Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > There is Much More in You

There is Much More in You

Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.” Itulah sebabnya aku selalu terhalang untuk mengunjungi kamu. Tetapi sekarang, karena aku tidak lagi mempunyai tempat kerja di daerah ini dan karena aku telah beberapa tahun lamanya ingin mengunjungi kamu, aku harap dalam perjalananku ke Spanyol aku dapat singgah di tempatmu dan bertemu dengan kamu, sehingga kamu dapat mengantarkan aku ke sana, setelah aku seketika menikmati pertemuan dengan kamu. Tetapi sekarang aku sedang dalam perjalanan ke Yerusalem untuk mengantarkan bantuan kepada orang-orang kudus. Sebab Makedonia dan Akhaya telah mengambil keputusan untuk menyumbangkan sesuatu kepada orang-orang miskin di antara orang-orang kudus di Yerusalem. Keputusan itu memang telah mereka ambil, tetapi itu adalah kewajiban mereka. Sebab, jika bangsa-bangsa lain telah beroleh bagian dalam harta rohani orang Yahudi, maka wajiblah juga bangsa-bangsa lain itu melayani orang Yahudi dengan harta duniawi mereka. Apabila aku sudah menunaikan tugas itu dan sudah menyerahkan hasil usaha bangsa-bangsa lain itu kepada mereka, aku akan berangkat ke Spanyol melalui kota kamu. Dan aku tahu, bahwa jika aku datang mengunjungi kamu, aku akan melakukannya dengan penuh berkat Kristus.

Rom.15:14-29

Eksposisi Surat Roma (45)

Saya percaya tidak ada di antara kita yang terlepas dari persoalan dan kesulitan karena itu datang ke dalam hidup setiap kita tidak ada habis-habisnya. Kadang-kadang kita akhirnya merasa kesulitan dan problem hidup kita begitu banyak sehingga kita pikir kita tidak punya waktu tersisa lagi untuk melakukan hal-hal baik bagi orang lain.

Pdt. Stephen Tong menceritakan bagaimana kehidupan ibunya yang janda miskin yang begitu susah dan sulit itu masih memikirkan orang lain yang lebih susah daripada dia. Satu hari selalu dia sisihkan untuk membesuk orang, menyisihkan beras untuk memberi kepada orang miskin. Selalu mencari kesempatan untuk memberikan waktu dan apa yang ada pada dirinya untuk orang lain. Betapa kisah seperti ini selalu menggugah dan mengharukan kita. Tetapi banyak di antara kita mungkin sampai hari Minggu pun dari pagi terus disibukkan dengan diri sendiri dan keluarga sendiri, tidak ada waktu untuk pelayanan dan memperhatikan orang lain. Bukan saya mengatakan bahwa kita tidak boleh memperhatikan diri dan keluarga sendiri, tetapi saya rasa kita harus sedikit belajar melihat ada banyak hal Tuhan sudah beri di dalam hidup kita, adakah saya sudah menyisihkan waktuku pada hari Minggu aku datang berbakti dan bergereja, biar ini menjadi waktuku untuk Tuhan dan melayani orang lain? Paulus berkata kepada jemaat Filipi begitu indah, “You were indeed concerned for me but you had no opportunity…” (Fil.4:10). Kita mungkin belum bisa sebab belum banyak kesempatan tetapi itu tidak boleh membuat kita kehilangan perhatian. Ada begitu banyak hal engkau begitu concern kepadaku, kata Paulus kepada jemaat Filipi, cuma belum ada kesempatan. Puji Tuhan, sekarang engkau ada kesempatan dan engkau merealisasikan akan hal itu.

Dalam Rom.14-16 sdr menemukan tahap yang indah sekali dari Paulus mengajak jemaat melihat dari persoalan diri berani untuk melihat kepada persoalan orang lain, sesudah itu kemudian Paulus bilang, “There is much more in your life…” yang bisa engkau berikan bagi orang lain. Paulus panjang lebar bicara secara khusus komplikasi hubungan di antara jemaat yang tidak gampang. Maka dia summarize dengan kalimat ini, “Tetap bagaimanapun apa yang engkau kerjakan baik jangan sampai dianggap tidak baik oleh orang lain…” Berarti fakta itu bisa terjadi. Itulah yang mungkin menjadi sumber perselisihan, itulah yang mungkin menjadi sumber pertengkaran di antara jemaat. Terjadi ketersinggungan di antara mereka. Rom.14:16 merupakan satu nasehat Paulus agar jemaat jangan di-discouraged terhadap semua perbuatan dan pekerjaan baik yang sudah mereka lakukan walaupun mungkin ada reaksi yang datang kepada apa yang kita lakukan tidak sebanding dengannya. “Do not let what you regard as good be spoken of as evil” adalah ayat memberikan kekuatan kepada kita. Banyak hal yang membuat kita akhirnya kecewa dan tidak mau lagi mengerjakan sesuatu yang baik karena tidak mendapatkan respons yang setimpal dengan apa yang sudah kita kerjakan tetapi itu tidak boleh membuat kita kecewa dengan sesama orang Kristen yang lain di Gereja kita.

Kemudian dalam Rom.15:7 Paulus mengatakan, “Open your heart widely to welcome one another…” Buka hatimu selebar-lebarnya untuk menerima dan menampung kesulitan orang lain. Kita masing-masing sudah punya pergumulan, tetapi Paulus panggil kita sekarang buka hati kita masing-masing untuk bisa embrace others. Sesudah kita belajar bergumul dan menyelesaikan persoalan kesulitan kita masing-masing, tidak boleh berhenti sampai di situ, Paulus bilang mari kita belajar buka hati, coba menampung kesulitan orang. Sesudah sampai kepada tahap itu, Paulus minta kita naik satu tahap lagi yaitu secara aktif melihat keluar, I believe there is much more in your life. Saya yakin masih banyak hal yang baik yang ada di dalam hidupmu.

Minggu lalu saya mengutip kalimat indah dari Liu Wei, pemenang “China got Talent.” Sejak kecil tangan sudah tidak ada, tetapi kaki tetap dipakai untuk memainkan piano. Dia mengeluarkan kalimat yang indah sekali, “Saya hanya punya dua pilihan di dalam hidup ini. Pertama, terus menangis self pity meratapi nasibku dan tunggu kapan saya mati. Pilihan yang kedua, bagaimana menjadikan hidupku lebih indah. Saya putuskan untuk mengambil pilihan yang kedua, to make my life beautiful.” Ada banyak orang di dalam hidup ini tidak memiliki banyak barang, tidak memiliki banyak kesempatan. Orang-orang itulah yang berhak berkata bahwa persoalan hidupnya begitu banyak, bagaimana bisa membuka hati menampung kesulitan orang lain? Tetapi sejarah memberitahukan kepada kita mengapa orang-orang yang mendapatkan the less dalam hidupnya justru bisa menghasilkan the best dalam hidupnya? Sebaliknya ada begitu banyak orang yang menerima berlimpah dan banyak berkat dalam hidupnya, sedikit pun tidak pernah menjadi berkat bagi orang lain, bahkan mungkin dia masih mengeluh kurang di dalam hidupnya. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti ada orang-orang seperti itu.

Itu sebab di sini Paulus mengajak jemaat Roma, pertama, untuk membereskan persoalan di antara mereka yang sebenarnya tidak habis-habis. Kalau mau tunggu sampai itu selesai, sampai kapan pun tidak bisa. Maka sekarang buka hati, terima dan buka hati untuk menampung kesulitan orang lain to embrace others problems. Dan bukan hanya sampai di situ, sekarang saya buka matamu melihat pelayanan pemberitaan Injil yang aku lakukan. Lihat ladang pelayanan yang masih ada di depanmu.

Krisis ekonomi dan krisis moneter belakangan ini harus kita akui telah berpengaruh besar sekali kepada berbagai aspek. Hampir 10-40 badan organisasi dan yayasan Kristen mengaku kekurangan uang karena sudah sedikit sekali orang yang memberi persembahan kepada pelayanan seperti ini. Kita tahu ini adalah kesulitan dan tantangan yang menimpa hampir kepada semua orang, tetapi begitu banyak Gereja hanya memikirkan segala kemungkinan keuangan untuk diri sendiri dan sesudah itu baru pikir bagaimana menolong yang lain. Mari mulai hari ini saya ajak sdr memikirkan dari perspektif yang lain dan itu yang digugah juga oleh Paulus kepada jemaat Roma. Memang jemaat ini bukan hasil dari pelayanan Paulus sendiri, tidak seperti jemaat Makedonia dan Korintus, sehingga dia mungkin agak sungkan untuk mengatakannya kepada jemaat Roma, tetapi di pihak lain dia juga berani karena dia adalah rasul untuk orang-orang non Yahudi (Rom.15:15-16). Kepada jemaat Roma yang mayoritas bukan Yahudi ini Paulus menggugah dan mendesak mereka untuk berkewajiban juga mendukung pelayanan pekabaran Injil meskipun Paulus memakai kalimat yang sedikit halus. “Aku percaya ada banyak hal yang lebih lagi di dalam hidupmu yang boleh engkau kembangkan bagi orang lain…” Ini adalah kalimat yang begitu indah. Kadang-kadang di dalam pelayanan kita menemukan ada orang ingin melayani tetapi langsung dipadamkan dengan kata-kata yang discouraged sehingga dia menjadi kecewa. Paulus di sini memakai kalimat encouragement yang luar biasa. Paulus tidak meminta mereka hanya senang dan puas terhadap kesuksesan pelayanan mereka di masa yang lampau, tetapi Paulus menggugah mereka bahwa ada masih banyak hal yang lebih besar dan lebih banyak di dalam hidupmu. Saya harap ini menjadi prinsip yang penting di dalam kehidupan Kekristenan kita mulai hari ini. Belajar coba melihat kepada diri, apa yang masih ada di dalam dirimu yang belum kita kerjakan dan kita gali di dalam hidup kita bagi Tuhan dan bagi orang-orang lain. Pada waktu kita datang berbakti bersama biar ini menjadi doa dan keinginan kita kepada Tuhan, supaya Tuhan membukakan mata kita melihat apa yang bisa kita gali dari hidup kita bagi orang lain.

Dalam salah satu renungan pagi yang saya bawakan di Israel, saya mengupas dari 1 Kor.10:1-10 ini merupakan satu bagian kesimpulan yang luar biasa dari firman Tuhan bicara mengenai pada waktu kita melihat sejarah bangsa Israel, apa yang kita bisa pelajari dari sejarah yang panjang itu? Paulus memberikan beberapa prinsip yang sangat kental dari sini. Saya menafsirkan bagian ini dengan cara yang sangat berbeda dan saya mencoba menstimulir pikiran sdr. Sejarah Israel diberikan kepada kita supaya sejarah itu boleh menjadi contoh peringatan bagi kita (ayat 6 dan 11), bukan saja bagi kehidupan kita secara pribadi tetapi juga menjadi peringatan bagi satu komunitas besar dan bagi satu bangsa. Saya percaya ini adalah prinsip kebenaran firman Tuhan yang membuktikan satu bangsa itu berhasil atau gagal, jaya atau hancur berkaitan dengan peringatan ini. Ada empat hal yang penting muncul di sini menjadi peringatan bagi kita. Semakin keempat hal ini ada di dalam diri seseorang atau di dalam diri satu bangsa, makin cepat runtuhnya orang atau kebudayaan dari satu bangsa itu. Pertama, jangan menjadi penyembah berhala (ayat 7). Ketika kemajuan pikiran dan kehebatan manusia menggantikan Allah, di situlah dia sudah menjadi penyembah berhala. Seseorang sukses, seseorang berhasil, lalu lupa diri dan menganggap diri sebagai allah yang bisa mengontrol hidupnya, dia sudah membuat bom waktu bagi kehancurannya. Kedua, jangan melakukan percabulan (ayat 8). Adanya immoralitas yang muncul di dalam satu kebudayaan adalah bom waktu bagi hancurnya kebudayaan itu. Sdr mungkin bisa terpesona melihat satu bangsa begitu berhasil dan sukses dalam ekonomi dsb. Tetapi dari kacamata Alkitab sdr harus dengan bijaksana melihat pada waktu satu bangsa sudah tidak lagi memperhatikan kemurnian, kesucian, pengertian mengenai moralitas dan etika yang benar, itu adalah bom waktu kehancuran hidup bangsa itu. Itupun juga menjadi satu bom waktu bagi hancurnya kehidupan seseorang. Kita harus hati-hati, termasuk hamba Tuhan sekalipun, ini merupakan satu kebahayaan yang besar. Jangan ada immoralitas di tengah-tengahmu.

Dalam 3 minggu ini di dalam kebaktian sore saya membahas mengenai sejarah dari Gerakan Reformasi. Sangat mengejutkan dan mengagetkan bagaimana sebenarnya Luther tidak menginginkan untuk melakukan satu revolusi di dalam Gereja pada waktu itu. Itu sebab 95 tesis kritikan yang dia tulis dan pakukan di pintu Gereja di Wittenberg itu adalah dalam bahasa Latin, maksudnya supaya jemaat awam tidak bisa membaca karena mereka tidak mengerti bahasa Latin. Tujuannya bukan untuk menjelek-jelekkan Gereja, tetapi karena melihat kebobrokan dari immoralitas dari hamba-hamba Tuhan pada waktu itu membuat Luther menjadi marah luar biasa, khususnya karena melihat agama sudah diperjual-belikan. Secara peraturannya, seorang imam tidak boleh menikah, tetapi faktanya sudah menjadi rahasia umum mereka punya isteri dan punya anak. Kepala imam dengan menutup sebelah mata hanya menjatuhkan uang denda kepada imam-imam seperti itu. Archbishop Albert yang sebetulnya belum cukup umur menyogok Paus untuk mengijinkan dia menjadi archbishop di daerah Luther dengan perjanjian membagi uang hasil penjualan surat indulgensi separuh-separuh. Bagi Luther, logikanya kalau uang memang bisa melepaskan orang dari api purgatori,dia bilang kepada Paus jual saja semua harta kekayaan Gereja supaya uangnya bisa cukup dipakai untuk membantu orang miskin yang tidak mampu menolong dirinya. Tetapi you tidak mau, berarti you membodohi orang. Moralitas kehidupan seperti ini akhirnya membuat Reformasi menjadi sesuatu yang tidak bisa ditahankan. Dan sejarah mencatat bagaimana cara Tuhan memperbaharui GerejaNya.

Ketiga, jangan mencobai Tuhan(ayat 9). Kalau sdr membaca konteks peristiwanya, sdr akan lihat setiap kali ada sedikit kesulitan, orang Israel langsung marah kepada Tuhan dan kepada Musa. Bagi saya kalau seseorang hanya punya “short vision” selalu hanya lihat obstacle yang ada dan tidak pernah melihatnya sebagai kesempatan, seorang pemimpin atau orang yang short vision tidak melihat secara menyeluruh dalam hidupnya. Satu negara, satu bangsa, satu kebudayaan, atau satu orang yang tidak punya planning dan short vision, bom waktu kehancurannya segera tiba. Keempat, jangan bersungut-sungut (ayat 10). Ini adalah kata yang sederhana tetapi begitu dalam. Bersungut-sungut bukan hanya sekedar mengucapkan hal-hal yang tidak baik atas hal-hal yang inconvenient. Bagi saya sungut-sungut menunjukkan orang yang tidak pernah menghargai apa yang ada pada dirinya dan terus hanya iri melihat kemajuan orang lain, malahan mau menghancurkan dan merampok orang atau bangsa lain supaya senasib dengan dia, itu adalah satu tanda bangsa itu tidak mungkin akan maju. Orang yang tidak menghargai apa yang ada pada dirinya, orang yang selalu iri, selalu self pity, selalu merasa kenapa dirinya tidak pernah mendapatkan privilege yang sama seperti orang lain, dia sedang menyiapkan bom waktu bagi dirinya sendiri dan hidupnya tidak mungkin bisa maju. Ini penafsiran saya terhadap 1 Kor.10 ini. Sungut-sungut seringkali keluar secara spontan dalam hidup kita, bukan? Kita rasa itu adalah hal yang sepele tetapi firman Tuhan melihat itu sebagai hal yang penting di dalam bagian ini. Maka kita harus hati-hati karena sungut-sungut itu bukanlah satu perkara yang sepele. Saya lebih melihatnya sebagai suatu tanda bahwa orang itu tidak pernah melihat hal yang indah dan baik di dalam hidupnya.

Ada banyak orang melihat kesalahan orang lain, lalu tidak pernah beri kesempatan kedua. Ada banyak orang melihat pada diri orang lain tidak pernah melihat ada bakat dan potensi yang lebih besar di dalam dirinya. Mari kita membuang semua cara melihat seperti itu.

Paulus menggugah hati jemaat di Roma dengan kalimat yang begitu luar biasa. Jangan selalu pikir berapa sulitnya kita mengerjakan sesuatu tetapi selalu berpikir dengan kalimat ini, “I believe there is something more in your life. I believe there is something good in you.” Saya percaya ini merupakan sesuatu kalimat pembukaan dari Paulus sebelum kemudian dia secara “halus” mengajak jemaat Roma ini mengambil bagian di dalam mendukung pelayanan penginjilan Paulus. Paulus menceritakan pengalaman pelayanannya. Paulus menceritakan bagaimana jemaatnya di Makeconia dan Akhaya mendukung pelayanannya. Tujuannya adalah untuk membuka mata jemaat Roma terhadap pelayanan ini. Kenapa? Karena mungkin daripada semua jemaat yang lain, jemaat Roma adalah jemaat yang paling potensial, yang tinggal di kota besar dan metropolitan, pasti mereka adalah kelompok orang-orang Kristen yang berpendidikan dan kelompok orang-orang Kristen yang memiliki keuangan yang banyak. Tetapi semua itu akan sia-sia kalau mereka tidak melihat bahwa mereka bisa do something more daripada apa yang ada pada mereka. Kemudian Paulus mengajak kita melihat sesuatu dengan lebih indah. Paulus memakai kata “kebanggaan dan kehormatanku” tetapi ini bukan satu kebanggaan dan kehormatan karena hasil kesuksesan usaha dirinya sendiri tetapi dia menambahkan dengan kalimat “itu semua karena Allah bekerja melalui aku…” (Rom.15:17-18). Ini dua hal harus balance. Paulus hormat, Paulus bangga, Paulus merasa suatu privilege bahwa dia boleh melayani pemberitaan Injil Yesus Kristus. Maka Paulus sharing mengenai pelayanan pekabaran Injilnya kepada jemaat Roma dengan beberapa prinsip. Ke satu, belajar melihat dan mendukung sesuatu dari banyak hal yang baik di dalam hidupmu.Ke dua, Paulus bilang dia bangga menjadi hamba Tuhan, dia bangga pergi menjadi orang yang memberitakan Injil, tetapi dia tahu itu karena dia dipakai menjadi alat Tuhan. Ke tiga, Paulus menyebut dua jemaat yaitu Makedonia dan Akhaya (Rom.15:26) sebagai pendukung pelayanan Paulus. Tujuan Paulus adalah jelas, to open their heart and mind to the ministry of the Gospel. Dalam 2 Kor.8 Paulus mencatat bagaimana jemaat Makedonia di dalam kemiskinan dan kesukaran tetap dengan sukacita berbagian mendukung dana bagi pelayanan dan Paulus mengatakan bahwa jemaat ini telah memberi melebihi kemampuan mereka. Maka di sini Paulus menggugah jemaat di Akhaya termasuk jemaat Korintus untuk melihat teladan jemaat Makedonia untuk mendorong mereka bersumbangsih lebih besar lagi. Dari himbauan ini maka jemaat Akhaya tergerak dan selanjutnya pelayanan mereka dipakai oleh Paulus menjadi contoh kepada jemaat di Roma.

Paulus menuliskan rencananya dia akan pergi ke Yerusalem untuk mengantarkan uang yang sudah terkumpul dari Makedonia dan Akhaya. Ini adalah satu pemberian yang juga merupakan kewajiban karena kita sudah berhutang Injil kepada mereka. Sikap ini penting. Kenapa kita harus memikirkan pelayanan pemberitaan Injil walaupun mungkin kita tidak kenal orang itu? Kita harus memiliki sikap ini, yaitu karena kita berhutang Injil. Kita sudah mendapat harta rohani, mungkin kita tidak sanggup mengembalikan dengan harta rohani kepada mereka tetapi Paulus bilang kita bisa memakai harta materi yang ada pada kita untuk mendukung pelayanan mereka. Dengan kalimat seperti ini maka Paulus secara tidak langsung juga menggugah jemaat Roma untuk melakukan hal yang sama. Please take part in this ministry, kata Paulus, please strive together with me for the sake of the Gospel. Dia minta kepada jemaat untuk berdoa dan bergumul untuk pelayanan pekabaran Injil. Mungkin tidak semua dari kita dipanggil menjadi misionari atau orang yang pergi memberitakan Injil, tetapi kita semua dipanggil Tuhan untuk committed kepada pemberitaan Injil. Kita dipanggil Tuhan untuk menjalani hidup yang misioner, melalui cara hidup kita orang bisa tertarik kepada Injil. Selalu memiliki sikap untuk mendukung dan bergumul bagi pekerjaan pekabaran Injil, membawa orang kepada Tuhan, mendoakan terus-menerus pekerjaan pemberitaan Injil tanpa henti, dan kalau Tuhan beri kepada kita kesempatan, concern kita ini boleh terealisasi dalam bentuk dukungan keuangan kepada mereka yang melayani di ladang Tuhan. Kelebihan yang ada, kemampuan yang ada, kebisaan yang ada, kita bisa beri. Tetapi semua itu hanya bisa terjadi kalau kita pegang prinsip ini, selalu concern dengan pelayanan Injil. Kiranya Tuhan memberkati kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

24 Oktober 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: