Home > Stephen Tong > The Battle of the Ages (Bagian 6)

The Battle of the Ages (Bagian 6)

Kita telah membicarakan abad ke-20 yang bodoh. Sekarang, bagaimana dengan keadaan gereja-gereja yang dibangun dan melayani di abad ini? Pada zaman ini, begitu banyak gereja yang mempunyai banyak pengunjung tetapi tidak berisi theologi. Banyak gereja yang besar telah menghancurkan kebudayaan yang agung dan menggantikan dengan budaya yang rendah dan hina. Budaya pujian yang agung, yang indah, yang diturunkan Tuhan melalui orang-orang seperti Johann Sebastian Bach, George Friedrich Händel, Ludwig van Beethoven, berusaha dibuang dan digantikan dengan lagu-lagu yang tidak bermutu di abad ini. Pujian yang indah ditolak oleh gereja, dan diganti dengan band modern serta lagu-lagu yang merusak moral dan intelektualitas sejati. Saya harus berperang karena begitu banyak orang Kristen sedang dibodohi oleh zaman ini, oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab, termasuk di dalam gereja. Banyak orang Kristen bagaikan anak kecil yang diberi pilihan untuk mendapatkan berlian atau permata plastik yang berwarna-warni, maka dia memilih permata plastik karena berwarna-warni, dan membuang berliannya. Hal ini karena ia tidak mengerti nilai dan kualitas berlian itu. Gejala seperti ini muncul di banyak gerakan Kharismatik saat ini. Mereka tidak suka musik yang bermutu, berita Firman yang bermutu; mereka lebih suka yang berwarna-warni, walaupun hanya berkualitas plastik, ketimbang berlian yang asli.

Jadilah orang yang masih mau dididik, rela untuk dikritik, dan mau belajar, agar lebih mengerti dan lebih bertumbuh! Saya sangat berharap banyak anak muda yang boleh bertobat, lalu berjuang bersama di dalam gerakan yang betul-betul mau peka akan kehendak dan kebenaran Allah tanpa kompromi. Orang-orang bermutu tidaklah banyak. Harap kita bisa menghormatinya dan tidak membuangnya. Bach jangan dibuang, Händel jangan dibuang, Mozart jangan dibuang, Mendelssohn jangan dibuang. Sebelum Bach membuat sebuah kantata, ia selalu berlutut dan berdoa: “Tuhan beri kekuatan kepadaku.” Dan sesudah selesai membuat kantata tersebut, dia menulis: “Soli Deo Gloria, J. S. Bach.” Saya percaya banyak musik yang agung lebih sulit dibuat daripada mempersiapkan khotbah yang agung.

Mari kita melihat dan mengerti abad ke-20 yang sudah lewat. Komunisme telah membawa kebangkrutan, Eksistensialisme telah memberikan kekosongan, Rasionalisme dan Scientisme telah membawa kehancuran dunia. Dan kebodohan yang paling bodoh dari abad ke-20 adalah: membuang firman. Abad ke-20 menghina firman Tuhan, menafsir sembarangan, mengganti firman dengan mimpi-mimpi dan berbagai bayangan-bayangan manusia, mengganti firman dengan keyakinan diri, iman positivisme, dan semangat mistik.

Di dalam kitab Ulangan Tuhan berkata, “Tetapi seorang nabi, yang terlalu berani untuk mengucapkan demi nama-Ku perkataan yang tidak Kuperintahkan untuk dikatakan olehnya, atau yang berkata demi nama allah lain, nabi itu harus mati.” Yang memerintahkan kita untuk berperang bukanlah manusia, tetapi Allah sendiri. Kita harus berperang karena perintah Tuhan. Jika Saudara mengasihi Tuhan, jangan sembarangan menafsirkan Alkitab, jangan memutarbalikkan, mengeksploitasi, dan memanipulasi Firman Tuhan demi memuaskan keinginan dan pikiran manusia. Dari mana ada ajaran Alkitab yang menyatakan bahwa kalau seorang dipenuhi Roh Kudus akan jatuh telentang dan kejang-kejang? Kapan dan di mana Alkitab menunjukkan bahwa orang yang dipenuhi Roh Kudus tertawa berjam-jam tanpa kesadaran diri? Begitu banyak penipuan melanda gereja pada masa kini. Kita tidak boleh menjual hak sulung kebenaran firman Tuhan demi mendapatkan market. Orang membujuk saya untuk tidak terlalu keras melawan, karena ada semangat oikumene. Tetapi itu bukan kebenaran Allah. Peperangan harus terus berjalan, bahkan jika mungkin, kaum pilihan pun mau dijatuhkan dan dikalahkan. Kebenaran Allah tidak bisa dikompromikan.

Seorang Kristen yang kaya mau berinvestasi di Cina, dan saya katakan kepadanya agar tidak terlalu percaya. Kemudian dia membuat perjanjian bahwa ia akan membangun banyak rumah sakit dan menunjang semua keperluan medisnya, tetapi dengan satu syarat, yaitu diizinkan mendirikan “Christian Tibet Hospital.” Pemerintah Cina setuju. Setelah semua dibangun, ketika peresmian, nama “Christian” dicabut, dan tersisa hanya “Tibet Hospital.” Ini namanya pandai, dan sekaligus licik luar biasa. Inilah Komunisme, inilah Atheisme. Dunia seperti ini hanya mau keuntungan dan bukan kebenaran. Celakanya banyak orang Kristen dan gereja Kristen juga sama: mau keuntungan dan bukan kebenaran. Banyak pemimpin gereja mengatakan kepada saya, jika pakai cara Pak Stephen Tong, tidak bisa mendatangkan banyak orang. Bagi saya, kalau tidak mau datang untuk bertobat, lebih baik tidak usah datang. Kalau kita tidak mau memberitakan Injil dengan sungguh, tidak ada anak-anak rohani yang kita lahirkan.

Ketika masih pemuda, saya pernah berjanji dalam satu tahun akan menyebarkan 5.000 traktat. Saya pakai uang saya sendiri untuk membeli traktat, lalu mau membagikannya. Saya naik kereta dari Surabaya ke Pasuruan, supaya saya bisa membagi traktat di kereta. Setelah saya berdoa minta kekuatan dari Tuhan, di hadapan saya duduk seorang dengan kumis yang tebal, alisnya hitam luar biasa, polisi bintang dua. Saya gemetar. Saya mau beritakan Injil, tetapi kenapa pertama-tama harus berhadapan dengan orang yang sedemikian galak. Tetapi Tuhan mengingatkan saya bahwa di dalam kasih tidak ada ketakutan. Kalau mengasihi dia, apakah kita menginginkan agar dia menerima keselamatan? Lalu saya berdiri, traktat pertama saya berikan kepada polisi galak tadi dan berkata, “Bapak silakan baca Yesus Juruselamat dunia.” Saya mengira dia akan membentak saya lalu menyeret saya turun dari kereta api. Ternyata dugaan saya salah. Ternyata polisi itu menerima dan berkata terima kasih. Saya baru tahu bahwa orang galak ketika tersenyum manisnya luar biasa. Pertama kali saya sadar polisi itu sopan sekali, sekalipun kelihatannya galak. Lalu dia mulai membaca. Saya mulai lebih berani, saya membagi terus traktat satu persatu, gerbong demi gerbong semua dibagi. Hari itu ratusan traktat yang saya bagi. Saya adalah seorang yang dilahirkan minder dan penakut, karena saya seorang yang tidak memiliki ayah sejak usia tiga tahun. Hidup saya begitu susah. Tetapi Tuhan membentuk saya menjadi orang yang berani luar biasa. Lalu, dari manakah kuasa peperangan itu bisa kita dapatkan?

Pertama, kuasa ada pada panggilan urapan konfirmasi dari Tuhan sendiri. Jika Engkau berperang sendiri, tidak disertai oleh Tuhan, tidak diurapi oleh Tuhan, tidak jelas panggilan Tuhan, pasti engkau gagal. Kita perlu sungguh-sungguh menyadari panggilan Tuhan dan menanti konfirmasi-Nya yang jelas, agar kita tidak berperang sendiri. Banyak pendeta kurang sadar dan kurang konfirmasi mengenai hal ini, sehingga mereka kehilangan kuasa yang sejati.

Kedua, kuasa datang dari hidup suci. Kalau engkau hidup suci, perkataan Saudara mengandung kuasa. Kalau hidup saudara berkompromi, najis, berzinah, tamak, korupsi, maka tidak mungkin ada kuasa rohani yang menyertai saudara. Saya berharap suatu hari ada satu laskar pemuda-pemudi hasil NREC[1] yang mengabdi menjadi orang suci sebagai alat di dalam tangan Tuhan yang dibersihkan.

Andrew Gih seorang yang dipakai Tuhan untuk memanggil saya menjadi hamba Tuhan. Saya sudah mendengar khotbahnya sebanyak lebih dari 200 kali sejak usia 12 tahun. Andrew Gih mengatakan, “Jikalau engkau pulang, dan di rumah ada gelas emas, ada gelas perak, ada gelas kayu, ada gelas tanah liat, tetapi yang emas kotor, yang perak dalamnya hitam, yang kayu dalamnya ada kotoran burung, hanya yang paling murah yaitu yang dari tanah liat yang bersih baru dicuci, engkau menggunakan yang mana?” Saya baru sadar Tuhan senang memakai “perabot” yang bersih. Pemuda-pemudi yang begitu mudah jatuh dalam dosa seks, melihat satu dua kali VCD porno lalu mencari pelacur, lalu tetap memakai jas dan berdasi ke gereja menjadi anggota paduan suara, celakalah engkau! Jikalau tidak menuntut kesucian tak mungkin berperang bagi Tuhan. Berdiri di pinggir orang suci bisa takut, tapi orang suci yang hanya mementingkan diri itu tidak berguna. Orang suci yang bisa mengalirkan kesuciannya kepada orang lain dan tetap mempunyai cinta kasih kepada orang yang lebih rendah dari dia, itulah orang yang mirip Yesus Kristus. Siapa orang suci? Orang suci adalah orang yang hanya punya satu niat yaitu mau menyenangkan hati Tuhan. Ketika kita hidup dan melayani, kita mau seluruh hidup kita memperkenan hati Tuhan. Itulah kesucian hidup.

Ketiga, kuasa dari firman itu sendiri. Khotbah yang hanya teori manusia belaka, tidak akan memberikan kuasa rohani. Keitka saya mengkhotbahkan firman Tuhan, perintah, janji, nasehat, dan teguran Tuhan, meskipun tidak enak didengar, setiap kalimat mengandung kuasa Tuhan. Tuhan meminta kita untuk terus berjuang. Kita harus menghemat dan menekan waktu kita. Saya merasa bahwa waktu-waktu saya begitu diperas, tetapi kita mengerjakan hal yang bermakna. Squeeze the time. Itulah yang menjadi moto hidup saya. Banyak pendeta tidak mau bekerja seperti saya.

Keempat, kuasa dari urapan Roh Kudus yang memenuhi seseorang. Roh Kudus memenuhi seseorang, karena orang ini memberikan seluruh hidupnya kepada Kristus. Pengertian kepenuhan Roh Kudus saat ini sudah banyak diselewengkan oleh orang Kharismatik dan pengertiannya sudah dirusakkan oleh ajaran-ajaran yang salah. Orang berpikir, kalau penuh Roh Kudus akan tertawa-tawa di lantai, atau berbicara yang tidak dimengerti dan tidak sadar, atau goyang-goyang, bahkan berteriak-teriak. Alkitab menyatakan bahwa ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, pasti orang tersebut menjunjung tinggi salib, ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, orang tersebut pasti memberitakan Alkitab, ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, orang tersebut pasti hidup suci, ketika Roh Kudus memenuhi seseorang, pasti orang tersebut memiliki buah Roh Kudus. Pengertian yang mutlak seperti ini tidak banyak diajarkan.

Saudara-Saudara, peperangan kita sangat sengit, peperangan kita sangat besar dan kita perlu ingat bahwa Indonesia bukan negara Kristen. Tuhan ingin kita bersaksi di tengah-tengah bangsa ini. Maka perlu ada orang yang bersaksi bagi Tuhan. Bersaksi bagi Tuhan harus dengan keberanian. Dan kuasa keberanian diberikan Tuhan kepada orang yang ada panggilan, orang yang hidup suci, orang yang menjunjung tinggi Firman, orang yang hatinya bersih, orang yang hatinya penuh dengan cinta kasih dari Tuhan Yesus. Maukah Saudara ikut berperang? Maukah kita membuat setan takut kepada pelayanan kita? Orang yang betul-betul berfungsi sebagai saksi Tuhan yang baik, Allah memperkenan dia mendapat berkat sekalipun begitu lelah, dan memberikan penghiburan dan sukacita kepadanya. Seorang yang tidak beres pelayanannya dibiarkan oleh setan, diampuni oleh pimpinan gereja, dan ditepuk-tangani oleh banyak orang atau pesuruh-pesuruh Iblis, dan dibiarkan oleh Tuhan. Jikalau kita melayani sampai Tuhan membiarkan kita, pasti setan senang, dan orang Kristen mengampuni kita. Itu berarti kita gagal total. Jika kita menjadi hamba Tuhan, menjadi saksi Kristus yang diperkenan Tuhan, pasti setan benci kepada kita, berusaha menghancurkan dan menyerang kita. Maukah engkau dipakai Tuhan menjadi hamba Tuhan yang setia, baik, dan berkuasa? Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Juni 2007

 


[1] National Reformed Evangelical Convention, sebuah konvensi nasional dari Gerakan Reformed Injili setiap tahun, untuk menggugah dan mengajarkan kebenaran Alkitab seturut Theologi Reformed. Acara ini diikuti sekitar 1200 peserta dari seluruh Indonesia, bahkan dari luar negeri.

Categories: Stephen Tong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: