Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Panggilan Menjadi Juru Damai

Panggilan Menjadi Juru Damai

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Rom.12:17-21

Eksposisi Surat Roma (36)

Banyak orang berkata, bicara mengenai tema ‘Pengampunan’ adalah pembicaraan yang gampang tetapi pada waktu dilaksanakan itu merupakan kesulitan di dalam hidup kita. Tetapi saya ingin mengatakan, membicarakan tema ‘Pengampunan’ juga bukan merupakan hal yang gampang dan kita juga harus mengakui secara jujur bahwa tindakan kita ingin mengampuni orang itu merupakan hal yang tidak mudah terjadi di dalam hidup kita. Kadang-kadang kita guilty sendiri, kadang-kadang kita bingung sendiri, dalam hati dan dalam tutur kata kita mengatakan kita sudah mengampuni orang itu tetapi mengapa di dalam pikiran dan perasaan kita masih merasa ada sakit dan perasaan hurt? Apakah dengan tidak melupakan perasaan dan pengalaman pahit itu berarti saya belum mengampuni dia? Tetapi jika kita memikirkan seperti itu, apakah ada kemungkinan bahwa memang kita bisa menghapus memori yang ada di dalam hati kita?

Dari kecil kita akui hanya dua hal yang tidak akan kita lupakan apa yang terjadi di dalam hidup kita, yaitu peristiwa yang sungguh-sungguh berkesan menyenangkan hati kita dan peristiwa yang menyedihkan dan trauma yang terjadi di dalam hidup kita seringkali muncul di dalam memori kita sedangkan peristiwa yang biasa-biasa saja di dalam memori kita tersimpan di file yang paling belakang. Pada waktu itu terjadi kita bisa guilty sendiri. Sebagai anak Tuhan kita dipanggil oleh Tuhan menjadi orang yang mengampuni tetapi kadang-kadang kita mengingat kembali, kita rasa hurt akan hal itu. Bagaimana kita memahami akan pengampunan? Itu sebab saya rasa ini bukan satu pembicaraan yang gampang.

Minggu lalu saya sudah memberikan beberapa prinsip yang penting mengenai pengampunan. Pengampunan orang Kristen adalah pengampunan yang didasarkan sebab Allah terlebih dahulu sudah mengampuni kita. Memahami pengampunan Allah ini penting sekali. Sikap pengampunan Allah, attitude Allah mengampuni itu bersifat graciously, penuh dengan kemurahan, tetapi natur dari pengampunan itu tidak boleh dipahami bersifat murahan. Maka sikap orang Kristen yang mengampuni adalah sikap yang penuh dengan kemurahan menawarkan pengampunan itu kepada orang, tetapi kita tidak boleh memahami arti pengampunan itu dengan secara murahan. Kita tidak mungkin bisa mengatakan bahwa kesalahan itu bisa dihapus begitu saja. Itu sebab ada yang namanya justice, keadilan. Keadilan itu tidak berarti kita ingin membalas orang itu tetapi keadilan itu berarti kesalahan yang terjadi harus mendapatkan justice yang sepatutnya. Selain itu kita juga harus memahami bahwa pengampunan terjadi tidak berarti otomatis konsekuensi terhadap kesalahan itu akan hilang dengan begitu saja. Apakah kita bisa memikirkan bahwa salah satu konsekuensi dari kesalahan, selain orang itu harus menanggung kesalahan yang dilakukannya tetapi juga orang yang ditimpa kesalahan itu juga tidak bisa melupakan, itu merupakan salah satu konsekuensi yang kita hadapi. Tetapi adanya konsekuensi tidak berarti kita belum mengampuni orang. Semua ini saya harap boleh menjadi sesuatu hal yang coba kita pikirkan pelan-pelan dan mendalam bagaimana kita melihat firman Tuhan ini.

Hari ini saya ajak sdr melihat kalimat yang sangat menarik dari rasul Paulus di dalam Rom.12:18, ”…sedapat-dapatnya jikalau itu bergantung kepadamu, hiduplah di dalam perdamaian dengan semua orang…” sedapat-dapatnya kalau itu bergantung kepadamu, marilah menjadi ‘peace-maker’ di dalam setiap relasi yang ada di dalam hidup kita. “Sedapat- dapatnya” berarti bisa jadi tidak dapat. Di sini Paulus sedang masuk ke dalam satu wilayah yang merupakan pilihan kita. Ada free choice, ada keputusan yang bisa kita ambil di situ. Saya membagi ayat 18-19 ke dalam dua bagian, di ayat 18 adalah wilayah saya di dalam pengampunan dan peace-making itu, tetapi di ayat 19 Paulus menarik aspek pengampunan itu tidak lagi berkaitan dengan saya tetapi berkaitan dengan keadilan Tuhan. Jadi ada yang di wilayah saya dan ada yang di wilayah Tuhan. Bagaimana saya berespons terhadap orang yang bersalah kepada saya? Bagaimana saya berespons kalau orang itu tidak pernah mengaku kesalahan atau offensive yang dia lakukan kepada saya? Ini merupakan pertanyaan- pertanyaan yang penting yang pasti keluar di dalam hati kita ketika kita berbicara mengenai pengampunan. Mengapa kita merasa sulit sekali untuk mengampuni orang? Sebab kita selalu mengambil sikap kita adalah korban, kita adalah victim, kita adalah pihak yang dirugikan, kita berada di dalam wilayah pasif. Itu sebab kita merasa sulit untuk mengampuni orang. Kita sudah terjebak di dalam suatu fakta realita seperti itu, kita tidak bisa apa-apa. Saya ingin mengajak sdr memperhatikan kalimat yang sangat menarik dari rasul Paulus ini, “sedapat-dapatnya…” artinya pada waktu kita berada di dalam pilihan, kecenderungan hati kita untuk menyatakan kebencian atau menyatakan peace, Paulus minta cenderungkanlah hati kita untuk menciptakan peace itu. “Sedapat-dapatnya,” berarti memang itu berada di dalam kebebasan kita, kemungkinan untuk kita mengambil keputusan itu, Paulus bilang sebagai orang Kristen ketika kita berespons kepada kesalahan orang sedapat-dapatnya kita menjadi orang yang membawa damai. Apakah setiap kesalahan atau tindakan offensive yang terjadi di dalam hidup kita harus kita responi dengan menegur orang itu? Bukankah di dalam Mat.18:15 Tuhan Yesus berkata, “Apabila saudaramu berbuat salah, tegurlah dia di bawah empat mata…”? Apakah setiap kali kita merasa orang melakukan yang salah kepada kita haruskah kita berespons dan bereaksi seperti itu? Paulus bilang, tidak. Cobalah, sedapat-dapatnya kalau itu berada di dalam pilihanmu, ambillah pilihan peace-making; ambillah pilihan untuk menyatakan perdamaian kepada orang. Ini satu bagian yang sangat penting sekali. Alkitab bicara pada waktu kita melakukan penilaian, ada dua macam: penilaian yang menegur kesalahan, penilaian yang membuat menjadi lebih baik. Saya percaya ini adalah panggilan yang Tuhan minta, pada waktu kita melakukan peneguran supaya orang itu menjadi lebih baik. Kita tidak boleh melakukan peneguran karena kita kesal, kita marah dan kita jengkel. Pada waktu kita kesal, kita marah, kita jengkel, itu normal, sebab seseorang sudah melakukan sesuatu yang offended kita. Tetapi bagaimana kita bereaksi dengan tepat di situ? Haruskah kita bereaksi menegurnya? Kadang- kadang akhirnya hasil yang terjadi tidak seperti yang kita harapkan. Kita bilang, ”…maksud saya baik, saya tegur supaya dia berubah tetapi yang terjadi malah ribut.” Buat saya, kalau ada hal- hal yang salah sedikit terutama dari pasangan kita, lebih baik tutup mata sedikit. Sebab begitu kita tegur mungkin kita sedang memulai pertempuran. Sekarang kita masuk ke dalam aspek: apakah setiap hal offended terjadi di dalam hidup kita, kita harus bersikap konfrontasikah? Saya ajak kita melihat tiga ayat menjadi wisdom yang menarik sekali yang membantu decision making kita bagaimana di dalam satu moment bersikap terhadap sesuatu yang kita rasa merugikan kita atau terjadi kesalahan dimana orang melakukan sesuatu yang tidak baik kepada kita atau terjadi perbantahan di tengah kita. Kita terima fakta itu salah, kita tahu itu pelanggaran tetapi masih berada di dalam wilayah kita memutuskan bagaimana harus bersikap dan berespons. “Sedapat-dapatnya,” berarti maksud Paulus adalah sdr bagaimana mengambil langkah meresponinya, kalau itu masih bergantung kepada diri kita, berdamailah dengan orang yang bersalah kepada kita. Ams.17:14 ”…memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air, jadi undurlah sebelum perbantahan mulai.” To begin a quarrel is a leak in a dam. Ams.17:9 nanti menjadi bagian yang mirip dengan 1 Pet.4:8 ”…siapa menutupi pelanggaran mengejar kasih, tetapi siapa yang membangkitkan perkara menceraikan sahabat.” Ams.19:11 “akal budi membuat seseorang panjang sabar dan orang itu dipuji karena memaafkan pelanggaran.” Amsal tidak menolak fakta ini adalah tindakan offence, itu pelanggaran, you dirugikan, itu adalah hal yang salah dikerjakan kepadamu, tetapi bagaimana kita bersikap terhadapnya? Amsal memberi commonsense: slow in anger and you will find your honour if you overlook offence to you. Dalam 1 Pet.4:8 Petrus mengatakan kasih menutupi banyak sekali dosa. Kasih bukan saja meng-confront, kasih bukan saja membuka, kasih bukan saja memberes, tetapi ada satu bagian dimana sometime kasih itu juga menutupi kesalahan. Coba kita melihat juga aspek ini. Maka Paulus memakai kata ‘sedapat-dapatnya,’ artinya Paulus bukan mengatakan setiap kali kita harus seperti ini. ‘Sedapat-dapatnya’ tidak berarti perintah yang wajib tetapi merupakan satu panggilan bijaksana yang perlu kita pertimbangkan. It is still your free choice, just please consider about it. Lebih baik cenderungkan hati kita untuk menjadi peace-maker. Panggilan dari firman Tuhan ini adalah mengajar bagaimana kita berespons akan sesuatu yang salah dilakukan kepada kita, termasuk berespons kepada orang yang tidak pernah mengaku bersalah kepada kita, minggu depan saya akan bahas mengenai hal itu. Haruskah kita menegur? Haruskah kita terus bereaksi? Haruskah kita melakukan sesuatu ‘membereskan’ yang salah itu supaya lebih baik ataukah kita belajar mengambil sikap seperti yang dikatakan Amsal ini, lebih baik tidak usah memulai perbantahan. Sebelum mulai, ambillah sikap mundur. Apakah dengan mengambil sikap mundur berarti kita menjadi orang Kristen yang kompromis? Apakah dengan saya menutup mata berarti saya menjadi orang yang relatif? Bukankah yang salah harus kita tegur dan kasih tahu akan kesalahannya supaya menjadi baik? Wisdom dari Amsal mengatakan orang yang tidak cepat marah akan mendapatkan kehormatan kalau dia belajar ‘overlook’ terhadap offence itu. Paulus bilang ‘sedapat-dapatnya,’ membuat saya memikirkan dalam-dalam akan hal ini, Paulus mengingatkan jemaat kadang-kadang you berada di dalam situasi orang itu terus berbuat salah kepadamu, mendatangkan hal-hal yang sangat menyakitkan kepadamu. Dalam 2 Tim.4:14- 15 Paulus bilang, Aleksander tukang tembaga itu telah banyak berbuat kejahatan terhadap Paulus, Tuhan akan membalasnya menurut perbuatannya. Paulus mengingatkan Timotius, kiranya engkau juga waspada terhadap orang seperti ini. Paulus dalam posisi yang pasif dalam pengertian dia terus dikerjain oleh Aleksander. Aleksander secara aktif melakukan begitu banyak kejahatan kepada Paulus, dan dalam hal ini Paulus tidak membalasnya tetapi dia mengatakan kalimat yang bagi saya sangat indah dan mengajarkan satu prinsip pengampunan tidak bersifat meng-eliminir kesalahan. Maka dia bilang, I just bring kejahatan dia kepada justice Tuhan. Lalu yang kedua dia minta kepada Timotius kalau bisa menghindarlah dari orang seperti ini. Ini sikap Paulus dan panggilan Paulus kepada kita yang tidak punya pilihan menjadi peace-making sebab orang itu secara aktif mendatangkan offensive dan perbantahan kepada kita. Tetapi adakalanya offensive, hal-hal yang tidak baik dan hal-hal yang merugikan terjadi kepada kita, di situ kita masih memiliki kemungkinan berespons, bolehkah kita coba berpikir mengambil respons just drop it. Itulah kasih, kata Petrus, yaitu tidak mengejar pelanggaran orang. Just overlook. Jangan mulai keributan dan perbantahan karena itu seperti mengorek bocor di atas dam air yang someday bisa jebol. Cara yang lebih baik adalah mundur. Mundur tidak berarti kita kompromi, mundur tidak berarti kita takut. Maju juga tidak berarti itu mendatangkan hal yang lebih baik. Ini panggilan Tuhan bagi kita untuk bagaimana sikap, attitude dan prilaku kita berelasi dengan orang dan kadang-kadang kita mungkin lebih bijaksana mengambil sikap tidak mengejar pelanggaran yang mungkin terjadi kepada kita. Ada beberapa prinsip yang saya pikir perlu kita pertimbangkan.

Pertama, sebelum kita maju konfrontir dengan orang itu, kita harus tanya baik-baik dulu apakah hal ini penting atau tidak? Memang standarnya subyektif sekali, menurut saya mungkin itu tidak penting tetapi bagi sdr penting. Tetapi ini bijaksana yang perlu kita pertimbangkan. Sikap Paulus waktu bicara mengenai perbedaan persepsi secara teologis atau dalam hal-hal yang ‘disputable’ dalam Rom.14:1 bilang, “Accept each other’s perspectives on disputable matters.” Artinya ada orang yang mungkin memiliki pendapat yang berbeda namun itu tidak penting sebab itu adalah ‘disputable matters,’ tidak terlalu penting diperdebatkan. Ada orang yang mau makan daging, ada yang tidak mau makan daging, ada yang begini-begitu, hal-hal itu tidak terlalu penting. You sikapnya berbeda, it is OK, kata Paulus. Pada waktu mungkin kita merasa terganggu atau ada orang offence kepada kita, sebelum kita maju, mungkin lebih baik kita menaruh prinsip ini: apakah ini memang hal yang sangat penting ataukah tidak terlalu penting? Lagi antri, tahu-tahu ada orang nyelip, perlukah kita ribut dengan dia? Itu sering terjadi di dalam hidup kita, bukan? Kita pikir, lho ini kan hak saya, saya sudah antri lama kok dia main nyelip saya? Bijaksana Amsal, belajar untuk mundur dan jangan memulai satu perbantahan. Dalam hal ini, pertimbangkanlah ini penting atau tidak penting. Kalau tidak penting, ya sudahlah, sedikit sabar.

Kedua, sebelum kita berkonfrontasi dengan orang itu kita mesti lihat orang itu melakukan offended kepada kita itu karena pola, kebiasaan, intention dari dia ataukah out of character? Ini mesti dipertimbangkan. Di atas mimbar saya juga tidak boleh terlalu cepat menegur orang yang datang terlambat. Telat kan bisa jadi karena parkir susah dapat, telat kan bisa jadi karena anak lagi sakit, dsb. Tetapi sdr juga harus koreksi diri kalau dalam 52 minggu telat melulu kan menjadi habit, bukan? Rasul Yakobus mengatakan, ”…sebab kita semua bersalah dalam banyak hal…” (Yak.3:2a). We stumbled in many ways, berarti bukan sesuatu yang habitual. Kalimat Yakobus ini penting sekali. Maksud Yakobus adalah kita semua kadang-kadang stumble, tidak ada orang yang jalan stumble melulu, bukan? Stumble itu adalah out of character. Dan in many ways, kadang-kadang kita slip sedikit, kita salah ngomong, tidak punya intention menyakiti orang, bikin hati orang terluka. Jangan langsung konfrontir, jangan langsung ribut, jangan simpan di hati akhirnya tidak datang kebaktian. You have a choice to overlook. You have a choice to step back. Waktu kita step back, waktu kita tidak mau ribut, justru di situlah kehormatan kita. Di Newcastle minggu kemarin, gara-gara tetangga pasang musik terlalu keras akhirnya ribut berakhir dengan penembakan. Bukankah hal seperti ini mendatangkan outcome yang menyedihkan? Namun hal-hal seperti ini akan terus terjadi di dalam hidup kita. Sebagai orang Kristen ini merupakan bijaksana yang baik untuk kita pegang, sebelum berespons kepada kesalahan offensive dan hal-hal yang tidak baik, sedapat-dapatnya jadi orang yang berdamai dulu.

Ketiga, walaupun kita tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya mungkin kita perlu sedikit sabar. Ada orang yang menyalib mobilmu, mungkin isterinya sudah hampir mau melahirkan sehingga harus cepat-cepat. Kita harus selalu bertanya apa gerangan yang terjadi di dalam hidup orang sehingga dia marah kepadamu di kantor karena mungkin di rumah habis dimarahi isterinya. Dia bereaksi iritate kepadamu mungkin karena dia lagi sentitif menghadapi tekanan dan problem yang berat. Sebelum kita bereaksi dan marah, kita mungkin lebih baik tanya what’s going on dengan kehidupan dia. Kadang-kadang mungkin kita rasa orang itu sudah ngomong kasar dan tidak baik kepada kita namun kita tidak mempersoalkan omongan dia dan sebaliknya menawarkan apa yang bisa kita bantu untuk dia, baru mungkin dia bisa cerita apa yang terjadi dalam hidup dia.

Keempat, sebelum berkonfrontasi dengan orang itu kita perlu minta nasehat dari orang lain tanpa bertujuan menjelek-jelekkan dia tetapi untuk menimbang pertimbangan sehingga kita tidak mudah untuk marah dan berespons bereaksi terhadap unpleasant things yang terjadi kepada kita.

Kelima, kita mesti tanya juga baik-baik, yang saya pikir benar apakah benar-benar saya yang benar? Itu merupakan hal yang penting sebab Tuhan Yesus memberikan prinsip sebelum kita menuding orang lain coba kita terlebih dulu koreksi diri sendiri. Mungkin kita justru marah dan bereaksi kepada orang itu bukan karena dia offensive kepada kita tetapi karena kita tersinggung dan sombong, kita yang terlalu sensitif terhadap persoalan yang terjadi.

Keenam, kalau orang itu salah, overlook dan drop dan mundur merupakan sikap yang baik karena kita tidak memulai pertengkaran. Kalau sudah ‘just drop it,’ tidak usah lagi cerita kepada orang lain. Itu akan memulai siklus yang baru dalam perbantahan. Just drop it, selesai, jangan dianggap merupakan sesuatu yang besar adanya. Ini adalah bagian dari decision making, bagian dari bijaksana, bagian dari Paulus mengatakan ‘waktu hal itu masih berada di dalam keputusan yang bisa engkau ambil, sedapat- dapatnya…’ Itu berarti berpulang kepada sikap dan pilihan kita. Tetapi jadi orang Kristen, kalau you harus pilih ribut atau tidak ribut dengan orang, pilihlah untuk peace-making. Dan pada waktu kita menanggung kesalahan orang lain, menutupi kesalahan orang lain, itu adalah bukti kasih kita, itu adalah bukti satu kehormatan satu kali kelak bagi hidup kita. Di dalam relasi dengan orang-orang di sekitar kita, kita menghadapi berbagai tantangan kesulitan, sebagai anak-anak Tuhan biar firman Tuhan selalu menjadi pedoman dan patokan yang memimpin dan mengarahkan hidup kita. Kita bersyukur karena firman Tuhan memanggil kita menjadi juru damai dalam setiap relasi yang ada. Orang mungkin terus ingin melakukan pertengkaran dengan kita, dan kadang-kadang kita tidak bisa memulihkan satu relasi dengan rekonsiliasi, namun pada waktu itu berada di dalam kemungkinan dan pilihan hidup kita, biar hati kita selalu menjadi orang yang memulai perdamaian. Kita tidak memulai perbantahan, kita belajar dengan besar hati menanggung ketidak-baikan terjadi di dalam hidup kita. Biar kita makin hari menjadi orang Kristen yang makin berbijaksana di dalam hidup kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

11 Juli  2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: