Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Keputusan Di Tengah Dilema

Keputusan Di Tengah Dilema

Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis. Sebab jika engkau menyakiti hati saudaramu oleh karena sesuatu yang engkau makan, maka engkau tidak hidup lagi menurut tuntutan kasih. Janganlah engkau membinasakan saudaramu oleh karena makananmu, karena Kristus telah mati untuk dia. Apa yang baik, yang kamu miliki, janganlah kamu biarkan difitnah. Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan dan minuman, tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita oleh Roh Kudus. Karena barangsiapa melayani Kristus dengan cara ini, ia berkenan pada Allah dan dihormati oleh manusia. Sebab itu marilah kita mengejar apa yang mendatangkan damai sejahtera dan yang berguna untuk saling membangun. Janganlah engkau merusakkan pekerjaan Allah oleh karena makanan! Segala sesuatu adalah suci, tetapi celakalah orang, jika oleh makanannya orang lain tersandung! Baiklah engkau jangan makan daging atau minum anggur, atau sesuatu yang menjadi batu sandungan untuk saudaramu. Berpeganglah pada keyakinan yang engkau miliki itu, bagi dirimu sendiri di hadapan Allah. Berbahagialah dia, yang tidak menghukum dirinya sendiri dalam apa yang dianggapnya baik untuk dilakukan. Tetapi barangsiapa yang bimbang, kalau ia makan, ia telah dihukum, karena ia tidak melakukannya berdasarkan iman. Dan segala sesuatu yang tidak berdasarkan iman, adalah dosa. Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.” Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus. Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah.

Rom.14:13 – 15:7

Eksposisi Surat Roma (41)

Ayat-ayat yang baru saja kita baca merupakan bagian dari firman Tuhan dengan bijaksana dituliskan oleh Paulus bagaimana menangani relasi di antara manusia yang begitu delicate luar biasa, sehingga seperti barang pecah-belah, please ‘handle with care’ karena kalau sudah pecah, sulit luar biasa. Sama seperti seorang pelari 100m lari sendiri gampang, tetapi kalau kakinya diikat dengan kaki orang lain dan disuruh lari bersama, di situ baru kita menemukan kesulitan yang tidak gampang. Yang larinya cepat harus bagaimana dengan sabar menunggu yang lambat, yang lambat bagaimana mensinkronkan larinya supaya sama-sama bisa jalan dengan baik, kalau tidak akhirnya dua-dua jatuh bergulingan. Itu sebab dalam dua pasal ini saja Paulus dengan hati-hati, firman Tuhan dengan bijaksana bagaimana menangani hubungan antar manusia itu dengan begitu teliti. Memegang keyakinan sendiri adalah hal yang gampang. Tetapi setelah punya keyakinan sendiri, bagaimana tidak menghakimi orang lain, bagaimana tidak memfitnah orang lain, itu bukan merupakan hal yang gampang. Maka Paulus mengatakan, jangan menghakimi orang lain. Lalu kemudian di sisi yang satu kepada yang imannya kuat Paulus bilang jangan menghina orang, terima orang dengan lapang hati. Maka dua panggilan firman Tuhan ini mencakup hubungan di antara sesama manusia yang memiliki pandangan yang berbeda, keyakinan yang berbeda, yang bagaimana bisa duduk sama-sama dengan harmonis, itu merupakan persoalan yang tidak gampang dan tidak mudah. Bagaimana mengambil keputusan pada waktu mungkin keputusan yang kita ambil itu berbeda pendapat dengan yang lain? Ini hal yang lumrah kita alami, bukan? Suami isteri sama-sama anak Tuhan, tetapi kadang-kadang keputusan di tengah keluarga kitapun mungkin menghadapi keputusan yang berbeda di antara suami dan isteri. Di tengah Gereja kita mungkin juga memiliki prinsip dan pandangan yang berbeda sehingga kadang-kadang kita perlu bagaimana memikirkan supaya pandangan yang berbeda itu bisa berjalan dengan harmonis.

Di sini kita menemukan beberapa prinsip yang penting. Yang pertama, Rom.14:1, Paulus mengatakan, “Accept one another in disputable matters…” Di dalam Etika Kristen ada satu istilah dalam bahasa Yunani yang dipakai yaitu “adiaphora” untuk menekankan subject matters yang Alkitab firman Tuhan tidak perintahkan dan yang Tuhan tidak larang, berarti ini masuk ke dalam satu wilayah kebebasan orang. Di tengah kebebasan itu mungkin dalam satu subject matter orang Kristen yang satu mengambil keyakinan yang berbeda dengan orang Kristen yang lain, itu tidak merupakan sesuatu persoalan. Itu sebab Paulus membuka aspek ini di sini, in disputable matters, di dalam surat Roma paling tidak sangat jelas sekali konteksnya di sini ada tiga hal yang Paulus angkat yaitu soal makan daging, soal superstitious terhadap hari-hari tertentu dan soal minum wine. Paling tidak tiga hal ini bisa kita simpulkan ini bicara soal kebudayaan. Yang jadi problem adalah karena hal-hal itu sudah menjadi tradisi dan kebudayaan tertentu yang berjalan terus, seringkali kita tidak lagi sadar itu bisa dikaitkan dengan iman kepercayaan. Maka bagaimana mengambil pilihan di dalam persoalan budaya? Budaya itu memiliki tiga aspek. Pertama, di dalam budaya ada aspek tata krama. Kedua, di dalam budaya ada aspek seni. Ketiga, di dalam budaya ada aspek kepercayaan dan penyembahan. Kita tidak mungkin lepas dari kebudayaan karena itu adalah jubah kita, waktu kita lahir kita sudah melekat dengan kebudayaan itu. Warna kulit, tradisi dan sebagainya, itu tidak bisa kita lepas. Sebagai orang Kristen bagi saya aspek ketiga ini yang perlu kita perhatikan yaitu aspek kepercayaan dan penyembahan. Ketemu dengan orang Afrika yang sudah menjadi Kristen, dia tetap orang Afrika yang memiliki kebudayaan sebagai orang Afrika. Dia orang Cina, dia percaya Tuhan Yesus, dia tetap menjadi orang Cina Kristen. Boleh tidak nanti dia menikah melakukan ‘te-pai’? Itu adalah satu kebudayaan jual teh yang paling mahal. Saya selalu bilang, silakan lakukan kepada orang tua, tetapi jangan te-pai kepada nenek moyangmu yang sudah meninggal karena situasinya tricky, berkaitan dengan unsur hormat dan penyembahan di situ. Jadi jelas ada bagian yang bisa diseparasi tetapi ada bagian yang seninya sudah bercampur dengan penyembahan. Maka di sini kemudian Paulus bilang kalau itu adalah suatu budaya dan orang berbeda pandangan denganmu, sebagai orang percaya mari kita belajar menghargai, menerima satu dengan yang lain.

Beberapa minggu lalu saya mengangkat paling tidak di dalam Alkitab sendiri Tuhan memberikan prinsip bagaimana melihat pengambilan keputusan itu tidak memiliki level yang sama. Ada firman Tuhan berbentuk perintah/command, ada yang berbentuk larangan/prohibition, ada yang berbentuk nasehat/counsel, dan ada yang berbentuk pujian/praise. Alkitab mencatat beberapa kali Tuhan Yesus terkejut dan memuji iman seseorang. Salah satunya iman dari janda miskin yang memberi persembahan di Bait Allah (Mark.12:41-44). Janda miskin ini memberikan seluruh uang yang dimilikinya. Alkitab mencatat Tuhan Yesus memuji janda miskin ini. Ini yang saya sebut masuk ke dalam wilayah pujian. Di bagian lain ada peristiwa Daud memuji beberapa pasukannya yang waktu mendengar Daud ingin sekali minum air dari sumur di Yerusalem yang sudah direbut oleh orang Filistin, dengan berani mereka datang dan mengambil air dari sumur itu. Ini adalah pujian/praise, yang berarti orang itu melakukan sesuatu lebih daripada apa yang dituntut. Itu tidak boleh kita ambil menjadi keharusan. Pada waktu kita memberi kepada Tuhan lebih daripada yang ada pada kita dengan sukacita, itu berada di dalam wilayah pujian. Salahlah kalau seorang hamba Tuhan di atas mimbar menuntut jemaatnya untuk wajib memberikan persembahan seperti janda itu, menyuruh semua orang membuka dompet dan menaruh semua perhiasan mereka ke dalam kantung persembahan. Sebagai hamba Tuhan saya tidak bisa mengharuskan seperti itu. Tetapi kalau ada orang di tengah-tengah kebaktian tergerak untuk memberi semua miliknya kepada Tuhan, itu masuk ke dalam wilayah pujian.

Contoh dari counsel: Paulus tidak minta semua janda untuk menikah. Di sini tidak ada perintah atau larangan tetapi sebagai hamba Tuhan dia menasehatkan para janda terutama yang sudah tua untuk tetap tinggal seperti itu karena menurut Paulus lebih berbahagia baginya, tetapi Paulus tidak melarang kalau mereka memilih untuk menikah lagi dan itu tidak melanggar prinsip firman Tuhan.

Maka dari beberapa contoh ini kita bisa melihat bijaksana dari firman Tuhan bagaimana kita mengambil keputusan. Sebagai anak Tuhan kita harus belajar membedakan mana wilayah perintah Tuhan, mana wilayah kebebasan. Waktu masuk ke dalam wilayah kebebasan, orang Kristen mungkin mengambil keyakinan yang berbeda-beda, kita harus menghargai pilihannya.

Kedua, kalau sdr berada di dalam keputusan terhadap persoalan-persoalan yang diperdebatkan, engkau dan saya silakan kembangkan keyakinan kita sendiri-sendiri. Paulus mengatakan, ”…hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam dirinya sendiri” (Rom.14:5b). Tiga kali Paulus memakai kata ‘yakin’ di dalam Rom.14. Di ayat 14 Paulus mengatakan, “Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri…” Ada orang Kristen yang masih terjebak di dalam kebudayaannya yang sulit sekali melepaskan. Maka meskipun Paulus mengatakan semua makanan tidak ada yang haram karena semua Tuhan ciptakan dan kita terima dengan syukur itu menjadi makanan yang baik bagi kita. Di ayat 22 Paulus mengatakan, “Berpeganglah kepada keyakinan yang engkau miliki itu bagi dirimu sendiri… berbahagialah dan jangan kamu menghukum diri sendiri.” Kalau sudah pegang keyakinan sendiri sebagai hubungan kita dengan Tuhan, artinya waktu ketemu dengan orang nyang keyakinannya berbeda dengan kita, Paulus ingin kita belajar simpan itu untuk diri sendiri, tidak keluar kata menghina tidak keluar kata menghakimi. Ini bagian yang Paulus sedang bicarakan di dalam bagian ini. Lalu bagaimana mengambil keputusan terhadap hal-hal yang bersifat adiaphora, yang Alkitab tidak perintahkan dan yang Alkitab tidak larang kepada saya? Prinsip kedua, berkaitan dengan hal-hal itu kembangkanlah keyakinan sdr sendiri. Saya hanya memberikan satu prinsip penting, di sini tidak berarti kebebasan itu boleh kita pakai dengan sembarangan. Yang Paulus bilang, setelah engkau ambil keyakinan itu, jaga baik-baik supaya engkau tidak guilty di dalam pengambilan keputusanmu. Jadi bukan didorong oleh rasa bersalah, bukan didorong oleh desakan orang lain, bukan karena malu dan pressure dari orang di dalam sdr mengambil keputusan. Yang Paulus inginkan adalah kita ambil hal itu dengan keyakinan kita sendiri, sesudah itu Paulus bilang berbahagialah dengan keputusan yang kita sudah ambil. Tetapi tetap firman Tuhan memberikan kita prinsip penting di sini, yang Rom.14:6-8 memberikan dua prinsip mengenai kebebasan orang Kristen di dalam memilih sesuatu. Di sini Paulus dua kali menggunakan kata “observe.” Kata ini berarti to evaluate carefully. Kemudian berulang kali Paulus menyebut kata “for the Lord.” Waktu engkau memutuskan untuk makan, makanlah untuk Tuhan. Waktu engkau memutuskan untuk tidak makan, engkau tidak makan untuk Tuhan. Keputusan apapun yang engkau ambil, engkau lakukan itu untuk Tuhan. Seseorang yang mengambil keputusan akhirnya pergi ke pedalaman melayani dengan susah payah, dia ambil itu untuk Tuhan. Ada yang merasa bahwa dia dipanggil Tuhan untuk melayani justru kepada orang-orang terhilang di kota besar, dia ambil keputusan itu dengan sungguh-sungguh dia lakukan itu untuk Tuhan. Ada yang mengambil keputusan untuk menikah di dalam pelayanannya, dia ambil itu untuk Tuhan. Ada yang mengambil keputusan untuk tidak menikah karena merasa itu membuat dia lebih efektif di dalam pelayanan, dia lakukan itu untuk Tuhan. Tetapi sebelum kita mengambil keputusan apapun, Paulus mengatakan kita perlu “observe.” Apakah kebebasan yang kita ambil untuk memilih sesuatu itu kita observe dengan baik-baik? Kita tidak boleh sembarangan, walaupun itu jatuh ke dalam wilayah kebebasan kita. Betul-betul keputusan itu “worth living-” kah? Betul-betul keputusan yang kita ambil sudah kita pikirkan matang-matang sebagai hal yang sangat penting dan baikkah? Itu sebab saya percaya bagian dari firman Tuhan ini baik kita kaitkan dengan 1 Kor.10:23-11:1 karena di situ saya rasa adalah bagian yang sedikit lebih jelas Paulus bicara mengenai hal ini. Ayat 23 “Segala sesuatu diperbolehkan tetapi tidak berarti segala sesuatu berguna. Segala sesuatu diperbolehkan tetapi tidak berarti segala sesuatu membangun.” Ayat 29 “Yang aku maksudkan bukanlah keberatan hatimu melainkan keberatan hati nurani orang lain…” Kenapa saya di dalam kebebasanku mengambil keputusan harus memikirkan keberatan hati nurani orang lain? Itu pertanyaan yang umum dan lumrah. Di sini Paulus memberikan beberapa prinsip: pertama, kita bebas melakukan apa saja sejauh Tuhan tidak perintahkan dan Tuhan tidak larang. Tetapi di situ Paulus mengingatkan prinsip kedua, observe baik-baik, tanya kepada diri apakah itu berguna? Ketiga, apakah itu membangun orang lain? Jangan menjadi batu sandungan bagi orang lain. Ke empat, apakah setelah sesuatu itu sdr ambil akhirnya malah menjadi pengikat bagi kebebasanmu? Dan ke lima, apakah keputusan yang kita ambil itu memuliakan Tuhan? Ke enam, apakah keputusan yang kita ambil itu mengikuti jejak seperti yang Tuhan Yesus lakukan? Semua yang kita kerjakan, semua yang kita ambil, semua yang kita lakukan, biar itu memuliakan Tuhan. Pada waktu kita mungkin mengambil keputusan berbeda dengan orang lain, perbedaan itu lumrah karena memang hal itu tidak dikatakan oleh Alkitab dengan jelas, tetapi yang terpenting sdr sudah pikir matang-matang keputusan itu, ambil keputusan dan be happy. Sudah ambil keputusan menjadi orang Kristen yang tidak makan daging dan hanya makan sayur-sayuran saja, silakan, tetapi sesudah itu jangan bersungut-sungut dan marah melihat orang lain makan daging. Kita ambil keputusan hidup menjadi orang Kristen dengan sederhana, tidak menggunakan barang yang mahal, silakan. Tetapi sesudahnya biar sdr happy dengan keputusan itu. Kembangkan keyakinan masing-masing. Jadikan keyakinan itu sebagai refleksi hubungan kita dengan Tuhan. Itu sebab dengan kata ‘be happy’ mengingatkan kita jangan ambil keputusan dan memilih sesuatu berdasarkan karena guilty feeling, berdasarkan karena desakan dan dorongan orang lain, jangan karena persepsi orang lain, walaupun itu tidak bisa kita hindari dari hidup engkau dan saya. Dan setelah engkau ambil satu keputusan, mari bersukacita dan bahagia dengan keputusan itu sehingga itu boleh menjadi sesuatu keindahan dan berkat bagi orang yang lain.

Maka pegang prinsip ini: pertama, membedakan mana yang termasuk perintah dan mana yang termasuk kebebasan. Kedua, jadi orang Kristen kembangkan keyakinan sendiri. Ketiga, terima orang yang berbeda denganmu dan mengerti prinsip pertanggung-jawaban. Paulus mengingatkan kita jangan sekali-kali menghakimi orang. Sampai di sini saya ajak sdr dengan hati-hati memikirkan perbedaan antara spiritual discernment dan judgmental attitude. Kita sebagai anak Tuhan dipanggil untuk melakukan spiritual discernment, kemampuan rohani membedakan mana yang benar mana yang salah. Tetapi kita tidak boleh memiliki judgmental attitude. Spiritual discernment berarti kita menjadi orang yang memikirkan dengan sungguh, memegang dengan sungguh apa yang menjadi kebenaran yang kita simpan untuk kita. Pada waktu orang lain bertanya kepada kita, kita boleh memberitahukannya kepada mereka. Tetapi pada waktu kita melihat hidup orang lain, kadang-kadang kita tidak bisa melihat dari awal sampai akhir, maka kita belajar percaya apapun yang diambil oleh orang itu biar dia melakukannya untuk Tuhan dan biar dia bertanggung-jawab kepada Tuhan. Ini adalah sikap kita. Kenapa kita tidak boleh melakukan judgmental attitude? Karena kadang-kadang kita tidak sadar orang itu mungkin imannya lemah. Kalimat yang salah keluar dari mulut kita mungkin bisa menjatuhkan dan merugikan iman orang seperti itu. Maka Paulus menasehatkan kita untuk menerima baik-baik orang yang lemah iman. Berarti itu adalah tanggung jawab di dalam diri setiap kita yang memiliki prinsip kebenaran, pikiran yang benar mengenai Alkitab tetapi hati-hati terhadap mungkin orang Kristen yang masih baru, orang Kristen yang punya latar belakang budaya yang bukan Kristen, memiliki perbedaan yang tidak gampang, kita perlu hati-hati di dalam bersikap terhadap mereka. Itu sebab Paulus mengajak jemaat bagaimana mengambil keputusan itu dengan bijaksana.

Terakhir, kalau hal-hal itu berkaitan dengan Alkitab tidak perintahkan atau tidak larang, berarti itu masuk ke dalam kedewasaan rohani, maka kita bisa mengerti kenapa di sini Paulus membedakan antara orang Kristen yang imannya lemah dan yang kuat. Dengan memakai kata ‘lemah’ hanya meminta kita menerima orang itu, tetapi Paulus tidak berarti meminta orang itu untuk terus-menerus berada di dalam kelemahan. Menerima orang yang imannya lemah tanpa mempercakapkan pendapatnya dengan tujuan supaya dia dibangun imannya. Kematangan rohani diperlukan bagi setiap kita pada waktu engkau dan saya mengambil keputusan di hadapan Tuhan. Maka tidak bisa tidak belajar firman Tuhan, mengenal firman Tuhan dengan sungguh dan dalam, memikirkannya dengan matang, itu membutuhkan kedewasaan rohani bagi setiap kita. Apa ciri seseorang yang matang rohaninya? Pertama, orang itu takut kepada Tuhan. Kedua, orang itu rendah hati. Ketiga, orang itu mau diajar oleh firman Tuhan. Keempat, orang itu rajin dengan sungguh mau mengenal firman Tuhan. Kelima, orang itu tulus hati.

Saya mengajak sdr melihat dua bagian yang penting dan dari sana melihat perlunya pertimbangan kedewasaan rohani di dalam mengambil keputusan. Dalam 1 Tes.3:1 Paulus memakai frase ”…we thought it is best…” di dalam mengambil keputusan di dalam pelayanan dia. Memikirkan, menggumuli, memutuskan apa yang terbaik. Dalam Fil.2:25 Paulus mengatakan, ”…I thought it is necessary…” mana yang paling prioritas di dalam pengambilan keputusan. Banyak hal kita inginkan di dalam hidup kita, itu adalah hal yang wajar. Tetapi mungkin tidak semuanya sekaligus datang di dalam hidup kita. Kita perlu menetapkan prioritas dan mungkin kita tidak bisa ambil semuanya, kita belajar untuk mengucap syukur terhadap apa yang Tuhan beri kepada kita. Paulus di dalam mengambil keputusan di dalam pelayananpun tidak gegabah dan bilang “Tuhan pimpin saya harus begini begitu…” Jelas saya percaya Tuhan pimpin dia dalam mengambil keputusan, hanya bagaimana cara Tuhan pimpin. Paulus bilang Tuhan memberi prinsip melalui firmanNya, lalu Paulus menggumuli dan memikirkan dengan sungguh-sungguh sebelum mengambil keputusan. Ada tiga langkah penting di dalam pengambilan keputusan yang Paulus katakan di dalam Rom.1:10 dan 13. Pertama, “aku berdoa…” Kedua, “semoga kehendak Allah…” Ketiga, “aku berencana…” Paulus sudah planning dari dulu, sudah atur dengan baik, sudah pikir matang-matang, cuma belum terealisasi. Tiga hal ini muncul, pertama Paulus berdoa, kedua Paulus bilang “Let the will of God be done…” ketiga, Paulus pikir, Paulus atur, Paulus rencana. Rencana tidak menghilangkan hak Tuhan menetapkan kehendakNya. Mengatakan ‘biar kehendak Tuhan yang jadi,’ tidak berarti Tuhan menutup pikiran manusia yang rasional merencanakan sesuatu. Berdoa supaya kehendak Tuhan yang jadi tidak membuat kita malas merencanakan dengan teratur dan baik. Merencanakan segala sesuatu tidak berarti membuat kita bisa mengontrol apa yang terjadi di masa yang akan datang. Itu sebab kita perlu serahkan kepada Tuhan, meletakkan dengan hati yang rendah di dalam doa. Melalui firman Tuhan ini terutama Rom.14-15 saya harap sdr bisa melihat seluruh rangkaian pengertian ini. Banyak keputusan di dalam hidup kita bersifat adiaphora, dimana engkau akan tinggal, pekerjaan apa yang engkau akan ambil, menikah dengan siapa, berapa banyak anak, bagaimana masa depan kita atur, bagaimana life style hidup, dst. Kebebasan di dalam mengambil keputusan di situ tidak berarti kita boleh semena-mena, perlu masuk ke dalam prinsip firman Tuhan, Tuhan tetapkan prinsip itu sebagai prinsip yang indah di dalam kedewasaan rohani.

Pdt. Effendi Susanto STh.

5 September 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: