Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Mengambil Keputusan yang sesuai Kehendak Allah

Mengambil Keputusan yang sesuai Kehendak Allah

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.

Rom.12:1-2

Eksposisi Surat Roma (30)

Rom.12:1-2 bagi saya adalah ayat-ayat yang memberi prinsip yang penting bicara mengenai bagaimana mengenal dan mengerti kehendak Tuhan. Ada tiga hal yang Paulus angkat di sini. Pertama, persembahkan hidupmu sebagai a living sacrifice kepada Tuhan. Ini bicara mengenai ibadah kita yaitu hidup yang dipersembahkan kepada Tuhan. Prinsip yang kedua, jangan hidup duniawi, janganlah menjadi serupa dengan dunia ini. Dan prinsip yang ketiga, transforming your mind melalui refleksi kita dengan firman Tuhan. Pola pikir kita, prinsip pengambilan keputusan hidup kita direfleksikan selalu, diperbaharui terus-menerus oleh kebenaran firman Tuhan. Barulah keluar kalimat yang terakhir, maka kita bisa mengenali kehendak Tuhan dalam hidup kita. Kehendak Tuhan itu ditulis oleh Paulus dengan tiga sifat yang tidak akan pernah berubah yaitu kehendak Tuhan itu pasti baik, pasti menyenangkan Tuhan, dan pasti sempurna bagi kita.

Banyak orang selalu ingin ambil keputusan dengan mencari tanda dari Tuhan dan waktu bicara mengenai tanda langsung dipersempit konsepnya bahwa tanda itu haruslah bersifat supranatural dan suprarasional sehingga tanda dari Tuhan yang memimpin hidup kita haruslah berbeda dan lain sama sekali dengan apa yang kita proses dengan akal kita, sesuatu yang di luar ratio. Tapi maafkan, sesuatu yang di luar ratio itu punya dua wilayah. Yang satu suprarasional, dan yang satu lagi irrasional. Irrasional berarti semestinya secara ratio kita sudah tahu itu tidak boleh diambil tetapi akhirnya diambil juga. Kita ingin Tuhan menciptakan membikin tanda mujizat dan tanda ajaib. Tetapi mari kita membedakan pengertian antara ‘ajaib’ dan ‘aneh’ lebih dulu baru konsep kita bisa lebih jelas. Ajaib berarti hal itu tidak mungkin terjadi tetapi akhirnya terjadi. Aneh adalah hal itu semestinya tidak terjadi tetapi koq terjadi. Maka waktu seseorang tidak mau terima sesuatu yang bisa dijelaskan secara rasional itu bukan ajaib tetapi aneh. Aneh itu semestinya tidak terjadi, seharusnya tidak diambil tetapi kenapa diambil dan dipilih, itu yang bikin satu tindakan dan satu hal itu menjadi aneh tetapi yang ambil bilang ini adalah keputusan iman. Maka kita geleng-geleng kepala melihat begitu banyak orang Kristen di dalam pengambilan keputusannya hal-hal yang commonsense saja dia tidak lewat sehingga banyak keputusan bukan berangkat dengan satu sikap percaya dan beriman kepada Tuhan dengan sama sekali tidak mau memakai prinsip yang penting dan benar di dalam kita mengambil keputusan.

Kis.27:9-10 menarik sekali, Paulus jelas hanya bicara soal commonsense dari bijaksana alam. Memang waktu itu weather forecast belum semaju sekarang tetapi dalam tradisi Yahudi melihat cuaca sudah lewat masa puasa berarti cuaca berangin dan laut akan rough dan berbahaya untuk berlayar. Itu sudah commonsense, bijaksana yang Tuhan taruh di dalam alam semesta. Ini satu pengambilan keputusan berdasarkan hal-hal yang tidak usah dicari-cari. Kita hanya berusaha mencari jalan bagaimana tidak kena badai tetapi ini merupakan hal-hal yang kita harus consider, tinjau, pikirkan dan analisa di dalam pengambilan keputusan kita. Sebenarnya orang Kristen ataupun bukan Kristen, siapapun dia, kita manusia terbatas akan mengalami persoalan mengambil keputusan dan kita tidak tahu apa yang ada di depan. Tetapi saya percaya prinsip-prinsip pengambilan keputusan secara umum itu tidak bisa kita abaikan yaitu waktu mau ambil keputusan apa opsi-opsi yang tersedia. Waktu mau ambil kita menimbang-nimbang konsekuensi apa nantinya. Dan jangan lupa, bukan saja kita tidak tahu apa yang akan ada di depan yang menjadi problem di dalam pengambilan keputusan, kita harus menimbang juga pertimbangan orang-orang terdekat dengan kita, isteri, suami atau anak-anak atau orang tua kita. Sdr bisa melihat kompleksitas dari keputusan itu. Akhirnya sdr bilang, “Sudah, sudah… jangan banyak diskusi. Mari kita doa sama-sama dan biar kita melangkah dengan iman. Tadi malam Tuhan sudah kasih tanda kepadaku…” Bagaimana kita ambil keputusan dengan cara seperti itu?

Bukankah Tuhan berkata kepada Yosua dan orang-orang Israel waktu hendak masuk ke tanah perjanjian, “Aku akan memberikan tanah ini kepadamu, namun engkau harus merebutnya dari tangan orang Kanaan…” Tuhan akan membelah sungai Yordan sesudah orang Israel melangkahkan kakinya masuk ke dalam air sungai itu. Nanti di akhir kitab Yosua sdr akan menemukan pernyataan dari Kaleb,”Ada banyak yang Tuhan janjikan kepada kita tetapi masih sedikit yang sudah ita rebut. Sekarang umurku sudah hampir 80 tahun tetapi aku masih seperti 40 tahun yang lalu. Mari kita keluar untuk merebut tanah yang Tuhan janjikan itu.”

Maka itu sebab saya ajak sdr coba berpikir pada hari ini bicara mengenai keinginan kita untuk mengenal dan mencari kehendak Tuhan. Tetapi seringkali masuk ke dalam wilayah ini ada dua hal yang saya ingin bicara sedikit hati-hati kepada sdr mengenai cara orang mencari kehendak Tuhan. Yang pertama, dengan mencari tanda bagaimana Tuhan memimpin di situ. Minggu lalu saya sudah mengajak sdr sedikit melihat tanda yang paling sering orang pakai yaitu tanda Tuhan buka jalan dan tutup jalan.

Mungkin ini menjadi pengalaman banyak orang Kristen, kita ingin semua yang kita kerjakan dan lakukan adalah tidak lepas dari kehendak Tuhan tetapi bagaimana kita mengerti dengan jelas cara Tuhan memimpin hidup kita? Ada beberapa hal yang harus kita buang karena bisa jadi “tools” yang kita pakai ini naif, tidak berarti Tuhan tidak memberi sesuatu di sini tetapi tetap harus dilihat dari kacamata firman Tuhan. Namun tidak boleh memakai tools ini untuk mengatakan Tuhan pimpin saya di situ, salah satunya adalah dengan cara “open and close doors.” Maksudnya Tuhan buka jalan dan tutup jalan adalah kalau lancar maka pintu akan terbuka tetapi kalau banyak hal kita mau lakukan tetapi semua tertutup itu tandanya Tuhan tidak mau kita masuk di situ. Kita tidak boleh pakai itu sebagai prinsip keputusan kita.

Paulus tidak memakai prinsip ‘open door’ sebagai satu tanda bahwa dia harus ambil itu sebagai tanda dari Tuhan tetapi hanya sebagai kesempatan bagi dia. Dua ayat ini menjadi perbandingan yang sangat penting karena di sini dua-dua Paulus memakai kata ‘open door.’ Dalam 1 Kor.16:8-9 Paulus mengambil keputusan tinggal di Efesus sampai hari raya Pentakosta pertimbangan keputusannya adalah karena dia melihat di sana banyak kesempatan baginya untuk mengabarkan Injil sekalipun ada banyak penentang. Jangan lupa meskipun Tuhan buka pintu tidak berarti lancar semuanya karena ada banyak yang menentang Paulus. Dalam 2 Kor.2:12-13 Paulus memutuskan untuk tidak tinggal di Troas walaupun Tuhan beri kesempatan terbuka untuk melayani di situ tetapi keputusan itu dia ambil karena menimbang ada hal lain yang sangat urgen untuk saat itu. Dia mengatakan ‘hatiku tidak tenang’ bukan berarti untuk mengambil satu keputusan berdasarkan damai sejahtera di hati karena itu sangat subyektif dan berbahaya sekali. Maksudnya adalah Paulus sebelumnya sudah buat janji untuk bertemu Titus di sana yang akan mengabarkan keadaan jemaat Korintus yang sedang dalam keadaan berbahaya, ada begitu banyak problem di tengah jemaat dan kemungkinan terjadi perpecahan dan keributan di tengah mereka. Paulus ingin bertemu dengan Titus dan hatinya menjadi tidak tenang karena di satu pihak Tuhan sudah membuka pintu untuk pelayanan di Troas begitu penting tetapi sekaligus dia harus mengetahui keadaan jemaat Korintus melalui pelayanan Titus di sana. Paling bagus bisa ketemu di Troas sehingga dua hal sekaligus ada di situ, semua orang tahu. Tetapi pada waktu sdr harus memilih, bagaimana? Dua-dua itu adalah pilihan yang sama-sama baik, bukan? Tinggal di Troas memberitakan Injil, mencari Titus juga adalah soal pelayanan Tuhan, mana yang lebih penting? Itu sebab hati Paulus menjadi tidak tenang. Maka open door bukan menjadi tanda harus ambil sebab Tuhan mau engkau ke situ, tetapi lebih merupakan kesempatan yang Tuhan beri dan buka kepada kita. Seharusnya kalau lebih dari satu kesempatan, jangan bikin hati kita jadi takut dan gelisah dan takut tidak menjalankan kehendak Tuhan. Justru kita harus bersyukur karena Tuhan beri kesempatan kepada kita. Ini pendekatan yang salah: banyak orang Kristen dalam mencari kehendak Tuhan menganggap dari beberapa kesempatan yang ada, Tuhan sudah menetapkan satu dan kita harus mencari itu, dan kalau salah ambil berarti sudah bersalah di hadapan Tuhan.

Di Troas Tuhan buka kesempatan. Di Efesus Tuhan buka kesempatan . Kesempatan terbuka tidak berarti harus diambil karena bukan sebagai tanda melainkan sebagai kesempatan Tuhan buka, tinggal bagaimana pemilihan kita. Di Troas kesempatan yang Tuhan buka ada dua, sehingga Paulus harus memilih tinggal di Troas atau pergi dari Troas. Tinggal di Troas adalah pilihan yang baik, memberitakan Injil kesempatan ada. Pergi dari Troas juga sama, harus mencari Titus sebagai bagian pelayanan bagi Tuhan, pekerjaan yang penting. Setelah menimbang-nimbang maka dia ambil keputusan untuk meninggalkan Troas untuk menemui Titus. Jangan bilang dia lari dari pelayanan karena dua-dua sama-sama penting tetapi tidak bisa terjadi sekaligus di dalam keputusannya.

Jadi waktu Tuhan buka jalan dengan lancar dan ada harapan ke depan, tidak boleh otomatis menjadi tanda Tuhan harus kita jalani. Itu adalah kesempatan yang perlu pakai pertimbangan yang lain bagaimana Tuhan pimpin kita sehingga mengambil keputusan dengan benar di situ. Yang kedua cara orang Kristen melihat kehendak Allah seperti sedang masuk ke dalam labirin/maze. Dalam maze ada banyak jalan tetapi untuk sampai ke tengahnya hanya ada satu jalan. Kita selalu berpikir seperti itu maka kita takut jangan sampai salah pilih jalan akhirnya ketemu jalan buntu dan hidup bolak-balik di situ. Kalau engkau salah jalan maka engkau tidak mencapai kehendak Allah yang fulfill. Kepada orang yang bilang seperti itu saya akan tanya balik, bagaimana you tahu? Tetap you tidak punya cara untuk mengetahuinya, bukan? Karena Tuhan tidak pernah bukakan sepuluh tahun ke depan hidup kita seperti apa. Itu sebab saya harap sdr perhatikan baik-baik, Paulus tidak bilang di sini bahwa ada kehendak Tuhan yang satu secara spesifik harus kita cari tetapi bagaimana Tuhan pimpin kita melangkah dengan benar dan waktu kita melangkah kita tahu kita sudah berjalan di dalam kehendak Tuhan. Ini point yang saya ingin ajak kita sama-sama pikirkan. Tuhan itu bukan Tuhan yang cheeky dan sneaky yang senang orang pilih salah. Jangan sampai kita berpikir seperti itu. Sehingga banyak orang Kristen ambil keputusan tidak bersyukur kepada Tuhan untuk begitu banyaknya kesempatan yang Tuhan beri. Malah terbalik, hati menjadi takut pilih salah.

Dalam 1 Kor.7:39-40 Paulus memberi satu prinsip untuk memilih pasangan hidup yaitu engkau bebas memilih siapa saja yang engkau suka asal prinsip ini jangan dilanggar: dia haruslah orang percaya. Mungkin ada seorang gadis tertarik kepada dua pria yang sama-sama Kristen, silakan pilih dengan bebas, yang penting dia orang beriman dan percaya. Alkitab hanya memberi dua prinsip: dia harus orang percaya dan dia harus lawan jenis. Itu saja. Dua-dua ini tidak boleh dilanggar. Tetapi bisa jadi pilihan yang engkau ambil belum tentu bijaksana. Bijaksana itu berkaitan dengan kriteriamu. Saya tahu terlalu banyak kriteria kita, apalagi sebagai wanita terlalu banyak kriteria mencari pasangan hidup. Tetapi hari ini saya ingin mengajarkan teori probabilitas sebagai commonsense dalam decision making. Saya ingin yang begini dan begitu, dari seratus pria yang masuk dalam kriteria pria idealmu kira-kira 10 yang di atas. Dan jangan lupa bukan cuma kamu yang mau pria atau wanita seperti itu, stock itu tidak banyak di pasaran dan harga sedikit mahal karena demand yang tinggi. Maka kesulitan untuk mendapat yang seperti itu akhirnya membuatmu tidak mencari yang 20-30 di bawahmu yang masuk lapisan average itu. Terlalu lama cari yang di puncak tidak dapat-dapat, lalu cari yang average baru sadar yang di situpun sudah habis semua. Kata pak Tong, karena selalu mau dapat yang naik mercedes maka tolak yang datang naik sepeda. Sesudah tidak dapat-dapat, cari yang naik sepedapun sudah diambil orang. Simple dan sederhana. Paulus hanya bilang prinsip moralnya, cari anak Tuhan yang beriman kepada Tuhan. Yang kedua, cari yang memang engkau suka. Pilihan yang mana itu seturut dengan bijaksanamu, prioritasmu, apa yang you harap dan cita-citakan dari ideal konsepmu mengenai relationship dan pernikahan, taruh di situ. Waktu ambil dan pilih, yakinlah itu adalah kehendak Tuhan. Tidak bisa lagi sesudah kawin masih bertanya, “Tuhan, ini kehendakMu atau bukan?”

Lalu prinsip kedua adalah prinsip ‘counsel.’ Dalam Rom.12 sdr menemukan Paulus menulis dengan cara yang berbeda-beda. Rom.12:1-2 itu merupakan panggilan Paulus sebagai rasul hamba Tuhan bicara tentang bagaimana sikap kita kepada Tuhan. Di sini Paulus memakai kata “I urge you…” aku mendesakmu. Maksudnya, dia tidak paksa dan tidak perintah, tetapi juga tidak boleh sesuka hati. Paulus mendesak kita untuk mempersembahkan tubuh kita, karena “demi kemurahan Allah.” Karena Allah sudah terlalu banyak memberi anugerah kepadamu masakan kita tidak memberi kembali kepada Tuhan yang sudah memberi lebih banyak? Secara hukum sebab akibat beri-memberi kita sudah tidak fair, bukan? Tetapi demi kemurahan Allah, I urge you to give your body as a living sacrifice. Tetapi menarik, kemudian di ayat 3, Paulus bilang ”…berdasarkan kasih karunia Allah yang diberikan kepadaku…” artinya sebagai orang yang lebih rohani daripada kamu. Jadi ayat 3 memiliki sedikit derajat pada waktu bicara mengenai relasi di dalam gereja, bagaimana melayani Tuhan, dsb Paulus memberikan prinsip apakah ini based on sesuatu yang sedikit lain yaitu saya memberimu nasehat, panggilan, jangan pikir terlalu tinggi daripada apa yang sudah Tuhan kasih di dalam hidupmu, itu akan bikin dirimu susah sendiri. Tetapi di sini merupakan satu nasehat dari seorang rasul yang diberi karunia dari Tuhan lebih daripada kamu. Nanti dari situ sdr lihat prinsip di dalam 1 Kor.7:10 waktu jemaat Korintus bertanya, ‘bolehkah saya menceraikan isteri saya?’ Paulus bilang, “Tidak. Karena ada perintah dari Tuhan, yang sudah menikah tidak boleh bercerai.” Kemudian compare dengan ayat 25, “Sekarang mengenai para gadis, untuk mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan. Tetapi aku memberikan pendapatku sebagai orang yang dipercayai memiliki rahmat dari Allah…” Sdr lihat perbedaannya? Di sini Paulus hanya bisa memberi pendapatnya sebagai orang yang lebih matang rohaninya, sebagai seorang rasul yang menggembalakan. Kalau sudah mempertimbangkan pendapatku lalu kamu rasa tidak mau ikuti karena ada pertimbangan lain, silakan. Saya tidak perintah, saya hanya memberi nasehat dan pendapatku. Tetapi di sini Paulus memberikan nasehatnya sedikit lebih indah yaitu dia bilang, “Aku seorang yang diberi kasih karunia dari Tuhan, maka aku menasehatimu…” Maka pegang prinsip kedua ini, belajar mendapatkan counsel rohani sebijaksana mungkin dari orang-orang yang ada di sekitar kita sehingga melalui counsel mereka kita mendapatkan keputusan yang lebih bijaksana.

Masih ingat kejatuhan salah seorang raja Israel karena pada waktu dia naik tahta dia langsung mengganti semua penasehat ayahnya dengan teman-temannya yang masih muda, maka jadi rusak. Amsal selalu ingatkan, orang yang bijaksana selalu mencari nasehat orang lain. Seorang yang bijaksana selalu mendengar dulu pendapat orang baru kemudian memikirkan dan mengambil keputusan. Maka prinsip ini penting, setelah kita membaca firman Tuhan, kita menggumulinya, kita minta Tuhan beri kita hati yang bijaksana di dalam mengambil keputusan. Berarti tidak melepaskan pikiran yang rasional di dalam memikirkan semua keputusanmu.

Dalam 1 Tes.3:1-2 Paulus memakai frase “I thought it best…” waktu dia memutuskan Timotius untuk pergi dan dia tinggal di situ. Fil.2:25-26 Paulus bilang, “I thought it is necessary…” Maka muncul dua prinsip penting di sini. Dalam surat Tesalonika Paulus mengambil keputusan dengan berpikir mana yang terbaik. Di surat Filipi Paulus ambil keputusan mana yang paling urgen. Dalam 1 Kor.16:3-4 di situ Paulus bilang “It is one is fit…” Ini keputusan yang paling tepat. Kis.15:28-29 para rasul bilang “It seems good we take that decision…” Kami pandang itu keputusan yang baik. Semua kata-kata ini menunjukkan pengambilan keputusan itu tidak lepas daripada pertimbangan rasio yang Tuhan beri di dalam pengambilan keputusan. Dan pertimbangan ini harus merupakan pertimbangan bijaksana hidup kita. Bagaimana kita bisa memiliki pertimbangan yang bijaksana, itu tidak lepas dari bijaksana Alkita dan tentu kita tidak boleh mengabaikan bijaksana dari orang-orang yang matang rohaninya dengan hati yang bijak dan fair kita bertukar pikiran bagaimana mendapatkan keputusan yang terbaik. Pada waktu kita menemukan beberapa pilihan, mari kita pakai beberapa prinsip ini: jangan lupakan pilihan itu kalau sdr sanggup memilih, pilihlah yang terbaik. Kalau itu masih ada di dalam genggamanmu untuk memutuskan, pilih yang paling urgen, pilih yang paling fit untukmu. Baru yang terakhir setelah semua berada di dalam tangan kita, mungkin memikirkan, mungkin mengatur, mungkin memilih, terakhir sesudah semua selesai ada wilayah yang kita tidak tahu, hasil akhir nanti di luar kuasa kita maka kita bawa di dalam doa. Do your best in your part. Sesudah itu outcome-nya bagaimana kita tidak tahu, itu sebab Yakobus bilang, setelah kita berencana, setelah kita pikir dan kita lakukan, jangan pikir kita bisa kontrol semuanya. Maka Yakobus bilang, “If this is the will of God…” Bawa dalam doa, serahkan kepada Tuhan semua yang sudah kita pikir dan atur, hasil masa depan bagaimana terserah sama Tuhan. Maka saya percaya ini merupakan prinsip firman Tuhan memimpin dan menuntun kita mengenal kehendak Tuhan. Dan saya harap ini boleh menjadi prinsip yang memperbaiki hidup kita di hadapan Tuhan dalam mengambil keputusan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

30 Mei 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: