Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Ketika Orang Kristen Berbeda

Ketika Orang Kristen Berbeda

Terimalah orang yang lemah imannya tanpa mempercakapkan pendapatnya. Yang seorang yakin, bahwa ia boleh makan segala jenis makanan, tetapi orang yang lemah imannya hanya makan sayur-sayuran saja. Siapa yang makan, janganlah menghina orang yang tidak makan, dan siapa yang tidak makan, janganlah menghakimi orang yang makan, sebab Allah telah menerima orang itu. Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri. Yang seorang menganggap hari yang satu lebih penting dari pada hari yang lain, tetapi yang lain menganggap semua hari sama saja. Hendaklah setiap orang benar-benar yakin dalam hatinya sendiri. Siapa yang berpegang pada suatu hari yang tertentu, ia melakukannya untuk Tuhan. Dan siapa makan, ia melakukannya untuk Tuhan, sebab ia mengucap syukur kepada Allah. Dan siapa tidak makan, ia melakukannya untuk Tuhan, dan ia juga mengucap syukur kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun di antara kita yang hidup untuk dirinya sendiri, dan tidak ada seorangpun yang mati untuk dirinya sendiri. Sebab jika kita hidup, kita hidup untuk Tuhan, dan jika kita mati, kita mati untuk Tuhan. Jadi baik hidup atau mati, kita adalah milik Tuhan. Sebab untuk itulah Kristus telah mati dan hidup kembali, supaya Ia menjadi Tuhan, baik atas orang-orang mati, maupun atas orang-orang hidup. Tetapi engkau, mengapakah engkau menghakimi saudaramu? Atau mengapakah engkau menghina saudaramu? Sebab kita semua harus menghadap takhta pengadilan Allah. Karena ada tertulis: “Demi Aku hidup, demikianlah firman Tuhan, semua orang akan bertekuk lutut di hadapan-Ku dan semua orang akan memuliakan Allah.” Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah. Karena itu janganlah kita saling menghakimi lagi! Tetapi lebih baik kamu menganut pandangan ini: Jangan kita membuat saudara kita jatuh atau tersandung! Aku tahu dan yakin dalam Tuhan Yesus, bahwa tidak ada sesuatu yang najis dari dirinya sendiri. Hanya bagi orang yang beranggapan, bahwa sesuatu adalah najis, bagi orang itulah sesuatu itu najis.

Rom.14:1-14

Eksposisi Surat Roma (40)

Accept one another in disputable matters…” (Rom.14:1)

Kita masuk kepada satu bagian yang penting dimana Paulus berusaha dengan firman Tuhan ini bagaimana merangkul begitu banyak orang yang sudah menjadi jemaat dengan latar belakang budaya yang berbeda, dengan tradisi yang mengikat mereka dari kecil, dengan persepsi yang sudah berbeda itu, sekarang disatukan dengan iman yang sama masuk ke dalam Gereja. Maka tidak bisa dihindarkan, orang mungkin bisa memilih sesuai dengan preference masing-masing dan pilihan itu kadang-kadang berbeda satu dengan yang lain. Orang yang dewasa memiliki tulang punggung yang kuat sehingga pendiriannya ada tetapi memiliki kelapangan hati yang lembut bisa merangkul orang. Maka firman Tuhan ini boleh sekali lagi memberikan kekuatan pencerahan kepada kita mulai dengan kalimat, “Terimalah orang yang lemah yang berbeda denganmu…” Ada sedikit perbedaan penterjemahan bahasa Indonesia dengan versi bahasa Inggris terhadap ayat ini, maka bagi saya ada dua hal yang perlu kita klarifikasi. Di dalam bahasa Inggris muncul istilah ‘disputable matters.’ Mengapa kita harus menerima orang yang imannya lemah, yang memiliki pandangan yang berbeda denganmu? Karena itu adalah ‘disputable matters,’ memang hal-hal yang sepele yang diperdebatkan tidak perlu memiliki kepicikan di situ. Pendapat kita berbeda dengan pendapat orang lain tidak apa-apa karena hal-hal itu bukan merupakan prinsip yang mutlak. Yang kedua, kata yang dipakai di sini oleh Paulus adalah ‘weak faith,’ orang yang imannya lemah. Apa yang Paulus maksudkan di sini? Siapakah mereka yang disebut beriman lemah dalam konteks bagian ini? Iman yang lemah ini nampaknya mengacu kepada kelompok minoritas yang ada di dalam jemaat di Roma, yang sangat besar sekali ini adalah kelompok orang Yahudi yang menjadi Kristen, banyak di antara mereka mungkin dikeluarkan dari komunitasnya. Sekarang mereka masuk ke dalam komunitas Gereja berbakti dengan ragam yang berbeda, ada orang Yunani dan bangsa-bangsa yang lain, dan mungkin terjadi ketidak-harmonisan di situ. Maka Paulus mengatakan mari kita melihat Gereja Tuhan dengan keperbedaan ini merangkul dan mengasihi satu dengan yang lain.

Di dalam perjalanan sejarah bangsa Yahudi sdr perlu memperhatikan beberapa hal. Yang pertama di dalam hukum Taurat, sdr akan menemukan Tuhan tidak melarang bangsa Yahudi untuk makan daging. Di dalam Im.11 Tuhan hanya melarang dua hal berkaitan dengan jenis daging, yaitu yang pertama Tuhan melarang mereka memakan jenis daging tertentu. Lalu yang kedua, Tuhan melarang makan daging yang masih ada darahnya. Tetapi di dalam perkembangan selanjutnya bagaimana society bertumbuh dan berkembang maka mereka yang dulunya adalah masyarakat petani atau peternak yang potong daging sendiri, setelah terjadi urbanisasi dan perkembangan kota, sekarang mereka harus membeli daging di pasar. Maka di sini terjadi problem, banyak orang Yahudi akhirnya tidak makan daging lagi sebab bertanya-tanya apakah daging itu kosher atau tidak di dalam penanganannya, sehingga banyak orang Yahudi mengambil sikap seperti Daniel yang tidak mau ‘menajiskan dirinya’ dengan tidak mau makan daging di depan publik (Dan.1:8). Maka di sini saya percaya orang Yahudi yang sudah menjadi Kristen di sini tetap memegang tradisi Yahudi yang kuat dan tidak bisa rubah. Maka pada waktu berkumpul di tengah kebaktian ada jemaat yang lain membawa masakan daging, mereka mulai bertanya-tanya dan menolak makan, akhirnya terjadi perbedaan sikap. Mungkin ada sebagian orang Yahudi Kristen yang makan saja, tetapi ada sebagian lagi yang tidak makan maka di antara mereka terjadi perbedaan pendapat. Yang tidak makan mempertanyakan sikap mereka yang makan, yang makan berdebat bahwa sikap mereka tidak apa-apa. Kira-kira itu latar belakang dari bagian Rom.14 ini.

Saya akan jelaskan mengenai istilah ‘iman yang lemah’ ini. Paulus memakai dua istilah lain berkaitan dengan kondisi iman, yaitu ‘iman yang kandas’ dan ‘iman yang menyimpang.’ Dalam 1 Tim.1:18 Paulus menghakimi dan menilai Himeneus dan Aleksander sudah sampai kepada kondisi iman yang kandas (shipwreck faith). Saya beranggapan ‘iman yang kandas’ di sini berbeda dengan ‘iman yang lemah.’ Iman yang kandas berarti orang itu sesungguhnya hanya mengenal ‘half truth’ seperti Himeneus dan Aleksander akhirnya imannya menjadi iman yang salah, tidak pure dan tidak murni. Apakah orang ini orang Kristen yang sungguh-sungguh? Bagi saya, tidak. Sebagian dari kepercayaannya seolah-olah Kristen tetapi sebagian dari kepercayaannya adalah tidak murni adanya. Maka Paulus membedakan, orang ini bukan imannya lemah tetapi yang imannya kandas. Kandas di sini bukan dalam pengertian sampai di tengah jalan imannya berhenti tetapi tidak mencapai kemurnian iman yang sebenarnya. Yang kedua istilah yang Paulus pakai adalah ‘iman yang menyimpang’ di dalam 2 Tim.2:14-19. Dengan memakai istilah ‘imannya lemah’ berarti Paulus sadar iman orang itu benar. Dengan memakai istilah ‘imannya kandas’ jelas Paulus tahu orang itu imannya ‘half truth.’ Dengan memakai istilah ‘imannya menyimpang’ dengan sendirinya jelas menunjukkan imannya tidak benar adanya. Maka dengan demikian ‘imannya lemah’ tidak boleh kita kategorikan sebagai orang-orang bidat di dalam Kekristenan. Lemah tetap direksi dari imannya benar, cuma kekuatan dia memegang iman itu yang tidak kuat. Iman orang itu lemah karena beberapa hal. Pertama, jelas pasti ini adalah orang-orang Kristen baru menjadi anak Tuhan, yang mungkin pengetahuan dan pengenalannya akan firman Tuhan belum comprehensive. Kedua, ini adalah orang-orang Kristen yang datang dari pendidikan keluarga yang strict yang sangat berbeda dengan pendidikan yang diberikan oleh masyarakat Kekristenan. Ketiga, kita bisa melihat orang-orang ini datang dari budaya yang berbeda, sekarang menjadi Kristen. Berbeda dengan iman yang kandas dan iman yang menyimpang, kata Paulus, kepada orang yang imannya lemah kita tidak boleh menghakimi. Kepada orang yang imannya lemah kita belajar tutup mulut tidak boleh menghina orang seperti itu. Tetapi orang yang imannya menyimpang dan orang yang imannya kandas yang merusak Kekristenan, yang sudah dikasih tahu tidak mau berubah, Paulus tidak tedeng aling-aling menyebutkan namanya dan mengkritik mereka. Iman dari Himeneus, Filetus dan Aleksander yang sudah menyimpang, dengan terus-terang Paulus mengingatkan Timotius untuk hati-hati terhadap orang-orang yang seperti ini.

Gampang sekali dua pihak ini berada di dalam posisi yang salah. Orang yang imannya lemah tidak berarti dia lebih rohani daripada orang yang imannya kuat karena kalau sdr baca di Rom.14 ini terjadi perang mulut di antara mereka. Yang imannya kuat menghina, yang imannya lemah menghakimi saudara seiman yang lain. Orang yang imannya lemah tidak boleh tetap tinggal di dalam keadaannya seperti itu. Orang imannya lemah karena dia masih belum tahu, tetapi kalau sudah diberi tahu dan diajar membuat dia berubah dan bertumbuh, kita bersyukur kepada Tuhan. Tetapi kalau orang itu belum tahu dan mendapatkan pengajaran dan tidak mau berubah, kita lihat iman seperti itu bisa mendatangkan kebahayaan. Hal ini terjadi dan bisa kita lihat di dalam surat Paulus kepada Timotius. Setelah sekian lama beberapa orang itu mengajar akhirnya terjadi penyimpangan. Dalam 1 Tim.4:3-5 Paulus tulis, “mereka melarang orang kawin dan melarang orang makan…” Telah terjadi perubahan di sini. Orang yang imannya lemah bisa karena preference kebudayaan, bisa karena pemahamannya belum comprehensive mengerti mengenai teologi Kristen dengan benar. Apa yang jelas dilarang di dalam hukum Taurat harus dilihat secara keseluruhan, karena dari sikap Paulus jelas dalam Rom.14:14 dia mengatakan sikapnya, ”…tidak ad a suatupun yang najis pada dirinya sendiri.” Paulus punya sikap yang jelas, tidak ada satupun yang Tuhan ciptakan itu najis pada dirinya sendiri. Tinggal bagaimana pemahaman ini bisa ditampung oleh orang yang membaca Alkitab secara keseluruhan. ‘Kalau Tuhan sudah jelas melarang di dalam hukum Taurat, lalu kenapa larangan itu tidak berlaku lagi sekarang? Bukankah artinya Tuhan berubah-ubah?’ Kalau mereka mengajukan pertanyaan seperti ini, baru kita mengajar mereka untuk mengerti firman Tuhan, mengapa jaman dahulu Tuhan melarang makan daging tertentu karena ada beberapa konteks yang perlu kita mengerti. Pertama, waktu itu bangsa Israel sedang di dalam perjalanan keluar dari padang pasir, memerlukan diet tertentu yang penting. Kedua, larangan ini memiliki fungsi menunjukkan keunikan mereka sebagai umat Tuhan yang berbeda dengan bangsa lain. Bagaimana bedanya? Maka Tuhan perlu memberikan perbedaan bukan saja dari cara ibadah yang berbeda tetapi kebudayaan dan kebiasaan yang berbeda sehingga orang luar tahu ini adalah umat Tuhan. Tetapi begitu sampai di PB cara Tuhan terhadap umatNya tidak lagi seperti di PL, bukan berkumpul menjadi satu ‘ghetto’ tetapi Tuhan sebar ke seluruh dunia untuk menyampaikan Injil. Itu sebab kita melihat kenapa Tuhan memberikan pengertian yang lebih dalam kepada kita. Paulus memberikan prinsip terakhir kenapa semua daging itu tidak najis, sebab Tuhanlah yang menciptakan segala sesuatu dan kembali kepada kitab Kejadian 1-2 setelah Allah selesai menciptakan segala sesuatu, keluar kalimat ”…dilihatNya segala sesuatu itu baik adanya…” Jadi orang Kristen sekarang bolehkah makan semuanya? Jawabannya, boleh. Makan saja.

Tetapi apa yang terjadi di dalam Rom.14 ini? Terjadi situasi, saya dari latar belakang orang Yahudi Kristen sulit sekali makan babi, lalu diundang makan oleh orang Yunani Kristen, bagaimana? Tidak apa kalau engkau masih tidak bisa makan. Tetapi kalau sesudah itu lalu bikin kelompok dan menetapkan orang Kristen tidak boleh makan babi, situasi sudah berubah. Kalau sebelumnya sikap tidak mau makan itu adalah preference seseorang karena pemahamannya belum jelas, setelah diajar dengan konsep kebenaran firman Tuhan makin tidak mau terima dan hanya mau sesuai dengan yang dia mau, ini yang terjadi di dalam 1 Tim.4:3-5 mereka menetapkan hidup yang suci adalah hidup tanpa menikah dan hanya makan sayur-sayuran saja. Padahal di dalam surat Korintus Paulus bilang kalau seseorang merasa bisa melayani dengan lebih maksimal dengan tanpa menikah, it’s good for him. Kata Paulus, I wish, saya rindu setiap orang yang melayani hidup seperti aku yang tidak menikah. Kenapa? Karena tidak menikah itu banyak keuntungannya. Dia bisa pergi kemana-mana tanpa perlu memikirkan anak isteri, dsb. Tetapi dia jelas tidak menjadikan itu sebagai perintah/command. Namun kalau akhirnya ada orang dengan jelas melarang orang lain untuk tidak menikah, itu sudah kebablasan mengajarkan iman yang salah. Dengan demikian kita harus teliti peka melihat hal ini. Paulus memberikan indikasi bahwa orang itu imannya tidak boleh tetap lemah di Rom.14:19, dia harus bertumbuh, tidak boleh stay dengan imannya yang lemah. Tetapi di situ Paulus memberikan beberapa warning. Hati-hati jangan sampai akhirnya kamu saling menjatuhkan, hati-hati kita kurang lapang menampung orang yang berbeda pendapat dengan kita, akhirnya kita justru tidak membuat dia lebih bertumbuh malah mungkin kita bisa menjatuhkan dan melemahkan imannya. Firman Tuhan tidak menuntut kita memiliki prinsip yang seragam tetapi pada waktu kita berbeda bagaimana kita bisa menerima satu dengan yang lain. Perbedaan ini harus bukan yang bersifat prinsipil tetapi di dalam ‘disputable matters.’ Jadi kita tidak boleh ‘cincay’ dengan doktrin Allah Tritunggal. Kita tidak boleh bermain-main dengan Pengakuan Iman Rasuli yang merupakan prinsip yang mutlak dari iman kita. Yang tidak sama dengan itu jelas kita katakan ‘you are not in the pure faith of Christianity.’ Tetapi banyak hal di dalam hidup kita Alkitab tidak bicara dengan jelas, tidak merupakan perintah, maka jangan dimutlakkan. Tidak mutlak tidak berarti sdr tidak punya prinsip.

Dalam hal ini saya mengajak sdr melihat ada perbedaan istilah yang Alkitab pakai, yaitu ada yang jelas Tuhan perintahkan (command), ada yang jelas Tuhan larang (prohibit), ada yang dikatakan sebagai nasehat (counsel)dan ada yang dikatakan dalam kategori Tuhan puji (praise)karena seseorang melakukan sesuatu yang ‘ekstra’ daripada yang Tuhan perintahkan. Gal.6:10 ini merupakan satu ayat yang penting yang mengarahkan prinsip etika kita. “Karena itu selama masih ada kesempatan baiklah kita berbuat baik kepada semua orang, terutama kepada saudara seiman.” Firman Tuhan memberi perintah kepada setiap kita untuk berbuat baik kepada semua orang tetapi perintah ini bisa kita penuhi bergantung kepada dua hal. Yang pertama, kalau kamu ada kesempatan. Yang kedua bergantung kepada aspek yang saya sebut sebagai kedekatan (proximity). Maka waktu firman Tuhan memerintahkan ‘berbuat baiklah kepada semua orang,’ tetapi kesempatan tidak ada, resources tidak banyak, maka bantulah orang yang paling dekat terlebih dahulu yaitu orang-orang yang seiman. Tidak mampu membantu orang-orang seiman, tarik lebih dekat lagi, bolehkah saya hanya menolong, membantu, berbuat baik kepada orang-orang segerejaku? Boleh. Apakah saya sudah melaksanakan perintah Tuhan di situ? Sudah. Selanjutnya kalau saya masih belum punya kemampuan dan resources, kita tarik lebih dekat lagi, bolehkah saya hanya bisa sanggup membantu uang sekolah dari anak pamanku? Boleh. Sudahkah saya melaksanakan perintah Tuhan? Sudah. Selama ada kesempatan, kata Paulus, berbuat baiklah kepada semua orang, namun lakukanlah terutama kepada saudara seiman. Jadi saya punya sebagian, saya lihat papa mama dan adik memerlukan, maka saya bantu mereka, ternyata setelah bantu mereka saya masih punya kelebihan maka saya bantu orang segerejaku, lalu setelah saya bantu ternyata masih ada kelebihan maka saya bantu lebih luas lagi. Demikian juga dengan Gereja, ada yang mungkin tidak punya misionari yang diutus keluar, kita tidak boleh mengatakan Gereja itu tidak menjalankan pelayanan misi sebab mungkin kesempatan tidak ada dan resources mungkin kurang. Tetapi kalau Gereja itu besar dan mampu dan sudah memiliki pelayanan yang baik dan cukup untuk diri sendiri, pakai prinsip ini, Tuhan inginkan kita melakukan kepada pelayanan di luar.

Yang kedua, bicara mengenai larangan (prohibition), Alkitab berkata, jangan mencuri, jangan membunuh, jangan berjinah, dsb itu bagian dari perintah Tuhan yang bersifat larangan. Itu bersifat mutlak, bersifat universal, dimanapun kita pergi satu iotapun kita tidak boleh melanggarnya. Selanjutnya Tuhan Yesus mengatakan “Kamu telah mendengar yang difirmankan kepada nenek moyangmu, ‘jangan membunuh,’ tetapi Aku berkata kepadamu barangsiapa marah terhadap saudaranya dia harus dihukum…” (Mat.5:21-28). Ini adalah contoh firman Tuhan yang bersifat larangan.

Yang ketiga, saya membedakan antara firman Tuhan yang bersifat perintah (command) dan nasehat (counsel). Ini hal yang sangat penting sekali. Di dalam 1 Kor.7 kita akan melihat Paulus dengan sangat jelas membedakan dua hal ini. Di ayat 10 Paulus menegaskan bahwa Tuhan Yesus memberi perintah kepada semua orang Kristen untuk tidak bercerai. Tetapi pada waktu masuk kepada kasus selanjutnya di ayat 25, cara Paulus berbeda. “Sekarang untuk para gadis, terhadap mereka aku tidak mendapat perintah dari Tuhan tetapi aku memberikan pendapatku…” Lalu di ayat 40 Paulus memakai istilah yang sama untuk kasus janda yang sudah tua untuk tidak menikah lagi ”…menurut pendapatku lebih berbahagia kalau dia tidak menikah lagi…” Namun kalau akhirnya janda itu tetap mau menikah, apakah dia sudah berdosa melanggar firman Tuhan? Jawabannya tidak, karena ini adalah pendapat dari Paulus. Paulus sendiri sebagai hamba Tuhan tidak menjadi seorang hamba Tuhan yang mengatur dan memaksa orang untuk mematuhi dia. Dengan begitu teliti dia memberikan prinsip firman Tuhan ini. Kenapa ada bedanya antara command dan counsel? Karena counsel tidak masuk ke dalam perintah Tuhan sebab itu masuk ke dalam wilayah yang kita sebut sebagai yang tidak mutlak dan bebas. Maka sampai di sini mari kita lihat apa itu ‘disputable matters’ sehingga kita bisa menghargai satu dengan yang lain karena ini bukan wilayah perintah melainkan ini masuk ke dalam wilayah kebebasan orang di hadapan Tuhan, dan mungkin pilihan yang diambil berbeda dengan preference sdr, please jangan menghakimi orang itu dan please jangan menghina keputusan orang itu karena itu masuk ke dalam wilayah kebebasan dia. Memang harus kita akui sampai di sini kita akan menemukan banyak hal yang tidak gampang, bukan? Tetapi sebaliknya karena ini berada di dalam wilayah kebebasan, tidak berarti kita boleh sembarangan karena Paulus memberikan dua prinsip di dalam Rom.14:6-8 yaitu prinsip yang pertama, semua yang kita lakukan, tidak ada aspek di dalam hidup dan mati yang tidak kita lakukan untuk Tuhan. Prinsip yang kedua, diulang dua kali di dalam ayat ini yaitu kata ‘observe.’ Berarti waktu sdr mengambil satu pilihan, pikir baik-baik is it worth of living or not? Ada gereja-gereja tertentu di Indonesia, saya pernah diundang dan bertemu dengan pendetanya di ruang konsistori sambil dia asyik merokok. Bagaimana? Bolehkah orang Kristen merokok? Lalu ada yang bilang tidak boleh minum anggur, ada yang bilang boleh asal jangan sampai mabuk. Tetapi ada yang minum sedikit sudah mabuk dan ada yang sudah berapa botol masih tidak apa-apa, lalu bagaimana? Semua ini bisa mendatangkan alis kita naik separuh. Maka dua hal ini menjadi prinsip kita, when you choose it, observe carefully is it worth of living? Jadi tidak boleh kita sembarangan karena merasa itu wilayah kebebasan kita. Waktu kita mau melakukan ini, mengenakan ini, bersikap ini, observe baik-baik. Dan yang kedua, apapun yang engkau lakukan waktu sdr ambil keputusan mau hidup bagaimana, lakukanlah itu untuk Tuhan. Mau ambil keputusan untuk melayani Tuhan, lakukan itu untuk Tuhan dengan sukacita. Masing-masing orang dengan keputusannya bagi Tuhan. Sebagai anak Tuhan kita belajar bertanggung jawab supaya hidup kita tidak menjadi sandungan dan merugikan iman orang lain. Biar kita mendapat bijaksana dari Tuhan untuk memilah mana yang benar dan salah, mana yang mutlak dan tidak mutlak, mana yang penting dan tidak penting di dalam hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

22 Agustus 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: