Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Allah Memelihara Iman yang Lemah

Allah Memelihara Iman yang Lemah

“Siapakah kamu sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri”

Rom.14:4

Eksposisi Surat Roma (42)

Fakta berbicara kehidupan berjemaat kita memiliki keragaman di dalam kehidupan Gereja kita. Di sini paling tidak ada keragaman di dalam pertumbuhan iman yang berbeda. Ada orang Kristen yang kuat imannya, ada orang Kristen yang lemah imannya. Rom.14 kalau kita baca dengan teliti dan pelan-pelan kita akan menemukan bagaimana sikap rasul Paulus sebagai seorang hamba Tuhan dengan hati-hati dan teliti sekali bagaimana bisa melihat keharmonisan di antara jemaat. Dia menegur jemaat yang imannya lemah jangan sampai mereka menghakimi orang yang imannya kuat, tetapi kepada orang yang imannya kuat Paulus mengingatkan jangan menghina mereka yang imannya lemah. Namun di sini kita juga menemukan Paulus dengan besar hati bersimpati kepada orang yang imannya lemah. Itu sebab bagian ini sangat menyentuh hati saya karena Paulus mengatakan siapa kita, kita terlalu gampang menilai dan menghakimi orang. Entahkah dia berdiri, entahkah dia jatuh, itu bukan urusan kita. Tetapi pada waktu dia hampir jatuh, keluar kalimat yang sangat menghibur orang yang imannya lemah, Tuhan berkuasa menjaga dia tetap berdiri adanya. Ada iman yang kecil, kita tahu Tuhan Yesus menegur murid-murid yang imannya kecil. Ditegur, sebab sepatutnya iman murid-murid itu sudah besar tetapi Yesus mengatakan, “Hai engkau orang yang imannya kecil…” Iman yang kecil harus bertumbuh menjadi iman yang besar. Demikian juga iman yang lemah harus bertumbuh menjadi iman yang kuat di hadapan Tuhan. Tetapi kalimat Paulus begitu menghibur kita sebab Paulus dengan hati-hati menjaga, melindungi baik-baik begitu banyak orang Kristen yang imannya lemah yang sudah babak-belur di dalam perjalanan hidupnya jangan sampai kita mendatangkan hal yang lebih berbahaya untuk imannya. Di sini kepada orang yang imannya lemah paling tidak Paulus wanti-wanti jangan sampai kita melakukan tiga hal ini: pertama, Rom.14:20 jangan menjadi batu sandungan kepada orang yang imannya lemah; kedua, Rom.14:15 jangan menyakiti dan ketiga, jangan akhirnya membinasakan imannya. Apakah kata ‘membinasakan’ berarti orang yang imannya lemah bisa binasa? Jelas jawabannya tidak, sebab kalau orang Kristen bisa merusak iman orang lain begitu rupa sampai akhirnya tidak bisa diperbaiki, bagaimana kaitannya dengan ayat 4 yang kita baca tadi, “Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri,” apakah manusia bisa mengalahkan kuasa Tuhan menjaga memelihara iman seseorang? Tentu tidak, bukan?

Hari ini saya ingin mengajak kita melihat kita sendiri sebagai orang yang imannya lemah. Mudah sekali kita kecewa, gampang sekali kita merasa diperlakukan dengan tidak adil dan kita disakiti oleh orang Kristen yang lain. Inilah iman yang lemah. Kita mungkin babak-belur diterpa tantangan kesulitan hidup. Itu sebab kenapa Paulus sangat simpati dan melindungi orang Kristen seperti ini, mengingatkan baik-baik orang Kristen yang kuat jangan sampai dengan perbuatan, tindakan, kata-kata menjadi sandungan dan menyakiti hati mereka akhirnya kita merusak iman orang itu.

Di dalam beberapa artikel dari kaum Puritan khususnya di abad 16 dan 17 mereka sangat memperhatikan konsep pastoral yang penting bicara mengenai ‘spiritual desertion.’ Kata ini untuk membedakan dengan kata ‘apostacy.’ Apostacy adalah bicara mengenai ‘false brothers,’ yaitu orang Kristen yang palsu yang ada di antara jemaat. Kalau sdr membaca Alkitab dengan teliti, sdr akan menemukan firman Tuhan dengan tegas berbicara dan dengan tegas menegur mereka yang dikelompokkan sebagai ‘false brothers’ ini, yang tidak mau diajar, tidak mau mengenal kebenaran, yang merusakkan Kekristenan, dsb. Alkitab dengan tegas sekali menegur kelompok ini, yang imannya melenceng dan menyimpang dari kebenaran. Mereka sebenarnya bukan orang Kristen yang sungguh-sungguh tetapi mengaku sebagai orang Kristen. Satu kali kelak iman palsu ini tidak akan lolos teruji dan mereka akhirnya pergi meninggalkan Tuhan. Tetapi kaum Puritan sangat memperhatikan kelompok orang-orang tertentu yang sebenarnya adalah ‘true brothers,’ tetapi hanya saja mereka adalah orang Kristen yang lemah imannya, yang seolah-olah kelihatan mungkin lari dan pergi dari Gereja, kecewa dan pergi meninggalkan Tuhan, tetapi hati mereka, iman mereka sesungguhnya adalah orang Kristen yang sejati. Maka muncul istilah ‘spiritual desertion’ untuk membedakan mereka dengan ‘false brothers’ tadi. Kepada kelompok inilah kita perlu memberikan pastoral yang dalam dan panjang, hati yang penuh dengan air mata menyaksikan kekecewaan mereka lari meninggalkan Tuhan, tetapi kita percaya kalimat ini, sekalipun mereka jatuh, mereka pergi menjauh dari Tuhan, Tuhan berkuasa menjaga dan memelihara iman orang-orang seperti itu. Kalau engkau merasa dirimu adalah orang yang imannya lemah, biar hari ini firman Tuhan ini sekali lagi memberi kekuatan menjadi magnet yang menarik kita, Dia sanggup menjaga dan memelihara iman kita.

Siapakah yang dikategorikan sebagai orang-orang Kristen yang lemah imannya? Paling tidak ada dua hal dalam Rom.14 ini dan dua hal lagi disebutkan di bagian lain.

Yang pertama orang itu lemah imannya sebab dia kurang pengetahuan mengenai kebenaran. Itu fakta, Alkitab bicara pertumbuhan iman seseorang itu seperti pertumbuhan alamiah. Seperti rasul Petrus mengatakan ada orang Kristen yang seperti bayi yang membutuhkan susu yang sehat supaya dia bertumbuh (1 Pet.2:2). Tetapi penulis surat Ibrani menegur jemaat yang imannya seharusnya sudah bertumbuh dewasa tetapi menolak makan makanan yang keras dan hanya ingin minum susu saja (Ibr.5:11-14). Dari ilustrasi ini kita menemukan pertumbuhan iman orang Kristen juga seperti pertumbuhan fisik dari bayi, dia menjadi anak-anak lalu bertumbuh menjadi dewasa. Bagaimana kita bisa menolong orang yang imannya lemah karena kurang pengetahuan mengenai kebenaran teologi? Jawabannya simple dan sederhana. Kalau sdr lemah karena kurang pengetahuan, sdr hanya membutuhkan kekuatan kesungguhan dorongan belajar firman Tuhan dengan sungguh, mengikuti dan belajar setiap kali ada kesempatan pembinaan-pembinaan yang ada di dalam Gereja; tidak pernah melupakan waktu teduh bersama Tuhan untuk terus menggali dan membaca firman Tuhan; taruh komitmen di dalam hati kita semua paling tidak dalam satu tahun membaca dua tiga buku rohani, dsb; selesaikan membaca Alkitab dari awal sampai selesai di dalam dua tahun. Kita perlu terus bertumbuh di dalam kebenaran firman Tuhan. Dalam hal ini saya sangat tersentuh di dalam doa Paulus kepada jemaat Efesus dalam Ef.1:17 supaya Tuhan memberi roh hikmat dan wahyu untuk mengenal Dia dengan benar, to know Him better. Satu doa yang indah keluar dari mulut seorang rasul yang sudah lama melayani Tuhan, dia bukan orang Kristen baru tetapi hari demi hari tidak pernah melupakan kalimat ini, aku ingin mengenal Tuhan lebih dalam lagi. Biar ini juga menjadi doa kita setiap pagi, Tuhan aku ingin menjadi orang lebih baik daripada kemarin dan lebih buruk daripada besok, better than yesterday and worse than tomorrow. Berarti ada keinginan untuk maju dan progresif. Paulus keluarkan kalimat yang sangat menyentuh hati kita. Kadang-kadang kita yang sudah lama sebagai hamba Tuhan melayani, membaca Alkitab kita rasa sudah tahu banyak. Apalagi sdr sudah banyak dengar khotbah, sebelum pendeta buka mulut sdr sudah tahu apa yang dia mau khotbahkan. Tetapi kalimat Paulus ini penting menjadi pertumbuhan iman kita, to know God better day by day. Iman orang itu lemah sebab kurang pengetahuan akan kebenaran.

Kedua, iman orang itu lemah oleh sebab kecewa atas perlakuan orang Kristen yang lain kepada mereka yang menyebabkan mereka tersandung. Itu sebab Paulus ingatkan kepada orang Kristen hati-hati dengan tindakan kita, hati-hati dengan kebebasan kita, hati-hati dengan keputusan yang kita ambil. Semua itu tidak ada salahnya karena berada di dalam wilayah kebebasan kita. Dalam Rom.14 konteksnya mungkin ada sebagian orang Kristen diundang makan dengan orang non Kristen, lalu kemudian ada orang Kristen yang imannya lemah melihat hal itu lalu berpikir oh, boleh toh. Karena mereka tidak bisa membedakan mana wilayah tradisi budaya dan mana yang sudah masuk ke dalam penyembahan berhala, akhirnya mereka ikut masuk ke kuil dan ikut menyembah berhala, karena mereka masih belum mengerti. Itu sebab Paulus mengingatkan untuk hati-hati. Atau yang kedua, ada kata-kata kita yang menyakiti hati orang Kristen yang lain. Saya percaya bukan saja jemaat pada waktu itu tetapi di dalam kehidupan kita sehari-hari bisa terjadi. Kadang-kadang ada orang yang baru mau mulai pelayanan dengan hati yang tulus mau melayani tetapi masih kurang pelayanan. Lalu ada orang yang mengeluarkan kalimat yang mengkritik atau menyakiti hatinya sehingga dia kecewa. Itu mungkin terjadi di dalam hidupmu, akhirnya kalau engkau menutup hati dan tidak mau lagi melayani seumur hidup, itu bukan sikap yang baik. Mari kita juga belajar koreksi, kita kecewa, kita sedih, kita mungkin tersandung oleh karena perlakuan, kata-kata atau prilaku orang Kristen yang lain kita belajar untuk menerima apa yang baik dan tidak terlalu sensitif untuk memikirkan kalimat orang kepada kita. Kita juga pada waktu mengeluarkan kalimat kepada orang lain, mari kita juga belajar hati-hati memikirkan apa yang kita katakan sebelum keluar dari mulut kita. Itu sebab Paulus ingatkan jangan menjadi sandungan, jangan menyakiti hati orang dan jangan sampai merusak imannya. Saya menafsir kata ‘merusak’ ini tidak sampai membuat iman orang hancur dan hilang tetapi dalam pengertian bisa jadi orang itu akhirnya pergi dari Gereja dan sulit lagi dan perlu waktu yang panjang untuk kembali. Tetapi iman yang sejati, dia mungkin tidak pergi lagi ke Gereja tetapi wondering mengembara di luar cukup lama berjalan di padang gurun mengalami kegersangan di dalam hidup rohaninya, namun kita percaya someday Tuhan membawa dia kembali. Ini janji firman Tuhan, entah dia berdiri entah dia jatuh, jangan kita terlalu cepat mengkritik dia. Tetapi kalau orang itu akhirnya hampir mau jatuh, Allah yang telah memberi iman kepada orang itu sekalipun lemah tetapi imannya hidup, Tuhan berkuasa membawanya kembali, Tuhan berkuasa memelihara imannya.

Ketiga, orang bisa lemah imannya sebab dia tertipu oleh tuduhan Setan yang menipu hati nuraninya. Ini hal yang penting sekali, banyak orang menjadi lemah imannya karena Setan menuduh hati nuraninya bahwa dia tidak layak menjadi anak Tuhan. Atau Setan menipu dia dengan mengatakan Allah tidak lagi mengasihi dia. Seringkali di dalam perjalanan kita mengikut Tuhan kita bersalah dan gagal, kembali melakukan dosa yang sama. Kita minta ampun tetapi seringkali kita sendiri sulit mengampuni kegagalan itu dan yang lebih celaka Setan menipu hati nurani kita dengan berkata ’…engkau bukan anak Allah lagi, Allah sudah tidak mengasihimu lagi.’

Selain bicara mengenai ‘spiritual desertion’ kelompok Reformed Puritan juga berbicara soal ‘Divine desertion’ yang Allah secara sementara meninggalkan orang percaya. Ini menarik dan berdasarkan fakta yang ada. Ayub berkata, “Aku pergi ke Utara, Tuhan tidak di sana. Aku pergi ke Selatan, tidak ku jumpai Dia…” Kemanapun dia pergi dia tidak bertemu Tuhan. Lalu ada satu ayat bukan orang percaya yang mengatakan itu tetapi Allah sendiri yang mengatakannya, Yes.54:7 “Hanya sesaat lamanya Aku meninggalkan engkau… Dalam murka yang meluap Aku telah menyembunyikan wajahKu terhadap engkau sesaat lamanya, tetapi dalam kasih setia abadi Aku mengasihi engkau, firman Tuhan Penebusmu.” Tuhan sengaja memakai kata ‘temporary/sesaat’ mengkontraskannya dengan kata ‘abadi’ tetapi mungkin sesaatnya Tuhan itu lima belas tahunnya kita. Ayat ini hanya ingin memberitahukan kita kalau dihitung secara kuantitas waktu Dia mungkin sesaat waktu meninggalkan kita. Itu sebab di atas kayu salib keluar doa dari mulut Tuhan Yesus, “AllahKu, AllahKu, mengapa Engkau meninggalkan Aku?” Tuhan Yesus memiliki hubungan yang begitu intim dengan Allah Bapa, Tuhan Yesus memiliki kerohanian yang begitu tinggi,toh mengeluarkan seruan agony ini. Tuhan meninggalkan kita sesaat mungkin karena Tuhan ingin mendidik dan mengajar kita, Tuhan ingin kita bertumbuh di situ melewati persoalan yang kita alami. Beberapa penulis agung mengatakan hal ini, there is a Divine desertion. There is a spiritual desertion, tindakan dari orang yang imannya benar tetapi sangat lemah, lari meninggalkan Tuhan. Tetapi ada bagian dimana Allah berhenti sebentar, Allah menahan sebentar, Allah berpaling wajah sedikit terhadap kehidupan kita. Kepada tindakan Allah seperti ini jelas tentu Allah memiliki rencana yang baik dan indah. Tetapi jangan kita mengambil satu reaksi dan reaksi itu adalah salah besar, seperti yang dilakukan oleh raja Israel dalam 2 Raj.6:33 “Sesungguhnya malapetaka ini adalah dari Tuhan, mengapa aku berharap kepada Tuhan lagi?” Sdr akan menemukan bagian ini adalah sejarah Israel yang sangat menyedihkan, di tengah pengepungan yang dilakukan oleh raja Aram menyebabkan terjadinya kelaparan yang sangat hebat di Samaria, akhirnya ada keluarga yang saling makan anak masing-masing. Di dalam kesulitan yang sangat itu raja tidak sabar berharap dan menanti pertolongan Tuhan padahal nabi Elisa sudah berjanji bahwa Tuhan akan menolong. Raja dengan sinis berkata ’…kalau memang Tuhan sudah meninggalkan kita, tidak usah berharap lagi kepadaNya.’ Saya percaya itu bukan merupakan sikap reaksi yang tepat. Kalau sdr baca Alkitab lebih dalam, para pemazmur mengalami hal yang sama, mereka mencari wajah Tuhan, menanti pertolongan Tuhan, tetapi doa mereka tidak dijawab Tuhan. Namun mereka tetap berharap dan bersabar menantikan Tuhan. Kadang-kadang mungkin Tuhan seolah sesaat bersembunyi, tetapi sdr tidak boleh ditipu oleh Setan dengan kalimat, “Tuhan sudah tidak mengasihimu lagi…” Jangan kita ditipu oleh Setan bahwa kita sudah bukan lagi anak Tuhan.

Keempat, orang itu lemah dan akhirnya desersi dari Tuhan oleh sebab tidak tahan menanggung kesulitan dan penderitaan yang datang ke dalam hidupnya. Dalam 2 Tim.4:16 Paulus menulis, “Pada waktu pembelaanku yang pertama tidak ada seorangpun yang membantu aku, semuanya meninggalkan aku – spare them o, Lord…” Orang-orang ini weak in faith when they faced tribulation and persecution, Paulus ditangkap, mereka lari semua. Paulus menanggung penangkapan, penyiksaan, pemenjaraan dan pengadilan seorang diri karena dia memberitakan Injil sedangkan teman-teman sepelayanannya lari bersembunyi. Tetapi Paulus tidak marah dan tidak mengutuk mereka, sebaliknya Paulus berdoa agar Tuhan tidak menghukum mereka. Namun kalau nanti Tuhan minta pertanggung-jawaban mereka, itu urusan lain, bukan? Tetapi kalimat Paulus tidak mengindikasikan orang-orang ini seperti Demas yang dikatakan dalam 2 TIm.4:10 yang ‘mencintai dunia ini dan meninggalkan Paulus.’ Berbeda dengan mereka yang karena tidak sanggup, tidak berani, tidak kuat menanggung kesulitan dan problema hidup, lari dari Tuhan. Orang Kristen seperti ini adalah orang yang imannya lemah. Itu sebab kita perlu kalimat Paulus mengingatkan, jangan menghina, jangan menghakimi, jangan sandung dan jangan sakiti tetapi simpatilah kepada mereka. Paulus percaya Tuhan berkuasa memelihara iman orang seperti itu. Mungkin orang itu meninggalkan Tuhan, kecewa karena problema terlalu besar atau karena merasa disakiti hatinya, merasa tidak memiliki hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan di dalam Gereja akhirnya mungkin lari, atau tidak berani menyatakan diri sebagai orang Kristen sejati di tengah tantangan kesulitan yang ada akhirnya lari, desersi dari Gereja dan Tuhan.

Di sini kalimat firman Tuhan mengatakan orang yang imannya benar walaupun lemah itu akan bertahan sampai akhir, tetapi tidak karena 100% berdasarkan semata-mata kekuatan ketekunan kesabaran dari diri orang itu karena sdr akan menemukan tiga ayat yang jelas mengatakan Allah Tritunggal bekerja secara ajaib dan misterius menjaga dan menopang kita semua. Allah sanggup menjaga memelihara iman orang itu. Kristus berdoa syafaat untuk kita, itu dikatakan di dalam surat Ibrani, Dia menjadi Imam Besar kita di sorga yang berdoa untuk kita dan jelas Tuhan Yesus sendiri mengatakan kepada Petrus, “Hai Kefas, Iblis sedang menampi engkau seperti sekam tetapi Aku berdoa untukmu.” The Holy Spirit, Pribadi Allah ke Tiga menjadi ‘co-witness’ bagi hati nurani kita bahwa kita adalah anak-anak Allah untuk selama-lamanya (Rom.8:16). Yesus Kristus berdoa syafaat pada waktu seorang anak Tuhan yang imannya lemah mungkin sedang ditampi oleh Setan. Itu sebab mengapa ayat-ayat ini menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita, mungkin di dalam proses baliknya seseorang yang desersi membutuhkan air mata dan pergumulan dari kita, dari keluarga, dari ayah ibu yang melihat anaknya pergi dari Tuhan, dari anak yang melihat ayah ibunya yang kecewa, dari seorang suami yang melihat isterinya kecewa dan meninggalkan Tuhan, atau isteri yang terus berdoa puluhan tahun tetapi kenapa suaminya tetap belum kembali kepada Tuhan. Biar ayat-ayat ini memberi penghiburan kepada kita pada waktu kita juga sulit dan sudah tidak kuat berdoa untuk perubahan seseorang, Tuhan berkuasa membawa dia kembali. Kristus berdoa untuk dia, jangan henti-henti berdoa untuk dia. Kiranya firman Tuhan menopang kembali iman kita dan memberi kekuatan kepada setiap kita. Biar Tuhan menghidupkan iman kita, menjaga dan memelihara sekecil apapun kecambah iman kita biar terus bertumbuh semakin hari semakin kuat di hadapan Tuhan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

12 September 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: