Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Diri dan Penerimaan Allah

Diri dan Penerimaan Allah

Karena itu, saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna. Berdasarkan kasih karunia yang dianugerahkan kepadaku, aku berkata kepada setiap orang di antara kamu: Janganlah kamu memikirkan hal-hal yang lebih tinggi dari pada yang patut kamu pikirkan, tetapi hendaklah kamu berpikir begitu rupa, sehingga kamu menguasai diri menurut ukuran iman, yang dikaruniakan Allah kepada kamu masing-masing.

Rom.12:1-3

Eksposisi Surat Roma (31)

Rom.12 merupakan bagian awal dari prinsip etika orang Kristen dimana Paulus secara praktis mengajak kita hidup sebagai orang Kristen sesudah pasal 1-11 Paulus bicara secara panjang lebar mengenai apa artinya anugerah keselamatan yang kita terima di dalam Tuhan kita Yesus Kristus. Hidup kita bukan karena kita layak di hadapan Tuhan, bukan karena kita baik di hadapan Tuhan, tetapi semata-mata semua karena anugerah Tuhan, maka Rom.12:1-2 langsung bicara bagaimana respons dan sikap kita kepada Tuhan. Lalu ayat 3 satu-satunya ayat bicara mengenai bagaimana kita memperlakukan diri kita sendiri. Baru nanti ayat 4 dan selanjutnya bicara mengenai bagaimana sikap kita melayani orang yang lain.

Berkaitan dengan hubungan kita dengan Tuhan, Paulus memakai satu kata yang sangat indah, “I urge you…” terjemahan Indonesia memakai kata “Aku menasehati…” tetapi kata yang lebih baik mungkin “Aku mendesak engkau…” berarti bukan satu perintah tetapi juga bukan sekedar nasehat yang boleh kita terima atau tidak, padahal kemurahan Tuhan terlalu besar kepada kita, anugerah Tuhan terlalu banyak diberikan berlimpah kepada kita. Semestinya dan sepatutnya kita harus mengembalikan apa yang Tuhan sudah beri kepada kita, tetapi Tuhan kita bukan Tuhan yang memaksa seperti itu. Itu sebab di dalam relasi kita mengembalikan semua yang Tuhan beri kepada kita, Paulus hanya memakai kata “I urge you…” Paulus tidak perintah, itu berarti kita mengembalikan persembahan hormat pujian kepada Tuhan bukan karena keterpaksaan. Tetapi ini juga bukan berupa nasehat yang boleh atau tidak kita lakukan, artinya kita memberi kepada Tuhan dengan sukarela tetapi tidak dengan sesuka hati. Maka sikap kita kepada Tuhan bagaimana? Ada tiga point yang penting di sini, biar hidup kita boleh menjadi hidup yang penuh dengan ibadah, satu “worship-full” menjadi ibadah yang sejati. Memberi persembahan bukan hanya apa yang ada pada kita tetapi totalitas hidup kita beri kepada Tuhan. Bukan saja kita menjadi orang Kristen yang penuh dengan ibadah, kita juga harus menjadi orang Kristen yang penuh dengan pengorbanan, to be a sacrificial Christian. Bukan itu saja, kita harus menjadi orang Kristen yang merciful. Tiga point ini penting di dalam Rom.12:1-2. Kepada Tuhan kita harus bersikap seperti itu. Lalu bagaimana selanjutnya sikap kita kepada diri sendiri? Ayat 3 menjadi ayat yang penting dan unik bicara mengenai sikap kita kepada diri. Sebelum kita boleh memberi sesuatu kepada orang lain, sebelum kita boleh melayani orang lain, sebelum kita bisa merasakan terlalu banyak anugerah Tuhan yang beri kepada kita sehingga kita boleh menjadi berkat bagi orang lain, Paulus terlebih dahulu mengajak kita mengerti, menerima dan memiliki pengertian yang tepat dan penilaian yang tepat terhadap diri sendiri. Dan di sini Paulus mengangkat sikap yang cenderung kita lakukan kepada penilaian diri yaitu menilai diri lebih tinggi daripada orang lain. Paulus menasehati setiap orang Kristen untuk memiliki penilaian diri yang tepat seturut dengan standar iman yang Tuhan sudah karuniakan kepada kita, baru di situ kita bisa memiliki kebahagiaan bagi diri kita sendiri. Saya percaya ini merupakan point yang sangat penting. Selain kadang-kadang kita merasa kecewa, kita merasa iri karena orang lain mendapatkan sesuatu lebih banyak daripada kita, seringkali ada faktor yang menghambat kita bisa menjadi berkat bagi orang lain yaitu kita rasa yang kita miliki sekarang adalah hal yang kurang banyak. Kita tidak memiliki persepsi yang tepat mengenai diri kita sendiri. Pada waktu kita belajar bertumbuh menjadi orang di dalam kehidupan saya percaya tahap pertumbuhan kita akan mendatangkan dua hal yang penting untuk menjadi ciri kita sebagai orang yang sudah bertumbuh. Pertama, waktu kita bertumbuh kita mulai mengenali ternyata ada begitu banyak hal di dalam diri kita yang tidak pernah kita pikirkan sebelumnya. Itu menjadi indah, itu namanya ‘growing.’ Grow berarti kita menyadari banyak hal yang ada di dalam diriku belum aku gali. Tetapi aspek lain adalah kita bertumbuh sebab kita mulai menyadari juga bahwa ada begitu banyak kekurangan kelemahan yang menjadi limitasi yang harus kita sadari. Dari situ baru kita mulai berpikir mana yang paling sulit bagi kita untuk mengaku kepada orang lain, kelemahan atau keunggulankah? Umumnya orang sulit mengakui kelemahannya. Paulus bicara mengenai ‘movement’ penilaian diri seseorang kecenderungannya adalah overestimate dengan kalimat ”…jangan memikirkan lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan…” Saya memikirkan kalimat ini, apakah penilaian ini karena ada hal yang lebih rendah, ada kelemahan dan kekurangan dari diri kita tetapi tidak berani untuk kita akui kepada orang lain maka kita tutup-tutupi dengan perasaan over confident. Hal ini terjadi di dalam jemaat Korintus yaitu ada sebagian orang yang mengestimasi diri over dan ada sebagian lain yang inferior (1 Kor.12). Paulus hanya angkat satu hal ini: jangan kita memiliki penilaian diri yang lebih daripada yang semestinya dan mari kita menilai diri seturut dengan satu standar iman yang Tuhan beri kepada kita. Di situ memberi kebahagiaan kepada kita.

Saya menganalisa sifat yang muncul di dalam Rom.12:3 menggabungkan dua aspek ini, yaitu ada perasaan superior tetapi ada juga perasaan inferior, tetapi kadang-kadang perasaan inferior ini tidak berani kita akui sehingga kita tutup-tutupi dengan sikap superior ini. Di luar kelihatan seperti itu tetapi sebenarnya di dalamnya kita mengalami perasaan inferior. Maka saya percaya persepsi kita melihat dan mengenal diri kita sendiri adalah persepsi yang seringkali disebabkan oleh pola pikir yang bersifat negatif ini. Kita rasa kita lebih penting daripada yang lain melahirkan sikap over confident, tetapi mungkin kita juga berpikir tidak ada hal-hal yang baik dan berarti dan berharga di dalam diri kita menyebabkan kita menjadi inferior. Pola pikir yang bersifat negatif ini selalu menjadi kendala di dalam kebahagiaan diri kita sehingga waktu kita lihat apapun yang datang kepada kita tidak pernah memberikan kebahagiaan kepada kita. Kenapa sampai pola pikir yang bersifat negatif ini menjadi hal yang sering memberikan persepsi di dalam penilaian diri kita?

Buku yang ditulis oleh Matthew McCain dan Patrick Fenney berjudul “Self Esteem” bagi saya merupakan buku standar bagi konsep mengenai self esteem dari kacamata sekuler. Paling tidak ada tiga sebab kenapa orang memiliki penilaian diri yang tidak pernah pas, selalu mengandung dua ekstrim ini: over confident atau inferior. Yang pertama adalah karena kita terlalu suka membandingkan hidup kita dengan orang lain. Itu faktor yang menyebabkan penilaian diri kita tidak pernah menjadikan kita bahagia sebab kita selalu membandingkan diri dengan orang lain. Dan pada waktu kita membandingkan diri dengan orang lain kita akan selalu merasa kenapa halaman orang lain lebih hijau daripada kita punya, padahal dia juga berpikir seperti itu. Kita selalu lihat waktu anak-anak berkumpul sama-sama, mama selalu lihat anak orang lain lebih gemuk daripada anaknya sendiri, anak orang lain makannya lebih bagus daripada anaknya. Akhirnya rasa pressure sendiri dan tertekan sendiri maka ambil sikap mengisolasi diri dan tidak bergaul dengan orang lain. Hidup kita terus membandingkan diri dengan orang lain, apa yang orang lain miliki selalu dilihat lebih banyak dan lebih baik daripada milik kita sendiri akhirnya kita menjadi tidak bahagia. Lalu ada orang mengatakan, kalau begitu jangan terus membandingkan ke atas tetapi coba bandingkan ke bawah, kepada orang yang kurang daripada kita. Masih ada orang yang lebih miskin, masih ada orang yang lebih unfortunate, masih ada orang yang lebih susah daripada kita. Tetapi memakai cara ini untuk membuat kita lebih lega juga sebenarnya tidak benar karena kita menempatkan penilaian diri berdasarkan melihat kesulitan orang lain. Bukankah kesulitan dan ketidakbahagiaan itu bersifat temporer? Siapa tahu lima tahun kemudian tiba-tiba orang itu lebih kaya daripada kita, kita menjadi susah lagi. Tuhan ingin kita melihat diri masing-masing secara unik dan tidak membanding-banding.

An unhealthy self perception itu muncul karena suka membandingkan dengan orang lain. Yang kedua, kita menilai diri kita berdasarkan apa yang kita sudah raih, accomplishment dan achievement apa yang kita dapat. Menilai diri dari apa yang sudah kita capai, menilai diri dari apa yang sudah kita raih. Seseorang baru merasa diri berarti dan berharga berdasarkan pekerjaan, jabatan dan milik yang ada di dalam hidupnya. Tidak heran self esteem orang menjadi poor dan empty karena banyak orang merasa statusnya naik ketika dia mengenakan barang-barang bermerk dan mahal. Saya pikir ini adalah satu ukuran yang sangat abstrak sekali. Contoh, kalau dia orang yang sudah kaya, dia pakai jam tangan Rolex palsu, orang tetap akan kira dia pakai Rolex asli. Tetapi you yang miskin mau naik status, pakai Rolex asli, tetap orang kira kamu pakai Rolex palsu, apapun juga tetap dianggap pakai barang palsu. Maka buat saya memakai ukuran seperti itu sangat relatif sekali. Tetapi begitu banyak orang merasa nilai dirinya menjadi berarti dan berharga kalau kita menilainya berdasarkan apa yang bisa kita raih dan dapat. Yang ketiga, kadang-kadang penilaian diri kita menjadi tidak tepat sebab kita menaruh satu pola pikir negatif yaitu pola pikir selalu menuntut approval dari orang. Buat saya lebih baik punya teman yang dengan jujur bisa memberitahu kelemahan kita daripada orang gara-gara takut kita tersinggung akhirnya selalu mengatakan hal-hal yang baik sehingga kita mempunyai penilaian diri yang salah. Seorang yang memiliki penilaian diri yang salah, over confident atau inferior disebabkan karena secara konstan kita menuntut approval. Kita mau diangkat-angkat, dipuji-puji, tidak pernah mau mendengarkan secara jujur kritikan ataupun kalimat-kalimat yang tidak baik kedengarannya bagi pendengaran tetapi mungkin merupakan kalimat yang patut dan perlu keluar untuk kita bisa mengenal dan mengerti kita dengan lebih tepat dan lebih baik.

Maka dalam buku tadi memberikan solusi dari sudut sekuler bagaimana kita boleh memiliki penilaian diri yang tepat, bagaimana kita boleh memiliki sati self esteem yang benar, tidak ada jalan lain selain unconditional self acceptance, yaitu seseorang bersedia menerima dirinya apa adanya tanpa syarat. Kalau engkau tidak mau menerima diri sendiri lalu mau lempar kepada siapa? Kalau orang lain tidak mau terima, diobralpun tidak akan laku. Ini bagi saya sebenarnya adalah satu jalan buntu karena orang itu sendiri tidak suka dengan dirinya sendiri lalu dia harus menerima diri yang tidak disukai itu. Kalau dia tidak bisa terima, bagaimana? Tidak bisa tidak terima. Kalau orang lain tidak bisa mencintai dan menerima dirimu, engkau harus belajar mencintai dan menerima dirimu dengan kelemahan dan kekurangannya sebagai bagian dari hidupmu.

Kembali kepada Rom.12:3 bagi saya merupakan jawaban yang indah. Paulus sadar ini merupakan satu persoalan yang kita alami sama-sama. “Terima diri, jangan menilai diri lebih tinggi daripada penilaian yang seharusnya, nilailah dirimu dengan pikiran yang tepat seturut dengan apa yang Tuhan sudah karuniakan kepada kita berdasarkan standar iman…” Sampai di sini, perkataan Paulus tidak gampang ditafsir. Apa itu maksudnya menilai diri seturut dengan standar iman yang Tuhan sudah karuniakan kepada kita? Ada dua kemungkinan penafsiran. Kemungkinan pertama berarti masing-masing orang tidak usah terlalu iri dengan orang lain sebab Tuhan memberi porsi berbeda-beda. Yang Tuhan mau kita menjalani sesuai dengan standar yang Tuhan beri dan kita puas di situ. Penafsiran seperti ini memunculkan beberapa pertanyaan penting: bagaimana saya tahu standar itukarena banyak hal apa yang Tuhan beri kepada kita itu bukan bersifat benda mati tetapi lebih bersifat organis di dalam hidup kita. Kita baru tahu kita diberi Tuhan bakat dan karunia tidak langsung muncul begitu saja tetapi melalui proses kita jalani dan temukan, sehingga bagaimana saya tahu itu sudah selesai dan final? Penafsiran kedua mengatakan Tuhan memberi kepada setiap orang standarnya sama yaitu iman kita kepada Tuhan. Ada dua hal yang muncul di dalam menilai diri berdasarkan konsep iman, artinya kita akan bersyukur dan menghargai diri dengan tepat ketika dengan iman kita tahu satu hal: semua yang datang kepada hidup kita memang itu adalah anugerah Tuhan. Maka penilaian diri bukan berdasarkan apa yang saya raih tetapi penilaian diri berdasarkan apa yang Tuhan beri dan itu bukan milik kita yang patut kita pegang dan rebut dan cengkeram tidak mau melepaskannya sebab kita tahu itu adalah the gift from God. Baru saya tarik dari kalimat ini kepada definisi iman dari Martin Luther, “Faith is the acceptance of God’s acceptance.” Apa artinya saya beriman? Beriman berarti saya menerima karena Allah terlebih dahulu menerima saya. Ini jawabannya. Menilai diri bukan harus menerima diri apa adanya. Penilaian diri yang tepat adalah karena Tuhan terlebih dahulu sudah menerima kita apa adanya. Itu maksud Paulus di sini. Mari kita dengan rendah hati mengukur hidup kita dan itu akan mendatangkan satu kebahagiaan sebab kita mengukur dengan apa yang Tuhan sudah kasih yaitu faith di dalam hati kita. I accept because God accepted me first. Tuhan menerima saya apa adanya, Tuhan mencintai dan mengasihi saya apa adanya dan Tuhan memberi kepada saya sesuai dengan kasih setia dan anugerahNya apa adanya tanpa melihat sesuatu syarat di dalam diri saya. Itu yang membuat saya bisa memiliki satu penilaian diri yang baik.

Jangan menilai diri lebih tinggi…” kalimat ini memberikan indikasi Paulus mengajar kita sesuatu yang sangat unik yaitu bagaimana memahami ambisi di dalam kerendahan hati. Tidak boleh memikirkan yang lebih tinggi apakah berarti saya tidak boleh punya ambisi? Apakah saya tidak boleh merencanakan sesuatuyang lebih besar daripada yang sekarang sudah saya raih? Kalau kita sudah tidak lagi memiliki keinginan untuk lebih tinggi, lebih besar, lebih expand daripada sebelumnya bukankah berarti kita tidak akan pernah maju? Apakah pengertian Paulus dalam kalimat itu seperti ini? Paulus sendiri menggunakan kata ‘ambisi’ dalam Rom.15:24 “Aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku singgah di Roma…” dalam terjemahan bahasa Inggris “My ambition is…” Dan saya percaya ini satu-satunya ambisi yang tidak tercapai di dalam hidup Paulus sebab Paulus akhirnya hanya sampai di Roma setelah ditangkap dan meninggal di situ, tidak ada kesempatan pergi ke Spanyol. Tetapi selama dia hidup dia punya rencana dan ambisi mau membawa Injil sampai ke Spanyol. Bolehkah kita punya ambisi? Bukan saja boleh tetapi harus. Tetapi bagaimana kita memahami ambisi itu sebagai ambisi yang realistis di dalam anugerah Tuhan?

Buku “Rescue Your Ambition” memberikan jawaban tangga ambisi kita akan menjadi naik ke atas dengan benar kalau kita berjalan di dalam tangga rendah hati. Ambisi akan menjadi liar kalau tidak berada di bawah koridor rendah hati. Rendah hati berarti sesuatu kerinduan untuk taat menjalankan seturut dengan apa yang Tuhan beri kepada kita, tidak pernah memikirkan apa yang menjadi ambisi kita di luar daripada yang Tuhan mau. Rendah hati berarti mengerti dengan jelas bukan saja banyak hal yang sudah Tuhan beri tetapi lebih lagi menyadari bahwa kita memiliki kekurangan dan kelemahan. Dosakah mengakui kekurangan dan kelemahan itu? Bersalahkah kita memiliki limitasi? Tidak. Sebagai manusia kita harus mengakui dan menyadari dengan jujur di hadapan Tuhan kita memiliki banyak kekurangan dan kelemahan. Maka maksud Paulus ”…janganlah kita memikirkan lebih tinggi…” maksudnya selain dia bicara mengenai sikap menerima diri, dia juga bicara mengajar kita menjadi orang Kristen yang to be honest, jujur. Saya percaya jarang sekali kita menemukan hamba Tuhan seperti Paulus yang mengaku dirinya lemah, tetapi di dalam kelemahannya Tuhan memberi kekuatan. Adalah lebih mudah mengakui keunggulan, bakat dan karunia yang ad di dalam diri kita dan lebih menyakitkan bagi kita untuk mengakui kekurangan dan kelemahan kita. Itu sebab sebelum Paulus bicara mengenai human relationship, bagaimana melayani satu dengan yang lain dan menjadi berkat bagi orang lain, dia terlebih dahulu mengajar kita untuk jujur dan honest kepada diri sendiri. Sebagai manusia di dalam relasi pada waktu kita bercakap-cakap dengan orang mungkin kita sudah ngomong salah, bertindak salah. Tetapi waktu kita berani datang meminta maaf dan mengakui kelemahan kita, itu merupakan hal yang tidak gampang. Maka rasul Yakobus mengajarkan kita “Let us confess one another…” dan itu menjadi kesembuhan di dalam hati kita.

Hari ini kita kembali belajar aspek rendah hati. Kerendahan hati Tuhan Yesus berbeda dengan kerendahan hati kita. Dalam Fil.2 kerendahan hati Yesus nyata karena Dia rela menjadi budak dan mati di kayu salib bagi kita, mengajarkan prinsip rendah hati yang indah. Rendah hati bagi saya ialah honest to yourself, mencintai menghargai banyak keunggulan tetapi juga berani menyadari kita punya kekurangan dan kelemahan. Kalau sudah sampai di situ baru kita bisa menerima karunia orang lain. Yang punya karunia memberi, hendaklah ia memberi. Yang punya karunia berkata-kata, hendaklah ia berkata-kata dengan bijaksana. Tetapi ada orang punya satu karunia dan tidak punya karunia yang lain. Ada orang yang pintar tetapi tidak punya karunia organisasi. Maka kita mengakui kita kurang di situ. Sebelum kita bisa menerima pelayanan orang lain, kita belajar menerima kekurangan kelemahan kita. Dari situ hati kita menjadi lapang, lega dan terbuka. Di dalam hubungan kita satu sama lain akan menjadi lebih indah dan lebih enak. Kalau ada orang yang sakit hati kepadamu, jangan menjadi susah dan kecewa karena memang natur kita belajar mengetahui itulah kelemahan dan keterbatasan kita. Belajar mengakui kelemahan akan melegakan hati kita. Belajar mengakui kelemahan adalah tanda orang itu growing up. Seorang yang grow memiliki ciri mengenali ada hal-hal yang berkualitas di dalam hidupnya tergali sekaligus menyadari ada kekurangan kelemahan di dalam hidup kita. Kiranya firman Tuhan ini membantu kita untuk lebih mencintai dan mengasihi diri dan menghargai diri dengan lebih tepat dan mengerti kita punya banyak anugerah tetapi juga punya banyak kekurangan dan kelemahan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

6 Juni 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: