Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (9): Hidup dengan Pasangan yang tidak Seiman

Memperkokoh Kehidupan Keluarga Kristen (9): Hidup dengan Pasangan yang tidak Seiman

Nats: 2 Kor.6:14, 1 Pet.3:1-7, Luk.14:15,20

Mungkinkah kita bisa memperkuat kehidupan keluarga kita jikalau salah satu dari anggota keluarga itu bukan merupakan pasangan seiman? Di dalam pembahasan kita, saya mengatakan pernikahan itu merupakan tanggung jawab kita masing-masing, suami isteri harus menjalankan tugas dan tanggung jawab mereka. Tuhan memberikan role dan peran baik kepada isteri maupun kepada suami. Isteri tidak boleh menuntut bagaimana suami harus berprilaku kepada dia melainkan bagaimana Tuhan menuntut suami berprilaku dan Tuhan menuntut bagaimana isteri berprilaku dalam hidup keluarga. Barulah kita memiliki satu hubungan suami isteri yang makin hari makin berkenan kepada Tuhan.

Tetapi muncul pertanyaan: “Bagaimana dengan kehidupan keluarga saya? Suami saya memang Kristen tetapi saya tidak menemukan bagaimana prinsip Kekristenan itu berada di dalam kehidupannya. Malah boleh saya katakan, suami menjadi penghalang hidup spiritual di tengah-tengah keluarga kami.” Ada yang mengatakan, “Ini menjadi realita kehidupan yang akhirnya saya sesalkan sebab saya tidak taat kepada Tuhan dan saya menikah dengan orang yang tidak seiman. Mungkinkah saya bisa memperkuat hidup pernikahan kami kalau hanya saya sendiri yang mendayungnya?” Firman Tuhan yang kita baca hari ini memperlihatkan fakta ada orang percaya yang hidup di dalam pernikahan dengan pasangan yang tidak percaya. Firman Tuhan tidak masuk kepada wilayah menuntut pasangan yang tidak percaya itu berprilaku, tetapi firman Tuhan berkata kepada isteri yang menjadi anak Tuhan, bagaimana akhirnya prinsip hidup kita sebagai anak Tuhan bisa memenangkan suami-suami yang tidak percaya Tuhan.

Sdr yang belum menikah mungkin merasa khotbah seperti ini tidak relevan, tetapi beberapa tahun ke depan sdr tentu akan memasuki pernikahan dan saya harap khotbah ini menjadi fondasi yang penting di dalam sdr mempersiapkan hidup pernikahanmu. Boleh jujur kita katakan, tenggang waktu yang sdr jalani sebagai seorang single lebih sedikit dibandingkan waktu yang sdr jalani di dalam pernikahan dan keluarga. Banyak orang kadang-kadang mengabaikan dan kurang memegang prinsip yang penting di dalam mempersiapkan fakta ini sehingga akhirnya yang terjadi adalah tidak habis-habisnya kita hidup di dalam kekecewaan, kefrustrasian, kemarahan, kesedihan dan luka oleh sebab pernikahan itu adalah satu pernikahan yang tidak seimbang dimana pasangan yang tidak percaya hidup dengan pasangan yang percaya Tuhan.

Di dalam surat Korintus, prinsip firman Tuhan yang mengatakan jangan menikah dengan orang yang tidak seiman denganmu tetapi ada di antara mereka yang tidak taat, atau mungkin ada di antara mereka yang menikah mungkin mengira suaminya Kristen, setelah menikah baru tahu hatinya belum percaya. Kita menghadapi realita itu. Sekarang bagaimana kita belajar menjadikan hidup pernikahan itu lebih indah, lebih baik dan lebih mencintai Tuhan meskipun salah satu dari pasanganmu tidak seimbang. Bagi sdr yang belum menikah, saya sangat mengharapkan dan menganjurkan kepada sdr untuk betul-betul kembali taat kepada prinsip firman Tuhan. Karena kalau sdr melihat bagaimana 60% jenjang hidupmu dijalani menikah dengan orang yang tidak percaya, sdr akan menemukan kesulitan seperti itu.

Saya menemukan paling tidak ada 8 buku khusus bicara dari sisi pengalaman dari orang-orang yang akhirnya menikah dengan pasangan yang tidak percaya, mereka hidup penuh dengan kesulitan, dengan air mata yang tidak ada habis-habisnya. Ini realita yang tidak mudah. Banyak di antara mereka mengatakan kadang-kadang begitu sulit menghadapi konsep yang berbeda, cara penanganan masalah dengan etika moral yang berbeda, ketidak-sukaan kepada hal-hal yang bersifat rohani, bagaimana management di dalam keuangan, anger yang meledak dan tidak dipimpin oleh ketaatan kepada firman Tuhan, baru mereka sadar bahwa hati yang takut kepada Tuhan itu merupakan prinsip prioritas yang paling penting di dalam memilih pasangan.

Sdr yang belum menikah, pegang prinsip ini baik-baik. Taruh urusan kegantengan dan kecantikan di urutan belakang karena percayalah kepada saya kebahagiaan tidak ditentukan oleh hal itu. Yang pertama adalah hati dia cinta Tuhan atau tidak. Pada waktu melihat isteri yang baik, yang tenang, yang sabar, yang penuh dengan tanggung jawab, itu merupakan kecantikan yang jauh lebih indah daripada isteri yang terus ingin mempertahankan kecantikan akhirnya berjam-jam waktu habis untuk berdandan. Maka bagi sdr yang belum menikah, saya hanya mengharapkan dan menganjurkan pada waktu sdr pilih baik-baik, sdr harus taruh prioritas ini: Apakah dia cinta Tuhan atau tidak, apakah dia menyelesaikan masalah dengan bertanggung jawab atau tidak, ada ciri-ciri karakter dia orang yang mau bekerja keras, bertanggung jawab dan jujur di dalam kehidupannya. Walaupun tidak terlalu kaya, tidak apa-apa. Rajin, bertanggung jawab, sunguh-sungguh bekerja, orang yang stabil emosinya, yang cinta Tuhan, yang menyelesaikan masalah dengan lebih mengutamakan Tuhan terlebih dahulu, itu merupakan keindahan.

Ada satu buku yang ditulis oleh Lee Strobel, penulis dan hamba Tuhan yang terkenal. Dia dulunya adalah seorang editor the Chicago Tribune yang adalah seorang ateis. Isterinya yang juga tidak percaya Tuhan, Leslie, akhirnya kemudian terlebih dahulu menjadi orang Kristen. Belakangan Lee Strobel akhirnya bertobat dan menjadi seorang hamba Tuhan dan mereka berdua menulis satu buku yang sangat baik sekali, judulnya “Surviving a Spiritual Mismatch in Marriage” bagaimana kita bisa survive dan keluar dari kesulitan ketidak-seimbangan rohani di dalam pernikahan. Saya akan mengutip sebagian dari isi buku itu, berdasarkan pengalaman mereka bagaimana kesulitan dan juga terang firman Tuhan kepada setiap kita boleh memberi berkat. Leslie mengatakan, hari demi hari saya menjalani hidup di dalam keadaan yang frustrasi oleh sebab ada banyak hal baik besar maupun hal-hal kecil tidak habis-habisnya saya ribut dengan suami, bahkan kadang-kadang kami saling melukai satu sama lain. Saya mengalami loneliness sebagai seorang isteri Kristen, waktu pergi ke gereja harus pergi sendiri. Waktu ada masalah dengan anak, saya ingin berdiskusi dengan suami, tetapi kami memiliki pola dan cara berpikir yang tidak sama. Bukan itu saja, di satu pihak seringkali saya berdoa supaya suami saya bisa percaya Tuhan, tetapi di satu pihak saya akhirnya frustrasi kepada Tuhan kenapa sudah belasan tahun suami masih belum percaya Tuhan. Saya frustrasi bukan kepada diri, bukan kepada suami, tetapi kadang-kadang frustrasi kepada Tuhan. Dan terlebih lagi ada rasa guilty karena begitu ingin suami bisa percaya Tuhan tetapi tidak kelihatan suatu perubahan. Dengan singkat dia ingin mengatakan pernikahan seperti ini adalah pernikahan yang kalau tidak ditolong dengan hati yang benar dan takut kepada Tuhan, dia lama-lama bisa drifted away. Ini bukan pengalaman dia saja, beberapa konseling yang saya lakukan kepada beberapa orang yang mengalami situasi seperti ini kadang-kadang ada tercetus rasa frustrasi dan give up. Mungkin sdr tidak give up kepada pernikahan itu tetapi mungkin sdr sudah give up untuk berusaha menjadikan hidup keluarga sdr sebagai hidup yang mengasihi Tuhan. Apakah pernikahan sdr masih bisa ditolong? Saya percaya walaupun di dalam kondisi yang tidak baik seperti itu tetap ada pengharapan untuk bisa memiliki hidup pernikahan keluarga yang bahagia di hadapan Tuhan.

Saya harap sdr yang mungkin memiliki suami yang bukan orang percaya ataupun suami yang tidak seimbang secara rohani dan mendatangkan frustrasi, sdr juga coba belajar melihan bagaimana perasaan mereka memiliki isteri yang Kristen. Di dalam buku itu Lee Strobel mengungkapkan dengan jujur perasaan dia sebagai suami ateis yang menikah dengan isteri Kristen. Dia bilang, kadang-kadang dia tidak mau berkomunikasi dan marah kepada isteri. Kenapa? Sangat unik sekali, ternyata dia merasa benci kepada Yesus karena Dia seolah-olah menjadi “suami rival.” Saya minta waktu sama isteri, isteri bilang dia mau ke gereja. Kayaknya isteri saya pacaran sama Yesus lebih hot daripada sama saya. Coba dengarkan kalimat yang diungkapkan dari hatinya ini. Akhirnya dia menyatakan sikap yang marah dan menyakitkan dan mencetuskan ketidak-sukaannya kepada Kekristenan dan kepada Tuhan Yesus. Melihat Yesus seolah-olah merebut cinta isteri. Ada rasa iri dan rasa terluka. Perasaan seperti itu menyebabkan dia coba ingin mem-”punish” isterinya dengan cara makin menghina Kekristenan. Saya rasa pengakuan seperti ini merupakan hal yang sangat menarik sekali. Itu sebab sebelum kita masuk kepada bagaimana kita hidup sebagai seorang isteri dan suami Kristen di tengah-tengah kehidupan keluarga, ada pertanyaan yang harus kita jawab dengan sejujurnya. Kalau sdr ambil pelayanan di gereja, datang kebaktian, ikut koor, mengajar sekolah minggu, dsb, betulkah itu didorong memang dari hati dan sikap saya mengutamakan Tuhan dalam hidupku, ataukah saya sudah give up tidak mau berusaha memperbaiki kehidupan rumah tanggaku dan saya jadikan hidup rohani menjadi suatu pelarian? Banyak keluarga Kristen yang tidak seimbang, semakin isteri aktif melayani di gereja, semakin bikin suaminya benci sama Tuhan. Itu sebab pertanyaan ini mesti kita jawab dengan jujur. Kita betul-betul cinta Tuhan, ataukah kita melayani dan hadir lebih banyak di gereja sebenarnya merupakan satu pelarian karena kita tidak bersedia untuk memperbaiki hidup pernikahan kita? Kalau itu yang terjadi, maka saya mengajak sdr mari melihat kebenaran firman Tuhan.

Maafkan, Alkitab memberi nasehat yang mungkin sangat “tidak rohani” dibanding nasehat para pendeta masa kini di dalam bagaimana memenangkan suami-suami yang tidak percaya Tuhan. Petrus memberikan nasehat seperti ini: “Hai isteri-isteri, respeklah kepada suamimu yang tidak taat kepada firman, melalui prilaku dan tingkah laku tanpa perlu berkata-kata. Pakailah perhiasan yang terselubung di dalam kelembutan dan di dalam ketentraman.” Nasehat Petrus mungkin sangat berbeda dengan nasehat para pendeta bagaimana memenangkan suami yang belum percaya, terus Injili, bawa terus ke gereja, doakan terus siang malam. Bukan semua itu tidak penting, tetapi Petrus mengatakan sdr bisa memenangkan dia tanpa perlu ngomong tetapi jadilah sebagai seorang isteri yang Tuhan mau, bukan jadi misionari tetapi lupa tugas isteri. Dengan ketabahan dan kelembutan, sdr menjadi isteri yang baik sesuai dengan panggilan Tuhan.

Melihat pengalaman keluarga seperti ini, mungkinkah sekalipun hidup pernikahanku memiliki suami atau isteri yang tidak seimbang secara rohani, tidak match secara spiritual, ada air mata dan kesulitan, bisakah pernikahan itu menjadi pernikahan yang bahagia dan menjadi berkat bagi orang lain? Bisa. Saya harap beberapa prinsip dari firman Tuhan dan pengalaman dari anak-anak Tuhan yang melewati situasi seperti ini bisa menjadi berkat bagi setiap kita.

Yang pertama dan terutama mata kita harus fokus dan tertuju kepada Tuhan dan bukan struggle kepada persoalan yang ditimbulkan oleh ketidak-seimbangan itu.

Bebe Nicholson mengatakan kalimat yang sama dan matanya terbuka melihat dimana hampir semua orang-orang itu menemukan sepanjang hidup mereka menikah dengan orang yang tidak percaya, makin lama makin frustrasi melihat pasangan makin tidak mau percaya Tuhan akhirnya makin menimbulkan keinginan untuk terus mengajak dia percaya Tuhan tetapi makin dia lari. Akhirnya mereka jatuh kepada perasaan gloomy dan menjalani hidup pernikahan yang tidak bahagia. Mereka akhirnya berpikir, ”…kalau seandainya suamiku Kristen, maka persoalan keluargaku menjadi beres.” Kita tidak melihat bahwa persoalan yang timbul di dalam pernikahan itu bukan karena pasangan kita belum menjadi Kristen tetapi seringkali orang Kristen itu kemudian meng-kambinghitamkan suami yang tidak Kristen menjadi penyebab hubungan menjadi tidak harmonis, tidak indah dan banyak timbul keributan dan pertengkaran dan tidak ada kata-kata yang indah. Asumsi itu yang menjadi racun. Kita sering berpikir, tunggu suami menjadi Kristen baru pernikahan menjadi bahagia. Akhirnya setelah bertahun-tahun suami tetap tidak Kristen, kita menjadi tidak bahagia. Bisakah asumsi itu kita balik: saya bisa membahagiakan keluargaku tanpa menunggu suami menjadi Kristen atau tidak. Maka fokus kepada Tuhan, bukan kepada bagaimana sdr fixed struggle dan persoalan itu terlebih dahulu. Sebab semakin sdr rasa tidak bisa fixed semakin sdr merasa tidak ada kemungkinan kebahagiaan bisa terjadi. Sekali lagi prinsip teologis ini harus kita pegang benar-benar: saya hanya bertugas dan berkewajiban bagaimana share the Gospel, baik dengan perkataan maupun dengan kelakuan. Selebihnya orang itu berubah menjadi percaya kepada Kristus, menjadi anak Tuhan, itu di luar kemampuan saya. Ada hal-hal yang menjadi tanggung jawab kita, kita kerjakan sebaik-baiknya. Tetapi ada hal-hal yang di luar tanggung jawab kita, itu tidak perlu kita ambil menjadi beban dan kekuatiran kita karena kita juga tidak bisa berbuat apa-apa di situ. Itu masuk kepada wilayah Tuhan yang menjaga dan memelihara kita. Yang saya bisa lakukan saya kerja baik-baik, saya lakukan tugas dan tanggung jawab saya. Menjadikan suami Kristen, itu bukan kekuatiran dan tanggung jawab saya. Tetapi menjadikan keluargaku bahagia, itu menjadi kewajiban dan tanggung jawab saya. Itu dua hal yang tidak boleh kita campur-baurkan. Kenapa kita harus fokus kepada Tuhan lebih dulu? Sebab pada waktu sdr dan saya mungkin dikecewakan oleh pasangan kita yang tidak seiman, kita terluka dan hurt. Tidak ada jawaban dan tempat yang terbaik sdr bisa mendapatkan pemulihan sebelum sdr kembali kepada Tuhan yang memberikan kekuatan kepadamu.

Kepada suami isteri yang Kristen, saya harus mengakui tetap ada yang tidak memiliki rohani yang seimbang. Mungkin suami lebih rohani, tetapi isterinya tidak. Mungkin isteri lebih rohani dan suaminya tidak. Itu bisa terjadi. Sehingga akhirnya terkadang kita tidak melihat hubungan kita dengan Tuhan menjadi yang lebih utama. Maka hari ini saya dengan sangat rindu dan mengharapkan kalau ada mismatch di dalam hubungan suami isteri khususnya dalam hal rohani, sdr dan saya harus sama-sama berjuang dan berpikir bagaimana berbakti bersama di hadapan Tuhan, menjadikan hal itu sebagai hari dimana sdr betul-betul memakainya untuk mengasihi dan melayani Tuhan. Jangan pernah berpikir menjadikan hari Minggu sebagai hari rival. Senin sampai Jumat sudah kerja, maka Sabtu dan Minggu buat keluarga.

Pada waktu Yesus memberi perumpamaan mengenai kerajaan Allah, betapa berbahagia orang yang bisa masuk ke dalamnya, Yesus menyebutkan fakta banyak orang akhirnya menolak panggilan itu dengan berbagai alasan. Bagi saya ironisnya penolakan mereka justru setelah mereka mendapat berkat Tuhan. Ada yang menolak karena dia baru membeli ladang, ada yang baru saja membeli lembu, dan ada yang baru saja menikah sehingga mereka menolak undangan itu. Bisa membeli ladang, membeli lembu, mendapat isteri, semua itu adalah berkat Tuhan. Yang kedua, jangan jadikan itu semua sebagai rival di dalam hubungan kita dengan Tuhan. Sebagai suami dan isteri Kristen, sdr dan saya juga harus menjadi pasangan yang tidak bersikap egois hanya untuk diri sendiri. Kita harus mengambil komitmen menjadi keluarga Kristen, dimana ada waktu kita mau pakai sebagai keluarga sama-sama berkorban mengasihi dan melayani Tuhan.

Yang kedua, menjadikan suami atau isteri kita sebagai manusia yang paling utama dibandingkan manusia yang lain. Itu yang dikatakan di dalam 1 Pet.3, hai isteri, hormat dan respek kepada suamimu dengan segala kelembutan akhirnya bisa memenangkan suami tanpa perlu perkataan. Bebe Nicholson mengatakan suaminya yang ateis akhirnya menjadi Kristen mengatakan dulu dia melihat isterinya “waste” time, orang yang ridiculous menerima pengajaran mitos dan dia kadang-kadang menertawakan isterinya. Tetapi akhirnya dia menemukan isterinya yang mencintai Tuhan seumur hidup respek dan tidak pernah mengeluarkan kata-kata yang menghina suaminya sekalipun dia ateis. Selama ini suaminya terus menghina dia, tetapi isterinya tidak menghina dia. Itu menyebabkan dia menjadi guilty, kenapa terus jahat kepada isterinya, terus mengejek dia. Di situ akhirnya membuat dia melihat iman Kristen memiliki suatu nilai yang indah.

Yang ketiga, semampu kita, kalau itu berada di dalam kekuatan kita, jadikanlah pernikahan sdr sebagai pernikahan Kristen, dengan menjalankan prinsip-prinsip firman Tuhan di dalamnya. Kalau suami tidak objection, kita menerapkan prinsip firman Tuhan, berdoa bersama anak-anak, menciptakan sukacita dan kebahagiaan rohani di dalam rumah tangga.

Yang keempat, hidup dengan sukacita. Itu yang menyebabkan hidup keluarga sdr akan lebih bahagia. Joy itu tidak bergantung bagaimana situasi dan kondisi kehidupan kita. Mengapa saya baru menjadi isteri yang bahagia dan mendapat rumah tangga yang baik kalau suamiku menjadi Kristen? Paulus bisa meminta kita rejoice meskipun dia sendiri berada di dalam penjara. Mengapa saya tidak bisa memiliki hidup yang penuh dengan sukacita dan kebahagiaan sekalipun mungkin hidup di tengah-tengah suami yang tidak percaya? Hanya dengan kelembutan dan sukacita, kita bisa memenangkan suami kita dan membahagiakan kehidupan rumah tangga kita. Saya harap panggilan firman Tuhan ini menjadi prinsip yang benar di dalam hidup sdr. Saya tutup seri khotbah ini dengan doa saya, biar Tuhan mempertumbuhkan dan memperkokoh hidup rumah tangga sdr. Belum ada kata terlambat dan tidak sanggup melakukannya. Tetap pelihara pengharapan dan keinginan mau menjadikan keluarga kita bahagia.

Pdt. Effendi Susanto STh.

28 Desember 2008

  1. April 1, 2014 at 11:43 am

    Dating INSIGHT: Insightful Christian Dating Principles. Pengajaran akan prinsip dating dilengkapi kesaksian nyata. Buat muda-mudi yang sedang menggumuli Firman Tuhan, “Tidak baik manusia itu seorang diri, Aku akan menjadikan penolong yang sepadan baginya.” Apa tujuan pacaran? Bagaimana tau dia sepadan? Apa kriteria pacar sesuai kehendak Tuhan? Kenapa saya belum dapat pacar sampai sekarang? Temukan jawaban atas seluruh pertanyaan Anda about dating dalam channel Dating INSIGHT http://www.youtube.com/channel/UCWYhg2Y44HRNFXleGykdLqw or baca artikel dalam http://www.datinginsightindonesia.wordpress.com

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: