Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Sikap dan Tanggung Jawab Orang Kristen terhadap Pemerintah

Sikap dan Tanggung Jawab Orang Kristen terhadap Pemerintah

Tiap-tiap orang harus takluk kepada pemerintah yang di atasnya, sebab tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dari Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada, ditetapkan oleh Allah. Sebab itu barangsiapa melawan pemerintah, ia melawan ketetapan Allah dan siapa yang melakukannya, akan mendatangkan hukuman atas dirinya. Sebab jika seorang berbuat baik, ia tidak usah takut kepada pemerintah, hanya jika ia berbuat jahat. Maukah kamu hidup tanpa takut terhadap pemerintah? Perbuatlah apa yang baik dan kamu akan beroleh pujian dari padanya. Karena pemerintah adalah hamba Allah untuk kebaikanmu. Tetapi jika engkau berbuat jahat, takutlah akan dia, karena tidak percuma pemerintah menyandang pedang. Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Sebab itu perlu kita menaklukkan diri, bukan saja oleh karena kemurkaan Allah, tetapi juga oleh karena suara hati kita. Itulah juga sebabnya maka kamu membayar pajak. Karena mereka yang mengurus hal itu adalah pelayan-pelayan Allah. Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai; rasa takut kepada orang yang berhak menerima rasa takut dan hormat kepada orang yang berhak menerima hormat.

Rom.13:1-7

Eksposisi Surat Roma (39)

Bagian Rom.13:1-7 ini sangat indah untuk kita ketahui jika kita melihat konteks yang lebih besar. Pertama-tama kita melihatnya dari Rom.12:2. Bagi saya Rom.12 dan 13 bagi saya merupakan satu unit yang penting di dalam etika Kristen, dimulai dengan Rom.12:2 ini, “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu…” Ini merupakan dasar fondasi yang penting mengenai etika Kristen. Kita bukan lagi hidup berdasarkan prinsip dari dunia ini tetapi kita hidup berdasarkan prinsip dunia yang baru yang sudah ditebus oleh Kristus. Rom.13 diakhiri dengan satu konsep eskatologi, jangan kita hidup mengikuit prinsip dunia ini sebab dunia yang ada sekarang ini akan berlalu. Kini kita baca prinsip firman Tuhan bicara mengenai sikap dan tanggung jawab orang Kristen kepada Pemerintahan dalam Rom.13:1-7.

Rom.13:1-7 mendatangkan begitu banyak pertanyaan di kalangan penafsir Alkitab khususnya yang menafsir surat Roma. Hal yang pertama kali muncul di dalam pikiran mereka adalah bagian ini nampaknya tidak sinkron dengan pembahasan Paulus di bagian atas (Rom.12)dan bagian selanjutnya (13:8ff). Dalam Rom.12 Paulus bicara mengenai kasih, bagaimana orang Kristen bersikap terhadap sahabat, bagaimana sikap terhadap musuh. Dan sesudah itu dalam Rom.13:8 Paulus melanjutkan lagi tema mengenai kasih ini. Maka penafsir bertanya, kenapa Rom.13:1-7 ini bicara mengenai Pemerintah karena topiknya seolah tidak relevan. Ada penafsir mengatakan ini sebenarnya adalah bagian surat Paulus yang lain, yang pada waktu dikumpulkan oleh jemaat tanpa sengaja terselip di tengah-tengah antara Rom.12 dan 13 ini. Ada yang menafsir bahwa sebenarnya ini bukan tulisan dari Paulus tetapi merupakan tambahan selanjutnya dari redaksi dari jemaat Tuhan pada waktu surat Roma ini diturunkan. Tetapi belakangan banyak penafsir setuju bahwa justru bagian ini merupakan bagian yang sangat penting dan relevan bicara mengenai sikap etika orang Kristen karena Paulus waktu bicara mengenai kasih, mengenai jangan membalas kejahatan, Paulus sadar bisa jadi orang Kristen memiliki sikap dan pandangan yang ekstrim atau di pihak lain menjadi kecewa. Beberapa penafsir setuju bagian ini memiliki dua fungsi. Pertama, mencegah terjadinya spiritual ekstremis orang Kristen. Spiritual ekstremis orang Kristen itu sudah muncul di dalam jemaat Korintus. Kita lihat dalam 1 Kor.5:9-10 Paulus menulis, ”…dalam suratku yang kutuliskan kepadamu supaya kamu jangan bergaul dengan orang cabul…” di sini ada indikasi bahwa ada surat Paulus yang ditulis kepada jemaat Korintus sebelumnya yang melarang orang Kristen untuk bergaul dengan orang seperti itu. Akibat kalimat ini maka ada spiritual ekstremis muncul salah menafsirkan maksud Paulus berarti seolah-olah Paulus meminta orang Kristen tidak boleh berhubungan dengan orang non Kristen. Itu sebab Paulus kemudian mengkoreksi pikiran yang salah ini.

Dalam Rom.13 setelah Paulus bicara mengenai orang Kristen untuk taat dan respek kepada Pemerintah, langsung prinsip praktis yang Paulus angkat adalah bicara mengenai membayar pajak. Memang di dalam catatan sejarah, kurang lebih tahun 56-58 AD pernah terjadi pemberontakan di kekaisaran Romawi dimana orang-orang tidak mau membayar pajak. Apakah firman Tuhan ini berbicara kepada orang Kristen waktu itu untuk menjadi satu prinsip Paulus bahwa kita menjadi orang Kristen, kita menjadi anak Tuhan, kita sudah ditebus dari dunia ini, memang kita bukan lagi dari dunia ini tetapi kita tetap masih tinggal di dalam dunia. Kita tidak boleh hanya hidup sebagai konsep orang Kristen yang spiritualitas yang merasa tidak ada sama sekali hubungan dengan dunia ini sehingga mungkin konsep ini menyebabkan banyak orang Kristen berpikir kita tidak ada hubungan dengan Pemerintah, kita tidak ada hubungan dengan society, kita jadi orang Kristen yang menarik diri dari orang-orang yang bukan Kristen. Itu yang terjadi di jemaat Korintus, padahal Paulus tidak bermaksud seperti itu. Praktisnya, sebagian orang Kristen yang spiritual ekstremis itu mungkin bersikap tidak mau membayar pajak. Memang dunia ini akan segera berlalu, kata Paulus, kita berjalan menuju kepada ‘the Kingdom of God’ tetapi tidak berarti kita menghina dan mengabaikan institusi yang ada di dalam dunia ini.

Di dalam Reformed Theology khususnya di dalam pemikiran Abraham Kuyper, seorang teolog Reformed yang penting, yang pernah menjabat sebagai Perdana Menteri Belanda antara 1901-1905, mengatakan Tuhan memberikan institusi yang memiliki kedaulatan masing-masing. Keluarga, Gereja, dan Pemerintah adalah tiga institusi yang penting, masing-masing institusi itu Tuhan beri kekuatan yang memiliki kuasa di dalam domainnya dimana wilayah institusi yang lain tidak boleh terlalu campur kepada wilayah itu. Dari konsep itu kita melihat mengapa Reformed Theology sangat menekankan bahwa Pemerintah harus separate dengan Gereja. Gereja memiliki domain wilayahnya sendiri. Gereja memiliki otoritas dan aturannya tersendiri. Pemerintah tidak boleh mengatur Gereja. Keluarga juga memiliki wilayah sendiri. Ini salah satu pengaruh dari Abraham Kuyper bicara mengenai institusi yang Tuhan tetapkan di dalam dunia yang sudah berdosa ini. Di dalam dunia yang sudah jatuh di dalam dosa ini Tuhan memiliki common grace, anugerah umum yang Tuhan beri supaya Tuhan boleh menyatakan pemerintahan dan pengaturan kepada dunia yang berdosa dan bisa mencelakakan ini. Dosa memang masuk secara individual, kita berdosa secara individual, tetapi dosa juga masuk menciptakan struktur yang berdosa. Kita hidup di dalam dunia yang berdosa, struktur apapun yang dibuat oleh manusia tidak bisa sempurna. Struktur itu kalau tidak ditata dengan baik akan memiliki kecenderungan atas tiga hal yang negatif. Struktur itu pasti chaos, struktur itu pasti disorder, dan struktur itu memiliki sifat memberontak. Jadi bukan saja kita manusia secara individual memberontak kepada Allah, tetapi struktur di dalam masyarakat kalau tidak diatur dengan baik pasti akan mendatangkan tiga hal ini. Maka common grace Tuhan berikan melalui hukum Pemerintah menjadi prinsip yang penting, dimana Tuhan memberikan hal ini untuk kita tunduk dan taat kepadanya.

Dalam Mark.12:13-17 mencatat orang Farisi datang bersama kelompok Herodian yaitu antek-antek para militer dari raja Herodes. Kenapa dua kelompok ini datang bersama, padahal orang Farisi adalah kelompok anti Pemerintah sedangkan Herodian adalah mata-mata Pemerintah? Dua-dua ini sebenarnya musuh, tetapi musuh satu ketika bisa bersatu untuk menyerang musuh yang sama. Nanti ketika musuh bersama itu sudah dibunuh, maka dua pihak itu akan bermusuhan lagi. Itulah prinsip politik yang umum. Tidak ada teman permanen, yang ada kepentingan bersama. Farisi tidak mungkin bersatu dengan Herodian tetapi demi untuk menjebak Yesus mereka bersatu untuk sementara waktu. Maka either way jawaban Yesus, dua-duanya berbahaya. Mereka bertanya, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Yesus yang mengetahui kemunafikan mereka lalu menjawab, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib engkau berikan kepadanya dan kepada Allah apa yang wajib engkau berikan kepadaNya.” Jawaban Yesus ini memberikan kepada kita satu indikasi, Yesus mengetahui ada limitasi otoritas tertentu dari Pemerintah yang ada dengan mengatakan ‘gambar siapakah ini?’ Sekarang saya ingin tanya, apa yang menjadi miliknya Tuhan? Semua tempat dimana gambar Tuhan terletak yaitu kita sendiri sebagai gambar dan rupa Allah. Ini adalah jawaban yang indah sekali yang perlu keluar dari mulut kita. Jangan pikir yang milik Tuhan hanyalah perpuluhan kita, tetapi sepenuh hidup kita adalah milik Tuhan karena gambar Tuhan ada pada kita yang Dia berhak claim itu milik Dia. Dari jawaban Yesus tadi kita bisa melihat faktor yang kedua bahwa Allahlah yang berdaulat di atas semua yang ada dan Dia memberikan kepada Pemerintah limitasi otoritas tertentu, antara lain hak untuk mengambil pajak, dsb. Dari prinsip ini maka Paulus membawa kita kepada Rom.13, bagaimana sikap orang Kristen terhadap Pemerintah. Memang raja kita bukan Kaisar dan mungkin Kaisar Romawi memiliki policy tertentu yang tidak menguntungkan orang Kristen waktu itu, maka bagaimana orang Kristen bersikap kepada Pemerintah yang ada? Di sini Paulus memberikan prinsip yang penting bicara mengenai common grace atas institusi yang Tuhan tetapkan ke dalam dunia ini. Kenapa institusi ini perlu? Sebab melalui institusi ini bisa mendatangkan hal yang positif bagaimana mencegah dan melakukan prinsip yang penting supaya dosa itu tidak menjalar dengan lebih besar dan lebih dahsyat. Common grace dan special grace memiliki perbedaan penting. Orang ditebus dan diselamatkan, menjadi lebih baik, menjadi lebih indah hidupnya, yang bisa ubah seperti itu adalah Allah Roh Kudus melalui special grace. Hanya anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang bisa merubah penjahat menjadi orang baik. Hanya anugerah Allah di dalam Yesus Kristus yang merubah pembunuh menjadi seorang hamba Tuhan yang setia melayani Tuhan. Tetapi common grace memiliki fungsi tidak menjadikan orang menjadi lebih baik tetapi mencegah kejahatan tidak menyebar lebih luas. Dengan adanya Pemerintah, hukum ditegakkan lebih baik, itu hanya mencegah dosa di dalam sosial tidak meraja-lela. Sdr akan melihat di satu tempat ketika hukum tidak ditegakkan dengan baik maka sifat-sifat ini akan segera muncul, bukan? Paling gampang sederhana, begitu natural disaster terjadi di satu daerah, Pemerintah lumpuh, polisi tidak ada, dsb, maka tiga hal ini muncul: chaos, disorder, rebel. Waktu kerusuhan terjadi, ketika hukum tidak ditegakkan dengan baik, alat hukum tidak ada di situ, orang yang mengaku beragamapun keluar membunuh dan merusak orang lain. Maka institusi hukum dan Pemerintah muncul dan melalui itu Tuhan menyatakan common grace-nya bagi manusia dan itu adalah Tuhan beri kepada seluruh umat manusia. Kalau itu Tuhan yang beri, maka adalah keinginanNya kita bersikap positif terhadap institusi itu.

Mengapa Paulus memulai bagian Rom.13 in dengan prinsip ordo: kita harus tunduk kepada otoritas yang ada di atas kita, itu merupakan satu refleksi kita tidak ingin sifat dimensi dosa itu meraja-lela di dalam hidup kita. Sebagai manusia berdosa kita akan memiliki kecenderungan ini: chaos, disorder and rebel. Dengan tunduk kepada otoritas yang ada di atas, Tuhan memberi ordo itu maka sebagai orang Kristen kita harus belajar memelihara ordo ini di dalam hidup kita. Beberapa ordo muncul: pertama, ordo family. Di situ kita bertemu dengan perintah firman Tuhan “Hai suami, kasihilah isterimu. Dan isteri respek kepada suamimu. Anak hormatilah orang tuamu.” Itu adalah ordo yang Tuhan beri. Who is in charge? Siapa yang pimpin keluargamu? Siapa yang memberikan prinsip kebenaran, otoritas, dsb. Ini merupakan hal yang penting. Sebagai papa memang kita tidak boleh terlalu banyak bicara, tetapi tetap prinsip yang penting itu ada di tangan kita. Dengan memelihara ordo ini kita bisa melihat bukan saja anak dari keluarga Kristen tetapi juga yang bukan Kristen bisa memiliki etika dan sifat yang baik karena Tuhan memelihara nilai-nilai ordo seperti ini. Negara akan menjadi hancur kalau tidak memiliki komunitas hingga yang terkecil kuat bersatu mendukungnya. Komunitas yang kecil itu akan menjadi lemah dan hancur kalau tidak didukung oleh kuatnya sebuah keluarga. Kita melihat spiritual authority juga ada ordonya. Paulus meminta kita juga menghormati spiritual leader kita dalam 1 Kor.16:16 ”…kepada mereka yang mengabdikan diri kepada pelayanan terhadap orang-orang kudus, taatilah mereka dan setiap orang yang turut bekerja dan berjerih payah.” Di dalam struktur gereja kita juga melihat ada ordo dan aturan seperti ini. Kita melayani bersama-sama sebagai anak-anak Tuhan yang melayani, tetapi fungsi kita berbeda-beda. Di dalam hubungan relasi kolega dalam pekerjaan, Paulus meminta orang Kristen yang menjadi budak untuk tunduk kepada tuannya (Tit.2:9), ini bicara mengenai social order. Ada prinsip hubungan dimana kita menjadi bawahan seseorang, kita menyatakan sikap setia, taat, dan respek kepada yang di atas kita, dan yang di atas menyatakan sikap care memperhatikan dan melindungi yang ada di bawah.

Jadi sdr perhatikan mengapa mulai dari bagian ini Paulus tidak ingin orang Kristen yang terlalu spiritual ekstremis yang hanya mau tanggung jawab sama Tuhan, hidup hanya bagi Tuhan, tidak ada tanggung jawab kepada yang lain, Paulus mengatakan tidak boleh menjadi orang Kristen seperti itu karena Tuhan menetapkan Pemerintah dan Pemerintah merupakan salah satu institusi yang penting yang Tuhan beri.

Yang kedua, fungsi dari bagian ini penting sekali mengapa Paulus menulis firman Tuhan ini, Rom.13:4 Pemerintah adalah hamba Allah untuk membalaskan murka Allah atas mereka yang berbuat jahat. Ayat ini menarik karena di pasal sebelumnya (Rom.12:19) Paulus bicara mengenai bagaimana orang Kristen bersikap kepada orang yang berbuat salah kepadanya, bagaimana orang Kristen bersikap kepada ketidak-adilan yang terjadi kepadanya, Paulus mengatakan jangan menuntut pembalasan tetapi berilah tempat kepada murka Allah sebab ada tertulis pembalasan itu adalah hak Allah. Kapankah murka Allah bisa dibalaskan? Dengan cara apa? Mungkin pertanyaan ini bisa membuat orang Kristen yang berpikir menyerahkan pembalasan itu kepada Allah, apakah berarti Allah menjadi Allah yang buta dan tidak melihat ketidak-adilan? Apakah Allah menjadi Allah yang membiarkan begitu saja pelaku kejahatan itu bebas pergi? Kita tidak mau seperti itu, tetapi kita juga tidak mau seperti “Dark Justice” malam-malam keluar membunuh semua penjahat yang terbebas dari hukuman. Allah tidak membiarkan kejahatan orang, tetapi di sini Paulus memberikan prinsip penting: Tuhan memberikan institusi Pemerintah dan Pemerintah akan menjadi alat dan hamba Allah untuk menjalankan murka Allah sebagai eksekutorNya. Maka bolehkah orang Kristen mendapatkan perlindungan hukum dari Pemerintah? Tentu boleh. Dapatkah kita memohon perlindungan hukum atas ketidak-adilan yang terjadi kepada kita? Tentu dapat. Sebab kalau tidak, berbahaya sekali kalau misalnya sdr dirugikan di dalam bisnis, misalnya dan kita mencari keadilan dari hukum yang ada. Itu sebab Tuhan memberikan Pemerintah dan Pemerintah menjadi hamba Allah untuk kebaikanmu, yaitu melaksanakan eksekusi dari murka Allah. Sdr perhatikan di dalam bagian ini Paulus memberikan konsep Pemerintah memiliki pedang, gereja pedangnya hanya satu yaitu firman Allah. Gereja tidak boleh menggunakan power seperti Pemeritah. Gereja tidak boleh menekankan sesuatu karena itu bukan wilayahnya. Tetapi Pemerintah diberi power untuk memaksa sesuatu karena Alkitab sendiri mengatakan Pemerintah memiliki pedangnya. Dia punya hak itu. Maka pedang di sini menjadi power yang bisa dipakai memaksa sedangkan gereja tidak.

Kemudian kita masuk kepada aspek bagaimana kita bersikap terhadap hukum dan sebagainya, kita harus meneliti dengan hati-hati di sini, sekuat-kuatnya Gereja, Gereja hanya bisa melakukan satu hal, yaitu kepada orang Kristen yang sudah merusak iman, yang ditegur tidak mau berbalik dan bertobat, maka kekuatan Gereja adalah hanya satu yaitu ekskomunikasi, tidak mengijinkan orang itu hadir di dalam persekutuan orang Kristen yang bisa merusak dan merugikan orang Kristen.

Tidak semua Pemerintah boleh kita tunduk dan takluk tanpa reserve. Maka di sini ada prinsip penting, kalau Pemerintah di atas kita adalah Pemerintah yang takluk kepada otoritas yang di atas, melakukan demi untuk kebaikan kita, terhadap Pemerintah seperti itu kita takluk. Tetapi kepada Pemerintah yang mungkin meminta kita untuk melakukan kejahatan, maka berlaku seperti pada waktu Petrus dilarang memberitakan firman, Petrus bilang, “Kami lebih takut kepada Tuhan daripada aturan manusia.” Ini membuka kemungkinan seperti itu. Sdr jangan lupa, Revolusi Industri di Amerika itu semua digerakkan oleh Gereja terhadap segala ketidak-adilan dari execive power abusive dari monarki di Eropa sehingga Gereja mengatakan kita boleh tidak taat kepada otoritas di atas kalau dia tidak melakukan kebaikan. Jadi tidak selamanya kita diminta untuk taat tanpa reserve. Kita dipanggil setia dan taat kepada Pemerintah. Salah satunya adalah kita belajar membayar pajak, memberi kepada Pemerintah yang berhak. Tetapi kalau pajaknya terlalu tinggi, bolehkah kita protes? Boleh saja. Dimana protesnya? Di dalam Pemilu. Sdr jangan membuang hak suara sdr, karena Pemilu adalah proses pendewasaan demokratisasi. Yang menjadi ‘golput’ adalah orang yang kurang dewasa di dalam proses demokrasi. Memang alasan ‘tidak ada politisi yang saya suka,’ itu betul, karena memilih pemimpin bukanlah memilih mana yang saya suka tetapi mana yang lebih baik daripada yang buruk. Gereja tidak boleh memberi arahan sdr memilih partai politik yang mana, tetapi Gereja harus memberitakan prinsip kebenaran. Gereja against terhadap aborsi, maka taruhlah kandidat yang menginginkan aborsi di nomor paling bawah. Gereja against terhadap keinginan orang melakukan gay marriage. Kalau ada kandidat seperti itu, taruhlah dia di nomor paling bawah. Gereja against terhadap tindakan penindasan terhadap hak-hak minoritas dan kepada kebebasan beragama. Kalau ada kandidat yang ekstrim di situ, taruhlah dia di nomor paling bawah. Orang-orang yang ingin mendatangkan sesuatu yang anti terhadap iman Kristen, taruh dia di nomor paling bawah. Pada waktu kita hidup di satu negara dimana you tidak punya pilihan apa-apa untuk melakukan perubahan kepada struktur dan policy Pemerintah, yang bisa kita lakukan hanya satu yaitu berdoa. Tetapi pada waktu kita sanggup dan bisa melakukan influence terhadap policy dan struktur dari Pemerintah, paling tidak yang kita lakukan adalah vote. Yang kedua, persiapkanlah kader-kader orang Kristen yang bisa menjadi politician yang bersih, jujur dan mengusahakan kesejahteraan banyak orang. Ini memang tidak gampang karena seorang politician memerlukan kedewasaan di dalam akomodasi pikiran dan pendapat orang, sehingga kadang-kadang itu mendatangkan kesulitan bagi mereka. Tetapi jujur politik memang adalah satu wilayah dimana begitu banyak pendapat memerlukan kedewasaan seorang leader untuk memikirkan semua itu. Jadi jangan pilih seorang leader hanya karena sdr bakal dapat duit dari dia. Jadi disini saya mengajar sdr banyak hal bagaimana sdr bertanggung jawab sebagai orang Kristen yang baik, menjadi orang Kristen belajar hidup di dalam dunia terlibat aktif di dalamnya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

15 Agustus 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: