Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Band of Brothers in Christ (2)

Band of Brothers in Christ (2)

Aku meminta perhatianmu terhadap Febe, saudari kita yang melayani jemaat di Kengkrea, supaya kamu menyambut dia dalam Tuhan, sebagaimana seharusnya bagi orang-orang kudus, dan berikanlah kepadanya bantuan bila diperlukannya. Sebab ia sendiri telah memberikan bantuan kepada banyak orang, juga kepadaku sendiri. Sampaikan salam kepada Priskila dan Akwila, teman-teman sekerjaku dalam Kristus Yesus. Mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk hidupku. Kepada mereka bukan aku saja yang berterima kasih, tetapi juga semua jemaat bukan Yahudi. Salam juga kepada jemaat di rumah mereka. Salam kepada Epenetus, saudara yang kukasihi, yang adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Salam kepada Maria, yang telah bekerja keras untuk kamu. Salam kepada Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku sebangsa, yang pernah dipenjarakan bersama-sama dengan aku, yaitu orang-orang yang terpandang di antara para rasul dan yang telah menjadi Kristen sebelum aku. Salam kepada Ampliatus yang kukasihi dalam Tuhan. Salam kepada Urbanus, teman sekerja kami dalam Kristus, dan salam kepada Stakhis, yang kukasihi. Salam kepada Apeles, yang telah tahan uji dalam Kristus. Salam kepada mereka, yang termasuk isi rumah Aristobulus. Salam kepada Herodion, temanku sebangsa. Salam kepada mereka yang termasuk isi rumah Narkisus, yang ada dalam Tuhan. Salam kepada Trifena dan Trifosa, yang bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Persis, yang kukasihi, yang telah bekerja membanting tulang dalam pelayanan Tuhan. Salam kepada Rufus, orang pilihan dalam Tuhan, dan salam kepada ibunya, yang bagiku adalah juga ibu. Salam kepada Asinkritus, Flegon, Hermes, Patrobas, Hermas dan saudara-saudara yang bersama-sama dengan mereka. Salam kepada Filologus, dan Yulia, Nereus dan saudaranya perempuan, dan Olimpas, dan juga kepada segala orang kudus yang bersama-sama dengan mereka. Bersalam-salamlah kamu dengan cium kudus. Salam kepada kamu dari semua jemaat Kristus.

Rom.16:1-16

Eksposisi Surat Roma (48)

Fred Berger, seorang penulis buku Etika mengatakan satu kalimat yang indah sekali mengenai hal berterima kasih. Dia mengatakan, “Ada kalanya satu ucapan terima kasih atau satu jabat tangan tidaklah cukup untuk menunjukkan anda sudah berterima kasih. Setidak-tidaknya anda harus memberikan diri anda sendiri, barulah di situ keseimbangan terima kasih terjadi. Karena semakin besar anugerah yang diterima seseorang, semakin besar pula dedikasi kita untuk berterima kasih.” Kita tidak bisa hanya bilang terima kasih dan menjabat tangan papa mama kita yang sudah berkorban begitu banyak bagi hidup kita, bukan? Ada bagian-bagian tertentu hidup kita dimana ucapan terima kasih saja, jabat tangan saja, belum bisa membuktikan kita berterima kasih. Namun kadang-kadang kita menjadi orang yang terlalu mudah untuk menerima kebaikan orang dan kita lupa berterima kasih kepada orang itu. Di dalam bagian yang kita baca hari ini sdr bisa menemukan Paulus mengucapkan terima kasih tetapi dia tidak mengucapkannya secara private namun diucapkannya secara publik. Saya percaya biasanya orang sungkan kalau kebaikannya dibukakan secara publik dan saya percaya mereka tidak menginginkan dan membutuhkan hal itu. Tetapi Tuhan mengijinkan dan menginginkan Paulus menuliskan nama-nama mereka, meskipun kita tidak kenal mereka biar mereka tetap hingga dua ribu tahun kemudian kita menjadi tahu apa keindahan yang mereka kerjakan bagi Tuhan dan orang-orang ini menjadi orang-orang yang kita hargai, kita cintai dan kita hormati karena pelayanan mereka.

Selain nama-nama mereka, ada beberapa kalimat tambahan secara khusus Paulus pakai dengan unik sekali. Kepada Priskila dan Akuila, kepada Epenetus, mereka adalah teman dan rekan Paulus yang sama-sama berjuang dengannya di dalam pelayanan. Dengan demikian seperti yang saya katakan minggu lalu, kita melihat Paulus bukanlah seorang “single fighter.” Ada begitu banyak orang terlibat bersama-sama bekerja dan melayani dengannya. Maka di sini Paulus tidak mau menahan ucapan terima kasihnya kepada orang-orang ini, mereka yang secara personal tidak menunjang dia tetapi Paulus tetap berterima kasih karena orang-orang ini melayani Tuhan. Tetapi Paulus secara khusus berterima kasih dengan sungguh-sungguh kepada Priskila dan Akuila dan kepada Epenetus. Paulus mengatakan, ”…mereka telah mempertaruhkan nyawanya untuk aku…” Mereka membuka rumah mereka untuk beribadah, baik waktu mereka berada di Efesus maupun di Roma. Mereka menjadi rekan kerja Paulus waktu di Efesus. Paulus menambahkan bahwa Epenetus adalah buah pertama dari daerah Asia untuk Kristus. Daerah Asia yang Paulus layani jelas adalah satu kota penting tetapi kota itu penuh dengan penyembahan berhala yaitu kota Efesus. Kita melihat dulu latar belakangnya sehingga kita bisa mengerti mengapa ini merupakan kalimat yang begitu indah, yaitu dari Kis.19:8-40 pelayanan Paulus di Efesus betapa tidak gampang dan tidak mudah. Selama 3 bulan Paulus mengajar dan memberitakan Injil di sinagoge tetapi pelayanannya mengalami penentangan keras dari beberapa orang Yahudi. Akhirnya Paulus keluar dan melayani di tempat umum yaitu ruang kuliah Tiranus selama dua tahun. Tuhan menyertai Paulus dengan kuasa mujizat yang luar biasa. Kalau sdr perhatikan di ayat 21 muncul huru-hara dan muncul satu nama yaitu Aleksander (ayat 33) yang mungkin adalah nemesis Paulus sampai mati. Di akhir suratnya kepada Timotius Paulus mengatakan Aleksander tukang tembaga itu telah berbuat jahat kepadanya. Paulus adalah seorang yang berani dan seorang yang gentleman, di tengah huru-hara itu dia tidak takut dan bersembunyi. Tetapi murid-muridnya tidak mengijinkannya. Saya percaya di situlah Epenetus, Priskila dan Akuila berdiri di depan melindungi Paulus dan siap mati untuk dia. Latar belakang ini memperlihatkan situasi pertama kali pelayanan Paulus, baru sdr bisa mengerti apa arti dan nilai ucapan terima kasih Paulus terhadap orang-orang ini. Bagaimana susahnya pelayanan di Efesus telah menghasilkan Epenetus dan betapa susahnya orang ini berdiri untuk menyatakan iman percaya kepada Yesus Kristus itu bukan perkara yang main-main, itu adalah perkara hidup atau mati. Terima kasih kepada rekan-rekan sekerjaku yang rela menaruh lehernya untuk aku. Walaupun Paulus tidak takut mati, mereka lebih rela mati lebih dulu demi Paulus.

Ada satu hal kecil yang menarik ditulis dalam Kis.19:9 yaitu Paulus mengumpulkan orang-orang yang percaya di ruang kuliah Tiranus setiap hari. Alkitab bahasa Indonesia menyebut kata “setiap hari” tetapi seorang penafsir sangat peka dengan kata ini yang katanya bisa mengacu kepada satu periode waktu yaitu “pada siang hari.” Ingatkan, Efesus adalah kota di daerah Timur Tengah, yang umumnya orang bekerja pagi-pagi sekali lalu berhenti untuk break jam 11 dan baru mulai kerja lagi jam 5 sore, karena jam 11 sampai 4 sore suhu bisa mencapai 40-45 derajat. Akhirnya orang lebih banyak istirahat, makan siang, tidur-tiduran, lalu baru kerja lagi hingga malam. Jadi Paulus memakai waktu break itu untuk mengajar. Ada waktu kosong dan lowong dimana mereka bisa pakai untuk berkhotbah, untuk merenungkan firman Tuhan, untuk melayani Tuhan. Ini merupakan hal yang indah dan penting sekali. Dengan begini kita bisa tahu bagaimana mereka memanfaatkan waktu yang ada dengan baik.

Pdt. Stephen Tong pernah mengatakan kita orang Kristen pada hari Minggu bisa berbakti. Hari itu pun kadang-kadang kita tidak pakai untuk berbakti. Coba kalau suatu kali nanti tidak ada lagi hari libur dimana sdr bisa berbakti, barulah kita bertanya apakah orang-orang Kristen bersedia mencari waktu untuk berbakti? Tidak ada hari libur, tidak ada kemungkinan mereka berbakti, tetapi keinginan mencari Tuhan dan belajar firman Tuhan, cari waktu yang tidak mengganggu aktifitas kerja, tidak mengganggu kehidupan mereka pada sore hari, pakai waktu yang kosong dan lowong itu untuk berbakti. Itu yang dilakukan jemaat di Efesus. Dengan demikian kita bisa melihat kondisi, situasi dan keadaan dari mereka seperti itu. Saya mengharapkan hal seperti ini juga bisa ada di dalam setiap pelayanan kita. Tuhan kasih kesempatan kita ada waktu melayani, Tuhan kasih kesempatan kita bisa berkumpul, cari dan hargai waktu-waktu seperti itu. Saya pikir banyak hal kebiasaan orang Indonesia yang perlu sedikit berubah. Salah satunya orang Indonesia selalu punya kebiasaan tidak mau hadir ke kebaktian pemberkatan dan hanya datang ke pesta nikah. Kenapa? Sibuk merias diri untuk sore hari. Itu berarti kita tidak mengerti prioritas bagaimana kebaktian pemberkatan nikah orang itu lebih penting karena di situ you berdoa kepada Tuhan, may God bless this new family. Mana yang lebih penting, mana yang lebih prioritas. Maka saya pikir kita salah besar kalau hari Minggu atau hari dimana ada kesempatan untuk Tuhan kita pakai untuk hal-hal lain. Jemaat di Efesus tidak punya kesempatan itu tetapi mereka tidak mau merugikan hari kerja mereka, maka waktu orang lain istirahat, mereka pakai waktu itu untuk berbakti. Sekarang ini hari Jumat siang di kantor-kantor waktu orang Islam bersembahyang, pegawai yang Kristen mengadakan persekutuan di hari Jumat. Someday nanti anggaplah hari Minggu tidak bisa dipakai lagi untuk libur, kapan kita bisa pakai waktu untuk berbakti? Apakah akan mengambil waktu kerja kita? Itu akan merubah begitu banyak hal, bukan? Tetapi kalau kita mengerti mana yang menjadi kesukaan, mana yang menjadi prioritas kita, itu kita utamakan. Dari bagian ini saya ajak sdr melihat Epenetus lahir dari pelayanan yang setengah mati di Efesus, lahir dari kesulitan yang begitu beresiko, ini buah pertamaku, kata Paulus. Ini menjadi kesukaan kebanggaan Paulus yang luar biasa. Bukan saja Epenetus menjadi buah pertama pelayanan yang begitu sulit di Efesus, dia pun sekarang menjadi orang yang melayani Tuhan. Dia adalah buah yang begitu bernilai dan berharga. Itu sebab di bagian ini Paulus menyatakan terima kasih dan syukur kepada dia dan bukan itu saja, sekarang Epenetus ada di Roma. Sangat besar kemungkinan dia ikut Priskila dan Akuila menjadi pelayan Tuhan di sana. Paulus berterima kasih kepada dia dan juga supaya jemaat menghargai dan menghormati Epenetus seperti ini. Saya percaya orang-orang yang pernah melayani di Sekolah Minggu akan begitu bangga dan bahagia melihat anak-anak yang dia layani jadi dan berhasil dan melayani Tuhan. Itu adalah satu sukacita tersendiri yang tidak bisa diganti oleh apa pun.

Charles Dickens, seorang novelist terkenal mengatakan “A day wasted on others is not wasted on one’s self.” Waktu yang engkau buang untuk orang lain adalah waktu yang tidak pernah terbuang sia-sia dari hidupmu. Kalimat ini keluar dari mulut orang yang bukan Kristen tetapi menjadi satu kutipan yang penting yang saya percaya boleh menjadi satu dorongan bagi kita.

Selanjutnya Paulus menyebut beberapa nama lain, yaitu Andronikus dan Yunias. Alkitab bahasa Indonesia memakai nama “Andronikus dan Yunias, saudara-saudaraku…” menunjukkan seolah mereka adalah laki-laki. Tetapi beberapa Alkitab terjemahan bahasa Inggris ada yang menyebutnya Yunia, yang berarti nama wanita. Dari abad 1-13 AD dalam sejarah Gereja para penafsir Yunia adalah wanita. Nanti sesudah Reformasi, karena memiliki konsep terjemahan kalimat ”…yang terpandang di antara rasul…” berarti Yunia adalah salah satu dari kelompok rasul ataukah “yang terpandang oleh rasul” yang berarti dia bukan rasul? Kalau kata yang dipakai adalah “yang terpandang di antara rasul” berarti dia adalah salah satu rasul, ini menjadi satu kesulitan karena wanita tidak bisa menjadi rasul. Tidak ada indikasi Yesus mengangkat murid perempuan sebagai rasul. Maka di situ mereka berpendapat Yunia adalah laki-laki. Tetapi belakangan para penafsir melihat tidak bisa seperti itu, memang betul dia bukan rasul tetapi Yunia dan dia bukan seorang rasul secara jabatan. Seperti Yakobus saudara Tuhan Yesus, tidak secara tegas diangkat sebagai rasul tetapi dia disebut sebagai sokoguru dan rasul, bukan? Yunia saya percaya terpandang di antara para rasul dengan pengertian bahwa dia sudah menjadi Kristen sebelum Paulus. Jadi pasangan suami isteri ini adalah orang-orang Kristen yang paling awal. Sangat besar kemungkinan mereka adalah murid Tuhan Yesus juga. Sangat besar kemungkinan hanya berbeda satu dua tahun dari kematian dan kebangkitan Tuhan Yesus. Jadi mereka adalah orang-orang Kristen di awal. Saya mengambil posisi Yunia ini adalah perempuan, untuk menyatakan ini adalah satu pasangan suami isteri. Saya percaya Paulus menyebut nama pasangan-pasangan suami isteri yang sama-sama melayani. Mereka bukan hamba Tuhan full time, mereka adalah orang awam namun mereka dengan sukacita membuka rumahnya untuk melayani. Tidak ada kesukaan yang lebih indah daripada isteri mendukung suami dan suami mendukung isteri dalam melayani Tuhan. Tidak ada kesukaan yang lebih indah jikalau sdr bisa sinkron sama-sama di dalam mengasihi Tuhan dan melayani. Sangat menyedihkan sekali kalau suami ingin melayani, isterinya menggerutu. Kasihan sekali kalau isteri mau melayani, suami sudah grasak-grusuk mau cepat-cepat pulang, padahal sampai di rumah cuma tidur-tiduran saja. Mari kita lihat aspek-aspek ini.

Paling tidak ada beberapa pasangan yang khusus Paulus sebut di sini: Priskila dan Akuila, Andronikus dan Yunia, Filologus dan Yulia. Dan yang lebih indah lagi, kepada Filologus dan Yulia, Paulus juga menambahkan salamnya kepada dua anak pemuda-pemudinya yaitu Nereus dan saudara perempuannya. Bukan saja orang tuanya, anak-anak mereka pun giat melayani Tuhan. Ini merupakan satu sukacita tersendiri.

Yang menarik di ayat 10 Paulus menyebut “salam kepada isi rumah Aristobulus…” bukan menujukan salam kepada Aristobulus, berarti Aristobulus bukan Kristen. Berarti ini adalah pembantu-pembantu yang bekerja di rumah dia, berbakti di situ dengan diam-diam. Ingatkan rumah orang-orang kaya pada waktu itu besar-besar, sehingga banyak tempat mereka bisa pakai untuk berbakti. Mungkin tempat penyimpanan anggur di bawah tanah, dsb. Saya percaya Aristobulus dan Narkisus bukan orang Kristen tetapi ada tempat di rumah mereka menjadi house-churches. Ayat 14 Paulus menyebut beberapa nama yang umum pada waktu itu, di antaranya Hermes, nama yang mirip seperti Udin di Indonesia. Aneh sekarang sudah menjadi satu nama brand terkenal, sdr bangga pakai tas Hermes ke mana-mana, kalau dulu pasti ditertawakan. Dari sini kita tahu house-church mereka adalah rumah orang sederhana, berarti tidak semua adalah rumah orang-orang yang mampu. Lima tempat house-churches dibuka supaya menjadi berkat. Rumah tangga melayani Tuhan, anak-anak ikut terlibat melayani Tuhan. Pemuda-pemuda ambil bagian di dalam pelayanan. Dan Tuhan minta Paulus tulis nama-nama mereka untuk menjadi pembelajaran bagi kita, pemuda-pemuda melayani walaupun masih muda Tuhan menghargai dan mencintai. Keluarga yang melayani Tuhan, Tuhan menghargai dan mencintai mereka.

Kita perhatikan beberapa aspek dari nama Aristobulus, Herodion, dan Narkisus yang adalah nama-nama dari keluarga ningrat. Sejarah mencatat nama saudara tiri Herodes Agripa I bernama Aristobulus, yang dibawa oleh Agripa ke Roma sebagai tawanan. Apakah dia ini Aristobulus yang Paulus sebutkan? Kalau memang dia, berarti ada anggota keluarga atau orang-orang yang tinggal di rumahnya yang percaya Tuhan. Herodion jelas adalah nama untuk keluarga Herodes. Maka besar kemungkinan jemaat Roma adalah orang-orang dari kalangan atas yang mungkin sulit menyatakan imannya di tengah kondisi masyarakat pada waktu itu tetapi rumah mereka terbuka untuk Injil dan pelayanan. Ayat 13, Paulus menyebut “salam kepada Rufus, chosen in the Lord, dan salam kepada ibunya yang kuanggap juga ibuku…” Kita bandingkan dengan Mrk.15:21 dimana Markus mencatat satu peristiwa kecil, “Pada waktu itu lewat seorang bernama Simon, orang Kirene, ayah Aleksander dan Rufus, yang baru datang dari luar kota, dan orang itu mereka paksa untuk memikul salib Yesus.” Tidak bisa kita bayangkan betapa kaget Simon waktu dia dipanggil dan dipaksa untuk memikul salib Yesus. Sejarah mencatat orang yang datang ke Yerusalem pada hari Paskah waktu itu bisa mencapai dua juta orang, dan satu dari dua juta orang itu dipilih untuk memikul salib Yesus. Simon adalah orang Yahudi yang saya percaya membawa anak-anak dan isterinya datang ke Yerusalem untuk berbakti dan mengikuti upacara bar-mitzvah anaknya. Simon baru saja lewat, entah kenapa dia yang dipilih, apakah karena badannya besar? Kalau sampai dia yang dipilih bukankah itu satu kebetulan yang sangat kebetulan? Kenapa saya yang disuruh angkat? Bayangkan waktu Simon ditarik dan dipaksa seperti itu, bagaimana perasaan isteri dan anak-anaknya? Pasti mereka nangis-nangis dan terpaksa harus ikut terus sampai ke Golgota. Orang ini tidak pernah kenal Tuhan Yesus, orang ini tidak percaya Tuhan Yesus. Tetapi kira-kira kurang dalam satu jam perjumpaannya berjalan bersama Tuhan Yesus, this is a life-changing moment di dalam hidup keluarga ini. Moment itu hanya sebentar, datang di luar keinginan dan rencananya. Dari kacamata kita itu hanya satu kebetulan. Waktu bersisian berjalan membawa salib Yesus, saya percaya Tuhan Yesus mengucapkan “Thank you for helping Me…” Lihat tubuhNya berdarah, tetapi sampai ke kayu salib sekali pun tidak mengeluarkan kata-kata umpatan. Mati dengan agung dan mulia. Siapa DIA? Saya percaya Simon mencari tahu siapa Orang ini dan akhirnya keluarga ini percaya Tuhan. Satu-satunya orang yang secara harafiah memikul salib Yesus adalah Simon dari Kirene. Itu sebab kata yang dipakai Paulus begitu menyentuh hati saya, ”…chosen in the Lord…” Saya tidak tahu kadang-kadang ada hal-hal yang engkau lihat sebagai malapetaka, hal-hal yang tidak baik, kenapa bisa numpang lewat di dalam hidupmu. Saya tidak bisa mengerti kenapa Simon harus pikul salib mengalami hal-hal yang tidak menyenangkan seperti ini. Kita tidak tahu. Orang lain mungkin bilang itu nasib sial. Orang lain mungkin bilang, kasihan deh lu. Mari kita ubah perspektif dan keluarkan kalimat ini, jikalau aku akhirnya dipanggil memikul salib Yesus, dalam keadaan dipaksa, sesuatu yang tidak enak, Paulus pakai kalimat ini “You are chosen in the Lord.” Ini keluarga yang terpilih. Mereka tidak lebih hebat daripada keluarga-keluarga lain tentunya, tetapi pengalaman mereka menjadi percaya Tuhan berbeda dengan orang-orang lain. Pengalaman yang luar biasa unik yang sebenarnya tidak punya keinginan dan rencana, dan mereka mengenal Yesus di dalam kondisi dan situasi yang tidak pernah kita bayangkan. Tetapi moment itu telah merubah hidup mereka. Mereka menjadi keluarga yang terpandang di dalam Kerajaan Allah. Mereka menjadi keluarga yang mengasihi dan melayani Tuhan.

Kalau engkau melihat dalam perspektif ini. Kalau engkau dikasih kesempatan, itu karena Tuhan pilih engkau. Kalau Tuhan kasih engkau kesulitan harus pikul salib, lihat itu sebagai anugerah pemilihanNya, you are chosen by God. Saya tidak habis pikir kenapa Paulus keluarkan kalimat seperti ini, “Rufus, chosen in the Lord.” Kalimat ini menyentuh hati saya sedalam-dalamnya. Kadang-kadang kita mau marah, kecewa, sedih, benci terhadap pengalaman yang tidak enak dalam hidup kita. Tetapi kalau perspektif itu terus kita pakai dalam hidup kita, kita tidak pernah melihat keindahan yang ada di belakangnya. Kecuali engkau melihat Tuhan mengijinkan Simon untuk pikul salib karena Tuhan pilih dia. Ini hal yang tidak enak buat dia tetapi indah bagi keluarganya. Siapa sangka Simon pikul salib dan mungkin juga kena pecut bersama Yesus. But it doesn’t matter karena moment itu akhirnya berubah menjadi sukacita dan keindahan bagi mereka waktu mereka percaya Tuhan. Tidak apa-apa saya menjadi sakit, tidak apa-apa saya menjadi lumpuh, tidak apa-apa kalau akhirnya melalui semua kesulitan itu keluargaku menjadi percaya dan mengasihi Tuhan sepenuhnya. Bersyukur untuk Firman Tuhan yang kita baca hari ini, biar menjadi berkat bagi kita semua. Firman Tuhan yang simple sederhana, yang dengan teliti dituliskan bagi kita, mengungkapkan rahasia yang dalam, yang menghasilkan getaran cinta kita karena Tuhan terlebih dahulu mencintai dan memilih kita, memberi kita kesempatan melayaniNya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

14 November 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: