Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (4): Lima Penghalang di dalam Pernikahan

Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (4): Lima Penghalang di dalam Pernikahan

Nats: Nats: 1 Pet.3:7

Hari ini saya ingin mengajak sdr melihat bagaimana fakta dan realita efek dosa sudah mendatangkan kerusakan dan pencemaran di dalam seluruh aspek kehidupan kita dan tidak tidak terlepas relasi kita sebagai suami dan isteri. Namun kembali lagi kepada prinsip kebenaran firman Tuhan, ketika Setan memberikan penipuan kepada manusia sehingga manusia jatuh ke dalam dosa, pada waktu dunia sudah dicemari oleh dosa, di dalam Kej.6:6 ada satu catatan yang sangat menarik. Dikatakan di sana, “Tuhan menyesal…” kemudian Tuhan mendatangkan air bah untuk menghukum manusia yang sudah begitu jahat. Yang menarik adalah setelah itu Tuhan mengadakan perjanjian kepada Nuh bahwa Tuhan tidak akan memusnahkan bumi dengan mendatangkan air bah seperti ini lagi dan memberi pelangi sebagai tanda perjanjianNya. Di balik dari konsep itu ada satu hal yang sangat penting sekali yaitu gampang sekali sebenarnya bagi Tuhan untuk membuang dunia yang sudah dirusak oleh dosa dan membuat dunia yang baru. Di dalam hidup kita juga lebih gampang untuk membuang sesuatu yang sudah rusak dan membuat yang baru daripada susah-susah memperbaikinya, bukan? Kue yang sudah gosong lebih baik dibuang saja dan buat kue yang baru karena memperbaiki sesuatu yang sudah rusak bukanlah usaha yang gampang. Tetapi Tuhan tidak melakukan hal seperti itu. Karena pada waktu Tuhan membuang dunia ini dan menggantinya dengan yang baru, secara implisit berarti Tuhan “kalah” oleh Setan karena Setan berhasil merusak ciptaan Tuhan yang baik dan Tuhan tidak sanggup memperbaikinya kembali. Tuhan tetap mengasihi dunia ini dan memperbaikinya dari kerusakan dosa. Itulah arti penebusan. Penebusan berarti merestorasi kembali semua yang sudah dirusak oleh Setan. Dengan konsep seperti itu, penebusan juga harus masuk ke dalam kehidupan pernikahan kita. Mungkin ada orang yang menghadapi pernikahan yang sudah rusak berpikir, jalan keluarnya ialah memulai satu pernikahan yang baru lagi dengan wanita yang lain atau pria yang lain akan menciptakan kehidupan keluarga yang lebih baik. Tetapi data statisitik perceraian di Amerika memberitahukan kepada kita bahwa prosentasi perceraian kedua lebih besar. Berarti asumsi bahwa pernikahan tidak mungkin lagi bisa diperbaiki, maka mungkin saya bisa mendapatkan kebahagiaan dengan memulai sesuatu yang baru, ternyata tidak seperti itu. Ada air mata, ada kesulitan di dalam memperbaiki sesuatu yang sudah rusak. Tetapi itulah konsep penebusan. Saya katakan dengan jujur kepada sdr, tidak ada satupun pernikahan yang tidak mengalami problema. Adanya problema di dalam pernikahan memberitahukan kepada kita satu fakta bahwa dosa merembes masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan kita. Tetapi orang yang sudah ditebus oleh Tuhan harus mengambil sikap: kita tidak boleh dikalahkan oleh kuasa Setan dan kuasa dosa merusak kehidupan kita, karena kita percaya kuasa penebusan dan pengampunan Kristus lebih besar daripada itu. Jangan pernah menyerah. Dengan kekuatan dan pertolongan dari Tuhan kita bisa memperbaiki hubungan keluarga kita. Hari ini saya ingin mengajak sdr untuk melihat aspek bagaimana kita belajar mengenali dan mengatasi persoalan-persoalan yang muncul di dalam pernikahan kita.

Dalam 1 Pet.3:7 ada bagian yang indah sekali di sini. Petrus mengatakan, “Hai suami, hargailah isterimu…” Dan ada 3 kaitan yang tidak bisa lepas dari ayat ini, yaitu pertama, hargai isterimu. Kedua, dengan menghargai isteri engkau memelihara kehidupan. Ketiga, dengan demikian supaya doamu tidak terhalang. Tiga aspek ini saling terkait, yaitu bagaimana hubungan suami isteri berkaitan dengan kehidupan kita dan bagaimana kehidupan kita secara horisontal ini berkaitan dengan hubungan kita secara vertikal dengan Tuhan. Hubungan yang tidak beres di antara suami isteri akan mendatangkan hubungan yang tidak beres dengan Tuhan, demikian sebaliknya. Hubungan spiritual yang tidak beres dengan Tuhan pasti akan mendatangkan hubungan yang tidak beres dengan suami atau isteri. Maka pernikahan bukan sekedar kontrak di dalam masyarakat. Kita melihat melalui ayat ini sebagai suami isteri yang membina keluarga Kristen, mari kita bawa konsep pengertian hubungan suami isteri kita di bawah terang firman Tuhan. Biarlah kita ingin belajar bagaimana mengerti kebenaran firman Tuhan dengan sungguh-sungguh. Kita sadar kasih dan hormat juga sudah dirusak oleh dosa. Karena itu biarlah kita meminta kepada Tuhan pada hari ini untuk memberikan kekuatan kepada kita supaya kita memiliki konsep spiritual untuk mengatasi hal ini.

Dr. Les Parrott dan isterinya menulis paling tidak ada 5 hal yang bisa menjadi penghalang di dalam kehidupan pernikahan Kristen:

1. Unfulfilled expectation, harapan-harapan yang tidak terpenuhi. Secara jujur setiap orang terutama isteri waktu memasuki satu pernikahan biasanya memiliki ekspektasi ideal terhadap suaminya. Isteri ingin memperoleh suami yang ideal, yang gentleman, yang lembut dan melindungi. Itu sebab tidak heran film-film James Bond terus laku ditonton. Wanita mengidamkan suami seperti James Bond, yang humoris, yang macho, yang romantik, yang smart, yang selalu siap menolong setiap saat, dsb. Kalau kita sudah memiliki satu harapan yang ideal memasuki pernikahan, begitu menemukan realita yang tidak sesuai kita akan menjadi kecewa. Maka pernikahan menjadi satu tempat dimana kita terus meminta dia yang mengikuti apa yang kita mau.

Bagaimana menyelesaikan harapan-harapan yang tidak terpenuhi di dalam pernikahan? Banyak orang memasuki pernikahan dengan merindukan pasangan yang sempurna tetapi akhirnya kita menikah dengan orang yang tidak sempurna. Kita punya dua pilihan: pertama, kita sobek lukisan pria ideal itu dan terima pasangan kita yang tidak sempurna, atau kedua: kita sobek pasangan kita dan kita terus menatap lukisan pria ideal kita. Pilih yang mana? Yang harus kita pilih cuma satu: kita harus belajar untuk menyobek lukisan yang tidak sempurna itu dan belajar untuk menerima pasangan yang kita nikahi ini apa adanya. Kita menikah dengan orang yang tidak sempurna, suka marah, tajam bicaranya. Tetapi kita belajar untuk menyingkirkan semua hal yang tidak realistis di dalam pernikahan. Jangan berpikir cinta itu hanya punya satu style yaitu romantic love. Sdr akan belajar menemukan bahwa cinta itu akan mengalami perubahan bentuk.

Di dalam 1 Kor.7:39 Paulus mengatakan, ”…ia bebas menikah dengan siapa saja yang ia suka asal orang itu orang percaya…” Saya sangat kecewa kepada hamba-hamba Tuhan yang mengajarkan konsep yang sangat berbahaya bagaimana Tuhan memberitahu mereka siapa orang yang Tuhan tentukan untuk menikah denganmu. Saya percaya Tuhan berdaulat mengatur segala sesuatu. Saya juga percaya Tuhan menentukan siapa yang Dia berikan untuk menjadi isteri saya. Tetapi persoalannya, saya tahu siapa yang bakal menjadi pasangan saya. Maka saya selalu mengingatkan sdr baik-baik, mengerti kehendak Tuhan. Tuhan memiliki kehendak yang kekal mengatur jalannya alam semesta dan semua yang terjadi di dalam dunia ini, termasuk kehidupan pribadi kita masing-masing. Tuhan punya Sovereignty Will dan kehendak secara personal bagi saya.Tetapi persoalannya ialah saya tidak tahu bagaimana tahu kehendak Tuhan yang kekal itu. Jembatannya cuma satu: to know God’s personal will for me yaitu mengerti kehendakNya di dalam Moral Will. Yang dimaksud dengan Moral Will adalah kehendak Allah yang Ia nyatakan kepada kita yang kita dapatkan di dalam firman Tuhan ini.

Ada satu orang konseling kepada saya menceritakan bagaimana dia dihampiri seorang pria yang sama-sama melayani sebagai pemimpin pujian. Pria ini mengatakan, “Tuhan dengan jelas berbicara kepadaku bahwa di masa yang akan datang engkau akan menjadi isteriku. Mari kita doa sama-sama supaya Tuhan menyatakan nubuatNya itu kepadamu juga.” Sebenarnya wanita ini tidak mau kepada pria itu, tetapi karena dibilang Tuhan sudah menyatakan nubuat kepada dia, maka wanita ini terkondisi untuk menaati apa yang pria ini bilang. Akhirnya mereka menikah. Singkat cerita pernikahan itu berakhir dalam dua tahun.

Point saya, bagaimana sdr tahu itu adalah kehendak Tuhan kepadamu? Kembali kepada ayat ini, di dalam Moral Will-Nya Tuhan memberimu prinsip ini. Artinya kalau engkau taat kepada prinsip ini, maka percayalah suami atau isterimu itu adalah pasangan yang Tuhan kehendaki bagimu. Firman Tuhan mengatakan, engkau bebas untuk memilih. Prinsipnya: kalian berdua harus saling menyukai. Jangan menikah dengan orang yang tidak engkau cintai. Kedua: dia harus saudara seiman. Selanjutnya baru saya ingatkan, sdr boleh pilih siapa yang kau suka dan yang seiman, tetapi pilih dengan bijaksana. Bijaksana artinya ketika engkau memilih, ada kriteria-kriteria yang perlu engkau pertimbangkan. Semakin dekat proximity kemiripan sdr dalam berbagai aspek akan meminimalkan pengorbanan untuk menyesuaikan diri dibanding dengan memilih pasangan dengan perbedaan gap yang terlalu besar. Aspek karakter, derajat kerohanian, maturity, tingkat ekonomi, pendidikan dan sosial, dsb jika semakin besar gap akan membutuhkan kerelaan kita untuk berkorban. Waktu sdr memasuki pernikahan dan timbul persoalan, jangan lepas prinsip yang di depan: sdr menikah karena cinta kepada dia, karena saya sudah memilih dia. Aspek itu harus menjadi satu kekuatan bagimu untuk rela menghadapi persoalan dan memperbaiki pernikahan itu. Sdr katakan, cintamu sudah menjadi dingin. Mari kita hangatkan lagi cinta itu.

2. Unexamined Self, diri yang tidak menganalisa diri. Di dalam pernikahan ini menjadi kesulitan kita. Kita lebih gampang melihat kekurangan pasangan kita ketimbang kekurangan diri sendiri. Maka pernikahan membutuhkan kekuatan kita untuk berani melakukan self examination, berani melihat kekurangan diri. Pernikahan akan menjadi penuh dengan hambatan ketika kita berusaha untuk merubah pasangan kita dan tidak mau belajar merubah diri sendiri. Untuk menikmati satu pernikahan yang baik, masing-masing kita bersedia untuk mencoba mengoreksi diri. Paling tidak ada 2 aspek yang perlu kita analisa. Pertama, Blind Self. Diri kita bisa dilihat dengan jelas oleh orang lain, terutama oleh pasangan kita tetapi kita sendiri tidak melihatnya. Kelemahan itu jelas dilihat orang lain tetapi tertutup di depan mata kita. Isteri selalu mengatakan , “You never listen to me,” tapi kita membela diri mengatakan semua kalimat yang dia ucapkan sambil memegang koran di tangan kiri dan remote tv di tangan kanan. Kita tidak pernah sadar sebab kita tidak melihat itu sebagai kelemahan kita, sehingga pada waktu kritikan muncul kita tidak mau terima. Biar kritikan yang datang kepada kita bisa kita jadikan informasi untuk menciptakan hidup pernikahan yang lebih baik.

Kedua, ada aspek yang dinamakan Hidden Self, aspek yang hanya kita sendiri yang tahu sedangkan orang lain termasuk isteri atau suami tidak tahu. Kita tahu itu adalah kelemahan kita, cuma kita tidak berani bicara dengan jujur dan terbuka sebab kita takut ditolak oleh orang yang kita kasihi. Kita sungguh tahu itu ada di dalam diri kita tetapi kita tidak mau hal itu diketahui oleh isteri atau suami kita, karena pada waktu kita kasih tahu kelemahan itu kepada dia, mungkin kita takut dia tidak mencintai kita lagi. Tetapi seringkali banyak pernikahan hancur dan pasangan menjadi kaget kenapa hal itu bisa terjadi keluar dari the hidden self. Ini merupakan salah satu faktor penghambat di dalam pernikahan.

3. Unskilled Couples. Banyak pernikahan menghadapi halangan karena pemicunya sederhana, yaitu kita tidak memiliki skill yang cukup. Itu sebab kita perlu banyak belajar dalam hal ini. Menjadi seorang suami, kita perlu bertumbuh menjadi seorang suami yang baik. Menjadi seorang isteri, kita perlu belajar menjadi seorang isteri yang baik. Kita perlu punya skill dalam beberapa hal ini:

  • Managemen uang.
  • Ketidakharmonisan di dalam aspek seksual.
  • Hubungan dengan mertua.
  • Ketidakseimbangan di dalam rumah tangga dan pekerjaan.

Cara menyelesaikan konflik, komunikasi, kemarahan yang terpendam dan tidak pernah didiskusikan.

Ini semua merupakan isu-isu pemicu di dalam hidup kita yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan belajar menambah skill dan pengetahuan mengatasinya. Kita perlu mengerti bagaimana berkomunikasi dengan baik. Kita perlu belajar mengatur dan me-manage uang kita. Itu semua hanya soal skill saja.

4. Unhealthy Choices. Banyak pasangan memiliki hambatan di dalam pernikahannya karena mereka kadang mengambil pilihan-pilihan yang tidak sehat. Salah memilih prioritas hidup, keputusan-keputusan hidup, dsb bisa menyebabkan keributan dan penyesalan dan saling mempersalahkan antar suami isteri. Menceritakan rahasia pernikahan kepada orang ketiga, pekerjaan yang menyita waktu keluarga, pergaulan yang imoral dengan teman kantor, dsb. Kadang suami tidak membicarakan keputusan yang dia ambil karena merasa itu tidak signifikan untuk didiskusikan dengan isteri. Demikian juga isteri kadang mengambil keputusan sendiri dan ternyata menghasilkan efek yang negatif sehingga suami menjadi marah dan kecewa.

5. Unpredictable Factors. Kita harus akui ada faktor-faktor yang tidak bisa kita predict dan tidak bisa kita rencanakan terjadi di dalam hidup kita. Kecelakaan, sakit, dsb semua hal-hal yang unexpected terjadi bisa membuat hubungan suami isteri menjadi renggang dan rusak. Bayangkan, isteri hari Sabtu pagi bilang kepada suaminya untuk bangun membawa anaknya jalan pagi. Suaminya enggan bangun, sehingga akhirnya anak itu dibawa jalan-jalan oleh nanny, dan hilang diculik. Sdr bisa bayangkan betapa sakitnya hati orang tua, betapa pilunya hati memikirkan hal-hal apa yang akan terjadi pada anak itu. Tetapi selain itu, isteri akan mengatakan kepada suaminya, “Aku tidak akan pernah memaafkanmu seumur hidupku. Gara-gara engkau mau tidur lebih lama, akhirnya…” Itulah yang terjadi. Suami dipersalahkan. Suami kemudian juga bereaksi mempersalahkan isterinya, akhirnya ribut satu sama lain. Mungkin soal ketidak-suburan bisa menjadi penyebab. Salah satu pasangan begitu menginginkan kehadiran anak yang tidak kunjung tiba. Itu mungkin bisa menyebabkan hubungan suami isteri bisa menjadi renggang dan rusak. Anak memberontak, itu bisa menjadi penyebab kerenggangan di dalam hubungan suami isteri. Bahkan mungkin hal yang sangat menyedihkan terjadi, suami menyeleweng dan menjadi tidak setia di dalam pernikahan.

Lima hal ini bisa menjadi penyebab kerenggangan di dalam hubungan suami dan isteri. Berbagai masalah yang bisa muncul di dalam pernikahan sdr, jawabannya di tengah persoalan yang bersifat horisontal ini kita harus melihat secara teologis. Pertama, terlebih dahulu kita taruh fakta ini, setiap pernikahan memiliki persoalan. Persoalan itu ditimbulkan bukan karena suami atau isteri ingin menciptakan persoalan, tetapi kita sadar dan tahu betapa efek dosa memberi kerusakan itu. Sebagai anak-anak Tuhan, kita ingin menang mengatasi hal itu dan ingin berusaha bagaimana memulihkan hidup pernikahan itu. Ada air mata, ada kesulitan, tetapi sekali sdr akan menemukan betapa manisnya, betapa indahnya dan betapa bahagianya orang yang mendapatkan kebahagiaan itu lewat sesuatu perjuangan. Sdr akan melihat betapa indah dan manisnya keberhasilan dan kesuksesan yang bukan hanya diberi saja tetapi didapat lewat suatu perjuangan. Betapa indahnya saya mendengar kesaksian seorang suami yang menyatakan kesaksian bagaimana dulu dia sering ribut dengan isterinya tetapi sekarang mereka bisa menikmati hubungan yang begitu akrab dan manis. Memulihkan hubungan pernikahan membutuhkan satu kekuatan konsep yang tidak boleh lepas yaitu tidak ada hal yang bisa terjadi secara instant dan segera. Di dalam seluruh kehidupan kita, baik kerja, usaha,saya selalu mengingatkan sdr: failure is not falling down but staying down. Kegagalan berarti orang yang sudah jatuh tetap mau tinggal dan tidak mau bangun lagi. Hidup pernikahan kita juga sama. Tidak mungkin kita bisa melakukan dan memikirkan suatu pernikahan dengan cepat dan sukses tanpa kita berusaha menginginkan pernikahan itu sukses. Kita perlu kebesaran hati, kemauan, bekerja sama menjadikan hidup keluarga kita menjadi sukses.

Kedua, belajar dengan sungguh-sungguh menyelesaikan hambatan yang menjadikan pernikahan itu mungkin bisa tidak bahagia. Hidup pernikahan itu tidak mungkin bisa berjalan dengan baik sebelum engkau mengambil responsibility terhadap pernikahanmu. Jangan pikir konselor dan pendeta adalah juruselamat pernikahan kalian. Yang menyelamatkan pernikahanmu bukan saya, tetapi kalian berdua. Kalau dua-dua sendiri sudah tidak mau berusaha menyelamatkan, mau minta tolong siapapun tidak ada yang bisa. Maka pegang prinsip ini: belajar untuk take responsibility for your marriage. Sebagai suami, sebagai isteri, apa tanggung jawab saya? Apa yang menjadi panggilan Tuhan kepada saya di dalam pernikahanku? Saya mengingatkan sekali lagi, kenali dari awal apa yang menjadi penghalang. Ambil sikap demikian: ini pernikahan kami, ini keluarga kami, ini suami saya, ini isteri saya, ini orang yang saya cintai. Kalau bukan saya yang berjuang dan berusaha menjadikan pernikahan ini menjadi indah dan baik, siapa lagi yang bisa dan mau? Kalau sdr merasa hubungan pernikahanmu mengalami fase musim dingin, tidak ada pembicaraan selain pertengkaran dan perdebatan, sdr mungkin memasuki hubungan dimana lebih baik berdiam diri ketimbang cekcok, saya hanya mengatakan semua berpulang kepada kalian berdua. This is YOUR mariage. Kalian bertanggung jawab dan tidak boleh mengatakan diri menjadi korban karena masing-masing adalah part of problem and part of solution.

Pdt. Effendi Susanto STh.

23 November

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: