Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Prinsip Berelasi dengan Sesama dan Musuh

Prinsip Berelasi dengan Sesama dan Musuh

Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik. Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat. Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan. Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa! Bantulah dalam kekurangan orang-orang kudus dan usahakanlah dirimu untuk selalu memberikan tumpangan! Berkatilah siapa yang menganiaya kamu, berkatilah dan jangan mengutuk! Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menangis! Hendaklah kamu sehati sepikir dalam hidupmu bersama; janganlah kamu memikirkan perkara-perkara yang tinggi, tetapi arahkanlah dirimu kepada perkara-perkara yang sederhana. Janganlah menganggap dirimu pandai! Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Rom.12:9-21

Eksposisi Surat Roma (35)

Memang para penafsir setuju, di antara para rasul Yohaneslah rasul yang paling banyak membicarakan mengenai kasih sehingga dia dijuluki “rasul kasih,” tetapi di dalam Rom.12 ini sdr menemukan rasul Paulus juga membicarakan dengan panjang lebar mengenai kasih ini. Yohanes berkata, kasih itu adalah sesuatu yang tidak kelihatan. Bagaimana kita mengatakan kita mengasihi Allah yang tidak kelihatan? Itu hanya bisa dibuktikan dengan konkrit kalau kita mengasihi saudara-saudara kita yang kelihatan (1 Yoh.4:20). Kasih yang tidak kelihatan itu hanya betul-betul bisa terbukti melalui kasih yang konkrit. Demikian juga dalam Rom.12 ini saya percaya jujur kasih itu merupakan hal yang tidak kelihatan yang ada di dalam diri kita. Paulus bilang ekspresikan kasih itu dengan jujur. Saya menemukan begitu banyak dimensi yang muncul dari perkataan Paulus ini. Yang pertama, Paulus mengatakan kasih yang jujur itu terbukti dengan sikap kita yang menolak apa yang jahat dan mengejar apa yang baik adanya. Yang kedua, kasih harus respek. Itu ciri dan bukti kasih yang penting. Saling mendahuluilah di dalam memberi hormat, hargailah dan hormatilah orang yang lebih tua daripada kita. Kita yang mencintai pasangan kita, kasih itu harus diekspresikan dengan respek. Yang ketiga, kasih itu bersifat affectionate dan passionate, betul-betul dinyatakan dengan perasaan yang penuh dengan kerajinan. Paulus bilang, layanilah Tuhan dengan sungguh dan rajin. Kita tidak boleh kehilangan hati yang bernyala-nyala.

Selanjutnya kita akan masuk kepada ayat 12-21. Secara garis besar bagian ini bisa dibagi dalam dua bagian. Ayat 9-11 Paulus bicara mengenai kasih itu diekspresikan keluar kepada saudara seiman kita, kepada teman, kepada orang yang menjadi kawan di dalam hidup kita. Tetapi kita juga mungkin memiliki relasi yang meskipun kita tidak ingin memiliki musuh, tetapi ada orang-orang yang menjadi musuh Kekristenan, ada orang-orang yang mungkin juga menjadi musuh kepada hidup kita. Maka ayat 17-21 Paulus memberikan panggilan bagaimana kita bersikap, bagaimana kita meresponi sikap orang yang berbuat jahat kepada kita. Ayat 12-16, di situ Paulus mengatakan relasi kita kepada orang-orang Kristen yang lain, teman atau sahabat kita, mungkin memiliki bermacam-ragam orang. Kasih harus selalu aktif dan kasih itu tidak pernah menunggu orang berbuat baik baru kita membalas. Kasih orang Kristen harus menjadi penggerak utama menggerakkan segala sesuatu. Paling tidak ada tiga kategori orang yang Paulus bicarakan di sini. Yang pertama adalah orang yang miskin dan dalam kesusahan, bagaimana kita meresponi mereka yang ada di situ. Yang kedua adalah bagaimana kita meresponi orang yang mungkin melakukan hal yang tidak baik kepada kita. Yang ketiga adalah bagaimana kita bersikap kepada orang yang ada di dalam kelas bawah. Ayat 16, sebenarnya ini bicara janganlah kita menjadi orang yang sombong dan bagaimana kita menempatkan diri terhadap orang yang low status dan tidak menganggap diri lebih pintar daripada mereka. Namun sebelum membahas lebih lanjut ke situ, saya sangat tertarik dengan kalimat Paulus di ayat 12, “Bersukacitalah dalam pengharapan, bersabarlah dalam kesesakan, bertekunlah dalam doa.” Kenapa bagian itu disisipi di situ, di tengah-tengah firman Tuhan yang meminta kita melayani dan menjadi perpanjangan tangan bagi orang lain? Nampak sekali ayat ini tidak ada kaitannya dengan orang lain dan lebih berkaitan dengan diri sendiri. Saya pikir dalam- dalam dan saya menemukan jawaban ini: sebelum kita bisa menolong orang yang kesusahan, sebelum kita bisa bersimpati kepada orang yang menangis, sebelum kita bisa bergaul dengan orang yang berada di lapisan bawah, kita harus terlebih dahulu bersikap dan berespon benar terhadap segala kesulitan yang ada di dalam hidup kita. Itu sebab menghadapi kesulitan orang lain, belajar memiliki perspektif melihat kesulitan kita terlebih dahulu, itu penting sekali. Maksudnya, Paulus hanya ingin mengajar kepada jemaat, tidak ada di antara kita yang hidupnya tidak terlepas dari kesulitannya sendiri-sendiri. Tidak ada di antara kita yang tidak punya kesulitan. Tetapi ketika kita menghadapi kesulitan sendiri jangan sampai kita terjebak oleh kesulitan kita, jangan sampai kita terlalu fokus kepada apa yang ada di dalam diri kita sehingga kita bilang ‘saya baru bisa tolong orang kalau saya punya persoalan beres dahulu; saya baru bisa menjadi perpanjangan tangan membantu orang yang di dalam kekurangan kalau saya sendiri sudah selesai dengan persoalan finansialku.’ Kalau kita memiliki sikap seperti itu, sampai kapanpun kita tidak akan mungkin keluar menolong orang lain. Sampai kapanpun kalau kita bersikap pasif, kita tidak akan mungkin bisa keluar dari persoalan hidup kita. Itu sebab di dalam bagian ini, ayat ini menjadi point yang penting.

Paulus mengatakan: di dalam pengaharapan, sukacita; menghadapi kesesakan, sabar; di dalam doa, bertekunlah. Ini adalah tiga pasangan yang tidak boleh ditukar-tukar. Pengharapan itu bukan berpasangan dengan sabar tetapi dengan sukacita. Karena kalau pakai sabar di dalam pengharapan maka membuat kita akhirnya lebih bersikap pasif. Kita punya kesesakan sendiri-sendiri, kita mempunyai hal-hal yang belum terjadi sekarang, itu sebab kita mengharapkan sesuatu. Tetapi bagaimana kita menjalaninya? Kata Paulus, jangan diam, jangan berhenti dan jangan hanya terlena dengan persoalan sendiri. Berani untuk bisa melewati dan menjalani apa yang sedang engkau alami. Pengharapan adalah sesuatu yang belum terjadi, sesuatu yang belum kita lihat. Pengharapan selalu berada di depan. Tetapi bagaimana sikap kita menantikan dan bereaksi terhadap pengharapan. Paulus minta kita tidak pasif, diam duduk menantikan pengharapan tetapi dia menggunakan satu kata yang bersifat aktif, bersukacitalah. Pengharapan merupakan hal yang penting sekali. Orang Kristen adalah orang yang hidup dengan pengharapan. Pengharapan kita ada di depan, tetapi kita membedakan pengharapan kita dengan unrealistic expectation dimana berkaitan dengan bagaimana kita menjalani pengharapan itu. Paulus minta kita jangan diam tetapi kita harus menjadi orang yang aktif. Di dalam kesesakan, di dalam segala hal yang kita alami kita bersifat aktif. Love should have initiative. Jalani hidup dengan penuh keberanian dan semangat. Pada waktu kita mengalami kesesakan, bersabarlah dan tahanlah menghadapinya. Dengan sabar dan tahan, Paulus hanya ingin mengatakan someday hal itu pasti akan lewat. Memang kadang-kadang kita tidak mungkin bisa menghindar dari kesulitan dan tantangan tetapi mari kita belajar bersabar. Kadang-kadang kita tidak mengerti mengapa Tuhan memberikan ayat-ayat dengan cara seperti ini. Tetapi pada waktu kita ingin menolong orang, belajar terlebih dahulu memiliki perspektif yang benar di dalam hidup kita. Orang yang menolong orang lain tidak berarti dia tidak punya kesulitan. Orang yang punya kesulitan tidak berarti dia tidak bisa menolong orang yang susah. Tetapi yang selalu tidak bisa tolong orang lain adalah orang yang selalu lihat kesulitan sendiri, selalu merasa kasihan kepada diri sendiri ‘kenapa saya memiliki kesusahan lebih banyak daripada orang lain.’ Firman Tuhan tidak janji kita tidak punya kesulitan, firman Tuhan tidak janji kita tidak punya tantangan. Tetapi firman Tuhan minta kita tidak boleh hanya melihat kesulitan sendiri. Itu sebab aktif, berharap karena belum punya tetapi jangan hanya menunggu tetapi ekspresikan sukacita keluar. Menghadapi kesulitan, tahan dan bersabar. Dan terakhir, selalu tekun membawanya di dalam doa kepada Tuhan. Ini semua merupakan pasangan yang penting dan bagi saya inilah jalan keluar bagi sdr dan saya yang sedang mengalami tantangan kesulitan. Banyak orang menghadapi tantangan kesulitan dia tidak berdoa, dia justru lari dari Tuhan, dia mengucilkan diri dari komunitas gereja dan dia tidak mau bergaul dengan orang lain karena berpikir kesulitan dia terlalu banyak. Itu bukan cara yang tepat. Di tengah-tengah orang yang mengalami kesulitan, kita bersukacita bukan karena kita tidak memiliki kesulitan tetapi kita ingin menjadi contoh bagi mereka menghadapi segala tantangan itu kita masih memiliki pengharapan dan jalan keluar untuk menolong mereka.

Baru sesudah itu Paulus bilang, kepada orang yang berkekurangan, bantulah. Di ayat 13 ini kata yang dipakai spesifik sekali berbicara mengenai membantu orang yang dalam kekurangan terhadap barang-barang yang dibutuhkan. Ini memakai kata ‘fellowship’ yang bukan hanya dalam konotasi kebaktian persekutuan duduk sama-sama tetapi dalam pengertian ‘sharing’ milikmu dengan orang yang kekurangan. Paulus tidak minta kita hanya berfellowship biasa tetapi betul-betul memberi dan sharing kepada orang lain. Mana yang lebih gampang, bersukacita dengan orang yang bersukacita ataukah menangis dengan orang yang menangis? Kita pikir lebih gampang bersukacita dengan orang yang sedang bersukacita, bukan? John Chrysostom mengatakan dari dua hal ini lebih mudah kita menitikkan air mata dengan orang yang kesusahan, namun tidak gampang senang orang sukses. Kalau kita bisa sedih dengan orang yang sedih dan bersukacita melihat hidup orang lebih sukses dan lebih lancar daripada kita, itu merupakan keagungan karakter dan juga keindahan kasih kita ingin orang itu sungguh-sungguh flourish dalam hidupnya. Paulus minta sikap kita kepada orang seperti itu. Kita ikut senang dengan orang yang sedang senang; yang susah kita ikut sedih keluarkan air mata. Belajar bantu orang yang berada di dalam kesulitan walaupun diri kita sendiri juga punya kesulitan masing-masing. Yang menarik, kepada orang di lapisan bawah, walaupun sekarang ini derajat perbedaan tidak begitu tinggi di dalam gereja sekarang ini karena kita tidak lagi memiliki budak seperti jemaat di Roma, bagi saya panggilan Paulus pada waktu itu merupakan satu panggilan yang sangat revolusioner sekali karena banyak di antara jemaat mungkin merasa uneasy datang ke kebaktian sebagai orang bebas dan majikan lalu ada sebagian budak juga menjadi Kristen duduk bersama berbakti. Itu adalah gap di dalam society yang begitu tinggi. Maka di dalam bagian ini Paulus memberikan prinsip kepada orang-orang yang rendah status sosialnya bagaimana kita bersikap. Paulus bilang belajar duduk sama rendah dengan orang itu. Kalau pengetahuan kita lebih daripada orang lain, belajar untuk tidak anggap diri lebih pintar daripada mereka. Kadang-kadang ada begitu banyak bijaksana yang kita tidak mengerti keluar dari orang-orang yang tidak punya pendidikan tinggi. Kadang-kadang kita kaget dan surprise ada ibu yang tidak lulus SD bisa mendidik anak- anaknya lebih pintar daripada dokter. Kepada orang-orang yang kita anggap kelasnya kurang secara pendidikan, status sosialnya lebih rendah dan lebih miskin, sebagai anak Tuhan belajar untuk tidak mengganggap diri pandai di tengah mereka. Bagi saya ini adalah bagian prinsip- prinsip firman Tuhan yang mengajar kepada kita bagaimana bersikap dan bagaimana berprilaku terhadap saudara-saudara seiman yang ada di sekitar kita. Selanjutnya kita akan menemukan bagian yang penting bicara mengenai bagaimana kemudian orang Kristen bersikap terhadap mereka yang menjadi musuh atau memusuhi mereka. Ayat 17-21 mengajar kepada kita bagaimana berespons kepada orang yang bagaimanapun terus- menerus melakukan kejahatan, melakukan hal-hal yang tidak baik dan mungkin menimbulkan kesusahan dan kesulitan di dalam hidup kita. Ini merupakan bagian yang sangat penting sekali, Paulus juga meminta kita bagaimana berespons dengan benar adanya. Sampai di sini mungkin kita perlu belajar memikirkan konsep mengenai pengampunan dengan lebih jelas. Sebelum kita belajar bagaimana meresponi segala kesusahan dan kesulitan yang diciptakan oleh musuh kita kepada kita, mari kita lihat terlebih dahulu konsep pengampunan Allah kepada kita. Tidak ada orang yang bisa menyangkal bahwa orang Kristen mengampuni orang yang bersalah kepadanya berdasarkan konsep pengampunan Allah. Sama seperti Allah Bapa sudah mengasihi kita terlebih dahulu, marilah kita mengasihi saudara-saudara kita. Sama seperti Tuhan sudah mengampuni kita terlebih dahulu, marilah kita mengampuni orang- orang yang bersalah kepada kita. Kasih orang Kristen, pengampunan orang Kristen dasarnya karena kita terlebih dahulu dikasihi Allah. Tetapi bagaimana kita mengerti konsep kasih dan pengampunan Tuhan? Bagi saya ada empat point yang secara Alkitabiah harus kita taruh di kepala kita apa artinya kasih dan pengampunan Tuhan. Pertama, pengampunan dari Tuhan itu penuh dengan kemurahan tetapi tidak boleh diartikan sebagai hal yang murahan dan gratisan. Dalam 1 Yoh.4:10 pengampunan datang terlebih dahulu kepada kita berarti ini adalah kasih karunia pemberian yang tidak ada syarat karena kita sudah melakukan sesuatu terlebih dahulu kepada Tuhan, tidak ada syarat karena kita lebih baik daripada orang lain. Kasih karunia itu berarti kita tidak layak menerimanya, itu sebab kata ini muncul ‘datang terlebih dahulu.’ Berarti sumber pengampunan, the first cause datangnya pengampunan dari Allah kepada kita. Tetapi datangnya pengampunan yang penuh kemurahan itu tidak berarti datang dengan gratis tetapi datang dengan harga yang mahal dibayar. Bukan kita yang bayar melainkan Tuhan yang bayar. Allah mengasihi kita melalui memberikan Yesus Kristus sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita. Maka pengampunan itu tidak boleh dianggap murah karena kita mendapatkannya dari darah Kristus yang menebus. Berarti ada sesuatu yang Tuhan kerjakan yang tidak menganggap mengampuni itu seperti orang yang tipp-ex sesuatu melainkan ada penebusan di baliknya. Kedua, pengampunan itu datang kepada seseorang karena orang itu meresponinya dengan iman dan pertobatan sehingga menjadi keselamatan bagi dia. Pengampunan itu datang kepada kita karena kita meresponinya dengan iman dan pertobatan, walaupun secara teologis kita percaya Allah terlebih dahulu melahir-barukan kita, memberi hati yang baru, sehingga dengan hati yang baru barulah kita bisa berespons dengan iman dan tobat. Tetapi iman dan tobat itu bukan dilakukan oleh Allah. Yang melakukan iman dan tobat itu adalah manusia berdosa. Sehingga pengampunan itu bersifat conditional, dimana orang itu meresponinya dengan iman dan pertobatan. Ketiga, pengampunan Allah berarti Allah mengampuni dan menghapus dosa tetapi tidak berarti Ia menghapus konsekuensi kesalahan dan dosa kita. Daud mengakui perbuatan dosanya berzinah dengan Batsyeba, Mzm.51 muncul sebagai mazmur pengakuan doa Daud. Tetapi sdr menemukan ada konsekuensi dosa yang Tuhan tidak hapuskan yaitu anak yang lahir itu mati dan yang kedua, akibat dosa yang Daud perbuat terhadap Uria, pertumpahan darah tidak akan lalu dari Daud dan keturunannya (2 Sam.12:10). Kita menemukan sepanjang sejarah keturunan Daud pertumpahan darah terus terjadi. Inilah yang kita sebut sebagai konsekuensi dosa. Konsekuensi dosa itu bukanlah hukuman Allah. Ini yang membedakan konsep kita dengan karma. Konsekuensi dosa bukan hukuman Allah tetapi merupakan satu pernyataan fakta bahwa dosa itu aktif dan beranak-pinak. The nature of is is alive. Konsep karma adalah seseorang berbuat jahat nanti akan menerima balasannya. Kalau Tuhan sudah mengampuni dosa kita, tidak ada yang namanya karma. Tuhan sudah selesaikan dosa itu dengan tuntas. Tetapi kenapa konsekuensi dosa itu muncul? Bukan karena Tuhan tidak mampu mengampuni dan kuasa pengampunan Tuhan terbatas. Tetapi konsekuensi dosa menunjukkan itulah fakta dosa. Dosa itu aktif dan bisa beranak-pinak. Seseorang pergi ke pelacuran dan akhirnya menularkan HIV kepada isterinya. Meskipun suami sudah menangis mengakui dosanya kepada Tuhan dan kepada isterinya dan diampuni, HIV itu tidak hilang lenyap begitu saja. Kita harus membedakan Tuhan mengampuni tindakan dosa tetapi konsekuensi dosa itu tidak dihapus oleh Tuhan. Kalau seorang hamba Tuhan melakukan dosa perzinahan dan mengakui dosanya di hadapan jemaatnya, mungkin jemaat mengampuni dia tetapi konsekuensi dari dosa yang dia perbuat akhirnya membuat dia tidak bisa lagi melayani jemaat. Jangan kita anggap pengampunan itu kurang tuntas. Kedua, selain menyatakan bahwa dosa itu aktif dan beranak-pinak, sekaligus konsekuensi dosa juga menjadi satu reminding dari Tuhan untuk mendidik, melatih dan mengingatkan kepada kita betapa dahsyatnya dosa itu. Keempat, pengampunan Allah bukan saja membuang kesalahan kita tetapi memulai satu hubungan yang baru di dalam rekonsiliasi dengan kita. Nanti kita akan menemukan beberapa hal bagaimana orang Kristen meresponi hal ini. Kita tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, namun kita mengampuni orang tidak berarti kita boleh mengampuni orang kalau dia tidak berespons dengan perubahan hati dan mengaku salah. Lalu bagaimana konsep pengampunan orang Kristen itu? Apakah kita sudah mengampuni orang kalau akhirnya mungkin rekonsiliasi itu tidak terjadi? Kita harus mengerti tindakan pengampunan Tuhan itu ada dua step, yaitu menghapus dosa dan membangun relasi dengan kita. Tuhan melakukan dua hal itu sekaligus tetapi mungkin bagi kita manusia perlu waktu yang panjang di dalam rekonsiliasi. Biar kita terus-menerus hidup dengan hati yang tulus dan jujur, kasih yang sungguh dan nyata, dan terbukti di dalam hidup kita. Kepada saudara-saudara seiman yang penuh dengan kesulitan kita tidak menutup mata dan membantu menolong mereka. Kita sadar hidup kita juga tidak terlepas dari berbagai tantangan dan himpitan namun itu tidak membuat kita kehilangan sukacita menanti tangan Tuhan yang baik bekerja di dalam hidup kita. Biar kita sabar dan menahan diri terhadap segala kesulitan yang datang, biar kita terus berdoa dengan tekun bagi diri kita dan orang lain sehingga di situ kita belajar menjadi penolong bagi orang lain. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

4 Juli 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: