Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen (1): Leaving & Cleaving

Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen (1): Leaving & Cleaving

TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia.” Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu. Manusia itu memberi nama kepada segala ternak, kepada burung-burung di udara dan kepada segala binatang hutan, tetapi baginya sendiri ia tidak menjumpai penolong yang sepadan dengan dia. Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu. Lalu berkatalah manusia itu: “Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.” Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging. Mereka keduanya telanjang, manusia dan isterinya itu, tetapi mereka tidak merasa malu.

Kejadian 2:18-25

Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging.

Ef. 5:31

Alangkah indahnya jikalau pernikahan kita, relasi kita di dalam hubungan yang paling dekat sebagai suami dan isteri mengikuti apa yang menjadi kalimat dari seorang yang bernama Rosemonde Gerard yang mengatakan kepada suaminya, “Each day I love you more. Today more than yesterday and less than tomorrow.” Itu kelimpahan di dalam pengertian mengenai cinta. Tetapi cinta dan kasih itu luar biasa. Di dalam sejarah kehidupan manusia, cerita love story jauh lebih dikenang dan diingat orang daripada cerita tragedi. Memang banyak sekali hal-hal yang menyakitkan terjadi di dalam hidup kita, tetapi pada waktu ada hal-hal yang sangat indah terjadi, walaupun itu hanya satu kali saja, itu menjadi kenangan yang tidak akan terlupakan di dalam hidup kita.

Film “Titanic” menjadi pemegang rekor box office yang belum tergeser hingga sekarang. Film itu sebenarnya satu cerita fiksi yan g berdasarkan satu kisah sejarah, kisah tragedi tenggelamnya kapal “Titanic” tetapi akhirnya menjadi satu film yang hanya diingat sebagai kisah cinta antara Rose dan Jack, padahal itu hanya satu kisah rekaan saja. Kalau film itu hanya memutar kisah dokumentari tenggelamnya satu kapal, tidak akan banyak yang menonton. Tetapi cerita mengenai love story, itu yang membuat film ini menjadi film yang terus digemari orang. Semua pria yang menonton film ini akan mengangankan betapa indahnya bisa mendapatkan seorang wanita seperti Rose, yang memilih engkau yang walaupun keren tetapi “kere” ketimbang seorang pria yang lebih kaya. Semua wanita yang menonton film ini juga menganggankan bisa mendapatkan pria seperti Jack, seorang pria yang rela mati demi menyelamatkan Rose. Betapa indahnya mendapatkan suami seperti itu.

Waktu kita membaca kitab Kidung Agung ada satu kalimat yang menarik, “Cinta itu begitu dahsyat, lebih dahsyat daripada api yang menyala-nyala” (Kid.8:6). Tetapi banyak orang memasuki kehidupan pernikahan dengan romantic love akhirnya berakhir dengan kekecewaan, mengapa romantic love itu menjadi hilang dan sirna. Statistik angka perceraian di Amerika memperlihatkan angka perceraian di kalangan orang yang mengaku Kristen ternyata tidak jauh berbeda dengan angka perceraian orang non Kristen. Melalui fakta ini kita ingin bertanya kembali apa yang menyebabkan satu pernikahan menjadi indah dan baik? What makes your marriage good?

Banyak mitos muncul waktu orang melihat suatu pernikahan begitu indah dan baik. Orang mengatakan:

“Pernikahan mereka bahagia karena pernikahan mereka tidak pernah dilanda oleh masalah yang besar. Beda dengan kami, memasuki pernikahan terlalu banyak masalah.” Ini adalah mitos yang salah. Siapa bilang ada pernikahan yang tidak pernah dilanda masalah? Sebaik apapun pernikahan itu, pasti memiliki masalah di dalamnya.

“Pernikahan mereka baik sebab semuanya sudah dipersiapkan, tidak usah pusing memikirkan hari pernikahannya karena semua sudah tersedia, dari mobil, kue, venue, dan budget yang tidak terbatas. Sedangkan kami struggle setengah mati untuk survive.”

Kenapa pernikahan mereka indah dan baik? Orang mengatakan, “Oh, they are just a lucky couple.” Percayalah kepada saya, tidak ada hal seperti itu. Kalau sdr membaca buku-buku mengenai pernikahan dan konseling, sdr akan menemukan tidak ada pernikahan menjadi baik karena situasi yang membuat dia menjadi baik. Yang ada ialah: apakah pasangan yang menikah itu ingin menjadikan situasi pernikahannya baik atau tidak.

Les & Leslie Parrott di dalam bukunya “I Love You More” mengatakan bahwa satu pernikahan itu menjadi baik atau tidak, harus men-tackle satu persoalan yang paling penting di depan, kalau yang itu beres, maka yang lain akan menjadi lebih mudah. Satu pernikahan yang indah tidak berarti pernikahan itu bebas dari persoalan. Pernikahan Kristen bukan membuat sdr terlindung dari permasalahan. Pernikahan Kristen yang baik adalah bagaimana sdr dan pasanganmu ketika menghadapi kesulitan dan permasalahan, itu semua tidak merusak pernikahan kalian. Apa hal pertama yang harus dibereskan atau di-tackle dulu? Jawabannya adalah bagaimana attitude dan perspektif orang itu mengenai pernikahan.

Sidlow Baxter mengatakan, “Di dalam setiap berkat pasti ada kesulitan dan di dalam setiap kesulitan pasti ada berkat.” Itu tergantung bagaimana orang menyikapinya. It depends on your attitude. It depends on your perspectives. Maka Les Parrott mengatakan orang yang sudah memiliki satu perspektif negatif mengenai pernikahan akan mengalami kendala yang sangat besar di dalam memasuki satu pernikahan. Membereskan perspektif itu yang paling penting. Maka statistik perceraian orang Kristen yang begitu tinggi memperlihatkan kepada kita orang itu menikah di gereja, orang itu mengerti Alkitab, tetapi banyak orang Kristen kehilangan perspektif Kristen di dalam melihat pernikahannya. Pernikahan orang Kristen di dalam dunia modern akhirnya terjebak dengan suara pernikahan yang ada di luar. Kita tidak mau dan tidak berani memasukkan perspektif yang Biblical untuk memimpin kehidupan pernikahan kita.

Seorang hamba Tuhan dengan bercanda mengatakan, matematika Tuhan mengenai pernikahan itu memang beda dengan matematika kita. Buat kita, 1+1=2. Tapi matematikanya Tuhan 1+1=1. Kita bilang Tuhan salah. Perspektif Kristen tentang pernikahan adalah mengerti matematika Tuhan, 1+1=1.

Maka laki-laki dan perempuan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan mereka bersatu menjadi satu daging…” Kalimat ini muncul sebelum manusia jatuh di dalam dosa. Dan di dalam seluruh tafsiran para teolog tidak ada yang meragukan kalimat ini adalah seperti Allah sendiri sedang membawa Hawa menuju ke pelaminan di taman Eden dan memberikan dia kepada Adam. Ini merupakan “blue print” Allah bagi pernikahan semua umat manusia. Lalu kalimat ini diulang di dalam PB waktu Yesus ditantang oleh orang Farisi bicara mengenai perceraian. “Tidakkah kamu baca, …sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging?” (Mat.19:5, Mrk.10:7-8). Paulus pada waktubicara mengenai hubungan suami isteri di dalam pernikahan sekali lagi mengulang kalimat ini. Artinya, setelah jatuh di dalam dosa, tetap blue print ini tidak boleh hilang di dalam pernikahan manusia. Dosa merusak relasi manusia. Dosa berada di dalam kehidupan yang paling intim di dalam pernikahan yang kita bentuk. Tetapi blue print ini tidak boleh hilang.

Pernikahan yang dicatat di dalam Kej.2 itu bukan hasil dari budaya manusia tetapi itu adalah God’s intention, keinginan Allah sendiri untuk manusia itu bersatu di dalam pernikahan. Buat saya, Tuhan memberikan Hawa kepada Adam adalah satu keputusan yang sangat “riskan” sebab sebelum ada Hawa, suara yang Adam dengar hanyalah suara Tuhan. Tetapi ketika Tuhan menciptakan Hawa, sekarang ada suara lain yang Adam dengar. Dan terbukti di dalam Kej.3 Adam lebih mendengar suara Hawa ketimbang suara Allah.

Pada waktu kita akan menikah, kita akan memikirkan pertanyaan ini, “Apa tujuan kami menikah? Mengapa saya menikah dengan dia? Apa tujuan Allah bagi pernikahan kami?” Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting untuk kita pikirkan. Kalimat blue print ini sangat sederhana tetapi memiliki makna yang begitu dalam, ”…sebab itu manusia akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya sehingga keduanya menjadi satu daging…” Mari kita memperkokoh pernikahan kita dengan melihat kalimat ini.

Pertama, kata “meninggalkan/leaving”. Pernikahan berarti anak itu leaving, bukan orang tua usir. Leaving berarti this is about your personal decision, this is a mature decision. Leaving berarti keterpisahan dari satu posisi yang lama, meninggalkan keadaan yang lama, keluar dari satu ‘comfort zone’, meninggalkan sesuatu yang tidak boleh lagi menjadi life-style waktu masih single. Leaving berarti ada sesuatu yang berubah pada waktu seseorang masuk ke dalam satu pernikahan. Itu awal dari satu pernikahan. Leaving bukan berarti membuang atau sama sekali tidak mengurusi orang tua. Leaving juga tidak berarti meninggalkan secara geografis, walaupun memang menikah dan tinggal dengan orang tua untuk kemudian hari keluar itu jauh lebih sulit. Tetapi tidak berarti hidup berbeda jarak dengan orang tua itu leaving, karena ada orang yang terus bergantung kepada orang tua, tiap hari telpon minta pendapat dan keputusan orang tua. Leaving berarti pernikahan itu mengandung aspek perubahan drastis. Leaving berarti ada hal-hal yang sdr korbankan di dalam hidup ini. Sesudah menikah, orang yang single tidak bisa lagi menjalani hidup sebagai orang yang single. Dulu waktu single, pakaian mungkin tidak dicuci satu minggu, tinggal didaur-ulang. Sdr mau pulang pagi, tidak peduli. Tidak ada yang bother kepadamu kalau warna kaus kakimu berbeda. Tidak ada yang bother kepadamu kalau sdr meninggalkan rumah dengan piring masih belum dicuci. Tidak ada yang bother kepadamu ketika sdr mau membeli apa saja yang kau inginkan. Tetapi leaving berarti dua belah pihak harus beranjak, sama-sama meninggalkan posisi yang lama. Tidak bisa kita bilang “terima saya apa adanya satu paket, take it or leave it.”

Maka leaving itu sama seperti menjadi seorang Kristen, manusia lama kita disalibkan dan kita menjadi manusia baru.

Ada beberapa konsep Alkitab yang penting untuk mengerti apa artinya leaving:

Leaving berarti sekarang hubungan orang tua dengan anaknya yang sudah menikah adalah hubungan antar orang dewasa. Kita berhenti memperlakukan mereka sebagai anak yang belum dewasa. Pernikahan berarti mempersiapkan anak meninggalkan rumah, bukan mempersiapkan rumah menerima menantu. Sebagai orang tua, kita tidak boleh berusaha untuk running rumah tangga anak-anak kita. Sebagai orang tua kita harus mempersiapkan anak untuk memang ‘leaving.’ Kita tidak dipanggil Tuhan untuk selama-lamanya mem’bekap’ anak itu di ketiak kita. Kita dipanggil Tuhan untuk membesarkan anak itu untuk leaving. Bagaimana kalau nanti dia salah pilih? Tidak perlu takut. Persiapkan dari sejak dini untuk memilih dengan bijaksana, sehingga dia bisa memiliki good sense dalam decision making. Dari sekarang ajar mereka memilih dengan benar, bukan kita yang pilihkan. Kepada anak kita yang perempuan, kita encourage dia untuk menjadi seorang yang memilih suami yang bisa memberikan kasih sayang dan perlindungan kepadanya. Kepada anak kita yang laki-laki, kita meng-encourage anak kita untuk menjadi seorang kepala rumah tangga yang baik dan bertanggung jawab. Itu tugas kita. Tetapi jangan take over dan running their household.

Pernikahan berarti sekarang interaksi pikiran, interaksi pendapat, interaksi keputusan hidup yang paling dekat adalah interaksi di antara suami dan isteri dan bukan dengan keluarga yang lain. Pernikahan berarti relasi antara suami dan isteri menjadi relasi yang paling prioritas, lebih daripada hubungan orang tua dengan anak, antara sahabat dan rekan, dsb.

Pernikahan berarti itu saatnya anak menjadi dewasa, dia tidak lagi tergantung kepada orang tua untuk mendapatkan kasih sayang, persetujuan atau dukungan yang paling prioritas.

Pernikahan berarti sebagai orang tua kita tidak lagi meminta anak kita untuk merubah partnernya karena ada hal-hal yang tidak kita sukai darinya.

Hubungan antara suami dan isteri harus dibangun dengan solid, sehat dan hangat. Anak yang dibesarkan di dalam hubungan yang seperti ini akan tumbuh menjadi anak bisa membangun kehidupan yang baik. Jika ayah dan ibunya memiliki hubungan yang baik, itu sudah cukup. Dia tidak perlu mama yang baik kepadanya. Dia tidak perlu papa yang sayang kepadanya. Dia perlu papa mama yang sayang satu sama lain. Kadang-kadang kita lupa akan hal itu. Bukan mama yang baik kepada anak yang membuat anak itu baik. Jika engkau baik kepada suamimu atau isterimu, itu yang bikin anak menjadi baik. Itu ada pengungkapan isi hati dari anak-anak sendiri. Hubungan orang tua dan anak itu penting, tetapi hubungan itu akan menjadi indah jikalau anak itu melihat betapa harmonisnya ayah dan ibunya di dalam hubungan mereka. Anak itu akan mendapatkan satu perspektif yang indah bagaimana dia akan memulai satu relasi dengan lawan jenisnya di kemudian hari, penuh dengan confodent dan trust sebab dia sudah menyaksikan satu hubungan yang baik antara ayah dan ibunya. Seorang anak akan belajar bagaimana menyelesaikan permasalahan dengan baik ketika dia menyaksikan bagaimana ayah dan ibunya dengan harmonis menyelesaikan masalah mereka dengan baik, dengan penuh cinta dan konsep Kristiani yang benar.

Yang kedua, apa artinya “cleaving/bersatu”? Bentuk persatuan yang seperti apa? Saya lebih cenderung menggambarkannya seperti persatuan baut dan mur. Ada 3 hal yang menarik di dalam persatuan ini, yaitu: sepadan, satu daging, dan hingga kematian memisahkan mereka. Kata ‘sepadan’ dikaitkan di dalam pengertian Adam adalah the only human, tidak sepadan dengan binatang yang ada di taman Eden. Ketika Allah menciptakan langit dan bumi, Dia melihat semua yang Dia ciptakan itu amat baik. Satu-satunya keluar kalimat dari Tuhan “Tidak baik…” adalah ketika Dia melihat Adam seorang diri. Relasi kita dengan Tuhan merupakan relasi yang indah dan penting, relasi yang paling fundamental di dalam hidup kita. Seluruh relasi yang lain harus didasarkan relasi kita dengan Tuhan.

Yang kedua, kalau Tuhan sendiri mengatakan tidak ada yang sepadan sehingga Tuhan perlu ciptakan Hawa, di tengah intimnya relasi Tuhan dengan Adam, tetap Tuhan melihat ada sisi-sisi yang lain dimana relasi itu hanya bisa diisi di dalam relasi hubungan laki-laki dan perempuan. Sedekat-dekatnya hubungan kakak-adik, sedekat-dekatnya hubungan teman, sedekat-dekatnya hubungan ayah-anak, tidak ada yang sanggup mengisi hal-hal yang kosong di dalam hubungan suami dan isteri. Itu sebab Tuhan memberi Hawa bagi Adam supaya dia memiliki relasi yang penuh. Ada bagian sisi relasi kita dengan Tuhan, ada bagian relasi kita dengan teman-teman, kolega, adik atau kakak, tetapi tetap ada satu sisi yang hanya bisa diisi di dalam relasi suami dan isteri. Maka pernikahan berarti pria dan wanita itu cleaving bersama. Sepadan, menjadi satu daging, hingga kematian memisahkan mereka. Ini bukan satu persatuan kontrak biasa atau satu persatuan sementara tetapi satu persatuan yang permanen adanya. Tidak gampang, bukan? Kita hidup di dalam satu dunia dimana orang memasuki satu pernikahan dengan pemikiran kalau pernikahan ini tidak convenient, tidak cocok dan tidak membahagiakan, kita mungkin perlu mendapatkan jalan yang baik dengan bercerai. Ini adalah satu hal yang sangat tricky sekali. Bagaimana kita bisa tahu bahwa bercerai adalah decision yang lebih baik daripada tidak bercerai. Apakah perceraian bisa menghilangkan kesulitan di masa yang akan datang, ini adalah tanda tanya besar. Cleaving berarti dua orang berjalan sama-sama. Pada waktu sdr mengambil keputusan untuk menikah, ingat baik-baik, ini adalah decision berdua. Sehingga kalau ada seorang yang sudah menikah mengatakan dia mendapat pasangan yang salah, saya balik bertanya, yang pilih pasangan itu siapa? Berarti dua belah pihak bisa salah. Mari kita melihat pernikahan itu bukan suatu paksaan dan dorongan supaya bersatu tetapi merupakan keputusan dua orang. Itu sebab kita perlu ada komitmen untuk menjalani dan memperbaikinya.

Yang paling pertama perlu kita punya adalah what kind of perspective you have to put into your marriage? Sebagai seorang Kristen saya harus mengambil God’s purpose and blue print mengenai pernikahan itu. Bersatu menjadi satu daging, jelas ini menggambarkan satu persatuan yang indah secara seksual. Maka seks dilihat sebagai hal yang indah dan membahagiakan yang Tuhan cipta di dalam hidup kita di dalam satu kerangka pernikahan. Itu sebab ketika dua orang menikah, di dalam kehidupan pernikahan kita menemukan seksualitas itu seperti yang dicatat dalam Kej.2:25, mereka telanjang tetapi mereka tidak merasa malu. Seksualitas yang ditaruh di dalam kerangka seperti itu menjadikan seksualitas sebagai hal yang indah, suci dan membahagiakan, tanpa ada rasa malu dan takut. Tetapi bukan itu saja pengertian satu daging, Tuhan sendiri memberikan satu pernyataan bahwa kita memerlukan relasi di antara laki-laki dan perempuan sebagai satu relasi dimana Tuhan menginginkan ada hal-hal yang penting yang hanya bisa diisi oleh suami dan isteri.

Ketiga, kita menjadi satu daging sampai kematian memisahkan kita berarti pernikahan merupakan satu komitmen seumur hidup untuk setia, untuk bersama-sama melewati apa yang terjadi di dalam hidup. Dalam suka dan duka, dalam sehat dan sakit, kaya atau miskin, sampai kematian memisahkan kita. Itu janji kita untuk melewati hidup ini bersama-sama apapun yang terjadi. Satu daging berarti it is a total giving one another, sharing segala sesuatu.

Saya menemukan banyak orang Kristen yang tinggal di luar negeri seperti ini tanpa sadar memiliki konsep yang unbiblical di dalam pernikahan. Banyak yang menikah bukan sharing in everything, tetapi akhirnya menjadi indekos. Just membayar porsi dia. Saya bilang, menikah bukan indekos. Kalau indekos berarti di awal sudah taruh ancang-ancang sebentar lagi akan pindah cari kos yang lebih bagus. Belajar untuk sharing in everything dengan isteri atau suamimu, yang baik, yang sukses, yang gagal. Itu adalah total komitmen di dalam pernikahan. Kiranya Tuhan menguatkan dan memperkokoh hidup pernikahan kita, hubungan kita, dan keluarga kita.

Pdt. Effendi Susanto STh.

02 November

  1. November 15, 2011 at 12:54 pm

    Artikel yang penting!

    • November 16, 2011 at 6:13 pm

      “Hai Abigail, salam kenal juga… yup saya setuju dengan anda…”

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: