Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Band of Brothers in Christ (3)

Band of Brothers in Christ (3)

Tetapi aku menasihatkan kamu, saudara-saudara, supaya kamu waspada terhadap mereka, yang bertentangan dengan pengajaran yang telah kamu terima, menimbulkan perpecahan dan godaan. Sebab itu hindarilah mereka! Sebab orang-orang demikian tidak melayani Kristus, Tuhan kita, tetapi melayani perut mereka sendiri. Dan dengan kata-kata mereka yang muluk-muluk dan bahasa mereka yang manis mereka menipu orang-orang yang tulus hatinya. Kabar tentang ketaatanmu telah terdengar oleh semua orang. Sebab itu aku bersukacita tentang kamu. Tetapi aku ingin supaya kamu bijaksana terhadap apa yang baik, dan bersih terhadap apa yang jahat. Semoga Allah, sumber damai sejahtera, segera akan menghancurkan Iblis di bawah kakimu. Kasih karunia Yesus, Tuhan kita, menyertai kamu! Salam kepada kamu dari Timotius, temanku sekerja, dan dari Lukius, Yason dan Sosipater, teman-temanku sebangsa. Salam dalam Tuhan kepada kamu dari Tertius, yaitu aku, yang menulis surat ini. Salam kepada kamu dari Gayus, yang memberi tumpangan kepadaku, dan kepada seluruh jemaat. Salam kepada kamu dari Erastus, bendahara negeri, dan dari Kwartus, saudara kita. (Kasih karunia Yesus Kristus, Tuhan kita, menyertai kamu sekalian! Amin.) Bagi Dia, yang berkuasa menguatkan kamu, –menurut Injil yang kumasyhurkan dan pemberitaan tentang Yesus Kristus, sesuai dengan pernyataan rahasia, yang didiamkan berabad-abad lamanya, tetapi yang sekarang telah dinyatakan dan yang menurut perintah Allah yang abadi, telah diberitakan oleh kitab-kitab para nabi kepada segala bangsa untuk membimbing mereka kepada ketaatan iman– bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

Rom.16:17-27

Karena itu ia menyuruh seorang dari Miletus ke Efesus dengan pesan supaya para penatua jemaat datang ke Miletus. Sesudah mereka datang, berkatalah ia kepada mereka: “Kamu tahu, bagaimana aku hidup di antara kamu sejak hari pertama aku tiba di Asia ini: dengan segala rendah hati aku melayani Tuhan. Dalam pelayanan itu aku banyak mencucurkan air mata dan banyak mengalami pencobaan dari pihak orang Yahudi yang mau membunuh aku. Sungguhpun demikian aku tidak pernah melalaikan apa yang berguna bagi kamu. Semua kuberitakan dan kuajarkan kepada kamu, baik di muka umum maupun dalam perkumpulan-perkumpulan di rumah kamu; aku senantiasa bersaksi kepada orang-orang Yahudi dan orang-orang Yunani, supaya mereka bertobat kepada Allah dan percaya kepada Tuhan kita, Yesus Kristus. Tetapi sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain dari pada yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku. Tetapi aku tidak menghiraukan nyawaku sedikitpun, asal saja aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang ditugaskan oleh Tuhan Yesus kepadaku untuk memberi kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Dan sekarang aku tahu, bahwa kamu tidak akan melihat mukaku lagi, kamu sekalian yang telah kukunjungi untuk memberitakan Kerajaan Allah. Sebab itu pada hari ini aku bersaksi kepadamu, bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa. Sebab aku tidak lalai memberitakan seluruh maksud Allah kepadamu. Karena itu jagalah dirimu dan jagalah seluruh kawanan, karena kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi penilik untuk menggembalakan jemaat Allah yang diperoleh-Nya dengan darah Anak-Nya sendiri. Aku tahu, bahwa sesudah aku pergi, serigala-serigala yang ganas akan masuk ke tengah-tengah kamu dan tidak akan menyayangkan kawanan itu. Bahkan dari antara kamu sendiri akan muncul beberapa orang, yang dengan ajaran palsu mereka berusaha menarik murid-murid dari jalan yang benar dan supaya mengikut mereka. Sebab itu berjaga-jagalah dan ingatlah, bahwa aku tiga tahun lamanya, siang malam, dengan tiada berhenti-hentinya menasihati kamu masing-masing dengan mencucurkan air mata. Dan sekarang aku menyerahkan kamu kepada Tuhan dan kepada firman kasih karunia-Nya, yang berkuasa membangun kamu dan menganugerahkan kepada kamu bagian yang ditentukan bagi semua orang yang telah dikuduskan-Nya. Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga. Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku. Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima.” Sesudah mengucapkan kata-kata itu Paulus berlutut dan berdoa bersama-sama dengan mereka semua. Maka menangislah mereka semua tersedu-sedu dan sambil memeluk Paulus, mereka berulang-ulang mencium dia. Mereka sangat berdukacita, terlebih-lebih karena ia katakan, bahwa mereka tidak akan melihat mukanya lagi. Lalu mereka mengantar dia ke kapal.

Kis.20:17-38

Eksposisi Surat Roma (49)

Pada hari ini saya akan mengajak sdr membaca Rom.16 bagian terakhir ini dengan menaruh segala tulisan firman Tuhan dari hambanya ini di dalam konteks sejarah, dimana ditulis, bagaimana kondisi Paulus waktu menulisnya, sehingga kita bisa sedikit menyelami pergumulan perasaan beban dari kata-kata yang muncul dikeluarkan apa yang ada di dalam hati Paulus dari bagian ini. Dua minggu yang lalu saya membahas panggilan Paulus, ”…mari begumul bersama-sama dengan aku di dalam doa…” dimana kalimat ini sedikit memberikan indikasi walaupun Paulus tidak membuka kepada jemaat Roma dan tidak kasih tahu apa yang menjadi kesulitan dia, tidak menyebutkan apa pergumulan dia, tetapi waktu menulis enam belas pasal dari surat ini di dalam kondisi yang penuh dengan kesulitan pergumulan, sdr bisa tahu betapa luar biasanya hamba Tuhan ini. Kita lihat konteks situasi pada waktu penulisan surat ini dalam Kis.19 dan 20, karena dari beberapa nama yang muncul dalam Rom.16 ini adalah juga muncul di situ yang juga adalah catatan perjalanan misi Paulus yang ketiga dan yang terakhir.

Dalam Rom.16:23 Paulus menyampaikan salam dari seorang yang bernama Gayus yang memberi tumpangan kepadanya, berarti waktu itu Paulus tinggal di rumah Gayus. Paling tidak nama Gayus muncul tiga kali di dalam Alkitab. Pertama di Rom.16 ini, kemudian di dalam surat 3 Yoh.1 Yohanes mengirim surat kepada Gayus sebagai pemimpin Gereja di Asia. Apakah Gayus ini sama dengan ‘Gayus dari Derbe’ kita tidak tahu, tetapi di dalam surat-surat Paulus ada dua nama Gayus muncul, yaitu yang ditulis di Rom.16:23 dan satu lagi dalam Kis.20:4 disebut dengan embel-embel ‘Gayus dari Derbe’ kemungkinan ini adalah Gayus yang lain. Gayus, sangat besar kemungkinan adalah orang pertama yang menerima Kristus dan yang pertama Paulus baptis di Korintus yang dicatat Paulus dalam 1 Kor.1:14. Menurut Kis.20:3 Paulus tinggal di tanah Yunani – Korintus berada di daerah Yunani- selama tiga bulan lamanya dia di rumah Gayus bersama rombongannya. Dari sini memberikan indikasi kepada kita Gayus adalah seorang Kristen yang luar biasa kaya yang membuka rumahnya untuk pekerjaan Tuhan. Surat Roma ini Paulus tulis dengan bantuan Tertius, juru tulisnya (Rom.16:22). Di dalam surat Galatia, Paulus menulis ”…lihatlah bagaimana besarnya huruf-huruf yang kutulis kepadamu dengan tanganku sendiri…” (Gal.6:11) itu memberikan indikasi kenapa dia perlu seorang jurutulis. Nampaknya mata dia yang buta terkena sinar di dalam perjalanan ke Damaskus itu walaupun Tuhan menyembuhkan dia tetapi tidak sembuh total. Dalam 2 Kor “dalam keadaan sakit aku telah datang kepadamu dan melihat mukaku saja engkau ngeri luar biasa…” Semua penafsir setuju mungkin mata Paulus merah dan infeksi karena sinar dari Tuhan Yesus yang begitu tajam lebih daripada sinar infrared atau ultraviolet, itu adalah sinar dari Allah sehingga sangat besar kemungkinan matanya mengalami gangguan sehingga sulit untuk menulis surat. Tertius dan Timotius merupakan beberapa jurutulis yang terus mengikuti Paulus, mencatat apa yang dikatakan Paulus sehingga boleh menjadi berkat firman Tuhan buat Gereja Tuhan hingga kini.

Nampaknya Efesus merupakan kota yang penting bagi Paulus dan Paulus tinggal cukup lama di situ. Dan Kisah Rasul mencatat di sana Paulus mengalami tantangan kesulitan pelayanan yang begitu besar dan berat. Dalam Kis.19:10 dicatat Paulus dua tahun lamanya mengajarkan firman Tuhan di ruang kuliah Tiranus dan kalau sdr baca dalam Kis.20:31 Paulus mengatakan dia tinggal di Efesus tiga tahun lamanya. Tidak banyak tempat-tempat dimana Paulus secara spesifik tinggal cukup lama. Sebelum Paulus meninggal, dua tahun lamanya dia tinggal di Roma menjalani tahanan rumah. Di Kaisarea Paulus juga tinggal di penjara dua tahun lamanya (Kis.24:27). Berarti Kis.20 terjadi kira-kira empat tahun lebih sebelum Paulus mati. Maka pada waktu perpisahan terakhir dengan pemimpin-pemimpin Gereja di Efesus Paulus sangat emosional menyentuh hati karena Paulus memberikan indikasi ini adalah pertemuan yang terakhir dengan mereka. Setelah Paulus keluar dari Efesus dan tinggal di rumah Gayus, Paulus menulis sebagian dari surat Roma ini. Sdr dari sini coba merasakan perasaan dan pergumulan Paulus tetapi sekaligus sdr bisa melihat produktifitasnya. Begitu sempit waktunya, bukan dalam kondisi baik, aman, lancar dan suasana yang kondusif, tetapi dia berada di dalam pergumulan tantangan kesulitan yang begitu berat. Itu sebab kita bisa mengerti mengapa tiba-tiba bisa terjadi perubahan mood Paulus. Perubahan itu terjadi karena tekanan kesulitan ini dan kadang-kadang hari demi hari menghadapi mara bahaya akan dibunuh oleh orang-orang yang membenci dia, maka keluar peringatan ini, “Hati-hatilah terhadap orang-orang yang menyusup yang bisa melakukan kerusakan dalam kehidupan Gereja…” Rom.16:16-20 Paulus mengatakan ada dua sebab yang bisa menyebabkan ajaran salah itu bisa menyusup masuk dan menimbulkan perpecahan di dalam Gereja. Ayat 18 Paulus mengingatkan orang-orang yang datang itu memang motivasinya sudah salah. Itu intinya. Mereka tidak melayani Tuhan, tetapi mereka melayani perut mereka sendiri. Maka dari situ sdr bisa melihat mengapa di dalam khotbah perpisahan Paulus kepada pemimpin-pemimpin Gereja di Efesus, Paulus mengatakan, ”…Engkau tahu aku sudah memberi contoh pelayanan yaitu aku datang di satu tempat, aku bekerja membiayai hidupku dan rekan-rekanku dengan tanganku sendiri…” Besar kemungkinan Paulus mendapat dukungan keuangan tidak dari tempat dimana dia melayani tetapi dari beberapa orang lain yang bukan dari Efesus, supaya dari awal dia melayani di situ tidak memberikan indikasi dia ke situ untuk mendapatkan keuntungan. Jadi kalimat Paulus ini bukan dalam pengertian dia tidak mendapatkan dukungan dan bantuan dari orang lain. Jelas sekali dari Rom.16:1 Paulus menyebut Febe sebagai salah satu pendukung keuangan dia. Di dalam Fil.4:18 Paulus menyatakan terima kasihnya atas bantuan kiriman dari jemaat Filipi bagi dia. Maka dalam bagian ini Paulus menekankan bahwa setiap kali dia datang ke satu tempat itu bukan untuk kepentingannya sendiri sehingga dia memulai satu ladang pelayanan dengan bekerja membiayai hidupnya sendiri. Dan di situ Paulus memberikan prinsip yang indah dari Tuhan Yesus, “Adalah lebih indah memberi daripada menerima” (Kis.20:35). Saya percaya dengan demikian Paulus memberikan beberapa prinsip penting, kalau ada pengajar-pengajar dari luar datang ke satu tempat dan langsung mencari satu keuntungan materi dari tempat itu, itu boleh menjadi satu indikasi warning kepada jemaat di situ. Maka di sini Paulus menekankan kalau mereka sampai datang ke Roma motivasi mereka adalah mencari keuntungan diri.

Kedua, kita tidak boleh terus-menerus mempersalahkan orang kalau satu Gereja akhirnya jatuh ke dalam satu ajaran yang salah. Paulus mengingatkan jemaat Roma jangan terlalu “tulus hati” (Rom.16:19) sehingga menjadi naif dan mudah ditipu orang. Maksud Paulus di sini, tulus hati adalah sesuatu yang baik dan sangat indah, tetapi tidak selamanya kita harus menjadi orang yang tulus hati. Jangan sampai karena terlalu tulus, semua ajaran yang disodorkan kepada kita kita terima sepenuhnya. Paulus mengingatkan kita hanya boleh tulus hati kepada hal-hal yang jahat, artinya tidak pernah pintar dan berpengalaman berbuat jahat. Sebaliknya kita perlu wisdom untuk menerima hal-hal yang baik. Paulus bilang jemaat Roma sudah terkenal merupakan jemaat yang tulus hati. Di satu pihak Paulus senang mendengar hal itu, tetapi di pihak lain dia mengingatkan jangan sampai karena terlalu tulus terima semua apa saja masuk ke dalam Gereja akhirnya dibodohi orang. Belajar memilah, bagaimana memiliki bijaksana supaya kita bisa tahu mana yang baik, mana yang salah. Tetapi soal tulus hati, pakai itu selama-lamanya dalam hal jahat, artinya dalam soal kejahatan semua harus lari dan jangan bermain-main dengannya. Maka dari sini kita menemukan satu aspek yang penting bicara mengenai pengajaran, bagaimana sebagai jemaat Paulus mengingatkan mereka belajar untuk bertumbuh, belajar untuk memikirkan dengan sungguh-sungguh, belajar untuk bisa mengenal dengan baik mana ajaran yang baik, mana yang tidak baik. Saya begitu tersentuh setiap kali membaca Kis.20:18-35 dimana Paulus membuka hati sedalam-dalamnya menyatakan sikap hati dan pelayanannya, motivasi dan apa yang menjadi contoh pelayanan yang harus ada di dalam hidup setiap kita.

Dalam Kis.21:4 Paulus sudah mendapat warning supaya dia jangan pergi ke Yerusalem, tetapi Paulus tetap berangkat. Namun bukan berarti setiap kali ada kesulitan dan mara bahaya Paulus maju terus. Saya pikir dalam-dalam, kapan kita maju dan kapan kita harus lari dari kesulitan? Paulus bukan orang yang naif dan selama-lamanya meng-embrace kesulitan yang datang ke hadapannya. Dalam Kis.20:3 rencananya Paulus akan naik kapal, tetapi ada bocoran bahwa orang-orang Yahudi mau membunuh dia di kapal, maka Paulus memutuskan untuk lewat jalan darat. Tetapi waktu nabi Agabus memperingatkan dalam Kis.21:11-14 bahwa Paulus akan ditangkap di Yerusalem, teman-temannya meminta supaya Paulus jangan pergi tetapi Paulus tetap memutuskan untuk pergi dan siap mati untuk Tuhan. Kadang-kadang tidak gampang mengambil satu keputusan. Waktu terjadi huru-hara di Efesus, beberapa teman Paulus maju di depan melindungi Paulus dan meminta Paulus tidak keluar menghadapi kerumunan, Paulus berterima kasih dan menuruti nasehat mereka. Tetapi di tengah-tengah mendengar ada rencana orang untuk membunuh dia, Paulus cari jalan lain. Ada kalanya dalam bagian lain, Paulus tetap maju dan rela mati untuk Kristus. Jadi kapan lari, kapan berani maju? Bagi saya belajar satu hal dari sini, adakalanya penderitaan itu inescapable dan unavoidable, tidak bisa kita hindari dan kita tolak. Mari kita hadapi dengan berani dan tabah. Tetapi adakalanya kita tidak boleh mencari-cari kesulitan dan penderitaan. Tuhan masih bisa suruh kita cari jalan lain untuk menghindarinya. Jadi walaupun ada tantangan dan kesulitan datang ke dalam hidup kita, tidak berarti kita harus mengambilnya. Ada kemungkinan Tuhan kasih jalan untuk kita luput dari sana. Tetapi adakalanya itu adalah tantangan kesulitan yang datang kepada kita dan kita tidak mungkin lepas darinya, mari kita hadapi dan bagaimana kita belajar menimbang dengan bijaksana di tengah-tengah dua hal seperti ini. Saya tidak bisa memberikan jawaban dan prinsip yang tegas di dalam hal seperti ini, tetapi yang bisa kita pelajari dari contoh hidup Paulus adalah kenapa dia harus tetap pergi ke Yerusalem meskipun marabahaya mengintipnya? Karena ke Yerusalem adalah bagian dari komitmen pelayanannya, karena dari awal dia sudah berjanji pada dirinya bahwa ini adalah bagian pelayanan yang harus dia kerjakan yaitu dia mau di akhir dari pelayanannya pergi ke Yerusalem membawa sumbangan dari Gereja-gereja non Yahudi yang dia layani. Dengan demikian dia bisa memberitahukan jemaat di Yerusalem bagaimana pekerjaan pelayanan dan beban berat yang mereka hadapi sehingga Injil bisa sampai kepada orang-orang non Yahudi, sekarang mereka sudah percaya Tuhan dan mau membalas jasa kembali membawa uang kepada mereka dan dia tahu jemaat Yerusalem sangat membutuhkan uang bantuan itu di dalam kemiskinan mereka. Ini adalah bagian dari komitmen pelayanan dia sehingga walaupun di situ ada kemungkinan kesulitan dan rekan-rekan Paulus meminta dia tidak pergi, tetap Paulus ambil keputusan untuk pergi. Tetapi di tengah perjalanan itu adakalanya kita menghadapi kesulitan dan ada kemungkinan untuk menghindarinya, hindarilah. Di situ membutuhkan bijaksana dan kedewasaan kita dalam menimbang. Tanyakan kepada Tuhan apakah kesulitan ini sesuatu yang Tuhan mau kita hadapi atau tidak. Kedua, adakah kemungkinan untuk bisa menghindar dan lepas atau tidak. Kalau tidak ada kemungkinan lepas, siap sedia menjalaninya. Tetapi kalau ada kemungkinan menghindar, bolehkah kita mengambil opsi ini. Bagaimana yang Tuhan mau, itu yang kita gumuli. Ini hal yang tidak gampang dan tidak mudah. Teman-teman Paulus semua mengatakan agar Paulus jangan ke Yerusalem, tetapi Paulus tetap mau pergi. Sampai di sini, teman-teman Paulus tidak memaksakan keinginan mereka dan berdoa, biar kehendak Tuhan yang terjadi. Maka di sini keputusan seseorang untuk menghadapi sesuatu adalah hubungan pribadi orang itu dengan Tuhan sendiri dan kita tidak bisa men-judge keputusan yang dia ambil. Dari sini kita pegang satu prinsip jikalau ada seorang hamba Tuhan mengambil sikap yang berbeda dengan hamba Tuhan yang lain dalam menghadapi kesulitan dan tantangan yang serupa, kita tidak boleh menilai dan menghakimi mereka, karena setiap kita bertanggung jawab kepada Tuhan secara pribadi lepas pribadi. Jadi hati-hati. Kadang-kadang ada rekan sdr ambil keputusan mau tetap tinggal di kota ini atau pulang ke Indonesia, kita harus hati-hati di dalam menilai keputusan saudara kita. Di dalam keputusan dia mengambil satu pekerjaan, biar kita sedikit hati-hati di dalam memberikan penilaian terhadap keputusan yang dia ambil. Saya rasa penilaian yang paling penting adalah kita harus tanya kepada dia apakah dia jujur dengan Tuhan di dalam mengambil keputusan itu? Apakah itu bagian dari part of the purpose of life dia dengan Tuhan?

Saya percaya keputusan Paulus di sini, this is the purpose of my ministry. Saya keluar membawa Injil dari Yerusalem pergi ke daerah non Yahudi. Sekarang mereka sudah mendengar Injil dan saya tidak melalaikan pelayanan ini, sekarang saya mau kembali ke Yerusalem. Itu satu purpose dari ministry dia. Dengan demikian saya percaya mungkin menjadi hal yang baik pada waktu kita membimbing, mendiskusikan, berdoa bersama dengan rekan-rekan dan saudara seiman kita yang mengambil keputusan yang mungkin sedikit berbeda dengan kita. Jujurkah engkau dengan Tuhan? Apakah keputusan ini menjadi bagian dari beban dan keinginanmu bagi Tuhan, sebab masing-masing orang memiliki beban dan panggilan kehidupan yang berbeda-beda. Tidak semua hamba Tuhan dipanggil untuk melayani dengan beban yang sama. Sehingga jangan menilai hamba Tuhan yang melayani di kota yang besar itu kurang berkorban, tidak mau pergi ke daerah terpencil. Jangan juga kita pikir bahwa pelayanan di daerah kecil berarti kita mengabaikan pelayanan di kota besar. Jadi kembali kepada tanggung jawab setiap orang, beban pelayanan dia, kesungguhan dia di dalam mengambil keputusan. Demikian juga dengan hidup setiap kita masing-masing. Di dalam kita bekerja, di dalam kita mengambil keputusan, saya percaya ini merupakan point yang penting kita belajar dari bagian ini.

Kis.20 ini saya percaya adalah self evidence dari khotbah Paulus yang tidak perlu kita elaborasi lebih panjang, tetapi mari kita coba renungkan dan ikut merasakan pergumulan Paulus dan pada waktu dia mengatakannya di depan kita, saya percaya kita pun akan ikut menangis bersama dia. Kis.20:24 Paulus mengatakan ada tugas pelayanan yang Tuhan serahkan kepada dia, dan dia mau selesaikan itu. Ini adalah point yang penting untuk memberikan kesaksian tentang Injil kasih karunia Allah. Paulus menyatakan bahwa dia sudah menyelesaikan pemberitaan Injil dan frase ini juga muncul dalam Rom.15:19, dari sini kita bisa ambil kesimpulan bahwa dua-dua berada dalam konteks situasi yang sama yaitu pada akhir dari pelayanan Paulus. Itu sebab mengapa kita bisa menemukan surat Roma yang begitu panjang karena Paulus sendiri sadar sebentar lagi dia sudah tidak ada, itu sebab dia keluarkan semua isi hatinya. Boleh dikatakan ini adalah satu-satunya surat yang diberikan bukan saja khusus kepada persoalan yang dihadapi jemaat Roma tetapi juga bersifat umum, artinya Paulus mengelaborasi konsep mengenai pembenaran melalui iman di dalam Kristus Yesus, dia elaborasi mengenai doktrin pilihan, dsb, dia elaborasi mengenai panggilan pelayanan, dsb dengan panjang lebar, di tengah-tengah dia hampir mati, di tengah-tengah dia mengalami kesulitan. Kalau sdr membaca kembali Kis.20, itu adalah perjalanan Paulus yang sangat berbahaya. Orang-orang Yahudi terus mengikuti dan mencari kesempatan untuk membunuh dia. Kita perlu orang Kristen yang berjuang dengan semangat untuk Injil pergi kemana-mana seperti Paulus, tetapi jangan lupa ada orang-orang yang anti Injil juga didukung oleh dana yang besar untuk melumpuhkan pekabaran Injil. Entah berapa banyak uang mereka, Paulus naik kapal, mereka juga naik kapal. Tetapi kalau semangat orang yang mau mematahkan Injil lebih besar daripada semangat kita, uang yang dikeluarkan oleh orang yang ingin mematahkan Injil lebih besar daripada uang yang kita keluarkan, bagaimana jadinya pelayanan pekabaran Injil Tuhan? Itu sebab surat Roma selain berisi ucapan syukur Paulus kepada jemaat, juga berisi perasaan kesungguhan dan cinta Paulus dalam pelayanan.

Terakhir, mengapa perlu dan mengapa harus dia ingatkan kepada penilik-penilik jemaat di Efesus untuk memelihara jemaat dengan baik-baik, yaitu karena jemaat itu sudah dibeli Tuhan dengan darah AnakNya sendiri (Kis.20:28). Ini merupakan kalimat penting, inti dari seluruh khotbah Paulus di dalam Kis.20 kepada pemimpin-pemimpin Gereja di Efesus, kenapa engkau harus sungguh-sungguh mencintai dan melayani jemaat Tuhan, sebab jemaat itu dibeli oleh Tuhan dengan darah AnakNya sendiri. Engkau dan saya dibeli oleh Tuhan dengan darah yang begitu berharga dan bernilai. Itu sebab tidak boleh ada di antara kita yang tidak menghargai anugerah itu. Setiap kali kita melayani dan memberikan yang terbaik kepada Tuhan, itu berarti kita mencintai dan menghargai the precious blood yang Tuhan curahkan bagi kita. Saya harap pekerjaan Tuhan tidak boleh berhenti ketika hamba-hamba Tuhan, mereka yang melayani sudah mati. Terus-menerus harus lahir generasi yang baru untuk meneruskan pekerjaan Tuhan dan melanjutkan api semangat pelayanan Injil Tuhan bagi dunia ini. Biar kita tidak lalai menggenapkan tugas dan panggilan yang Tuhan beri kepada setiap kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

21 November 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: