Home > Yohanes Bambang Mulyono > Pergi Untuk Diutus Menyampaikan Kabar Baik

Pergi Untuk Diutus Menyampaikan Kabar Baik

Bacaan : Yer. 1:4-10; Mzm. 71:1-6; I Kor. 13:1-13; Luk. 4:21-30

Saat seseorang masih muda dan belum berpengalaman akan cenderung  bergaul hanya dengan teman-teman sebayanya. Dia tidak akan mau untuk melakukan sesuatu yang  mengandung  risiko tinggi seperti sikap penolakan atau sesuatu yang membahayakan keselamatan dirinya. Sangat menarik, Yeremia menerima tugas pengutusan dari Allah justru ketika ia masih muda-belia. Yeremia bukan hanya sekedar dipanggil untuk memberitakan firman Tuhan, tetapi juga dia mendapat tugas khusus yaitu: “Ketahuilah, pada hari ini Aku mengangkat engkau atas bangsa-bangsa dan atas kerajaan-kerajaan untuk mencabut dan merobohkan, untuk membinasakan dan meruntuhkan, untuk membangun dan menanam” (Yer. 1:10). Pengutusan Allah tersebut mengandung suatu tugas yang sangat berat, berbahaya dan memiliki lingkup area  yang sangat luas bagi bangsa-bangsa sekitar Israel. Nabi Yeremia tidak hanya dipanggil untuk memberitakan firman kepada umat Israel saja, tetapi juga dia harus menyatakan suara kenabiannya dan firman Allah yang dapat membinasakan dan meruntuhkan kerajaan-kerajaan!

Apabila Yeremia yang masih muda itu bersedia melaksanakan tugas pengutusan itu, pastilah karena ia yakin akan panggilannya sebagai seorang nabi. Dasar keyakinan iman Yeremia untuk melaksanakan pengutusan dan panggilan Allah yang sangat besar dan berisiko tersebut adalah:

  • Allah telah mengenal Yeremia jauh sebelum dia lahir dari kandungan ibunya (Yer. 1:5a)
  • Sebelum dia dapat percaya dan mengenal Allah, Allah terlebih dahulu telah memilih dan menetapkan Yeremia sebagai nabi atas bangsa-bangsa (Yer. 1:5b, 5c).
  • Janji penyertaan dan perlindungan Tuhan selama dia setia melaksanakan tugas panggilannya sebagai seorang nabi (Yer. 1:8)
  • Berita yang akan disampaikan kepada bangsa-bangsa yaitu firman Allah telah diletakkan terlebih dahulu oleh Allah di dalam mulutnya (Yer. 1:9).

Dengan demikian Yeremia melaksanakan tugas pengutusan untuk memberitakan firman Tuhan bukan karena ia bersandar kepada kekuatan dan kemampuannya sendiri. Dalam melaksanakan tugasnya, pastilah Yeremia akan mengalami berbagai hal yang sangat pahit, menakutkan dan mengerikan dalam kehidupannya. Bagaimana mungkin Yeremia  yang masih muda belia, belum berpengalaman dan hanya seorang diri dia harus menyuarakan kebenaran firman Tuhan kepada banyak orang? Pastilah Yeremia memiliki pengalaman panggilan dari Tuhan begitu nyata, unik dan personal sehingga dia sangat yakin akan penyertaan dan pertolongan dari Allah. Dengan sangat indah, Mzm. 71:6 melukiskan kehidupan orang beriman yang hanya bersandar kepada Allah: “KepadaMulah aku bertopang mulai dari kandungan, Engkau telah mengeluarkan aku dari perut ibuku; Engkau yang selalu kupuji-puji”. Jadi sumber kekuatan spiritual dari Yeremia adalah karena ia bertopang kepada Allah yang telah memilihnya sebelum dia lahir dan yang telah menetapkan Yeremia sebagai hambaNya.

Dengan bekal kesaksian dari pengalaman Yeremia yang tegar menghadapi penolakan dari umat Israel dan orang-orang di sekitarnya, kita kerapkali dapat terjebak untuk mudah membenarkan diri saat orang-orang di sekitar menolak diri kita. Dalam hal ini kita terlalu mudah menyamakan diri kita sendiri dengan nabi Yeremia. Seakan-akan diri kita merupakan pengejawantahan kembali pengalaman personal nabi Yeremia. Berita yang disampaikan oleh nabi Yeremia memang sangat tajam, tetapi dia tidak menonjolkan perkataan yang kasar; dia mengemukakan hukuman Allah secara lugas tetapi bukan untuk mendiskreditkan sesama, tetapi bertujuan agar umat bertobat; dia berani menyingkap dosa umat tetapi sekaligus dia memberitakan firman Tuhan yang memberi pengharapan. Sikap nabi Yeremia tersebut justru sering tidak kita lakukan dengan baik. Perkataan-perkataan kita sering gemar mengutip firman Tuhan (Alkitab) untuk  pembenaran diri  dan menutupi segala bentuk sikap egoisme kita. Atau mungkin perkataan-perkataan kita cenderung sering kasar, meremehkan, penuh kecurigaan dan sikap yang mudah menghakimi orang lain. Sehingga seringkali perkataan dan ucapan kita sering menjadi “bisa” (racun ular) yang meracuni atau mematikan semangat dan harapan hidup dari sesama kita.

Berita firman Allah yang tajam menusuk, bukanlah bertujuan untuk mencerai-beraikan dan merusak kehidupan umat manusia tetapi untuk membangun. Berita firman Tuhan harus disampaikan secara benar, lugas, dan obyektif tetapi dengan tujuan kasih. Dalam hal inilah kasih Allah harus menjadi dasar utama dari seluruh pemberitaan firman Tuhan. Bandingkan dengan perkataan rasul Paulus: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku“. (I Kor. 13:2-3). Ketika berita dari firman Allah tersebut telah kita sampaikan dengan penuh kasih, kesediaan berkorban, dan hati yang tulus, namun kita tetap ditolak oleh sesama maka Tuhan telah berjanji untuk menyertai dan melindungi diri kita.

Kita semua dipanggil untuk memberitakan firman Allah di semua aras atau berbagai bidang kehidupan, bukan hanya di gereja; tetapi juga di rumah/keluarga, hubungan-hubungan pribadi, di tempat pekerjaan, di sekolah/kampus, di masyarakat dan di arena sosial-politik sesuai dengan tugas panggilan kita masing-masing. Tetapi apakah firman Tuhan tersebut telah kita sampaikan secara benar, lugas, obyektif namun tetap dilandasi dengan kasih; ataukah sebaliknya perkataan dan ucapan-ucapan kita justru  dilandasi oleh pola pikir duniawi tetapi dengan bungkus/kemasan firman Tuhan?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: