Home > Effendi Susanto, Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen, Seri Khotbah > Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen (2): Perspektif dan Role di dalam Pernikahan

Memperkokoh Kehidupan Pernikahan Kristen (2): Perspektif dan Role di dalam Pernikahan

Nats: Ef. 5:33

Tuhan memberikan dua blueprint yang penting mengenai pernikahan kepada kita. Yang pertama sudah saya bahas minggu lalu, Kej.2 memperlihatkan sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, Tuhan sudah memberikan satu definisi yang penting dan yang harus menjadi prinsip kita untuk mengerti apa itu pernikahan. Pernikahan berarti saatnya seorang pria dan seorang wanita pergi meninggalkan ayah ibunya dan bersatu menjadi satu daging. Kalimat ini diulang oleh Tuhan Yesus dan diulang oleh rasul Paulus di dalam PB. Dengan kata lain, sekalipun realita dosa sudah masuk ke dalam hidup kita, realita dosa yang bisa menarik kita dan mungkin makin lama menyeret kita makin jauh di dalam relasi kita, tetapi ikatan cinta yang Tuhan beri di dalam pernikahan harus jauh lebih kuat mengikat kehidupan kita, mengalahkan segala kekuatan lain yang menarik kita untuk terpisah.

Minggu lalu saya sudah membahas dua kata yang penting: ‘meninggalkan’ dan ‘bersatu’. Meninggalkan ayah dan ibu, berarti itu saatnya kita melihat hubungan ayah ibu dengan anak yang menikah bukan lagi hubungan orang tua dan anak, tetapi harus menjadi satu hubungan yang bersifat dewasa, satu adult relationship. Itu sebab kita harus mempersiapkan anak kita supaya someday mereka pergi meninggalkan rumah kita. Saya akan memberikan beberapa prinsip kepada anak-anak muda berkaitan dengan hal ini. Kenapa sebelum Tuhan memberikan Hawa kepada Adam, Tuhan menempatkan Adam di taman Eden, menyuruhnya untuk bekerja mengelola taman dan memberi nama kepada semua binatang di situ? Ini adalah satu prinsip penting menunjukkan pernikahan adalah untuk seorang yang sudah mature dan sudah bisa independent mengurus hidupnya. Memang kita hidup di jaman yang jauh berbeda dibanding 2000 tahun lalu dimana anak perempuan dinikahkan dalam usia yang sangat muda, tidak lama sesudah dia mengalami fase pubertas. Tetapi sekarang kita memasuki satu jaman dimana pada usia belasan kematangan secara seksualitas sudah terjadi, tetapi mereka memiliki jarak waktu yang cukup panjang, 10-12 tahun untuk mempersiapkan diri masuk ke dalam pernikahan. Maka sebagai orang tua kita menyadari gap yang panjang itu dan mempersiapkan anak menjalaninya dengan sehat dan benar. Dari awal kita harus mengajar mereka bahwa ada relasi lawan jenis yang lain yang berupa pertemanan dan persahabatan tanpa memasuki relasi pacaran. Itu sebab banyak anak remaja, terutama yang pria, kadang-kadang awkward dan tidak memiliki kesiapan hati membangun relasi yang sehat dengan lawan jenisnya. Begitu dia tertarik dengan seorang gadis, langsung sasarannya adalah ingin menjadikan dia sebagai pacar. Apabila anak laki-laki tidak mempunyai konsep relationship yang lebih luas dalam bentuk pertemanan dan persahabatan, akhirnya mereka menjadi awkward dengan lawan jenisnya. Maka para pemuda, buka horison baik-baik. Tidak selamanya hubungan lawan jenis itu harus menjadikan dia pacarmu. Coba belajar menjalani pertemanan dengan benar. Dengan demikian dia bisa menjalani masa itu dengan membangun relasi sebanyak-banyaknya dengan orang lain, belajar mengerti karakter dan temperamen yang berbeda dan pada akhirnya nanti bisa menemukan seseorang yang dewasa dan matang dan siap untuk menikah dengan dia.

Saya selalu mengingatkan para pasangan di dalam kelas premarital, menikah itu bukan 1/2 + 1/2 = 1 tetapi 1+1=1. Dimana bedanya? Ada orang tua punya pikiran yang keliru, melihat anaknya kurang bertanggung jawab lalu memutuskan untuk mencarikan dia seorang isteri untuk mengurus dia. Itu pikiran yang sangat salah. You tidak mungkin masuk ke dalam pernikahan untuk mengurusi orang lain jika mengurus diri sendiri saja belum mampu. Kita pikir seorang yang malas dan kurang tanggung jawab bisa berubah kalau mendapat isteri yang rajin? Sering kita dengar kalimat seperti ini, ‘let marriage make him better’, ‘let marriage make her better.’ Itu salah. Yang benar adalah, how do you both can make your marriage better. Jangan terbalik konsepnya. Artinya if you can take care of yourself, you can prove yourself as a responsible person, bekerja dengan baik, itu artinya engkau siap untuk memasuki jenjang pernikahan. Pernikahan adalah satu fase dimana kalian berdua sebagai dua orang yang dewasa, bertanggung jawab, matang dan bisa mengurus diri sendiri sekarang saatnya belajar mengisi apa yang dibutuhkan pasangan satu sama lain. Itu artinya 1+1=1. Walaupun akhirnya saya menemukan satu hal yang unik sekali dimana banyak orang menemukan pasangannya karena tertarik dengan dia secara ‘complimentary’ saling mengisi satu sama lain. Tetapi complimentary itu bukan karena saya tidak bisa masak, maka saya berusaha mencari isteri yang pintar masak. Complimentary itu bisa terjadi di antara orang yang bisa jadi bertolak belakang sama sekali. Ada pria yang pendiam dan introvert tertarik dengan wanita yang talkative dan extrovert. Demikian sebaliknya. Tetapi saya ingatkan, kadang kala yang sdr rasa menjadi sumber daya tarik waktu pacaran, bisa jadi akhirnya menjadi sumber keributan di masa pernikahan. Ada wanita yang mengatakan dia tertarik dengan pria itu karena dia seorang yang ‘cool’ sedangkan dia sendiri orang yang emosinya meledak-ledak. Kalau menghadapi masalah, dia panik sedangkan pria itu bisa dengan tenang menyelesaikannya. Setelah 10 tahun menikah akhirnya itu yang menjadi sumber keributan di antara mereka. Suami yan g tadinya ‘cool’ sekarang dianggap sebagai orang yang pasif, apatis dan tidak mau tahu masalah keluarga, tidak mendukung istri yang setengah mati mengurus anak dan rumah tangga. Istri yang tadinya ‘talkative’ sekarang dianggap cerewet dan tukang marah.

Maka saya anjurkan jangan mencari pasangan karena engkau merasa ada kekuranganmu yang bisa dia isi. Sebaiknya bukan karena dia bisa memenuhimu, tetapi engkau sendiri sudah menjadi seorang yang utuh dan sekarang bersedia sacrifice membawa seseorang masuk ke dalam hidupmu untuk bersamamu saling take care satu sama lain. Kalau akhirnya dalam realita pernikahan, hal yang tadinya membuatmu tertarik sekarang akhirnya menjadi sesuatu yang ‘annoying’ tidak menjadikan pernikahan itu kehilangan keindahannya. Ini blue print yang pertama, prinsip yang penting di dalam satu pernikahan yang tidak boleh sdr langgar. Kita keluar dari rumah, memasuki satu pernikahan yang bersifat adult relationship dengan lawan jenis. Itu merupakan relasi yang paling intim dan paling close. Tidak boleh ada relasi lain yang lebih intim daripada itu. Di situ sdr menyelesaikan permasalahan di antara suami istri sebagai dua orang dewasa dan bertanggung jawab.

Blue print kedua yaitu bicara mengenai ‘role’ atau peran kita di dalam pernikahan. Pada waktu Tuhan menciptakan kita dengan gender laki-laki dan perempuan, maka perbedaan gender itu bukan saja berfungsi sebagai complimentary bagaimana terjadinya hubungan seksual yang membawa kepada reproduksi sebagai kesinambungan eksistensi manusia, tetapi fungsi gender itu lebih daripada itu. Analisa memberitahukan kepada kita bahwa gender wanita dengan sendirinya membentuk cara berpikir dan ‘wire’ yang ada di otak kita bersifat feminin. Perbedaan itu akan membawa kepada role yang berbeda antara pria dan wanita. Sebelum terjadi interaksi antara pria dan wanita, kita perlu mengerti perbedaan ini dan mengerti akan role masing-masing sehingga interaksi itu menjadi lebih baik. Karena itulah yang namanya natur. Saya lahir sebagai pria, maka saya punya natur pria di dalam diri saya yang memiliki keunikan dan signifikansi. Demikian sebaliknya dengan istri saya.

Maka hidup pernikahan itu bukan saja menghargai pernikahan itu sendiri sebagai satu relasi yang Tuhan ikat secara permanen sampai kematian memisahkan kita, tetapi itu juga harus menjadi satu relasi yang harus kita kembangkan menjadi fulfill dan indah ketika kita berfungsi sebagai pria dan wanitia, suami dan isteri yang seturut dengan apa yang Tuhan mau. Memang budaya memberikan kesempitan dan keleluasaan di dalam role pria dan wanita, tetapi sekali lagi kita harus menaruh pemahaman role itu di dalam kerangka firman Tuhan. Paulus berkata, “Bagimu sekarang berlaku hal ini: hai isteri, hendaklah engkau menghormati suamimu sebagaimana kepada Tuhan dan suami, kasihilah isterimu seperti engkau mengasihi dirimu sendiri.”

Les Parrott mengatakan pernikahan itu seperti “Love Bank”. It depends on apayang sdr berdua kerjakan di dalamnya. Kita tidak mungkin bisa masuk ke pada satu pernikahan yang sehat kalau bank cinta kita kalau sdr terus melakukan interaksi yang saling menyakitkan itu seperti sdr terus ‘withdrawal’ menarik dana dari bank itu . Tetapi kalau sdr memiliki interaksi yang menyenangkan dan baik, sdr seperti sedang memasukkan deposit ke bank sdr. Kalau sdr mau bank cinta itu penuh, dua belah pihak harus rajin menabung di dalamnya. Sdr mengeluh, ”…Wah, susah pak. Saya yang terus menabung, dia yang terus ambil. Saya mau berbahagia, saya mau menyenangkan, saya terus menabung tetapi dia terus menciptakan interaksi yang menyakitkan sehingga tabungan cinta itu menjadi kosong.” Tergantung sekarang kalian berdua mau menaruh apa di bank cinta itu. Sdr terus menaruh hal yang menyakitkan, itu berarti sdr makin mengosongkan bunga cinta itu. Tetapi kalau sdr mau menaruh hal yang baik dan positif, saya percaya pernikahan itu masih bisa diselamatkan. Artinya, kalau sekarang bunga bank itu sudah negatif, masih ada harapan untuk dipenuhi.

Sekarang saya akan bicara secara spesifik mengenai role wanita sebagai isteri. “Hai isteri, berlaku prinsip ini bagimu: respect and honor your husband as to the Lord.” Ini bukan soal budaya Barat atau Timur. Baik buku konseling Kristen ataupun non Kristen semuanya setuju bahwa salah satu core yang paling penting dan yang paling diinginkan para pria dari isterinya yaitu dihormati dan dihargai. Tiga dari empat pria lebih suka mendapat isteri yang hormat dan respek meskipun kurang cinta dibanding mendapat isteri yang cinta tetapi kurang hormat dan kurang respek kepada suaminya. Berarti ada hal yang penting mengapa suami merasa kebutuhannya kurang terpenuhi padahal isteri merasa dia sudah cukup memperhatikan dan mengasihi suaminya. Alkitab 2000 tahun yang lalu sudah mengeluarkan prinsip ini dan tidak boleh dibalik: hai suami tunduklah kepada isterimu dan hai isteri kasihilah suamimu. Alkitab jelas mengatakan kepada para istri: respek dan hormatlah kepada suamimu seperti kepada Tuhan. Tunduk, respek dan cinta menjadi satu lingkaran yang saling berkaitan satu sama lain, menghasilkan relasi yang sehat atau tidak sehat. Itu sebab Dr. Eggerichs di dalam bukunya “Love and Respect” mengatakan ini menjadi satu lingkaran yang sulit dipecahkan dan jikalau lingkaran itu rusak, perlu keberanian dari salah satu pihak untuk memulai. Biasanya, kalau suami merasa isteri tidak hormat kepadanya, itu akan membuat dia bereaksi menjadi dingin dan kasar kepada isterinya. Kemudian isteri merasa suami yang dingin dan kasar itu menunjukkan suami tidak cinta kepadanya akhirnya bertendensi untuk berlaku kasar kepada suaminya juga. Akhirnya jadi lingkaran setan. Suami, kasihilah isterimu. Bagaimana saya bisa sayang kepada dia yang begitu kasar dan marah-marah melulu? Isteri, hormat dan respeklah kepada suamimu, jangan suka kasar memotong perkataannya. Bagaimana saya bisa hormat kepada dia? Orangnya dingin dan arrogant sekali. Jadi siapa yang harus lebih dulu memulai? Kalau dua-dua tidak mau memulai, tidak akan bisa dibereskan sampai kapanpun. Dua inti ini penting. Isteri memiliki kebutuhan untuk dikasihi oleh suami dan suami membutuhkan hormat dan respek dari isterinya. Isteri berlaku menjadi tidak hormat karena di belakang dia merasa dia ingin sekali suaminya mencintai dia setulusnya. Suami mungkin berlaku dingin dan tidak ada kehangatan kepadamu karena di baliknya dia sangat rindu sekali engkau menghargai sedikit apa yang menjadi pendapat dan penilaian dia. Cuma itu saja.

Mana yang lebih gampang, mengasihi atau menghormati? Bagi sebagian orang, mengasihi lebih mudah daripada menghormati karena kita sudah dipatok dengan konsep ini, kita bisa mencintai secara unconditional tanpa pandang bulu, tetapi untuk menghormati seseorang, kita umumnya menaruh kualifikasi untuk seseorang itu bisa kita hormati. Love is given but respect must be earned. How can I respect my husband? He must earn it. Karena hormat itu mencakup aspek dimana dia perlu melakukan hal-hal tertentu, dia perlu memiliki sifat dan kualifikasi, baru dia berhak mendapatkan hormat dan respek dari aku. Itulah yang sehari-hari kita hadapi, betapa susahnya untuk memberikan penghormatan itu sebab kita sudah terjebak dengan konsep dia harus berusaha mendapatkannya. Maka kita menemukan betapa susahnya satu hidup pernikahan jika sebagai isteri sdr mendapatkan gaji lebih tinggi daripada suamimu dan merasa diri lebih tinggi daripada dia, bagaimana bisa hormat? Mungkin isteri mempunyai bakat dan talenta lebih banyak daripada suami, sehingga sdr rasa bagaimana bisa tunduk sama dia? Mengajar anak matematika, lebih pintar saya. Dia kalau mengajar, salah melulu.

Yang kedua, mengapa wanita sulit menghormati suami? Karena takut makin memberi hormat, kepala kita bisa diinjak suami. Nanti saya dijadikan ‘keset’ rumah tangga. Itu kan realita dosa, pak, kita baik sama orang, kita kasih hati dia mau jantung. Kepada suami juga begitu, kita tidak boleh terlalu hormat karena nanti dijadikan keset kaki dia. Ini konsep yang keliru. Respek tidak berarti isteri jadi budak. Respek tidak berarti posisi kalian menjadi tidak equal.

Yang ketiga, mengapa isteri sulit untuk respek kepada suami? Di dalamnya ada unsur kecewa karena isteri merasa sudah memberi kesempatan tetapi suami membiarkan kesempatan itu berlalu begitu saja. Sehingga akhirnya respek isteri terhadap suami menjadi turun derajatnya. Itu sebab respek menjadi sulit diberikan pada waktu seorang isteri merasa berapa batas dia harus mengampuni suaminya karena suami salah melulu. Hal-hal seperti ini terus diulang sehingga akhirnya isteri jadi kehilangan respek. Jadi respek mengandung aspek lain yaitu kerelaan untuk menerima suami apa adanya walaupun itu tidak seturut dengan ekspektasi kita. Sulit luar biasa. Dua orang memasuki pernikahan kadang-kadang dengan high expectation. Kita pikir dengan menikah kita bisa memiliki hidup yang lebih baik tetapi akhirnya mungkin kita kecewa. Itu sebab kita akan bicara aspek yang lain lagi di dalam hubungan suami isteri dimana pengampunan itu tidak boleh ada batasnya.

Yang keempat, mengapa isteri sulit untuk respek kepada suami? Karena memang wanita itu diciptakan Tuhan memiliki keunggulan daripada pria dimana wanita bisa melakukan segala sesuatu dan di dalam segala hal punya bakat alamiah, termasuk dalam menjadi pemimpin, sedangkan laki-laki perlu proses belajar. Itulah susahnya, karena di dalam mengatur dan memimpin rumah tangga dan bahkan hampir di dalam segalanya wanita itu secara alamiah langsung bisa tanpa perlu diajar. Itu sebab itu kita bisa melihat sejak TK sampai SMP anak perempuan lebih pintar daripada anak laki-laki, lebih bisa memimpin dan mengatur secara alamiah. Maka kita sering melihat isteri yang sangat pandai, mulai dari memasak, mengurus rumah, merawat anak, bahkan budget keuangan dan mengatur jadwal dan detail liburan begitu baik, sehingga di sinilah perlu kerelaan hati bagaimana menjadi pendamping. Suami yang akhirnya kalah cepat, akhirnya jadi kernet. Maka isteri yang baik akan melatih suaminya sampai suatu kali menjadi suami yang cakap dan mahir. Itu artinya menjadi pendamping. Belajar membiarkan suami berkembang, trust kepada judgment-nya, encourage dia menjadi ayah dan suami yang mengatur rumah tangga dengan leadership yang baik. Itulah sikap yang penting dari seorang pendamping yang respek dan submit kepada suami.

Dengar baik-baik firman Tuhan bilang, “Hai isteri, tunduklah kepada suamimu,” bukan ,”Hai suami, tundukkanlah isterimu.” Itu dua hal yang berbeda. Kalau itu dibalik, kita akan melihat ajang pertikaian yang tidak habis-habisnya, pergulatan di dunia persilatan yang tidak ada hentinya. “Enak saja saya harus tunduk kepada suami.” Memang benar, Alkitab tidak bilang hai suami, tundukkanlah isterimu tetapi hai isteri, tundukkanlah dirimu. Jadi inisiatif itu datang dari isteri. Memang itu adalah perintah Tuhan, sehingga kita sekarang melihat relasi isteri yang tunduk bukan relasi karena suami lebih tinggi daripada dia tetapi karena isteri sekarang melihat relasi tunduk itu seperti relasi dia kepada Tuhan. It is your own choice and your own freedom untuk melakukannya dengan sukarela. Jangan pikir saya memaksamu untuk melakukannya dan suami juga tidak boleh bilang, “Isteri, ayo tunduk, taat perintah Tuhan.” Saya hanya mengingatkan sebagai seorang isteri Kristen di hadapan Tuhan, it is now between you and God. Itu sebab sikap tunduk merupakan aspek spiritual. Itu bukan soal power karena tunduk, hormat dan respek bukan soal tarik-tarikan kekuasaan. Tunduk itu merupakan suatu pelayanan spiritual. Mari kita meletakkan kembali satu prinsip penting menjadi seorang wanita dan sebagai seorang isteri di hadapan suami. Isteri menjadi penolong, dan menjadi penolong berarti pernikahan itu tidak berjalan sepihak tetapi suami dan isteri menjadi satu team. Di situ berarti isteri menjadi satu team yang mendukung suamimu. Menjadi satu team berarti pernikahan adalah satu tempat dimana kita saling salib-salib. Isteri bukan kepala tetapi juga bukan leher yang bisa atur suami semau dia. It is a spiritual service. Menjadi pendamping berarti your main ministry to God as a wife is a ministry to your husband and to your children. Jadi melihat role sebagai isteri itu sebagai pelayan Tuhan. Itulah arti kalimat, ‘tunduklah kepada suamimu seperti kepada Tuhan.’ Jangan lagi lihat bagaimana suami dan berhakkah dia menerima respekmu, tetapi sekarang taruh perspektif pelayanan ini. Sekarang waktunya untukmenaruh relasi yang indah dan yang bahagia sebagai seorang isteri yang tunduk dan hormat kepada suami.

Pdt. Effendi Susanto STh.

09 November

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: