Home > Effendi Susanto, Eksposisi Surat Roma, Seri Khotbah > Esensi Reformasi: Kembali kepada Injil yang Sejati

Esensi Reformasi: Kembali kepada Injil yang Sejati

Saudara-saudaraku, aku sendiri memang yakin tentang kamu, bahwa kamu juga telah penuh dengan kebaikan dan dengan segala pengetahuan dan sanggup untuk saling menasihati. Namun, karena kasih karunia yang telah dianugerahkan Allah kepadaku, aku di sana sini dengan agak berani telah menulis kepadamu untuk mengingatkan kamu, yaitu bahwa aku boleh menjadi pelayan Kristus Yesus bagi bangsa-bangsa bukan Yahudi dalam pelayanan pemberitaan Injil Allah, supaya bangsa-bangsa bukan Yahudi dapat diterima oleh Allah sebagai persembahan yang berkenan kepada-Nya, yang disucikan oleh Roh Kudus. Jadi dalam Kristus aku boleh bermegah tentang pelayananku bagi Allah. Sebab aku tidak akan berani berkata-kata tentang sesuatu yang lain, kecuali tentang apa yang telah dikerjakan Kristus olehku, yaitu untuk memimpin bangsa-bangsa lain kepada ketaatan, oleh perkataan dan perbuatan, oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Roh. Demikianlah dalam perjalanan keliling dari Yerusalem sampai ke Ilirikum aku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus. Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orang, supaya aku jangan membangun di atas dasar, yang telah diletakkan orang lain, tetapi sesuai dengan yang ada tertulis: “Mereka, yang belum pernah menerima berita tentang Dia, akan melihat Dia, dan mereka, yang tidak pernah mendengarnya, akan mengertinya.”

Rom.15:14-21

Eksposisi Surat Roma (46)

Hari ini secara khusus kita merayakan satu hari yang sangat penting bagi Gereja Protestan khususnya dan juga bagi Gereja-gereja di Australia yang memanggil kita semua untuk sama-sama bergumul, panggilan untuk berpuasa dan panggilan untuk mendoakan bagi bangsadan negara ini. Walaupun tidak secara spesifik disebutkan sebagai Hari Reformasi, saya percaya panggilan ini ada berkaitan dengan satu peristiwa penting di tahun 1517, di hari yang sama seperti ini tanggal 31 Oktober, Martin Luther memakukan 95 tesisnya untuk memprotes kehidupan moralitas Gereja dan memprotes ajaran yang bagi dia sudah menyimpang dan tidak sesuai dengan iman dan kebenaran Alkitab. Momen ini menjadi momen yang penting, Reformasi bergerak dan tidak mungkin bisa ditahankan. Dari sudut pandang manusia, tidak ada kemungkinan kekuatan satu dan beberapa orang bisa menggerakkan proses Reformasi ini kalau bukan pekerjaan dan tangan Tuhan yang ajaib. Memang Luther dilindungi oleh seorang pangeran bernama Prince Frederick the Wise, tetapi apa yang menjadi keuntungan bagi pangeran ini melindungi Martin Luther? Tidak ada keuntungan apa-apa, kecuali kita melihat Tuhan memakai orang-orang seperti ini boleh mengerjakan pekerjaan yang luar biasa bagi Gereja. Hari Reformasi 31 Oktober menjadi hari yang penting dan harus kita ingatkan kepada anak-anak kita karena 31 Oktober yang mereka tahu adalah hari merayakan Halloween.

Anak saya kemarin berpikir hari ini datang ke gereja harus memakai baju kostum Halloween. Saya pikir ini satu pekerjaan rumah bagi orang tua Kristen bahwa tanggal 31 Oktober ini penting di dalam kalender sejarah kehidupan Gereja Protestan. Banyak Gereja-gereja Protestan yang harus tahu bahwa kita lahir dari satu pergumulan Reformasi, tetapi kadang-kadang mereka minim mengerti apa yang menjadi nilai, apa yang menjadi esensi yang penting dari pergumulan Reformasi ini. Reformasi tidak bisa kita katakan menyangkut secara komprehensif akan banyak hal. Memang betul kita tidak menemukan bahwa Reformasi menggerakkan pelayanan misi. Baru seratus tahun kemudian gelombang misi menjadi berkembang, tetapi Reformasi harus dimengerti sebagai sesuatu gerakan yang fokus bagaimana memulihkan kembali Injil yang sejati yang sudah terkontaminasi selama ratusan tahun adanya.

Di dalam Injil yang sejati ada penderitaan Kristus. Mereka yang membela Injil yang sejati mengalami penderitaan. Mereka yang pergi mengabarkan Injil yang sejati bersiap hati menghadapi penderitaan. Dengan kata lain, Injil yang sejati tidak mungkin terlepas dari pengertian mengenai penderitaan. Reformasi adalah momen dimana Injil yang sejati ingin dimurnikan dan pemurnian itu menuntut orang-orang itu berkorban dengan penuh penderitaan.

Surat Roma yang kita eksposisi merupakan salah satu kitab yang penting menggerakkan Reformasi. Dan ayat yang menggugah hati Luther dan kemudian menjadi ayat yang penting meruntuhkan struktur konsep mengenai pembenaran di dalam tradisi Gereja waktu itu, dimana pembenaran memang mulainya dari Allah tetapi kemudian manusia harus dengan hidup beramal, berbuat baik, melakukan begitu banyak perjalanan ritual agama supaya hidupnya di atas muka bumi ini mengumpulkan banyak hal yang baik supaya kelak berguna membenarkan mereka di hadapan Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan. Bagi Luther konsep seperti ini tidak ada di dalam Alkitab. Ayat yang menjadi inti dari perjuangannya adalah Rom.1:17 “For in it the righteousness of God is revealed from faith for faith…” Di dalam Injil, the righteousness of God is revealed. Kalimat ini melekat dalam benak Luther dan merubah konsep dia, bahwa keselamatan kita bukan karena the righteousness of men melainkan itu adalah the righteousness of God. Reformasi menjadi satu momen sejarah di dalam kehidupan pemurnian Injil yang sejati. Pada waktu Injil yang sejati itu dimurnikan, kita tidak boleh lupa bahwa orang itu membela, orang itu berdiri dan menegakkan apa arti Injil yang sejati, dia bersedia hati mati dan menderita dengan luar biasa. Ini adalah salah satu esensi yang penting di dalam Gerakan Reformasi.

Setidak-tidaknya seratus tahun sebelum Luther ada tiga orang martir yang penting. Saya kembali membaca dan menganalisa cerita dan catatan mengenai ketiga orang ini sangat menyentuh dan menggugah hati saya. Mereka adalah John Wycliffe, John Hus dan Girolamo Savonarola. John Wycliffe memiliki hati yang berkata hanya kebenaran otoritas Alkitab harus memimpin hidup Gereja. Itu sebab dia mengkritik kehidupan imoralitas dari pemimpin-pemimpin Gereja dan mengatakan Gereja sudah mengalami kondisi hirakrki yang korup. Wycliffe mengatakan Alkitab adalah satu-satunya sumber otoritas Gereja dan dia menolak segala kegiatan Gereja yang tidak berasal dari Alkitab. Dan “kesalahan” dia yang terbesar yang akhirnya terus-menerus merongrongnya sehingga Gereja mengejar dan ingin menghukumnya adalah dia bertekad membuat firman Tuhan itu bisa dibaca dan dimengerti oleh orang-orang awam. Maka dia menerjemahkan Alkitab yang dari bahasa Latin itu ke dalam terjemahan bahasa Inggris. Hingga sekarang nama Wycliffe diabadikan di dalam lembaga-lembaga penerjemahan Alkitab supaya Injil bisa sampai, dibaca dan didengar oleh orang-orang di dalam bahasa mereka masing-masing. Memang dia mati karena sakit, tetapi Gereja begitu tidak suka kepada dia sehingga Paus menyuruh kuburannya digali dan tulang-tulangnya dibakar sebagai tanda hukuman kepada Wycliffe yang di-declare sebagai bidat. Sdr bisa bayangkan betapa marah dan bencinya dia kepada Wycliffe. John Hus dipengaruhi oleh tulisan-tulisan dan perjuangan Wycliffe sehingga dia berani berjuang memurnikan Gereja. Sdr jangan lupa mereka ini adalah hamba-hamba Tuhan yang tidak mau dipengaruhi dan dikontaminasi oleh kehidupan Gereja pada waktu itu. Mereka berdiri dengan jujur di hadapan Tuhan, memberitakan firman Tuhan, John Hus mengatakan Gereja tidak boleh hidup di dalam imoralitas, kehidupan yang sudah menjadi rahasia umum dimana imam-imam memang tidak boleh menikah tetapi faktanya mereka punya isteri dan anak. Maka John Hus berdiri dan menegur, dan akibatnya dia ditangkap dan dibakar hidup-hidup. Sama dengan Savonarola, seorang pastor yang sangat luar biasa. Dia bisa berkotbah dengan berapi-api di tengah alun-alun dan orang-orang yang bertobat dengan rela membakar peralatan judi, buku jimat dan sihir, buku pornografi dan bahkan banyak yang datang membakar peralatan make up dan rambut palsunya, yang pada waktu itu merupakan tanda ciri-ciri kehidupan bangsawan yang berasosiasi dengan hidup yang tidak benar. Savonarola berkhotbah mengenai hidup moralitas jemaat, dan dia juga menegur kehidupan imoralitas dari pemimpin-pemimpin Gereja dan pemerintahan kota dimana dia tinggal. Paus menjadi sangat marah dan menyuruh menangkapnya, menyiksanya sampai seluruh tubuh dan tulang-tulangnya hancur dan hanya menyisakan satu bagian dari tangannya yang dipersiapkan untuk menandatangani pengakuan diri bahwa dia seorang bidat yang menyesatkan orang dengan ajarannya. Di dalam penyiksaan itu Savonarola tidak tahan, sehingga dia menandatangani pengakuan bahwa dia adalah seorang pengajar sesat dan dia menyesali apa yang sudah dia lakukan. Setelah tanda tangan berarti Gereja berhak mengeksekusi dia dan membakar hidup-hidup. Tetapi sejarah mencatat dia bukan seorang heretik tetapi dia adalah seorang yang berjuang memurnikan Gereja. Tiga orang ini mati dibakar, tiga orang ini dihajar habis-habisan, itu merupakan konsekuensi dari membela Injil yang sejati.

Luther sebenarnya tidak memiliki keinginan untuk melakukan Reformasi. Ada beberapa hal yang membuat dia sedikit marah. Selain memperhatikan kehidupan imoralitas dari pemimpin-pemimpin Gereja, Luther juga melihat kehidupan Gereja sudah dikontaminasi oleh terlalu banyak hal-hal yang mistik luar biasa. Sehingga melalui segala hal-hal itu orang bisa me-reduced api purgatori. Luther marah karena Gereja mengajarkan bahwa orang bisa me-reduced hidup dari api purgatori dengan membeli surat indulgensia. Pada waktu itu tahun 1500-an muncul pengajaran bahwa orang yang bisa pergi berziarah ke tanah suci akan meminimalkan masa penyuciannya di dalam api purgatori. Kalau orang bisa mengumpulkan relic atau benda-benda yang berasosiasi dengan kehidupan Tuhan Yesus, nabi, rasul atau orang-orang suci, semakin banyak orang itu kumpulkan semakin meminimalkan masa penyuciannya di api purgatori. Luther dilindungi oleh Price Frederick the Wise, yang sebenarnya juga adalah seorang yang percaya mistik itu. Di rumahnya dia punya kapel dan di dalamnya dia sudah mengumpulkan ribuan relics yang menghabiskan uang yang sangat banyak. Dia menyimpan relic jerami yang ada di palungan bayi Yesus, dia menyimpang tulang bayi berumur dua tahun yang dia percaya mati dibunuh Herodes. Dia bahkan menyimpan air susu yang katanya dari perawan Maria. Sdr bisa melihat betapa konyol dan pembodohan yang dilakukan Gereja, bukan? Sekarang ini orang-orang Protestan ikut-ikutan berziarah, sampai di Israel juga ikut-ikutan mengumpulkan relics, bawa pasir dari tanah Gosyen, bawa air dari sungai Yordan, dan segala macam barang dari sana.

Konsep mistik begitu mempengaruhi lalu dipakai menjadi sarana untuk bisa dibenarkan di hadapan Tuhan. Luther melihat segala penyalah-gunaan dan ajaran ini merusak, merugikan dan mengkontaminasi konsep mengenai Injil yang sejati. Itulah bedanya antara Luther dengan Erasmus. Erasmus seorang humanis pada jaman yang sama dengan Luther. Erasmus tahu kebobrokan moral Gereja namun dia tetap menjadi seorang Katolik dan tidak mau berpindah menjadi Protestan karena buat dia orang Protestan sendiri masih suka ribut dan tidak harmonis satu sama lain. Erasmus adalah seorang sastrawan yang pintar luar biasa, menulis satu buku yang bersifat menyindir secara halus kehidupan Gereja dalam bukunya “In Praise of Folly.” Erasmus bilang hidup para imam dan pastur-pastur harus direformasi. Korupsi, menjual agama dan hidup imoralitas yang tidak beres. Tetapi bedanya Erasmus dengan Luther satu hal, bagi Erasmus semua itu cuma gejala sosial, bagi Erasmus itu hanya kebudayaan luarnya saja yang bisa diperbaiki, tetapi bagi Luther dan bagi semua Bapa Reformasi itu semua terjadi karena ajarannya sudah salah. Jadi jangan pikir bahwa orang-orang Katolik di jaman itu tidak memiliki keinginan untuk reformasi, tetapi mereka tidak melihat inti dasar yang dilihat oleh Luther. Luther tidak hanya menegur kehidupan moral dan sosial Gereja saja, tetapi dia tarik kepada prinsip yang penting: kebenaran Allah. Injil itu apa? Injil itu bukan kebenaran manusia. Injil itu bukanlah manusia berusaha melakukan segala sesuatu supaya bisa menyenangkan hati Allah. Setelah momen 1517, beberapa tahun selanjutnya Luther menulis beberapa traktat kecil, yang salah satunya berjudul “Two types of Righteousness.” Di awal dari traktat ini Luther menulis “Yang pertama adalah kebenaran yang sama sekali asing bagi orang Kristen sebab kebenaran itu datangnya dari luar diri orang Kristen. Inilah kebenaran Kristus yang melaluinya kita dibenarkan.” Ada dua macam kebenaran di dalam konsep Kekristenan, konsep kebenaran yang pertama adalah kebenaran yang sama sekali asing bagi orang Kristen sebab kebenaran itu bukan datang dari diri manusia, itu datang dari luar yaotu kebenaran Kristus yang kita hanya miliki tidak melalui cara apapun selain dengan menerima kebenaran itu melalui iman kita kepada Kristus. Dua ayat yang menggugah hati Luther dan menjadi terobosan konsep mengenai “justification by faith alone” yaitu Rom.1:17 dan 1 Kor.1:30 “He is the source of your life in Christ Jesus, whom God made our wisdom and our righteousness and sanctification and redemption…” Atau dalam terjemahan lain “In Christ, our wisdom we justified, sanctified and redeemed. Kita sudah dibenarkan, sudah dikuduskan, sudah ditebus, selesai final di dalam Yesus Kristus. Inilah Injil yang sejati.

Hari ini kita menerima perjamuan kudus, hari ini kita memperingati Reformasi, hari ini mari kita kembali memikirkan dengan sederhana apa itu Injil, apa itu kabar baik Injil Yesus Kristus.

Dalam Rom.15 Paulus bercerita kembali memori perjalanan pelayanannya yang sudah berjalan selama dua puluh tahun. Di situ sdr menemukan banyak hal yang penting. Salah satunya Paulus mengatakan selama dua puluh tahun melayani berkeliling dari Yerusalem sampai Ilirikum, maksudnya ini merupakan satu circle, satu keseluruhan pelayanannya kepada orang Yahudi, umat Tuhan yang pertama, tetapi karena mereka menolak Injil Yesus Kristus maka Paulus pergi kepada orang-orang bukan Yahudi. Dengan memakai kata ‘Ilirikum,’ maksudnya dia sudah pergi ke seluruh dunia, dengan memakai istilah ini Paulus sadar Injil sudah mencapai kepada semua orang. Di dalam dia pergi memberitakan Injil itu dia memberitakan Injil yang sepenuhnya, “the true Gospel, the full Gospel” (ayat 19). Ada banyak kalimat-kalimat Paulus yang penting bicara mengenai what is the Gospel, tetapi salah satu bagian yang akan saya ajak sdr lihat hari ini adalah 1 Kor.15:1-5. Paulus bukan memberitakan Injil yang baru, dia hanya meneruskan apa yang sudah diberitakan oleh rasul-rasul yang lain, apa yang diajarkan oleh Yesus Kristus. Injil yang sejati bukan Injil yang baru yang dia ciptakan sendiri. This is my Gospel, inilah Injilku yaitu bahwa Yesus Kristus telah mati bagi dosa-dosa kita sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan dan telah dibangkitkan pada hari yang ketiga sesuai dengan Kitab Suci dan siapa yang berpegang kepadanya akan diselamatkan. Inilah Injil yang sejati.

Menerima perjamuan kudus pada hari ini mengingatkan kepada kita tidak ada dasar apapun kita itu bisa dibenarkan Allah dari diri kita sendiri kecuali Kristus sudah mati dan bangkit menebus dosa-dosa kita. Menerima perjamuan kudus pada hari ini mengingatkan kepada kita betapa bernilainya Injil yang sejati itu. Di dalamnya ada penebusan korban Tuhan Yesus mati bagi engkau dan saya. Itu adalah Injil yang sejati. Karena Injil inilah kita bisa melihat Paulus setelah dua puluh tahun melayani, dia mengatakan inilah kebanggaannya bahwa dia sudah memberitakan Injil yang sepenuhnya ke seluruh daerah. Dia bangga bisa memberitakan Injil tidak ke tempat-tempat dimana Injil sudah diberitakan melainkan kepada tempat-tempat yang belum pernah mendengar Injil. Namun setiap kali dia bicara mengenai pelayanannya, terutama dari tiga bagian penting yaitu di Ef.3:2, Gal.1:15 dan Rom.15 dimana secara singkat Paulus kembali refresh memorinya bahwa dia dipanggil Tuhan melayani kepada bangsa yang bukan Yahudi. Di tiga tempat ini dia selalu mulai dengan kalimat ini “Only by His grace…” Seseorang yang bersiap mati membela Injil, seseorang yang memberitakan Injil sebagai misionari tahu di dalamnya dia akan menghadapi kesulitan dan penderitaan, itu tidak menjadi sesuatu halangan yang mentawarkan hatinya dan menyedihkan hidupnya, karena dia tahu di awal dia mengenal Tuhan, percaya dan bisa melayani Tuhan, itu semata-mata karena anugerah. Itulah Injil. Anugerah berarti itu adalah pemberitan Tuhan yang tidak layak kita terima. Anugerah berarti tidak ada hal yang aku kerjakan dari diriku sehingga aku berhak mendapatkan kasih karunia pemberian dari Allah, tetapi semata-mata karena anugerah Allah itu datang kepada hidup kita. Itulah motivasi, itulah dasar yang menggerakkan hati pelayanan dari rasul Paulus.

Mari kita pada hari ini sama-sama berdoa, kita sama-sama bergumul, kita sama-sama memikirkan pekerjaan dan pelayanan Tuhan. Minggu lalu saya sudah katakan di dalam nasehat Paulus kepada jemaat Roma, inilah hal yang diangkat Paulus dengan sangat indah luar biasa. Kadang-kadang Paulus menegur dengan keras, tetapi di dalam Rom.15 ini dia mengangkat dengan satu encouragement yang indah, dia mengatakan “Aku percaya masih banyak hal yang baik di dalam hidupmu…” Tujuannya cuma satu, yaitu dia mau jemaat Roma bersumbangsih bagi pemberitaan Injil.

Dalam Injil yang sejati ada penderitaan Kristus. Bagi mereka yang membela Injil yang sejati, mereka menerima penderitaan. Bagi mereka yang pergi memberitakan Injil yang sejati, mereka bersiap sedia mengalami penderitaan. Penderitaan yang kita alami mungkin tidak berupa penderitaan fisik tetapi penderitaan yang mungkin kita alami adalah panggilan dari firman Tuhan untuk kita berbagian di dalam pekerjaan dan pelayanan Tuhan.

Minggu depan saya mengajak sdr melihat bukan saja Paulus mengangkat berita Injil bahwa Yesus sudah mati bagi kita dan berkorban bagi kita, tetapi dalam akhir suratnya kepada jemaat Roma Paulus menyebut beberapa orang yang begitu dia hargai dan hormati yang melayani Tuhan dengan setia. Berkali-kali di dalam bagian Rom.16 sdr akan menemukan kalimat Paulus, ”…they do hard work for Christ.” Hard work mungkin bisa melemahkan kita. Hard work mungkin bisa membuat kita capai. Hard work mungkin bisa membuat kita memerlukan rest sebentar. Itu wajar dan lumrah. Di dalam pelayanan pemberitaan Injil Paulus menulis di dalam 1 Kor. dia mengalami penderitaan, dia bukan superman, dia mengaku hampir-hampir saja dia putus asa. Tetapi sangat indah sekali, begitu dia mengalami hal itu jangan lupa ini kalimat yang menjadi kekuatan Paulus, “semua ini semata-mata karena anugerah Tuhan…”

Mari kita menghampiri meja perjamuan pada hari ini dengan [enuh syukur karena Tuhan sudah menebus kita dari dosa-dosa kita tanpa kita bersyarat menerma penebusan itu. Biar hidup kita ditopang oleh anugerah Tuhan sehingga kita boleh mengerjakan banyak pekerjaan yang baik bagi Tuhan. Biar kita tergugah kembali dan bersyukur karena kita sesungguhnya tidak layak dan tidak mungkin bisa menyenangkan hati Tuhan, kecuali kita tahu Kristus telah terlebih dahulu mati dan bangkit menebus dosa-dosa kita. Iman kita kepada Tuhan tidak pernah sia-sia adanya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

30 Oktober 2010

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: