam proses menjalankannya ada hal-hal di luar rencana muncul, ada hambatan terjadi, ada kesulitan muncul, dan sdr konsultasi dengan orang yang dengan tidak bertanggung jawab mengatakan “I told you so… berarti kamu tidak berjalan di dalam kehendak Tuhan yang pas, makanya terjadi seperti ini.” Akhirnya sdr jadi guilty lagi.

Kesalahan kedua mengerti kehendak Allah yaitu orang selalu berpikir kehendak Tuhan sudah dipatok seperti ini, lalu kalau sdr berjalan di situ sdr akan mendapatkan hal-hal yang paling indah yang Tuhan berkati. Di luar dari itu you tidak akan mendapat yang indah dan diberkati oleh Tuhan. Ams.3:5-7 mengatakan ”…jangan bersandar kepada pengertianmu sendiri, akuilah Tuhan di dalam segala lakumu maka Dia akan meluruskan jalanmu…” Meluruskan jalan akhirnya membuat sebagian orang Kristen berasumsi bahwa Tuhan akan bikin jalan kita ‘smooth.’ Lurus ditafsir lancar. Itu salah tafsir. Maka orang pikir kalau dia berjalan di dalam kehendak Tuhan pasti lancar. Kalau tidak smooth dan lancar berarti sdr tidak berjalan di dalam kehendak Tuhan. Hari ini saya ingin mengajak sdr melihat dua hal ini, apakah dua konsep yang keliru ini ada di dalam pikiranmu? Tuhan punya rencana bagi setiap pribadi dan seumur hidup mencari kehendak Tuhan berarti mencari blue print itu. Betulkah kita harus mencari kehendak Tuhan seperti itu? Yang kedua, betulkah kalau you berjalan di dalam kehendak Tuhan berarti harus selalu smooth dan lancar, semua Tuhan bukakan? Lalu kalau seandainya seseorang ambil keputusan untuk melayani Tuhan menghadapi resiko dan tantangan apakah dia tidak berjalan di dalam kehendak Tuhan? Kalau kita pikir semua harus lancar dan smooth, tidak akan ada orang Kristen yang berani ambil resiko untuk mempertaruhkan nyawanya di dalam menjalankan kehendak Tuhan. Pertanyaan ini penting: betulkah kehendak Tuhan itu terbukti karena semuanya berjalan smooth dan lancar?

Mari kita memikirkan beberapa hal. Pertama, bagaimana Alkitab bicara mengenai kata “kehendak Allah” ini. Secara tradisional kehendak Allah dibagi dalam tiga hal. Yang pertama adalah the sovereignty will of God, kehendak Allah yang berdaulat. Rom.11:33, Kis.4:27-28, beberapa ayat mengenai kehendak Allah yang berdaulat ini. Musa pernah berkata, ada hal-hal yang Tuhan ingin kita tahu maka Dia nyatakan, ada hal-hal yang Tuhan tidak ingin kita tahu maka Dia simpan itu menjadi rahasianya. Mengenai akhir jaman, kapan Yesus akan datang kembali, itu bukan hak kita untuk mengetahuinya, itu masuk ke dalam kehendak Tuhan yang berdaulat yang kita tidak mungkin tahu. Maka Alkitab mencatat ada kehendak Allah yang berdaulat yaitu kehendak Allah yang secara rahasia merencanakan segala sesuatu yang akan terjadi dan pasti terjadi di dalam alam semesta ini. Kehendak ini tidak mungkin ditolak oleh manusia. Kehendak ini pasti terlaksana. Paulus mengatakan, betapa dalam pengetahuan Allah, ada banyak hal yang kita tidak tahu dan memang hal-hal itu tidak perlu kita ketahui. Itulah the sovereignty will of God.

Yang kedua, kehendak Allah yang bersifat moral, the moral will of God, yang dinyatakan di dalam hukum Taurat, sehingga kita bisa tahu mana yang Tuhan berkenan dan mana yang Tuhan tidak berkenan, mana yang Tuhan bilang baik dan mana yang tidak baik. Rom.2:18 mengatakan ”…dan tahu akan kehendakNya dan oleh karena diajar dalam hukum Taurat, dapat tahu mana yang baik dan mana yang tidak.” 1 Tes.5:18 mengatakan ” …mengucap syukurlah dalam segala hal sebab itulah yang dikehendaki Allah bagimu…” dan 1 Tes.4:3 “Karena inilah kehendak Allah: pengudusanmu yaitu supaya kamu menjauhi percabulan…” Dari ayat-ayat ini kita melihat kehendak Allah bisa kita tahu di dalam Alkitab, jelas dan clear, berbeda dengan the sovereignty will of God yang kalau Tuhan tidak nyatakan kita tidak tahu dan kalaupun akhirnya Dia tidak mau nyatakan kepada kita, kita tidak punya cara untuk bisa mengetahuinya sebab itu adalah kehendak yang berada di dalam wilayah kedaulatanNya. Tetapi kalau kita bilang kita tidak tahu kehendak Allah yang begitu plain dan jelas dinyatakan di dalam Alkitab berarti sebetulnya kita tidak mau menjalankannya karena itu sudah dinyatakan oleh Tuhan. Kehendak Allah jelas, Ia mau hidup kita suci. Tuhan juga mau seumur hidup kita menjalani hidup penuh dengan syukur. Dengan melakukan hal-hal ini berarti kita sudah berjalan di dalam kehendak Allah. Kehendak Allah yang bersifat moral adalah satu kehendak yang Ia sudah nyatakan kepada kita di dalam Alkitab untuk bagaimana kita hidup berprilaku, beriman dan percaya kepadaNya. Ini sudah jelas dan sudah nyata di dalam Alkitab. Maka muncul pertanyaan ini: apakah Tuhan mempunyai kehendak yang secara individual bagi setiap kita? Bukankah di dalam Ef.2:10 Tuhan mengatakan we are His workmanship, kita adalah buatan tanganNya? Dengan menggunakan istilah ‘workmanship’ berarti setiap kita individu berbeda-beda, karunia berbeda-beda jelas berarti Tuhan menginginkan hal-hal yang unik dan berbeda-beda. Tetapi di pihak lain kita juga bertanya, lalu bagaimana dan dimana saya bisa tahu dan apakah yang disebut dengan kehendak Allah secara pribadi kepadaku? Apakah dengan istilah ‘pribadi’ kita harus cari tahu kepada Tuhan, dimana saya harus tinggal, dengan siapa saya harus menikah, berapa banyak anak yang harus kita miliki? Akhirnya ada orang terjebak sampai kepada hal-hal yang begitu detail, bangun pagi lalu tanya kepada Tuhan baju apa yang harus dia pakai hari itu. Apakah ada kehendak Tuhan secara pribadi bagi setiap kita? Bagi saya jawabannya ya dan tidak. Ya, dalam arti karena saya tahu tidak ada hal yang di luar dari rencana Tuhan. Tidak, dalam arti bagi saya kita tidak boleh bilang Tuhan punya kehendak pribadi untuk saya lalu sepanjang hidup saya terus mencarinya. Sdr tidak memiliki cara untuk tahu seperti itu dan Tuhan tidak memakai cara itu. Prinsipnya, setiap orang yang berjalan di dalam kehendak Allah yang bersifat moral jelas itu adalah kehendak Allah bagimu.

Itu sebab rasul Paulus memberikan konsep ini: pertama, janganlah serupa dengan dunia ini. Artinya hidup di dunia tidak boleh duniawi. Namun berubahlah oleh pembaharuan budimu sehingga kita bisa mengenal kehendak Allah, mana yang baik, yang sempurna dan yang berkenan kepada Allah. Paulus memakai frasa “transforming your mind” juga di dalam beberapa suratnya yang lain, misalnya dalam Ef.4:23 dan Paulus memakai kata ‘metamorfo’ suatu perubahan yang radikal terjadi. Apa yang memperbaharui hidup seseorang? Ef.4:20 mengatakan dasar pembaharuan terjadi karena kelahiran baru. Orang yang rindu mencari dan mengenal kehendak Tuhan karena hidupnya sudah dirubah oleh kelahiran baru. Dan yang kedua, karena orang itu sudah mengalami pengajaran terus-menerus akan kebenaran firman Tuhan. Kita sudah belajar tentang Kristus, kita belajar mengenal Dia, menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata di dalam Kristus. Kata ‘metamorfo’ dipakai sekali lagi dalam 2 Kor.3:18 Paulus membandingkan kemuliaan orang Kristen dengan kemuliaan Musa. Waktu Musa bercermin dengan hukum Tuhan di gunung Sinai, mukanya langsung bersinar karena diubah oleh kehadiran Tuhan, diubah oleh kesucian firman Tuhan. Tetapi kemuliaan orang Kristen lebih daripada Musa. Kita bukan saja bersinar, tetapi muka kita akan mengalami perubahan. Dan perubahan muka orang Kristen bukan saja bersinar tetapi muka kita akan berubah seperti muka Kristus dimana sifat-sifat Kristus, segala kesucian kebenaran Kristus ada di dalam muka kita pada waktu kita bercermin dengan kemuliaan Tuhan. Itulah sebabnya Paulus membedakan kenapa Injil memiliki kemuliaan yang jauh melebihi hukum Taurat. Dengan demikian, waktu Paulus mengatakan janganlah serupa dengan dunia ini namun berubahlah, pertanyaannya: bagaimana perubahan budi itu terjadi? Tidak lain dan tidak bukan karena kita sudah menerima pengajaran. Kedua, karena wajah kita terus-menerus dicerminkan kepada kemuliaan firman Tuhan. Jadi perubahan itu bukan berupa satu sensasi dan keinginan belaka melainkan suatu proses orang Kristen terus mengalami perubahan dan transformasi di dalam hati dan pikiran karena firman Tuhan merubah kita, bukan kita yang rubah firman Tuhan. Maka di sini mengenal kehendak Tuhan tidak pernah lepas dari refleksi hidup kita terhadap firman Tuhan yang terus menerus datang kepada kita. Paulus katakan perubahan itu terjadi supaya kita mengenal kehendak Allah. Apakah kehendak Allah itu, Paulus menggunakan tiga sifat penting mengenai kehendak Allah di sini yaitu: baik, berkenan kepada Allah dan sempurna. Tiga istilah ini sebenarnya sudah muncul di dalam Rom.7:12 “Jadi hukum Taurat adalah kudus, dam perintah itu juga adalah kudus, benar dan baik.” Paulus menyatakan sifat-sifat dari kehendak Allah itu sama dengan hukum Taurat dan perintah Tuhan karena sifatnya sama: kudus, benar dan baik adanya. Maksud saya adalah jangan sampai muncul terminologi seperti ini lalu disalah tafsir, yang disebut dengan kehendak Allah di sini berarti Tuhan mau kita mencari hal-hal yang sangat spesifik dari hidup kita. Berubahlah di dalam pembaharuan budimu, terus-menerus dipimpin, dicerahkan, dirobah oleh firman Tuhan dan pada waktu kita belajar berjalan di dalam pimpinan kehendak Tuhan melalui firmanNya di situ kita berjalan di dalam kehendakNya yang baik, yang berkenan dan yang sempurna.

Mark Twain mengatakan “Dua puluh tahun dari sekarang engkau pasti akan lebih banyak menyesal terhadap hal-hal yang mestinya engkau kerjakan sekarang namun tidak engkau kerjakan, ketimbang hal-hal yang engkau kerjakan namun gagal.” Namun banyak orang tidak berani melangkah mengambil keputusan di hadapan Tuhan sebab takut salah dan gagal. Maka bagi saya setia taat firman Tuhan, sudah pikir baik-baik, ambil keputusan, berjalan dan melangkahlah, paling-paling cuma salah tetapi salah masih bisa diperbaiki. Banyak orang yang tidak pernah berani melangkah, tidak pernah maju karena takut salah. Maka ada beberapa hal yang saya ajak sdr koreksi. Pertama, bagaimana kita tahu kehendak Tuhan? Bagi saya, ‘tahu’ itupun merupakan satu interpretasi dan interpretasi itupun pasti tahunya sesudah sesuatu hal terjadi dan bukan sebelumnya. Mari kita sama-sama coba lihat hidup kita setelah sepuluh tahun dari sekarang kita akan amini bahwa di situ maksud dan rencana Tuhan indah luar biasa. Kita hanya bisa bilang seperti itu, bukan? Dan tendensi dari suatu interpretasi adalah “because it is good for me” menjadi standar bahwa itu adalah kehendak Tuhan. Tetapi pada waktu sesuatu yang terjadi di dalam interpretasi kita itu adalah hal yang tidak baik, terkendala, dsb lalu apakah berarti di situ Tuhan tidak mempunyai maksud dan rencana? Tidak bisa berpatokan seperti itu, bukan? Ini yang saya mau koreksi. Sebab kalau kita bilang jalan dibuka dulu, jalan lancar dulu, semua hambatan hilang, kalau setiap kali kita memahami kehendak Tuhan seperti itu, tidak ada orang Kristen yang rela masuk ke pedalaman dengan kemungkinan mati dibunuh. Kalau semua tunggu lancar dulu, tidak ada orang Kristen yang berani ambil resiko dalam hidupnya karena selalu tunggu Tuhan buka dulu langkahnya di depan.

Dalam hidup kita mungkin kita jumpai ada saatnya seolah kita ambil keputusan secara reflek tetapi sebetulnya reflek itu terjadi sebab di dalam hidup itu sudah menjadi satu pola yang membuatnya terbiasa. Sama seperti seorang bermain piano latihan berulang kali not-not lagu yang sama, sebetulnya memori itu sudah ada di jari-jarinya sehingga tutup matapun dia tetap bisa memainkannya. Maka waktu kita mengambil satu keputusan, itu sebenarnya banyak berpengaruh dari pengalaman kita, waktu kita “trial and error” dalam hidup kita lalu pelan-pelan berakumulasi kepada satu hal yang membuat kita mengambil satu keputusan. Namun bagi mereka yang selalu takut dan tidak pernah berani melangkah mengambil keputusan akhirnya tidak akan pernah jalan. Pengalaman-pengalaman hidup akan menjadi hal yang bertumpuk menjadi satu keindahan. Saya tidak membahas hal ini secara mendetail karena ini bukan wilayah teologi, tetapi saya ingin menunjukkan ini cara kita mengambil keputusan. Point saya adalah bicara soal bagaimana kita mengambil keputusan seturut dengan kehendak Tuhan. Jangan takut ambil selama sdr berjalan di dalam the moral will of God, tidak ada yang salah di situ. Ada yang bilang ambillah keputusan kalau hati kita damai. Saya bilang, kalau hatimu sudah tidak damai dari awal, pasti karena jalannya sudah tidak benar. Pada waktu sdr ambil keputusan dari dua pilihan yang equal, tidak ada hal yang sdr langgar, maka percayalah ambil yang manapun Tuhan memimpin dan menyertai. Bicara mengenai “open door” kita lihat firman Tuhan dari 1 Kor.16:8-9 Paulus memutuskan untuk tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta. Kenapa keputusan itu diambil? Karena di situ banyak kesempatan baginya untuk mengerjakan hal-hal yang besar dan penting, sekalipun ada banyak penentang. Kata “open door” muncul di sini. Kesempatan terbuka bagi dia, tetapi itu bukan didasarkan kepada smooth dan kelancaran karena jelas Paulus bilang ada banyak penentang menghadang dia. Kemudian 2 Kor.2:12-13 Paulus mengambil keputusan untuk meninggalkan Troas dan berangkat ke Makedonia. Bukan karena di situ kesempatan tidak ada karena jelas Paulus bilang juga “open door” bagi pelayanan Paulus. Di Efesus pintu kesempatan terbuka, dan Paulus stayed. Di Troas pintu kesempatan terbuka, tetapi Paulus tidak stay. Maka open door tidak menjadi faktor penentu bagi keputusan Paulus di dalam decision making. Maka point saya, kalau kita terus minta kehendak Tuhan pimpin buka jalan dan beri kelancaran, kita akan terjebak di situ dan seumur hidup kita tidak akan pernah belajar mengambil keputusan yang beresiko. Dan waktu kita ambil satu keputusan dan menghadapi banyak tantangan akhirnya kita kecewa dan undur karena kita sudah salah konsep di situ. Biarlah seumur hidup kita mencari, mengejar dan mengenali kehendak Allah yang indah, yang sempurna yang baik dan yang memperkenankan hati Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

23 Mei 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: