Home > Stephen Tong > What is a Revival ? (Bagian 2)

What is a Revival ? (Bagian 2)

Kita telah membicarakan mengenai kebangunan rohani. Tuhan adalah Tuhan yang membangun manusia. Tuhan adalah Tuhan yang menyegarkan jiwa manusia yang ditebus dan yang dipilih oleh Dia. Gereja tanpa penyegaran dari Tuhan tidak mungkin hidup secara normal. Orang Kristen tanpa penyegaran yang terus-menerus dari Tuhan tidak mungkin hidup dalam jalan yang benar. Mengapa di Indonesia kita tidak melihat kebangunan besar terjadi? Kita perlu berdoa dan berjuang agar boleh terjadi kebangunan sejati. Jika kebangunan itu terjadi, apakah hal-hal yang akan menandai atau terlihat?

Bagaimana Kita Mengetahui Suatu Kebangunan Rohani Sejati?

Kebangunan rohani selalu dimulai dari beberapa orang yang menerima kebangunan pertama. Elia pertama-tama melihat kuasa Allah, lalu ia berani berkata kepada Ahab bahwa jika ia tidak berdoa, maka hujan tidak akan turun selama tiga setengah tahun. Ahab merasa memiliki kuasa politik besar, sehingga ia merasa lebih kuat, tetapi akhirnya ia harus mengakui bahwa ia tidak bisa berkutik di hadapan kuasa Allah. Akhirnya 400 orang nabi Baal dibinasakan oleh Elia. Elia telah mendatangkan kebangunan besar di gunung, di mana mereka berdoa mendatangkan api dari langit. Elia berdoa dan api Allah menyambar korban yang dipersembahkan. Maka kebangunan terjadi saat itu. Orang Israel diajak menerima tantangan Elia yang berkata, “Jikalau Yehova adalah Allah, mengabdilah kepada Yehova; jikalau Baal adalah Allah, mengabdilah kepada Baal. Sampai kapan hatimu bercabang?” Seluruh kebangunan terjadi pada hari itu, setelah air yang lebih mahal dari emas dibuang habis oleh Elia. Elia bertindak seperti orang gila; dia bertindak melawan logika; tindakannya tidak dimengerti oleh manusia.

Karena tiga setengah tahun tanpa hujan, maka air yang tersisa menjadi lebih mahal dari berlian. Air itu kini ditumpahkan semua oleh Elia di mezbah untuk membuktikan bagaimana pun basahnya, api akan tetap menghanguskan korban yang dipersembahkan. Tuhan ingin kita menyerahkan semua yang tersisa dengan sungguh-sungguh untuk menjadi korban demi kehendak Tuhan. Apakah air itu habis? Tidak. Tuhan akan menurunkan air berjuta-juta kali lebih banyak dari apa yang dituang.

Kebangunan dan Pengorbanan

Kita menginginkan kebangunan; kita menunggu kebangunan; kita berdoa minta kebangunan. Tetapi satu hal kita tidak mau lakukan—berkorban. Sama seperti orang Israel berkata, “Mesias datanglah….” Tetapi setelah Mesias itu datang, mereka mempertanyakan, mereka menyangkal dan bahkan mereka menyalibkan Dia. Demikian juga gereja yang meminta kebangunan gereja. Banyak doa memohon kebangunan gereja adalah doa yang munafik, karena yang meminta kebangunan tidak mau membuang air yang terakhir, tidak mau berkorban. Orang yang berdoa meminta kebangunan adalah orang yang terus mempertahankan kehendak dan kepentingan diri, dan tidak menyerahkan diri. Kita ikut retreat, ikut kebaktian, kita mendengar khotbah, mendengar kesaksian, tetapi siapa yang berkata, “Saya mau pergi mengabarkan Injil?”

Kita menginginkan kebangunan, tetapi kita tidak mau berkorban. Itu omong kosong! Itu pura pura, egois, dan hanya berpusat pada diri sendiri. Kita hidup menipu Tuhan. Jika saya masih memiliki banyak air mata, saya akan terus berlinang-linang menangisi zaman ini, menangisi hidup kita, menangisi keegoisan kita. Setiap kali saya mendengarkan orang berkorban, mendengar orang mengabarkan Injil, mendengar orang yang meninggalkan keluarga, rumah, negara, dari jauh melintasi gunung, laut, hutan pergi ke tempat di mana dia harus belajar bahasa yang baru, masuk dalam tempat yang berbahaya, saya ingin menangis. Sudah ada dua misionaris yang berkata kepada saya sebelum mereka naik pesawat terbang, “Saya kecewa di Indonesia, karena setelah studi di dua sekolah khusus untuk pengertian Islamologi, mendapatkan gelar Master, mempelajari penginjilan lintas budaya, lalu waktu masuk ke dalam pelayanan misi, ternyata saya dilarang memberitakan Injil kepada orang Islam oleh badan misi di mana saya bergabung.” Bukankah misi datang untuk mengabarkan Injil? Tetapi justru misi itu ketakutan pemerintah menutup kantor mereka, maka mereka hanya diminta ke dalam gereja yang ada dan menjadi pendeta di situ. Mereka tidak diperkenankan menyentuh atau menginjili orang Islam yang belum mendengar Yesus Kristus.

Orang yang mengabarkan Injil adalah orang yang membayar harga. Mereka menanti dan melihat kebangunan itu sungguh-sungguh terjadi. Ketika air yang lebih berharga daripada emas dibuang habis barulah air hujan turun untuk memberikan air yang berlimpah kepada kita. Ketika Elia tidak takut dibunuh, barulah dia mempunyai kekuatan untuk membunuh 400 orang nabi palsu. Jikalau dia sendiri tidak berkorban, tidak mungkin dia melihat Tuhan mengaruniakan satu lembar baru untuk kerajaan dan untuk umat-Nya. Apa yang digerakkan dan apa yang dikerjakan adalah kita mau melihat adanya lembaran baru di dalam sejarah Indonesia.

Apa yang Terlihat Ketika Kebangunan Itu Hadir?

1. Ada visi sejati. Kebangunan sejati datang dari visi yang benar dari Tuhan. Visi adalah suatu sharing Tuhan Allah untuk membukakan rahasia rencana kekal-Nya dan apa yang Ia mau kerjakan di bumi bagi umat-Nya. Visi berarti kita melihat rencana kekal Allah yang sejati. Kebangunan rohani harus dimulai dari visi ini. Tanpa visi, rakyat akan binasa; tanpa visi, rakyat menjadi buta; tanpa visi, manusia hidup secara rutin dan tidak mempunyai arah. Karena itu, visi menghidupkan anak-anak Allah, visi mengarahkan hidup anak-anak Allah, dan visi memberikan kekuatan di dalam pelayanan anak-anak Allah.

2. Ada Firman sejati.

Kebangunan sejati terjadi ketika kita kembali mendengar suara dari Firman Tuhan untuk mengarahkan apa yang dilihat. Apa beda budaya Yunani atauHelenistik dengan budaya Ibrani? Budaya Helenistik adalah budaya penelitian untuk melihat alam, sedangkan budaya Ibrani adalah budaya mendengarkan interpretasi wahyu Allah atas dunia ciptaan. Tuhan minta orang-orang di dunia melihat apa yang dicipta, tetapi Tuhan berbicara kepada orang-orang pilihan-Nya. Bahagia paling besar di dunia adalah boleh mendengar Firman Tuhan yang keluar dari mulut Tuhan Allah sendiri. Untuk mengerti dan mengintepretasi segala sesuatu yang dicipta dalam alam hanya mungkin ketika supra alam memberikan kepada kita bijaksana untuk mengertinya. Itulah sebabnya, hal kedua, kebangunan terjadi karena mendengarkan Firman yang mengandung makna untuk mengerti isi hati Tuhan dan untuk memberikan kunci interpretasi mengerti segala yang diciptakan. Jikalau tidak mendengar dulu Firman Tuhan yang benar tidak mungkin ada kebangunan rohani yang sejati.

3. Ada iman sejati.

Kebangunan membentuk iman kepercayaan yang sejati. Di mana ada kebangunan sejati, di situ terjadi pengajaran doktrin yang benar. Kalau tidak kembali kepada doktrin yang benar tidak akan terjadi kebangunan yang sejati. Doktrin atau pengajaran iman yang benar akan membentuk iman kepercayaan yang sejati. Inilah ciri ketiga dari kebangunan: iman kepercayaan.

4. Ada pemikiran sejati.

Kepercayaan sejati akan disusul dengan pemikiran-pemikiran yang benar. Secara metodologi studi, definisi saya mengenai iman adalah kembalinya rasio untuk setia kepada kebenaran. Rasio yang suka memberontak harus kembali dan tunduk di bawah kebenaran, itulah iman. Kesetiaan kekuatan pikiran kembali kepada kebenaran, disebut sebagai iman. Di mana kebangunan rohani terjadi, di situ orang berhenti berbuat dosa; di mana kebangunan rohani terjadi, di situ dosa dibasmikan. Manusia mulai belajar saling mengasihi, belajar hidup suci, belajar membantu orang lain, belajar jujur, berhenti korupsi, belajar untuk berhenti dari segala dosa dan perbuatan yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Di mana kebangunan rohani terjadi, kelakuan etika masyarakat dan moral rakyat meningkat. Jika kebangunan terjadi maka hal-hal tersebut akan terjadi dimana-mana. Di mana ada kebangunan rohani sejati, di sana ada perubahan moral menuju kesucian, keadilan, dan kebajikan.

Kiranya tanda-tanda kebangunan rohani yang sejati ini boleh terlihat di dalam dunia kita sekarang ini, karena Allah telah memberikan kebangunan kepada kita. Amin.

Pdt. Dr. Stephen Tong

Mei 2006

Categories: Stephen Tong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: