Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Gratitude and Generosity

Gratitude and Generosity

Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Rom.12:4-8

Eksposisi Surat Roma (32)

Paulus memulai dengan ide di ayat 1 ”…berdasarkan kemurahan Allah…” dan ayat 8 ditutup dengan ide kata yang sama ”…engkau diberi karunia kemurahan, biarlah dengan murah hati dan penuh dengan sukacita boleh mencetuskan hati yang penuh dengan kemurahan.” Ayat ini dibuat seperti ‘sandwich’ oleh Paulus, mulai dengan kemurahan Allah, ditutup dengan show your generosity to others. Hidup diawali dengan grace dari Tuhan harus ditutup dengan hidup yang penuh dengan gratitude. Hidup diawali dengan segala berkat yang Tuhan beri kepada kita dan biar kita juga mengalirkan itu menjadi berkat bagi orang yang lain. Apa dasarnya mengapa hidupku harus menjadi berkat bagi orang lain? Kenapa saya harus menjadi berkat? Mengapa bagian ini ditutup dengan panggilan Paulus kita harus melayani Tuhan? Apa sebab saya harus menjadi penolong yang melayani sesamaku, khususnya di dalam gereja Tuhan? Ke delapan ayat ini kalau boleh saya bagi sdr akan melihat tiga bagian penting, ayat 1-2 bicara mengenai relasi saya dengan Tuhan, ayat 3 bicara mengenai relasi kita dengan diri kita sendiri, baru kemudian ayat 4-8 bicara mengenai bagaimana kita menyatakan relasi pelayanan kita kepada orang lain. Kita tidak mungkin bisa memahami betapa besar anugerah Tuhan bagi hidup kita sebelum kita bisa melayani orang lain. Kita juga tidak mungkin bisa keluar menjadi berkat bagi orang lain sebelum kita sanggup bisa beres dan memiliki perspektif yang tepat dan benar mengenai diri kita.

Bagi saya ada beberapa point yang penting dari delapan ayat ini. Pertama, jelas sekali sebab oleh karena belas kasih kemurahan Tuhan terlebih dahulu datang di dalam hidup kita. Kita berbakti, kita beribadah, kita memberikan korban kepada Tuhan semata-mata bukan karena kita memiliki terlebih dahulu baru kita memberi, melainkan terlebih dahulu Tuhan sudah menyatakan kemurahanNya kepada kita. Engkau sudah dibeli dengan harga yang mahal, kata Paulus, maka muliakanlah Tuhan dengan hidupmu. Ingat baik-baik gereja Tuhan itu ditebus dan dibayar dengan harga yang mahal, kata Paulus di dalam perpisahan dengan para tua-tua yang ada di kota Efesus, maka baik-baik jaga, pelihara dan gembalakan jemaat Tuhan dengan baik (Kis.20:28). Ini perspektif yang harus kita pegang baik-baik, setiap kita yang melayani dalam apapun termasuk hamba Tuhan, kita melayani oleh sebab kita tahu kita terlebih dahulu sudah dilayani oleh Tuhan. Kedua, mengapa saya harus menjadi berkat? Mengapa saya harus memberi sesuatu keluar dari diriku untuk menolong orang lain? Dalam ayat ini Paulus mengatakan sebab Tuhan memberikan begitu banyak karunia dalam hidup kita, He gave lots of spiritual gifts in our lives. Paulus memakai bentuk kata jamak/plural untuk memberitahukan kepada kita setidaknya kita punya satu karunia tetapi Tuhan yang penuh kemurahan itu memberi begitu banyak dalam hidup kita bukan karena kita tidak punya tetapi karena kita belum menggali dan melihat berapa banyak potensi yang Tuhan berikan di dalam hidup kita. Tuhan beri banyak. Ketiga, mengapa saya harus melayani? Sebab saya bukan keseluruhan, saya hanya bagian dari keseluruhan. Kita bukan saja patut membantu orang lain tetapi kita harus menyadari kitapun patut dibantu oleh orang lain. Bukan saja kita bisa melayani orang lain tetapi kita harus menyadari kita kurang dan kita perlu dilayani oleh orang lain. Sama seperti tubuh berjalan tidak karena fungsi hanya satu tetapi dari keseluruhan, dengan kalimat itu Paulus ingin mengingatkan kita bukan karena kita mampu bisa hidup sendiri self sustain tetapi kita membutuhkan orang lain. Mengakui kelemahan dan kekurangan itu bukan dosa, mengakui kelemahan dan kekurangan berarti kita menyadari posisi kita di atas muka bumi ini bukan self sustain melainkan ditopang oleh Tuhan maka kita mengalirkan apa yang kita dapat. Itu sebab saya tahu saya hanya bagian dari satu keseluruhan dan keseluruhan itu menjadi indah jika satu dengan yang lain ada take and give di dalam hidup ini. Yang keempat, mengapa kita melayani? Barulah kita lihat ayat 3, kalau kita tidak memiliki satu pengenalan diri yang tepat, satu perspektif diri yang benar maka kita tidak akan mungkin bisa terlebih dahulu keluar menjadi berkat dan melayani Tuhan. Paulus bilang, jangan terus memikirkan diri lebih tinggi maksudnya apa? Tidak berarti di sini Paulus melarang kita punya ambisi, tidak berarti kita tidak boleh memikirkan sesuatu planning ke depan yang belum kita miliki sekarang. Maksud Paulus mengatakan jangan kita memikirkan lebih tinggi daripada apa yang seharusnya itu berarti tidak rela menerima apa yang ada sekarang, depresiasi kepada diri yang ada sekarang, tidak berani melihat dengan jelas bersyukur dengan apa yang Tuhan beri kepada kita pada hari ini. Maka dari bagian ini saya bersyukur luar biasa karena ayat 1-8 Paulus mengangkat dua pipa yang penting yang harus kita taruh baik-baik di dalam hidup kita. Yang satu pipa vertikal dan yang satu pipa horisontal. Pipa yang vertikal adalah pipa kita menanti aliran sumber kekuatan kita dari atas. Pipa yang horisontal adalah apa yang keluar dari hidup kita. Yang vertikal adalah pipa gratitude dan yang horisontal adalah pipa generosity. Syukur dan murah hati adalah dua prinsip harmony yang patut kita tanam di dalam diri kita. Kalau pipa vertikal ini mampet berarti kita pikir kita hidup dengan diri kita sendiri. Kalau dua pipa ini kita putuskan dari salurannya berarti kita menseparasi diri, baik dengan Tuhan yang menciptakan kita maupun dengan sesama dan ciptaan yang ada di sekitar kita. Gratitude berarti kita tahu secara vertikal Tuhan yang memberikan sesuatu kepada kita. Generous karena kita tahu apa yang ada di dalam hidup kita tidak boleh berhenti dan berakhir hanya di dalam diri dan dia harus keluar dari diri kita.

Apa yang kadang-kadang menyebabkan kita kurang melahirkan gratitude? Ada tiga hal yang membuat hidup kita tanpa gratitude and generosity. Yang pertama, kita selalu melihat yang salah saja, selalu missed melihat something yang kita punya sekarang. Selalu pikir ‘seandainya…’ seandainya saya lebih pintar, seandainya saya lebih kaya, seandainya… seandainya… dengan demikian kita missed sesuatu yang sudah ada pada kita. Kita pasti tidak akan bersyukur, kita pasti tidak akan generous kalau kita hanya terus melihat apa yang tidak kita punya ketimbang melihat apa yang ada dari hidup kita. Tetapi itu mungkin hal yang normal ada di dalam hidup kita. Ketemu orang baru, kita lihat mukanya cantik tetapi ada satu tahi lalat, akhirnya kita terus lihat tahi lalatnya. Kita terlalu mudah mencari hal yang salah, faulty things in our lives, kita akhirnya punya hati yang tidak gratitude dan kehilangan generosity. Kedua, hidup mengeluh tidak ada habis-habisnya. Complain menyebabkan kita tidak bisa melihat keindahan di dalam hidup kita. Ketiga, kita terima segala sesuatu dengan take it for granted dalam hidup kita. Inilah saya percaya menjadi faktor utama bagi orang-orang yang tidak bisa melihat syukur di dalam hidupnya, kemurahan Allah dalam hatinya, gratitude kepada Allah dan generous kepada orang lain. Syukur berarti kita menyadari kita tidak mau take it for granted terhadap kasih Allah yang datang tanpa syarat kepada engkau dan saya. Murah hati akan menyingkirkan sikap tidak pernah cukup di dalam hidupmu. Cukup itu satu kata yang sulit didefinisikan berdasarkan standar berapa banyak batasan yang kita harus capai. Sebab pada waktu kita sampai kepada batasan itu kita akan tahu itu tidak cukup lagi. Maka murah hati dan generous selalu akan menyingkirkan rasa tidak cukup di dalam hidup kita. Hidup yang dipenuhi dengan murah hati adalah hidup yang akan bersyukur dengan apa yang ada di dalam dirinya dan tidak pernah melihat apa yang hilang di dalam hidupnya. Orang yang hidup dengan bersyukur adalah orang yang tidak sepatutnya berdukacita terlebih dahulu terhadap penyakit yang belum datang. Itu adalah hal yang sangat menyedihkan di dalam hidup ini. Murah hati tidak berarti akan baru keluar di dalam hidup sdr kalau sdr berkelimpahan dan berkelebihan dulu melainkan murah hati adalah orang yang selalu memfokuskan hidupnya bukan kepada apa yang tidak ada di dalam hidup dia. Syukur dan murah hati adalah dua pipa yang penting yang membuat kita connect dengan Sang Pencipta yang memberi kepada kita dan kepada sesama ciptaan yang membutuhkan generosity dari kita. Itu sebab sdr bisa menemukan rangkaian delapan ayat ini menjadi satu keindahan dari rasul Paulus. Pertama-tama, Tuhan menyatakan kemurahan kepada kita. Yang kedua, belajar menerima diri, mencintai dan menghargai diri dengan indah. Mencintai dan menghargai diri maksud Paulus di sini adalah betul-betul menikmati dan meng-accept apa yang ada pada diri kita sekarang. Sdr dan saya mungkin tidak bisa menghindar dari orang yang memandang hina hidup engkau dan saya. Tetapi sdr punya hak dan keberanian mengangkat wajah dan memandang balik kepada dia dan membuktikan penghinaan orang itu salah. Tetapi apa jadinya kalau seseorang tidak memiliki penghargaan diri yang tepat dan selalu menghina dirinya, jangan harap orang memandang wajah sdr dan memberikan penghargaan itu kepadamu jika sdr sendiri menghina diri? Ini hal yang penting. Kalau sdr membaca buku-buku tentang self esteem, sdr akan menemukan kata “unconditional self acceptance” itu menjadi inti jawaban mereka. Semua orang yang mengalami low self esteem, semua orang yang menghina diri, semua orang yang tidak melihat ada hal-hal yang baik di dalam dirinya dipanggil dan diminta memperbaiki pikiran dengan cara ini. Kalau you tidak mau terima diri sendiri lalu suruh siapa yang harus menerima dirimu? Dan penerimaan diri itu adalah penerimaan diri yang tanpa syarat, kita terima apa adanya. Tetapi point saya adalah bagaimana bisa meminta diri orang yang sudah tidak menghargai diri untuk menerima dirinya kembali? Maka Rom.12:3 menjadi jawaban Tuhan yang indah, biar kita memikirkan diri tidak lebih tinggi daripada yang sepatutnya kita pikir seturut dengan the measure of faith yang Tuhan kasih. The measure of faith saya tafsirkan minggu lalu bukan berarti kita diberi faith yang berbeda-beda tetapi faith di sini dalam pengertian iman kepercayaan yang sama. Kita menerima diri berdasarkan iman ini, iman apa? Saya setuju definisi dari Martin Luther, faith is the acceptance of God’s acceptance. Iman berarti saya menerima karena Allah terlebih dahulu sudah menerima saya. Meminta orang menerima diri secara Alkitabiah jawabannya benar dan tepat, saya menerima diri sebab Allah terlebih dahulu sudah menerima saya. Psikologi sekuler tidak mungkin mendapatkan jawaban ini, buntu hanya diri harus menerima diri tanpa syarat. Rom.12:3 bilang diri menerima diri apa adanya sebab Tuhan terlebih dahulu menerima kita, baru dari situ Paulus katakan jangan berhenti hanya melihat apa yang tidak ada di dalam hidupmu, tetapi mari belajar melihat apa yang ada di dalam diri sdr. “Tuhan, seandainya saya punya uang yang banyak saya bisa lakukan ini…, kalau seandainya saya punya army yang banyak saya mungkin bisa mengalahkan Firaun…, kalau Engkau datang kepadaku empat puluh tahun yang lalu mungkin saya bisa sukses melakukan kudeta terhadap regim Firaun. Tetapi sekarang waktu sudah lewat, aku sudah tua, yang hanya mendengarkan suaraku adalah kambing domba ini saja. I am retired and expired,” demikian kata Musa. Tetapi Tuhan bilang, jangan melihat apa yang tidak ada, lihatlah apa yang ada di tanganmu hai Musa.” Intinya cuma satu: you complain, you tidak mau dan tidak berani maju sebab you selalu hanya melihat apa yang missed di dalam hidupmu, tidak pernah melihat apa yang ada di dalam hidupmu.

Rom.12: 4-8, masing-masing kita diberi oleh Tuhan banyak karunia dan karunia itu adalah karunia yang saling membantu dan mendukung satu sama lain. Karunia itu bukan untuk diri kita sendiri tetapi untuk membuat gereja Tuhan, umat Tuhan menjadi indah, healthy dan bertumbuh. Itulah keindahannya, menyadari kita adalah bagian dari keseluruhan dan kita bukan keseluruhan. Itu sebab mengaku kita adalah kurang dan lemah, membutuhkan orang lain mengulurkan tangan menolong dan mengasihi kita, itu adalah hal yang indah adanya. Kita masuk kepada karunia-karunia yang Tuhan beri kepada kita di ayat 5-8. Sdr perhatikan dalam karunia propechy kata ‘karunia’-nya yang ditekankan, karunia melayani juga kata ‘karunia’-nya yang ditekankan, tetapi pada kata karunia mengajar, terjemahan yang sesuai dengan bahasa asli bukan kepada kata ‘karunia’-nya tetapi kepada ‘person’-nya. You yang menjadi guru, mengajarlah… you yang menjadi counselor, berilah counseling…, you yang memberi dan membagi-bagi, lakukanlah dengan generous…, you yang memimpin, biarlah memimpin…, you yang menunjukkan kemurahan, hendaklah engkau melakukannya dengan kemurahan.

Catat beberapa hal penting berkaitan dengan ayat-ayat ini. Yang pertama, di dalam daftar karunia ini berbeda dengan daftar karunia di dalam 1 Kor.12 dan Ef.4, tidak dimulai dengan karunia rasul., sehingga sebagian penafsir mengatakan nampaknya karunia dalam Rom.12 ini lebih bersifat praktis dan kepada gereja lokal. Maksudnya, dalam pikiran Paulus bukan bicara mengenai gereja yang universal tetapi dia sedang bicara mengenai gereja yang ada di Roma, jadi ini adalah karunia yang ada di tengah-tengah kita. Dari Rom.12:5 Paulus langsung bicara mengenai karunia “word” yaitu teaching and prophecy. Lalu kemudian dua karunia selanjutnya nampaknya asosiasi Paulus bicara mengenai para diaken di dalam gereja yaitu mereka yang melayani meja. Lalu kemudian selanjutnya Paulus bicara mengenai karunia yang dimiliki oleh setiap kita sebagai jemaat. Saya lihat karunia yang diangkat oleh Paulus ini memang bicara mengenai panggilan kita melayani bersama di dalam gereja lokal.

Sebelum sampai di situ mari kita kembali memperbaiki cara berpikir kita bergereja. Kita tidak boleh menjadikan gereja seperti kita pergi ke satu institusi atau ke satu event atau kepada entertainment yang lain. Mari kita kembali kepada prinsip yang basic, kita bergereja lokal, Tuhan memberikan metafora ini adalah tubuh Kristus. Kita sama-sama satu tubuh. Setiap kali saya menyambut sdr yang baru pertama kali datang, saya selalu memberi kesempatan kepada sdr bisa menikmati kebaktian di sini, please feel free jadikan gereja ini sebagai keluargamu. Ada pokok doa kita sama-sama, mari kita jadikan itu sebagai bagian kita menjadikan gereja ini sebagai satu keluarga. Di dalamnya kita mungkin saling menegur satu sama lain, ada benturan satu sama lain itu merupakan fakta yang wajar di dalam kita satu dengan yang lain berkumpul. Di dalam benturan itu tetap dia adalah my brother and my sister dan kita belajar menjadikan itu sebagai sesuatu yang indah di dalam hidup kita. Mungkin ada kata-kata yang salah, mungkin ada penyampaian yang kurang tepat dari teman yang lain kepada sdr, kalau kita memiliki kesadaran saya adalah part of this family, saya percaya itu akan meminimalkan banyak hal di dalam relasi kita yang menjadi tidak bagus.

Itu sebab mari kita coba lihat panggilan Paulus ini. Mereka yang mau melayani mengajar, biar mereka mengajar baik-baik. Mereka yang melayani meja, biar mereka melayani dengan sungguh-sungguh. Sekarang kita lihat, kenapa saya mengapa saya bilang karunia yang di bawah itu bicara mengenai karunia jemaat satu dengan yang lain? Coba sdr lihat perbedaan yang muncul ketika sampai kepada karunia menasehati, Paulus tetap memakai kalimat ‘biar dia melayani sesuai dengan kualifikasi konseling itu, biar dia menasehati. Paulus tidak hanya mendaftar list karunia tetapi dia juga mendaftar kualifikasi dan syarat karunia itu dijalankan. Yang berkarunia mengajar, biar dia mengajar. Yang berkarunia menasehati, biar dia menasehati. Yang membagi-bagikan, hendaklah ia melakukannya dengan tulus iklas. Kata ‘tulus iklas’ di sini ada yang menterjemahkan ‘simplicity’ dan ada yang menterjemahkan ‘generous’ dalam terjemahan bahasa Inggris. Ini memang satu kata yang indah dari rasul Paulus, kita belajar bermurah hati kepada orang bukan supaya melalui itu kita dapat keuntungan. Kata ‘simplicity’ artinya memang fokus dari orang yang melakukan kemurahan tidak punya motivasi apa-apa yang ada di belakangnya. Melakukan kemurahan, memberi sesuatu memang keluar dan lahir dari hati kita karena kita tahu kita memberi karena kita sudah mendapatkan lebih banyak dari Tuhan. Saya mengharapkan kita boleh menjadi satu jemaat yang penuh dengan generosity. Kita menjadi orang Kristen yang memberikan kemurahan kepada orang lain sebab kita tahu kalau pipa itu mampet maka kita tidak memiliki keseimbangan. Yang sangat menarik justru adalah karunia yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita. Showing mercy bagi orang Yahudi dimengerti sebagai satu aktifitas melakukan sedekah kepada orang miskin yang tidak mungkin bisa balik kembali. Di sini Paulus menggunakan kata itu dengan kemungkinan pengertian bahwa ini adalah pelayanan yang dilakukan oleh beberapa orang dan ini adalah pelayanan yang mungkin men-drained energi dan perasaan psikologi yang besar luar biasa karena yang dilayani itu sungguh-sungguh tidak mampu bisa membalas kembali atau meresponi dengan baik. Salah satunya mungkin adalah bagaimana melayani orang yang sakit atau bagaimana merawat orang yang cacat atau bagaimana memberi makan kepada orang yang miskin dan tidak bisa balik kembali. Kalau sdr menjalankan hal seperti ini, Paulus memberikan dorongan, biar kita lakukan itu dengan sukacita. Paulus sadar ini adalah pelayanan yang mungkin tidak ada balik, kita menghabiskan energi, tenaga, mengerjakan pelayanan seperti ini. Memang mungkin lebih mudah kalau kita melakukan pelayanan ini bagi anggota keluarga kita sendiri tetapi tidak gampang merawat orang yang cacat, merawat orang yang sakit, merawat orang yang dalam kondisi terminally ill yang tidak memiliki hubungan keluarga dengan kita. Maka bagi Paulus ini adalah satu karunia khusus yang kita lakukan dengan sukacita, jangan dengan gerutu dan marah-marah. Paulus katakan, do it with a cheerful heart. Di balik dari sukacita orang belajar untuk bisa melihat kesulitan dan tangisan yang ada, kita belajar mendoakan dan memberi tangan kita sekuatnya untuk menolong dan membantu. Mengapa? Sebab memang itulah dua pipa yang mengharmoniskan hidup kita, pipa gratitude dan pipa generosity. Gratitude sebab saya tahu sumber dari mana, terlalu banyak blessing yang perlu kita salurkan dengan generous sehingga ada keseimbangan. Itu merupakan keindahan dari hidup seorang anak Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

13 Juni 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: