Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (3): Kasihilah Isterimu seperti Dirimu Sendiri

Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (3): Kasihilah Isterimu seperti Dirimu Sendiri

Nats: 1 Pet. 3:7

Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu sebagai kaum yang lebih lemah. Hargailah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang.”

Ayat ini menjadi salah satu dari dua blue print yang sangat penting bagaimana Tuhan bicara mengenai pernikahan orang Kristen dan relasi suami isteri. Blue print yang pertama yang sudah saya katakan dari Kej.2:24 “Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging.” Prinsip pernikahan Kristen adalah prinsip pernikahan dimana Allah memperlakukan kita sebagai manusia yang dewasa, manusia yang bertanggung jawab, yang diberi kepercayaan boleh masuk ke dalam satu relasi dimana relasi itu tidak boleh menjadi relasi yang egois karena di situlah sdr memberi diri kepada pasanganmu. Itu sebab Paulus di dalam surat Korintus mengingatkan kepada suami dan isteri, “Hai isteri, ingatlah baik-baik dirimu bukan lagi milikmu tetapi milik suamimu. Hai suami, ingatlah baik-baik, dirimu bukan lagi milikmu tetapi milik isterimu.” Maka pernikahan menjadi satu tindakan pergi meninggalkan orang tua. Ini bukan berarti kita tidak menghargai dan tidak peduli akan orang tua lagi, melainkan itulah saatnya dimana relasi anak dan orang tua sudah berubah menjadi relasi antar orang dewasa. “Meninggalkan” berarti dia membangun dan mempersiapkan satu keluarga yang baru. Pernikahan berarti bersatu dengan isterimu menjadi satu daging, tidak boleh ada setitik apapun yang memisahkan suami dan isteri. Maka komunikasi, keterbukaan dan relasi harus merupakan relasi yang jujur dan terbuka. Ini ditandai dengan keintiman di dalam relasi seksual sampai ke dalam seluruh aspek kehidupan, tidak boleh ada relasi yang lain yang lebih dekat daripada relasi suami dan isteri. Kedua, mengerti role kita, panggilan Tuhan setelah Tuhan menciptakan laki-laki dan perempuan yang memang berbeda. Maka Tuhan memberikan role suami dan isteri di dalam Ef.5:33, ”…bagi kamu masing-masing berlaku prinsip ini: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya.” Jika kita tidak mengerti role yang berbeda ini maka seringkali kita menemukan pernikahan mengalami berbagai hambatan di dalamnya. Dr. Eggerichs dalam buku “Love and Respect” mengatakan ini adalah dua inti dan dua kebutuhan yang paling penting bagi pria dan wanita. Tetapi ini justru bisa menciptakan lingkaran setan yang menimbulkan ketidak-harmonisan di dalam keluarga. Isteri yang merasa suami tidak mencintai, biasanya bereaksi menjadi kasar dan mengeluarkan kata-kata yang tajam. Ketika suami mendengar kalimat seperti itu, dia berpikir isteri tidak menghormati, akhirnya dia bereaksi silent dan tidak mempedulikan isterinya. Reaksi itu kemudian diterima oleh isteri sebagai reaksi suami tidak mencintai. Maka ini menjadi lingkaran yang tidak habis-habisnya.

Yang kedua, love dan respect merupakan dua kebutuhan manusia yang menarik. Respek seringkali tidak bisa diberi secara sukarela. Orang baru memberi respek kalau orang merasa dia layak dihormati. Respect should be earned. Sedangkan kasih seringkali lebih bersifat gampang dan sukarela diberikan, tidak peduli akan kondisi orang yang diberi kasih. Tetapi orang tidak mungkin bisa menghargai semua orang. Kita baru menghargai dan respek kepada seseorang karena ada kualitas di dalam diri orang itu. Maka kadang-kadang bagi seorang wanita tidak gampang memberikan respek kepada pria. Dan selain itu kita menemukan bukan saja terjadi perbedaan di dalam sikap orang, tetapi saya justru menemukan dari kalimat Paulus ini menunjukkan kebutuhan suami berbeda dengan isteri dalam hal respek dan kasih ini. Kenapa Paulus tidak mengatakan, hai isteri, kasihilah suamimu seperti dirimu sendiri? Dan kepada suami, kasihilah isterimu seperti engkau mengasihi Tuhan? Ini bagian yang menarik sekali dimana Paulus mengatakan, hai isteri, respek kepada suamimu seperti engkau respek kepada Tuhan dan suami, kasihi isterimu seperti dirimu sendiri. Kenapa Paulus mengatakan seperti ini? Kasih itu merupakan aspek yang sangat natural di dalam diri wanita atau isteri. Dan bagi wanita untuk mengasihi suami seperti mengasihi diri sendiri itu gampang dilakukan karena umumnya wanita lebih memikirkan bagaimana mengasihi suami dan anak lebih dari diri sendiri. Tetapi untuk respek bukan seperti menghargai diri sendiri, melainkan respek seperti kepada Tuhan, dari situ kita menemukan aspek betapa susahnya hal itu dilakukan. Hormati suamimu seperti engkau menghormati Tuhan, artinya respek harus diberikan tanpa melihat kondisi suami. Dia mungkin kurang memiliki talenta seperti engkau, dia mungkin kurang fasih berbicara, kurang natural di dalam banyak hal, perlu belajar lebih dahulu sehingga isteri sering menjadi tidak sabar. Tetapi engkau perlu belajar menghormati dia karena itu adalah bagian dari ibadahmu kepada Tuhan. Respek menjadi kebutuhan pria yang paling penting.

Anak perempuan kalau jatuh, kita harus ambil dan peluk dia. Tetapi anak laki-laki kalau jatuh, sdr tinggal beri dia tepuk tangan, dia akan bangkit sendiri. Dia tidak perlu dipeluk-peluk seperti kepada anak perempuan. Dengan tepuk tangan, itu menunjukkan sdr respek kepada usaha dia dan membuat dia menjadi confident. Suami baru dipecat dari pekerjaan, isteri tidak perlu peluk dan kasihan kepada dia. Beri respek dan support kepadanya karena itu yang paling dia perlukan. Wanita berbeda. Waktu dia menghadapi masalah, dia perlu tangan yang merangkulnya dan menyeka air matanya. Itu yang paling dia perlukan. Laki-laki hanya perlu apapun yang terjadi, engkau tetap respek dan proud of him dan menghargainya. Itu yang akan membuat dia bounce back dan memiliki semangat serta martabat hidup kembali. Orang lain boleh bilang dia loser, orang lain boleh bilang dia tidak baik, tetapi isteri tetap harus menunjukkan dia ada di pihaknya dan menghargai dia. Itu adalah sikap yang membangkitkan kemampuan di dalam diri seorang suami. Respek akan penilaian suami, respek kepada pengetahuannya, opininya. Percaya bahwa keputusan yang dia ambil adalah hal yang baik adanya. Kita berdiskusi dengan dia, sesudah itu kita memberi kepercayaan kepada suami untuk mengambil keputusan dan kita menghargai keputusan dia. Respek kepada kemampuannya. Just say ‘you can do it’ sehingga itu menambahkan perasaan harga diri kepada suami. Respek kepada suami di dalam komunikasi dan juga di hadapan publik. Jangan mengeluarkan kata-kata yang mempermalukan dan mencemooh kelemahan atau ketidak-mampuan suami di dalam aspek-aspek tertentu. Dia membutuhkan penghargaan dan respek as to the Lord, yang kadang-kadang itu sulit sekali dilakukan isteri.

Tetapi suami, kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri. Harus kita akui, suami jarang memikirkan isteri dan anaknya. Suami sering beli makanan hanya untuk diri sendiri, tidak seperti isteri selalu beli untuk suami dan anak. Ini menunjukkan natur pria umumnya memang seperti itu. Maka Alkitab mengatakan, suami kasihi isterimu seperti engkau mengasihi diri sendiri berarti firman Tuhan mengingatkan kita ada hal-hal tertentu dari diri laki-laki yang mungkin sedikit lebih egois dan memanjakan diri sendiri. Hobby kita, kesukaan kita, menunjukkan kita lebih fokus kepada diri sendiri. Itu bisa kelihatan dari kecil. Anak perempuan saya setiap kali mendapat makanan yang enak, selalu mendatangi saya dan mengatakan, “Papa mau coba?” Anak laki-laki umumnya tidak rela memberi. Waktu sudah menikah, umumnya perempuan secara natural akan selalu ingat suami dan anak lebih dulu. Berbeda dengan pria. Kadang-kadang pria lebih absorb kepada diri sendiri daripada memperhatikan orang lain.

Mengapa firman Tuhan menyuruh suami mengasihi isteri seperti diri sendiri? Dengan pencerahan dari Roh Kudus Paulus menulis kalimat ini. Mengapa suami harus mengasihi isteri seperti diri sendiri? Karena pria lebih terhisab kepada dirinya sendiri. Sdr perhatikan bagaimana dosa membuat cara Adam berelasi kepada Hawa berbeda dengan sebelum dia jatuh ke dalam dosa. Sebelum jatuh ke dalam dosa, ketika Tuhan memberikan Hawa kepadanya, ada 2 hal yang terjadi. Pertama, Adam katakan, “Dia adalah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku.” She is part of my life. Dia adalah bagian dari hidupku. Dan kedua, Alkitab mencatat keduanya telanjang tetapi tidak merasa malu. Artinya, tidak ada bagian dari hidupku yang tidak saya share kepada dia. Ini terjadi sebelum Adam jatuh di dalam dosa. Sesudah jatuh ke dalam dosa, Adam mempersalahkan Tuhan kenapa memberikan Hawa untuknya. She is not part of me. Dia orang asing, dia bukan bagian dari aku. Maka terjadi separasi dan keterpisahan. Maka kenapa Alkitab menyuruh suami mengasihi isteri seperti kepada diri sendiri? Karena itulah saatnya you memperhatikan dan mengasihi dia sebagai part of your life dan kasih itu memiliki standar seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Kedua, suami mengasihi isteri seperti diri sendiri, karena kasih itu merupakan kebutuhan yang paling utama bagi wanita. Maka pria dan wanita mempunyai insecurity yang berbeda. Pria menjadi insecure kalau dia tidak dihormati. Wanita insecure kalau dia merasa tidak dicintai. Kenapa kita diminta mengasihi isteri? Sebab ini merupakan kesalahan yang sering terjadi pada pria: mengerti mengenai cinta itu bersifat “close deal.” Isteri sering mengeluh kepada suami, kenapa dia berbeda dengan waktu pacaran dulu. Bedanya dimana? Dulu waktu masih pacaran begitu romantis, begitu penuh pengorbanan dan waktu kejar saya seperti orang gila. Tetapi kenapa sesudah menikah kok tidak lagi romantis, kadang-kadang tidak mau berkorban? Karena pria punya konsep “berburu” dan “memancing.” Jadi pria berpikir mendapatkan seorang isteri seperti berburu. Waktu berburu dia akan kejar dengan luar biasa, apa saja dilakukan, berdiri di tengah hujan memegang bungapun mau. Begitu dapat, itu kebanggaan luar biasa. Sesudah mendapat, selesai. Dulu waktu pacaran selalu buka pintu mobil, sekarang turunin pram saja tidak dibantu. Akhirnya ini menjadi sumber pertengkaran antar suami isteri. Isteri diperlakukan seperti itu menjadi insecure dan bertanya-tanya apakah suami masih mencintai dia. Kasih isteri itu tidak pernah berupa “close deal.” Itu sebab mengapa sebagai seorang suami kita dipanggil untuk mengasihi dia. Bukan berarti kita mengasihi isteri seperti pada waktu pacaran dulu. Yang dia perlukan adalah satu perasaan secure, dilindungi dan diberi keyakinan bahwa engkau mencintai dan terus mengasihi dia.

Ada suami mengatakan, bukan dia tidak mengasih isteri, tetapi kadang dia bingung karena isteri salah menangkap makna. Buat apa saya susah-susah kerja kalau saya tidak sayang dia? Buat apa saya persiapkan semua untuk anak istri, itu kan tanda saya cinta dia? Saya setia sama dia, saya tidak lihat-lihat perempuan lain. Masa sudah mau tidur, masih dia tanya, “Do you still love me?” Maka saya bilang ke dia, “Coba cek saja bank account.” Dia malah marah saya bilang begitu. Suami, saya ingatkan sdr. Wanita tidak memiliki alasan logis. Suami tidak bisa bilang, “Kan you TAHU saya mencintaimu…” Dia akan bilang, “Saya tidak RASA you cinta saya.” Sampai kapanpun konsep wanita tidak pernah close deal mengenai cinta. Dia akan terus minta diyakinkan bahwa engkau terus cinta kepada dia. Maka Tuhan mengerti akan kebutuhan ini dan menyuruh para suami untuk mengasihi isteri sama seperti engkau care terhadap dirimu. Buatlah dia merasa secure, merasa aman, merasa terlindungi danberi dia komitmen bahwa engkau sungguh mengasihi dia.

Apa indikasi dari seorang isteri MERASA cinta suami sudah berkurang? Kadang-kadang waktu suami habisin semua makanan, dia tidak akan bilang “Dasar tamcia…” tetapi dia akan bertanya, “You sayang sama saya atau tidak sih?” Kita pria berpikir, masa makanan dibanding sama isteri, tentu saja tidak. Dia akan terus bicara soal relationship denganmu. Kalau dia rasa mulai insecure, maka dia akan secara emosional dan tanpa sebab jengkel kepadamu, tanpa you tahu alasannya. You menjadi kaget dan mau mendekap dia untuk menunjukkan sayangmu, tetapi dia malah mendorong dan menjauh. Suami jadi frustrasi dan tidak mengerti apa yang isteri mau. Kenapa isteri bereaksi seperti itu? Insecurity in love merupakan hal yang terus ada di dalam diri wanita. Maka suami yang pikir kebutuhan finansial sudah dia penuhi, maka semua akan beres karena itu tanda cintanya kepada isteri. Tetapi isteri tidak puas dengan hal itu. Dia membutuhkan ekspresi yang lebih, pernyataan dan sikap care dari suami yang membuat dia feel secure akan cintamu.

Isteri bisa merasa sudah kehilangan cinta dari suaminya karena beberapa hal:

Dipicu oleh konflik dan pertengkaran yang tidak habis-habisnya.

Dipicu oleh sikap suami yang menarik diri dan silent.

Kebanyakan isteri menjadi insecure karena bank cinta isteri sudah terkuras habis karena dia lebih sering mengambil dari bank cinta itu untuk membesarkan anak dan keluarga. Sehingga banyak aspek praktis yang perlu kita belajar sama-sama. Jangan biarkan bank cinta dia sampai habis. Caranya ambil sedikit beban dia untuk membantu membesarkan anak. Ambil separuh. Dari situ dia bisa melihat dan merasakan bahwa kita benar-benar mengasihi dan mencintai dia.

Kasihilah isterimu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri. Seumur hidup ini merupakan kebutuhan wanita yang paling penting daripada hal yang lainnya. Seorang suami tidak boleh “close deal” di dalam cintanya. Wanita meskipun sudah menikah tetap akan bangga kalau suami masih tetap “mengejar” dia. Maka saya selalu mengingatkan para pemuda, wanita walaupun engkau suka setengah mati kepada satu pria, jangan coba mengejarnya. Kalau dia tidak mau kepadamu, maka cintamu akan dihina habis-habisan. Lebih baik pria yang mengejar wanita. Waktu mengejar, jangan cepat putus asa kalau dia menolak. Mungkin artinya, kejarlah saya lebih keras. Maka waktu suami mau memeluk, isteri menolak, jangan berhenti dan bilang “Fine!” karena isteri akan semakin marah. Peluk dia, katakan engkau mencintai dia. Ingat, sampai kapanpun suami tidak boleh melupakan hal-hal penting di dalam memori pernikahan. Jangan pernah lupa hari pernikahanmu, jangan pernah lupa kapan hari kelahirannya. Dan bukan saja jangan lupa, juga harus paling sedikit ada kue untuk dirayakan. Semua itu akan menjadi bukti akan cintamu dan memberi dia rasa aman. Ingatkan dia, sampai kapanpun menjadi suamimu, saya adalah pria yang paling berbahagia di atas muka bumi ini. Hari ini pulang, coba keluarkan kalimat seperti itu kepada isterimu, then you will see a miracle happen. Memang mungkin reaksinya pertama, ”..ada apa ini? Pasti ada udang di balik batu.” Jangan di-offence dulu reaksi dia yang negatif karena mungkin sudah terlalu lama sdr melakukan “close deal” kepadanya. Maka saya memberikan rahasia ini kepadamu: wanita tidak akan pernah berhenti untuk diyakinkan bahwa dia sungguh-sungguh dicintai oleh suami, karena ini memang kebutuhannya yang paling utama. Suami, cintailah isterimu seperti engkau mencintai dirimu sendiri.

Pdt. Effendi Susanto STh.

16 November

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: