Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Prinsip Membangun Relasi yang Harmonis

Prinsip Membangun Relasi yang Harmonis

Kita, yang kuat, wajib menanggung kelemahan orang yang tidak kuat dan jangan kita mencari kesenangan kita sendiri. Setiap orang di antara kita harus mencari kesenangan sesama kita demi kebaikannya untuk membangunnya. Karena Kristus juga tidak mencari kesenangan-Nya sendiri, tetapi seperti ada tertulis: “Kata-kata cercaan mereka, yang mencerca Engkau, telah mengenai aku.” Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci. Semoga Allah, yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan, mengaruniakan kerukunan kepada kamu, sesuai dengan kehendak Kristus Yesus, sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus.

Rom.15:1-6

Eksposisi Surat Roma (44)

Mulai dari Rom.12 ke belakang Paulus bicara mengenai bagian praktis, setelah kita menerima keselamatan di dalam Kristus, apa yang harus kita lakukan dalam hidup kita sekarang. Dalam Rom.12 tidak banyak Paulus bicara mengenai panggilan kita mengembangkan bakat dan karunia yang Tuhan sudah kasih. Paulus hanya bicara kurang lebih tidak sampai 10 ayat mengenai hal ini. Lalu Paulus bicara mengenai tugas tanggung jawab kita kepada Pemerintah yang ada, juga tidak banyak ayat yang dipakai oleh Paulus. Paling sedikit dia hanya memakai 12 ayat mengenai hal ini. Tetapi Rom.12-15 bicara mengenai hubungan di antara sesama jemaat, fellowship di antara kita Paulus bicara begitu banyak dan panjang lebar. Di situ firman Tuhan memberitahukan kepada kita betapa delicate, betapa complicated dan betapa susahnya hubungan di dalam relasi sesama itu. Kita tidak mungkin mengabaikan akan hal itu, kita tidak mungkin mengisolasi diri, tidak bisa datang ke gereja lalu selesai pulang begitu saja. Mungkin engkau bisa melakukan seperti itu tetapi itu bukan merupakan panggilan Tuhan kepada kita. Tuhan mengatakan “Aku akan mendirikan GerejaKu…” dan itu adalah umat Tuhan yang bukan hanya dari satu negara yang gampang diatur secara hierarki. Kita memang satu umat, dimana kita setara sederajat satu dengan yang lain, kita dipanggil Tuhan menjadi satu umat yang bersaksi bagi Tuhan. Dan itu tugas yang tidak gampang.

Itu sebab dalam Rom.14-15 dua pasal panjangnya Paulus hanya bicara soal ada orang yang open-minded, yang strong faith, tetapi juga ada orang yang narrow-minded, yang imannya lemah; ada orang yang melihat terlalu picik, ada orang yang melihat lebih luas, begitu saling ketemu bisa susah luar biasa. Maka menghadapi perbedaan seperti itu Paulus mencatat dengan teliti dan baik. Problem hidup kita tidak akan habis-habisnya. Hal-hal yang kecil-kecil itu tidak akan pernah hilang menjadi pernik-pernik di dalam kehidupan kita. Paulus bicara begitu panjang lebar mengenai fellowship karena Gereja tidak akan lepas dari hal itu. Gereja yang sejati ada worship dilakukan, ada Perjamuan Kudus dijalankan, ada firman diberitakan. Itu ciri-ciri Gereja yang sejati. Tetapi Gereja juga perlu fellowship, persekutuan yang bersifat horisontal sebagai anak-anak Tuhan dan Gereja perlu pelayanan dan misi. Ini tiga hal yang penting. Di dalam fellowship inilah kita mungkin berbeda pendapat, kita mungkin bisa saling satu dengan yang lain mengeluarkan kata-kata yang akhirnya membuat kita tersinggung satu dengan yang lain. Kita mungkin akhirnya kecewa lalu kita mau pergi meninggalkan satu fellowship. Kita ganti ke fellowship yang lainpun kita pasti akan menghadapi hal yang sama. Satu orang satu problem, dua orang menjadi tiga problem, tiga orang menjadi enam tujuh problem. Kesulitan ada, problem ada, relasi itu tidak ada habis-habisnya. Kalau terus lihat hal-hal yang kecil-kecil ini, kita tidak akan ada habis-habisnya. Itu sebab dari Rom.14-15 saya akan memberikan beberapa point yang penting sekali mengenai relasi di antara kita.

Rom.14:16 Paulus mengatakan, ”…apa yang baik yang kamu miliki janganlah biarkan kamu difitnah.” Terjemahan ESV jauh lebih baik, “So do not let what you regard as good be spoken of as evil.” Ayat ini langsung memberitahukan kepada kita between deed and word gap-nya besar sekali, bukan? Engkau sudah melakukan hal yang baik, tetap bisa dibilang jahat oleh orang. Tetapi Paulus ingatkan, kita harus tetap berbuat baik dan berusaha sebaik mungkin jangan sampai yang good itu dilihat menjadi tidak baik. Berarti di sini kita dipanggil bukan saja untuk melakukan hal yang baik tetapi kita juga pikirkan bagaimana dengan tepat bagaimana caranya kebaikan kita dilihat sebagai kebaikan. Paulus mengingatkan kepada kita betapa susahnya di dalam inter relasi fellowship itu. Kita bisa tersinggung waktu hal baik yang kita lakukan dibilang orang tidak baik. Tetapi bisa jadi kita adalah orang yang mengatakan perbuatan baik orang lain sebagai tidak baik.

Dalam Radix terbaru saya mengutip cerita mengenai seorang anak muda yang datang untuk minta maaf kepada seorang rabi yang sudah dia fitnah dan ternyata fitnahannya tidak benar. Rabi itu kemudian mengajak anak muda ini ke atas loteng dan menyobek bantalnya. Segera bulu-bulu angsa dari bantal itu tersebar angin ke mana-mana. Rabi itu berkata, “Anak muda, bolehkah engkau menolong saya memungut kembali bulu-bulu angsa itu?” Anak muda ini mengatakan, “Impossible, tidak mungkin bulu-bulu itu bisa saya kumpulkan kembali.” Rabi yang bijaksana itu berkata, “Engkau tahu saya sudah memaafkan kesalahanmu. Tetapi engkau harus menyadari, engkau tidak mungkin bisa mengambil kembali kata-kata apa yang sudah keluar dari mulutmu karena engkau tidak tahu sudah sampai di mana kata-katamu itu sudah tersebar.” Di satu sisi kita dipanggil betul-betul untuk melakukan apa yang baik, tetapi itu belum cukup, kata Paulus. Hati-hati bagaimana supaya perbuatan baikmu tidak dipersepsi sebagai evil oleh orang lain, dan di pihak lain kita dipanggil oleh Tuhan jangan terlalu cepat mengeluarkan kata-kata sehingga kata-kata itu menjadi salah padahal orang itu melakukan hal yang baik kepada kita. Kadang-kadang hal ini memang bisa terjadi. Maka setelah membaca Rom.14-15 saya mengajak kita melihat apa yang patut, bagaimana kita memiliki beberapa prinsip yang penting supaya di dalam kita berelasi dengan orang yang lain, ini menjadi prinsip pegangan kita.

Minggu lalu di dalam khotbah pagi Pdt. Antonius bicara mengenai konsep melepaskan hak. Tuhan memanggil kita untuk hidup dalam keharusan. Kenapa harus? Waktu kita harus, berarti kita terikat, harus berarti kita mungkin bisa terpaksa melakukannya. Rom.15:1-2 berapa kali kata ‘harus’ muncul? Kita harus menanggung orang lain, kita harus tidak mencari kesenangan diri sendiri. Dua kali kata ‘harus’ muncul di sini. Prinsip memikul salib itu penting, bukan saja di dalam pelayanan tetapi pikul salib di dalam relasi fellowship juga merupakan prinsip panggilan keharusan kita. Kita manusia yang cenderung egois. Kita baru memperhatikan sesuatu pada waktu hal itu bersentuhan dengan kepentingan kita. Tetapi pada waktu hal itu tidak bersentuhan dengan kepentingan kita, banyak kali kita tidak memperhatikannya. Kali ini kita dipanggil untuk memperhatikan orang lain, menanggung orang lain, to be considered untuk orang lain, itu merupakan panggilan keharusan. Mungkin saya sedikit memberikan tambahan mengenai konsep keharusan ini. Harus adalah ‘ought’ yang memiliki dua aspek. Yang pertama, harus yang memang harus kita lakukan. Contoh, engkau harus mandi. Dalam hal itu engkau tidak perlu melepaskan hak. Dan sudah mandi, tidak perlu dipuji karena itu memang harus. Di dalam kehidupan bergereja, di dalam fellowship orang Kristen, ada harus dalam kategori ini. Harus yang tidak perlu disuruh-suruh, harus yang tidak perlu dipuji karena itu memang harus menjadi responsibility kita. Aspek yang kedua adalah harus yang dilihat sebagai opportunity. Karena waktu kita mengerjakannya harus itu mendatangkan kesempatan bagi kita mengerjakan sesuatu yang lebih baik. Contoh, seseorang yang sudah bekerja keras umpamanya, dia harus mengambil liburan. Harus itu pada waktu kita ambil, itu merupakan satu keharusan yang menjadi kesempatan bagi kita. Kalau kita memahami seperti itu kita tidak akan pernah melihat harus itu sebagai sesuatu yang menjadi beban dan memberatkan kita. Itu sebab pada waktu kita melihat kenapa sih kita harus memperhatikan orang lain, kenapa sih kita harus lebih memperhatikan orang lain, kita rasa itu menjadi satu keterpaksaan. Perhatikan, itu tidak harus menjadi satu keterpaksaan bagi Paulus karena ada tiga indikasi yang sangat penting dan begitu menyentuh hati saya dalam Rom.14-15 ini Paulus berkata. Pertama, pada waktu engkau melayani dengan sikap seperti itu, engkau akan dihormati (Rom.14:18). Kita semua mau hormat, bukan? Kita semua mau pujian, bukan? Kita semua mau pleasing God, bukan? Di sini Paulus berkata, barangsiapa melakukan hal-hal itu, dia akan berkenan kepada Allah dan dihormati orang. Paulus tidak mengatakan keharusan itu sebagai satu keterpaksaan tetapi melihat itu sebagai satu opportunity. Waktu engkau melakukannya engkau sebenarnya mendapatkan benefit di belakangnya. Benefit itu mungkin tidak langsung engkau dapat dan engkau lihat hari ini. Tetapi ayat ini mengingatkan, pada waktu kita mengerjakan harus itu, engkau akan dihormati orang dan pleasing God. Kemudian Paulus mengatakan ada dua hal yang menjadi kehormatan dan ambisi pelayanannya. Pertama, dia merasa terhormat di hadapan Tuhan kalau dia bisa memberitakan Injil kepada orang bukan Yahudi (band. Rom.15:17-20). Aku bermegah, itu satu kehormatan. Satu hal yang saya bermegah di dalam pelayananku yaitu aku bisa memberitakan Injil kepada orang non Yahudi. Adalah kehormatan bagiku melakukan pelayanan tidak di atas fondasi yang sudah dibangun orang lain. Itu adalah dua kehormatan Paulus. Tidak semua orang Kristen dan tidak semua pelayan Tuhan seperti ini. Tetapi Paulus tidak pergi ke satu daerah yang sudah dilayani oleh orang lain. Paulus tidak mau pergi ke satu ladang pelayanan yang sudah digarap oleh orang lain. Dia mau memulai dan merintis satu pelayanan dari nol. Paulus mengatakan satu kalimat yang sangat menyentuh hati, ”…ini adalah kehormatan bagiku.” Aku bermegah, aku hormat. Dengan mengatakan kata-kata ini kita bisa melihat bagaimana sikap hati Paulus di dalam pelayanan.

Saya mengharapkan ini boleh menjadi sesuatu fondasi yang ada di dalam hidup kita. Setiap kita pada waktu berelasi satu sama lain, keharusan yang bersifat kehormatan, keharusan yang bersifat satu privilege, keharusan yang kita kerjakan mendatangkan kebebasan free dan bukan karena keterpaksaan dalam hidup kita. Selalu considerate terhadap kepentingan orang lain.

Waktu bersekolah di SAAT kita duduk di meja makan sepuluh orang. Lima orang di sebelah sini, lima orang di sebelah sana. Kalau menunya hari itu ayam goreng, seekor di taruh di sebelah sini, yang seekor lagi di sebelah sana. Kalau di bagian sini ayamnya sudah habis, di bagian sana ayamnya masih ada, yang di sebelah sini tidak boleh ambil ayam yang di sebelah sana. Lalu di ujung meja adalah posisi kepala meja, yang dipimpin oleh mahasiswa paling senior, baru kemudian di kiri dan kanannya duduk yang lebih junior, dan yang di tengah adalah mahasiswa tingkat pertama. Setelah selesai doa makan, anak tingkat satu dan dua tidak boleh ambil makanan dulu tetapi tunggu kakak tingkat memberikan kepada yang junior. Di situ kita masing-masing belajar memperhatikan orang lain. Ada orang begitu makanan keluar, langsung cepat-cepat dia ambil, kurang considerate kepada orang lain. Ini adalah point yang sederhana. Dalam segala sesuatu yang engkau lakukan, belajar selalu memikirkan orang lain lebih dulu. Saya rasa ini merupakan beberapa prinsip kecil yang penting. Dalam hal makan, dalam banyak hal lain, kalau itu sudah ada, saya rasa hal-hal yang kecil menjadi tidak kelihatan besar karena kita belajar selalu wajib menjadi orang Kristen yang mengutamakan orang lain dan tidak mementingkan diri. Mementingkan perasaan orang lain terlebih dulu, selalu memikirkan apa yang menjadi kepentingan orang lain lebih dulu. Prinsip kedua, yang sangat menarik di sini Paulus bicara mengenai sejarah masa lalu, Rom.15:4 “Sebab segala sesuatu yang telah ditulis dahulu telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita supaya kita teguh berpegang kepada pengharapan dan ketekunan oleh penghiburan dari kitab suci…” Paulus pakai ‘penghiburan dari kitab suci,’ memberi indikasi jemaat di Roma paling tidak sudah memiliki kitab suci. Jelas kitab suci yang mereka miliki pada waktu itu adalah kitab Perjanjian Lama. Itu sebab Paulus mengatakan sejarah yang lampau itu ditulis untuk kita menjadi satu pelajaran supaya muncul encouragement through the word of God dan melalui firman Tuhan itu engkau memperoleh pengharapan. Mengapa Paulus mengatakan kalimat ini? Hampir semua penfsir mengatakan dengan memberikan contoh ini Paulus hanya ingin mengajak kita untuk melihat itulah hidup fellowship orang Kristen. Kalau sdr baca dari PL Tuhan memanggil umatNya memang Tuhan sendiri memiliki “kesulitan” bagaimana berelasi dengan orang Israel yang begitu banyak. Maka di dalam Gereja yang anggotanya begitu berbeda Paulus secara implisit mengatakan orang Kristen tidak boleh kecewa, tidak boleh mengisolasi diri dari persekutuan karena itu akan membuat pertumbuhan rohani orang Kristen terhambat. Sejarah bangsa Israel memberi contoh kepada kita bahwa pelajaran itu penting. Kalau engkau terus lari dari firman Tuhan, lari dari persekutuan, engkau tidak akan mendapatkan –bukan teguran- tetapi penghiburan dari kitab suci. Encouragement, berarti ada juga discouragement. Ini unik sekali, kenapa Paulus mengkaitkan mendengar firman Tuhan setiap minggu, membaca firman Tuhan itu mendatangkan kesegaran, mendatangkan kekuatan dan penghiburan, itu berarti kita gampang menjadi lemah, kita gampang menjadi kecewa tetapi itu tidak mungkin bisa diselesaikan kalau kita lari dari persekutuan dan lari dari firman Tuhan. Walaupun kita mungkin menemukan ada orang yang kita begitu sulit bergaul dengannnya tetapi itu tidak boleh menjadi halangan akhirnya membuat kita tidak mendapatkan kekuatan pertolongan dan encouragement dari firman Tuhan. Maka pegang prinsip kedua ini: selalu menjadikan firman Tuhan mendorong kita di dalam hidup bersama dengan saudara-saudara yang lain.

Prinsip yang ketiga muncul di ayat 5, “Semoga Allah yang adalah sumber ketekunan dan penghiburan memberikan kerukunan kepada kita sesuai dengan kehendak Tuhan kita Yesus Kristus…” Satu fellowship yang sejati, satu hubungan yang indah dan baik adalah satu hubungan yang tidak mungkin terjadi dengan begitu cepat, tidak mungkin terjadi secara instan, tidak bisa terjadi dengan mendadak. Itu membutuhkan kesabaran dan pembentukan yang tidak ada habis-habisnya. Kita ingin anak kita cepat berubah, kita ingin relasi kita juga cepat menjadi indah dan baik. Tetapi Paulus memberikan aspek ini: ketekunan dan kesabaran.

Saya sangat terharu menyaksikan “China Got Talent” winner yang bisa bermain piano bukan dengan tangan tetapi dengan kakinya, Liu Wei. Dia tidak punya tangan karena waktu umur 10 tahun main petak umpet lalu kena strum high voltage. Mamanya sejak awal tidak mau dia hidup bersandar kepada bantuan orang lain, maka dia belajar makan sendiri dan melakukan apa saja dengan kakinya. Itu kalimat yang sangat bijak dan penting. Mengapa begitu banyak orang yang sebetulnya tidak memperoleh apa-apa di dalam hidupnya bisa menghasilkan satu kualitas hidup yang lebih maksimal daripada orang yang banyak mendapatkan apa-apa? Ada orang diberi kuantitas minim bisa menghasilkan kualitas yang the best. Ada orang diberi kuantitas begitu banyak tetapi tidak pernah menghasilkan kualitas apapun. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti, bukan? Orang ini tidak punya tangan, bukan dari keluarga kaya, tetapi dia bisa produce the best from less of his life. Dia mengatakan, “Saya hanya punya dua pilihan, yaitu memilih untuk self pity dan tunggu kapan saya mati. Atau saya memilih menjalani hidup yang wonderful. Saya pilih yang kedua.” Kita punya dua tangan saja belajar piano tidak bisa-bisa, bayangkan bagaimana bermain piano dengan kaki? Dia bukan main “Twinkle, twinkle little star” tapi main “Bumble Bee” piece yang sangat sulit dari Horowitz. Waktu ditanya kepada dia apakah gampang bermin piano dengan kaki, dia jawab tentu saja susah. Berarti hal itu tidak datang begitu saja, bukan? Itu datang dari satu hati orang yang tidak melihat pernik-pernik yang kecil tetapi melihat hal yang lebih besar. Memang banyak hal susah untuk kita raih, tetapi Paulus tidak mengeluarkan cara lain selalin kita belajar memiliki ketekunan dan kesabaran sehingga kita bisa rukun, sabar sehingga kita bisa harmonis, sabar sehingga kita bisa menanggung sesuatu yang tidak gampang. Menerima sesuatu yang gampang itu mudah, tetapi mengubah sesuatu yang sulit menjadi indah itu tidak mudah. Kita perlu satu ketekunan. Saya rasa ini merupakan satu prinsip yang bisa diaplikasikan di dalam banyak hal dari hidup kita. Kepada suami dan isteri, relasi kita dengan anak, di dalam pekerjaan dan dalam hal apapun. Kalau kita terus lihat hal-hal yang negatif, hal-hal yang baik kita persepsikan jahat, akhirnya tidak ada habis-habisnya. Pertama, belajar memikul salib bagi orang lain. Kedua, selalu tidak pernah lari kecuali kepada firman Tuhan karena di situ kita mendapatkan encouragement. Ketiga, belajar untuk tekun dan sabar, tahan.

Prinsip keempat, Paulus minta kita harmonis, ”…sehingga dengan satu hati dan satu suara kamu memuliakan Allah dan Bapa Tuhan kita, Yesus Kristus” (Rom.15:6). Harmoni tidak berarti seragam tetapi harmoni karena kita tahu tujuan dan purpose kita sama. Itu sebab kalau kita baca nasehat Paulus, dia bilang kita harus satu suara demi untuk kemuliaan Allah. Waktu kita makan dan minum jangan buat hal-hal sepele itu kita perhatikan, lihat Kerajaan Allah lebih penting daripada hal-hal itu. Kalau kita semua mengerti kebenaran Tuhan, prinsip firman Tuhan, Injil harus diberitakan dan diperluas ke mana-mana, saya rasa itu akan menghasilkan hidup yang harmoni di dalam Gereja Tuhan.

Yang terakhir, apa yang menjadi ambisi dan kebanggaan pelayanan hidup kita? Mari kita menjadi orang Kristen yang melihat pada waktu kita melayani, waktu kita menjadi berkat bagi orang lain, itu merupakan kehormatan kita, itu merupakan dignitas kita, itu menjadi keindahan kita. Sehingga orang yang melayani tidak pernah kecewa, orang yang melayani tidak akan pernah merasa minder, sebab selalu melihat itu sebagai satu kehormatan dan satu keindahan ambisi yang begitu berharga dalam hidupnya. Kiranya Tuhan memberkati kita masing-masing.

Pdt. Effendi Susanto STh.

17 Oktober 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: