Ignas Kleden

Biografi Singkat

Nama: Ignatius Nasu Kleden

Lahir: Larantuka, Flores Timur, 19 Mei 1948

Agama: Katolik

  • Pendidikan:-Sekolah Tinggi Filsafat Teologi/STFT
  • Ledalero, Maumere, Flores,1972
  • Hochschule fuer Philosophie, Muenchen, Jerman (MA Filsafat), 1981
  • Universitas Bielefeld (doktor sosiologi), Jerman, 1995

Karir:

  • Penerjemah buku-buku teologi pada penerbit Nusa Indah, Ende, Flores
  • Editor penerjemahan buku-buku ilmu sosial pada Yayasan Obor Internasional, Jakarta
  • Koordinator penerbitan pada Yayasan Ilmu-ilmu Sosial, Jakarta
  • Staf peneliti LP3ES, Jakarta
  • Peneliti pada Yayasan SPES di Jakarta

Keluarga:

Istri : Dr. Ninuk Probonegoro

Anak : Pascal Kleden

Alamat Rumah: Jalan Sawo I/19, Cipete Utara, Jakarta Selatan Telepon 7246037 – Taman Rempoa Indah D7, Rempoa, Ciputat 15412 Telepon 7356265 Alamat

Kantor:

  •  Yayasan SPES, Jalan Tebet Dalam IV/39, Tebet Barat, Jakarta Selatan Telepon 8303689
  • AAI, Jalan Probolinggo 4, Jakarta 10350

Lantaran melayani misa pribadi dengan memakai sandal—walau masih pakai toga panjang—Ignas Kleden ditegur pastor. Ia dianggap tak sopan. Dalam keadaan mengantuk, calon pastor Ignas berkata, “Bagaimana Romo bisa tahu bahwa Tuhan lebih suka sepatu daripada sandal?” Tak dijelaskan Ignas apa jawaban sang pastor. Tapi itulah “kenakalan”-nya ketika masih menempuh pendidikan di sebuah seminari di Flores. Namun itu juga mencerminkan kecerdasannya. Ia bisa masuk ke sekolah calon pastor itu berkat predikat lulusan terbaik di sekolah dasar.

Terlahir dari keluarga guru, ayahnya kepala sekolah dasar. Sang ayah sejak awal sudah ragu apakah Ignas bisa terus bertahan di seminari — meski pada awalnya Ignas cukup serius dengan keinginan menjadi pastor.

Setelah beberapa tahun di seminari, Ignas mulai menimbang-nimbang: “Jika menjadi pastor, saya harus berkhotbah,” katanya. “Padahal, saya merasa tidak bisa menjadi pengkhotbah yang baik.” Sebaliknya. dengan bahasa Latin yang dia kuasai, ia menganggap dirinya mampu mengembangkan gagasan keilmuan dengan menulis.

Ignas pun keluar dari seminari — padahal tinggal satu tahun lagi ditahbiskan menjadi pastor. Keluarganya sempat kecewa. “Tapi, bagaimana lagi. Untuk menjadi imam harus ada kemauan dari beberapa belah pihak. Kemauan dari saya yang melamar, kemauan dari pimpinan serikat yang menerima, dan kemauan dari gereja,” tutur Ignas.

Ignas mengenyam pendidikan tinggi di Jerman. Gelar sarjana muda ia dapatkan di sana. Gelar master of art bidang filsafat diperoleh dari Hochschule fuer Philosophie, Muenchen. Untuk S3-nya ia mengambil sosiologi dari Universitas Bielefeld.

Ketika masih di Flores, ia sudah sering kontak dengan majalah Basis di Yogya, Budaya Jaya di Jakarta, dan menulis artikel semipolemik untuk majalah TEMPO. Setelah hijrah ke Ibu Kota, 1974, Ignas makin aktif menulis baik di majalah maupun jurnal, dan menjadi kolomnis tetap TEMPO. Selain menulis, sosiolog dan sarjana filsafat ini banyak berkarir pada perbukuan dan penelitian. Ia pernah bekerja sebagai penerjemah buku-buku teologi di Penerbit Nusa Indah, Ende, Flores. Di Jakarta, Ignas sampat bekerja sebagai editor di beberapa penerbit buku, sampai akhirnya menjadi peneliti di lembaga penelitian The Society for Political and Economical Studies. Pada 2000, ia turut mendirikan Go East yang kini menjadi Pusat Pengkajian Indonesia Timur. Penguasaan beberapa bahasa asing, latar pendidikan teologis, filsafat dan sosiologi banyak membantu peningkatan karirnya.

Bermusik telah ia gemari sejak di seminari. Musik klasik adalah kesukaannya. Kalau ingin yang manis-manis, ia mendengarkan Mozart. Jika mau yang sedikit berenergi, “Saya mendengarkan Bethoven atau Bach,” kata pengagum Russell dan Einstein ini.

Ia pun peminat sastra, baik sastra dunia seperti sastra Rusia, Jerman, maupun sastra negeri. Untuk Indonesia, ia terutama menyukai prosa Pramoedya Ananta Toer, serta puisi Chairil Anwar dan Amir Hamzah.

Ignas menikah dengan sesama peneliti, Ninuk Probonegoro, di Leiden, Belanda, 1980, sewaktu Ninuk sekolah di sana. Setahun kemudian, pasangan ni dikaruniai seorang anak. “Proses kelahiran anak menyertakan eksistensialisme. Ternyata, anak melahirkan bapaknya dan anak juga melahirkan ibunya. Lelaki tanpa anak tidak akan menjadi bapak dan perempuan tanpa anak tidak akan menjadi ibu,” ujar Ignas.

Sumber: PDAT

Berikut adalah Tulisan-tulisannya yang tersebar di Internet (yang akan terus di up-date sesuai dengan dinamikanya):

Apa pun soalnya, cukup jelas bahwa Soekarno, selama dua dasawarsa (sejak 1926 hingga 1945), berpikir keras tentang apa yang dapat mempersatukan berbagai kelompok suku di Indonesia menjadi suatu bangsa yang dapat menentukan nasibnya sendiri melalui sebuah negara merdeka. Apakah mungkin tercapai sebuah dasar tempat semua orang dapat berdiri bersama secara politik di atas suatu platform nasional?

Hidup Tan Malaka menjadi falsifikasi radikal terhadap gagasan Madilog yang dikembangkannya. Paradoksnya: dia seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya. Kita ingat kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang: Storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head! Ini sebuah language game yang punya arti ganda: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.

Upaya dan perjuangan Sutardji untuk menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapatlah dipandang sebagai percobaan untuk melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran, dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi. Atau, untuk memakai kata-kata Sutardji sendiri, puisi adalah ibarat “senyap dalam sungai tenggelam dalam mimpi” tetapi dekonstruksi melalui puisi adalah ibarat “cuka dalam nadi luka dalam diri“.

Why is it that the attention of so many people to political parties and their involvement in those parties is always related to a sum of money that they receive as a compensation? Why does transactionalism become so strong in Indonesian politics as to be able to push away the political volunteerism that was still […]

Ladies and Gentlemen, Distinguished Guests, It is a great honor for me today to say a few words about “democracy and interfaith values”. I assume that the topic has derived from a tacit belief that there is a link between democracy and religion, or more precisely, a connection between democratic practices and religious motivations, moral […]

STA tidaklah mengesankan kita karena pengetahuannya yang beragam, tetapi terutama karena semenjak usia muda dia telah sadar tentang pentingnya menerjemahkan pengetahuan menjadi pandangan hidup, dan menerjemahkan ilmu menjadi Weltanschauung. Pada dasarnya dia bukanlah seorang teoretikus tentang kebudayaan yang membangun suatu sistem pemikiran dan sistem pengetahuan tentang kebudayaan, yang dapat dijadikan pegangan oleh orang lain untuk penelitian atau kajian budaya. Apa yang dilakukannya ialah menemukan suatu model kebudayaan yang dapat dijadikan referensi dan orientasi dalam mengembangkan kebudayaan Indonesia baru.

Dalam sebuah pidatonya yang terkenal ‘setelah ia lepas dari penjara dan setelah larangan untuk partai ANC dicabut, Mandela berkata, “Selama hidup saya telah membaktikan diri kepada perjuangan rakyat Afrika. Saya berjuang menentang dominasi putih, seperti juga saya berjuang menentang dominasi hitam. Telah saya jaga cita-cita untuk suatu masyarakat yang demokratis dan bebas, tempat semua orang hidup bersama dalam harmoni dengan kesempatan yang sama. Inilah sebuah cita-cita yang untuknya saya ingin hidup dan yang ingin saya capai. Namun, bila harus terjadi, inilah sebuah cita-cita yang untuknya saya bersedia mati.” Siapa pun yang belum paham tentang siapa itu pahlawan atau berpura-pura belum paham tentang pahlawan, sebaiknya mendengar kata-kata tersebut.

The conception of democracy as a political theory turns out to be understood in accord with the circumstances in which it is applied. There is a strong tendency in which politicians at least and the people in general are inclined to treat democracy not as a guideline with which to develop politics, […]

Gerakan kebangsaan untuk Indonesia Merdeka yang kemudian diteruskan dengan perjuangan bersenjata mengandung satu tema yang sama yaitu pembebasan atau kemerdekaan-dari (freedom from).  Ada kepercayaan bahwa kemerdekaan belum terwujud pada waktu itu karena ada yang menghalanginya, yaitu pihak penjajah. Penduduk di Hindia Belanda memang hidup dalam suatu negara tetapi negara tersebut bukanlah penjelmaan

Globalization turns out to be a phenomenon at the end of the 20th century that makes a lot of things in the societal setting no more a matter of course. It makes nationstates questionable and renders national borders less relevant than they were before. National economy becomes increasingly vulnerable in the face […]

Politik Indonesia akan menjadi maju jika ditegakkan di atas landasan sejarah politik yang tidak ditutup-tutupi sehingga menghadirkan kebenaran tentang manusia yang dapat dipelajari orang lain. Amicus Plato sed magis amicus veritas (Plato sahabatku, tetapi saya lebih bersahabat dengan kebenaran), begitu konon ucapan Aristoteles tentang guru dan pendahulunya itu. Kita akan selalu menghormati para pemimpin negara dan pemimpin pemerintahan, tetapi jauh lebih dewasa dan bermartabat jika kita dapat menghormati mereka dalam kebenaran.

Dalam dua pucuk suratnya yang ditulis dari penjara Cipinang dan dari tempat pembuangan di Boven Digoel, Sjahrir mengutip sepenggal sajak penyair Jerman, Friedrich Schiller. Dalam teks aslinya kutipan itu berbunyi: und setzt ihr nicht das Leben ein, nie wird euch das Leben gewonnen sein […]

(Pokok Pikiran Untuk Diskusi “Hubungan Antara Kebudayaan dan Teknologi”, Kantor Menteri Negara Ristek, 16 Mei 2001) Pertanyaan tentang hubungan teknologi dan kebudayaan adalah pertanyaan tentang arkheologi ilmu pengetahuan. Istilah arkheologi digunakan di sini tidak dalam pengertian ilmu purbakala, tetapi dalam pengertian epistemologis sebagaimana diperkenalkan oleh filosof post-strukturalis Perancis Michel Foucault. Mengikuti Foucault, penyelidikan tentang hubungan […]

KEDATANGAN Presiden Gus Dur ke DPR pada 20 Juli 2000 patut dicatat sebagai kontras besar bagi masa lampau DPR sebagai tukang stempel kemauan pemerintah, dan usaha pemberdayaan lembaga ini sebagai pengawas eksekutif dan pembawa suara rakyat. Dipertanyakan alasan Presiden memecat dua menterinya, dan apakah Presiden konsisten dalam alasan-alasan yang dikemukakannya. Meskipun demikian, […]

Sangat mungkin bahwa di antara penyair-penyair dalam sastra Indonesia moderen, tidak seorang pun yang demikian obsesif dengan tubuh manusia dalam permenungannya, seperti halnya Joko Pinurbo, dalam kumpulan sajaknya “Di Bawah Kibaran Sarung”. Penyair dan novelis sebelum dia memang di sana-sini menulis juga tentang badan, karena seluruh perasaan erotik tidak bisa tidak harus […]

Diskusi Buku “The Celestine Prophecy” Jakarta, Kompas. Dalam sejarah kehidupan, munculnya pemikiran-pemikiran utopis adalah hal biasa. Meski begitu ia tetap harus diwaspadai, karena ketika muncul keinginan untuk menerapkannya bisa sangat berbahaya. Untuk mewujudkan utopi-utopi orang bisa bertindak otoriter, bahkan dapat menjurus ke arah kekerasan.

DALAM sejarah politik semenjak Indonesia merdeka, naik-turunnya seorang pemimpin nasional, yaitu Presiden RI, tidak pernah terlepas dari krisis politik. Belum pernah terjadi selama 56 tahun kemerdekaan bahwa seorang pemimpin nasional kita mendapatkan kekuasaannya, dan kemudian melepaskan kekuasaannya dengan prosedur yang normal.

SETIAP pemilihan presiden, para wakil rakyat di MPR memberikan suaranya untuk seorang tokoh yang dianggap paling layak mengepalai pemerintahan, memimpin negara, dan bangsa ini untuk kurun waktu lima tahun sesuai ketetapan konstitusi. Pemilihan itu mencerminkan keyakinan pemilih tentang calon yang dikehendaki, baik kualifikasi maupun integritasnya.

REKAYASA bukan saja suatu muslihat politik, tetapi adalah suatu kesalahan filsafat. Pengandaian yang ada di baliknya adalah bahwa manusia hanyalah sebatang pohon jambu yang dapat tertawa. Ditanam di halaman yang luas dia bertumbuh besar, ditaruh dalam pot dia menjadi bonsai. Sudah lama ilmu-ilmu sosial menyangkal asumsi itu.

SEMENTARA seluruh dunia sedang mati-matian berusaha mencegah aksi militer Amerika Serikat (AS) ke Irak, di Jakarta, kita dengan sedih mengikuti berita penyerangan kantor majalah berita mingguan Tempo pada Sabtu 8 Maret. Dua peristiwa itu niscaya tak dapat dibandingkan dalam skala dan besarannya, tetapi sesungguhnya mempunyai persamaan dalam watak.

Pengantar Redaksi Direktur Center for East Indonesian Affairs (CEIA) Jakarta, Dr Ignas Kleden, merupakan satu di antara 12 ilmuwan sosial dari 12 negara yang diundang DAAD (Lembaga Pemerintah Jerman untuk Pertukaran Akademis) meninjau tahap terakhir Pemilihan Umum (Pemilu) Jerman 2002. Pemilu Jerman berlangsung 22 September 2002.

ISTILAH “naturalisme” digunakan di sini mengikuti pengertian yang dirumuskan filosof Karl Popper dalam bukunya The Open Society and Its Enemies, bahwa berbagai perkembangan sejarah dan proses-proses sosial akan berjalan secara alamiah, dan tidak perlu diatur oleh campur-tangan manusia secara sadar dan terencana.

Dibandingkan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, perkembangan tingkah laku manusia, baik secara moral, sosial maupun politik, tidak banyak mengalami kemajuan yang berarti selama — sekurang-kurangnya— dua milenium terakhir. Bertrand Russel banyak benarnya, kematangan moral manusia jauh tercecer dibandingkan dengan kematangan intelektualnya. Sebagai contoh soal, ambilah masalah demokrasi.

Politik rupa-rupanya suatu kegiatan yang tidak saja berhubungan dengan kemampuan, tetapi juga kesempatan. Hal itu tampaknya lebih disadari oleh Schroeder dari Partai Sosial-Demokrat (SPD) daripada oleh Stoiber dari Partai Kristen-Sosial (CSU). Ini terlihat dari dua langkah Schroeder, dalam hubungan dengan politik dalam negeri dan politik luar negeri.

SALAH satu agenda reformasi politik Indonesia saat ini adalah meninjau kembali masalah oposisi dalam politik. Ada dua pertanyaan yang dapat diajukan. Pertama, kalau politik dijalankan dengan cara Orde Baru tanpa oposisi yang dilembagakan, dapatkah dijamin bahwa kesalahan-kesalahan Orde Baru berupa KKN (korupsi, kolusi, nepotisme), tidak terulang lagi?

AKRONIM OTB menjadi suatu neologisme baru dalam politik Indonesia. Seperti biasa, suatu neologisme membawakan interpretasi baru, kesibukan baru dan bahkan kecemasan baru. Daya tarik organisasi tanpa bentuk disebabkan antara lain oleh kenyataan bahwa sebagai suatu istilah OTB adalah suatu contradictio in adjecto…

Dalam retorika politik Indonesia dewasa ini masih sering terdengar keinginan atau harapan akan adanya pemimpin panutan. Seseorang dianggap menjadi panutan apabila dia memiliki kebajikan-kebajikan yang patut dicontoh oleh orang lain, yang melihat dalam diri sang panutan suatu model tentang perilaku yang baik dan benar.

GEJOLAK politik dan krisis ekonomi di Indonesia sepanjang tahun 1998 tampaknya dapat mengancam daya-tahan kepercayaan. Pada tingkat internasional krisis itu dapat mengguncangkan kepercayaan luar negeri terhadap kemampuan Pemerintah Indonesia untuk mengembalikan stabilitas politik. Pada tingkat nasional krisis itu dapat membuat goyah kepercayaan rakyat Indonesia terhadap kesungguhan pemerintahnya untuk membersihkan politik dan birokrasi.

Demokrasi lahir kira-kira 5 abad sebelum masehi dalam masa Yunani Antik di kota Athena Demokrasi sudah banyak menimbulkan keraguan. Bukan saja aristokrat merasa terancam kedudukannya oleh adanya sistem yang memungkinkan pemerintahan oleh rakyat, tetapi juga para filosof populis seperti Socrates bahkan cenderung menolaknya.

ANALISIS wacana muncul sebagai suatu pendekatan ilmu-ilmu sosial sekurang-kurangnya dalam sepuluh tahun terakhir. Sampai tingkat tertentu, dia merupakan penerapan praktis dari apa yang dikenal sebagai epistemologi dalam studi filsafat. Pertanyaan yang diajukan bukanlah mengenai apa yang sesungguhnya terjadi, melainkan justru mengenai bagaimana orang memandang apa yang terjadi, dan mengapa pula dia memandang

DISKUSI AKTUALISASI ”THE THIRD WAY”. The Renewal of Social Democracy karya terbaru Anthony Giddens (60), sosiolog, Direktur The London School of Economics, HU Kompas menyelenggarakan diskusi kecil mencoba menemukan aktualisasi gagasan-gagasan pokoknya dengan apa yang sudah-sedang-akan terjadi di Indonesia.

BEBERAPA KESIMPULAN DISKUSI “REFLEKSI KEBUDAYAAN”. PADA 9 September 1995 di auditorium Institut Kesenian Jakarta dilangsungkan diskusi “Refleksi Kebudayaan” yang mendapat perhatian dan sambutan luas, baik dari segi partisipasi peserta maupun dari segi pemberitaan dalam surat kabar dan majalah berita di Ibu Kota. Diskusi diadakan dengan beberapa tujuan yang saling berkaitan.

SEBUAH persoalan lain yang banyak dibahas adalah mengenai penciptaan atau daya cipta di satu pihak, serta kebebasan dan kemungkinan kreatif di pihak lainnya Pengandaian umum yang sering kita dengar ialah bahwa daya cipta tidak akan berkembang sampai optimal jika tak ada kemungkinan dan kebebasan kreatif yang mendukungnya.

MUNDURNYA Jenderal Wiranto untuk sementara dari jabatan Menko Polkam membawa suatu perkembangan lain bagi dirinya sebagai seorang “bintang” radio dan televisi dengan penampilan yang impresif. Tidak mustahil banyak simpati yang diberikan kepadanya setelah dia memberikan berbagai wawancara.

Secara berurutan, akhir tahun 2001 dan 2002 dirayakan dengan penuh rasa waswas tentang perdamaian dunia. Sudah jelas, 11 September 2001 di New York dan 12 Oktober 2002 di Bali menjadi catatan hitam mengenai kerukunan global. Berakhirnya Perang Dingin antara Blok Timur dan Blok Barat yang ditandai oleh runtuhnya ideologi sosialisme sama sekali

BANJIR yang melanda Jakarta sepanjang minggu lalu (sejak 28 Januari 2002) telah menimbulkan penderitaan di banyak tempat di Jakarta, dari Kedoya, Duri Kosambi, Kebun Jeruk, Daan Mogot, dan Rawa Buaya di sebelah Barat, Pondok Pinang, Tanah Kusir, Radio Dalam, Puloraya, Kemang, Mampang, Pejaten, Pasar Minggu di Jakarta Selatan, Cipinang, Kampung Melayu, dan […]

Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang adalah sebuah prosa liris yang sangat panjang, yang secara tradisional dituturkan secara lisan di antara orang Petalangan, suku asli Riau yang hidup di empat kecamatan di Kabupaten Kampar. Empat kecamatan tersebut adalah Pengkalankuras, Bunut, Langgam, dan Kualakampar. Panjangnya prosa liris ini dapat dibayangkan setelah direkam oleh Tenas […]

SOSIOLOG Ignas Kleden melalui tulisannya berjudul Budaya Politik atau Moralitas Politik? (Kompas, 12 Maret 1998) mengungkapkan adanya sinisme kalangan akademik terhadap budaya politik. Pasalnya, di tengah-tengah munculnya tuntutan reformasi terhadap sistem politik muncul argumentasi bahwa yang dibutuhkan bukan reformasi sistem politik melainkan pembaharuan terhadap budaya politik.

PADA saat orang mulai berbicara tentang perlunya reformasi system politik, ada juga yang mencoba bersuara lain. Dikatakan misalnya bahwa daripada berbicara tentang reformasi sistem politik lebih realistis memikirkan pembaruan budaya politik. Dalam diskusi akademis, istilah  budaya politik kadangkala menimbulkan sinisme.

DALAM waktu kurang dari seminggu telah dilantik anggota DPR dan MPR baru, dan telah terpilih pula Dr Amien Rais sebagai Ketua MPR. Pergantian orang-orang yang menduduki kursi lembaga-lembaga yang terhormat itu memancing harapan tertentu. Setidak-tidaknya merekalah para wakil rakyat yang dijagokan baik oleh golongannya masing-masing, maupun oleh partai-partai politik hasil suatu pemilu, […]

SEJARAH Indonesia Merdeka dapat ditinjau dengan mengidentifikasi apa yang menjadi persoalan yang sedang dihadapi dalam suatu periode tertentu. Di antara banyak soal lainnya demokrasi selalu merupakan pokok pergulatan yang menarik dan tragis. Dia menjadi menarik karena menunjuk dilema penguasa dalam memilih antara keindahan cita-cita pemerintahan oleh rakyat dan godaan serta kenikmatan untuk […]

TERLIHAT di sini suatu psikologi politik yang menarik. Yaitu, baik dalam masa pemerintahan Soekarno maupun dalam rezim Soeharto, masyarakat Indonesia selalu dapat dibuat percaya bahwa demokrasi adalah sesuatu yang dapat ditunda, kalau ada urgensi lain yang lebih mendesak. Soekarno mendahulukan nation building dan menunda demokrasi, sedangkan Soeharto mendahulukan pembangunan ekonomi

UNTUK waktu yang sangat lama pemikiran ilmu sosial dan kalangan politik dikuasai oleh gagasan esensialis tentang kebudayaan. Secara sederhana dalam gagasan itu diandalkan dan dipercaya begitu saja, bahwa kebudayaan terdiri dari nilai-nilai dan norma-norma yang telah selesai, mantap, baku dan berdiri sendiri. Yang diabaikan dalam gagasan esensialis adalah peranan para pendukung kebudayaan […]

HARI Pendidikan Nasional 2 Mei dirayakan setiap tahun, tetapi perayaan itu lebih merupakan ritual nasional daripada kesempatan untuk memikirkan kembali dengan sungguh-sungguh keadaan pendidikan nasional kita. Tidak kelihatan ada kecemasan tentang akibat yang harus ditanggungnya dan dampak yang dibawanya, bila keadaannya tidak mengalami perubahan dan pembaruan yang bersifat mendasar.

Humanitarianism and humanism have been controversial ever since  post-modernist theorists tried to debunk the universality of their values. This is demonstrated in that critique that the conception of humanitarianism  and humanism entails a wide range of class, gender, educational and  psycho-physical bias, which had been forgotten because the conceptions have  been taken […]

The relationship between conflict and social integration appears to be a paradox. On the one hand, social integration exists when conflicts can be prevented, or if ongoing conflicts are resolved peacefully. The absence of social conflict can lead to social integration, whereas the presence of social conflict jeopardizes it. However, one can […]

PERTIMBANGAN Presiden Megawati Soekarnoputri untuk menghentikan penuntutan perkara bekas Presiden Soeharto menarik perhatian publik, melahirkan reaksi luas. Ada dua jenis reaksi utama yang sejauh ini diumumkan media massa. Yang satu, argumentasi hukum, bahwa pemberian abolisi menyebabkan adanya intervensi pemerintah dalam proses yudisial yang sedang berlangsung…

DOKTOR Ignas Kleden (46) berlatar belakang ilmu filsafat, tetapi kegiatan sehari-hari terutama di bidang sosial, politik dan kebudayaan. Tahun 1982 memperoleh gelar MA ilmu filsafat dari Universitas Munchen. Awal tahun 1995 memperoleh gelar doktor sosiologi dari Universitas Bielefeld, Jerman. Disertasinya menggugat studi-studi Clifford Geertz (69) tentang Indonesia secara keseluruhan.

TULISAN Prof Mubyarto Intelektualisme Bazar (Kompas 28-7-95) adalah tanggapan terhadap orasi ilmiah saya pada seminar Masyarakat Indonesia memasuki Abad XXI 17-7-1995 di Yogyakarta, yang dimaksudkan juga untuk menghormati 80 tahun Prof Selo Soemardjan. Tulisan itu saya sambut dengan gembira karena dengan itu saya mendapat kesempatan menguraikan buah pikiran saya lebih lanjut

BERDASARKAN pandangan seperti itu, apakah artinya suatu teori baru? Apakah teori involusi pertanian adalah suatu teori baru? Tidak seluruhnya. Karena Geertz meminjam seluruh bangunan logis teori involusi Goldenweiser tentang kesenian dan estetika dan menerapkannya untuk pertanian. Jadi hanya luasan empiris yang diperbesar. Di tempat lain, Geertz mencari jalan baru dengan mengubah bangunan […]

DI Jerman ada pepatah Alles neu macht der Mai (Mei membuat semuanya baru). Pepatah itu tentulah berhubung dengan perputaran musim, ketika bulan Mei membawa musim semi sampai ke puncaknya, saat daun-daun dan kembang baru muncul dengan tenaga gaib dari rahim Bumi yang lelap selama musim dingin.

DALAM sejarah politik semenjak Indonesia merdeka, naik-turunnya seorang pemimpin nasional, yaitu Presiden RI, tidak pernah terlepas dari krisis politik. Belum pernah terjadi selama 56 tahun kemerdekaan bahwa seorang pemimpin nasional kita mendapatkan kekuasaannya, dan kemudian melepaskan kekuasaannya dengan prosedur yang normal.

BELUM genap satu setengah tahun usia reformasi, diskusi politik di Indonesia nampaknya mulai lupa bahwa ketika mula pertama diluncurkan oleh para mahasiswa, reformasi dimaksudkan sebagai reformasi total. Untuk memberi fokus kepada usaha pembaharuan telah pula ditetapkan tiga sektor yang perlu diberi prioritas utama, yaitu ekonomi, politik dan hukum.

SETELAH genap satu tahun berkuasa, pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) kembali menjadi sasaran sorotan dan penilaian. Dr Nurcholish Madjid, yang mengaku kenal secara pribadi Gus Dur sejak tahun 1960-an, pagi-pagi telah meminta agar harapan terhadap Presiden baru (setahun lampau) jangan sampai berlebih-lebihan.

SETIAP krisis politik cenderung melahirkan krisis pemikiran. Beban yang terlalu berat mendorong orang mencari jalan pintas yang sesingkat-singkatnya untuk keluar dari kemelut, tanpa memedulikan apakah penyelesaian secara potong kompas itu menimbulkan masalah baru yang barangkali lebih muskil dari keadaan semula.

MENURUT siaran media massa pemerintah tengah menyiapkan Rancangan Undang-Undang (RUU) perubahan Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP). RUU tersebut yang isinya hanya enam pasal, mengandung empat pasal yang dimaksudkan untuk menindak usaha yang bertujuan menyebarkan ideologi Marxisme-Leninisme dan komunisme, dan setiap percobaan untuk mendirikan organisasinya (DR/5-10 April 1999).

PADA tahun 1976, diterbitkan sebuah buku kecil Bung Hatta berjudul Mendayung Di Antara Dua Karang (Bulan Bintang, Jakarta, 1976), yang berisikan tiga pidatonya sebagai wakil pemerintah. Isi pokok ketiga pidato tersebut adalah penjelasan dan pertanggungan jawab kepada Badan Pekerja Komite Nasional Indonesia Pusat (BP KNIP), mengenai garis politik luar negeri yang diambil […]

SEBUAH teks yang sudah dipublikasikan, sebuah cerpen di Kompas misalnya, patutlah dianggap sanggup berdiri sendiri dengan kekuatan sendiri dan menghadapi pembaca atas namanya sendiri, dan tidak perlu lagi dituntun dan dibela melalui intervensi pengarangnya. Dalam teori teks, setiap teks yang sudah ditulis dan diumumkan dianggap mempunyai semacam kemerdekaan tekstual atau otonomi semantik. […]

PERTANYAAN yang menarik saya dan yang coba saya selidiki dalam seluruh epilog buku Anjing-Anjing Menyerbu Kuburan adalah sebuah pertanyaan yang mengganggu saya sejak beberapa tahun terakhir, tetapi yang jawabannya belum pernah saya peroleh secara memuaskan. Pertanyaannya adalah: apakah yang membuat sebuah teks kesusasteraan berbeda dari teks-teks lain, seperti teks jurnalistik atau sebuah […]

SALAH satu tujuan pendidikan dan pengajaran di sekolah (dilihat dari sudut mobilitas sosial) ialah membuka kesempatan bagi peserta didik untuk lebih maju dalam hidupnya, memperoleh pekerjaan yang sesuai dengan kepandaian yang telah dipelajarinya, mendapatkan pembayaran yang seimbang dengan keahliannya, dan karena itu dapat meningkatkan statusnya secara sosial.

BARANGKALI suatu truisme untuk mengatakan sekali lagi kesenian adalah bagian kebudayaan. Namun demikian, setelah lewat Kongres Kesenian Indonesia I (3-7 Desember 1995) di Jakarta, beberapa implikasi kebenaran tersebut mungkin perlu dibicarakan lagi sebagai kerangka umum untuk meninjau kedudukan kesenian dan perkembangannya di Indonesia kini dan hubungannya dengan perkembangannya sosial.

HUBUNGAN antaretnis dan antarkelompok agama adalah dua perkara yang di Tanah Air ini termasuk dalam kategori SARA (suku, agama, ras, dan antargolongan), yang biasanya dianggap amat peka, rentan, eksplosif, penuh risiko, dan karena itu berbahaya. Kekerasan-kekerasan yang terjadi di Jakarta (dan di beberapa kota lain) pada bulan Mei dan November tahun ini […]

SECARA teoretis, konsep SARA amat sulit dipertahankan. Karena pengandaian bahwa hubungan antaretnis dan antaragama cenderung kepada konflik dan kekerasan, didasarkan sekurang-kurangnya pada tiga asumsi lain, yang kebenarannya amat sulit dibuktikan, tetapi yang kekeliruannya dapat ditunjuk dengan mudah. Pertama, teori SARA mengandaikan bahwa perbedaan budaya selalu mengandung konflik dalam dirinya. Hal ini tak sepenuhnya benar karena […]

PENGANTAR REDAKSI. Surat Budaya dari Palmerah Lembaran budaya Bentara yang ada di tangan Anda saat ini dimaksudkan untuk menjadi ajang pertemuan berbagai gagasan kebudayaan-sesuatu yang dikonstatasi absen selama puluhan tahun dalam proses pembodohan rezim Orde Baru. Direncanakan, lembaran budaya Bentara bisa terbit sekali sebulan pada setiap minggu pertama. Untuk edisi perdana ini, […]

KATA para ahli, sejarah adalah penyelidikan yang dilakukan pada masa sekarang, tentang masa lampau, untuk masa depan. Pilihan yang tersedia cukup terbatas. Pertama, orang mempelajari sejarah dengan sungguh-sungguh sehingga mengambil pelajaran yang bermanfaat dari apa yang telah dilakukan di masa lampau, gagal atau berhasil. Kedua, orang memanipulasi sejarah dengan akibat bahwa dia […]

PENCANANGAN bulan buku pada saat ini tentulah dimaksudkan untuk mengingatkan kita semua akan arti pentingnya buku, khususnya dalam peranannya sebagai sarana utama untuk mencerdaskan bangsa. Dalam hubungan itu yang bisa dibuat ialah melihat jumlah judul yang terbit setiap tahunnya, lalu membandingkan dengan jumlah penduduk, untuk melihat berapa besar konsumsi bacaan yang diserap […]

PENDIDIKAN nasional di Indonesia rupanya memerlukan pemikiran ulang yang sungguh-sungguh, justru pada saat sekarang ketika politik nasional memperlihatkan dekadensi dan demoralisasi yang luar biasa. Begitu banyak usaha yang telah dilakukan untuk mencari dan mengusulkan bagaimana proses kemerosotan ini bisa dicegah, tetapi masih terlalu sedikit perhatian diberikan pada hubungan yang relatif langsung di […]

HARI itu tanggal 23 Juni 1996, dua hari setelah awal musim panas yang di Eropa selalu dimulai pada 21 Juni. Suhu masih pada 10 hingga 12 derajat Celsius, meski pun dalam keadaan normal suhu biasanya sudah di atas 30 derajat C. Setelah melewatkan seminggu konferensi European Collogium on Indonesian and Malay Studies […]

ISTILAH “wacana” telah menjadi demikian populer saat ini di kalangan terpelajar dan penulis Indonesia, kira-kira sama seperti istilah “demokrasi” di kalangan politik. Seperti biasa, begitu istilah atau konsep itu menyebar luas, setiap orang yang memakai konsep tersebut cenderung merasa konsep itu telah dipergunakan dengan jelas, tanpa perlu menjelaskan apa yang di-maksudkannya.

SERUAN para tokoh agama dalam pertemuan di Jakarta (16/01/2002) tentang dekadensi dan kebangkrutan moral di Indonesia, rupanya menimbulkan shock besar bagi berbagai kalangan masyarakat Ibu Kota dan mungkin tempat-tempat lain, seakan-akan di sana diungkapkan suatu kenyataan baru.

KRISIS ekonomi sekarang ini menurut beberapa ekonom Indonesia sudah berada di luar daya-penjelas (explanatory power) ilmu ekonomi. Sebab, berbagai perubahan dalam nilai rupiah terus terjadi, walaupun indikator ekonominya tidak banyak berubah. Persoalan ialah apakah ilmu ekonomi harus dipandang sedemikian statisnya sehingga indikator konvensional itu harus tetap dipegang dan bukannya dirumuskan indikator baru […]

DALAM sejarah politik Indonesia, nasionalisme rupa-rupanya pernah dianggap bertentangan dengan kebudayaan. Dalam arti itu, antropolog Clifford Geertz umpamanya menulis panjang-lebar tentang primordial sentiments dan national integration. Diambil secara gampangnya, apa yang dinamakan sentimen primordial adalah perasaan-perasaan yang erat hubungannya dengan kebudayaan, khususnya dengan faktor-faktor yang dianggap given dalam kebudayaan, seperti hubungan darah, […]

Geertz menjadi terkenal dan populer di Indonesia karena penelitian yang dilakukan di Jawa dan Bali, yang menghasilkan beberapa buku penting tentang Indonesia. Pokok kajiannya meliputi agama Jawa, politik aliran (abangan, santri, priyayi), watak perkotaan di Jawa sebagai hollow town dan bukannya solid town, pengelompokan politik tanpa basis kelas, perbandingan Islam Indonesia dan Islam Maroko (antara the scope of religion dan the force of religion), perbandingan antara etos dan praktik perdagangan di Jawa dan di Bali (antara individualisme pasar dan rasionalitas ekonomi tanpa kemampuan organisasi ekonomi di satu pihak, berhadapan dengan kemampuan organisasi ekonomi tanpa individualisme pasar dan tanpa rasionalitas ekonomi di pihak lain), politik klasik di Bali yang dirumuskannya sebagai theater state, apa yang ditinggalkan oleh Hinduisme dalam praktik keagamaan di Jawa dan Bali, serta praktik pertanian Jawa yang semenjak tanam paksa tidak berhasil mengalami evolusi menjadi pertanian kapitalis, tetapi mengalami involusi yang menjadikan pertanian hanya sebagai tempat penampungan penduduk yang terus bertambah banyak dan karena itu tidak memungkinkan investasi baru.

  1. Dion Pare
    October 15, 2013 at 2:29 pm

    I am so grateful to come across with Ignas’s political writings. He has tried to make clear some concepts or ideas in politcs that used to be utilized confusedly, without distinction, and tend to be sloganistic. He has made it simple, easily understood ang his style is delicate. I have collected a great deal of his writings and composed my own archives.

  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: