Home > Stephen Tong > The Word (Part 2)

The Word (Part 2)

Injil adalah kesaksian tentang Sang Anak ketika Ia datang mengunjungi sejarah. Secara waktu penulisan, Injil Markus adalah yang paling dini kemudian disusul dengan Injil Matius, Lukas, dan Injil Yohanes adalah yang terakhir. Meskipun demikian, Injil Yohanes dapat dikatakan sebagai Injil yang melampaui ketiga Injil sebelumnya. Injil ini mengungkapkan lebih banyak perdebatan Tuhan Yesus dengan orang Yahudi, juga banyak menegaskan doktrin Kristen.

Ketika mengajar, saya meminta murid saya untuk mencari kata-kata Tuhan Yesus yang revolusioner, yang berbeda sama sekali dari perkataan-perkataan yang pernah ada di dalam sejarah. Dengan demikian mereka dapat melihat Yesus dalam perbandingan dengan Perjanjian Lama, perkataan para orang Farisi atau lainnya. Banyak orang beranggapan bahwa Tuhan Yesus hanyalah seorang revolusioner, seorang moralis, seorang guru agama yang mahir mengajar. Para ahli Taurat dan orang Farisi mempelajari Perjanjian Lama, dan mereka sadar bahwa Perjanjian Lama belum selesai karena Sang Mesias belum datang. Tetapi mereka tidak bisa melihat bahwa Yesus adalah Mesias yang dinyatakan dalam Kitab Kejadian pasal 3.

Hanya orang Kristen yang mengetahui bahwa Yesus adalah satu-satunya Juruselamat, pengantara antara Allah yang suci dengan manusia yang jahat. Dialah yang menggenapkan tuntutan keadilan Allah atas orang berdosa, menyatakan kesucian, keadilan, kasih, dan kebajikan Allah yang sempurna. Orang dunia tak pernah menyadari pernyataan Yesus Kristus yang sedemikian revolusioner, malah menganggap Dia terlalu arogan, berani menghujat Allah. Tidak demikian! Dia adalah Mesias yang Allah janjikan, karenanya selain Dia tak pernah ada orang yang berani mengatakan: “Aku adalah jalan, kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada Bapa kecuali melalui Aku.” (Yoh.14:6) Setelah Yesus mencurahkan darah-Nya di atas salib, mati, dikuburkan, dan bangkit dari antara orang mati, barulah murid-murid yang Dia persiapkan selama 3,5 tahun menyadari bahwa Dialah Juruselamat, Allah yang berinkarnasi.

Setelah 20 tahun lebih Paulus dan Petrus mati, barulah Yohanes menulis Injil. Karena itu Injil Yohanes tak boleh tak ada di dunia. Manusia, khususnya umat pilihan Tuhan, tidak boleh tidak mengerti isi hati Tuhan dalam menyelamatkan manusia. Maka, kehadiran Kristus dalam sejarah bukan suatu kebetulan, bukan hasil hubungan tubuh pria dan wanita, bukan lahir sebagai nabi, keturunan raja, atau imam di Perjanjian Lama, melainkan Allah menjadi manusia – hal yang belum pernah ada di mitologi Tiongkok kuno ataupun pemikiran dewa-dewa Gerika atau Mesir, – lahir dari seorang perawan. Jadi, Kristus memang ajaib seperti yang tertulis di 1 Yohanes 4. Dia lahir dengan air dan darah yang mengisyaratkan bahwa Dia betul-betul lahir sebagai bayi. Namun ajaran Gnostik, bidat di akhir abad pertama, tidak percaya akan inkarnasi. Itu sebabnya, Tuhan memimpin Yohanes, satu-satunya rasul yang tersisa untuk melakukan apologetika (pembelaan dan penjelasan iman) demi mempertahankan iman yang sejati.

Surat Injil Yohanes sama dengan kitab Kejadian, diawali dengan “Pada mulanya.” Bedanya adalah Musa, penulis kitab Kejadian, dipanggil Tuhan untuk mengisahkan bagaimana dunia dimulai, sementara Yohanes dipanggil Tuhan untuk mengisahkan bagaimana dunia berakhir. Jadi, Musa dan Yohanes dipanggil untuk menuliskan titik alfa dan titik omega dari Kitab Suci. Maka mereka berdua mempunyai signifikansi yang sama yaitu membuat Kitab Suci menjadi unik, satu-satunya buku yang memberitahukan kita bagaimana awal dan akhir dunia ini. Tetapi sesungguhnya, istilah “Pada mulanya” yang ditulis oleh Musa dan Yohanes, sedikit berbeda. Yang terdapat di kitab Kejadian mengacu pada awal dari dunia ciptaan, sementara yang terdapat di Injil Yohanes mengacu pada awal dari Allah Pencipta. Maka, terjemahan bahasa Tionghoa menggunakan dua istilah yang berbeda: qi chu (untuk kitab Kejadian) dan tai chu (untuk kitab Yohanes) untuk membedakan awal alam semesta dan awal Allah yang adalah sumber segalanya, Pencipta alam semesta. Karena Allah ada maka alam semesta dan segala isinya ada. Keberadaan Allah adalah keberadaan yang tak dicipta, tak memerlukan awal karena Dialah awal dari segalanya.

Musa mengawali Perjanjian Lama dengan “Pada mulanya” karena dia mengacu kepada awal dari keberadaan alam semesta. Langit dan bumi dimulai pada saat Allah mencipta. Alam semesta adalah karya ciptaan Allah. Tetapi bagaimana dengan asal mula keberadaan Allah? Tidak seorang pun tahu. lnilah keunikan dari Injil Yohanes. Perjanjian Lama mengandung Perjanjian Baru, dan Perjanjian Baru menggenapkan Perjanjian Lama. Di dalam Perjanjian Lama tersimpan unsur penting yang menuntun kita mengarah ke Perjanjian Baru, tetapi Perjanjian Baru-lah yang membuat kita mengerti secara konkrit akan firman yang Tuhan maksudkan di Perjanjian Lama, karena Perjanjian Baru menggenapi apa yang ada di Perjanjian Lama sehingga Alkitab menjadi sempurna.

Jika “Pada mulanya” dalam kitab Kejadian mengacu kepada permulaan penciptaan maka “Pada mulanya” di dalam Injil Yohanes mengacu kepada permulaan dari Allah, yaitu permulaan yang paling mula, yaitu: Firman (logos, artinya kata, kebenaran, kata-kata yang mengandung makna). Semua perkataan yang bermakna bagaikan anak kunci, induknya yang tertinggi adalah firman Allah.

Oleh karena itu, di ayat 1 tertulis, “Pada mulanya adalah firman (logos).” Istilah “logos” muncul puluhan kali di Alkitab, tetapi yang paling penting dan paling rinci tedapat do Yohanes 1:1. Pada mulanya adalah Firman, berarti Firman lebih dulu ada dari siapapun, keberadaan-Nya tak bergantung pada yang lain. Keberadaan yang bergantung kepada keberadaan lain adalah keberadaan yang tidak kekal. Berarti ada waktu di mana keberadaan yang bergantung itu belum diproduksi oleh keberadaan lain itu. Tetapi Allah itu kekal, Dia tak bergantung pada keberadaan lain, bukan produk dari keberadaan lain. Keberadaan manusia adalah keberadaan yang kontingen (kontingen berarti yang berawal dan berakhir). Dalam argumen Thomas Aquinas tentang Allah, ia menyatakan bahwa Allah haruslah merupakan keberadaan yang inkontingen, keberadaan yang yang tak berawal dan tak berakhir, yang tak bergantung pada siapa pun. Itulah yang Yohanes maksudkan dengan “Pada mulanya adalah Firman”, Firman itu ada dari kekal, ada pada diri-Nya sendiri, tak perlu ada keberadaan lain yang menjadi sumber dari keberadaan-Nya. Keberadaan yang tak bergantung, yang penuh dan sempurna pada diri-Nya sendiri, yang kekal, yang immortal (tak bisa rusak), yang tak berawal dan tak berakhir. Seperti 2 + 2 = 4 disebut sebagai kebenaran inkontingen, yang tak berawal dan tak berakhir. Kebenaran ini seperti sifat Firman, yaitu memiliki unsur kekekalan, ada pada dirinya sendiri, tak bergantung pada keberadaan lain dan tak berubah sampai selamanya. Jika kita mengerti sifat inkontingensi Firman maka tidaklah sulit untuk kita mengerti pernyataan bahwa Tuhan Yesus tak pernah berubah, dari dulu, sekarang, sampai selamanya. Firman itu inkontingen, dari mula sudah bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.

1. “Pada mulanya adalah Firman”

Ayat 1 terdiri dari tiga pernyataan. Ketiga pernyataan ini tidak pernah muncul di buku, teori filsafat atau ajaran agama manapun. Jika kita bandingkan dengan perkataan-perkataan Kong Fu Zi, Lao Zi, Zoroaster, Socrates, Plato, Aristoteles, Heraklitos, Parmenides, Sakyamuni, Muhammad, dan lain-lain, semua tokoh terbesar, terpandai dalam sejarah, bahkan dengan semua nabi Perjanjian Lama, tidak ada seorangpun yang pernah mengatakan: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.” Ayat ini sangat sulit untuk dimengerti karena tidak ada orang yang pernah menyatukan Logos – prinsip kebenaran yang tak berubah itu – dengan Allah. Padahal di dalam segala sesuatu yang ada di dalam semesta pasti terdapat prinsip kebenaran yang tak pernah berubah. Matahari selalu terbit dari Timur, tidak mungkin hari ini terbit dari Timur, besok terbit dari Barat. Itu berarti terbitnya matahari memiliki prinsip dasar yang kekal, yang tak dapat dia langgar. Prinsip dasar inilah yang membuat segalanya teratur. Siapa yang menetapkan prinsip ini? Allah. Prinsip apa yang Dia pakai untuk menetapkan segalanya?Logos, prinsip yang kekal, tak berubah, keberadaan yang inkontingen; kekal, permanen, immortal karena Firman itu sendiri bersifat inkontingen.

Pada umumnya, manusia hanya peduli bagaimana mencari makan, membeli sesuatu, mendapatkan nyonya yang seperti ini dan itu. Hanya orang yang memiliki pemikiran yang dalam akan meneliti prinsip kekal yang ada di alam semesta, yang tak mungkin diganggu-gugat oleh raja atau penguasa manapun. Barangsiapa tak mau takluk pada prinsip ini, dia akan mati. Prinsip ini disebut kebenaran kekal yang tak berubah. Maka Yohanes berkata: “Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Tak mungkin kita menemukan pernyataan seperti itu di buku lain karena kebenaran yang ada di buku adalah kebenaran yang manusia bayangkan, sementara kebenaran yang Yohanes katakan adalah wahyu Allah. Ketika Saudara berada di atas sebuah gunung, mungkin saudara heran mengapa air yang mengalir dari mata air di gunung tidak habis-habis dan mengalir sampai ke laut, lalu siapa yang membawa kembali lagi ke gunung? Dengan dalil apa terjadi aliran ini? Di sini kita melihat, tidak mungkin semua keteraturan itu terjadi jika bukan Tuhan Allah yang mengatur semua itu berdasarkan dalil-Nya. Dalil di mana ada pemuaian dan penguapan terhadap air yang terkena panas matahari, lalu dalil yang terjadinya pencairan kembali, dan dalil gravitasi yang menyebabkan air itu harus jatuh kembali ke tanah. Hanya Tuhan Allah yang mampu membuat dalil seperti ini. Itulah karya Logos.

2. “Firman itu bersama-sama dengan Allah”

Pada mulanya adalah LogosLogos bersama­-sama dengan Allah, dan Logos itu adalah Allah. Dua ribu enam ratus tahun silam filsuf di Timur sudah memikirkan tentang Logos, dan 2.450 tahun silam filsuf Barat juga memikirkan tentang Logos. Maka istilah Logos di filsafat Gerika, istilah Dao di filsafat Tionghoa, dan istilah Brahma di filsafat India sama adanya. Apa itu LogosLogos adalah prinsip yang mengatur segala sesuatu yang ada di alam semesta sehingga alam semesta menjadi sedemikian teratur. Ungkapan yang terpenting tentang daoterdapat di Dao De Jing, buku tulisan Lao Zi, seorang pejabat tinggi yang saat tuanya merasa kecewa akan dunia yang begitu bejat. Ia menyatakan bahwa manusia mengutamakan uang bukan moral dan kejujuran. Maka ia mengambil keputusan untuk menghabiskan sisa hidupnya di gunung, jauh dari dunia. Dia pergi dengan menunggang seekor kerbau tua sambil meniup seruling. Ketika tiba di gerbang kota, penjaga gerbang mengenali dan memastikan bahwa dia adalah Lao Zi, maka penjaga itu memohon agar sebelum pergi Lao Zi meninggalkan ajarannya. Lao Zi kemudian menuliskan kristalisasi pikiran-pikirannya yang kemudian dibukukan. Huruf yang dia tulis memang tak banyak, tetapi maknanya amat dalam. Kalimat pertamanya: “kebenaran (dao) yang dapat diutarakan bukanlah kebenaran (dao) yang kekal. Nama yang bisa disebut bukanlah nama yang kekal.” Artinya semua kalimat yang bisa dikatakan, bukanlah kata-kata yang inkontingen; nama yang bisa disebutkan bukanlah nama yang inkontingen. Lao Zi adalah filsuf terbesar, hidup sezaman tetapi usianya lebih tua dari Konfusius. Konfusius pernah mengarungi gunung, rimba, sungai dan gurun, ingin belajar dao dari Lao Zi, yang di Dao De Jing ps. 25 mengatakan: ada sesuatu yang misterius, yang ada sebelum langit dan bumi ada, dia beredar terus, tak pernah melekat, ada pada dirinya sendiri, independen dan tak pernah berubah. Jadi, konsep Logos yang tidak dapat rusak, tidak dapat berubah, tidak dapat digerakkan, telah muncul 2.600 tahun silam di dalam pikiran Lao Zi. Tiga ratus tahun kemudian, juga muncul di pikiran Aristoteles. Logos yang inkontingen, tak berubah, tapi bergerak tanpa henti, tak berubah dan tak bergantung. Konsep ini dimengerti oleh Lao Zi sebagai ibu alam semesta (mother of universe), sumber dari segala yang ada. Sayangnya, ia akhirnya harus mengakui dan menyatakan bahwa: aku tak tahu namanya, maka kusebut “besar” dan dengan terpaksa kuberi nama Firman (dao). Maka, ketika Saudara membandingkan Injil Yohanes dengan filsafat Lao Zi, Konfusius, Uphanisad dari India, filsafat Herakletian, atau Stoicisme dan semua filsafat dunia lainnya, Saudara akan menemukan bahwa Tuhan telah memilih Yohanes untuk mengutarakan sesuatu yang tidak mungkin manusia mengerti.

Lao Zi menulis di pasal 42: Firman (dao) melahirkan satu, satu melahirkan dua, dua melahirkan tiga, tiga melahirkan segala sesuatu. Sayang, pengertian Lao Zi berhenti sampai di situ. Meski begitu, saya sangat kagum padanya karena filsafatnya adalah wahyu umum yang tertinggi, yang Allah berikan pada filsafat China kuno, lebih tinggi dari wahyu umum yang Dia berikan pada filsafat Gerika sekitar 200 tahun kemudian. Tak seorang pun di dunia mendapatkan wahyu umum setinggi Lao Zi maka dia berani menegur Konfusius. Bukankah Konfusius juga seorang tokoh yang hebat, yang dipandang sebagai orang suci di sejarah Tiongkok, tapi soal pengertiannya tentang Firman, dia kalah dengan Lao Zi. Maka waktu mereka bertemu, Lao Zi justru menegur dia: “Singkirkan sifatmu yang arogan. Jika tidak, sampai mati pun engkau tak akan mungkin mengerti Firman.” Konfusius sangat terkejut karena Lao Zi memandangnya sombong. Memang ada orang-orang yang baru mengerti sedikit Theologi Reformed, baru menjadi Majelis, baru lulus Sarjana Theologia, baru memimpin gereja besar, sudah sombong luar biasa. Lao Zi menegur Konfusius, singkirkan sikapmu yang arogan dan motivasimu yang kurang murni agar semua itu tak menjadi rintangan bagimu untuk mengerti Firman.

Maafkan kalau saya mengatakan bahwa krisis ekonomi global kali ini disebabkan oleh beberapa profesor dari University of Chicago, yang berhasil mencetak banyak profesor ekonomi, bahkan ada yang pemah meraih hadiah Nobel. Mereka menganggap diri begitu hebat dalam pengetahuan ekonomi, sukses dalam mengajarkan: 1) Memakai uang untuk meraup keuntungan dan mendapatkan uang lebih banyak lagi. Prinsip ini membuat orang menjadi serakah, mau menjadi kaya tanpa perlu bekerja. 2) Setelah kekayaannya terus bertambah, tidak mau patuh pada prinsip yang Tuhan tetapkan, lalu hidup berfoya-foya. Maka, begitu ekonomi global hancur, mereka juga hancur semua. Mengapa demikian? Karena sombong dan menganggap diri hebat lalu menghina Krugman, yang baru belakangan ini dipandang penting bahkan tahun ini menerima hadiah Nobel. Padahal 8 tahun silam dia sudah terus mengritik bahwa kebijakan ekonomi George Bush dan University of Chicago salah kaprah, tapi ia malah dibenci oleh banyak orang. Sampai ketika ekonomi global terpuruk, barulah orang menyadari bahwa pandangannya benar.

Lao Zi begitu berani mengritik Konfusius, tokoh yang sangat besar di mata orang: sikapmu sombong, motivasimu tak benar, maka kau tak mungkin dapat mengerti dao. Biar kita tetap rendah hati di hadapan Tuhan, mau menerima teguran dari firman Tuhan. Karena siapa pun kita, hanyalah manusia yang bisa mati, tak ada satu pun yang pantas kita sombongkan. Konfusius tak pemah melampaui Lao Zi dalam hal mengerti dao, induk dari segala keberadaan yang independen.

3. “Firman itu adalah Allah”

Namun konsep Lao Zi berbeda dari pengertian Yohanes. Yohanes berkata: “Firman yang kekal itu bersama-sama dengan Allah, Firman itu adalah Allah.” Pernyataan ketiga di ayat 1 ini tidak pernah ada di dalam ajaran Konfusius maupun Lao Zi. Lao Zi hanya menyebut: firman (dao) adalah dalil yang tak berubah. Urutan yang ada di alam semesta adalah: ren fa di; manusia hidup menuruti prinsip bumi, bumi menuruti dalil langit, langit menuruti dalil firman kekal, yang ada pada diri-Nya sendiri. Namun, istilah “Allah”, “mencipta” tak pernah muncul di dalam filsafat Lao Zi. Sementara Yohanes, hanya dengan tiga pernyataan di ayat pertama, dia mengemukakan Firman itu dengan jelas.

Ketika Saudara membacanya, mungkin Saudara akan melihatnya sebagai sekedar sebuah kalimat biasa. Kalimat biasa yang ditulis oleh seorang dari Galilea yang dianggap kurang akademis. Ia bukan seorang farisi atau ahli Taurat dari Yerusalem, tetapi ia adalah orang yang Tuhan Yesus pilih. Ia mendapatkan wahyu dari Roh Kudus untuk menuliskan pernyataan-pernyataan yang jauh melampaui tulisan orang yang memiliki pendidikan akademis tertinggi: “Pada mulanya adalah Firman.” Dilanjutkan dengan pernyataan kedua: “Firman itu bersama-sama dengan Allah.” Yang terjadi sejak permulaan dan dilanjutkan dengan pernyataan ketiga: “Sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala sesuatu yang telah dijadikan.” Apa maksud dari kalimat yang sangat rumit ini? Segala sesuatu dijadikan oleh Dia; Firmanlah yang menciptakan alam semesta dan segala isinya. Sepintas sepertinya pernyataan ini berbeda dengan pernyataan di dalam Kejadian 1:1 yang menyatakan bahwa Allah menciptakan segala sesuatu. Justru lewat Yohanes, Allah memberi kita pengertian yang jauh lebih dalam dari pengertian yang ada di dalam Kejadian 1:1 (Allah menciptakan langit dan bumi), hal yang sudah kita ketahui puluhan tahun silam. Yohanes memberitahu kita: “Firman menciptakan segala sesuatu.” Hal ini bukan mengontraskan antara Allah dan Firman, tetapi justru agar kita bisa melihat bahwa konsep Allah Tritunggal sudah dinyatakan dengan sangat jelas di Perjanjian Lama, karena di Kejadian 1 sudah terdapat dalil yang menyatakan hal itu.

Di dalam Yohanes 1 ditegaskan bahwa Allah menciptakan langit dan bumi dengan Firman. Allah berfirman, jadilah terang maka terang itu jadilah. Firman itu siapa? Itulah Logos. Dengan kata lain, dengan Firman, Allah menciptakan segala sesuatu dari tidak ada menjadi ada. Karena tak ada satu pun Firman yang keluar dari mulut Allah yang tak mengandung kuasa. Ketika Allah berfirman, Dia menggunakan nafas sebab tidak ada orang yang berkata-kata tanpa menggunakan nafas. Nafas adalah wadah yang memuat kata-kata yang keluar dari mulut-Nya. Jadi, langit dan bumi adalah karya Allah Tritunggal. Yang berkata-kata adalah Allah, kata-kata yang keluar dari mulut-Nya adalah Logos, nafas yang Dia pakai untuk menghembuskan kata-kata keluar dari mulut-Nya adalah Roh Kudus. Dengan kata lain, Allah menggunakan nafas, Roh Kudus, untuk mengutarakan kata-kata, Logos. Dengan demikian, sejak Kejadian 1:1 Alkitab sudah memperkenalkan konsep Allah Tritunggal. Hanya saja, kita hanya membaca: “Allah berfirman jadilah terang, maka terang itu jadi” tanpa menyadari bahwa semua itu adalah karya Allah Tritunggal yang misterius. Sampai di Injil Yohanes baru mata kita dibukakan: “Pada mulanya adalah Firman, Firman bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.”

Di ayat 3 Yohanes tidak menyebut Allah adalah pencipta segala sesuatu, melainkan menyebut Firman sebagai pencipta segala sesuatu. Hal ini dikarenakan di ayat 1 sudah ditegaskan bahwa Firman itu adalah Allah. Dengan kata lain, Allah memakai Kristus sebagai pengantara dalam menciptakan langit dan bumi. Karena Firman, Logos, dalil, prinsip inkontingen, yang kekal inilah yang Allah pakai untuk mencipta segala sesuatu. Oleh karena itu, di dalam segala sesuatu terkandung Fiman, Logos, sehingga sebutan untuk semua disiplin ilmu diakhiri dengan “logi” seperti: geologi, biologi, zoologi, dan lain-lain. Saat kita mempelajari geologi misalnya, kita mempelajari “logika” yang ada di bumi. Saat kita studiphilology, kita meneliti “logika” yang ada di balik philo, bahasa. Begitu juga saat kita mempelajari psikologi, kita mempelajari logika yang ada di balik psikis. Ketika kita mempelajari bidang studi apapun, sebenarnya kita sedang mempelajari “logika” yang tersimpan di bidang itu. Jadi, melalui menyelidiki seluruh alam semesta kita menemukan bahwa Logos berada di dalam segala sesuatu yang Allah ciptakan. Itulah arti dari ayat ini, selaras dengan apa yang tertulis di surat Ibrani: “Karena iman, kita mengerti bahwa alam semesta telah dijadikan oleh Firman Allah.” (lbr.11:3) Dunia yang tampak dicipta oleh dunia yang tak tampak. Itu sebabnya, di dunia yang tampak, di setiap bidang ilmu selalu terdapat logika karena memang tak ada satu ciptaan Tuhan yang tidak logis. Semua ciptaan Tuhan begitu teratur, begitu terorganisir karena Dia menciptanya dengan prinsip yang logis; segala sesuatu berasal dari Logos. Dengan kata lain, Logos jauh melampaui logika, Logos adalah Kristus. Alam semesta dicipta oleh Oknum kedua, Firman, yang pada mulanya sudah bersama-sama dengan Allah dan adalah Allah. Itulah membuat kita mengetahui bahwa alam semesta diciptakan Tuhan melalui Kristus. Segala sesuatu diciptakan oleh Kristus. Kristus adalah Logos yang menjadi induk bagi semua yang logis. Kristus beserta dengan Allah dan Kristus adalah Allah. Puji Tuhan!

Categories: Stephen Tong
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: