Home > Yohanes Bambang Mulyono > Menyatakan Kemuliaan Tuhan Lewat Hidup

Menyatakan Kemuliaan Tuhan Lewat Hidup

Ketika Musa turun dari gunung Sinai–kedua loh hukum Allah ada di tangan Musa ketika ia turun dari gunung itu–tidaklah ia tahu, bahwa kulit mukanya bercahaya oleh karena ia telah berbicara dengan TUHAN. Ketika Harun dan segala orang Israel melihat Musa, tampak kulit mukanya bercahaya, maka takutlah mereka mendekati dia. Tetapi Musa memanggil mereka, maka Harun dan segala pemimpin jemaah itu berbalik kepadanya dan Musa berbicara kepada mereka. Sesudah itu mendekatlah segala orang Israel, lalu disampaikannyalah kepada mereka segala perintah yang diucapkan TUHAN kepadanya di atas gunung Sinai. Setelah Musa selesai berbicara dengan mereka, diselubunginyalah mukanya. Tetapi apabila Musa masuk menghadap TUHAN untuk berbicara dengan Dia, ditanggalkannyalah selubung itu sampai ia keluar; dan apabila ia keluar dikatakannyalah kepada orang Israel apa yang diperintahkan kepadanya. Apabila orang Israel melihat muka Musa, bahwa kulit muka Musa bercahaya, maka Musa menyelubungi mukanya kembali sampai ia masuk menghadap untuk berbicara dengan TUHAN.

Keluaran. 34:29-35

TUHAN itu Raja, maka bangsa-bangsa gemetar. Ia duduk di atas kerub-kerub, maka bumi goyang. TUHAN itu maha besar di Sion, dan Ia tinggi mengatasi segala bangsa. Biarlah mereka menyanyikan syukur bagi nama-Mu yang besar dan dahsyat; Kuduslah Ia! Raja yang kuat, yang mencintai hukum, Engkaulah yang menegakkan kebenaran; hukum dan keadilan di antara keturunan Yakub, Engkaulah yang melakukannya. Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah kepada tumpuan kaki-Nya! Kuduslah Ia! Musa dan Harun di antara imam-imam-Nya, dan Samuel di antara orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka berseru kepada TUHAN dan Ia menjawab mereka. Dalam tiang awan Ia berbicara kepada mereka; mereka telah berpegang pada peringatan-peringatan-Nya dan ketetapan yang diberikan-Nya kepada mereka. TUHAN, Allah kami, Engkau telah menjawab mereka, Engkau Allah yang mengampuni bagi mereka, tetapi yang membalas perbuatan-perbuatan mereka. Tinggikanlah TUHAN, Allah kita, dan sujudlah menyembah di hadapan gunung-Nya yang kudus! Sebab kuduslah TUHAN, Allah kita!

Mazmur. 99

Karena kami mempunyai pengharapan yang demikian, maka kami bertindak dengan penuh keberanian, tidak seperti Musa, yang menyelubungi mukanya, supaya mata orang-orang Israel jangan melihat hilangnya cahaya yang sementara itu. Tetapi pikiran mereka telah menjadi tumpul, sebab sampai pada hari ini selubung itu masih tetap menyelubungi mereka, jika mereka membaca perjanjian lama itu tanpa disingkapkan, karena hanya Kristus saja yang dapat menyingkapkannya. Bahkan sampai pada hari ini, setiap kali mereka membaca kitab Musa, ada selubung yang menutupi hati mereka. Tetapi apabila hati seorang berbalik kepada Tuhan, maka selubung itu diambil dari padanya. Sebab Tuhan adalah Roh; dan di mana ada Roh Allah, di situ ada kemerdekaan. Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan dengan muka yang tidak berselubung. Dan karena kemuliaan itu datangnya dari Tuhan yang adalah Roh, maka kita diubah menjadi serupa dengan gambar-Nya, dalam kemuliaan yang semakin besar.  Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati. Tetapi kami menolak segala perbuatan tersembunyi yang memalukan; kami tidak berlaku licik dan tidak memalsukan firman Allah. Sebaliknya kami menyatakan kebenaran dan dengan demikian kami menyerahkan diri kami untuk dipertimbangkan oleh semua orang di hadapan Allah.

II Korintus. 3:12 – 4:2

Kira-kira delapan hari sesudah segala pengajaran itu, Yesus membawa Petrus, Yohanes dan Yakobus, lalu naik ke atas gunung untuk berdoa. Ketika Ia sedang berdoa, rupa wajah-Nya berubah dan pakaian-Nya menjadi putih berkilau-kilauan. Dan tampaklah dua orang berbicara dengan Dia, yaitu Musa dan Elia. Keduanya menampakkan diri dalam kemuliaan dan berbicara tentang tujuan kepergian-Nya yang akan digenapi-Nya di Yerusalem. Sementara itu Petrus dan teman-temannya telah tertidur dan ketika mereka terbangun mereka melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya: dan kedua orang yang berdiri di dekat-Nya itu. Dan ketika kedua orang itu hendak meninggalkan Yesus, Petrus berkata kepada-Nya: “Guru, betapa bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia.” Tetapi Petrus tidak tahu apa yang dikatakannya itu. Sementara ia berkata demikian, datanglah awan menaungi mereka. Dan ketika mereka masuk ke dalam awan itu, takutlah mereka. Maka terdengarlah suara dari dalam awan itu, yang berkata: “Inilah Anak-Ku yang Kupilih, dengarkanlah Dia.” Ketika suara itu terdengar, nampaklah Yesus tinggal seorang diri. Dan murid-murid itu merahasiakannya, dan pada masa itu mereka tidak menceriterakan kepada siapapun apa yang telah mereka lihat itu. Pada keesokan harinya ketika mereka turun dari gunung itu, datanglah orang banyak berbondong-bondong menemui Yesus. Seorang dari orang banyak itu berseru, katanya: “Guru, aku memohon supaya Engkau menengok anakku, sebab ia adalah satu-satunya anakku. Sewaktu-waktu ia diserang roh, lalu mendadak ia berteriak dan roh itu menggoncang-goncangkannya sehingga mulutnya berbusa. Roh itu terus saja menyiksa dia dan hampir-hampir tidak mau meninggalkannya. Dan aku telah meminta kepada murid-murid-Mu supaya mereka mengusir roh itu, tetapi mereka tidak dapat.” Maka kata Yesus: “Hai kamu angkatan yang tidak percaya dan yang sesat, berapa lama lagi Aku harus tinggal di antara kamu dan sabar terhadap kamu? Bawa anakmu itu kemari!” Dan ketika anak itu mendekati Yesus, setan itu membantingkannya ke tanah dan menggoncang-goncangnya. Tetapi Yesus menegor roh jahat itu dengan keras dan menyembuhkan anak itu, lalu mengembalikannya kepada ayahnya. Maka takjublah semua orang itu karena kebesaran Allah. (9-43b) Ketika semua orang itu masih heran karena segala yang diperbuat-Nya itu, Yesus berkata kepada murid-murid-Nya: “Dengarlah dan camkanlah segala perkataan-Ku ini: Anak Manusia akan diserahkan ke dalam tangan manusia.”

Lukas. 9:28-43

Di gunung Sinai Musa menerima Sepuluh Firman Allah. Dia diperkenankan untuk berhadapan dan memandang kemuliaan Allah. Proses pewahyuan firman Allah di dalam diri Musa, bukan hanya disaksikan bahwa Musa dimampukan untuk mendengar “suara” Allah. Tetapi juga Musa diperkenankan untuk “melihat” dan memandang wajah Allah. Kel. 33:11 menyaksikan: “Tuhan berbicara kepada Musa dengan berhadapan muka seperti seseorang berbicara kepada temannya”. Saat Musa berhadapan dengan diri Allah, dia tidak hanya melihat kemuliaan Allah; tetapi juga dia mengalami kehadiran Allah yang dahsyat itu sebagai seorang sahabatnya. Pewahyuan firman Allah dikomunikasikan dalam wajah kemuliaan Allah yang dahsyat, tetapi sekaligus juga tetap tampil bersahabat dan penuh keakraban. Saat Musa turun dari gunung Sinai, tanpa dia ketahui wajahnya bersinar memancarkan cahaya kemuliaan Allah. Umat IsraeL tidak tahan menatap wajah Musa yang bersinar, sehingga Musa harus mengenakan kain selubung agar ia dapat berbicara menyampaikan firman Tuhan kepada umat Israel.

Walau demikian cahaya kemuliaan Allah yang terpancar di wajah Musa hanya bersifat sementara. Wajah Musa tidak senantiasa mampu memancarkan cahaya kemuliaan Allah yang kudus selama-lamanya. Dia hanya sementara saja memantulkan  cahaya kemuliaan Allah. Tetapi harus diingat, pengalaman spiritual yang dahsyat itu tidak pernah mengubah status atau kedudukan Musa sebagai seorang abdi Allah biasa, walau dia pernah mengalami pengalaman iman yang paling luar biasa. Sebab siapakah di antara umat manusia yang mampu memandang wajah Allah? Sebab “tidak ada orang yang memandang wajah Allah dapat hidup” (Kel. 33:20). Keadaan cahaya kemuliaan Allah yang bersifat temporal ini kemudian dipakai oleh rasul Paulus di ll Kor. 3 untuk menunjukkan perbedaan bahwa cahaya kemuliaan KrIstus sesungguhnya tidak pernah pudar. Musa adalah abdi Allah yang diperkenankan Allah untuk memantulkan cahaya kemuliaanNya. Tetapi Kristus adalah cahaya kemuliaan Allah itu sendiri (bdk. Ibr. 1:3). Karena itu cahaya kemuliaan Kristus tidak pernah pudar sampai selama-lamanya. Itu sebabnya rasul Paulus berkata:  “Sebab jika yang pudar itu  disertai  dengan kemuliaan,  betapa lebihnya lagi yang tidak pudar itu disertai kemuliaan” [2 Kor. 3:11].

Kitab Injil menyaksikan bagaimana peristiwa transfigurasi terhadap diri Tuhan Yesus terjadi. Luk. 9:29 menyaksikan bagaimana tiba-tiba wajah Tuhan Yesus berubah penuh kemuliaan Allah saat Dia berdoa ditemani oleh Petrus, Yohanes  dan Yakobus. Kini jati diri ke-Tuhan-an Yesus disingkapkan dalam peristiwa transfigurasi itu. Keilahian Kristus saat itu tidak lagi tersembunyi dan tidak terselubung  oleh keberadaanNya sebagai manusia. Pada saat kemuliaan Kristus terjadi maka disebutkan datanglah Musa dan Elia. Mereka berbicara dengan Tuhan Yesus tentang tujuan kepergian dan kematianNya yang akan terjadi di Yerusalem. Musa yang pernah memancarkan cahaya kemuliaan Allah, dan nabi Elia yang pernah  menyatakan kuasa Allah di atas gunung Karmel dengan menurunkan api dari langit. Namun kini mereka secara khusus menjumpai Kristus dalam kemuliaanNya. Keduanya, yaitu Musa dan Elia adalah saksi yang meneguhkan keTuhanan Yesus.

Namun yang harus diingat oleh kita adalah bahwa peristiwa transfigurasi Kristus di atas gunung tersebut bukanlah puncak dari kemuliaanNya. Tuhan Yesus  kelak akan memperoleh kemuliaanNya melalui penderitaan dan kematianNya di atas kayu salib. Cahaya kemuliaan Kristus yang kekal dinyatakan dengan tubuh kebangkitanNya setelah Dia mengalahkan kuasa maut. Kristus sejak dari kekal adalah cahaya kemuliaan Allah, tetapi kebangkitanNya dari maut menyaksikan kedirianNya yang kekal dan mulia kepada umat manusia di tengah-tengah sejarah hidup mereka.

Ketika Petrus dalam peristiwa transfigurasi menyaksikan kedatangan Musa dan Elia, secara spontan dia berkata: “Guru, betapa bahagia bahagianya kami berada di tempat ini. Baiklah kami dirikan sekarang tiga kemah, satu untuk Engkau, satu untuk Musa dan satu untuk Elia” (Luk. 9:33). Perkataan Petrus yang tampaknya sangat simpatik tersebut ingin mengajak Tuhan Yesus, Musa dan Elia untuk tinggal dalam kemah. Tetapi tujuannya agar kemuliaan Kristus tidak lagi terpancar, tetapi terkurung dalam kemah buatan Petrus. Saat Kristus, Musa dan Elia berada dalam kemah buatan manusia,  maka cahaya kemuliaan Allah tidak akan tampak lagi.

Seandainya Kristus berdiam atau tinggal tetap di dalam kemah, Dia tidak akan berangkat ke Yerusalem untuk menyongsong penderitaan dan kematianNya. Ternyata dalam ucapan Petrus yang tampaknya sangat simpatik itu mengandung suatu maksud yang tersembunyi untuk menghalangi rencana keselamatan Allah di dalam kematian Kristus. Bukankah perkataan Petrus tersebut menggemakan kembali bagaimana sikap Petrus yang pernah menarik Tuhan Yesus ke samping dan menegor, katanya: “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau” (Mat. 16:22). Pada saat itulah Tuhan Yesus berkata kepada Petrus: “Enyahlah Iblis, engkau suatu batu sandungan bagiKu sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah, melainkan apa yang dipikirkan manusia” [Mat. 16:23].

Teologi ‘kemah selubung’ dari Petrus sering kali masih menjadi pola hidup umat Kristen. Dalam kehidupan sehari-hari kita sering tanpa sengaja telah menutupi cahaya kemuliaan Kristus yang seharusnya kita pancarkan kepada sesama.  Dengan pola  hidup yang demikian kita akan lebih menyukai sikap tertutup, dan menikmati keselamatan dan kemuliaan Kristus untuk diri mereka  sendiri. Teologi selubung hanya menjadikan diri kita menjadi pribadi yang egois dan eksklusif. Pengalaman iman yang seharusnya memperkaya integritas dan relasi dengan sesama sering kita redusir menjadi pola hidup yang menarik diri dari pergaulan dengan sesama dan terlena dalam kenikmatan rohani untuk diri kita sendiri. Teologi selubung hanya mendangkalkan, bahkan membelenggu rahasia keselamatan Allah yang seharusnya kita singkapkan dan kita bagi-bagikan kepada sesama di sekitar kita.  Karena itu selaku umat percaya, kini kita semua dipanggil untuk berani membuka selubung agar kita dapat memancarkan cahaya kemuliaan Kristus kepada sesama di sekitar kita.

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: