Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Pengampunan dan Pemeliharaan Allah

Pengampunan dan Pemeliharaan Allah

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Rom.12:17-21

Mazmur Asaf. Sesungguhnya Allah itu baik bagi mereka yang tulus hatinya, bagi mereka yang bersih hatinya. Tetapi aku, sedikit lagi maka kakiku terpeleset, nyaris aku tergelincir. Sebab aku cemburu kepada pembual-pembual, kalau aku melihat kemujuran orang-orang fasik. Sebab kesakitan tidak ada pada mereka, sehat dan gemuk tubuh mereka; mereka tidak mengalami kesusahan manusia, dan mereka tidak kena tulah seperti orang lain. Sebab itu mereka berkalungkan kecongkakan dan berpakaian kekerasan. Karena kegemukan, kesalahan mereka menyolok, hati mereka meluap-luap dengan sangkaan. Mereka menyindir dan mengata-ngatai dengan jahatnya, hal pemerasan dibicarakan mereka dengan tinggi hati. Mereka membuka mulut melawan langit, dan lidah mereka membual di bumi. Sebab itu orang-orang berbalik kepada mereka, mendapatkan mereka seperti air yang berlimpah-limpah. Dan mereka berkata: “Bagaimana Allah tahu hal itu, adakah pengetahuan pada Yang Mahatinggi?” Sesungguhnya, itulah orang-orang fasik: mereka menambah harta benda dan senang selamanya! Sia-sia sama sekali aku mempertahankan hati yang bersih, dan membasuh tanganku, tanda tak bersalah. Namun sepanjang hari aku kena tulah, dan kena hukum setiap pagi. Seandainya aku berkata: “Aku mau berkata-kata seperti itu,” maka sesungguhnya aku telah berkhianat kepada angkatan anak-anakmu. Tetapi ketika aku bermaksud untuk mengetahuinya, hal itu menjadi kesulitan di mataku, sampai aku masuk ke dalam tempat kudus Allah, dan memperhatikan kesudahan mereka. Sesungguhnya di tempat-tempat licin Kautaruh mereka, Kaujatuhkan mereka sehingga hancur. Betapa binasa mereka dalam sekejap mata, lenyap, habis oleh karena kedahsyatan! Seperti mimpi pada waktu terbangun, ya Tuhan, pada waktu terjaga, rupa mereka Kaupandang hina. Ketika hatiku merasa pahit dan buah pinggangku menusuk-nusuk rasanya, aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekat-Mu. Tetapi aku tetap di dekat-Mu; Engkau memegang tangan kananku. Dengan nasihat-Mu Engkau menuntun aku, dan kemudian Engkau mengangkat aku ke dalam kemuliaan. Siapa gerangan ada padaku di sorga selain Engkau? Selain Engkau tidak ada yang kuingini di bumi. Sekalipun dagingku dan hatiku habis lenyap, gunung batuku dan bagianku tetaplah Allah selama-lamanya. Sebab sesungguhnya, siapa yang jauh dari pada-Mu akan binasa; Kaubinasakan semua orang, yang berzinah dengan meninggalkan Engkau. Tetapi aku, aku suka dekat pada Allah; aku menaruh tempat perlindunganku pada Tuhan ALLAH, supaya dapat menceritakan segala pekerjaan-Nya.

Mzm.73

Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

Kej.50:20

 

Eksposisi Surat Roma (38)

Rom.12:17-21 merupakan ayat-ayat penting dari Paulus bicara mengenai respons orang Kristen mengenai pengampunan dan bagaimana kita menghadapi segala ketidak-baikan dari orang kepada kita. Bagaimana saya berespons dengan tindakan orang yang sudah bersalah kepada saya namun tidak pernah mau mengakui kesalahan itu, bahkan tidak pernah keluar kata maaf dari mulutnya dan kelakuannya tidak menunjukkan dia itu merasa bersalah terhadap kita? Itu merupakan fakta realita yang kadang-kadang kita alami dalam hidup kita dan respons yang umumnya terjadi adalah kita akan segera membalas kembali kepada orang itu karena itu akan membuat hati kita menjadi lega dan senang. Namun melalui Rom.12 ini Paulus memberikan paling tidak tiga prinsip yang penting. Pertama, jangan membalas kembali. Dengan kalimat itu firman Tuhan tidak berkata bahwa tindakan kesalahan orang memukul kita itu boleh kita hapus. Renspons yang kedua adalah berusaha justru melakukan yang baik kepadanya. Tujuannya, satu kali kelak kalau kita terus baik kepadanya, dia akan menjadi malu. Itu arti dari kata ‘menumpukkan bara api di atas kepalanya.’ Dalam tradisi kebudayaan Yunani kalau seseorang mau menyatakan perasaan malu dan humiliated dia akan menaruh bara api di atas kepalanya. Yang ketiga, Paulus tidak mengatakan tindakan jahat orang itu tidak memiliki konsekuensi tanggung jawab. Saya memakai ilustrasi tangan yang memukul kita itu kita dorong ke atas, hubungannya sekarang dengan Tuhan sendiri. Jangan membalasnya, tetapi serahkan kepada keadilan Tuhan, biar Tuhan yang membalas dengan keadilanNya. Pada waktu kita membalas sebagai manusia berdosa kita harus mengakui kadang-kadang revenge itu tidak pernah adil. Sekarang saya ingin masuk kepada point ke empat yang tidak ada di dalam Rom.12 ini, tetapi saya rasa perlu bagaimana respons orang Kristen terhadap kesalahan dan ketidak-baikan yang terjadi kepada dia. Dalam Rom.8:28 Paulus berkata bahwa Tuhan bekerja di dalam segala sesuatu mendatangkan kebaikan bagi orang yang mengasihi Dia. Yusuf berkata kepada saudara-saudaranya yang telah berbuat jahat kepada dia, “Engkau mereka-rekakan hal yang jahat kepadaku, engkau tidak baik kepadaku, engkau melakukan unfairness kepadaku, tetapi Allah merubahnya menjadi kebaikan” (Kej.50:20). Jadi kita lihat bagaimana pemeliharaan Tuhan, providensia Tuhan di dalam semua itu.

Bapa Gereja St. Augustinus berkata, pemeliharaan Allah itu sebagai tanah yang gembur untuk bisa mempertumbuhkan hidup yang penuh dengan kebajikan. Kita percaya Allah memelihara kita, bahkan melalui hal-hal yang pahit terjadi di dalam hidup kita. Biar kita menaklukkan diri kepada Tuhan,kita berserah kepadaNya. Saya berserah kepada Tuhan sebab saya tahu Tuhan bisa menjadikan yang tidak baik menjadi baik di dalam rencanaNya yang sekalipun mungkin waktu peristiwa itu terjadi pahit dan sakit di dalam hati kita, kita berada di dalam situasi bertanya-tanya, kadang-kadang kita marah, kadang-kadang kita kesal, kadang-kadang kita kecewa, kadang-kadang kita merasa tidak bisa menerima. Tetapi providensia Allah itu akan selalu kita responi dengan kita melihat ke belakang. Pada waktu kita melihat ke belakang barulah kita bisa bersyukur melihat dengan indah. Apakah hati kita tidak sakit dan sedih? Sdr coba lihat pergumulan Yusuf pada waktu dia bertemu dengan saudara-saudaranya. Betapa waktu itu dia menangis tersedu-sedu, jelas itu adalah kompleksitas perasaan hatinya. Ada marah, ada perasaan dendam, ada perasaan kangen, ada perasaan benci tercampur rindu, itu semua tercampur aduk. He must composed himself, he must control his bitterness, he must conquer what happened in his life. Sesudah selesai air mata keluar barulah dia bisa menyatakan dirinya kepada saudara-saudaranya. Melihat sekarang saudara-saudaranya begitu compang-camping seperti pengemis, dia menjadi iba sementara dia berpakaian jubah emas. Mau marah dan mau membalas, hati juga tidak tega. Tetapi bukan perasaan hati yang akhirnya menjadi solusi, melainkan ucapan yang keluar dari mulut Yusuf dalam Kej.50:20 yang menjadi fokus iman yang memimpin dia, karena dia percaya semua yang jahat terjadi di dalam hidupnya bisa dirubah oleh Tuhan menjadi kebaikan, bukan saja untuk hidupnya tetapi untuk memelihara hidup satu bangsa. Dia melihat ke belakang, kalau dia tidak pernah dijual oleh saudara-saudaranya mungkinkah dia bisa pergi ke Mesir. Mosaik demi mosaik terangkai di dalam peristiwa yang dia alami, dirangkai menjadi satu kalimat, Tuhan, Engkau menjadikannya indah bagi saya. St.Augustinus berkata dengan percaya kepada providensia Tuhan maka kita akan memiliki tiga sikap yang penting. Pertama, kita akan selalu hidup dengan rendah hati. Dalam Fil.2 Paulus mengingatkan jemaat bagaimana supaya mereka bisa mempertahankan satu hidup pelayanan dan hidup harmonis di antara jemaat dengan kalimat, ”…hendaklah masing-masing tidak memandang kepentingan diri sendiri dan merasa diri lebih utama daripada orang lain.” Belajar rendah hati demi untuk melihat kepentingan orang lain lebih dulu daripada kepentingan kita, karena kita tahu providensia Allah akan membuat kita bersikap seperti itu. Kedua, providensia Allah akan membuat hati kita penuh dengan iman dan bersandar kepada Tuhan. Salah satu kecenderungan yang paling tidak gampang kita lepaskan dari hidup kita adalah kecenderungan untuk mendapatkan jawaban dan solusi atas segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup kita karena kita ingin mengontrol hidup kita. Selama kita bisa mengontrol outcome atas apa yang terjadi di dalam hidup kita, kita tidak hidup di dalam kekuatiran. Tetapi pada waktu kita berada di dalam situasi yang tidak bisa kita atur dan kontrol, di situ hati kita akan gelisah dan kuatir, cepat-cepat ingin mendapatkan jalan keluarnya. Rasul Petrus mengatakan banyak orang akhirnya pergi meninggalkan Tuhan dan lari dari imannya sebab mereka tidak sabar menunggu janji Tuhan. Banyak orang Kristen bilang janji Tuhan itu kosong, katanya Tuhan akan segera datang tetapi sampai sekarang tidak ada tanda apa-apa. Maka Petrus bilang, jangan lupa hari Tuhan itu datang seperti maling. Tetapi satu harinya Tuhan kita sama seperti seribu tahun dan Tuhan tidak lalai menepati janjinya (2 Pet.3). Cuma karena kita yang terbatas oleh waktu, kita mau janji Tuhan itu segera terjadi. Kita ingin Tuhan kita panjang sabar, penuh dengan pemeliharaan, yang bekerja di dalam rangkaian waktu. Kita mau Tuhan kita seperti Superman yang bisa memutar balik bola dunia dan me-rewind hidup kita. Tidak demikian. Kita belajar beriman, kata St. Augustinus, kita belajar rendah hati dan kita belajar sabar. Kadang-kadang setelah lewat beberapa waktu barulah kita bisa melihat di tengah kepahitan yang terjadi kita menikmati pemeliharan Tuhan yang manis di situ.

Selanjutnya, apakah saya sudah mengampuni kalau saya tidak bisa melupakan? Kalau tidak mungkin lagi terjadi perbaikan hubungan dan rekonsiliasi, sudahkah saya mengampuni?

C.J. Mahanaim, seorang hamba Tuhan Reformed Baptist menulis satu artikel, banyak hal kita tidak mungkin bisa memprediksi hidup kita di depan. Kita bukan psychic octopus yang bisa menebak apa yang akan terjadi, namun paling tidak satu hal yang saya dapat prediksi dengan tepat adalah someday sdr pasti akan menghadapi conflict relational. Sebelum berangkat ke gereja mungkin tadi pagi sdr sudah ribut sama isteri atau suami soal pergi ke gereja atau tinggal di rumah. Di tengah jalan kita sudah konflik dengan orang-orang di sekitar kita. Itu sudah menjadi bukti kita tidak bisa terhindar dari konflik. Sebagai manusia berdosa yang hidup di dalam dunia yang sudah jatuh dalam dosa, konflik tidak dapat dihindarkan dan itu adalah fakta di dalam hidup kita. Konflik itu selalu berjalan bersama kita di dalam perjalanan masa depan kita dan mungkin sedang mengetuk pintu saat ini. Itu sebab kalau kita hidup di dalam dunia yang sempurna dan tidak ada dosa, saya percaya semua konflik tidak akan ada dan kita dengan mudah bisa menyelesaikan semua perbedaan yang ada di dalam hidup kita. Tetapi kita harus mengakui kadang-kadang pada waktu kita berada di dalam hubungan satu dengan yang lain, ada orang yang berbuat salah kepada kita ataupun kita tanpa sengaja juga berbuat salah kepada orang lain, sesuatu brokenness terjadi. Mungkinkah kita bisa lupa akan peristiwa itu? Kita tidak bisa lupa.

Miroslav Wolf seorang teolog dari Bosnia yang mengalami penganiayaan oleh orang-orang Serbia waktu terjadi konflik di negaranya, sebagian dari keluarganya ditangkap, disiksa dan dibunuh, dan diapun berkali-kali mengalami penangkapan, interogasi dan penyiksaan. Setelah ada kesempatan untuk meninggalkan negaranya, sekarang dia tinggal di Amerika menjadi profesor teologi dari Yale University. Di dalam bukunya “The End of Memory,” dia mengatakan, mungkinkah saya bisa menghilangkan memory nightmare atas penyiksaan yang saya alami? Dia tidak bisa lupa karena ada waktu-waktu tertentu orang-orang yang menyiksanya muncul di dalam memory pikirannya dan seolah-olah tinggal sebagai tamu yang tidak diundang di tengah ruang tamu hatinya. Dia bisa saja muncul di tengah mimpi buruk. Perasaan sedih, marah, sakit, pahit, kecewa, kemarahan, itu merupakan hal yang campur aduk di dalam hatinya.

Mzm.73 mengungkapkan hal itu pula, ketika pemazmur mengingat segala yang terjadi di dalam hidupnya, hatinya menjadi pahit tertusuk-tusuk rasanya. Kita tidak akan bisa luka terhadap scar yang tinggal di tubuh fisik kita, kita juga tidak akan bisa luka terhadap scar emosional yang ada di dalam hati kita. Memori itu bisa muncul kapan saja. Ada orang yang kehilangan isteri atau suami atau anak, mungkin kehilangan itu tidak bisa dia terima. Maka setiap tanggal peristiwa itu terjadi dia akan mengingat kembali peristiwa itu mungkin air mata akan keluar lagi. Itu memori yang tidak akan bisa dilupakan di dalam hidupnya. Tetapi apakah dengan mengingat hal itu berarti dia tidak mengampuni orang yang berlaku salah kepadanya? Apakah itu berarti kita tidak memiliki perasaan pengampunan atas orang itu? Tidak. Hal itu tergantung kepada beberapa hal. Pertama, memori itu wajar tetap ada dan setiap kali dia muncul akan mendatangkan reaksi emosi kepada sdr. Tetapi mungkin sdr belum mengampuni kalau pada waktu memori itu muncul juga muncul keinginan untuk mencelakakan orang itu kembali. Akhirnya kalau kita terus terbenam di dalam memori itu kita akan menjadi lumpuh dan tidak move forward di dalam hidup kita. Itu yang perlu kita pikirkan hari ini sama-sama. Bagi saya ketika memori itu muncul, tidak ada lagi kaitannya dengan orang yang melakukannya, itu sudah menjadi masa lampau. Yang penting di dalam hidup kita sekarang adalah bagaimana kita deal dengan hati kita. Dalam Mzm.73 Asaf deal dengan hatinya pada waktu dia masuk ke dalam rumah Tuhan membawa hatinya ke sana, dan dia mengingat akan cinta kasih Tuhan kepadanya, dia menemukan penyembuhan di situ.

Di dalam Alkitab tercatat hidup satu orang yang ditulis begitu singkat tetapi begitu indah buat saya, yaitu hidup seorang bernama Yabes. Alkitab mencatat bagaimana Yabes bisa deal dengan kepahitan masa lampaunya (1 Taw.4:9-10). Setiap anak lahir diberi nama yang baik dan sesuai dengan wish dan pengharapan orang tuanya. Tetapi di sini, ibunya memberi nama Yabes kepadanya. Yabes berarti malapetaka, Yabes berarti buntung, Yabes berarti sial, Yabes berarti anak yang mendatangkan kemalangan. Masih untung kalau dia hanya diejek oleh teman-temannya. Tetapi kalau sampai nama itu akhirnya selalu mengingatkan dia akan kepahitan hidup yang dialami orang tuanya waktu dia lahir, betapa kasihannya dia. Itu sebab kenapa Yabes memberhentikan kepahitan ibunya dengan doa di ayat 10, dia berdoa untuk masa depannya. Dia minta kepada Tuhan, apa yang dikerjakan tangannya, apa yang dia rencanakan, apa yang dia lakukan kepada orang lain, jangan semua itu menjadi malapetaka dan kesialan bagi mereka. Namaku Yabes tetapi aku tidak mau hidupku menjadi ‘Yabes’ bagi orang lain. Itulah keindahan dari doa Yabes, sehingga Tuhan menjawab doanya.

Kita tidak bisa forget, tetapi kita bisa tidak menjadikan hal itu menghalangi hidup kita. Apa yang sudah terjadi tidak bisa kita hapus di dalam sejarah hidup kita, dia akan tetap menjadi bagian di dalam hidup kita. Tetapi yang bisa kita lakukan adalah masa lampau kita tidak menghambat perjalanan hidup kita di depan. Event yang menciptakan kepahitan itu sudah lewat meskipun memori tidak akan hilang dan perasaan hati yang sedih normal muncul. Kita kesal, kita marah, kita kecewa, kita sedih, kita bertanya-tanya, itu normal. Tetapi bagaimana kita deal bukan lagi berkaitan dengan orang yang menyusahkan kita, bukan lagi berkaitan dengan event yang sudah lewat tetapi berkaitan dengan apa yang ada di dalam hati kita. Kita sudah lama mengampuni tetapi waktu mengingatnya emosi bisa keluar lagi, tetapi engkau sudah mengampuni sebab engkau tidak mau membalas. Tetapi kita memerlukan waktu untuk sembuh sebab kita manusia yang lemah dan sederhana, mungkin perlu waktu panjang untuk menyembuhkan luka hati kita. Tetapi yang lebih indah lagi adalah pengertian because of God’s providence menjadi point yang penting bagi kita. Saya hanya ingin mengatakan wajar dan normal reaksi emosi bisa terjadi di dalam hatimu. Tidak usah guilty kalau kita masih merasa seperti itu tetapi kita tidak mau lagi menjadikan hal itu membuat saya lumpuh di dalam kebencian dan kemarahan dan akhirnya hidup saya tidak pernah maju.

Bagaimana kalau akhirnya karena peristiwa pahit kita tidak bisa merepair hubungan kita dan tidak bisa terjadi rekonsiliasi seperti yang semula lagi. Kalau kita yang telah berbuat salah kepada orang lain, akhirnya orang itu merasa tidak bisa lagi terjadi hubungan seperti semula, mari kita terima itu sebagai hal yang wajar sebagai fakta yang memang tidak bisa dihindari sebagai konsekuensinya. Tetapi kita harus belajar bagaimana menunjukkan sikap attitude bahwa kita bisa berubah dan kita mau memperbaiki hubungan dengan lebih baik.

Contoh yang menarik adalah peristiwa perselisihan yang terjadi antara Paulus dan Barnabas sebagai kasus split, pertikaian dan keributan di dalam pelayanan mereka di dalam Gereja Mula-mula (Kis.15:37). Barnabas ingin membawa Markus tetapi Paulus tidak setuju. Akhirnya timbul perselisihan yang tajam dan membuat mereka berpisah. Parosismos hanya satu kali dipakai dalam PB, menurut F.F. Bruce arti kata ini kalau mau diterjemahkan secara hurufiah adalah “shouting angrily.” Jadi di sini bukan sekedar berbeda pendapat, berselisih dan berdebat. Tetapi Alkitab firman Tuhan yang kudus dengan jujur dan tidak menutup-nutupi, mencatat mereka shouting angrily satu sama lain. Hamba Tuhan yang melayani adalah manusia yang lemah dan berdosa, kita semua harus mengakui kelemahan dan kesalahan kita. Barnabas dan Paulus yang sebelumnya adalah teman baik akhirnya berpisah. Tetapi di sini kita tidak bicara soal siapa benar siapa salah karena masing-masing berangkat dengan perspektif yang berbeda. Buat Barnabas posisi Markus mungkin ada sedikit fested interest karena Markus adalah keponakannya. Tetapi mungkin Barnabas ingin memberi second chance buat dia. Paulus tidak bisa terima akan hal ini. Buat Paulus Markus itu seperti sudah backstabbing dia dan membuatnya hurt karena Markus sudah menghapus trust. Banyak kali mungkin orang berbuat salah dan kita menjadi hurt, tetapi yang membuat kita sulit sebenarnya bukan hanya perbuatan yang dilakukan orang itu tetapi kita akan sulit membangun relasi kembali karena kita rasa trust kita sudah di-violated oleh dia. Suami dan isteri yang sudah bercerai, waktu ketemu lagi sulit untuk berelasi seperti dulu, bukan? Boss dan anak buah yang sudah dipercaya lalu tiba-tiba berhenti untuk bekerja di perusahaan saingan, apakah bisa seperti semula? Di balik semua itu yang terjadi bukanlah sekedar antara tindakan yang terjadi tetapi di belakangnya ada unsur trust yang terluka. Saya sudah percaya semua kepada dia tetapi kenapa dia backstabbing saya? Itu perasaan Paulus di sini. Maka Paulus menolak Markus dan tidak mau jalan sama-sama dengan dia yang Paulus anggap tidak mau jalan sampai akhir. Karena dua-dua memiliki prinsip yang berbeda, akhirnya Paulus dan Barnabas berpisah. Tetapi apakah Paulus kemudian putus hubungan dengan Barnabas setelah peristiwa itu? Di dalam 1 Kor.9:6 Paulus menyebut nama Barnabas setelah beberapa tahun peristiwa perselisihan terjadi, menunjukkan mungkin telah terjadi rekonsiliasi di antara mereka. Kol.4:10 Paulus menyebut nama Markus, dan juga dalam suratnya yang terakhir sebelum dia mati Paulus kembali menyebut nama Markus, merekomendasi pelayanannya yang begitu berguna bagi Paulus. Kalau dulu Paulus bilang Markus ‘useless,’ di sini dia menyebut Markus ‘useful’ baginya. Dari pihak Markus sendiri setelah perjalanan waktu dia memperlihatkan sikap yang sangat berbeda. Memang benar, di awal pelayanannya dia meninggalkan Paulus di tengah jalan tetapi mungkin dia berjanji sampai Paulus mati dia akan menjadi orang yang berada di sisinya. Itu sebab sebelum mati Paulus menulis kepada Timotius, hanya ada Lukas bersamaku di sini. Jemputlah Markus dan bawa ke sini. Maka sdr melihat dua-dua memperlihatkan sesuatu yang positif di dalam relasi mereka dan menjadi satu keindahan yang bisa kita contoh, bagaimana kita mengaku bahwa kita lemah dan gampang berbuat salah kepada orang. Kita juga perlu mengaku bahwa kita lemah dan gampang sensitif terluka. Tetapi mari kita juga mengaku dengan berani bahwa kita bisa berubah dan mari kita mengaku dengan jujur orang itu bisa dan sudah berubah. Dengan demikian kita membawa hati yang penuh dengan pengampunan sebab Allahpun sudah mengampuni kita. Kita melihat keindahan firman Tuhan memperluas hati kita dan membentuk hidup kita. Biar kita boleh mencintai dan mengasihi orang-orang yang pernah salah kepada kita dan mengaku dengan jujur kita pernah berbuat salah kepada orang lain. Biar kita boleh hidup sebagai anak-anak Tuhan penuh dengan sukacita dan pengampunan.

Pdt. Effendi Susanto STh.

1 Agustus 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: