Sikap terhadap Musuh

Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang! Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan. Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!

Rom.12:17-21

Eksposisi Surat Roma (37)

Ini adalah seri ke tiga khotbah saya bicara mengenai pengampunan. Dengan membahas tema ini secara panjang lebar membuktikan kepada kita bahwa bicara mengenai pengampunan mungkin gampang terdengar di telinga kita tetapi begitu sulit terjadi di dalam hidup kita hari lepas hari. Sejujurnya, membicarakan tema ini bagi saya merupakan sesuatu hal yang serius. Kenapa? Karena kita harus mengakui betapa sering kita terjebak tidak gampang untuk bisa mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Ini merupakan fakta realita yang harus kita akui. Kita bergumul dan terus berjalan di dalam persoalan ini. Pergumulan kita seringkali berada di dalam dua kutub yang kita hadapi, di satu pihak kita sadar kita adalah orang yang sudah diampuni oleh Tuhan dan Alkitab mengingatkan kita untuk waspada, orang yang tidak memiliki hati yang penuh dengan pengampunan berarti kita mungkin juga tidak diampuni oleh Tuhan (band. Mat.18:35). Yesus memberikan begitu banyak perumpamaan mengenai hal ini, bukan? Bahkan “Doa Bapa Kami” mengingatkan kepada kita supaya kita mengampuni orang, sama seperti Tuhan sudah mengampuni kita. Itu menjadi ketakutan hati kita, karena sebagai anak-anak Tuhan kita belajar merefleksikan kasih Tuhan supaya kita juga rela mengampuni orang lain. Tetapi di pihak lain kita juga sadar dan tahu dalamnya hati kita terluka oleh tindakan perbuatan kesalahan orang lain, dan luka itu perlu waktu yang panjang dan kadang-kadang mungkin waktu hidup kita yang 70 tahun tidak cukup untuk menyembuhkan luka yang ada di dalam hati kita. Itu sebab kita berada di dalam dua kutub seperti ini. Kita guilty karena kita tidak bisa lepas dari persoalan seperti ini. ‘Tuhan, kalau saya masih mengingat kesalahan orang kepada saya, apakah saya sudah sungguh mengampuni orang itu?’ Itu sebab banyak sekali pertanyaan yang mungkin muncul di dalam hati kita. Kalau saya tidak bisa lagi memiliki hubungan yang baik dengan dia meskipun saya sudah mengampuni dia, tidak mungkin lagi merestorasi hubungan seperti semula, apakah saya sungguh-sungguh mengampuni orang itu? Mungkin pengampunan gampang dibicarakan tetapi tidak gampang terjadi di dalam realita hidup kita, khususnya kalau relasi itu adalah relasi yang paling intim dan paling dekat pada awalnya dan akhirnya menjadi retak dan mungkin tidak akan bisa pulih kembali. Bagaimana di dalam relasi suami isteri yang kemudian karena kesulitan terjadi perceraian, apakah mungkin terjadi pemulihan lagi? Teman yang akrab, mantan pacar, dsb karena pertengkaran akhirnya putus hubungan, ketika bertemu lagi dengannya mungkin masih gampang kalau hanya say “hi” dengannya dan dia masih single. Tetapi tidak gampang kalau dia sudah menggandeng orang lain, bukan? Hati kita jadi membara dan luka itu berdarah lagi.

Kalau tidak mungkin terjadi restorasi kembali, apakah berarti saya belum tuntas mengampuni? Kita kadang-kadang guilty karena kita masih menyimpan kemarahan dan mendengar soal pengampunan, kita sebagai orang Kristen yang sudah diperlakukan dengan tidak adil, tetapi kenapa kita yang dituntut harus melakukan sesuatu? Kenapa kita yang harus mengampuni? Kenapa action itu harus dimulai dari saya? Kenapa tidak menuntut orang yang sudah berlaku salah itu untuk juga melakukan sesuatu kepada saya? Itu sebab, jujur kita sulit untuk mengampuni karena berkaitan dengan dua hal: pertama, kita sulit untuk mengampuni kalau kita tahu intensitas dari kesalahan orang itu memang begitu berat dalam hidup kita. Gampang untuk mengampuni orang yang mungkin menginjak kaki kita, tetapi tidak gampang untuk mengampuni orang yang memperkosa anak kita. Gampang untuk mengampuni orang yang mungkin bersalah satu tahun sekali, tetapi tidak gampang untuk mengampuni orang yang setiap saat melakukan kesalahan kepada kita. Intensitas dan frekuensi kesalahan orang itu menjadi dua faktor yang membuat kita begitu sulit mengampuni. Tetapi sebaliknya dengan menyadari realita hati kita seperti ini saya justru mau balik satu hal supaya di situ sdr baru bisa mengerti dengan sungguh betapa serius dan betapa dalamnya cinta kasih pengampunan Tuhan kepada kita. Kalau ditinjau dari hati kita, hanya berdasarkan kekuatan manusiawi kita mengerti pengampunan baru kita sadar hal itu tidak mudah untuk kita kerjakan dan kita lakukan. Tetapi dengan kesadaran betapa beratnya untuk mengampuni, saya ingin mengajak sdr melihat bukan dari sisi aspek sifat pengampunan itu saja tetapi saya mengajak sdr melihat kenapa kita tidak bisa mengampuni, sebab kita tahu perbuatan kesalahan itu betapa berat dan betapa menyakitkannya. Itu sebab mengerti pengampunan Tuhan akan menjadi begitu besar, begitu serius, begitu respek, begitu kita hargai pengampunan Tuhan pada waktu kita sadar betapa seriusnya kesalahan dan dosa kita di hadapan Tuhan. Kita tidak gampang mengampuni orang, kenapa? Karena kita merasa saya mau mengampuni tetapi bagaimana kalau orang yang menyakiti saya itu tidak memperlihatkan sedikitpun penyesalannya? Manusia berdosa bukan saja dia bersalah kepada Tuhan tetapi sekaligus diapun tidak mau mengakui dosanya dan tidak memiliki keinginan untuk memperbaiki hubungan dengan Tuhan. Di situ baru sdr tahu dan mengerti betapa Tuhan tetap menawarkan kasih dan menawarkan pengampunan kepada orang-orang berdosa seperti itu. Dengan demikian barulah kita mencintai dan menghargai nilai konsep pengampunan Kristus di atas kayu salib. Bagaimana kita bersikap, hari ini saya bicara mengenai pengampunan berdasarkan bagian ayat 17-21, ini adalah bagian Paulus bicara bagaimana kalau kita berelasi dengan musuh di dalam pengertian orang yang sudah melakukan kesalahan, orang yang berbuat jahat kepada kita, orang yang melakukan tindakan yang mungkin merugikan dan mencelakakan kita, tetapi tidak menunjukkan keinginan untuk mengaku bersalah, tidak menyatakan ciri-ciri hati bersalah dan tidak mengakui kesalahan secara gentleman kepada engkau dan saya. Bagaimana kita berespons dan bersikap akan hal ini? Tiga minggu lalu saya bahas pengampunan Tuhan harus kita mengerti secara serius dengan keadilan, yaitu pengampunan Tuhan itu bersifat conditional dan bersyarat yaitu tergantung apakah orang itu menyatakan satu respons yang penting yaitu bertobat dan berbalik sehingga pengampunan Tuhan terjadi baginya. Konsep ini penting sebab beberapa waktu yang lalu setelah terjadi peristiwa penembakan massal di Virginia Tech, beberapa orang Kristen mengadakan memorial service untuk penembaknya dan mengatakan “Biarlah you juga rest in peace. We forgive you no matter what you do. Engkau juga layak diperlakukan sama seperti korban penembakanmu…” Itu menjadi satu kontroversi di dalam diskusi pengampunan orang Kristen. Is it too far? Itu sebab bagaimana kalau dia berbuat salah, melakukan kesalahan tetapi tidak meminta ampun, tidak mengaku salah, bagaimana respons kita? Saya percaya respons kita adalah anger dan hurt dan mengatakan ‘saya pasti tidak akan mau mengampuni orang seperti itu.’ Saya percaya kita harus tetap menawarkan pengampunan kepada dia tetapi kita tidak memberikan pengampunan kepada dia dan pengampunan itu tidak teraplikasi kepada dia sebelum dia mengaku salah dan bertobat. Tetapi di dalam kondisi sebelum dia mengaku, di dalam keadaan dia tidak mau bertobat, engkau dan saya bagaimana berespons kepadanya? Itu sebab bagi saya bagian firman Tuhan ini Paulus paling tidak memberikan tiga point yang penting dan tiga point ini bukan hal yang gampang. Point yang pertama, respons kita kepada orang yang melakukan hal yang tidak baik, orang yang merugikan hidup kita, sebagai anak Tuhan yang sudah ditebus oleh Tuhan Paulus bilang jangan balas kembali kejahatan yang dia buat kepadamu. Itu respons yang pertama. No revenge. Jangan balas kembali apa yang sudah dibuat orang itu kepadamu. Orang mungkin bilang, “Oh, saya tidak membalas, saya hanya menuntut keadilan.” Itu sebab tidak gampang untuk melakukan firman Tuhan ini.

Ada sebuah website yang didedikasikan untuk wanita yang diperlakukan tidak adil oleh pria. Website ini mengajar wanita bagaimana take revenge kepada pria. Website ini mengatakan revenge is good karena pertama, revenge is just and simple. Dia lakukan begini, kita balik kembali. Just and simple. Kedua, revenge itu sehat. Karena dia seperti nanah, disimpan terus tidak sehat, meskti dikorek dan dikeluarkan. Kalau kemarahan itu engkau simpan-simpan, akhirnya you sendiri yang sakit jantung, high colesterol dan high blood pressure, itu sebab revenge is healthy. Ketiga, revenge itu adalah self teraphy yang paling murah. You sudah marah dan benci sama orang akhirnya jadi depresi. Pergi ke psikolog harus bayar mahal. Maka lebih baik revenge karena revenge is very cheap.

Bagi manusia revenge mungkin adalah siklus yang alami. Revenge merupakan defence mechanism kita terhadap orang yang ingin melakukan hal yang salah kepada kita. Orang mau pukul kita dengan sendirinya kita bereaksi menghindar lalu kemudian tangan keluar mau pukul orang itu. Itu sebab Paulus bilang jangan balas kembali kejahatan dengan kejahatan, mungkinkah ini bisa kita kerjakan dan terapkan di dalam hidup kita? Tidak gampang dan tidak mudah, bukan? Kalau kesalahan itu hanya kecil dan sepele, mungkin kita bisa tidak balas. Tetapi tidak gampang bagi kita untuk tidak menuntut balas kalau itu merupakan kesalahan yang berat, apalagi berkaitan dengan komplikasi emosional yang tidak mudah. Dalam novel “A Time to Kill” John Grisham menceritakan bagaimana seorang ayah kulit hitam menemukan anak gadisnya yang masih kecil diperkosa dan disiksa hampir mati oleh dua orang pemuda kulit putih. Di belakang ruang pengadilan dia menanti kedua pemuda itu dan menembak mereka sampai mati. The whole story dari novel ini adalah memperdebatkan apakah ayah ini harus ditetapkan sebagai pembunuh atau harus membebaskan dia karena dia menuntut keadilan? Apabila realita seperti itu terjadi di dalam hidup kita saya percaya justice dengan revenge is an option, bukan? Bagaimana kita berespons kepada orang yang sudah berulangkali melakukan kejahatan dan bukan saja tidak mau mengakui perbuatannya, tidak mau minta maaf kepadamu, bagaimana kita berespons sebagai orang Kristen? Paulus bilang, jangan balas kembali kejahatan yang sudah dilakukan kepada engkau dan saya. Ini menuntut bijaksana rohani yang tinggi dan dalam. Tetapi dengan demikian kita belajar bergumul bagaimana merefleksikan kasih Kristus di dalam hati kita. Kenapa kita tidak boleh menuntut revenge? Sebab saya percaya revenge bukanlah solusi yang bisa menyelesaikan persoalan.

Cornelius Platinga di dalam bukunya mengatakan sesungguhnya yang lebih berbahaya di dalam dosa bukanlah pelaku dosa melainkan korban dosa. Orang yang melakukan dosa bukan karena dia memang pelaku dosa tetapi orang yang selalu menempatkan diri ‘aku adalah korban.’ Maka kalau kita berada di dalam posisi merasa diri adalah korban maka kita akan revenge untuk menuntut balas. Jangan lupa, orang yang menerima pembalasanmu akan kemudian menaruh posisi sekarang dirinya adalah korban. Itu sebab tidak heran siklus revenge tidak akan berhenti dan akan berulang terus. Itu sebab kenapa revenge tidak bisa menjadi opsi yang membawa solusi.

Kenapa kita ingin terus menyimpan kesalahan orang dan ingin melakukan revenge? Ini adalah hal yang tidak gampang dan tidak mudah kita pahami. Kalau sdr menonton film silat Cina, film itu akan selalu dimulai dengan papa mama yang jagoan mati duluan di depan dan sebelum mati mama akan bilang kepada anaknya, “Balas dendam orang tuamu!” Lalu anak itu akan dikejar bajingan dan kemudian dia jatuh ke jurang dan ada kakek tua yang menyelamatkan dia dan memiliki ilmu silat yang lebih tinggi sehingga terjadi pembalasan dendam.

Film India terbalik, di akhir dari film sang jagoan memeluk mamanya yang sedang sekarat dan sebelum meninggal mama itu akan berkata, “Jangan balas orang jahat itu sebab dia adalah papamu.” Jangan membalas, kata Paulus. Saya percaya ini adalah respons yang Tuhan minta. Kita adalah manusia yang terbatas, kita harus mengaku dengan jujur kita adalah manusia yang berdosa. Kita berkata impas tetapi kita tidak sadar orang itu bisa menjadi korban dan kita akhirnya menciptakan siklus tindakan revenge yang tidak ada habis-habisnya. Kedua, pada waktu kita bilang impas, belum tentu itu impas karena bisa jadi kita melakukan lebih daripada yang dia lakukan. Ketiga, pada waktu kita bilang impas, kita lupa itu adalah hak Tuhan, jangan sampai kita menjadi Tuhan di situ. Ini point yang penting.

Kedua, ayat 21 apa yang kita lakukan kepada orang yang jahat kepada kita? Bukan saja kita tidak membalasnya tetapi kita dipanggil untuk berbuat baik kepadanya. Ini adalah panggilan yang tidak gampang, bukan? Secara pro-active to do something good kepada orang yang sudah bersalah kepada kita. Saya tidak melakukan apa-apa itu sudah cukup baik lho. Not enough, kata firman Tuhan. Orang yang tidak baik, yang hatinya mungkin jahat kepadamu, selain tidak membalasnya, tunjukkanlah kebaikan kepada dia. Kenapa? Paulus bilang, ini point yang penting, karena dengan berbuat demikian you tumpuk hari demi hari bara api di atas kepalanya. Ini adalah satu tradisi untuk menyatakan orang itu malu. Puji Tuhan, dengan berbuat baik kepadanya akhirnya hatinya tersentuh dan dia percaya Tuhan. Tetapi mungkin semakin you berbuat baik, dia semakin menjadi-jadi, itu mungkin. Tetapi saya percaya bagaimanapun jahatnya dia, kalau dia betul-betul manusia, you terus berbuat baik kepadanya, hatinya someday pasti akan malu. Balas terus balas, akan menjadi siklus yang tidak ada habis- habisnya. Dia bikin jahat, kita balas baik, mungkin dia rasa dia benar maka dia bikin jahat lagi. Tetapi dua tiga kali kita terus baik kepadanya, hatinya malu. ‘Saya seharusnya tidak melakukan itu kepada dia karena dia terlalu baik sama saya.’ Kepada orang yang seperti itu, Paulus bilang, lakukanlah yang baik karena satu kali kelak kita bisa mempermalukan orang itu. Ketiga, kalau pengampunan itu berkaitan dengan hubungan horisontal, kita akan sampai kepada satu titik dimana kita akan bertanya seperti Petrus, “Tuhan, berapa kalikah aku harus mengampuni orang yang bersalah kepadaku? Tujuh kalikah?” Tawaran Petrus sudah lebih baik karena menurut tradisi orang Yahudi tiga kali mengampuni orang yang bersalah itu sudah cukup. Tetapi Tuhan Yesus bilang, “Tidak. Tujuh puluh kali tujuh…” Artinya, it is unlimited. Kenapa kita bisa mengeluarkan kata itu kalau kita memang mengkaitkan pengampunan kita bersifat horisontal kita akan sampai kepada hal itu karena kita terbatas. Ada limitasinya. Tidak mungkin saya bisa terus-menerus mengampuni dia. Maka sampai di sini kita harus menarik satu faktor vertikal di dalam pengampunan kita dan Paulus memasukkan unsur ke tiga ini. Di sini dia mengatakan you bukan mengampuni dia tetapi you tidak balas kepada dia. You hanya menawarkan pengampunan. Kalau dia tidak berespons dengan pertobatan, dia tidak berespons dengan mengaku salah, jangan pikir dia bisa escape dari dosa dan kesalahannya. Maka point ke tiga muncul: kasih ruang kepada keadilan Tuhan. Saya percaya ini point yang paling penting yang membuat hati kita tidak akan terganggu sekalipun orang itu tidak akan pernah menyatakan maaf kepada kita, tetapi kita tidak simpan itu menjadi kemarahan yang memuncak di dalam hati kita pada waktu kita tahu hal-hal seperti ini dilihat oleh Tuhan dan Tuhan tidak pernah melupakannya. Dalam 2 Tim.4:14 Paulus menyebut seorang bernama Aleksander yang terus berbuat jahat kepada Paulus, Paulus bilang Tuhan akan membalas dia menurut perbuatannya. Itu sikap dia kepada diri sendiri, lalu kemudian dia memberikan satu nasehat praktis kepada Timotius, waspada terhadap orang itu. Kalau bisa menjaga jarak, hati-hati terhadap kemungkinan trick yang dia lakukan kepadamu. Tetapi aku, aku tidak menuntut balas. Paulus tidak bilang dia terus ampuni perbuatan-perbuatan Aleksander sebab dia terus berbuat jahat, tetapi hati Paulus tetap lega sekalipun diperlakukan dengan tidak adil dan orang itu terus jahat kepadanya, dia bilang Tuhan yang membalasnya. Bagi saya ini merupakan respons yang penting yang membuat hati kita menjadi indah dan lega. Bukan karena kalau tidak mengampuni kamu nanti akan susah sendiri, karena memang orang itu belum mengaku bersalah. Tetapi belum mengaku salah lalu terus kita simpan kesalahannya, itu juga tidak. Sdr lihat bedanya? Orang bersalah, supaya you tidak sakit hati, buang cepat-cepat supaya hatimu lega. Lho, bagaimana bisa, dia belum minta maaf. Tetapi dia belum minta maaf tidak berarti you marah terus kepada dia. Ini dua hal yang penting dan ini prinsip penting. Paulus bilang, serahkan itu kepada keadilan Tuhan. Saya akan menambahkan satu point tentang pengampunan yang tidak disebutkan di dalam Rom.12 ini yaitu melihat pengampunan dari kacamata pemeliharaan Tuhan. Bagaimana Yusuf bisa mengeluarkan satu kalimat yang agung, “Engkau mereka-rekakan yang jahat, tetapi Tuhan merubahnya menjadi kebaikan.” Saya akan khotbahkan minggu depan “Pengampunan dan Pemeliharaan Allah.” Kita bersyukur di dalam pergumulan kita menjadi serupa dengan Tuhan, kita ingin belajar menjadi terang dan saksi Tuhan. Tuhan memberi kita kekuatan, memberi kita keberanian, memberi kita hidup yang terus bertumbuh tidak menyimpan kesalahan orang lain dan tidak berani untuk melakukan kesalahan kepada orang lain sekalipun orang itu melakukan kesalahan yang begitu berat kepada kita, sebab kita tahu ada penghakiman Tuhan kepada mereka dan ada penghakiman Tuhan kepada kita yang melakukan pembalasan kepada orang lain. Di situ hati kita menjadi gentar dan takut, sebab kita tidak adil. Hanya Tuhan yang adil. Biar kita berserah kepada Tuhan dan bersyukur untuk pengampunanNya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

25 Juli 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: