Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Masihkah Karunia Nubuat Berlanjut Hingga Kini?

Masihkah Karunia Nubuat Berlanjut Hingga Kini?

Sebab sama seperti pada satu tubuh kita mempunyai banyak anggota, tetapi tidak semua anggota itu mempunyai tugas yang sama, demikian juga kita, walaupun banyak, adalah satu tubuh di dalam Kristus; tetapi kita masing-masing adalah anggota yang seorang terhadap yang lain. Demikianlah kita mempunyai karunia yang berlain-lainan menurut kasih karunia yang dianugerahkan kepada kita: Jika karunia itu adalah untuk bernubuat baiklah kita melakukannya sesuai dengan iman kita. Jika karunia untuk melayani, baiklah kita melayani; jika karunia untuk mengajar, baiklah kita mengajar; jika karunia untuk menasihati, baiklah kita menasihati. Siapa yang membagi-bagikan sesuatu, hendaklah ia melakukannya dengan hati yang ikhlas; siapa yang memberi pimpinan, hendaklah ia melakukannya dengan rajin; siapa yang menunjukkan kemurahan, hendaklah ia melakukannya dengan sukacita.

Rom.12:4-8

Eksposisi Surat Roma (33)

Biar hati kita sebagai Gereja kembali disegarkan, dipimpin dengan benar bagaimana kita memahami Gereja. Tidak ada metafora yang lebih dekat menggambarkan hubungan yang intim, yang akrab, yang saling connected satu sama lain selain dengan memberikan metafora hubungan Gereja itu adalah sebagai satu tubuh. Kristus adalah kepala dan kita sebagai Gereja adalah tubuh yang memiliki berbagai macam ragam anggota yang mempunyai fungsi yang berbeda-beda tetapi memiliki keharmonisan berjalan menjadi satu. Gereja adalah tubuh Kristus yang dibeli dengan harga yang mahal, ditebus dengan darah Kristus. Itu kata Paulus kepada para penatua dan pemimpin gereja di Efesus sebelum melakukan perpisahan yang terakhir dan tidak pernah ketemu lagi (Kis.20:28). Maka dia minta mereka yang melayani untuk melayani dengan sungguh-sungguh dan memperhatikannya baik-baik. Kristus mengatakan Gereja adalah ekklesia yaitu umat yang ditebus oleh Tuhan, dipanggil keluar dari dunia ini supaya kita boleh kembali ke dalam dunia untuk memberikan kesaksian kepada dunia bagaimana seharusnya hidup sebagai orang yang sudah dicipta Tuhan dan ditebus olehNya, bagaimana seharusnya dunia yang sudah berdosa ini memuji dan memuliakan Tuhan. Hanya kita yang sudah ditebus Tuhan kita harus bagaimana memuji dan memuliakan Tuhan. Seorang teolog bernama Marva Dawn menjawab pertanyaan dari cucunya yang bertanya, “Why should we go to church every week?” Dia mengatakan jawaban yang indah, “We are not going to church but being church.” Kita berkumpul bersama untuk menunjukkan kepada dunia bagaimana seharusnya Gereja itu. Kita ditebus oleh Tuhan, ada waktu yang Tuhan beri, ada waktu kita pakai untuk Tuhan. Kenapa? Karena kita ingin memuji Tuhan, karena kita ingin memuliakan Tuhan, karena kita di dalam Gereja ingin menjadi penolong satu dengan yang lain, karena di dalam Gereja kita ingin menjadi satu dengan yang lain memberikan sumbangsih.

Di dalam Rom.12 kita menemukan konsep ini. Ayat 1-2 bicara mengenai ibadah. Ayat 3 bicara mengenai diri kita bagaimana belajar menerima diri. Sesudah semua itu beres, ayat 4-8 bicara mengenai tanggung jawab kita bagaimana kita harus menjadi berkat bagi orang yang lain. Pada waktu kita datang memberi persembahan, kita selalu harus ingat ada yang kita dapat di dalam hidup kita tidak boleh kita pakai untuk diri kita sendiri. Itu sifat inti dasar dari arti kita memberi persembahan. Demikian juga mengapa kita harus melayani, karena Tuhan sudah memberi lebih banyak kepada kita. Kita harus melayani karena kita bukan keseluruhan, kita bukan self sufficient dan independent untuk diri kita sendiri. Pada waktu kita terima pelayanan orang lain, itu bukan merendahkan kita tetapi itu adalah satu pengakuan karena kita tahu kita tidak bisa hidup untuk diri kita sendiri. Kita melayani orang lain karena kita juga tahu bahwa yang ada di dalam diri kita harus kita beri kepada orang lain. Tetapi pada waktu kita beri dan kita melayani, kita tidak mungkin bisa melakukannya secara keseluruhan. Maka Paulus mengingatkan jemaat, mari masing-masing kita berkontribusi di dalam Gereja yang sudah Tuhan tebus ini supaya Gereja tumbuh sehat karena masing-masing melakukan tugas dan fungsi seturut dengan karunia yang Tuhan beri kepadanya. Yang diberi karunia mengajar, mengajarlah. Yang diberi karunia dari Tuhan untuk sanggup memberikan nasehat kepada orang, jadilah orang yang terus memberikan nasehat dan penghiburan kepada orang lain. Yang Tuhan beri banyak di dalam hidupmu, berilah dengan penuh generosity kepada orang lain.Kenapa? Karena di dalam memberi, ada kemungkinan berbagai motivasi, ada kemungkinan berbagai alasan orang memberi. Maka Paulus memberikan satu kualifikasi: memberi dengan murah hati. Kata ‘murah hati’ juga boleh diterjemahkan dengan ‘simplicity.’ Artinya kita memberi tidak boleh dengan alasan lain, jangan memberi dengan motif ‘ada udang di balik batu,’ jangan melakukan sesuatu dengan iming-iming. Yang diberi tanggung jawab kepercayaan memimpin, dan kalau memimpin di depan berarti harus rajin. Menarik sekali di sini Paulus bicara mengenai karunia-karunia yang berbeda tetapi sekaligus karunia-karunia ini diberi kata adjective untuk bagaimana karunia itu dijalankan. Maksudnya adalah kalau memang engkau mendapat karunia itu, karunia itu harus dipakai dan dipergunakan. Yang murah hati, biar kita bermurah hati dengan sukacita. Kemurahan di sini lebih bersifat satu pelayanan yang kita beri kepada orang-orang yang mungkin tidak memiliki kemungkinan membalas kembali pelayanan kita kepada mereka. Pelayanan kepada mereka yang cacat, pelayanan kepada mereka yang mental retarded, pelayanan membesuk kepada orang-orang yang begitu susah dan sulit dalam kemiskinan yang tidak mungkin bisa membalas kembali apa yang kita lakukan. Itu perlu korban perasaan, korban hati, sudah setengah mati makin tidak dihargai. Muka bisa panjang seperti pepaya, hati menjadi pahit seperti bitter melon. Maka di sini Paulus menambahkan satu adjective yang indah, lakukan itu dengan sukacita. Kenapa perlu sukacita? Sebab itu pelayanan yang tidak gampang dan tidak mudah. Kita bisa kecewa, kita bisa bertanya-tanya, ‘apa yang saya dapat dari pelayanan seperti ini?’ Mari kita menjadi anggota Gereja mengerti prinsip ini. Gereja harus dilihat dengan konsep sebagai tubuh, satu metafora keindahan dan keakraban. Jangan menjadikan Gereja sebagai klub, atau tempat entertaining atau tempat seperti menonton bioskop. Jangan datang ke gereja selalu bertanya, ‘apa yang bisa saya dapatkan di sini?’ tetapi mari kita juga selalu bertanya, ‘apa yang dapat saya berikan setelah saya mendapatkan sesuatu?’

Gereja didukung oleh semua dan Gereja bukan milik satu orang. Itu sifat yang Tuhan kasih. Waktu Tuhan Yesus naik ke surga, Dia tidak memberikan deposito dan uang yang banyak kepada murid-murid. Dia tidak memberikan warisan satu gedung yang besar dan megah kepada murid-murid. Tetapi Gereja bisa ada sampai sekarang, pelayanan Gereja yang begitu banyak bisa berjalan, tidak bisa lepas dari prinsip yang Tuhan taruh, masing-masing dengan karunia yang Tuhan beri, masing-masing dengan kelebihan yang Tuhan kasih, satu sama lain saling mendukung. Maka panggilan saya kepada setiap kita, kita bukan saja bertumbuh menjadi anak Tuhan, tetapi setelah kita mendapatkan sesuatu mari kita masing-masing bertanya kepada Tuhan, dimana ‘mission field’ kita masing-masing. Kita memang mendoakan para misionari yang pergi ke mission field mereka tetapi kadang-kadang kita lupa bahwa kita sendiripun memiliki mission field. Mission field itu tidak harus berjarak 2000 mil jauhnya, tetapi mungkin dia hanya berjarak dua tiga meter dari tempat dudukmu. Kita akan menggarap mission field itu dengan indah dan bergairah kalau itu menjadi fokus yang kita taruh di dalam hati kita, apa yang saya bisa kerjakan. Maka Paulus mendorong kita untuk memakai karunia itu dengan setia dan jangan tidak dipakai.

Sekarang kita melihat beberapa hal di dalam bicara mengenai karunia. Bagaimana membedakan karunia dengan natural talents? Banyak orang mengasosiasikan semua karunia itu sebenarnya adalah adalah natural talents, cuma bedanya dia menjadi karunia rohani pada waktu kita pakai itu bukan untuk diri tetapi untuk pelayanan dan pekerjaan Tuhan. Maka di situ natural talents menjadi spiritual gifts. Memang beberapa karunia yang ada di dalam gereja itu jelas memiliki keterkaitan dengan natural talents kita karena hal-hal itu tidak bersifat supranatural melainkan bersifat alamiah. Ada orang yang memiliki kemampuan dan tendensi menjadi seorang leader; ada orang yang memiliki kemampuan dan tendensi hati yang sedikit lebih sensitif sehingga lebih gampang mengerti perasaan orang lain; ada orang yang tangannya lebih rajin daripada orang lain sehingga mudah membantu orang. Daftar karunia yang ada di dalam Rom.12 berbeda dengan 1 Kor.12 dan Ef.4. Perbedaan yang paling jelas adalah dalam 1 Kor.12 dan Ef.4 ada karunia seorang rasul, yang tidak ada di dalam Rom.12. Rasul itu jelas adalah jabatan tetapi rasul itu juga orang. Nabi itu juga orang tetapi sekaligus juga adalah spiritual gift. Kenapa spiritual gift? Karena jabatan itu diberikan oleh Tuhan untuk membangun gereja. Jelas bagi saya karunia rasul dan karunia nabi tidak ada kaitannya dengan natural talents. Itu bicara mengenai panggilan dan penetapan Tuhan kepada seseorang. Jabatan rasul jelas sekali memiliki keunikan yang Alkitab jelas sekali memberikan kesadaran jumlahnya tetap dan tidak boleh ditambah yaitu dua belas orang. Dalam Kisah Rasul, ketika Yudas Iskariot sudah tidak ada lagi maka sebelas rasul mengambil komitmen untuk mencari penggantinya sehingga jumlah tetap dua belas orang (Kis.1:15-26). Itu sebab pada waktu Paulus dipanggil Tuhan menjadi rasul bagi orang non Yahudi, Paulus menghadapi tantangan terhadap keabsahan kerasulannya. Paulus menyatakan kerasulannya berbeda dengan dua belas rasul karena mereka rasul yang dipakai oleh Tuhan untuk orang Yahudi tetapi Paulus adalah rasul untuk orang non Yahudi. Lalu muncul masalah kedua, kriteria menjadi rasul itu adalah orang yang paling tidak sudah bersama-sama dengan Tuhan Yesus dari mulanya. Bagaimana dengan Paulus? Maka di dalam surat Galatia Paulus membela kerasulannya memang dia tidak ada bersama Tuhan Yesus dari mulanya tetapi dia bertemu dengan Tuhan Yesus dalam penglihatan. Kalau begitu apakah karunia rasul ini akan terus berlanjut? Tidak. Sebab PB sendiri memiliki kesadaran setelah orang-orang yang diangkat, dipanggil dan ditetapkan sebagai rasul itu meninggal, jabatan itu tidak lagi muncul dan perlu di dalam gereja. Surat 1 Kor.12 dan Ef.4 menyebut karunia rasul sebab di sini pikiran Paulus bicara mengenai gereja secara universal, bukan secara lokal seperti dalam Rom12.

Saya ajak sdr melihat Fil.1:1 dibanding dengan Kol.1:1 di sini menyatakan kesadaran Paulus sendiri bahwa jabatan rasul itu tidak boleh kontinu. Surat Filipi dan Kolose sama-sama ditulis di dalam penjara dalam waktu yang berdekatan. Fil.1:1 menyatakan, “Dari Paulus dan Timotius, hamba-hamba Yesus Kristus…” dua-dua sederajat dan sama-sama hamba Tuhan. Tetapi di dalam Kol.1:1 Paulus menulis, “Dari Paulus, rasul Kristus Yesus dan dari Timotius, saudaraku…” Dia tidak bilang “dari Paulus dan Timotius, rasul-rasul Kristus,” karena jelas hanya Paulus yang rasul sedangkan Timotius tidak. Sama-sama hamba Tuhan, sama-sama dipanggil melayani, tetapi jabatan tugas rasul tidak diturunkan kepada Timotius dan hanya Paulus yang rasul. Tuhan tidak ada intention memanggil Timotius menjadi rasul. Maka ada karunia yang tidak lagi diberikan oleh Tuhan kepada gerejaNya sekarang ini. Jelas, yang paling pertama adalah karunia rasul tidak ada lagi. Bagaimana kita bisa membedakan dimana dan kapan karunia itu harus selesai? Saya percaya ayat ini harus menjadi ayat yang penting untuk memberitahukan kepada kita bagaimana pengajaran yang masuk ke dalam gereja masih ada yang mengaku diri sebagai rasul, dsb, mari kita teliti baik-baik Ef.2:20 memperlihatkan bagaimana Gereja yang sejati itu. Gereja itu dibangun dengan batu penjuru Yesus Kristus dan fondasi Gereja dibangun di atas para rasul dan nabi. Maka di sini jelas, rasul dan nabi langsung ditaruh oleh Paulus sebagai jabatan yang bersifat fondasional dan setiap orang tahu secara commonsense setiap kali kita membangun suatu gedung jelas yang paling pertama dan paling mendasar itu adalah batu penjuru dan fondasinya. Apa artinya fondasi rasul dan nabi? Itu berarti kalau di luar daripada pengajaran rasul dan nabi itu jelas bukan Gereja. Pada waktu era Gereja yang bersifat fondasi selesai maka tidak ada lagi rasul dan nabi. Jumlah rasul jelas, tetapi nabi yang diangkat oleh Tuhan di dalam PB tidak jelas, tetapi jelas yang kita tahu jabatan nabi itu tidak berkelanjutan. Dalam 1 Kor.14:39 Paulus ingin kalau bisa semua orang percaya pada waktu itu bisa melakukan prophecy. Kenapa Paulus menginginkan kalau bisa semua orang memiliki karunia nubuat? Karena ini adalah karunia yang begitu penting dan begitu indah dipakai untuk membangun orang lain. Tetapi sekaligus di dalam hatinya dia sadar tidak semua orang diberi karunia yang sama. Tidak boleh ayat ini kemudian dicomot oleh Gereja sekarang, ‘nah, kalau begitu kita cari karunia nubuat ini ramai-ramai.’ Sudah terjadi kesalahan penafsiran di sini karena gereja Korintus berbeda dengan gereja sekarang dalam hal gereja Korintus itu masih berada di dalam era fondasional dimana nabi dan rasul belum meninggal, wahyu Tuhan masih belum selesai. Sampai di sini mari kita tarik ke ayat 32, ada karunia tetapi karunia itu harus ditaruh di dalam satu syarat dan batasan. Karunia prophecy itu milik siapa? “Prophecy belongs to the prophet.” Mereka yang memiliki karunia prophecy tidak boleh lepas dari syarat ini, prophecy itu harus seturut dengan standar iman. Nampaknya di dalam diri Paulus ada kesadaran firman Tuhan yang datang di luar daripada rasul dan kita tahu ada beberapa nabi, tetapi di luar itu ada beberapa yang tidak jelas apakah dia nabi sejati atau tidak, maka mau tidak mau mereka harus ditest pengajarannya tidak boleh lari dari arahan pengajaran yang sudah diberi oleh rasul. Paling tidak ada dua tempat di Alkitab yang memberitahukan the teaching of the apostles menjadi penguji dari pengajaran yang ada, Gal.1:8-9. Injil itu asli atau tidak, standarnya apa? Injil yang asli adalah Injil yang kami beritakan, kata Paulus. Injil yang diberikan rasul menjadi penguji kemurnian mereka yang mengaku memberitakan Injil Kristus dan kalau ajaran mereka berbeda dengan standar ini, jangan terima ajaran mereka. Yang kedua, kita menemukan kesadaran rasul Paulus bahwa pengajarannya menjadi standar penguji dalam 1 Kor.14:36- 38. Firman Tuhan yang datang kepada rasul maupun firman Tuhan yang datang kepada nabi kualitas firmannya sederajat dan berotoritatif karena dua-dua adalah “thus saith the Lord.” Tetapi kualitas relationship antara hamba Tuhan yang Tuhan panggil memiliki kualitas hubungan yang berbeda dan itu adalah hak Tuhan sendiri. Dalam Bil.12:8 Miriam dan Harun menyatakan ketidakpuasan mereka kepada Musa, “Bukankah Allah juga berbicara dengan perantaraan kami pula?” Tuhan menyelesaikan konflik ini dengan jelas. ”…tidak demikian dengan hambaKu Musa, Aku berbicara muka dengan muka…” Tuhan berbicara kepada nabi di PL dengan mimpi dan penglihatan, tetapi dengan Musa Tuhan menyatakan wahyuNya dengan cara yang sangat akrab yaitu face to face. Di satu pihak, baik dengan melalui mimpi dan penglihatan maupun firman yang diberikan muka dengan muka, kualitas firman Tuhan tidak berbeda. Tetapi hubungan Tuhan dengan Musa dan dengan nabi-nabi lain berbeda. Dalam hal ini Miriam dan Harun tidak bisa apa-apa. Itu sebab standar nabi-nabi berkata dibandingkan dengana perkataan Musa sebagai tolok ukur. Nabi yang ajarannya melanggar perkataan Musa, pasti dia adalah nabi palsu. Mengapa Tuhan menjadikan pengajaran rasul yang sudah Dia pilih dan tetapkan menjadi standar penguji terhadap semua perkataan dan nubuat yang diucapkan para nabi? Semua orang bisa saja mengaku apa yang dia ucapkan berasal dari wahyu Allah tetapi bagaimana kita tahu itu benar-benar wahyu Tuhan? Maka ditetapkan Injil yang dikabarkan oleh para rasul menjadi Injil penguji karena Tuhan memiliki hubungan relasi terdekat dengan rasul yang Dia pilih sendiri. Maka pemilihan itu saya percaya memiliki alasan tersendiri. Mungkin ada nabi yang muncul di dalam jemaat Roma, tetapi untuk mengetahui apakah dia seorang nabi sejati atau tidak, jemaat Roma harus melihat apakah dia bernubuat seturut dengan standar iman. Maka saat ini fondasi itu sudah selesai dan wahyu Tuhan sudah lengkap diberikan di dalam Alkitab kita, maka gereja memegang Alkitab ini sebagai standar iman. Pengajaran yang ada dilihat apakah itu sesuai dengan Alkitab atau tidak. Itu sebab kita harus hati-hati dan kita kecewa dan sedih kalau ada pengajaran yang kurang benar masuk ke dalam gereja dengan jalur prophecy ini. Apalagi dengan mem-prophecy personal life seseorang sangat berbahaya sekali. Ada yang di-prophecy tidak boleh menikah dengan orang itu sebab Tuhan bilang kepada pendetanya dalam mimpi, ada yang di-prophecy harus pergi ke mana, ada yang di-prophecy tahun depan akan kaya, dsb. Kita melihat banyak hal menjadi kabur dan mistik hanya karena bicara soal prophecy ini. Bukankah Alkitab bilang kita harus minta karunia itu? Jangan lupa, gereja waktu itu kondisinya berbeda dengan gereja sekarang, waktu itu wahyu Tuhan belum selesai.

Dalam 1 Kor.14 saya angkat tiga kata penting karena dari ketiga kata itu langsung kita melihat melalui prophecy itu Tuhan memberi wahyuNya. Di ayat 2, ada content yang penting di sini ”…oleh Roh, ia mengatakan hal-hal yang rahasia…” Ini adalah satu content yang sangat penting, musterion. Kata musterion ini bukan seperti misteri dalam arti ramalan-ramalan sesuatu yang tidak kita tahu ke depannya. Dalam terminologinya kata musterion di dalam PL ini berarti the mystery of the Gospel yang tersembunyi yang kalau tidak dinyatakan melalui Kristus kita tidak akan tahu artinya. Berarti ada inti revelation di dalamnya. Kemudian di ayat 30 ada satu kata lagi, ”…kalau yang duduk di situ mendapat penyataan, maka yang lain harus diam…” kenapa harus diam? Sebab di dalam prophecy-nya orang yang mendapat penyataan/revelation itu memiliki otoritas firman Tuhan. Kata ke tiga, ayat 36 Paulus mengaku bahwa seorang nabi itu mendapat firman. Jadi di dalam prophecy ada musterion, ada revelation dan ada firman. Tiga kata ini sudah cukup memberitahukan kepada kita bahwa prophecy adalah karunia yang dipakai oleh Tuhan, yang menjadi milik nabi, untuk menyatakan wahyu Tuhan kepada gereja waktu itu selain wahyu yang datang kepada para rasul. Alkitab menetapkan fondasi gereja adalah ajaran rasul dan nabi. Gereja sekarang tidak lagi memiliki karunia itu. Maka yang punya karunia mengajar, mengajarlah. Yang punya karunia menasehati, nasehatilah. Yang punya karunia memberi, berilah dengan murah hati. Semua karunia itu tidak berhenti dan tetap ada sampai selamanya karena spiritual gifts itu dibutuhkan bagi gereja sekarang. Melalui penjelasan ini saya harap kita semakin mengerti dan semakin bertumbuh di hadapan Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

20 Juni 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: