Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (6): Intimasi, Gairah dan Komitmen dalam Pernikahan

Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (6): Intimasi, Gairah dan Komitmen dalam Pernikahan

Nats: Ams. 12:4, Kid. 7:6 – 8:7, 1 Tim.4:3

Isteri yang cakap adalah mahkota suaminya. Tetapi yang membuat malu adalah seperti penyakit yang membusukkan tulang suaminya” (Ams.12:4). “Air yang banyak tidak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tidak dapat menghanyutkannya…” (Kidung Agung 8:7) Dalam PB Paulus memperingatkan anak-anak Tuhan akan ajaran yang tidak benar yang diberikan oleh guru-guru palsu, ”…Mereka itu melarang orang kawin, melarang orang memakan makanan yang diciptakan Allah…” (1 Tim.4:3). Konteks dari ayat ini adalah Paulus mengingatkan bahwa mereka adalah penyesat-penyesat yang mengajarkan ajaran yang “super spiritual”, bagaimana menjadi lebih rohani daripada orang yang lain, yaitu melarang orang menikah dan melakukan aktivitas seksual karena dianggap sebagai hal-hal yang duniawi dan tidak suci. Paulus mengatakan itu adalah ajaran yang keliru. Sebagaimana makanan, terima itu dengan syukur, terima itu sebagai berkat Tuhan, demikianlah halnya dengan pernikahan dan seksualitas adalah berkat Tuhan bagi orang percaya.

Minggu lalu saya sudah bicara mengenai beberapa hal penting berkaitan dengan miscommunication dan misunderstanding di dalam pernikahan. Perbedaan kita sebagai laki-laki dan perempuan, dua gender yang sama sekali berbeda tetapi diikat di dalam satu pernikahan, di situ kita harus belajar bagaimana mengerti perbedaannya. Yang kedua, hari ini kita belajar aspek mengenai cinta yang begitu berbeda dimengerti antara pria dan wanita. Laki-laki dan perempuan umumnya memandang konsep cinta dan seks dari sisi yang berbeda sehingga kadang-kadang mengalami miscommunication dan misunderstanding sehingga kita perlu belajar mengetahuinya, sehingga melalui itu kita mempertumbuhkan kehidupan pernikahan dan hubungan suami isteri kita menjadi lebih baik.

Apa itu cinta? Cinta adalah hal yang sangat luar biasa. Para sastrawan dan penulis di sepanjang sejarah menulis mengenai cinta dengan begitu luas dan dalam. Manusia sangat ingin mengerti apa itu cinta. Firman Tuhan di dalam Kidung Agung ini mengatakan, “Love is beautiful but do not exploit it before its desires,” cinta itu indah sekali tetapi jangan eksploit cinta sebelum waktunya. Cinta itu indah, seksualitas itu indah. Cinta itu merupakan drive pendorong yang sangat besar di dalam hidup manusia, terutama di dalam hidup satu pernikahan dan seksual intimasi di dalam satu relationship. Kalau hal itu tidak ada, maka kita tidak lagi menemukan drive yang indah itu di dalam hidup kita. Cinta itu kuat seperti api yang tidak bisa dipadamkan. Air sungai dan lautan yang berapa besarpun tidak sanggup untuk memadamkan api itu (Kid.8:7). Sdr bisa melihat gairah yang luar biasa digambarkan di sini, bukan? Kidung Agung menggambarkan pujian di antara pengantin pria dan wanita saling bersahutan. Pujian mempelai pria terhadap keindahan tubuh isterinya. Demikian pula pujian dari mempelai wanita terhadap kedekatan dan keintiman suaminya memeluk dan merangkul dia. Kidung Agung menggambarkan hubungan seksual dan intimasi itu begitu terbuka adanya. Dari jaman dulu Gereja selalu merasa “terganggu” dan mereka mencoba meng-euphemism, menghaluskan makna dari Kidung Agung sebagai ungkapan cinta Yesus terhadap Gereja. Tetapi usaha ini tidak bisa menjawab satu hal yang sangat penting dari kitab ini, yaitu kalau memang Kidung Agung mau bicara mengenai cinta Tuhan kepada umatNya, kenapa memakai bahasa yang “straight to the point”? Buat saya, malah lebih terganggu lagi kalau ini memang bicara mengenai cinta Tuhan Yesus terhadap Gereja tetapi memakai kalimat-kalimat yang sangat “vulgar”, bukan? Mulai dati mata yang seperti merpati, rambut yang seperti kawanan kambing, gigi yang putih dan rapih, terus menuju ke leher, ke dada, dst. Kenapa Tuhan menaruh kitab ini di dalam Alkitab kita? Ini memberitahukan kepada kita we have to learn something about love, what is the true love and what is the true sexual intimacy karena itu merupakan bagian yang Tuhan beri kepada kita di dalam kehidupan pernikahan kita. Apa itu cinta? Orang di jaman Modern melihat cinta itu menjadi berharga kalau cinta itu mendatangkan manfaat dan keuntungan bagi dia. Maka cinta dilihat sebagai self-benefit. Berbeda dengan prinsip Alkitab yang mengajarkan cinta sebagai self-sacrifice. Kita mencintai, berarti kita sedang memikirkan bagaimana bisa memenuhi kebutuhan pasangan kita, bagaimana kita bisa menjadi seseorang yang memenuhi keinginan suami atau isteri yang kita kasihi itu. Dari situ maka terjadi efek balik, kita pun akan mengalami kepenuhan cinta dari pasangan kita yang ingin memenuhi keinginan kita. Cinta itu bukan hal yang egois, cinta itu bukan berpusat kepada apa yang menguntungkan kita secara pribadi. Keuntungan dan keindahan itu akan datang melalui diri kita yang terlebih dahulu mengasihi dan berkorban.

Seringkali orang salah mengerti memandang cinta sebagai suatu sensasi romantik yang bersifat elektrik antara lawan jenis. Orang yang sudah mengenai pasangannya bertahun-tahun mungkin tidak lagi mencintai dia seperti waktu mengenalnya di tahun-tahun pertama. Dulu duduk besama membuat hati begitu bergetar. Sekarang duduk sama-sama tidak ada lagi perasaan seperti itu, sehingga banyak orang yang sudah lama menikah akhirnya mengatakan hubungan antara mereka sudah mendingin, tidak ada lagi gairah, sudah tidak lagi memiliki kedekatan, dsb. Lalu kesimpulannya cinta di antara mereka sudah pudar dan tidak manis lagi. Lalu bagaimana?

Konsep cinta yang benar saya gambarkan seperti segitiga yang memiliki tiga sisi. Bagi sdr yang belum menikah, saya ingatkan kepadamu, cinta bukan sekedar sensasi romantik yang siang malam bermimpi mengenai si dia terus. Someday you tidur sama-sama sebagai suami isteri, mimpimu akan berbeda. Cinta punya tiga sisi yang harus ada pada dua belah pihak. Sisi yang pertama adalah passion. Itu yang kita mengerti sebagai romantic love. Orang seringkali hanya melihat cinta dari sisi ini. Ada passion, ada desire, ada keinginan dan ketertarikan kepada dia. Suatu kombinasi antara ketertarikan secara fisik dan rasa sayang. Bagaimana dengan pasangan yang sudah puluhan tahun menikah? Apakah cinta romantis ini masih relevan bagi mereka? Buat saya, tidak ada cinta romantik ini tidak berarti mereka sudah tidak saling cinta lagi karena ada sisi dan aspek lain di dalam cinta. Sampai kita tua nanti mungkin cinta romantik ini tidak lagi menjadi kaki yang penting walaupun bisa jadi tetap ada. Tetapi di situ cinta romantik kita sudah berubah bentuk menjadi suatu companionship. Dia menjadi “my soul-mate”. Sisi yang kedua adalah intimacy. Cinta membuatmu berdua makin dekat, closer and closer. Sehingga walaupun sudah berumur 80-90 tahun, mungkin perasaan intimasi mereka sudah lebih dekat daripada pasangan yang baru menikah, meskipun romantic love-nya tidak menggelora seperti pasangan yang baru menikah. Sisi yang ketiga adalah commitment. Cinta juga berkaitan dengan aspek komitmen ini. Orang yang baru jatuh cinta, mungkin menggebu-gebu ingin selalu ketemu, begitu berkembang desire dan intimacy-nya tetapi tidak ada komitmennya, bahaya. Maka saya mengingatkan anak-anak muda untuk berhati-hati. Love mempunyai desire yang dahsyat luar biasa, seperti api yang bergelora, tetapi salah bermain-main bisa terbakar. Tetapi di pihak lain ada satu pria yang hanya melihat sisi komitmen ini saja. Dia pernah konseling kepada saya mengatakan dia hendak menikah dengan seorang wanita yang sudah 10 tahun menjadi pacarnya. Tetapi menurut pengakuannya dia tidak punya cinta seperti seorang laki-laki kepada perempuan, melainkan dia sayang kepada wanita ini seperti seorang kakak kepada adik. Dia hendak menikahi wanita ini hanya karena dia merasa berkewajiban untuk melakukan hal itu.

Kalau sdr baru berumur 18 tahun, saya tidak bisa melarang dan mencegah hatimu tertarik kepada seseorang. Tetapi saya tanya, kapan you kira-kira berencana akan menikah? Kalau rencanamu umur 26 tahun, berarti sdr pacaran dengan dia ada sekitar 8 tahun, bukan? Berarti you have to make your love punya long lasting commitment at least 8 tahun sebelum masuk ke dalam pernikahan. Coba pikir, apakah bisa tahan selama itu tidak? Coba mengerti konsep komitmen seperti itu.

Kalau mengerti cinta dengan tiga sisi seperti ini maka sdr akan mengerti di dalam perjalanan hidup sdr, cinta itu akan mengalami perubahan bentuk. Bukan cintanya yang berubah, tetapi bentuknya yang mengalami perubahan. Bisa jadi, passion-nya menjadi kecil sebab berkaitan dengan proses alamiah dimana mungkin umur menjadi tua, penyakit mulai datang. Tetapi komitmen dan intimasi mungkin semakin tumbuh melewati waktu-waktu seperti itu.

Dr. Less Parrott menggambarkan 5 fase cinta di dalam relasi suami isteri:

1. Fase Romance, satu fase yang paling awal di dalam pacaran dan pernikahan. Fase dimana semua yang ada pada diri pasangan dilihat selalu baik dan indah adanya. Itu sebab dikatakan cinta itu buta.

2. Fase Power Struggle, satu fase dimana cinta itu mengalami keributan dan power struggle karena di situ pasangan mulai menyadari kita berbeda, kita mulai menyadari hal-hal yang tidak cocok, dsb. Di situ terjadi power struggle. Suami merasa dia harus menjadi suami yang seperti ini, isteri merasa dia harus menjadi isteri yang seperti ini. Pasangan yang bisa melewati fase ini akan memasuki cinta yang lebih matang dan dewasa.

3. Fase Cooperation: pada fase ini pasangan mulai menumbuhkan penerimaan penuh terhadap pasangan dan punya keinginan untuk mengembangkan relationship yang sehat. Di sini pasangan menyadari bahwa cinta tidak melulu “looking outward” tetapi “looking inward” kepada diri sendiri dan mengambil responsibility atas personal problemnya. Mereka tidak lagi menuntut pasangan untuk membuat dirinya bahagia tetapi lebih aktif membahagiakan pasangannya.

4. Fase Mutuality: ini adalah fase dimana pasangan merasakan “a secure sense of belonging” rasa saling memiliki dan mengembangkan mutual intimacy yang penuh.

5. Fase Co-Creativity: ini fase yang matang di dalam perjalanan cinta seseorang sehingga pada waktu kita menjadi lebih tua, kita menemukan cinta itu lebih menjadi satu mutuality. Sehingga suami isteri merasa begitu dekat, begitu saling mencinta dan mengasihi dengan jalan pagi sama-sama berdua sudah senang luar biasa. Cinta yang matang ini menyebabkan mereka tidak lagi melihat mereka berdua tercipta untuk eksklusif satu sama lain, tetapi cinta mereka bisa mengalir bagi orang-orang di sekitar mereka dan mendatangkan kontribusi yang indah di dalam komunitas mereka.

Dengan mengerti fase cinta seperti ini kita akan menyadari ada 3 hal yang patut kita kuatkan dan teguhkan di dalam hubungan pernikahan kita. Passion itu tetap harus kuat, intimacy kita semakin dalam, commitment kita juga semakin teguh.

Di dalam pernikahan cinta tidak hanya menjadi suatu perasaan yang bersifat abstrak. Maka kita akan menemukan cinta itu dilihat dan dinyatakan di dalam sexual activity. Di dalam hal ini maka saya ingin menekankan bagaimana kita memahami konsep mengenai sexual activity ini. Miscommunication sering terjadi antara suami dan isteri. Isteri merasa dia cinta kepada suami tetapi suami merasa isteri kurang cinta kepada dia sebab kehidupan seksual mereka tidak seperti yang dia harapkan. Suami mengeluh, “Tidak ada lagi cinta di antara kami…” setelah ditelusuri ujung-ujungnya menjadi satu pengakuan “We have sexual problems.”

Bagaimana menumbuhkan cinta? Bagaimana memiliki intimasi yang dalam? Tidak bisa tidak ini harus kita bicarakan dalam aspek yang paling konkrit yaitu sexual life di dalam satu pernikahan. Kembali lagi kepada prinsip Alkitab, sexual life is a gift from God. Adalah keliru orang yang mengatakan hidup lebih rohani kalau tidak ada sexual activity di dalamnya. Dalai Lama bilang sexual life adalah problem di dalam kehidupan manusia. Dia tidak pernah pikir darimana dia datang ke dunia? Dalai Lama boleh mengatakan dia tidak perlu hubungan seksual, tetapi dia mesti ingat dia exist itu juga karena ayah ibunya melakukan hubungan seksual, bukan? Dia tidak muncul sendiri seperti sepotong jamur. Kalau semua manusia di muka bumi ini tidak melakukan hubungan seksual, apa yang terjadi? Dunia ini akan lenyap. Waktu Tuhan mencipta dunia dan manusia, sexual life merupakan bagian yang Tuhan berikan sebagai bagian dari creation. Karena di situ berarti kita berbagian menghasilkan regenerasi bagi dunia ini. Ketika semua kehidupan seksual berhenti, maka dunia ini habis.

Maka bagaimana menumbuhkan kasih di antara suami isteri? Bagaimana menyatakan kasih itu dengan konkrit kepada pasanganmu? Saya akan bicara secara terbuka bahwa kasih itu dinyatakan di dalam sexual life di antara kalian. Di dalam kaitan bicara mengenai sexual life, kerap kali komunikasi antara suami isteri sering menghadapi salah paham dan kebingungan. Isteri selalu berpikir dia mencintai suaminya dinyatakan dengan merawat dia, memasak untuk dia, dsb. Tetapi dia merasa suami hanya punya lust kepada dia sehingga isteri kecewa, mengira suami tidak punya cinta yang murni kepada dia sehingga menyebabkan isteri malah menjauh dari suaminya. Ini adalah konsep yang keliru. Bagi suami, dia ingin isteri justru menyatakan cinta kepadanya dibuktikan dengan konkrit ketika dia bersedia dan mau melakukan hubungan seksual dengan penuh gairah kepadanya. Suami merasa isteri tidak lagi mencintainya, hubungan menjadi dingin ketika isteri selalu menolak melakukan hubungan seksual itu. Maka saya ingin mengingatkan para isteri, jangan mengabaikan aspek itu begitu penting pada diri suamimu.

Sekarang saya bicara dari sisi perempuan. Jujur buat perempuan, umumnya hubungan seksual ada di urutan terakhir dari prioritas hidupnya. List kegiatannya akan diisi dengan sederet panjang kegiatan di seputar merawat anak dan suami, merapikan rumah yang tidak pernah beres, mencuci, menyeterika, berbelanja, dst. Maka setelah semua kegiatan itu berakhir, dia akan menutup hari yang sibuk itu dengan tidur nyenyak. Suami yang mengajak berhubungan seks dianggap tidak sensitif dan tidak peka kepada kelelahannya, bahkan dianggap egois dan selfish. Sebaliknya suami mengira isteri yang menolak berarti sudah tidak lagi cinta kepadanya. Maka kesalahpahaman dan cekcok akan terjadi. Saya ingin memberitahu para suami, waktu seorang isteri tidak memiliki keinginan untuk berhubungan seksual dengan suaminya, itu tidak ada kaitannya dengan cinta dia. Suami jangan berkesimpulan bahwa dia tidak lagi tertarik kepada keindahan tubuhmu. Buat isteri, dia tidak terlalu memperhatikan apakah dulu waktu baru menikah suami punya “six pack” dan sekarang hanya “one bun”. Bukan itu yang dia lihat dari diri suami. Dia akan bergairah terhadap suami ketika dia melihat suaminya mengerti kelelahannya bekerja mengurus rumah dan anak sepanjang hari, ketika tanpa diminta suaminya membantu membuang sampah dan mencuci piring, ketika suami menyediakan telinga mendengar segala keluhan dan ceritanya dengan penuh perhatian. Kepada para suami, pegang kata kunci ini: “Help me to help you to help me.” Minta kepada isterimu untuk mengatakan pertolongan apa yang dia perlukan supaya rumah menjadi nyaman dan hati isteri menjadi senang. Mungkin inisiatif sdr untuk menemani anak bermain sepulang dari kantor, memberi dia makan atau memandikan dia menjadi satu sukacita bagi isteri. Dia melihat inisiatif sdr melakukan semua itu karena sdr mencintai dia dan care terhadap isteri yang lelah. Help me to help you to help me.

Kepada para isteri, sekarang saya ajak sdr melihat apa yang ada di pikiran suamimu. Jujur harus diakui, bagi seorang pria seksualitas memang menjadi prioritas hidupnya. Bagi seorang pria seks bukan dilihat dari aktifitas seks itu sendiri tetapi sexual fulfillment yang dia peroleh setelah berhubungan seks. Pria melihat respons isterinya di dalam hubungan seksual sebagai pertanda isteri respek dan membutuhkan dia. Ini menjadi satu fulfillment dari kebutuhan suami yang terdalam. Semakin dia mendapatkan fulfillment itu dari isterinya, semakin dia akan menjadi seorang yang confident, seorang yang percaya akan diri dan kemampuannya, seorang yang caring dan punya ambisi di dalam aspek-aspek yang lain di dalam hidupnya. Seorang isteri yang mencintai suaminya perlu mengerti akan hal ini akan hal ini. Tanda cinta yang suamimu inginkan bukan makanan yang enak yang kau masak buat dia, bukan baju yang licin disetrika, bukan rumah yang bersih dan rapih. Seorang suami akan menikmati cinta dari isteri ketika isteri menyambut cinta suami dengan inisiatif dan menyatakannya di dalam hubungan seksual yang intim dan hangat. Dengan demikian terjadi suatu lingkaran yang indah di dalam relationshipmu, suami yang mendapatkan sexual fulfillment seperti ini akan menjadi suami yang penuh perhatian, suami yang caring dan berinisiatif memenuhi kebutuhan cinta isterinya. Kiranya melalui apa yang sdr dengar hari ini menjadi suatu dorongan bagi sdr memperkokoh pernikahan dengan hal yang lebih konkrit dan memberi fulfillment bagi kedua belah pihak.

Pdt. Effendi Susanto STh. 

07 Desember

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: