Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Ciri Iman yang Otentik

Ciri Iman yang Otentik

Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri.

Rom.14:4

Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.

Rom.14:12

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun.

Rom.14: 17-19

Eksposisi Surat Roma (43)

Di dalam khotbah saya tiga minggu yang lalu saya mengajak sdr membedakan antara ‘judgmental spirit’ dan ‘spiritual discernment.’ Membedakan sikap hati yang cenderung judgmental terhadap orang dan panggilan Tuhan kepada Gereja untuk memiliki spiritual discerment. Spiritual discerment adalah kemampuan orang Kristen dewasa rohani yang bisa membedakan ajaran yang salah (Ibr.5:14). Dalam surat Ibrani ini kita melihat ciri dari seorang Kristen yang dewasa bukan saja dia sanggup makan makanan yang keras, tetapi dia juga sanggup membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Namun kita perlu hati-hati di sini, bagaimana kita mengeluarkan penilaian akhirnya tidak salah sebab bisa saja kita menilai salah kepada iman orang Kristen yang lemah. Iman lemah tidak berarti iman orang itu salah dan mati. Paulus mengingatkan jemaat yang memiliki iman yang kuat jangan menjadi batu sandungan, jangan merusak iman saudara dan akhirnya menyakiti hati orang itu.

Apa sebab seseorang memiliki iman yang lemah? Minggu lalu saya katakan beberapa hal. Pertama, iman orang itu lemah sebab dia masih memiliki pemahaman pengetahuan doktrin pengajaran yang masih sederhana. Orang itu perlu bertumbuh. Kedua, orang itu imannya lemah oleh sebab tindakan dari saudara seiman yang lain membuat hatinya disakiti oleh perkataan dan perlakuan orang Kristen yang lain yang membuatnya tersandung dan kecewa. Orang yang imannya lemah mudah sekali kecewa oleh karena persoalan personal menjadi hal yang lebih utama daripada hal-hal lain yang lebih penting. Itu sebab di sini Paulus minta semua kita masing-masing harus menaruh prioritas apa yang paling penting. Gereja Tuhan harus mengerti bahwa Kerajaan Allah itu bukan soal makan dan minum, itu bukan mengurus hal-hal yang kecil dan sepele dan hal-hal yang gampang segera berlalu dari hidup kita. Kerajaan Allah berkaitan dengan tiga hal yang penting yaitu soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita Roh Kudus (Rom.14:17). Barangsiapa menaruh prioritas ini sebagai hal-hal yang lebih penting, mendahulukannya daripada interes diri, mendahulukannya daripada soal hati yang terganggu, ketersinggungan dalam hidup, ketidak-cocokan dengan orang lain, itu semua merupakan persoalan yang lebih sepele dibandingkan dengan soal kebenaran Tuhan, damai sejahtera dan sukacita. Barangsiapa meletakkan hal-hal ini menjadi prioritas hidupnya, akan terjadi dua hal: orang itu menyenangkan hati Tuhan dan orang itu pasti akan dihormati oleh orang Kristen yang lain. Kita pasti akan menghargai orang yang tidak perlu banyak bicara tetapi dia selalu mendahulukan pekerjaan Tuhan, pelayanan Tuhan, dan orang lain, yang memakai waktunya dan apa yang ada di dalam dirinya untuk melayani orang lain. Tidak perlu dia bicara banyak, sdr pasti akan menghormati orang-orang yang seperti itu. Ini adalah firman Tuhan sendiri yang menyatakan. Pleasing God tidak bisa dilihat oleh mata, tetapi kita bersyukur Tuhan tidak pernah mengabaikan pasti orang itu mendapatkan respek dan penghargaan orang lain. Kalau setiap kita memiliki sikap seperti ini, dengan sendirinya berbagai hal yang tidak sama di antara kita bisa menjadi lebih indah. Paulus mengatakan, kita tidak dipanggil menjadi orang Kristen yang seragam karena fakta memperlihatkan kita memang berbeda, tetapi bagaimana di dalam keperbedaan itu kita melihat mana yang lebih prinsip dan mana yang bukan. Maka dari sini saya mengajak sdr belajar memisahkan mana yang kita sebut sebagai orang Kristen yang imannya benar tetapi lemah, tetapi di pihak lain kita harus belajar terus melindungi Gereja dari kemungkinan menyusupnya orang yang mengaku sebagai saudara seiman tetapi sebenarnya mereka adalah ‘false brothers.’ Paulus sangat teliti dan mengatakan terhadap orang-orang ini kita perlu kritis melakukan spiritual discernment.

Dalam 1 Yoh.2:19 rasul Yohanes menegaskan orang-orang ini sebelumnya ada bersama-sama dengan orang Kristen yang lain tetapi akhirnya jelas nyata mereka tidak lagi ada bersama-sama. Ada dua ciri yang Yohanes perlihatkan, yang pertama iman mereka tidak sungguh-sungguh dan kedua, mereka tidak akan bisa bertahan sampai akhir. Kalau mereka memiliki iman sejati, pasti iman itu akan terus sampai akhir. Walaupun imannya lemah, kata Paulus dalam Rom.14, Allah akan tetap memelihara imannya tetap berdiri. Kadang-kadang dengan perkataan, tindakan kita akhirnya ada orang Kristen yang baru tumbuh menjadi terhilang, tetapi apakah imannya akan hilang? Firman Tuhan memberikan penghiburan yang luar biasa. Kadang-kadang itu bisa terjadi di dalam hidup kita. Suami yang memiliki isteri, orang tua yang memiliki anak yang entah satu masa tidak mau berdoa lagi, mungkin tidak mau berbakti lagi, menjadi kecewa dengan saudara seiman yang lain. Kita sudah berusaha mengajak mereka kembali kepada Tuhan tetapi mereka tidak mau, kita merasa sedih dan kecewa. Tetapi biarlah firman Tuhan ini boleh menjadi penghiburan bagi kita, saudara kita imannya mungkin lemah, tetapi iman itu tidak akan mungkin hilang. Allah berkuasa untuk memelihara, Allah berkuasa untuk menjaga iman dan hidup orang itu tetap berdiri. Mungkin ada orang Kristen lain tanpa sengaja menyandung dia hampir jatuh, kita percaya Allah berkuasa memelihara iman orang itu. Iman sejati pada diri seseorang terbukti pada waktu dia bertahan sampai akhir, tetapi kita tidak boleh mengabaikan aspek Teosentris dan aspek vertikal bagaimana Allah Tritunggal terlibat aktif memelihara imannya. Allah Bapa memelihara iman orang itu tetap berdiri. Yesus Kristus berdoa untuk orang-orang percaya. Roh Kudus senantiasa bersaksi di dalam hati nurani orang Kristen yang sejati bahwa dia adalah anak-anak Allah. Maka Allah Tritunggal secara aktif bekerja memelihara iman orang itu sampai akhir.

Mengenai ‘false brothers’ kita harus mengakui fakta ini, dalam Gereja Tuhan yang besar dan universal, di antara orang yang berbakti belum tentu semuanya adalah orang percaya Tuhan. Paulus mengingatkan di dalam surat Korintus bahwa si Jahat itu bisa menyamar sebagai malaikat terang. Setan memakai metode menciptakan ajaran yang simpang siur dan membingungkan di dalam Gereja. Mengenai ‘false brothers’ ini Paulus menulis kepada Timotius dalam 1 Tim.4:1-5 beberapa fakta yang mungkin bisa kelihatan. Salah satu ciri dari false brother ini Paulus bilang hati nurani mereka sudah dicap panas sehingga tidak memiliki sensitifitas dan kepekaan sehingga tidak bisa mengalami perubahan dan pembentukan. Dalam 2 Tim.3:6-7 Paulus mengatakan selain orang-orang ini hati nuraninya tidak sensitif, mereka suka sekali memperalat kelompok orang yang lemah. Ciri ini bisa muncul di dalam kelompok bidat, sdr lihat semakin gampang satu kelompok eksklusif menarik diri dari dunia dan menjadikan pengikutnya tidak bersentuhan dengan society, semakin kita curiga ajaran mereka. Orang-orang ini Paulus katakan suka menyelundup dan menjerat ke rumah janda-janda sebagai satu kelompok yang lemah. Dari ciri ini kita diingatkan untuk dengan hati-hati melindungi kelompok orang Kristen yang lemah, lemah pengetahuannya, minim pengertiannya, tetapi ingin cinta Tuhan namun kadang-kadang mendapatkan pengajaran yang salah dan terlalu banyak berkeliling di sana-sini. Ciri ketiga, sangat menakutkan, ‘yang ingin belajar tetapi tidak pernah bisa mengenal kebenaran.’ Ini adalah false brothers, ini adalah orang-orang yang menyelusup masuk ke dalam Gereja, sdr harus pisahkan mereka dengan kelompok orang Kristyen yang imannya lemah. Lemah, sebab pengetahuan teologinya belum memadai, pengertian Alkitabnya belum dalam dan belum komprehensif, orang ini perlu bertumbuh di situ. Kedua, dia lemah karena tersandung tindakan, disakiti oleh perbuatan orang Kristen yang lain akhirnya dia menjadi kecewa. Ketiga, orang Kristen yang mungkin ditipu oleh suara Setan dan ditipu oleh hati nuraninya bahwa Allah tidak lagi mencintai dia dan dia tidak lagi menjadi anak-anak Allah, akhirnya dia menjauh dari Tuhan. Keempat, oleh karena kepahitan hidup, sakit penyakit, kesulitan yang muncul, ketidak-beranian untuk mempertahankan iman di tengah aniaya yang ada di depan dia, maka orang Kristen seperti ini lari. Dia lari tidak berarti dia murtad. Itu sebab di abad 17 dan 18 kaum Puritan memakai dua kata yang membedakan yaitu “apostacy” (mertad) dan “spiritual desertion.” Spiritual desertion dilakukan oleh orang Kristen yang imannya lemah. Kelihatan dari luar mungkin sama seperti ‘apostacy,’ sama-sama meninggalkan Gereja, sama-sama tidak berdoa lagi, tetapi ini adalah orang Kristen yang desersi dan yang satu lagi adalah orang Kristen yang murtad, yang memang tidak punya iman yang sejati sejak awalnya. Orang yang desersi memiliki iman yang seperti api yang redup sehingga seolah kelihatannya tidak punya iman.

Sdr dan saya bertanya, betulkah saya memiliki iman yang otentik? Bagaimana saya tahu imanku otentik atau tidak? Bagaimana kita belajar mengoreksi seberapa sehatnya iman kita? Kenapa kita sering pergi ke dokter untuk periksa darah secara berkala? Untuk mengecek seberapa sehatnya kita. Kalau hidup sehari-hari kita mengecek seberapa sehatnya fisik kita, kita juga selalu perlu mengecek seberapa indah dan sehatnya hidup pernikahan kita, mari juga kita memiliki kerinduan selalu peka bertanya kepada Tuhan seberapa sehatnya iman kita di hadapan Tuhan. Mungkin ada ‘sakit’ tetapi paling tidak kita tahu iman kita kondisinya bagaimana. Mungkin iman itu perlu mendapat dorongan dan api kembali, mari kita belajar coba memikirkan seberapa dalam dan sehatnya iman kita.

Beberapa point penting saya berikan kepada sdr untuk evaluasi. Pertama, seseorang yang memiliki iman yang otentik adalah seorang yang selalu melakukan self examination terhadap imannya. Dalam Kis.15:36 Paulus mengajak kepada Barnabas untuk kembali kepada orang-orang yang sudah mereka bawa untuk percaya Tuhan, untuk melihat seberapa kondisi keadaan rohani mereka. Paulus ingin melakukan suatu evaluasi bukan kepada pelayanannya saja, tetapi kepada seberapa bertumbuhnya iman mereka yang sudah pernah mendengarkan Injil dalam pelayanan penginjilan Paulus. Seseorang yang memiliki iman yang sejati, sekalipun kecil, lemah dan redup, api imannya tetap tidak akan mati. Itu bukti otentik ada iman yang sejati. Tetapi iman itu mungkin tidak bisa dilihat oleh orang lain karena tidak ada ciri dan tanda eksternal, itu sebab di dalam 2 Kor.13:5 Paulus tidak bisa menentukan orang itu sudah percaya Tuhan atau tidak, tetapi dia meminta masing-masing mereka melakukan self examination ini. Uji diri sendiri, selidiki hati sendiri. Pertama, adakah engkau punya iman? Kedua, apakah Kristus tinggal di dalam hatimu atau tidak? Seseorang yang sungguh-sungguh mencintai Tuhan dan memiliki iman pasti dia akan terus take care akan imannya. Salah satu yang perlu dilakukan adalah menguji sendiri seberapa sehatnya, seberapa kuatnya iman kita, seberapa dalamnya cinta kita kepada Tuhan, betulkah Tuhan Yesus sudah ada di dalam hati kita atau tidak. Kita yang sudah lama menjadi anak Tuhan, berasal dari keluarga Kristen, mari kita kembali menanyakan pertanyaan yang sama ini, betulkah saya sudah pernah mengundang Yesus tinggal di dalam hatiku? Betulkah Dia sungguh-sungguh ada di dalam hatiku? Kalau tidak, maka Paulus mengingatkan someday orang itu pasti tidak tahan uji. Penulis Ibrani melihat fakta ini, ada orang yang sudah dibaptis, sudah ambil pelayanan, sudah ikut perjamuan kudus, tiba-tiba dia murtad dan pergi meninggalkan Tuhan, dia tidak tahan uji karena tidak pernah punya iman sejati (Ibr.6:4-6). Itu sebab self examination penting luar biasa, uji hatimu di hadapan Tuhan apakah engkau tegak di dalam iman, apakah Kristus ada di dalam hatimu.

Kedua, iman yang otentik akan menghasilkan satu perasaan paradoks, di satu pihak ada perasaan damai sejahtera karena tahu dia aman bersama Tuhan tetapi sekaligus dia memiliki ketidak-nyamanan di dalam hati sebab takut akan kehilangan keselamatan itu. Dalam 1 Kor.9:27 Paulus menyatakan perasaan ini. Itu sebab Paulus dalam Rom.14 mengingatkan satu kali kelak setiap orang harus memberikan pertanggungan-jawab, artinya kalau kita menghakimi orang, suatu kali kelak kita juga akan berdiri di penghakiman Allah. Sebagai anak Tuhan kita percaya tidak ada lagi penghukuman, tetapi Alkitab memberitahukan dengan jelas satu kali kelak kita akan berdiri di hadapan pengadilan Tuhan dan itu adalah pengadilan yang memberikan reward yang berbeda-beda kepada setiap kita. Dalam 1 Kor.3:10-15 Paulus memberi ilustrasi orang Kristen membangun pekerjaannya dengan dua jenis bangunan. Ada yang membangunnya dengan kayu, rumput kering dan jerami ataukah dia membangunnya dengan emas, perak dan batu permata, semua itu akan nyata pada waktu hari penghakiman Tuhan, ketika api Tuhan yang kudus itu membakar. Jelas pekerjaan yang dibangun dengan kayu, rumput dan jerami akan terbakar habis karena tidak tahan oleh api, tetapi yang dibangun dengan emas, perak dan batu mulia akan makin dimurnikan oleh api. Ini memberitahukan kepada kita someday kita akan menghadapi pengadilan Tuhan. Paulus tahu keselamatannya tidak akan hilang, tetapi di dalam 1 Kor.9:27 Paulus menyatakan kekuatirannya setelah dia melayani Tuhan dengan sungguh-sungguh dan susah payah, dia takut kalau dia yang sudah membawa orang menerima Tuhan Yesus tetapi dia sendiri ditolak Tuhan. Jelas, kalau dia beriman kepada Tuhan keselamatannya terjamin, tetapi mengapa ada perasaan seperti ini? Inilah paradoks yang muncul. Maka sebagai anak-anak Tuhan, mengevaluasi sehatnya iman kita coba tanyakan kalau suatu kali kita dipanggil Tuhan dan bertemu Tuhan, siapkah kita? Kalau kita memiliki iman yang sehat, hari demi hari waktu kita berjalan terlalu cepat akan berlalu. Paulus sudah mengingatkan kepada jemaat, waktu kita tinggal sebentar lagi. Ada satu perasaan paradoks, di satu pihak kita sudah percaya Yesus kita aman di dalam Dia, tetapi di pihak lain ada satu ketakutan jangan sampai iman kita hilang. Karena sikap itu maka Paulus melatih tubuhnya dengan disiplin rohani, dengan sikap seperti itu dia melayani dengan sungguh, dengan sikap seperti itu dia mengutamakan mana yang lebih berarti dan lebih penting di dalam hidupnya. Ini ciri yang kedua dari seseorang yang memiliki iman yang otentik.

Ciri yang ketiga, akan muncul paradoks lain, makin iman kita bertumbuh makin kita peka terhadap dosa yang kecil dan sekaligus makin membuat kita sadar bahwa kita adalah orang yang paling berdosa. Paulus memperlihatkan pertumbuhan iman yang seperti ini. Dalam 1 Kor.15:9 dia mengatakan, “Aku adalah yang paling hina di antara semua rasul…” Dalam Ef.3:8 dia mengatakan, “Aku adalah yang paling hina di antara semua orang percaya…” Dan dalam 1 Tim.1:15 “Aku adalah yang paling berdosa di antara orang berdosa…” Di awal pelayanannya dia menyadari dirinya adalah yang paling hina dari antara rasul-rasul yang lain dan di tengah pelayanannya dia mengaku dirinya adalah yang paling hina dari antara semua orang percaya, namun di akhir pelayanannya dia mengaku dengan rendah hati bahwa dia adalah yang paling hina dari antara orang-orang berdosa. Dari sini kita bisa melihat semakin tua usia Paulus, semakin lama dia melayani Tuhan, semakin dia peka menyadari akan dosa. Sama seperti kalau kita memakai baju putih berjalan menuju cahaya, dari jauh kita pikir baju kita cukup putih, semakin dekat kepada cahaya itu semakin kita tahu baju kita ternyata tidak terlalu putih adanya. Bukan berarti iman kita tidak bertumbuh tetapi justru ini menyatakan pertumbuhan kita yang paradoks. Berbeda dengan orang Farisi, semakin dia mengenal hukum Taurat semakin dia merasa semua orang di sekitarnya berdosa sedangkan dia sendiri tidak. Itu adalah iman kerohanian yang tidak otentik. Semakin kita bertumbuh semakin kita peka dosa-dosa kecil yang dulu tidak kita sadari, tetapi sekaligus membuat kita sadar kita adalah orang yang begitu hina di hadapan Tuhan. Dengan demikian kita akan terus bertumbuh maju.

Selanjutnya ke empat, seseorang yang memiliki iman yang otentik selalu menyatakan kecintaan yang makin dalam kepada Kristus. Seorang yang mencintai Tuhan seperti seorang yang mencintai pasangannya, semakin terus ingin mengenal dan mencintainya lebih dalam. Dari awal sampai akhir apakah kita memiliki kasih yang konsisten kepada Tuhan? Paulus sudah ikut Tuhan begitu lama, sudah mengenal Tuhan begitu dalam, tetapi mengapa dia tetap mengeluarkan kalimat ini, “Hanya satu keinginanku yaitu mengenal Dia dan kuasa kebangkitanNya…” Dia berdoa kepada Tuhan supaya engkau dan saya mengenal Tuhan lebih dan lebih dalam lagi hari lewat hari. Iman yang otentik akan bertumbuh dalam kecintaan kepada Kristus.

Kelima, iman yang sejati walaupun mungkin lemah tetapi dia akan menghasilkan buah di dalam hidupnya.

Terakhir, iman yang sejati adalah iman yang akan selalu bertumbuh di dalam komunitas ‘means of grace’ yang dia tidak lalaikan. Itu sebab kenapa Paulus menekankan kepada jemaat jangan melalaikan komunitas, sebab di dalam komunitas kita bertumbuh. Biar kita saling membangun satu dengan yang lain. Saya akan menutup bagian ini dengan bertanya kepada sdr, seberapa dalam kita menghargai means of grace dari Tuhan, ibadah, doa, persekutuan, membaca firman Tuhan dan melayani? Ini semua merupakan means of grace, sarana Tuhan memberikan anugerahNya kepada kita. Kita mungkin lemah, tetapi bagaimana kita akhirnya bisa dikuatkan bertumbuh kembali kalau kita tidak pernah membaca firman Tuhan, ditarik kembali oleh Tuhan untuk mendekat kepadaNya? Ibr.10:25 memperlihatkan jemaat ini memiliki iman yang begitu lemah, mereka diterpa oleh kesulitan aniaya. Banyak di antara mereka lari dan tidak lagi berani berbakti. Maka penulis Ibrani mengingatkan jangan membiasakan diri meninggalkan pertemuan ibadah. Itu adalah means of grace bagi setiap kita. Melalui khotbah ini saya menggugah sdr untuk bertumbuh dalam iman di hadapan Tuhan. Biar hari ini kita dengan tulus dan jujur membawa iman kita di hadapan Tuhan. Kalau iman kita kering dan tidak bertumbuh dengan subur, kita minta kepada Tuhan untuk menyiramnya dengan kehangatan cinta Tuhan. Kalau iman kita bertumbuh namun belum menghasilkan buah, biar kita minta Tuhan memelihara, memupuk dan memangkasnya supaya iman kita menghasilkan buah-buah yang indah.

Pdt. Effendi Susanto STh.

19 September 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: