Home > Yohanes Bambang Mulyono > Pertolongan Tuhan Memampukan Kita Menjadi AlatNya

Pertolongan Tuhan Memampukan Kita Menjadi AlatNya

Dalam tahun matinya raja Uzia aku melihat Tuhan duduk di atas takhta yang tinggi dan menjulang, dan ujung jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Para Serafim berdiri di sebelah atas-Nya, masing-masing mempunyai enam sayap; dua sayap dipakai untuk menutupi muka mereka, dua sayap dipakai untuk menutupi kaki mereka dan dua sayap dipakai untuk melayang-layang. Dan mereka berseru seorang kepada seorang, katanya: “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya!” Maka bergoyanglah alas ambang pintu disebabkan suara orang yang berseru itu dan rumah itupun penuhlah dengan asap. Lalu kataku: “Celakalah aku! aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni TUHAN semesta alam.” Tetapi seorang dari pada Serafim itu terbang mendapatkan aku; di tangannya ada bara, yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya kepada mulutku serta berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” Kemudian firman-Nya: “Pergilah, dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi mengerti: jangan! Lihatlah sungguh-sungguh, tetapi menanggap: jangan! Buatlah hati bangsa ini keras dan buatlah telinganya berat mendengar dan buatlah matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.” Kemudian aku bertanya: “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu jawab-Nya: “Sampai kota-kota telah lengang sunyi sepi, tidak ada lagi yang mendiami, dan di rumah-rumah tidak ada lagi manusia dan tanah menjadi sunyi dan sepi. TUHAN akan menyingkirkan manusia jauh-jauh, sehingga hampir seluruh negeri menjadi kosong. Dan jika di situ masih tinggal sepersepuluh dari mereka, mereka harus sekali lagi ditimpa kebinasaan, namun keadaannya akan seperti pohon beringin dan pohon jawi-jawi yang tunggulnya tinggal berdiri pada waktu ditebang. Dan dari tunggul itulah akan keluar tunas yang kudus!”

Yesaya. 6:1-13

Dari Daud. Aku hendak bersyukur kepada-Mu dengan segenap hatiku, di hadapan para allah aku akan bermazmur bagi-Mu. Aku hendak sujud ke arah bait-Mu yang kudus dan memuji nama-Mu, oleh karena kasih-Mu dan oleh karena setia-Mu; sebab Kaubuat nama-Mu dan janji-Mu melebihi segala sesuatu. Pada hari aku berseru, Engkaupun menjawab aku, Engkau menambahkan kekuatan dalam jiwaku. Semua raja di bumi akan bersyukur kepada-Mu, ya TUHAN, sebab mereka mendengar janji dari mulut-Mu; mereka akan menyanyi tentang jalan-jalan TUHAN, sebab besar kemuliaan TUHAN. TUHAN itu tinggi, namun Ia melihat orang yang hina, dan mengenal orang yang sombong dari jauh. Jika aku berada dalam kesesakan, Engkau mempertahankan hidupku; terhadap amarah musuhku Engkau mengulurkan tangan-Mu, dan tangan kanan-Mu menyelamatkan aku. TUHAN akan menyelesaikannya bagiku! Ya TUHAN, kasih setia-Mu untuk selama-lamanya; janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu!

Mazmur. 138

Dan sekarang, saudara-saudara, aku mau mengingatkan kamu kepada Injil yang aku beritakan kepadamu dan yang kamu terima, dan yang di dalamnya kamu teguh berdiri. Oleh Injil itu kamu diselamatkan, asal kamu teguh berpegang padanya, seperti yang telah kuberitakan kepadamu–kecuali kalau kamu telah sia-sia saja menjadi percaya. Sebab yang sangat penting telah kusampaikan kepadamu, yaitu apa yang telah kuterima sendiri, ialah bahwa Kristus telah mati karena dosa-dosa kita, sesuai dengan Kitab Suci, bahwa Ia telah dikuburkan, dan bahwa Ia telah dibangkitkan, pada hari yang ketiga, sesuai dengan Kitab Suci; bahwa Ia telah menampakkan diri kepada Kefas dan kemudian kepada kedua belas murid-Nya. Sesudah itu Ia menampakkan diri kepada lebih dari lima ratus saudara sekaligus; kebanyakan dari mereka masih hidup sampai sekarang, tetapi beberapa di antaranya telah meninggal. Selanjutnya Ia menampakkan diri kepada Yakobus, kemudian kepada semua rasul. Dan yang paling akhir dari semuanya Ia menampakkan diri juga kepadaku, sama seperti kepada anak yang lahir sebelum waktunya. Karena aku adalah yang paling hina dari semua rasul, sebab aku telah menganiaya Jemaat Allah. Tetapi karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku. Sebab itu, baik aku, maupun mereka, demikianlah kami mengajar dan demikianlah kamu menjadi percaya.

I Korintus. 15:1-11

Pada suatu kali Yesus berdiri di pantai danau Genesaret, sedang orang banyak mengerumuni Dia hendak mendengarkan firman Allah. Ia melihat dua perahu di tepi pantai. Nelayan-nelayannya telah turun dan sedang membasuh jalanya. Ia naik ke dalam salah satu perahu itu, yaitu perahu Simon, dan menyuruh dia supaya menolakkan perahunya sedikit jauh dari pantai. Lalu Ia duduk dan mengajar orang banyak dari atas perahu. Setelah selesai berbicara, Ia berkata kepada Simon: “Bertolaklah ke tempat yang dalam dan tebarkanlah jalamu untuk menangkap ikan.” Simon menjawab: “Guru, telah sepanjang malam kami bekerja keras dan kami tidak menangkap apa-apa, tetapi karena Engkau menyuruhnya, aku akan menebarkan jala juga.” Dan setelah mereka melakukannya, mereka menangkap sejumlah besar ikan, sehingga jala mereka mulai koyak. Lalu mereka memberi isyarat kepada teman-temannya di perahu yang lain supaya mereka datang membantunya. Dan mereka itu datang, lalu mereka bersama-sama mengisi kedua perahu itu dengan ikan hingga hampir tenggelam. Ketika Simon Petrus melihat hal itu iapun tersungkur di depan Yesus dan berkata: “Tuhan, pergilah dari padaku, karena aku ini seorang berdosa.” Sebab ia dan semua orang yang bersama-sama dengan dia takjub oleh karena banyaknya ikan yang mereka tangkap; demikian juga Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus, yang menjadi teman Simon. Kata Yesus kepada Simon: “Jangan takut, mulai dari sekarang engkau akan menjala manusia.” Dan sesudah mereka menghela perahu-perahunya ke darat, merekapun meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikut Yesus.

Lukas. 5:1-11

Stanley Jones adalah salah seorang pekabar Injil yang pernah melayani di India.  Dia mengisahkan pengalaman hidupnya dalam bukunya yang berjudul: “The Christ of the Indian Road“. Dalam buku tersebut Stanley Jones sebagai seorang misionaris pada awalnya ketika melayani di India sering mengalami ketegangan mental/stress yang membuat dia seringkali mengalami pingsan. Ketegangan mental tersebut terjadi berulang-ulang selama pelayanannya sebagai seorang misionaris. Walau dia sudah mengambil cuti besar pulang ke negaranya di Amerika Serikat untuk menenangkan hatinya, ternyata ketika kembali ke India dia tetap mengalami ketegangan mental. Setelah beberapa waktu lamanya, dia mengambil kesimpulan bahwa dia tidak berbakat dan tidak cocok untuk menjadi seorang misionaris. Namun ketika dia telah memutuskan untuk kembali ke negaranya, saat dia berdoa Stanley Jones seperti  mendengar suara Kristus yang berkata: “Jika kamu mau berpaling kepadaKu dan mau menyerahkan tugasmu kepadaKu, serta tidak merisaukan hal itu lagi, maka Akulah yang akan menyelenggarakan tugas itu”.

   Pengalaman iman tersebut memberi kekuatan mental yang  luar biasa  bagi Stanley Jones sehingga seluruh pelayanannnya sebagai seorang misionaris di India mengalami perubahan dan hasilnya sangat mengesankan. Dia terkenal sebagai seorang pengkhotbah yang penuh semangat dan mampu memberi inspirasi iman bagi setiap pendengarnya. Dalam bacaan pertama firman Tuhan dikisahkan bagaimana nabi Yesaya melihat kemuliaan Tuhan di Bait Allah yang dikelilingi oleh para Serafim yang memuji Allah sambil mereka berkata: “Kudus, kudus, kuduslah Tuhan semesta alam, seluruh bumi penuh kemuliaanNya” (Yes. 6:3).  Dalam pengalaman iman tersebut, nabi Yesaya merasa dirinya sangat najis dan tidak layak di hadapan Tuhan. Dia berseru: “Celakalah aku! Aku binasa! Sebab aku ini seorang yang najis bibir, dan aku tinggal di tengah-tengah bangsa yang najis bibir, namun mataku telah melihat Sang Raja, yakni Tuhan semesta alam” (Yes. 6:5). Menurut istilah Rudolf Otto, pengalaman iman nabi Yesaya mengalami kehadiran Allah yang “tremendum” (menggetarkan dan menakutkan), karena dia menyadari keberdosaannya yang akan menyebabkan dia dapat mati ketika dia berhadapan dengan kekudusan Allah.

   Seharusnya kekudusan Allah akan menghancurkan dan memusnahkan setiap keadaan yang najis dan berdosa. Kekudusan Allah sering digambarkan  bagaikan api yang membakar semua yang jahat, kotor dan yang berdosa. Tetapi sangat menarik, dalam pengalaman nabi Yesaya yang melihat kekudusan Allah tersebut dia justru menyaksikan bagaimana rahmat Allah yang mau merangkul dan memilih dia walau dia najis dan berdosa. Seorang Serafim mendekati dan menyentuh dia, sambil berkata: “Lihat, ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah dihapus dan dosamu telah diampuni” (Yes. 6:7).  Walau Allah itu kudus, tetapi kasih dan anugerahNya tidak pernah berubah. Kasih-karunia Allah inilah yang memampukan nabi Yesaya untuk menerima pengutusan sebagai seorang hambaNya. Ketika Allah berfirman: “Siapakah yang akan Kuutus, dan siapakah yang mau pergi untuk Aku?” Maka sahutku: “Ini aku, utuslah aku!” (Yes. 6:. Dengan demikian hakikat pengutusan Allah kepada umatNya sama sekali bukan ditentukan oleh kemampuan, kesalehan, kepandaian dan keahlian mereka. Tetapi yang menentukan adalah pengalaman perjumpaan iman mereka dengan Tuhan, yang telah memilih mereka kendati mereka sadar akan ketidaklayakannya, dan sikap kesediaan mereka untuk terus  diproses, dibentuk  dan dimampukan oleh kuasa Roh Kudus.

   Di I Kor. 15:8-10, rasul Paulus menyaksikan bagaimana kasih-karunia Allah yang begitu besar kepada dia walau dia semula seorang hina dan yang pernah menganiaya jemaat Tuhan. Di ayat 8, dia menyebut dirinya sebagai seorang anak yang lahir sebelum waktunya ketika Kristus berkenan menyatakan diriNya. Seorang bayi yang lahir prematur pada hakikatnya belum siap hadir sebagai seorang insan yang sehat di dunia ini. Seperti itulah keadaan rasul Paulus, dia tidak memiliki kesiapan dan kemampuan apa-apa tetapi ternyata kasih-karunia Kristus melampaui seluruh dosa dan kesalahannya. Manakala dia kemudian dipakai Tuhan dan dapat menjadi seorang hamba Kristus yang begitu berpengaruh dalam kehidupan gereja dan sejarah umat manusia, sama sekali bukan ditentukan oleh kemampuan manusiawinya. Dengan demikian terdapat pengalaman yang sejajar antara nabi Yesaya dan rasul Paulus. Mereka dapat menjadi seorang hamba Tuhan yang luar-biasa dan memiliki pengaruh yang abadi, oleh karena kuasa anugerah Allah yang memampukan mereka. Kekuatan mereka sebagai seorang hamba Tuhan didasarkan pada spiritualitas iman yang telah mengubah seluruh perspektif teologis yang semula bermegah karena kekuatan, kemampuan dan kepandaian diri mereka.

   Perubahan perspektif teologis itulah yang memampukan mereka untuk menyerap dan belajar terus-menerus kehendak Allah. Sehingga tidak mengherankan jikalau berita dari kitab nabi Yesaya dan surat-surat rasul Paulus memiliki suatu dinamika perkembangan teologis, kesaksian dan pemikiran yang begitu bernas, bermutu dan orisinil serta mampu merelevansikan firman Allah dengan kehidupan jemaat pada waktu itu dan kehidupan jemaat masa kini. Perjumpaan nabi Yesaya dan rasul Paulus dengan Tuhan bukan hanya membuat mereka memiliki kesadaran iman akan ketidaklayakkan dan besarnya kuasa anugerah Allah yang terjadi dalam diri mereka. Tetapi pengalaman iman itu juga memberi diri mereka suatu  kekuatan yang mendorong diri mereka untuk secara dinamis dan progresif membangun berita firman Allah yang berkuasa dan penuh wibawa kepada umat di zamannya.

   Demikian pula dengan tanggungjawab iman kita. Agar kita dapat berperan secara lebih efektif sebagai alat di tangan Tuhan, maka tidaklah cukup jika kita hanya berdasarkan pengalaman perjumpaan dengan Tuhan saja. Tetapi yang lebih utama lagi adalah apakah pengalaman perjumpaan dengan Kristus memampukan kita untuk mengalami perubahan perspektif teologis yang mendorong diri kita secara dinamis untuk terus belajar dan mengembangkan diri agar kita dapat  menyampaikan berita dari firman Tuhan yang makin bermutu dan mengena dengan kehidupan yang nyata. Kesalahan yang lain adalah banyak sekali di antara kita hanya menekankan upaya belajar berbagai ilmu pengetahuan dan mengembangkan diri dalam berbagai program pembinaan, tetapi seluruh upaya belajar tersebut  menutup mata  dan mengabaikan  pengalaman perjumpaan dengan Tuhan secara personal, sehingga berita yang kita sampaikan seringkali kering, hambar dan tidak memiliki wibawa rohani.

   Kini yang dipakai oleh Tuhan sebagai alatNya, tidak lagi terbatas kepada para pejabat gerejawi saja. Tuhan dapat memakai siapapun! Karena itu kita semua sebagai umat Allah adalah orang-orang yang telah ditebus oleh Kristus seharusnya  makin membuat kita peka dengan panggilanNya yang kudus, dan kesungguhan untuk terus mengembangkan diri. Sehingga berita firman Tuhan yang kita sampaikan dalam berbagai aspek kehidupan dapat menjadi berita firman Tuhan yang makin efektif untuk menjangkau setiap orang yang ada di sekitar kita. Jika demikian, apakah kita selaku hamba Tuhan atau anggota jemaat telah dapat menjadi alat di tangan Tuhan yang efektif?

Pdt. Yohanes Bambang Mulyono

  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: