Home > Stephen Tong > Doktrin Roh Kudus (Bagian 5 – habis)

Doktrin Roh Kudus (Bagian 5 – habis)

Allah Tritunggal adalah Allah yang Mahaesa. Allah Tritunggal adalah Allah satu-satunya yang ber-Ada. Di luar Allah Mahaesa tidak ada Allah lain yang dikenal oleh orang Kristen. Orang Kristen mengenal Tuhan Allah di dalam diri Kristus yang membawa kita masuk ke dalam pengenalan terhadap Bapa-Nya. Yesus berkata bahwa tanpa Anak, tidak ada seorang pun datang kepada Bapa. Tanpa Anak yang mewahyukan Bapa, tidak ada seorang pun yang mengenal Bapa. Yang ada Anak, ada Bapa, yang tidak ada Anak, tidak ada Bapa. Sebagaimana Allah Bapa rela memperkenalkan Anak-Nya kepada manusia, maka sewaktu Anak-Nya dikirim ke dalam dunia, Dia rela memperkenalkan Bapa kepada umat-Nya. Melalui Anak, kita kembali kepada Bapa. Kristus sendiri berkata, “Aku datang dari Bapa dan masuk ke dalam dunia ini, dan Aku meninggalkan dunia ini kembali kepada Bapa.”

Setelah Kristus kembali kepada Bapa, lalu Bapa dan Kristus mengirim Roh Kudus. Kristus lahir dari Bapa di dalam kekekalan, Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak juga di dalam kekekalan. Istilah-istilah ini tidak bisa diganti dan tidak ada persamaan antara Pribadi Kedua dengan Pribadi Ketiga. Kalau Pribadi Kedua disebut Anak Allah yang tunggal, berarti satu-satunya yang boleh disebut Anak adalah Yesus Kristus. Apakah Roh Kudus adalah anak kedua? Tidak bisa, karena jika demikian Yesus bukan Anak Tunggal Allah. Roh Kudus bukan anak, tetapi Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Yesus adalah satu-satunya yang dilahirkan oleh Allah Bapa, tetapi Roh Kudus juga adalah Allah karena kelahiran meneruskan genetika dan menjadi satu kesinambungan sifat hidup. Yesus adalah Anak Allah yang tunggal, berarti Allah hanya melahirkan yang tunggal dan yang dilahirkan bersifat sama dengan yang melahirkan. Itu sebabnya Allah Bapa dan Allah Anak mempunyai sifat ilahi yang sama.

Bagaimana kita dilahirkan oleh Allah Roh Kudus? Alkitab mencatat, “Jikalau engkau bukan diperanakkan pula oleh Roh Kudus, engkau tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Dilahirkan oleh Roh Kudus berbeda dari dilahirkan oleh Allah Bapa. Yesus bukan ciptaan, tetapi kita adalah ciptaan. Maka, ciptaan yang dilahirkan kembali tidak pernah dilahirkan sebelumnya oleh Allah Bapa maupun oleh Allah Roh Kudus. Dengan demikian, Yesus tetap adalah satu-satunya Anak Allah yang tunggal, yang dilahirkan oleh Bapa di dalam kekekalan. Manusia dilahirkan oleh manusia dan manusia melahirkan manusia. Maka, yang dilahirkan identik dengan yang melahirkan. Inilah artinya anak. Tikus melahirkan tikus, tidak mungkin kucing melahirkan tikus. Maka, yang dilahirkan dan yang melahirkan memiliki natur yang sama. Yesus lahir dari Bapa, maka Ia bersifat ilahi. Ketika kita dicipta oleh Allah, seluruh esensi dan substansi kita adalah ciptaan. Kita bukan pencipta. Ketika kita dilahirkan kembali, dilahirkan dari atas, berarti ada hidup yang surgawi yang dikaruniakan kepada kita. Kita dicipta dengan sifat kekekalan melalui kelahiran baru kita sehingga kita boleh hidup bersama Tuhan di dalam kekekalan. Jadi, kita adalah anak adopsi, berbeda dengan Yesus yang adalah Anak Allah. Maka, manusia secara status adalah ciptaan dan di dalam kerohanian, kita adalah orang-orang yang dilahirkan kembali menjadi anak-anak Allah. Dengan demikian, status kita sebagai anak-anak Allah tidak bisa dipersamakan dengan Yesus sebagai Anak Allah.

Seperti sebuah akta yang bisa ada fotocopy-nya. Fotocopy yang sudah dilegalisir bisa dianggap setara dan sama dengan akta aslinya. Secara fisik, kita melihatnya berbeda, tetapi secara isinya adalah sama. Isi fotocopy itu sama dengan yang asli, tetapi ia tetap berbeda karena bukan aslinya. Sekalipun manusia dicipta menurut peta dan teladan Allah, dan ada kesamaan sifat dengan Allah yang direfleksikan di dalam ciptaan, manusia tetap bukan Allah. Kita dipanggil oleh Tuhan, diberikan kelahiran baru dan diadopsi menjadi anak-anak Allah. Kita tidak ada di dalam kekekalan sebelum kita berada. Kita tidak bereksistensi sebelum kita dicipta. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus mempunyai sifat kekekalan yang tidak perlu permulaan, sedangkan kita baru ada setelah kita dicipta. Seluruh ciptaan baru berada setelah diciptakan.

Namun, manusia berbeda dari binatang dan tumbuh-tumbuhan. Ketika binatang dan tumbuhan mati, mereka menjadi tidak berada. Manusia setelah dicipta menjadi berada dan setelah itu ia dibubuhi kekekalan sehingga ia tidak bisa menjadi tidak berada lagi. Di situ manusia bersifat kekal. Kekekalan manusia ini berbeda dengan kekekalan Allah karena kekekalan Allah adalah kekekalan yang tidak pernah perlu dicipta dan tidak memerlukan permulaan. Kekekalan manusia adalah kekekalan yang dicipta dan kekekalan manusia mempunyai permulaan tetapi tidak ada akhir. Maka, secara kualitatif kita tidak boleh membandingkan sifat manusia dengan sifat ilahi Kristus yang keberadaan-Nya dari kekal sampai kekal pada diri-Nya dan dilahirkan di dalam kekekalan oleh Allah Bapa.

Banyak orang yang bukan saja tidak mengerti doktrin Allah Tritunggal, bahkan berusaha merusak kepercayaan Allah Tritunggal, seperti: Unitarianisme yang berasal dari New England, USA, di daerah Boston dan sekitarnya; Saksi Yehova yang tidak percaya kepada Allah Tritunggal; Pemahaman Theologi Liberal, yang dimulai semenjak Friedrich Daniel Ernst Schleiermacher, Adolf von Harnack, Ferdinand Christian Bauer, Johann Wilhelm Herrmann. Sampai sekarang kaum Liberal tidak percaya doktrin Allah Tritunggal.

Sebagai orang Reformed, meskipun dengan rasio yang terbatas kita tetap harus mau mengerti firman Tuhan dengan tuntas. Sampai akhirnya kita mendapatkan pengertian firman Tuhan yang lebih mendalam dari kemungkinan kita bisa mengerti. Dan itu membuat kita menyembah Dia serta berkata: “Kebenaran-Mu sungguh melampaui kemampuan pengertian kami. Kami menyembah-Mu. Engkau adalah Allah yang melampaui pengetahuan manusia.”

Allah Bapa ada dari kekal sampai kekal, demikian pula Allah Anak dan Allah Roh Kudus. Yang sulit dimengerti adalah mengapa di dalam kekekalan Allah yang Esa bisa berpribadi Tiga. Allah Bapa melahirkan Anak di dalam kekekalan. Kalimat ini tidak mudah dijelaskan. Allah Anak adalah Anak Tunggal, maka Roh Kudus tidak boleh memakai istilah Anak Allah. Karena itu, Roh Kudus tidak bisa dikatakan dilahirkan dari Allah Bapa. Maka, di sini ada istilah yang khusus: Yesus Kristus dilahirkan dari Bapa, tetapi Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Penggunaan istilah ini dengan tegas sekali dibedakan dalam ajaran Athanasius. Ajaran ini merupakan suatu ajaran ortodoks yang dipercayai oleh gereja yang sungguh-sungguh sejak zaman Agustinus. Gereja Katholik percaya akan hal ini, demikian juga para Reformator. Tetapi gereja Orthodoks Timur tidak mau mempercayai ajaran ini sehingga terjadi Skisma (Perpisahan) Besar sejak tahun 1033. Pusat gereja di Barat adalah Roma (Roma Katholik) sementara pusat gereja di Timur ini adalah Konstantinopel (Gereja Orthodoks Timur), yang kemudian pada tahun 1453 direbut oleh tentara Islam dan semua gereja dijadikan mesjid. Akhirnya, orang Islam menguasai wilayah Turki di mana terdapat tujuh gereja yang dicatat dalam Kitab Wahyu.

Konstantinopel adalah pusat pemerintahan sejak Kaisar Konstantin Agung memerintah. Ia memindahkan pusat pemerintahan dari Roma ke Konstantinopel. Konstantinopel berasal dari kata “Konstantin” dan “Polis”. Polis berarti “kota” Konstantinopel berarti “kota dari Konstantin”. Kota itu dimulai sejak abad ke-4 dan bertahan selama 1.100 tahun sebelum jatuh ke tangan orang Islam. Kota ini jatuh karena dihancurkan oleh meriam terbesar sepanjang sejarah. Teknologi orang Islam sebenarnya jauh di belakang orang Kristen, tetapi mengapa mereka bisa memiliki meriam terbesar seperti itu? Jawabannya adalah karena meriam itu dipesan dari orang Kristen. Orang Kristen membuat meriam yang sangat besar untuk menghancurkan orang Kristen sendiri. Sejak tahun 1033, kerajaan Timur tidak merasa perlu untuk tunduk di bawah Barat. Gereja Barat tidak mau mengakui gereja Timur sehingga mereka menyebut diri mereka sebagai Gereja yang Am (Katholik) dan berpusat di Vatikan, Roma. Sebenarnya, arti dari gereja yang kudus dan am adalah semua gereja secara universal yang meliputi semua gereja, baik Katholik, Orthodoks, Injili, Karismatik, Methodist, Presbiterian, Lutheran, Baptis, Anglikan, dll. Tetapi masing-masing gereja ini memiliki banyak perbedaan sehingga perlu untuk dipersatukan. Sebenarnya, yang membawa seluruh kekristenan kembali kepada hati dan kesetiaan untuk taat kepada seluruh Kitab Suci adalah Theologi Reformed, yang sekarang ini justru mau dibuang oleh banyak gereja. Banyak gereja hanya mau mempertahankan ajaran mereka masing-masing, tidak mau sungguh-sungguh kembali taat secara komprehensif (menyeluruh) dengan segenap jiwa kembali kepada Alkitab.

Pada tahun 1033, terjadi perpecahan gereja karena doktrin Roh Kudus. Tepatnya mengenai pendapat Roh Kudus dari mana. Eastern Orthodox berkata, “Kami percaya Roh Kudus keluar dari Allah Bapa.” Roma Katholik tidak setuju. Mereka berkata, “Kami percaya Roh Kudus keluar dari Allah Bapa dan Allah Anak.” Masing-masing mempertahankan pendapatnya sehingga terjadi Skisma Besar. Gereja Barat mempertahankan bahwa Roh Kudus dari Allah Bapa dan Anak karena mereka mendapatkan pengajaran ini dari seorang Bapak gereja yang agung luar biasa, yaitu Augustinus. Di dalam doktrin yang ditulis oleh Agustinus, ada satu disertasi yang penting, yaitu On Trinity. Istilah Trinity (Tritunggal) tidak ada di dalam Kitab Suci. Istilah Trinitas pertama kali dipakai oleh seorang yang bernama Tertulianus. Tertulianus menyatakan Allah Tritunggal karena Allah Bapa adalah Allah, Anak juga adalah Allah, dan Roh Kudus adalah Allah. Itulah alasan kita percaya bahwa Allah itu Tiga Pribadi dalam Satu Esensi. Ketiga Pribadi itu adalah Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus. Ketiga Pribadi yang berbeda itu adalah Satu Allah secara substansi. Agustinus menegaskan bahwa Roh Allah adalah Roh dari Anak. Roh Allah keluar dari Allah sendiri dan Roh Anak juga keluar dari Anak sendiri. Maka, Allah Bapa dan Allah Anak, kedua Pribadi ini merupakan sumber bagi Pribadi yang ketiga. Gereja Timur tidak menerima konsep ini sehingga perpecahan terjadi sampai sekarang. Memecahkan sesuatu itu mudah tapi mempersatukan tidak mudah. Ingat kalimat ini!

Pada abad ke-16, terjadi perpecahan lagi yang dikenal sebagai Reformasi. Reformasi keluar dari Katholik Roma. Ini adalah perpecahan kedua kali yang terbesar di dalam sejarah. Perbedaan dari kedua perpecahan ini adalah bahwa Martin Luther, Calvin, Theodore Beza, Bullinger, Melanchton, William Farel, John Hus, John Knox, dan John Wycliff melakukan reformasi karena gereja Roma Katholik pada saat itu semakin menyeleweng. Mereka bukan mau pecah melainkan mau kembali kepada ajaran asli Alkitab.

Sampai ke abad ke-20, secara tanpa sadar terjadi perpecahan yang lebih besar lagi. Pada permulaan abad ke-20, timbul aliran Pantekosta dan Karismatik. Kali ini tidak disebut perpecahan tetapi perbedaan yang begitu besar mengakibatkan penyelewengan yang sangat besar. Sayap-sayap Pantekosta semakin lama semakin menyeleweng dari firman Tuhan. Oleh karena itu, kita tidak bisa dan tidak boleh melihat gejala lalu mengambil kesimpulan secara gegabah. Pandangan tentang Roh Kudus sekarang menjadi berbeda-beda. Perbedaan doktrin ini dimulai dari pandangan Allah Tritunggal disambung dengan doktrin Kristologi dan Pneumatologi. Gereja Advent, saksi Yehova, Mormon, dianggap bidat karena penyelewengan ajaran dalam hal Kristologi. Gereja Pantekosta dianggap ekstrim karena penyelewengan dalam doktrin (ajaran tentang) Roh Kudus.

Kita percaya bahwa Roh Kudus keluar hanya dari Allah Bapa dan Allah Anak. Istilah “dan Anak” dalam bahasa Latin adalah ‘filioque’. Pemberian terbesar Tuhan Allah kepada umat manusia adalah mengirim Kristus ke dunia. Orang-orang yang tidak sadar akan hidup kerohaniannya dan hanya hidup untuk mengejar materi, menganggap pemberian terbesar Tuhan adalah harta dan kekayaan sehingga menimbulkan Theologi Kemakmuran. Untuk mendapatkan materi, mereka memakai Tuhan sebagai media. Mereka memperalat Allah untuk mencapai sasaran materi. Padahal tujuan terakhir kita adalah bersatu dengan Allah dan materi hanyalah media. Jangan memperalat Tuhan Allah untuk mencapai materi yang jauh lebih rendah dari Tuhan. Kita selalu menganggap sasaran tertinggi adalah Tuhan Allah. Tujuan terakhir hidup manusia adalah memuliakan Allah (Soli Deo Gloria). Dunia ini hanya merupakan suatu media. Kalau saya mempunyai tubuh yang kuat, bukan minta kepada Tuhan agar saya bisa menikmatinya, tetapi sebaliknya minta kepada Tuhan agar diberikan kekuatan tubuh supaya boleh melayani Tuhan dengan baik. Kita tidak boleh memperalat Tuhan untuk kekayaan dengan berkata, “Tuhan, kalau Engkau memberikan kekayaan kepadaku, aku akan mengabdi pada-Mu.” Apapun yang engkau miliki, yang engkau minta, yang engkau kuasai haruslah untuk memuliakan Tuhan dan menggenapkan rencana-Nya. Tuhan mengontrol hidup kita karena Dia adalah Tuhan di atas segala sesuatu. Yang memiliki bakat apapun harus menyerahkannya kembali kepada Tuhan sehingga seluruh hidup tidak sia-sia.

Pemberian Allah paling besar kepada umat manusia adalah Kristus. Pemberian Allah paling besar kepada Gereja adalah Roh Kudus. Tetapi Roh Kudus tidak bisa dilihat. Kita perlu membedakan manusia yang ada Roh Kudus dengan manusia yang tidak ada Roh Kudus. Sama seperti kejujuran dan kesetiaan juga tidak bisa kita lihat. Namun yang tidak kelihatan bukan berarti tidak penting. Manusia bisa mulia, manusia bisa mempunyai nilai yang tinggi, sifat abadi yang kekal, jikalau ia mempunyai bagian yang tidak kelihatan, lebih daripada bagian yang kelihatan. Apa gunanya memiliki tubuh yang sehat jika digunakan untuk berzinah? Apa gunanya engkau cantik tapi menyeleweng? Bagi orang yang hidupnya dipimpin oleh Tuhan dan berjalan di jalan yang benar, yang tidak kelihatan jauh lebih penting daripada yang kelihatan. Yang tidak kelihatan dan yang terbesar itu adalah Allah sendiri. Allah yang tidak kelihatan turun dari surga, mendampingi manusia yang kelihatan dan membimbing seluruh hidup orang itu. Inilah Allah Roh Kudus. Ini adalah suatu pemberian yang paling penting untuk orang Kristen. Dengan menerima Yesus Kristus sebagai Juruselamat, kita sudah menerima berkat yang paling besar yang Tuhan karuniakan kepada dunia.

Dunia dipisahkan menjadi dua jenis orang, yaitu: yang menerima Kristus dan yang tidak menerima Kristus. Ini adalah pemisahan. Orang-orang yang menerima Kristus telah menerima suatu pemberian Allah paling besar kepada dunia, menjadi orang Kristen. Namun setelah menjadi Kristen, masih ada pemberian Tuhan Allah, yaitu Pribadi Ketiga (Roh Kudus). Yesus berkata, “Namun benar yang Kukatakan ini kepadamu: Adalah lebih berguna bagi kamu, jika Aku pergi. Sebab jikalau Aku tidak pergi, Penghibur (paraklētos – Roh Kudus) itu tidak akan datang kepadamu, tetapi jikalau Aku pergi, Aku akan mengutus Dia kepadamu.” Berarti Roh Kudus tidak sama dengan Yesus.

Ada pendeta yang mengajarkan Allah Tritunggal adalah pada waktu Bapa meninggalkan tempat-Nya lalu masuk ke dalam dunia dan menjadi Anak. Inkarnasi adalah Bapa menjadi Anak. Ini adalah ajaran yang salah! Roh Kudus adalah Anak yang datang kembali menjadi Roh Kudus. Ini juga adalah ajaran yang salah! Karena dalam hal ini, bukan tiga pribadi melainkan satu pribadi dengan jubah yang berbeda. Di dalam sejarah, sudah ada theologi yang percaya bahwa Allah Tritunggal sebenarnya adalah satu pribadi dengan tiga macam peran, namanya Sabellianisme. Dimulai oleh Sabellius, seorang theolog bidat. Tuhan tidak pernah berubah, Allah Bapa selama-lamanya Allah Bapa, Allah Bapa tak pernah menjadi Allah Anak; Allah Anak selamanya Allah Anak, Allah Anak tidak pernah menjadi Roh Kudus. Aku akan mengirimkan Penghibur bagimu. Saya akan mengirimkan “Pendamping Lain” bagimu. Ini yang Tuhan Yesus katakan. Kalau Yesus adalah Allah Bapa yang menjelma menjadi manusia, lalu siapa yang mengutus Dia? Yang mengutus menjadi yang diutus? Ini bukan ajaran Alkitab. Allah Bapa mengutus Allah Anak ke dunia. Ketika Yesus berada di dunia, Allah Bapa berada di surga. Dan waktu Yesus mati, Allah Bapa tidak mati. Ada ajaran yang mengatakan bahwa Allah Bapa menjadi Allah Anak. Akhirnya ada satu istilah theologi yang menyindir kesalahan doktrin ini, yang disebut sebagai patripassionate, yang berartiSang Bapa menderita. Ajaran ini mengatakan bahwa Allah Bapa yang digantung di atas kayu salib. Jika demikian, bagaimana kita dapat mengerti ketika Dia mengatakan, “Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku.” Siapa meninggalkan siapa, siapa yang diutus oleh siapa? Kalau yang diutus sama dengan yang mengutus, itu bukan ajaran Kristen.

Allah Bapa mempersiapkan keselamatan, lalu mengutus anak-Nya ke dunia untuk menggenapkan keselamatan. Setelah menggenapi keselamatan, Allah Anak kembali kepada Bapa dan bersama-sama dengan Bapa mengirim Roh Kudus untuk melaksanakan keselamatan.

Bagaimana cara Roh Kudus melaksanakannya? Yaitu pada waktu pendeta dan penginjil betul-betul, sungguh-sungguh jujur dan setia memberitakan Injil Yesus Kristus, maka Roh Kudus akan menyertai dia. Dan ketika khotbah tentang Kristus disampaikan, Roh Kudus akan mengunjungi setiap pendengar, mengetuk pintu dan menanyakan, “Apakah engkau telah siap? Apakah engkau bersedia? Apakah engkau mau taat? Apakah hatimu tergerak? Bersedialah dan bukalah hatimu.” Tuhan mengirim manusia yang pernah diselamatkan untuk menjadi pemberita Injil. Pada saat seseorang sungguh-sungguh memberitakan Injil, tidak mungkin Roh Kudus tidak bekerja karena Roh Kudus dikirim  untuk melaksanakan keselamatan, untuk menyaksikan dan memuliakan Kristus. Roh Kudus langsung mengetuk pintu orang-orang yang mendengar Firman, membuat mereka menangis, sadar, sedih, tertusuk oleh Injil yang begitu berkuasa, lalu menyesali dosa mereka. Roh Kudus membuka pintu hati untuk menyambut Kristus masuk. Orang berdosa bisa bertobat karena pertolongan Roh Kudus. Roh Kudus turun ke dunia untuk meneruskan pekerjaan Anak. Roh Kudus turun ke dunia di hari Pantekosta. Yesus turun ke dunia selama 33,5 tahun dan setelah itu naik ke surga. Yesus berkata, “Kalau Aku sudah pergi, Roh Kebenaran akan turun, masuk ke dalam hatimu untuk berdiam di dalam dirimu sampai selama-lamanya.” Kita harus mencintai Roh Kudus karena Dia satu kali turun dari surga dan terus berada di dunia ini, mengetuk pintu, memberikan pencerahan, keberanian, pertolongan, menggerakkan manusia untuk bertobat dan mengenal Yesus.

Pada waktu Yesus datang kembali, Roh Kudus berkata, “Jika Engkau kembali, Aku sudah mempersiapkan mempelai perempuan bagimu untuk pernikahan yang kekal, yaitu Kristus dan Gereja akan bersatu untuk selama-lamanya.” Persatuan ini dimulai dengan pesta pernikahan yang disebut perayaan Anak Domba Allah. Yesus Kristus memecahkan roti dan berkata, “Inilah dagingku yang kupecahkan bagimu, Aku tidak akan makan bersama engkau lagi sampai hari itu di dalam pesta Anak Domba Allah.” Roh Kudus mempersiapkan orang suci menjadi mempelai Kristus dan menunggu sampai Yesus datang kembali. Roh Kudus akan memberikan kekuatan kepada kita untuk berjumpa dengan Kristus di angkasa, di situ ada perjamuan Domba Allah. Undangan ini diperpanjang waktunya bagi mereka yang telah dibayar lunas oleh darah Yesus Kristus. Mereka yang telah dibersihkan oleh darah Kristus, disucikan oleh kuasa Roh Kudus, dan telah dilahirkan kembali, dipersiapkan untuk menjadi mempelai Yesus Kristus. Hingga Ia datang, Gereja-Nya akan terus disertai oleh Roh Kudus sampai kepada kesudahan zaman, sampai di dalam kekekalan.

Paraklētos, dimana kata “para” berarti “di sisi atau di samping” sehingga kata “paraklētos”berarti “Pendamping atau Penolong”. Parakletos berarti penolong yang mendampingi kita. Alkitab memakai lima istilah: terhadapmu, di sekelilingmu, di sekitar engkau, di depanmu atau yang memimpin engkau, dan yang menyertai engkau. Berbahagialah orang Kristen yang ditolong, didampingi, dihibur, dan dikuatkan oleh Roh Kudus; berbahagialah orang yang dipenuhi, diberikan pencerahan, pertolongan, teguran oleh Roh Kudus; berbahagialah orang yang diurapi, ditambah kekuatan dan diberi dukungan oleh Roh Kudus. Orang yang bahagia adalah orang yang diselamatkan oleh Tuhan, lepas dari binasa, kutukan, neraka dan hukuman yang kekal. Orang yang lebih bahagia adalah orang yang sudah diselamatkan lalu diberikan Roh Kudus untuk mendampingi, mengurapi, menguatkan, membimbing, menolong, memimpin, menjaga dia dari atas, pinggir, dan dari segala segi. Tuhan berkata Akulah perisaimu, Akulah pemimpinmu, Akulah Tuhanmu, Akulah penolongmu untuk selama-lamanya. Marilah kita yang sudah diajar dan dididik dengan doktrin Roh Kudus yang begitu tuntas, tidak gampang ditipu dan digoncangkan oleh berbagai angin ajaran yang salah sehingga akhirnya kita jatuh. Tetapi kita berdiri tegak dan kita membawa orang lain untuk mengerti doktrin Roh Kudus yang sehat dan yang benar.

Categories: Stephen Tong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: