Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (5): Strengthening Your Marriage

Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (5): Strengthening Your Marriage

Nats: 1 Pet. 3:7

Petrus mengingatkan hubungan pernikahan yang tidak sehat bisa menjadi penghalang di dalam relasi dengan Tuhan. Ada hambatan, ada hal yang bisa mencegah sesuatu keindahan di dalam kehidupan keluarga kita. Strengthen your marriage, kuatkan kehidupan rumah tangga sdr. Begitu banyak buku-buku yang saya baca dimana ayat ini, 1 Pet.3:7 merupakan ayat yang luar biasa dibahas. Ayat yang begitu pendek dan singkat tetapi memiliki makna yang luar biasa. Seluruh problema, seluruh halangan sudah dibicarakan di dalam ayat ini, “Hai suami-suami, hargailah isterimu sebagai kaum yang lebih lemah dan sebagai teman pewaris kasih karunia, supaya doamu jangan terhalang.”

Dr. Leslie Parrott mengatakan secara umum ada 5 penghambat yang mungkin mendatangkan ketidak-indahan dan ketidak-harmonisan di dalam kehidupan rumah tangga.

1. Unfulfilled Expectation, pengharapan kita, idealisme kita, apa yang kita pikir bahwa pernikahan bisa mendatangkan kebaikan bagi kita, satu cara berpikir yang keliru luar biasa. Yang benar ialah bagaimana SAYA melakukan sesuatu supaya pernikahan itu menjadi indah dan bahagia.

2. Unexamined Self, diri yang tidak mau mengalami perbaikan dan sebaliknya kita selalu menuntut orang lain yang berubah. Kita terlalu gampang melihat kelemahan pasangan kita ketimbang kelemahan kita. Sehingga pada waktu pasangan kita mencoba memberikan kritik yang membangun supaya kita berubah, kita menganggap itu sebagai hal yang meng-offended hidup kita.

3. Unskilled Couples, pasangan yang tidak punya skill di dalam memasuki pernikahan.

4. Unhealthy Choices, keputusan-keputusan hidup yang keliru dan salah, yang menyebabkan pernikahan mengalami hambatan. Cara kita memilih pekerjaan, cara kita memilih tempat tinggal, cara kita mengatur prioritas hidup, keputusan-keputusan yang keliru di dalam rumah tangga, semuanya memberikan efek itu.

5. Unpredictable Factors, hal-hal yang tidak terduga terjadi, bisa berupa sakit, infidelity, ada hal-hal yang tidak bisa kita cegah di situ.

Kalau kita kategorikan secara garis besar, maka apa problema yang terbesar di dalam hidup rumah tangga? Begitu kita menanyakan pertanyaan ini, kebanyakan orang akan memberi jawaban: persoalan komunikasi dan kurangnya understanding di dalam kehidupan rumah tangga. Miscommunication bukan saja kurang komunikasi tetapi meleset komunikasinya dan understanding-nya. Kita tidak memahami apa itu pernikahan dengan benar, kita tidak memahami pasangan kita dengan benar, itu yang menjadi penghalang dan penghambat di dalam pernikahan. Dalam kelas pranikah ada satu pertanyaan dilontarkan, bagaimana kalau hanya satu pihak saja yang berusaha sedangkan pasangan kita tidak mau berusaha? Saya mengatakan, dalam satu pernikahan tidak bisa tidak sdr berdua harus menjadi dua orang yang mendayung sama-sama. We are part of the problem but we are part of the solution as well. Pada waktu kita mengatakan ada hal-hal yang salah dan tidak baik dari pasangan kita, tetap kita harus melihat tidak ada yang terlepas dari diri dia yang tidak terkait dengan diri saya. Yang saya ingin tekankan di dalam 4 khotbah yang lalu pada waktu kita bicara mengenai blue print dan prinsip Tuhan bicara mengenai pernikahan, itu tidak boleh kita langgar. Kita dipanggil oleh Tuhan sebagai suami yang mencintai isteri saya unconditionally, sama seperti saya mencintai diri saya sendiri. Dan kepada para isteri Tuhan perintahkan untuk menghormati suami sama seperti engkau menghormati Tuhan. Tinggal bagaimana kasih dan bagaimana hormat itu dijalankan, itu bicara mengenai skill, itu bicara mengenai understanding, itu bicara mengenai komunikasi. Tetapi yang saya mau adalah kita sungguh-sungguh ingin menjalankan blue print itu terlebih dahulu. Kalau itu tidak ada, maka tidak ada orang yang bisa menyelamatkan hubungan kita selain kita sendiri. Kalau kita merasa tidak ada lagi harapan, kalau kita merasa itu tidak mungkin lagi diperbaiki, kalau kita menganggap pasangan kita susah sekali berubah, sulit untuk meperbaiki relasi itu. Semua prasangka negatif harus hilang sebelum kita berusaha memulai satu relasi yang baik. Yang ada ialah motivasi untuk memulainya. Bagaimana kita membangun motivasi itu? Bagaimana kita memiliki hati yang positif di dalam relasi kita? Tidak ada jawaban yang lain selain kita kembali kepada apa yang Tuhan mau di dalam hidup kita. Bagaimana Tuhan mau mengenai relasi di dalam pernikahan sdr, bagaimana Tuhan mau engkau sebagai suami, bagaimana Tuhan mau engkau sebagai isteri. Maka masing-masing, semua kita, di dalam relasi sebagai suami isteri harus put effort untuk menjadikan pernikahan dan rumah tanggamu menjadi baik dan indah di hadapan Tuhan.

Apakah perlu ada sekolah khusus untuk para suami dan para isteri?

Waktu jaman Orde Baru pernah dikatakan sebagai negara demokrasi, Indonesia membuka kesempatan bagi siapa saja untuk menjadi presiden, asal dia sudah berpengalaman menjadi presiden. Sekarang saya ingin tanya, siapa di antara sdr yang hendak memasuki pernikahan harus berpengalaman menjadi suami? Tidak ada, bukan? Bukankah itu pengalaman the first time bagi kita? Menjadi ayahpun demikian, bukan? Kalau begitu, apakah perlu ada sekolah untuk para suami dan ayah? Memang ada orang mengatakan, sebelum saya punya anak saya sudah membaca buku “7 Cara Membesarkan Anak.” Sekarang anak saya sudah 7, tidak ada satupun cara dari buku itu yang terpakai. Sebelum menikah, sdr sudah membaca 7 buku mempersiapkan pernikahan, sesudah menikah baru tahu semua prinsip yang diajarkan buku itu tidak ada yang terpakai. Tidak ada yang punya pengalaman menjadi suami sebelum dia memasuki pernikahan. Tidak ada yang punya pengalaman menjadi isteri. Yang ada di dalam buku-buku konseling yang saya baca para ahli hanya mengatakan ada kerinduan, ada motivasi, ada keinginan untuk melihat pernikahan itu dengan kacamata positif terlebih dahulu. Lalu pelan-pelan baru kita belajar bagaimana memiliki understanding, skill, pengetahuan yang lebih maju dan lebih bertumbuh bagaimana menjadi seorang suami yang baik dan bagaimana menjadi seorang isteri yang baik, yang memerlukan proses pendidikan dan skill.

Tidak ada yang lulus dari “sekolah pernikahan” walaupun sudah berpuluh tahun menikah, bukan? Tidak ada yang bisa mengatakan dia sudah lulus dan sudah selesai sehingga tidak perlu belajar lagi. Kita perlu terus berada dan terus mengalami proses yang tidak ada hentinya di dalam relasi dan interaksi kita . Itu sebab keep, kuatkan, mau sungguh-sungguh membuat pernikahanmu lebih indah dari tahun ke tahun. Dan kedua, ada keinginan untuk belajar bagaimana menjadi seorang suami dan seorang isteri yang baik. Walaupun ada salah, ada kemungkinan meleset, kita tetap mau belajar untuk lebih baik. Itu sebab unskilled dan unexamined self itu bicara mengenai hal-hal yang bisa diperbaiki, terutama dalam hal miscommunication dan kurangnya understanding.

Di dalam miscommunication dan misunderstanding antara suami dan isteri, begitu ditanya kepada isteri maka kalimat yang sering mereka keluhkan umumnya seperti ini, ”…Saya sudah putus asa ngomong sama dia. Percuma ngomong sama suami saya, sebab kalau ngomongpun dia tidak mengerti, ngomongpun dia tidak berubah. Jadi tidak ada gunanya.” Yang keluar dari mulut suami adalah, ”…Saya berusaha mengerti isteri tetapi tetap tidak bisa mengerti dia ngomong apa. Jadi lebih baik perang dingin saja. Gencatan senjata…” Baru saja suami bicara dua tiga kalimat, sudah dibalas oleh isteri dua tiga paragraf. Begitu dibalas oleh suami, marahlah isterinya.

Bagaimana membangun komunikasi dan understanding yang baik? Ada banyak aspek di dalamnya. Gary Chapman sdr tentu tahu bukunya yang terkenal “Five Love Languages” memberikan input dan masukan bagaimana suami dan isteri berbicara dalam bahasa cinta yang dimengerti pasangannya. Satu lagi yaitu Gregory Popcak mengatakan miscommunication dan misunderstanding adalah faktor utama di dalam problema suami isteri. Persoalannya sebab masing-masing menggunakan bahasa yang berbeda di dalam berkomunikasi. Suami cinta isteri dan menyatakan cinta kepadanya tetapi bisa jadi tidak ditangkap dengan tepat karena bahasa cintanya yang saling berbeda. Itu sebab Chapman memberi skill bagaimana bisa mengenal bahasa cinta pasangan kita. Suami pikir dia menyatakan cintanya dengan setiap pagi membuat nasi goreng. Isteri begitu keluar dari kamar, komentarnya sederhana, “Nasi goreng lagi…” Akhirnya suami kesal dengan reaksi isteri. Atau, suatu sore waktu suami pulang, isteri goyang-goyang di depan suaminya sambil bertanya, “Lihat sesuatu yang baru?” Itu pertanyaan yang sangat tricky dan menjebak sekali buat suami, bukan? Begitu salah tebak, dia langsung marah. “Benar, kan? You tidak pernah care sama saya…”

Dua orang menikah dari dunia yang berbeda dan bahasa yang berbeda, bagaimana bisa menciptakan komunikasi yang benar dan tidak menimbulkan misunderstanding? Chapman mengatakan ada 5 bahasa cinta yang berbeda. Misalnya, word of affirmation. Ada orang yang merasa dicintai kalau dia menerima kalimat-kalimat yang encouraging. Itu sebab ada suami yang mendambakan kalimat-kalimat yang baik dari isterinya, “I love you,” “Engkau sangat berarti bagiku,” dsb. Tetapi kalau bahasa cintanya bukan itu, mungkin bahasa cintanya adalah act of service. Tidak perlu ngomong banyak, yang penting lakukan sesuatu. Bahayanya adalah kalau kita terlalu sering menggunakan bahasa cinta kita lalu mengabaikan bahasa cinta yang lain, mungkin akan terjadi ketegangan dan pertengkaran. Bahasa cinta suami adalah act of service lalu dia pikir dengan melakukan hal itu kepada isteri, itu pernyataan suami mengasihi dia, padahal isteri mungkin punya bahasa cinta yang berbeda. Popcak melihat orang menggunakan inderanya secara khas. Ada orang yang visual, ada orang yang auditory, ada orang yang kinesthetic. Umumnya pria lebih visual daripada wanita, tetapi ada pria yang tidak visual. Kalau sdr termasuk orang yang tidak visual sedangkan isteri sangat visual, bisa terjadi konflik. Misalnya isteri visual sangat memperhatikan penampilannya sedangkan suami tidak pernah memperhatikan penampilan dia. Ketimbang marah dan kecewa, sebaiknya isteri memberitahu suami apa yang dia ingin suami perhatikan dari dia. Suami yang visual mempunyai isteri yang tidak visual akan kecewa pulang ke rumah melihat rumahnya begitu berantakan, sebab sdr menjadikan rumah yang rapih sebagai bukti cinta. Pointnya cuma satu yaitu bukan karena tidak saling cinta tetapi karena kita memiliki bahasa yang berbeda yang membuat terjadinya miscommunication. Caranya adalah belajar mengerti dan melihat pasangan, belajar menambah skill kita. Ada banyak buku bicara bagaimana mengerti pikiran pria dan pikiran wanita. Isteri ingin suami mengasihi dia seperti bagaimana dia mengasihi suaminya, sehingga kadang meleset.

Beberapa hal yang perlu suami belajar mengenai isterinya. Kalau wanita mau membeli barang, dia tidak akan bilang dia mau barang itu. Sdr yang harus sensitif dan memahami bahwa dia menginginkan barang itu. Misalnya, waktu suami isteri jalan melewati toko kue, lalu isteri melihat cheese cake lalu bertanya, “Kelihatannya enak, papa mau, tidak?” Pria yang tidak sensitif begitu ditanya hanya menoleh dan menjawab, “Tidak mau.” Isteri akan mengomel, “Kue cheese aja tidak mau beli, pelitnya minta ampun!” Baru kita sadar, ternyata dia mau kue itu. “Oh, mama mau ya? Ayo kita balik, beli kue itu.” Sudah terlambat.

Bagaimana kita sebagai pria punya fokus dan feeling yang berbeda. Kita kalau lapar, tinggal beli apa yang kita mau. Very simple. Itu yang kita lakukan kepada isteri kita. Apa susahnya sih? Mau beli ya beli saja. Tinggal yang perlu dipikir: mahal atau tidak, harga terjangkau atau tidak, perlu atau tidak. Itu pikiran pria. Cara seperti itu kita pakai untuk wanita, tidak akan ketemu karena cara mereka berbeda. Yang perlu belajar memahami wanita memang seperti itu. Sdr tidak pernah pikir, kenapa dia tanya suami dulu mau atau tidak, karena itu tandanya dia memang caring meskipun dia sendiri mau kue itu. Begitu kita dituduh pelit, langsung kita ambil dompet lalu bilang, “Ayo, mau beli satu lusin juga boleh…” Isteri bilang, “No, I lose my appetite. Saya tidak mau makan apa-apa lagi. Nanti malam saya juga tidak mau makan dan tidak mau masak.” Perdebatan selesai.

Alkitab mengajar kita satu prinsip menarik, hai suami, hargailah isterimu. Karena wanita berpikir dia selalu memikirkan suami dan anak lebih dulu, baru kemudian pikir diri sendiri, maka tidak ada hal lain yang isteri minta dari suaminya selain dia belajar sensitif dan menghargainya. Isteri sudah bekerja setengah mati dan susah payah merawat keluarga, dia hanya minta sedikit penghargaan dari suaminya. Sebagai kaum yang lebih lemah dia membutuhkan proteksi dan penghargaan dari suaminya. Kalau sdr bisa menghargai isteri, percayalah kepada saya, sdr akan safe banyak hal dalam hidupmu. Sebagai suami kita sering bingung akan cara berpikir isteri, tetapi memang sudah begitu naturnya. Menjadi suami, sdr harus siap-siap menjadi tukang ramal yang bisa menebak apa yang ada di belakang pikiran isterimu. Kenapa isteri tidak pernah bilang, “Beliin saya dong…”? Karena tidak ada di dalam kamus wanita yang meminta seperti itu. Pemberian itu adalah tanda cinta, bukan? Mana ada cinta perlu minta-minta? Apakah ada isteri, yang begitu suaminya pulang lalu minta, “Pa, peluk saya dong.” Yang wanita mau adalah seberapa besar sensitifitas suaminya menyatakan cinta kepada dia, menghargai dia. Memang tidak gampang dan kadang salah tebak, tetapi lama-lama kita akan bisa menangkap apa yang dia inginkan dan apa yang ada di dalam pikirannya.

Yang kedua, bagaimana memiliki understanding supaya komunikasi bisa berjalan lebih baik? Sdr dan saya harus mengerti bahwa secara naturnya wanita memang memiliki struktur otak dan pikiran yang berbeda dengan pria terutama di dalam mengungkapkan permasalahan. Pria menyelesaikan masalah itu satu demi satu. Wanita punya otak itu seperti windows yang kena virus, terbuka semua. Mau coba mengajak isteri menikmati satu dinner yang romantis, baru saja duduk, isteri langsung berkata, “Dua anak kita ditaruh di rumah sama baby sitter safe atau tidak yah? Kompor tadi sudah dimatikan atau belum yah?” Suami bilang, “Jangan pikir begitu, ayo kita makan saja.” Isteri sudah tidak bisa lagi menikmati makanannya. Waktu suami mau peluk dan cium isterinya, isteri bilang, “Malu ah, dilihat orang.” Buat laki-laki begitu sudah berdua dengan isteri, bom jatuhpun tidak masalah. Karena otak pria cuma pikir satu hal dalam satu waktu, maka sulit memahami pikiran wanita yang begitu kompleks. Buat isteri, seks dan intimasi dengan suami ada di list paling bawah sedangkan suami sebaliknya, pulang kantor yang paling prioritas buat dia adalah intimasi dengan isteri, mandi belakangan. Sudah berusaha untuk strengthen our marriage, akhirnya dirusak dengan kecemasan soal kompor bocor, anak sudah makan atau tidak, tahu-tahu bisa teringat dosamu 10 tahun yang lalu, akhirnya suasana jadi rusak. Wanita tidak punya daya untuk menutup apa yang muncul dari otaknya. Sebentar dia pikir ini, sebentar dia pikir itu. Itu sebab wanita selalu merasa ada salah dari pria di dalam memahami danmengerti dirinya. Maka sering terjadi pertengkaran ketika wanita merasa pria tidak mengerti apa yang dia katakan atau tidak mau berubah. Kalau sudah begitu, kita akan mengalami kesulitan bagaimana meng-improve satu komunikasi. Kita perlu belajar apa yang salah, apa yang kita perlu mengerti dari cara wanita berkomunikasi. Pria di dalam komunikasi selalu bersifat solution oriented, sedangkan wanita selalu bersifat feeling and intimacy connected. Jadi pria baru bicara kalau dia mau menyelesaikan satu masalah. Wanita berbicara untuk supaya get connected. Istri bilang, “Pa, anak kita kok nakal sekali di sekolah…” Suami bilang, “Oh, nanti kita beresin dengan gurunya. Kalau perlu anak kita pindah sekolah saja.” Isteri jadi jengkel dan bilang, “Kamu tidak pernah dengar apa yang saya omong.” Suami rasa di-offended karena dia merasa mendengar semua yang dibicarakan isterinya.

Kita sering menjadi frustrasi karena kita pikir isteri mengerti apa yang kita maksud dan celakanya dia pikir dia mengerti apa yang kita maksud, ternyata tidak ketemu. Bukan persoalan dengar atau tidak dengar melainkan salah mengerti.

Petrus mengatakan, hargai isterimu, dia adalah kaum yang lebih lemah dan dia adalah temanmu. Itu adalah hal yang diperlukan oleh isterimu, suami yang melindungi dan menjadi menjadi teman baginya. Yang wanita butuhkan dari suaminya adalah telinga yang mendengar dan bahu yang sedia untuk disandari, bukan mulut yang memeri solusi. Mendengar buat wanita adalah jangan coba-coba fixed. Dan yang perlu kita dengan bukan hanya kata-kata dia tetapi feelingnya. Waktu dia melontarkan, “Kok si kecil begini…” Yang dia lontarkan itu cuma problem, tetapi yang menjadi feelingnya adalah dia sedang kuatir. Kuatir itu bisa disebabkan oleh banyak aspek. Misalnya, mungkin dia guilty karena kurang memberi perhatian kepada anak itu. Atau dia guilty karena merasa terlalu memanjakan anak itu. Dia takut dan gelisah apakah sikapnya benar atau tidak. Jadi yang perlu diselesaikan adalah perasaan guiltynya, bukan pindah sekolahnya. Jadi sebagai suami waktu mendengar perkataan isterinya, dia harus belajar menangkap kekuatirannya. Lalu setelah menangkap kekuatiran isterinya, ada dua hal yang mungkin bisa suami lakukan. Pertama, you tidak perlu bilang apa-apa, karena yang dia perlukan adalah listening. Atau yang kedua, you beri dia assurance, bukan solusi. Bagaimana menenangkan kekuatirannya, bagaimana you selalu ada ketika masalah itu muncul. Sehingga sebagai suami, engkau membantu dia seperti itu. Hari ini kita bisa mengenai komunikasi dan understanding, kita masing-masing bagaimana belajar dan terus belajar makin indah dan makin bertumbuh di dalamnya.

Pdt. Effendi Susanto STh.

30 November

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: