Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Hidup di Dunia Namun Tidak Duniawi

Hidup di Dunia Namun Tidak Duniawi

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Rom.12:1-2

Eksposisi Surat Roma (28)

Dalam Rom.12:1 Paulus sedang bicara mengenai worship, ibadah, hubungan vertikal kita dengan Tuhan. Lalu Rom.12:2 dia bicara mengenai transforming your mind, bicara mengenai relasi diri kepada diri kita sendiri, apa yang patut kita perbaiki, apa yang harus diubah sebagai seorang anak Tuhan. Lalu Rom.12:3 selanjutnya baru kemudian Paulus bicara mengenai relasi secara horisontal, hendaklah tiap-tiap kita bertumbuh dalam komunitas pelayanan dan gereja, kita akan bahas di dalam minggu-minggu yang akan datang. Rom.12: 1 ada tiga point yang penting di situ, Tuhan panggil kita untuk menjadi orang Kristen yang “worship-full” beribadah kepada Tuhan. Dari ibadah itu melahirkan dua sifat penting orang Kristen yang harus ada yaitu “mercy-full” seperti Allah yang penuh dengan kemurahan, belajar jadi orang Kristen yang murah hati. Lalu yang kedua seperti Allah yang menyatakan pengorbanan yang tanpa pamrih kepada kita, biar kita juga menjadi orang Kristen yang mempersembahkan kepada Tuhan dengan sacrifice, hidup yang “sacrifice-full.” Persembahan yang terindah bukanlah berapa banyak yang bisa beri. Tetapi seperti yang Paulus katakan di sini, berilah tubuhmu sebagai persembahan yang kudus dan yang berkenan kepada Allah. Dengan memakai kata “tubuh,” itu berarti Paulus mengatakan tidak ada satu orang Kristenpun yang boleh minder berkata dia tidak punya apa-apa untuk bisa dibawa kepada Tuhan. Maka seluruh hidup kita, dengan status apapun, dengan bakat berapa banyakpun, itu merupakan persembahan yang kalau kita beri sepenuhnya kepada Tuhan menjadi persembahan yang Tuhan terima dan berkenan atasnya. Lalu dari ibadah, Paulus kemudian mengatakan bagaimana kita belajar hidup dengan diri kita sendiri, berjalan supaya seluruh proses pikiran kita, arah tujuan hidup kita, target yang ingin kita capai, tidak bisa tidak terfokus kepada tujuan yang satu ini, kata Paulus, yaitu kita sanggup bisa mengenali kehendak Allah di dalam hidup setiap kita. Dan kehendak Allah itu pasti bukanlah kehendak yang tidak baik kepada kita. Paulus memberikan tiga kata yang penting menunjukkan sifat dari kehendak Allah itu yakni kehendak Allah itu pasti baik, pasti berkenan kepada Allah dan sempurna adanya.

Saya akan membahas kalimat pertama dari Paulus di ayat 2, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini…” Seringkali tanpa sadar kita mengeluarkan kalimat yang seperti ini, “Koq orang itu cara berpikirnya ‘duniawi’ yah?” Saya hanya mengajak kita berpikir lebih dalam apa yang kita maksudkan, bagaimana kita memahami kata ‘duniawi.’ Paulus berkata, janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, saya percaya maksud dari ayat ini adalah bersifat duniawi karena ini merupakan panggilan dari rasul Paulus kepada kita untuk mengingat kembali doa Tuhan Yesus dalam Yoh.17 “Bapa, mereka memang bukan dari dunia ini, namun mereka masih tinggal di dalam dunia ini. Itu sebab kuduskanlah mereka di dalam kebenaran…” Orang Kristen memiliki status kita masih hidup di dalam dunia tetapi kita bukan dari dunia ini, dengan kata lain kita masih ada di dalam dunia ini namun kita tidak boleh hidup secara duniawi. Jadi yang Paulus maksudkan jangan kita menjadi serupa dengan dunia ini berarti janganlah kita hidup dipolakan dengan sifat-sifat yang ada di dalam dunia ini, sifat yang “worldliness.” Apa artinya waktu kita katakan seseorang itu hidupnya duniawi? Saya percaya, seringkali orang Kristen mungkin memiliki konsep rohani yang tidak Biblical, melainkan justru lebih dipengaruhi oleh konsep dualisme dari Plato yang menaruh hidup fisik dan hidup rohani ke dalam dua kutub yang sangat berseberangan. Sehingga orang itu dikatakan duniawi pada waktu mungkin dia berpikir lebih banyak mengenai kebutuhan hidup dia ketimbang hal-hal yang bersifat rohani. Jadi kalau terus bilang ‘kangtao-kangtao’ itu namanya duniawi, harusnya bilang ‘haleluya, shalom,’ itu lebih rohani. Plato mengatakan yang paling penting adalah roh dan roh itu tidak terkontaminasi. Yang menyebabkan hidup kita itu penuh dengan berbagai macam persoalan pergumulan sebab roh itu dipenjara di dalam tubuh fisik. Keinginan dan berbagai hal-hal yang tidak baik itu datangnya dari fisik. Dan Kekristenan di dalam perjalanan sejarah seringkali tanpa sadar dipengaruhi oleh konsep dari Plato ini. Contoh paling sederhana adalah kehidupan monastery di dalam Gereja pada abad 8-13-an dimana hidup yang disebut rohani adalah kita menanggalkan dan meninggalkan semua yang ada kaitannya dengan keperluan kebutuhan sehari-hari. Orang yang masuk biara hanya makan roti dan minum air putih sepanjang hidupnya karena dianggap makan lebih daripada itu sudah duniawi. Namun sebenarnya akar permasalahan teologis akan hal ini sudah mulai sejak awal Gereja Mula-mula. Dalam 1 Tim.4 Paulus menghadapi sekelompok orang Kristen yang super rohani yang melarang orang makan dan menikah. Kalau mau hidup rohani, makan harus yang ala kadarnya. Paulus dengan tegas melawan orang-orang seperti ini dan mengatakan, tidak, semua makanan diciptakan oleh Tuhan itu baik adanya. Terima dengan syukur kepada Allah dan di dalam doa kita menikmati makanan itu semua halal. Orang-orang yang super rohani itu juga melarang pernikahan dan aktifitas seksual di dalam pernikahan. Bertarak, celibacy dan singleness, tidak bersentuhan dengan hal-hal seksual menyebabkan hidup rohani kita lebih suci di hadapan Tuhan. Paulus menolak konsep itu. Sekali lagi saya ingatkan, pernikahan merupakan satu institusi yang diteguhkan oleh Tuhan sendiri sebelum manusia jatuh di dalam dosa. Maka orang Kristen tidak boleh menganggap seks dan pernikahan itu adalah akibat jatuh di dalam dosa. Seksualitas merupakan bagian dari pernikahan yang diciptakan Tuhan. Orang yang super rohani menganggap hal itu sebagai wilayah duniawi dan Paulus menentang konsep mereka. Hal yang sama juga ada di dalam konsep Buddhism yang mengatakan penyebab dan sumber segala samsara adalah keinginan. Maka Buddhism mengambil sikap supaya hidup kita lebih masuk ke dalam wilayah rohani, tinggalkan segala sesuatu. Keinginan itu datangnya dari mana? Keinginan itu datang dari aspek fisik manusia dan bukan dari aspek rohani manusia. Dengan demikian waktu mulai muncul kalimat, “Orang itu hidupnya duniawi,” seringkali karena kita sudah salah mengerti konsep itu. Kita mungkin berpikir dengan kata ‘duniawi’ itu orang itu lebih banyak menaruh perhatiannya kepada hal-hal kehidupan sehari-hari daripada menaruh perhatiannya kepada hal-hal hidup gerejawi. Tetapi dengan konsep seperti itu akhirnya orang Kristen salah dan terjebak memisahkan hidup kita, menganggap semua aktifitas yang hanya kita lakukan di hari Minggu di gereja saja yang bersifat rohani sedangkan dari Senin sampai Sabtu kita mengerjakan hal-hal yang tidak ada kaitannya dengan spiritual. Bagi saya, kita harus kembali memperbaiki seluruh pemahaman konsep kita mengenai hal-hal itu.

Waktu Paulus mengatakan, “Janganlah kamu serupa dengan dunia ini…” apa yang Paulus maksudkan di sini? Saya memikirkan ayat ini dalam-dalam, bagaimana kita memahami dengan jelas sampai dimana orang Kristen itu sudah hidup duniawi, apa yang Alkitab katakan mengenai “worldliness” itu, mana yang merupakan sifat dari keduniawian yang tidak boleh ada di dalam hidup orang Kristen. Sampai di sini, ada dua hal yang saya ingin ajak sdr pikirkan.

Yang pertama, saya ingin mengajak sdr memikirkan “the Eschatological concept of work.” Orang Kristen sering berpikir dunia ini bukan tempat kita dan kita merindukan rumah kita yang di surga sana yang kita anggap sebagai rumah kita yang asli. Akhirnya dengan konsep seperti itu orang Kristen berpikir kerja di dalam dunia ini tidak ada gunanya karena ini bersifat duniawi. Semua soal makan, soal minum, semuanya adalah duniawi, maka mari kita kejar hal-hal yang bersifat rohani saja. Sebelum kita memakai kalimat seperti itu, mari kita coba mengerti dengan jelas apa maksud Alkitab mengenai hidup yang bersifat rohani someday nanti bagaimana. Why.21:1-4 menulis mengenai penglihatan rasul Yohanes mengenai “langit dan bumi yang baru.”Alkitab bilang new heavens and new earth akan bersatu, tetapi ada beberapa hal yang discontinue dan tidak ada lagi di sana. Pertama, tidak ada lagi laut. Maksudnya apakah nanti dunia yang baru tidak ada pantai lagikah? Kasihan sekali orang yang suka selancar dan memancing. Laut di dalam metafora orang Yahudi melambangkan tempat chaos dan sumber evil. Jadi tidak ada lagi laut maksudnya tidak ada lagi hal-hal yang bersifat chaos dan kejahatan. Kedua, tidak ada lagi air mata. Ketiga, tidak ada lagi perkabungan. Keempat, tidak ada lagi dosa. Kelima, tidak ada lagi sakit penyakit. Keenam, tidak ada lagi kejahatan dan Setan di situ. Ketujuh, tidak ada lagi kawin mengawinkan.

Salah satu ayat yang mungkin menyebabkan kelirunya pemikiran konsep orang Kristen bahwa yang bersifat fisik ini someday akan lenyap habis dan tidak ada lagi adalah 2 Pet.3:10 yang seolah-olah nanti akan ada api yang dahsyat membakar habis sehingga bumi ini akan habis lenyap dengan segala isinya. Tetapi kata ‘hilang lenyap’ dalam terjemahan bahasa Inggris ada beberapa penafsiran. Terjemahan yang lama masih tetap memakai kata “it will laid bare” dumi akan dibiarkan menjadi tandus dan kering. Tetapi di dalam terjemahan English Standard Version menemukan kata yang dipakai di dalam bahasa Yunaninya lebih baik diterjemahkan “it will be exposed.” Maka mengandung perbedaan pengertian karena memang kata ini sulit untuk diterjemahkan. Sehingga terjemahan yang awal berpikir api itu membakar habis, tetapi penelusuran terbaru di dalam pengertian kata lebih baik api itu membakar menjadikan yang tidak tahan api akan hilang lenyap tetapi yang tidak musnah dibakar api akan tetap tinggal permanen. Ini mengacu kepada apa yang Paulus katakan di dalam 1 Kor.3:12-15 bahwa setiap kita kelak akan menghadap pengadilan Allah dan setiap pekerjaan kita akan diuji oleh api. Yang membangun hidupnya dengan rumput, jerami dan kayu kering akan lenyap terbakar, yang membangunnya dengan emas, permata dan batu mulia akan semakin indah diekspose. Maka keliru mengerti ayat ini menyebabkan kita berpikir semua yang kita kerjakan sekarang ini kelak akan habis lenyap karena ini hal-hal yang sementara yang bersifat duniawi karena toh nantinya dunia ini akan hilang lenyap. Mari kita melihat konsep spiritual, apa yang kita sebut dengan hal-hal yang rohani dengan perspektif yang lebih tepat dan lebih benar.

Allah menciptakan dunia fisik, semua yang indah di sekitar kita dirusak oleh Setan karena dosa, tetapi tidak akan dihancur-leburkan oleh Tuhan, melainkan akan diperbaharui oleh Tuhan. Sebab kalau Tuhan menghancurkan semua yang sudah Dia ciptakan lalu membikin yang baru karena dunia yang pertama sudah dirusak oleh Setan, berarti kuasaNya terbatas. Tetapi Tuhan bisa memperbaharui apa yang sudah dirusak oleh Setan dan dosa dari yang sudah rusak ini menjadi indah dan mulia kembali. Yang kedua, waktu Tuhan mencipta di awal yang ada ialah taman, yaitu taman Eden. Nanti di Why.21 yang turun bukan lagi taman tetapi kota Yerusalem. Di Kej.2:11 ada raw material emas, nanti waktu kota Yerusalem turun, jalan-jalannya terbuat dari paving emas. Yang merubah emas dari raw material menjadi paving adalah kebudayaan manusia. Tuhan ciptakan grape, manusia menjadikannya wine. Tuhan ciptakan grain, manusia menjadikannya bread. Pada waktu langit dan bumi yang baru datang, Tuhan Yesus akan mengadakan perjamuan yang terakhir. Di situ kita akan minum anggur dan makan roti, bukan grape and grain. Garden menjadi city berarti Tuhan menerima perkembangan dari kemajuan manusia. Yes.65:17-21, apa yang terjadi nanti di langit dan bumi yang baru? Kita sekarang hidup di dalam dunia yang berdosa, yang kita usahakan dengan kerja keras hasilnya dirampas orang. Di dalam dunia yang berdosa yang terjadi adalah the unfairness of life. Di dalam langit dan bumi yang baru kita akan menikmati hasil kerjamu. Jadi nanti di dalam langit dan bumi yang baru apakah kita tetap bekerja? Kita tetap bekerja. Sekarang di dunia ini kita bekerja supaya someday kita bisa enjoy. Kita kerja Senin sampai Jumat, I work and later I enjoy. Kita tidak bisa menikmati the enjoyment of work. Nanti di dalam langit dan bumi yang baru kita akan menikmati the enjoyment of work. Kita melakukan dan kita menikmati dari hasil tangan kita sendiri. Kita membangun dan kita akan mendiaminya. Yesaya dengan luar biasa menggambarkan the harmony of creation di dalam langit dan bumi yang baru, ayat 25 serigala dan anak domba akan makan bersama. Tidak ada yang berbuat dosa dan kejahatan lagi di situ. Dari konsep ini saya mengajak sdr melihat dengan demikian berarti yang dimaksud dengan hidup yang bersifat rohani tidak berarti hanya sekedar seluruh aktifitas yang kita lakukan di dalam gereja. Rohani berarti seluruh yang kita kerjakan di dalam hidup kita dari kerja dan usaha apapun yang kita lakukan seolah-olah hanya bersifat sementara dan hanya memenuhi kebutuhan kita di atas muka bumi ini tetap tidak bisa kita katakan duniawi. Kita bukan memilah dan membedakan mana aktifitas rohani dan mana aktifitas duniawi. Seluruh yang kita kerjakan itu bersifat rohani adanya. Yang perlu kita hindarkan adalah pattern dari sifat duniawi yang tidak boleh ada, yang disebutkan dengan sangat jelas dalam 1 Yoh.2:17 yaitu keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Worldliness life semua nanti akan lenyap. The craving of your heart, the lusting of your eyes, the centrality of yourself, itu semua sifat-sifat duniawi yang disebutkan oleh Yohanes. John Calvin mengatakan bukannya Tuhan melarang kita untuk punya keinginan, tetapi berapa sering keinginan yang timbul di dalam hati kita menjadi keinginan yang berkelebihan sehingga kita tidak lagi memiliki rasa cukup dan melihat semua yang ada di dalam hidup kita itu adalah anugerah dan pemberian dari Tuhan. The craving of your heart, mau dan mau semua. Dan ujung-ujungnya nanti setelah mencapai segala sesuatu lalu kita pikir semua itu bagi diriku sendiri dan karena diriku sendiri, maka itulah worldliness. Maka Yohanes mengkontraskan, barangsiapa melakukan segala sesuatu demi untuk menjalankan kehendak Allah, dia pasti akan hidup selama-lamanya. Dunia ini akan diperbaharui oleh Tuhan. Semua aktifitas yang kita kerjakan, suatu kali kelak semua yang kita kerjakan akan kita nikmati dan kita lihat hasilnya dan akan menjadi satu keindahan sukacita di dalam langit dan bumi yang baru, asal semua itu kita lakukan dengan sungguh-sungguh dan berfokus mencari kehendak Tuhan dalam hidupku. Tuhan tidak akan abaikan kemajuan yang manusia capai. Tetapi kalau kita belajar apa yang saya sebut sebagai “the theology of city” sdr akan melihat siapa yang pertama kali membangun city? Kain. Kota sebagai tempat perlindungan, sekaligus mempunyai dua sifat yaitu daya kreatifitas manusia dimana manusia bisa mencetuskan budaya yang tinggi di dalam kota tetapi sekaligus city juga menjadi tempat dimana manusia mau lari dan independent lepas dari Tuhan. Waktu Tuhan mencerai-beraikan manusia waktu membangun menara Babel, itu bukan karena Tuhan tidak menghargai dan takut kepada kemajuan manusia. Babel merupakan puncak pembangunan city yang paling agung dan paling ultimate dari manusia yang dicatat Alkitab. Tetapi setelah membangun kota Babel, ada satu kalimat yang manusia keluarkan yang membuat Tuhan menghukum mereka, yaitu ”…marilah kita dirikan bagi kita sebuah kota dan sebuah menara yang puncaknya sampai ke langit dan marilah kita cari nama…” (Kej.11:4). City menjadi tanda manusia kreatif, city menjadi tanda manusia yang jaya, city menjadi tanda manusia melakukan segala sesuatu mengelola karunia yang Tuhan beri. Tetapi sekarang tema menjadi berubah. Ingatkan, setelah Allah mencipta manusia, Allah memberi nama kepada mereka. Kemudian Adam memberi nama kepada binatang. Bapak memberi nama kepada anak. Saya memberi nama kepada sesuatu berarti saya adalah sumber dari dia. Tetapi di sini manusia mau cari nama sendiri, mau melawan yang memberi nama kepada saya pertama kali yaitu Allah. Maka Allah mencerai-beraikan mereka karena kalimat itu. Jadi city dibangun sebagai tanda manusia memperkembangkan apa yang Tuhan kasih dan Tuhan tidak pernah buang itu. Someday yang turun bukan taman Eden lagi tetapi kota Yerusalem. Segala jerih payahmu, hasil usahamu, yang engkau kerjakan dengan sungguh-sungguh karena cinta Tuhan, buang semua yang bersifat worldliness di belakangnya. Saya percaya kita berjalan di dalam kehendak Tuhan maka apa yang kita kerjakan menjadi sesuatu keindahan bagi nama Tuhan. Kalau sdr mengerjakan semua itu menganggapnya sebagai hal yang duniawi yang tidak ada gunanya, itu keliru. Yang tidak boleh ada ialah apa yang kita kerjakan sehari-hari akhirnya berujung kepada ‘saya menjadi Allah bagi diri diri saya sendiri, saya menikmati semua itu buat diri sendiri, saya craving dengan segala keinginan hati saya sendiri tidak ada habis-habisnya’ itu berarti kita mencari nama untuk diri kita sendiri. Pada waktu kita membawa semua yang kita kerjakan dengan tangan kita menjadi hati yang melayani, mengasihi dan tahu semua ini datangnya dari Tuhan dan mengembalikan apa yang Tuhan sudah beri dalam hidup saya bagi hormat dan pujian kepada Tuhan, di situ kita melayani Tuhan. Tidak ada yang namanya perusahaan Kristen, tidak ada yang namanya ekonomi Kristen, tidak ada yang namanya politik Kristen. Yang ada ialah orang Kristen yang terjun di dalam politik, orang Kristen yang masuk ke dalam dunia ekonomi, orang Kristen yang bekerja dalam dunia medis, dsb. Di situ saya mengembangkan bakat dan karunia yang Tuhan beri kepada saya. Waktu saya memakai semua yang ada di dalam pekerjaan itu menjadi penginjilan dan membantu pembangunan kerajaan Allah, di situ berarti kita doing spiritual things bagi Tuhan. Jangan dipola dengan cara dunia ini yang senantiasa hanya memuaskan keinginan hati dan diri, yang hanya memuaskan nafsu diri dan setelah itu menjadi angkuh dan merasa itu semua untuk diri sendiri. Tetapi barangsiapa hidup mengerti kehendak Tuhan dia akan hidup selama-lamanya. Dalam hidup kita yang sementara di sini biarlah kita tidak tinggal dengan mengerjakan segala hal untuk kenikmatan diri kita sendiri dan hanya untuk diri tetapi kita menjadi orang yang melakukan semua itu untuk Tuhan dan memiliki nilai rohani yang indah.

Pdt. Effendi Susanto STh.

16 Mei 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: