Home > Stephen Tong > The Word (Part 10)

The Word (Part 10)

Yohanes 1:1-4

Ketika semua rasul sudah mati martir, hanya tersisa Yohanes yang adalah rasul termuda, namun sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun. Sudah lebih dari 20 tahun yang lalu Paulus mati martir dan Petrus mati dipaku terbalik. Saat itu sudah tidak ada lagi rekan seiman Yohanes yang bisa diajak melawan empat musuh gereja. Akhirnya dia minta Tuhan memberikan kekuatan padanya. Meskipun ia sudah tua dan sudah mulai menjadi orang yang tidak mempunyai kekuatan berdiri sendiri seperti orang muda, dia minta Tuhan memberikan keberanian padanya. Dan dengan perasaan penuh tanggung jawab ia menulis kitab Yohanes. Di usianya yang lanjut, ia berhak untuk pensiun, tapi kalau dia pensiun, dunia ini tidak ada Injil Yohanes dan kitab Wahyu serta gereja saat itu harus berperang sendiri melawan 4 musuhnya. Jangan menghina dirimu! Kita harus selalu pikir, ”Jika bukan saya yang mengerjakan, siapa yang akan mengerjakan? Jika tidak sekarang, bilakah? Jika tidak di sini, di mana?” Kita harus berani memulai dari diri kita sendiri, sekarang, dan di sini. Yohanes menyadari bahwa kini menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk mengerjakan hal itu. Untuk itulah ia diberi usia yang panjang. Dengan semangat sedemikian saya melayani sampai sekarang dan saya rindu semua orang Kristen, khususnya yang mendengar khotbah saya, menerima semangat seperti ini; meneruskan pekerjaan Tuhan, mewarisi api yang diberikan oleh Roh Kudus kepada para rasul, bapa gereja, para misionaris, para reformator, dan sampai di gerakan Reformed Injili di mana hamba-hamba Tuhan sedang menjadi contoh bagi Saudara yang mendengarkan khotbah.

Empat musuh gereja saat itu adalah: 1) Pemerintah Romawi yang menganiaya orang Kristen. Pembunuhan terjadi di mana-mana, pengaliran darah tidak habis-habisnya. Yang memanggil Yesus sebagai  Tuhan, akan dipenggal kepalanya. 2) Para filsuf dan cendekiawan yang menghina iman orang Kristen. Mereka menghujat, mengumpat, dan memfitnah. Mereka menganggap orang Kristen adalah pemberontak kerajaan karena tidak mau menyembah dewa-dewa dalam mitologi mereka. Orang Kristen dianggap bodoh karena percaya hanya kepada satu Tuhan dan menganggap orang biasa yang mati serta bangkit sebagai Tuhan. 3) Pemalsuan injil dari orang gnostik. Gnostisisme memakai nama rasul karena nama rasul dipercaya oleh orang Kristen. Mereka memanipulasi nama rasul untuk memenangkan pembaca. Pada akhir abad pertama selain Matius, Markus, dan Lukas, sudah beredar puluhan injil palsu untuk mengacau-balaukan orang Kristen. 4) Orang Kristen palsu dan munafik, mereka menyelundup ke dalam gereja dan merusak nama Tuhan. Akhirnya orang luar menganggap orang Kristen hidupnya tidak benar, berbuat zinah, berlaku curang, dan tidak jujur dalam perdagangan. Inilah empat musuh dari luar dan dari dalam. Pada waktu itu Injil Matius, Markus, dan Lukas sudah ada, tetapi puluhan injil palsu juga beredar. Maka perlu satu lagi seorang tua yang menulis satu Injil untuk melawan puluhan injil yang palsu, melawan ratusan orang yang menghina, dan ribuan fitnahan kepada kekristenan, dan melawan pemerintah Romawi yang sudah membantai ratusan ribu orang Kristen. Jangan kita hanya sekedar membaca Injil Yohanes. Kita harus mengerti latar belakang Injil ini ditulis dan keadaan saat itu.

Yohanes mengatakan bahwa Firman bukan di lapisan ciptaan, tetapi di lapisan Pencipta. Firman beserta dengan Allah dan Firman itu Allah. Logos ini berbeda dari pengertian Lao Zi, Konfusius, filsafat India, dan Gnostisisme serta semua filsafat Gerika yang merupakan pengertian manusia belaka. Pengungkapan di dalam Yohanes 1:3 sangat jelas. Dengan pembedaan kualitatif, Yohanes memutar balik semua pemikiran yang sudah muncul dalam sejarah. Dalam Yohanes 1:4 muncul satu berita yang penting, yaitu hidup ada di dalam Firman. Semua ajaran mengatakan firman ada di dalam otak hidup. Firman, Logos, Brahman, Tao, yang dikatakan oleh Lao Zi, Konfusius, Hindu dan oleh Zoroasterisme atau oleh Stoisime adalah logos yang ada di dalam pikiran logikos. Firman yang berada dalam pemikiran sebagai hasil rasio manusia. Yohanes membalik semuanya ini. Bukan firman di dalam hidup, tetapi hidup di dalam firman. Semua yang hidup berasal dari Dia, dan dalam Dia ada hidup. Hidup dalam bahasa aslinya menunjuk kepada induk kehidupan. Semua hidup berasal dari Tuhan, bukan Tuhan diciptakan oleh hidup. Jika Tuhan dibayangkan, dispekulasikan, diimajinasikan oleh manusia, berarti di dalam hidup ada tuhan. Yang benar adalah di dalam Tuhan ada hidup dan hidup seluruh dunia berasal dari Dia; maka Dia bukan berasal dari hidup yang memikirkan tentang Tuhan.Yohanes menerima wahyu Tuhan untuk membalikkan semua pikiran di seluruh dunia di sepanjang sejarah. Hidup ada pada Dia dan hidup ini adalah terang dunia. Hidup yang menerangi dunia.

Terang dan hidup merupakan dua unsur kekal dalam Gnostisisme. Gnostisisme  percaya terang dan gelap itu kekal dan ada pada dirinya sendiri (eternal and self-existing). Dari kekal sampai kekal keduanya sama-sama berada. Jadi ajaran Gnostisisme berdasarkan dualisme kosmologi; di dalam alam semesta ada dua hal yang berlawanan yang sama-sama ada, sama-sama penting, dan sama-sama berkuasa. Hal ini berlawanan dengan ajaran Alkitab. Alkitab tidak pernah mengatakan, pada mulanya ada Allah dan setan yang dari dahulu sampai sekarang bermusuhan dan kita terjepit di tengahnya, sehingga kadang-kadang kita mendengar firman Tuhan lalu diganggu oleh suara setan, ketika mendengar suara setan diganggu oleh suara Tuhan. Minggu orang ke gereja dan Senin ke tempat perjudian. Ini semua bukan ajaran Alkitab! Dalam Perjanjian Lama dikatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Karena ketidaktaatan penghulu malaikat (ciptaan) maka timbullah dosa dan kejahatan yang melawan Tuhan. Inilah yang Tuhan sebut setan. Sejak itulah baru ada setan. Dosa tidak berada dalam kekekalan. Setan tidak ada di kekekalan. Jadi ajaran Kristen dalam Kitab Suci adalah Monisme, bukan Dualisme atau Pluralisme.

Dalam ajaran tradisi Tionghoa, dalam bagian yang hitam dengan titik putih di tengahnya dan dalam bagian yang putih dengan titik hitam di tengahnya. Itu namanya ‘yin-yang’. Berhadapan dan berelatif, ini adalah ajaran Dualisme bukan ajaran Kristen. Demikian juga dalam ajaran Hindu, ada dewa yang baik dan ada dewa yang jahat. Itu pun Dualisme. Zoroasterisme yang merupakan ajaran Persia juga Dualisme. Manichaeisme dan Gnostisisme juga Dualisme. Dalam ajaran Dualisme, ada dewa yang baik dan ada dewa yang jahat; ada terang dan ada gelap. Gelap dan terang itu berinteraksi selama-lamanya tanpa pernah menjadi satu konklusi. Bagi kita Allah mengizinkan dosa berada, tetapi bukan dicipta. Allah akan mengakhiri dosa saat penghakiman yang terakhir di hari kiamat. Setelah sejarah berakhir, dalam kekekalan Allah tetap menang. Ini alasan Yohanes menuliskan kalimat ini. Ia mau memberitahukan kita untuk tidak masuk ke dalam jerat ajaran Dualisme ataupun Pluralisme.

Ajaran Dualisme Kosmologi dalam wilayah supranatural itu dimulai oleh seorang yang bernama Zoroaster. Ia orang Persia. Ada dua versi catatan tahun kehidupannya, ada yang mengatakan ia hidup 600BC dan ada yang mengatakan ia hidup 1.000BC. Dia tinggal di gunung yang tinggi di Persia. Pada suatu hari dia mengaku mendapatkan wahyu lalu dia sadar dan insyaf. Setelah dia mengerti maka dia turun dari gunung dan mengajarkan ajaran: Di dunia ini, dalam alam semesta ada dua kekuatan, dua dewa, dua sifat yang berlawanan. Yang satu adalah dewa yang baik (terang) yang mengajarkan kebajikan. Dan satu lagi dewa yang jahat (kegelapan) mengajarkan kerusakan kepada manusia. Kedua dewa ini bernama Ahura Mazda dan Angra Mainyu. Pertarungan antara dua kekuatan ini belum pernah berhenti. Ajaran Zoroaster akhirnya mempengaruhi orang-orang Gnostisisme dan 350 tahun kemudian mempengaruhi Manichaeisme. Kemudian Manichaeisme  mempengaruhi Agustinus  pada abad ke-4 dan abad ke-5.

Pemikiran Dualisme ini menjadi gejala umum hampir semua agama. Di sinilah perbedaan esensial dengan kekristenan yang bukan merupakan hasil imajinasi spekulasi rasio manusia sebagai ciptaan yang berdosa. Kekristenan yang merupakan ajaran Monotheisme dan Monisme ini adalah ajaran yang langsung diwahyukan oleh Tuhan kepada orang-orang yang dipilih. Jadi jangan heran apabila filsafat Cina, India, Persia, dan seluruh Timur Tengah dipengaruhi Dualisme sampai saat Abraham dipanggil Tuhan untuk mengikut Dia. Abraham menjadi nenek moyang semua orang yang percaya Monotheisme. Dan kemudian wahyu Tuhan turun kepada Musa sebagai orang pertama yang mendapat wahyu Tuhan untuk menulis kitab suci untuk mengajar Monotheisme. Selain itu, seluruh dunia sewaktu masuk dalam pergumulan memikirkan tentang dunia rohani, semua berkecimpung dalam Dualisme.

Sampai hari ini kita melihat negara Persia (sekarang Iran) menghasilkan Dualisme, padahal mayoritas sudah membuang Dualisme. Mereka akhirnya menerima ajaran nabi Mohammad yang mengajarkan hanya satu Allah. Hampir seluruh negara di Timur Tengah hari ini berasal dari keturunan orang Arab. Zoroasterisme hanya dipegang oleh sekelompok kecil saja. Mereka menyembah api.

Ketika Yohanes berbicara tentang terang dan gelap, sebenarnya ia mau memberitahukan kepada dunia bahwa Dualisme bukanlah ajaran Kristen. Orang dunia yang membaca Yohanes harus kembali kepada Allah sejati yang kekal dan inkontingen (dari kekal sampai kekal). Dewa-dewa yang tidak ada menjadi ada hanya karena imajinasi manusia yang terpolusi Dualisme. Manusia menciptakan kemungkinan keberadaan yang sebenarnya tidak ada. Lalu apakah setan itu ada? Ada, tetapi keberadaan setan bukan keberadaan yang inkontingen. Setan ada karena perubahan dari yang dicipta melawan Yang Mencipta; lalu dibuang dari sorga dan diturunkan ke angkasa. Itu namanya Kelompok Pemberontak. Setan adalah si Pemberontak. Istilah ‘setan’ berarti yang melawan, yang menantang kehendak Allah.

Dalam kekekalan tidak ada setan. Dalam kekekalan setan tidak ada lagi kuasanya. Dalam kesementaraan setan diizinkan berada dan diizinkan memberontak. Lalu setelah itu dihakimi untuk kalah selama-lamanya. Untuk melawan injil-injil palsu yang percaya akan Dualisme, Yohanes menulis kalimat, “Di dalam Dia adalah hidup. Hidup itu terang dunia. Terang bersinar ke dalam kegelapan dan kegelapan tidak bisa menguasai terang. Kegelapan tidak menerima terang. Kegelapan tidak bisa menang atas terang.” Ayat ini sekaligus menyatakan fakta Monisme. Ayat ini sekaligus memberikan kepada kita pengharapan kekal, karena dari permulaan memang dosa dan setan itu tidak ada. Kalau sekarang dosa dan setan merajarela, bukan karena dia sama-sama berkuasa, sama-sama bereksistensi, sama-sama kekal dengan Allah. Dia hanya diizinkan Allah untuk sementara sukses pemberontakannya, diizinkan Allah sementara kejahatannya bebas merajalela dalam dunia. Keberadaannya kontingen. Tetapi akhirnya terang akan mengalahkan kegelapan dan kegelapan tidak bisa mengalahkan terang. Karena terang itu permanen dan inkontingen.

Namun 380 tahun kemudian, pengaruh ajaran ini masih berada di dalam orang Kristen sehingga ada seorang yang sangat cerdas, salah satu genius yang paling besar dalam sejarah umat manusia, keracunan filsafat Dualisme ini. Ia adalah  Agustinus yang menyesuaikan pengalaman pergumulan pribadi dengan ajaran yang enak didengar. Agustinus dilahirkan oleh seorang perempuan Kristen (Monica) yang begitu beribadah. Monica adalah seorang perempuan yang cinta Tuhan dan sepanjang hidupnya ia adalah seorang yang berdoa. Namun entah karena dipaksa atau karena faktor lain, ia menikah dengan seorang pria yang meskipun pintar dan gagah, tetapi tidak mengenal Tuhan. Selain suka marah, pria itu suka mabuk-mabukan dan dengan tabiatnya yang keras ia hidup mengikuti kedagingannya sendiri. Istri yang baik menikah dengan suami yang tidak baik, ia memikul salib yang berat sekali. Itu sebabnya Alkitab mengatakan, yang beriman tidak bisa menanggung kuk yang sama dengan orang tidak beriman. Dalam hal pernikahan, wanita Kristen harus hati-hati, jika tidak engkau akan mengalami apa yang dialami Monica. Suaminya pulang dalam keadaan mabuk, marah-marah, dan pergaulannya  sempit. Dia adalah seorang yang kurang bertanggung jawab  khususnya di dalam moral, keluarga, dan iman kepercayaan. Dari pernikahan ini, lahirlah anak lelaki yang namanya Agustinus yang luar biasa genius. Dia mempunyai pengertian yang sangat tajam dan peka. Pada usia 13 tahun ia sudah mengerti retorika, gramatika, dan segala dalil bahasa. Pada usia 14 tahun sudah boleh menjadi guru besar untuk mengajar di universitas. Dia mempelajari semua agama, tata bahasa, dan pengaturan sastra dengan kekuatan luar biasa. Di umur 17 tahun, Agustinus sudah tuntas mempelajari Stoisisme, Epikurianisme, dan Skeptisisme. Lalu dia menjadi seorang guru besar. Umur belasan tahun sudah mempunyai kedudukan dalam masyarakat dan berada di tengah kaum cendekiawan yang tinggi sekali. Tetapi meski otaknya begitu pintar, dia menemukan ada satu kesulitan; otaknya tinggi tapi hatinya rendah. Pikirannya tajam, nafsunya tidak terkendali. Siang menjadi guru besar, malam hidup seksnya memalukan. Pergumulan ini sangat menyusahkan dia; mempunyai seorang ibu yang cinta Tuhan dan rajin ke gereja serta seorang ayah yang meski pintar, tapi suka marah dan tidak bisa mengendalikan nafsu dan tabiatnya yang sangat liar itu. Dua-duanya ada di dalam diri Agustinus yang pintar, tapi tidak bisa mengendalikan seks. Dia belajar filsafat yang tinggi dengan moral yang rendah.  Ia hidup dalam konflik seperti ini selama tiga tahun. Sampai suatu hari Agustinus mengikuti semacam aliran agama yang baru yang didirikan oleh seorang bernama Mani (ajarannya disebut Manichaeisme). Manichaeisme mengajar unsur yang sama dengan Gnostisisme, sama-sama dipengaruhi oleh Zoroasterisme yang menekankan Dualisme, yaitu terang dan gelap. Terang dan gelap sama-sama penting, sama-sama berada, sama-sama kekal, sama-sama bersubstansi yang berlawanan, maka terang dan gelap bertarung tidak habis-habis. Ketika mendengar ajaran ini, ia merasa cocok dengan pergumulannya dan menganggapnya sebagai kebenaran. Menjadi orang Kristen jangan bodoh! Banyak orang Kristen mencari gereja yang yang cocok dengan dirinya, mencari khotbah yang sesuai dengan dirinya. Ini yang menghancurkan sifat manusia. Jangan minta Tuhan cocok dengan pengalamanmu, tetapi tuntutlah supaya pengalamanmu cocok dengan tuntutan Tuhan. Bersyukurlah kalau di dalam hidupmu masih ada khotbah yang melawan kehendakmu. Bersyukur kepada Tuhan, jika masih ada pendeta yang masih berkhotbah keras untuk menuntut kesalahanmu. Karena pimpinan Tuhan melampaui pengalaman dan kehendak yang kau tetapkan untuk rencana hari depan. Bukan itu saja, hari ini banyak orang Kristen kalau diberi kedudukan penting maka ia memilih pergi ke gereja tersebut tanpa berpikir panjang. Banyak orang yang kalau hanya dengar khotbah, tidak diberi pekerjaan merasa tidak ada hati di situ. Jika saat engkau ke satu gereja dan pendeta di situ menyatakan engkau begitu diperlukan, bisa menjadi penerjemah, bisa menjadi guru sekolah minggu, boleh memimpin sekolah, bahkan boleh menjadi majelis, dan kalau engkau sangat kaya, mungkin diundang menjadi ketua majelis. Lalu engkau duduk di situ, dimana pantatmu di situ hatimu. Banyak gereja menjadikan orang merasa penting dengan memberikan kedudukan, lalu timbullahrasa memiliki. Itulah sebabnya banyak orang di GRII kecewa, karena di sini orang kaya tidak diberi tempat khusus, orang yang menganggap diri pintar tetap tidak mendapatkan tempat khusus. Di sini tidak ada tempat untuk orang yang ambisius. Di sini tidak ada tempat khusus untuk orang yang mencari kemuliaan, kekuasaan, penonjolan diri. Yang datang harus mendengar khotbah. Tuhan mau manusia cocok sama Dia, jangan dibalik. Karena Dia Tuhan, engkau manusia yang harus dihakimi.

Alkitab memakai istilah iman 270 kali dalam Perjanjian Baru, di antaranya 99 kali di Injil Yohanes. Iman ada yang anthroposentris (berpusat pada manusia) dan ada yang theosentris (berpusat pada Allah). Yang dimaksud Alkitab dengan iman adalah iman setelah mendengar Firman, yaitu iman khusus. Sebelum mendengarkan Firman, orang memiliki iman yang natural sebagai anugerah Tuhan melalui wahyu umum. Barulah setelah mendengar Firman orang itu mendapat iman khusus melalui wahyu khusus, yaitu saving grace (anugerah yang menyelamatkan), bukan hanya common grace (anugerah umum). Untuk ini kita perlu belajar, sehingga membentuk jalinan struktur theologi secara totalitas yang betul-betul disarikan dari Alkitab untuk menjadi landasan bagi iman kepercayaan kita kepada Allah. Tidak banyak pendeta yang mempunyai beban membentuk iman jemaat seperti itu. Kita perlu belajar sampai berakar kuat di dalam firman, bukan untuk mencari posisi. Kita harus menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Ketika Agustinus mendapatkan khotbah yang dirasanya cocok, dia meninggalkan gereja orthodox di mana ibunya beribadah. Dia menjadi anggota Manichaeisme  selama sepuluh tahun. Lalu mamanya menangisi dia. Suatu hari seorang uskup mau menutup gereja karena semua orang sudah pulang, tetapi ia masih mendengar suara perempuan. Dia keliling mencari sumber suara itu, akhirnya menemukan seorang perempuan yang sudah tua, berdoa dengan mengalirkan airmata. Ketika ditanya mengapa ia menangis, ia menjawab bahwa anaknya yang berintelektual tinggi hidupnya tidak beres. Dia menjauhkan diri dari Tuhan dan tidak beriman kepada Tuhan, dia terjerumus dalam perzinahan. Bagaimana ia sebagai ibu yang cinta Tuhan harus menyaksikan anaknya akan masuk kebinasaan. Uskup itu melihat, ibu itu mengungkapkan isi hati yang keluar dari hati nurani yang murni dan uskup itu mengeluarkan satu kalimat, “Seorang anak yang didoakan oleh ibu seperti ini, seorang anak muda yang memerlukan pengaliran air mata sebanyak kamu, tidak mungkin binasa. Pulanglah dengan damai, Tuhan beserta engkau.” Monica merasa mendapat penghiburan yang besar.

Agustinus yang hidup baik-baik pada siang hari dan hidup berzinah pada malam hari, menerima ajaran dewa terang dan dewa gelap sedang mempermainkan manusia. Medan peperangan antara pertarungan gelap dan terang ada di dalam hatinya. Hidupnya dirongrong oleh kekuatan yang tidak habis-habisnya, dari kekal sampai kekal, tidak ada yang bisa melepaskan diri. Ini suatu dalil, bahwa dunia tidak bisa lepas dari pertarungan kekal dari dua kekuatan yang sama kuat, dan itulah hidup kita.  Sampai suatu malam Agustinus tidak bisa tidur. Akhirnya dia bangun dan keluar dari kamarnya, lalu dia lihat ke angkasa, hari itu langit jernih sekali. Di tengah kegelapan ia menyaksikan bintang-bintang yang luar biasa indahnya. Waktu dia melihat, dia mendadak sadar, kalau memang pertarungan tidak habis-habis bukankah kekacauan di sorga juga tidak habis-habis? Tetapi mengapa bintang teratur, rotasinya terus teratur dan tidak kacau? Ini berarti pasti ada penguasa yang tidak mengizinkan kekacauan merusak dia. Pasti ada Dia yang mengambil alih dalil itu dan Dia itu berkuasa di atas alam semesta yang Ia ciptakan. Kalau begitu iman mamaku yang benar. Bukan Dualisme melainkan Monisme. Bukan Pluralisme melainkan Monotheisme. Pasti ada Allah yang sungguh. Hari itu menjadi hari yang memutar balik hidupnya. Terkadang, bagi orang pandai seperti ini tidak ada khotbah yang bisa membawa dia kembali, hanya suara Tuhan sendiri yang menyadarkan hatinya. Mungkin sudah lama engkau meninggalkan Tuhan, mungkin kamu perlu satu pukulan baru engkau sadar kembali.

Paul Tillich, di dalam bukunya yang lebih dari seribu halaman, “The Complete History of Christian Thought”, dua pertiga bagiannya berisi bahan kuliah dan sebagian adalah catatan dari muridnya setelah dia mati untuk menyelesaikan seluruh buku. Dalam buku itu banyak hal yang tidak benar, tetapi ada satu kalimat mengenai Agustinus, “Itulah malam yang mengubah seluruh sejarah umat manusia. Sejak malam itu, sejarah umat manusia berubah. Kekristenan mendapatkan seorang yang sungguh mengerti Allah Monotheistik, dan ia sendiri kembali kepada Tuhan dan membentuk sejarah yang baru.” Tuhan memakai astronomi untuk menjadi guru bagi Agustinus, untuk mengoreksi kesalahannya supaya kembali dari kesalahan Dualisme Persia. Anugerah umum datang kepada dia, dia mulai balik, tetapi itu tidak cukup. Beberapa hari kemudian saat dia sedang seorang diri merenungkan hari depannya, ia mendengar seorang anak kecil berbicara dengan anak kecil yang lain di pinggir jalan, “Buku, baca buku!” Agustinus mendengar kalimat itu dan dia menganggap ini suara Tuhan, lalu ia pulang dan membuka Kitab Suci. Ini membuktikan ia bukan orang biasa karena saat itu tidak semua orang bisa punya Kitab Suci di rumahnya. Ia membaca ayat terakhir dari Roma 12 sampai Roma 13, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan menggunakan perlengkapan senjata terang.” Malam dan siang? Gelap dan terang? Dia sangat terkejut. Lalu diteruskan, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Inilah berita. Dia menyadari bahwa sekalipun belum sepenuhnya mengerti, tetapi inilah yang dia butuhkan. Dia sadar suka pesta pora, suka mengikuti keinginan daging. Mulai hari itu dia bertobat dan mulai hari itu dia kembali kepada Tuhan Allah yang diimani oleh ibunya. Dia berkata kepada wanita yang dia tiduri sampai melahirkan anak, “Saya menerima anak ini, tetapi engkau pergilah menikah dengan orang lain, hidup saya terlalu rusak. Mulai hari ini saya kembali kepada Tuhan bertobat menjadi orang suci, engkau mempunyai hidupmu sendiri.” Ia memberi uang padanya dan tidak lagi berhubungan dengannya. Tidak lama kemudian anak itu mati. Agustinus menangis dan ia minta ampun pada Tuhan dan menyerahkan seluruh hidupnya menjadi hamba Tuhan, lalu dia masuk biara. Ia dilatih seorang bapa gereja yang bernama Ambrose di Milano. Dia melayani berpuluh-puluh tahun menjadi uskup di Hippo, maka dia disebut Agustinus dari Hippo. Dia adalah orang yang melayani di Afrika Utara yang terbesar di sepanjang sejarah. Ketika dia mati, dia meninggalkan delapan puluh murid yang menjadi uskup untuk melayani seluruh dunia. Dia salah seorang pemimpin besar di sepanjang sejarah. Bagaimana dengan saudara? Sudahkah kita berbalik, mengerti Firman dengan benar, tidak terjebak oleh pemikiran Dualisme, sehingga hidup kita sungguh-sungguh untuk Tuhan?

Categories: Stephen Tong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: