Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Band of Brothers in Christ (1)

Band of Brothers in Christ (1)

Tetapi demi Kristus, Tuhan kita, dan demi kasih Roh, aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, untuk bergumul bersama-sama dengan aku dalam doa kepada Allah untuk aku, supaya aku terpelihara dari orang-orang yang tidak taat di Yudea, dan supaya pelayananku untuk Yerusalem disambut dengan baik oleh orang-orang kudus di sana, agar aku yang dengan sukacita datang kepadamu oleh kehendak Allah, beroleh kesegaran bersama-sama dengan kamu. Allah, sumber damai sejahtera, menyertai kamu sekalian! Amin.

Rom.15:30-33

Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi. Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus. Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan. Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu. Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka. Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka. Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Rom. 16:1-16

Eksposisi Surat Roma (47)

Rom.15:30-33 adalah cetusan perasaan hati Paulus dan keinginannya kepada jemaat Roma sebelum di pasal 16 Paulus menyatakan syukur dan terimakasihnya kepada pribadi lepas pribadi. Di dalam Rom.16 muncul banyak nama yang tidak kita kenal dan banyak orang merasa ini adalah orang-orang yang relevan untuk kita bisa pelajari sama-sama. Isi dari kitab suci, khususnya kitab Roma merupakan satu kitab yang luar biasa karena kitab ini menulis segala prinsip kebenaran doktrin yang paling penting yang diajarkan oleh Alkitab. Di sini kita menemukan pengajaran mengenai pembenaran melalui iman, di sini kita menemukan pengajaran mengenai doktrin pilihan, di sini kita menemukan Injil dikabarkan dan dielaborasi dengan luar biasa oleh Paulus. Tetapi kita tidak boleh melihat Firman Tuhan diberikan kepada kita hanya berbicara mengenai hal-hal yang doktrinal seperti itu. Alkitab mencatat juga hal-hal yang seolah kecil dan yang sepele yang dikerjakan dengan setia oleh orang-orang yang mendukung pekerjaan Tuhan, Tuhan ingin semua itu dicatat di dalam Rom.16 supaya walaupun kita tidak mengenal mereka tetapi orang-orang ini dikenal oleh Tuhan dan hal-hal kecil yang mereka kerjakan mendukung pekerjaan Tuhan jangan sampai dilupakan oleh sejarah. Puji Tuhan! Itu sebab baik pelajaran yang penting dan solid kita dapat, maupun pelayanan yang sederhana yang dikerjakan oleh mereka, semuanya merupakan hal yang penting dan indah untuk kita pelajari. Tidak ada bagian lain di dalam surat-surat Paulus dimana Paulus mencatat nama-nama begitu banyak orang. Seorang yang melayani Tuhan dengan bekerja keras dengan luar biasa, yang selalu berada di garis depan, seperti para rasul dan hamba-hamba Tuhan yang besar semua orang kenal mereka. Tetapi siapa itu Urbanus? Siapa itu Apeles? Siapa itu Persis? Puji Tuhan! Paulus berterima kasih kepada setiap mereka dan Paulus tidak mau lalai mengucap syukur dan terima kasih kepada orang-orang yang sederhana yang menunjang dan mendukung pelayanannya. Itu sebab bagian ini merupakan bagian yang penting untuk mengingatkan kepada kita Paulus bukan seorang “one man show” di dalam pelayanan. Paulus memang betul telah berjerih payah pergi melakukan perjalanan beribu-ribu kilometer jauhnya, tetapi pelayanan itu tidak boleh melupakan syukur dan terimakasihnya yang sedalam-dalamnya kepada orang-orang yang melayani bersama-sama dia. Tetapi syukur dan terima kasih Paulus ini harus kita lihat sebelumnya dari perspektif perasaan hati dia di pasal 15. Di pasal 15 sdr melihat di situ Paulus minta jemaat untuk bergumul bersama dia di dalam doa. Kata itu memberikan indikasi kepada kita selain doa merupakan panggilan Paulus yang tidak boleh kita abaikan, dan doa itu tidak boleh kita lakukan hanya sesekali saja. Itu sebab Paulus memakai kalimat “bergumul bersama aku di dalam doa” yang sekaligus memberitahukan kepada kita apa yang ada di dalam hati dia sekarang. Kalau sdr lihat bagian ini kembali di dalam Kis.21 Paulus meninggalkan saudara-saudara seiman di Kaisarea yang dengan berat hati meminta Paulus tidak pergi ke Yerusalem karena nabi Agabus telah mengingatkan bahaya yang menanti Paulus di sana. Tetapi Paulus tetap ingin pergi ke Yerusalem karena itu janji dia, itu keinginan dia, itu komitmen dia supaya membawa hasil buah pelayanan Injil kepada orang-orang Yahudi Kristen di Yerusalem darimana Injil itu berasal. Dia tidak bisa membawa apa-apa kecuali uang persembahan dari jemaat non Yahudi, tetapi di pihak lain Paulus sadar bahwa pergi ke Yerusalem berarti menghadapi kesulitan. Masuk ke kota itu berarti dia akan ditangkap dan bahkan mati karena pelayanan ini. Dari situ kita baru bisa mengerti apa arti kalimat “bergumullah bersama aku di dalam doa” dan baru bisa mengerti bagaimana perasaan hati Paulus saat itu. Kadang-kadang kita tidak bisa mengerti dengan jelas perasaan hati dan tekanan yang dialami oleh orang-orang yang ada di atas kita. Teman, sesama, rekan, teman baik, sahabat, mudah kita saling berbagi tekanan dan pergumulan yang ada. Tetapi kadang-kadang kita sulit mengerti beban yang ada di dalam hati para pemimpin dan hamba-hamba Tuhan yang melayani kita. Karena kalau pendeta mau sharing kepada jemaatnya mengenai pergumulan pribadi dia, jemaatnya akan bilang, “Aduh, pak Pendeta, kami sudah punya pergumulan dan kesulitan hidup sendiri. Janganlah lagi ditambah dengan pergumulan dan kesulitan pak Pendeta…” Itu sebab jarang kita tahu bahwa hamba Tuhan memiliki pergumulan dan kesulitan hidup karena mereka tidak memberitahukan kepada orang-orang lain. Setiap kita mempunyai pergumulan, tekanan dan beban berat masing-masing yang ingin supaya bisa lepas dari himpitannya. Masing-masing memiliki tekanan hidup yang berbeda satu sama lain. Kita mungkin lihat tekanan hidup orang lain lebih ringan dibandingkan tekanan hidup kita. Tetapi bagi orang itu tekanan yang dia hadapi mungkin begitu berat dan sulit. Kadang-kadang di dalam kesulitan kita tidak bisa menceritakan tekanan hidup kita kepada orang lain dan semuanya kita tanggung sendiri dan menjadi satu loneliness kita menghadapi hal-hal seperti itu. Sebagai hamba Tuhan di dalam pelayanan saya kadang-kadang tekanan dan persoalan itu tidak saya ceritakan kepada orang lain termasuk kepada isteri sendiri. Kadang saya harus tanggung sendiri, pikir sendiri, bergumul sendiri. Itu cetusan hati Paulus ”…please pray for me, pray with me in my struggle…” Tetapi dimana akhirnya Paulus bisa mendapatkan kekuatan keindahan dari tekanan itu? Paulus menyatakan keinginan hatinya untuk bisa pergi ke Roma, berjumpa dengan jemaat ini dan dari situ dia bisa memperoleh kesegaran. Ini perasaan hati Paulus. Itu sebab tidak ada di bagian lain dimana Paulus menyebutkan begitu banyak nama-nama. Saya percaya Paulus telah mendengar betapa indahnya pelayanan jemaat di Roma. Tidak banyak problem jemaat ini dibandingkan dengan jemaat Galatia, jemaat Kolose, apalagi jemaat Korintus. Sangat jelas sekali bahwa kondisi jemaat Roma begitu sehat, begitu baik dan itu merupakan sesuatu kesukaan baginya dan kerinduannya untuk berada di antara mereka, dan juga menjadi batu loncatan bagi Paulus untuk pergi ke Spanyol. Maka rencana dia setelah misi ke Yerusalem selesai, dia ingin segera pergi ke Roma untuk memperoleh kesegaran di situ.

Setelah mengakhiri pasal 15 saya bayangkan dia malam-malam tidur tidak tenang, dia perlu menambahkan beberapa lagi sebelum menutup suratnya. Dia merasa perlu bersyukur dan berterima kasih kepada orang-orang yang ada di jemaat Roma selain sebagai satu apresiasi Paulus kepada mereka sekaligus juga sebagai sesuatu syukur, kita harus lihat sungguh orang-orang ini menjadi orang-orang yang memberi kekuatan dan kelegaan kepada kita. Mari mulai hari ini kita belajar berterimakasih, jangan tahankan terima kasih kita kepada orang-orang yang mungkin mengerjakan hal-hal yang kecil dan sederhana di dalam pelayanan Gereja. Kadang-kadang kita take it for granted, dan kita lupa berterima kasih kepada mereka. Kadang-kadang sudah susah dan sulit di dalam pelayanan kita jadi terhibur melihat ada orang-orang dengan setia bekerja melakukan pelayanan, itu menjadi kesegaran bagi kita.

Ada beberapa hal yang menarik dari Rom.16 pada waktu Paulus menyebutkan beberapa nama ini. Dari latar belakang pada waktu itu, ada beberapa info yang bisa kita ketahui dari nama-nama yang disebutkan oleh Paulus. Pertama, sebagian besar ini adalah nama orang-orang non Yahudi. Kedua, nama ini lebih menunjukkan status mereka, yang sebagian besar adalah nama budak, berarti menunjukkan mereka kemungkinan besar adalah budak-budak yang sudah dibebaskan oleh tuannya. Sebagai budak sdr jangan berpikir bahwa budak itu buta huruf dan tidak berpendidikan karena budak itu bermacam-macam skill-nya. Dokter waktu itu bisa jadi adalah budak karena sekali lagi kalau seseorang itu statusnya bebas dan kaya raya, buat apa lagi bersekolah kalau dia bisa mempekerjakan orang-orang buat dia. Salah satunya adalah Lukas, seorang bekas budak yang adalah dokter. Ketiga, beberapa nama ini adalah nama-nama yang ada di Imperial Court, antara lain Filologus dan Yulia.

Kita akan melihat beberapa detail yang menarik dari Rom.16 ini. Pertama, di dalam catatan ini sdr ketemu paling tidak Paulus menyebut cukup banyak perempuan. Jadi jangan hanya baca daftar nama yang panjang ini pada waktu mau cari nama buat anak. Tetapi kita bisa menemukan sesuatu yang indah dari daftar nama-nama ini. Paulus menyebut nama Febe, Priskila, Maria, Yunia, Trifena, Trifosa, Persis, ibu dari Rufus, Yulia, dan saudara perempuan Nerus. Pelayanan Gereja tidak boleh mengecilkan peranan wanita. Ini merupakan point yang penting kita belajar di sini. Paulus sangat menghargai pekerjaan dan pelayanan dari wanita-wanita yang mendukung dan menunjang pelayanannya. Jangan lupa di tengah society dan kebudayaan pada waktu itu dua ribu tahun yang lalu yang merupakan society dan kebudayaan yang tidak terlalu mengharga status dan martabat wanita di dalam masyarakat. Gereja memang tidak melakukan revolusi yang besar dan revolusioner bagi martabat dan dignitas kaum wanita, tetapi Gereja sedikit demi sedikit melakukan pelayanan dan memberikan penghargaan kepada kaum wanita. Yang lebih indah lagi, bagi setiap nama perempuan ini Paulus menambahkan kalimat “bekerja keras membanting tulang…” mungkin sedikit menggelitik suami kurang banting tulang. Ini menarik. Paulus pakai kata “kopos” di belakang setiap nama perempuan ini. Bahasa Indonesia perlu memakai empat kata untuk menerjemahkan kata “kopos” ini, “bekerja keras membanting tulang.” Saya tersentuh merenungkan hal ini. Dengan memakai kata ini biar membuka kita sedikit imajinasi dinamika hidup Gereja dan kondisi pada waktu itu. Jelas jemaat di Roma terdiri dari house-churches yang banyak dari berbagai tempat. Di tengah berbagai tantangan dan kesulitan yang mereka hadapi, tidak gampang untuk bisa mencetuskan iman mereka secara publik. Mereka berbakti di rumah-rumah, barangkali sekitar 20-30 orang dan sudah tentu tidak bisa menyanyi dengan suara keras karena ruangan tidak kedap suara. Lalu setelah kebaktian selesai, ibu-ibu dan para wanita menyiapkan makan sementara laki-laki berkumpul mengobrol. Selesai mereka makan, ibu-ibu sibuk mencuci peralatan dapur. Itu sebab Paulus dengan peka melihat semua ini, para wanita itu bekerja keras membanting tulang. Paulus secara khusus memakai kata membanting tulang bekerja keras semua itu diberikan kepada perempuan-perempuan ini. Kita bisa melihat bukan saja Paulus yang bekerja keras bagi Tuhan, tetapi ada orang-orang yang melakukan pelayanan seperti itu. Puji Tuhan! Tuhan menginginkan beberapa ayat ini muncul. Kita bisa mendapat berkat dari mereka untuk meng-encourage pelayanan kita. Kita tidak kenal mereka tetapi mereka boleh menjadi contoh dan teladan yang baik bekerja dengan keras. Saya minta kita juga menjadi orang Kristen yang bisa bekerja lebih keras lagi bagi Tuhan. Jangan hanya mengerjakan sesuatu yang lebih kurang dari kekuatan kita. Biar kita juga melatih anak-anak kita sejak masih muda tidak hanya bersantai baca novel, tetapi ajar mereka baca buku-buku teologi yang penting. Ketimbang melakukan hal-hal biasa, lakukan hal-hal yang lebih bernilai dan berarti.

Kita akan melihat Febe dan Priskila secara lebih mendetil. Febe tidak tinggal di Roma. Itu sebab saya percaya ayat 1-2 ini merupakan suatu rekomendasi dari Paulus, kemungkinan Febe sedang melakukan perjalanan dari Kengkrea, satu kota pelabuhan kecil di Korintus, yang akan pergi ke Roma. Ingatkan, waktu itu tidak ada telepon dan komunikasi tidak seperti sekarang, Paulus ingin memperkenalkan dia kepada jemaat Roma maka Paulus memakai surat ini menjadi satu permintaan Paulus supaya jemaat Roma menerima Febe agar tidak menjadi orang asing di tengah-tengah jemaat ini. Apakah dia melakukan perjalanan bisnis? Sangat besar kemungkinan. Tetapi siapa Febe ini? Ada dua informasi kita dapatkan di sini. Pertama, dia adalah seorang yang melayani jemaat. Kata yang Paulus pakai adalah “diakonia,” sehingga muncul perdebatan di antara penafsir apakah Febe adalah seorang diaken di Kengkrea atau bukan. Memang tidak terlalu jelas apa posisi jabatan pelayanan Febe di Kengkrea tetapi dari kata ini memberitahukan kepada kita tidak soal jabatan dia apakah diaken Gereja atau tidak tetapi dia dipuji oleh Paulus karena melakukan pelayanan menolong memelihara orang-orang yang miskin. Yang kedua, Paulus memakai kata “benefactor” bagi Febe ini. Paulus secara spesifik menyebut Febe apakah berarti Febe menjadi seorang wanita kaya yang mendukung secara pribadi keuangan Paulus? Dengan kata ini kita boleh mengerti karena kata ini nanti menjadi pola pelayanan misionari untuk mencari benefactor mendukung pelayanan mereka di dalam pelayanan misi. Dengan memakai kata ini Paulus juga memperlihatkan Febe tidak hanya mendukung Paulus sesekali tetapi Febe men-support pelayanan Paulus dan kebutuhan hidup dia. Itu sebab Paulus memuji dia di sini. Kalau sdr melihat di dalam Alkitab, terutama Injil Lukas memperlihatkan banyak wanita-wanita kaya mengikuti Tuhan Yesus di dalam pelayananNya dan mencukupkan kebutuhan rombongan ini dengan kekayaan mereka (Luk.8:1-3). Maka dari situ kita tahu Febe adalah seorang wanita kaya, yang besar kemungkinan sedang melakukan perjalanan bisnis dan di tengah-tengah kehidupannya dia melakukan dua hal, yaitu kepada jemaat dia mendukung pelayanan di Gerejanya dan kedua, dia secara pribadi secara rutin melakukan pelayanan mendukung pelayanan misi Paulus. Itu sebab kita bisa melihat Paulus kadang-kadang menjual tenda untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, tetapi Paulus juga bisa punya cukup uang untuk pergi berkeliling dari kota ke kota mengabarkan Injil, dari situ saya percaya ada sekelompok orang yang mendukung pekerjaan dan pelayanannya. Dalam Kis.28:30-31 Paulus tinggal selama dua tahun penuh di rumah yang disewanya di Roma. Tidak ada kemungkinan dia menjual tenda karena dia menjalani house-arrest menantikan kasusnya yang sedang naik banding di pengadilan di Roma yang belum selesai diputuskan. Dia tidak menyia-nyiakan waktu selama itu dia tidak bisa ke mana-mana, dia tetap melayani dan mengajar tentang Tuhan Yesus. Darimana keuangan Paulus dalam dua tahun itu? Kalau sdr membaca surat Filipi, Paulus bersyukur karena dia sudah menerima uang pemberian jemaat itu. Maka kita bisa melihat ada kelompok orang-orang tertentu yang menunjang pelayanan ini dengan keuangan mereka, salah satunya adalah Febe.

Yang kedua yang panjang lebar dipuji oleh Paulus di sini adalah satu pasangan keluarga Priskila dan Akuila. Memang ada pertanyaan penafsir kenapa nama Priskila lebih sering muncul di depan daripada suaminya. Ada yang menafsir Priskila adalah strong woman, yang lebih dominan daripada suaminya. Satu penafsir menemukan data sejarah yaitu di tahun 90-an AD ditemukan satu makam keluarga Assirian yang kaya ada tertulis nama Priskila. Sekali lagi ingat baik-baik, jaman dulu dengan status masyarakat tertentu tidak boleh sembarangan memakai nama tertentu. Orang dari keluarga yang statusnya rendah tidak boleh memakai nama “ningrat.” Jadi dari sini, orang menganalisa nama Priskila berarti dia berasal dari keluarga yang penting dan kaya. Maka ditarik dari situ, ada penafsir mengatakan nama Priskila ditulis di depan karena ini adalah seorang wanita dari garis bangsawan Romawi yang menikah dengan seorang Yahudi tukang tenda bernama Akuila.

Paulus bilang salam kepada Priskila dan Akuila, berarti mereka sekarang berada di Roma. Kemungkinan Paulus banyak mengetahui kondisi dari jemaat Roma dari mereka. Pertama kali Paulus bertemu dengan pasangan ini di kota Korintus (Kis.18:2). Lalu di Kis.18:18 dicatat Paulus pergi ke Siria bersama Priskila dan Akuila. Selanjutnya Paulus pergi ke Efesus dan Priskila bersama Akuila ikut bersama Paulus dan kemudian menetap di situ beberapa waktu (Kis.18:19). Dalam 1 Kor.16:9 muncul kembali nama Priskila dan Akuila yang saat itu masih berada di Efesus dan rumah mereka menjadi tempat berbakti. Dan kemudian di surat Roma ini nama mereka muncul lagi. Dan terakhir dalam 2 Tim.4:19 Paulus menitip salam bagi mereka melalui suratnya kepada Timotius yang melayani di kota Efesus. Jadi sdr lihat pasangan ini dengan mudah bisa travelling kemana-mana padahal waktu itu biaya perjalanan pasti tidak murah dan tidak mudah didapat, memberikan indikasi mereka adalah keluarga kaya. Dan saya percaya mereka melakukan perjalanan itu sebagai perjalanan bisnis, berarti mereka sudah cukup sibuk dan sudah cukup berat tetapi di manapun keluarga ini berada sekalipun hanya tinggal sementara, rumah mereka selalu terbuka bagi persekutuan jemaat. Pergi ke Efesus, ada jemaat di rumahnya. Pergi ke Roma, ada jemaat di rumahnya juga. Dari bagian ini kita melihat Paulus memuji keindahan hubungan suami isteri yang satu sama lain saling menguatkan dan menumbuhkan sukacita pelayanan dan tidak menjadi penghambat bagi kehidupan dan pertumbuhan rohani pasangannya. Alkitab juga mencatat sekelompok pasangan suami isteri yang bukan hamba Tuhan sangat besar kemungkinan adalah businessman tetapi selalu menjadi pendukung pelayanan Injil. Maka patutlah Paulus berterima kasih kepada orang-orang yang mendukung dia dengan luar biasa seperti ini. Paulus pergi ke satu kota memberitakan firman Tuhan, tetapi Paulus tidak bisa memelihara orang percaya di sana karena dia harus pergi ke tempat lain, tetapi puji Tuhan ada orang-orang yang membuka rumahnya dan menjadikannya tempat beribadah dan bertumbuh. Ada resiko yang harus mereka hadapi karena waktu itu tidak mudah menjadi orang Kristen apalagi membuka rumahnya menjadi tempat ibadah. Kiranya melalui pelayanan mereka menjadi satu encouragement yang menyegarkan kita. Ada suami isteri yang menjadi tulang punggung melayani Tuhan dengan setia sehingga kita dengan syukur boleh melihat kehidupan Gereja menjadi indah melalui pelayanan mereka. Biar kita belajar dari contoh dan teladan yang baik yang mereka tunjukkan. Biar kita juga bersyukur dan berterima kasih untuk rekan-rekan yang sudah melayani dengan setia di Gereja ini, untuk anak-anak Tuhan yang dengan setia melayani di bagian yang kecil dengan setia di dapur, di koor dan di sekolah minggu, mereka yang mengangkat barang, semua tugas pelayanan yang penuh dengan jerih payah merupakan sesuatu pelayanan yang patut kita syukuri adanya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

7 November 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: