Home > Yohanes Bambang Mulyono > Belajar Selalu Merenungkan dan Memberitakan Firman Tuhan

Belajar Selalu Merenungkan dan Memberitakan Firman Tuhan

“…maka serentak berkumpullah seluruh rakyat di halaman di depan pintu gerbang Air. Mereka meminta kepada Ezra, ahli kitab itu, supaya ia membawa kitab Taurat Musa, yakni kitab hukum yang diberikan TUHAN kepada Israel.  Lalu pada hari pertama bulan yang ketujuh itu imam Ezra membawa kitab Taurat itu ke hadapan jemaah, yakni baik laki-laki maupun perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. Ia membacakan beberapa bagian dari pada kitab itu di halaman di depan pintu gerbang Air dari pagi sampai tengah hari di hadapan laki-laki dan perempuan dan semua orang yang dapat mengerti. Dengan penuh perhatian seluruh umat mendengarkan pembacaan kitab Taurat itu.  Ezra, ahli kitab itu, berdiri di atas mimbar kayu yang dibuat untuk peristiwa itu. Di sisinya sebelah kanan berdiri Matica, Sema, Anaya, Uria, Hilkia dan Maaseya, sedang di sebelah kiri berdiri Pedaya, Misael, Malkia, Hasum, Hasbadana, Zakharia dan Mesulam.  Ezra membuka kitab itu di depan mata seluruh umat, karena ia berdiri lebih tinggi dari semua orang itu. Pada waktu ia membuka kitab itu semua orang bangkit berdiri.  Lalu Ezra memuji TUHAN, Allah yang maha besar, dan semua orang menyambut dengan: “Amin, amin!”, sambil mengangkat tangan. Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada TUHAN dengan muka sampai ke tanah. (8-8) Juga Yesua, Bani, Serebya, Yamin, Akub, Sabetai, Hodia, Maaseya, Kelita, Azarya, Yozabad, Hanan, Pelaya, yang adalah orang-orang Lewi, mengajarkan Taurat itu kepada orang-orang itu, sementara orang-orang itu berdiri di tempatnya.  Bagian-bagian dari pada kitab itu, yakni Taurat Allah, dibacakan dengan jelas, dengan diberi keterangan-keterangan, sehingga pembacaan dimengerti.  Lalu Nehemia, yakni kepala daerah itu, dan imam Ezra, ahli kitab itu, dan orang-orang Lewi yang mengajar orang-orang itu, berkata kepada mereka semuanya: “Hari ini adalah kudus bagi TUHAN Allahmu. Jangan kamu berdukacita dan menangis!”, karena semua orang itu menangis ketika mendengar kalimat-kalimat Taurat itu. Lalu berkatalah ia kepada mereka: “Pergilah kamu, makanlah sedap-sedapan dan minumlah minuman manis dan kirimlah sebagian kepada mereka yang tidak sedia apa-apa, karena hari ini adalah kudus bagi Tuhan kita! Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!

Nehemia 8:1-10

Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya; (19-3) hari meneruskan berita itu kepada hari, dan malam menyampaikan pengetahuan itu kepada malam. (19-4) Tidak ada berita dan tidak ada kata, suara mereka tidak terdengar; (19-5) tetapi gema mereka terpencar ke seluruh dunia, dan perkataan mereka sampai ke ujung bumi. Ia memasang kemah di langit untuk matahari, (19-6) yang keluar bagaikan pengantin laki-laki yang keluar dari kamarnya, girang bagaikan pahlawan yang hendak melakukan perjalanannya. (19-7) Dari ujung langit ia terbit, dan ia beredar sampai ke ujung yang lain; tidak ada yang terlindung dari panas sinarnya. (19-8) Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. (19-9) Titah TUHAN itu tepat, menyukakan hati; perintah TUHAN itu murni, membuat mata bercahaya. (19-10) Takut akan TUHAN itu suci, tetap ada untuk selamanya; hukum-hukum TUHAN itu benar, adil semuanya, (19-11) lebih indah dari pada emas, bahkan dari pada banyak emas tua; dan lebih manis dari pada madu, bahkan dari pada madu tetesan dari sarang lebah. (19-12) Lagipula hamba-Mu diperingatkan oleh semuanya itu, dan orang yang berpegang padanya mendapat upah yang besar. (19-13) Siapakah yang dapat mengetahui kesesatan? Bebaskanlah aku dari apa yang tidak kusadari. (19-14) Lindungilah hamba-Mu, juga terhadap orang yang kurang ajar; janganlah mereka menguasai aku! Maka aku menjadi tak bercela dan bebas dari pelanggaran besar. (19-15) Mudah-mudahan Engkau berkenan akan ucapan mulutku dan renungan hatiku, ya TUHAN, gunung batuku dan penebusku.

Mazmur. 19: 1-14

Karena sama seperti tubuh itu satu dan anggota-anggotanya banyak, dan segala anggota itu, sekalipun banyak, merupakan satu tubuh, demikian pula Kristus. Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh. Karena tubuh juga tidak terdiri dari satu anggota, tetapi atas banyak anggota. Andaikata kaki berkata: “Karena aku bukan tangan, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Dan andaikata telinga berkata: “Karena aku bukan mata, aku tidak termasuk tubuh”, jadi benarkah ia tidak termasuk tubuh? Andaikata tubuh seluruhnya adalah mata, di manakah pendengaran? Andaikata seluruhnya adalah telinga, di manakah penciuman? Tetapi Allah telah memberikan kepada anggota, masing-masing secara khusus, suatu tempat pada tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya. Andaikata semuanya adalah satu anggota, di manakah tubuh? Memang ada banyak anggota, tetapi hanya satu tubuh. Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat berkata kepada kaki: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Malahan justru anggota-anggota tubuh yang nampaknya paling lemah, yang paling dibutuhkan. Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus. Hal itu tidak dibutuhkan oleh anggota-anggota kita yang elok. Allah telah menyusun tubuh kita begitu rupa, sehingga kepada anggota-anggota yang tidak mulia diberikan penghormatan khusus, supaya jangan terjadi perpecahan dalam tubuh, tetapi supaya anggota-anggota yang berbeda itu saling memperhatikan. Karena itu jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita. Kamu semua adalah tubuh Kristus dan kamu masing-masing adalah anggotanya. Dan Allah telah menetapkan beberapa orang dalam Jemaat: pertama sebagai rasul, kedua sebagai nabi, ketiga sebagai pengajar. Selanjutnya mereka yang mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, untuk menyembuhkan, untuk melayani, untuk memimpin, dan untuk berkata-kata dalam bahasa roh. Adakah mereka semua rasul, atau nabi, atau pengajar? Adakah mereka semua mendapat karunia untuk mengadakan mujizat, atau untuk menyembuhkan, atau untuk berkata-kata dalam bahasa roh, atau untuk menafsirkan bahasa roh? Jadi berusahalah untuk memperoleh karunia-karunia yang paling utama. Dan aku menunjukkan kepadamu jalan yang lebih utama lagi.

I Kor. 12:12-31

Dan engkau akan berbahagia, karena mereka tidak mempunyai apa-apa untuk membalasnya kepadamu. Sebab engkau akan mendapat balasnya pada hari kebangkitan orang-orang benar.” Mendengar itu berkatalah seorang dari tamu-tamu itu kepada Yesus: “Berbahagialah orang yang akan dijamu dalam Kerajaan Allah.” Tetapi Yesus berkata kepadanya: “Ada seorang mengadakan perjamuan besar dan ia mengundang banyak orang. Menjelang perjamuan itu dimulai, ia menyuruh hambanya mengatakan kepada para undangan: Marilah, sebab segala sesuatu sudah siap. Tetapi mereka bersama-sama meminta maaf. Yang pertama berkata kepadanya: Aku telah membeli ladang dan aku harus pergi melihatnya; aku minta dimaafkan. Yang lain berkata: Aku telah membeli lima pasang lembu kebiri dan aku harus pergi mencobanya; aku minta dimaafkan. Yang lain lagi berkata: Aku baru kawin dan karena itu aku tidak dapat datang. Maka kembalilah hamba itu dan menyampaikan semuanya itu kepada tuannya. Lalu murkalah tuan rumah itu dan berkata kepada hambanya: Pergilah dengan segera ke segala jalan dan lorong kota dan bawalah ke mari orang-orang miskin dan orang-orang cacat dan orang-orang buta dan orang-orang lumpuh.

Lukas 4:14-21

Bagi orang beriman, firman Tuhan selalu menempati tempat yang sangat utama dalam kehidupan mereka. Pemazmur mengungkapkan: “Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan Tuhan itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman. Titah Tuhan itu tepat, menyukakan hati; perintah Tuhan itu murni, membuat mata bercahaya” (Mzm. 19:8-9). Sehingga tidak mengherankan jikalau umat Israel setelah kembali dari pembuangan di Babel, mereka berkumpul untuk mendengarkan pembacaan hukum Taurat. Di Neh. 8:3 disebutkan Ezra membacakan firman Tuhan kepada umat Israel, yaitu laki-laki dan perempuan dan setiap orang yang dapat mendengar dan mengerti. Mereka tidak terlebih dahulu mengadakan pesta untuk merayakan peristiwa sukacita karena telah kembali umat dari pembuangan. Tetapi yang dilakukan oleh umat Israel adalah terlebih dahulu mereka menyatukan diri untuk belajar merenungkan dan mengerti firman Tuhan.

Di Nehemia. 8:4 disebutkan bahwa Ezra membacakan firman Tuhan tersebut di depan pintu Gerbang Air dari pagi sampai tengah hari. Pembacaan Alkitab tersebut secara bersengaja dilaksanakan di depan pintu Gerbang Air, yang juga tempat itu diberi predikat sebagai: “the glory of the city“. Yang mana air bermakna sebagai sumber kehidupan, sehingga firman Tuhan dimaknai pula sebagai sumber kehidupan bagi umat percaya. Yang menarik pembacaan Alkitab tersebut dibacakan oleh Ezra dari pagi sampai tengah hari. Jadi pembacaan Alkitab dan uraiannya hampir mencapai 6 jam! Umat Israel tetap bertahan mendengar pembacaan firman Tuhan sekian lama karena mereka haus akan firman Tuhan tersebut. Bandingkan dengan Mzm. 42:2 yang berkata: “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah“. Jika demikian, seharusnya kita selaku umat percaya juga memiliki sikap yang selalu haus akan firman Tuhan. Firman Tuhan tersebut bukan hanya kita baca hanya dalam kebaktian hari Minggu, tetapi seharusnya kita baca setiap hari. Kalau kita selalu haus akan firman Tuhan, justru penambahan pembacaan Alkitab tersebut justru membawa rasa sukacita.

Pada satu sisi kita dapat melihat umat Israel sebagai umat yang selalu haus untuk mendengarkan firman Tuhan, tetapi pada sisi lain kita juga dapat melihat mereka seringkali menjadi umat yang cenderung mengeraskan hati. Itu sebabnya umat Israel sering gagal untuk menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan. Tampaknya mereka hanya gemar “mendengar” (to hear), tetapi mereka gagal untuk belajar “mendengarkan” (to listen) firman Tuhan. Sehingga ketika Tuhan Yesus menyatakan: “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” (Luk. 4:21), mereka menunjukkan sikap penolakan untuk mengakui Yesus sebagai penggenap nubuat nabi Yesaya. Di Luk. 4:29 disebutkan lalu mereka bangun, menghalau Yesus ke luar kota dan membawa Dia ke terbing gunung dengan tujuan untuk membunuh Dia. Sebenarnya keadaan rohani umat Israel dalam kenyataan hidup sehari-hari tidak berbeda dengan sikap hidup kita sendiri. Pada satu pihak kita menampakkan sikap yang sangat rohani dan haus untuk mendengar firman Tuhan, tetapi sikap dan perbuatan hidup kita justru bertolak-belakang dari kehendak Tuhan. Apabila firman Tuhan yang kita dengar kudus dan benar adanya, tetapi kita sering mengeluarkan perkataan yang penuh dengan kesombongan, menyebarkan kebencian, memberi stigma negatif terhadap diri seseorang, dan merendahkan sesama yang kita anggap lemah.

Rasul Paulus memberi nasihat: “Sebab dalam satu Roh kita semua, baik orang Yahudi, maupun orang Yunani, baik budak, maupun orang merdeka, telah dibaptis menjadi satu tubuh dan kita semua diberi minum dari satu Roh” (I Kor. 12:13). Apabila kita menyadari bahwa setiap diri kita merupakan satu tubuh di dalam Kristus, maka seharusnya kita menghormati setiap orang. Bahkan kita wajib memberi penghormatan khusus kepada sesama yang kita anggap kurang “penting”. Di I Kor. 12:23, rasul Paulus berkata: “Dan kepada anggota-anggota tubuh yang menurut pemandangan kita kurang terhormat, kita berikan penghormatan khusus. Dan terhadap anggota-anggota kita yang tidak elok, kita berikan perhatian khusus” . Tidaklah cukup bagi kita hanya sebagai pendengar firman Tuhan yang saleh, tetapi lebih dari pada itu kita dituntut untuk menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan yang setia dengan memberlakukan kasih Tuhan secara nyata kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.

Manakala perkataan dan perbuatan kita bertentangan dengan firman Tuhan, walaupun kita selalu merasa haus akan firman Tuhan sesungguhnya kehidupan kita belum sepenuhnya dikuasai oleh firman Tuhan. Nilai-nilai kebenaran firman Tuhan tersebut belum diserap di dalam roh dan jiwa kita, sebab kehidupan kita masih dipenuhi oleh nilai-nilai yang duniawi. Untuk melihat apakah kita telah menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan, dapat dillihat seberapa besar nilai-nilai firman Tuhan tersebut kita nyatakan dalam perkataan dan perbuatan kita. Semakin perkataan dan perbuatan kita menghasilkan kebenaran, keadilan dan damai-sejahtera maka kerohanian kita tersebut dapat menjadi suatu cermin bahwa hidup kita makin dipenuhi oleh kebenaran firman Tuhan. Jika demikian, di manakah kita berada? Apakah kita selaku jemaat Tuhan hanya sebagai pendengar yang haus akan firman Tuhan, ataukah juga kita menjadi pelaku-pelaku firman Tuhan?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: