Hamba-hamba Tuhan dan Keluarganya, Dewakah Mereka ???

December 16, 2011 Leave a comment

PENILAIAN YANG SALAH

Kehidupan Imam Eli dan keluarganya adalah salah satu contoh yang sangat realistis dan tepat dalam setiap zaman, termasuk pada zaman dimana kita hidup sekarang ini. Eli adalah seorang hamba Tuhan, Imam yang melayani di Bait Suci Tuhan.

Sebenarnya setiap orang Kristen adalah hamba Tuhan (Roma 6:22), namun dalam topik kali ini, yang dimaksud hamba Tuhan adalah seseorang yang secara khusus terpanggil sebagai full (part) timer dalam bidang pelayanan kerohanian didalam suatu lembaga pelayanan gereja atau parachurch (misalkan pendeta atau penginjil).

Seringkali secara umum jemaat memandang hamba Tuhan sebagai suatu contoh atau pola teladan kehidupan yang ideal, yang sempurna, baik dalam kehidupan secara pribadi, dalam pelayanan dan termasuk pula dalam keluarganya.

Bila suatu saat, oleh salah satu badan intelejen tercanggih yang ada diantara jemaat, terbongkar suatu rahasia, bahwa ada seorang hamba Tuhan yang mempunyai kejelekan, kelemahan, kekurangan apalagi dosa-dosa tertentu, baik yang dilakukan secara pribadi, atau dari pihak keluarganya, maka hamba Tuhan ini akan seperti babi yang dicincang, diadili, dan dihakimi oleh jemaat-jemaatnya sebelum ia dipanggang.

Namun ada pula reaksi lain dari sebagian jemaat yang hatinya terlalu lembut. Mereka tidak sanggup secara kanibal memanggang habis hamba Tuhan tersebut, namun sempat mengalami kekecewaan (stress) yang sangat mendalam, dan imannya rontok gara-gara perbuatan hamba Tuhan yang pernah dibanggakannya itu. Ia tidak lagi mau kegereja, berdoa dan melayani. Jadi boleh dikata, secara matematik, imam adalah FUNGSI dari PERBUATAN hamba Tuhan? Lagi-lagi hamba Tuhan yang dipersalahkan. Kasihan memang menjadi hamba Tuhan itu. Ia dianggap bukan seperti manusia lagi, tetapi seperti manusia luar angkasa, yang harus mempunyai kelainan-kelainan dibandingkan dengan manusia di bumi ini.

TOPENG-TOPENG YANG DISUKAI

Pengadilan yang sangat “menakutkan” hamba-hamba Tuhan ini, salah satu akibatnya, dapat membuat mereka hidup serba munafik dan menutup-nutupi keberadaan dirinya yang sebenarnya. Ia tidak mau kelehamahannya diketahui oleh jemaatnya, ia ingin supaya jemaatnya selalu memandang dirinya sebagai orang yang tidak punya kekurangan, kelemahan dan dosa-dosa. Makin jemaatnya kagum padanya, makin senang hatinya.

Dan ternyata jemaatnya juga senang “ditipu” jemaat sangat senang bila ada hamba Tuhan yang suci 100%, selalu sempurna, selalu menyenangkan hati mereka, selalu tidak punya kesalahan, kekurangan dan lain sebaginya. Hamba Tuhan yang seperti itulah yang selalu dipuji-puji dan diagungkan.

Sayang, banyak hamba Tuhan yang terjebak dalam dunia sandiwara ini, dan banyak pula jemaat yang menikmati sandiwara yang dituntutnya sendiri. Jemaat “menciptakan” hamba Tuhan yang sempurna, hebat dan tanpa cacat menurut selera yang mereka inginkan; dan hamba Tuhan juga me”make-up” wajahnya menurut selera yang jemaatnya inginkan.

Kasihan memang bagi hamba Tuhan yang tidak pandai ber“make-up” Ia selalu diejek, dicela dan dibenci karena “wajahnya” yang jelek.

Ada jemaat yang berkata, bagi yang mau menjadi hamba Tuhanya tau sendiri konsekwensinya, ia harus bisa menjadi lebih dari manusia biasa !! Ha, apa betul ya dan apa bisa ya?

MEMANDANG HAMBA TUHAN DALAM ALKITAB

Herannya ternyata Alkitab berkata lain tentang hal ini. Alkitab tidak pernah me“make-up” hamba Tuhan, dan Alkitab tidak pernah memperkenalkan hamba Tuhan seperti makhluk luar angka yang mempunyai “keanehan-keanehan” yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.

Alkitab tidak pernah menyatakan ada manusia luar biasa didunia ini. Elia ternyata juga mempunyai dosa dan kelemahan (Yakobus 5:17a), Musa mempunyai dosa dan kelemahan, Yosua mempunyai dosa dan kelemahan. Meskipun Alkitab tidak mengungkapkan dosa-dosa dan kelemahan dari Henokh ataupun Yusuf anak Yakub, namun bukan berarti Henokh maupun Yusuf tidak mempunyai dosa dan kelemahan.

Tuhan Yesus pernah berkata, bahwa tidak ada seorangpun yang baik (Lukas 18:19), didalam kitab Roma 3:10-12,23 dikatakan, bahwa tidak ada seorangpun yang benar, semua sudah berbuat kejahatan, dalam kitab Yesaya 64:6 nabi Yesaya pun mengakui, bahwa perbuatan baik manusia itu seperti kain yang kotor dihadapan Allah.

Dengan perkataan lain Alkitab menegaskan, bahwa tidak ada seorangpun didunia ini yang tidak punya dosa, yang tidak punya kelemahan, kekurangan, keterbatasan, dan perbuatan-perbuatan tercela, termasuk hamba Tuhan!!. Karena itu Alkitab menegaskan, tidak ada seorangpun yang dapat diselamatkan karena perbuatannya (Efesus 2:8-9) !!.

Jadi kalau ada jemaat yang melihat ada hamba Tuhan yang tanpa cacat, cela, tanpa ada dosa dan kelemahan apapun, yang dinilai sangat hebat luar biasa, seperti SIX MILLION DOLLAR MAN atau WONDER WOMAN, maka ada dua kemungkinan yang terjadi: pertama jemaat itu belum sungguh-sungguh mengenal siapa sebenarnya hamba Tuhan itu, kedua hamba Tuhan itu sangat pandai bersandiwara, menciptakan kesalahan palsu sehingga jemaat itu tertipu.

Ada jemaat yang beri komentar, kalau begitu kita jangan terlalu dalam mengenal siapa hamba Tuhan itu sebenarnya, nanti kita akan kecewa kalau mengetahui kelemahan dan dosanya. Sikap seperti ini juga tidak dapat dibenarkan, sebab perbuatan semacam ini sama dengan usaha menipu diri sendiri dan tidak berani menghadapi realita.

Bila kita tetap mau memandang raja Daud, Musa, Elia, Abraham, sebagai hamba-hamba Tuhan, meskipun kita juga diberitahu akan kelemahan, kekurangan dan bahkan dosa-dosa mereka, mengapa, kita tidak dapat memandang hamba-hamba Tuhan pada zaman sekarang ini masa seperti kita memandang hamba-hamba Tuhan yang diperkenalkan Alkitab? Atau apakah penilaian kita sudah tidak lagi berpatokan pada apa yang Alkitab beritakan dan ajarkan, dan kita mau memandang hamba-hamba Tuhan zaman sekarang harus melebihi kriteria hamba-hamba Tuhan yang disaksikan oleh Alkitab?

TAK KENAL, MAKA TAK SAYANG, MAKIN MENGENAL MAKIN MEMBENCI ?

Ada seorang pemuda yang menceritakan, bahwa ia sekarang tidak lagi mengasihi istrinya setelah ketahuan, bahwa istrinya ternyata adalah seorang yang pernah berzinah pada masa remajanya. Katanya, dahulu pada waktu masih berpacaran, ia sangat mengasihi calon istrinya. Dalam kasus seperti ini kita perlu bertanya, apakah kasih yang seperti ini dapat disebut sebagai kasih yang benar? Kalau kita mau lebih teliti, sebenarnya pemuda ini dari dahulu TIDAK PERNAH mengasihi pacarnya yang sekarang telah menjadi istrinya. Ia ‘mengasihi” dalam ketidaktahuan dan dalam pengenalan yang meraba-raba, atau sekedar emosi belaka. Ia tidak sungguh-sungguh mengenal siapa yang dikasihinya.

Orang yang mengasihi seseorang tanpa dasar pengenalan yang benar dan waktu yang cukup, maka kasih itu belum teruji dan perlu dipertanyakan kesungguhannya.

Demikian pula dengan orang yang begitu menghormati hamba Tuhan, dan sangat mengaguminya, padahal ia belum tahu dengan benar siapa hamba Tuhan itu dan bagaimana kehidupan sehari-harinya, maka kekaguman itu hanya merupakan kekaguman semu atau kekaguman yang kekanak-kanakan, yang hanya berdasarkan penilaian lahiriah saja. Kekaguman itu akan dengan mudah lenyap, bila pengetahuan kita ditambah dengan informasi-informasi yang tidak memenuhi kriteria kekaguman tersebut.

SIKAP YANG TEPAT

Akitab mengajarkan pada kita, bahwa kita harus saling menghormati, mengasihi, dan khususnya kepada hamba-hamba Tuhan (I Tesalonika 5:12-13, I Timotius 5:17), bukan karena mereka tidak pernah berbuat dosa, namun karena kita ini adalah sesama anak-anak Tuhan, sesama murid-murid Kristus yang harus saling menopang dan menguatkan (Yohanes 13:34-35)

Ilustrasi tubuh yang diberikan oleh rasul Paulus dalam kitab Korintus menunjukkan adanya saling ketergantungan mutlak dari setiap anggota tubuh. Tidak ada anggota tubuh yang merasa dirinya paling hebat, paling tinggi dan tidak membutuhkan anggota yang lain. Tidak ada anggota tubuh yang bersukacita bila ada anggota lainnya yang sedang menderita atau jatuh dalam kelemahannya (I Korintus 12:21-26).

Hamba Tuhan tidak mungkin dapat membangun jemaat seorang diri saja. Ia membutuhkan partner kerja, ia membutuhkan support (dukungan), ia membutuhkan anggota-anggota tubuh Kristus yang lain.

HAMBA TUHAN DAN KELUARGANYA

Sebenarnya peran membina keluarga yang harmonis, baik itu oleh hamba Tuhan maupun jemaat umum mempunyai bobot yang sama beratnya yaitu sebagai seorang Kristen, sebagai murid Kristus, yang harus memberikan teladan terbaik dalam setiap perbuatannya.

Mari kita melihat kehidupan imam Eli. Meskipun Eli adalah seorang hamba Tuhan ternyata keluarganya berantakan. Alkitab menegaskan, bahwa kesalahan Eli adalah membiarkan anak-anaknya berbuat hal yang tidak benar dipandang Tuhan, dan bahkan lebih daripada itu, Eli ikut menikmati hasil perbuatan yang benar dari anak-anaknya. Eli tidak memperhatikan peringatan-peringatan yang sudah disampaikan kepadanya dengan serius, dan ia lebih menghormati anak-anaknya daripada Tuhan (I Samuel 2:29).

Ini merupakan peringatan bagi semua orang, bahwa kehidupan hamba Tuhan dan keluarganya bukan merupakan jaminan pasti serba sukses, lancar, tanpa kesulitan dan cacat cela. Mendidik anak dan membina hubungan yang harmonis dalam keluarga adalah tantangan yang sama berat dan sulitnya bagi setiap anak Tuhan!.

Alkitab dengan terbuka juga menunjukkan banyaknya “kegagalan” dalam memelihara hubungan yang harmonis dari anak Tuhan yang baik-baik, seperti anak Samuel (I Samuel 8:3), keluarga Abraham, keluarga Ishak, keluarga Yakub, keluarga Daud, keluarga Salomo, dan seterusnya.

Dari contoh-contoh diatas, kita seharusnya tidak lagi saling menuding dan menghakimi, tapi waspadalah!. Kegagalan dalam keluarga yang sedang kita soroti dapat juga terjadi dalam keluarga kita kelak. Kesalahan imam Eli juga dapat kita lakukan sendiri bila kita lengah.

Bila kita menyadari prinsip satu tubuh, maka kegagalan dari salah satu anggota tubuh, adalah bagian dari kegagalan kita juga, kegagalan kita dalam membangun sesama anggota tubuh Kristus. Kejatuhan salah seorang anggota tubuh Kristus adalah merupakan salah satu akibat dari bentuk ketidak pedulian kita pada saudara kita seiman.

Seharusnya bila kesatuan tubuh itu nyata, maka kejatuhan tubuh yang lain dapat dihindarkan dengan menjalin kesehatian, saling mendoakan, menguatkan, mengingatkan, menegur, menasehati, memberi saran-saran, mencarikan jalan keluar, mengatasi segala godaan dengan tindakan pencegahan-pencegahan.

PENUTUP

Orang yang dibenarkan Allah bukanlah orang yang mampu untuk tidak berbuat dosa sama sekali dalam kehidupannya, namun orang yang mau ditegur, dan mau menyadari akan dosa-dosanya, serta mengakuinya dihadapan Tuhan dengan penyesalan, dan akhirnya bertekad untuk terus menerus belajar memperbaiki kehidupannya hari demi hari makin sesuai dengan kehendak Tuhan.

Tuhan Yesus bukan mengasihi orang yang sempurna dan benar, melainkan orang berdosa yang menyadari dan menyesali akan dosanya, serta mau datang kepada Tuhan dan belajar terus menerus untuk meperbaiki kehidupannya.

Yang tidak disenangi oleh Tuhan justru adalah orang yang berpura-pura, orang yang selalu merasa dirinya benar dan membenarkan dirinya sendiri, tidak mau mengakui segala kekurangan dan kelemahannya, orang yang membanggakan perbuatannya yang “saleh”, yang selalu membandingkan dirinya lebih baik dari orang lain (Lukas 18:9-14, bnd Markus 2:17).

Keluarga Eli dan hamba Tuhan yang lain dalam Alkitab menjadi peringatan bagi kita semua, supaya kita tidak mengulangi kesalahan yang sama dan supaya kita tidak gampang-gampang menghakimi semua orang dengan seenaknya. Orang Farisi dan ahli Taurat adalah figur yang dipaparkan Alkitab kepada kita sebagai tipe orang yang selalu merasa dirinya paling benar dan menganggap orang lain lebih jelek dari dirinya.

Bila suatu saat kita melihat kelemahan dan kejatuhan seseorang, jangan cepat-cepat tertawa sebelum kita sadar, bahwa suatu saat kita juga bisa jatuh bila mengalami godaan yang sama dengan sikon yang sama pula (bnd I Korintus 10:12, Matius 7:3).

Sebenarnya tidak ada satupun diantara kita yang layak dihadapan Allah. Kita semua sama-sama jeleknya. Tuhan mengajarkan kita supaya mengasihi sesama kita bukan karena orang telah berbuat baik kepada kita atau telah memuaskan hati (keinginan dan konsep) kita (Lukas 6:23).

Tuhan beserta kita sekalian. Amin.

Pdt. Ir Andi Halim, S.Th

Categories: Andi Halim

Filsafat Pelayanan

December 16, 2011 Leave a comment

Pdt. Stephen Tong

Pada waktu kita melihat zaman dalam konteks pelayanan kita, dapat dikatakan bahwa zaman ini adalah zaman yang selalu berubah, tidak sama dengan zaman yang dahulu maupun yang berikutnya. Suatu zaman selalu mempunyai tanda, semangat dan warna tersendiri yang berbeda dari zaman sebelumnya. Memang, pada waktu kita melihat zaman dalam kehidupan, kita lihat adanya suatu culture yang sebenarnya berubah secara drastis. Di dalam hal ini juga, generasi Saudara adalah suatu generasi yang sangat unik, karena kita berada dalam satu peralihan dari suatu culture, dan mungkin kita sendiri, selama melaluinya, tidak menyadarinya. Dalam zaman kehidupan Saudara ini, Saudara merupakan saksi dari berlangsungnya suatu zaman dan juga berakhirnya suatu zaman, masuk menjadi zaman yang baru.

Zaman pertama adalah zaman modern. Zaman kedua adalah zaman postmodern atau pasca-modern. Secara unik, Saudara berada dalam tengah peralihan suatu zaman. Hal ini merupakan suatu yang sangat besar dalam sejarah, karena sejarah pemikiran modern sudah berlangsung selamai 200 tahun. Saudara berada dalam perbatasan akhir dari zaman modern dan akan melangkah dalam suatu zaman yang baru, yaitu zaman postmodern.

Tetapi, kita perhatikan, zaman adalah zaman yang berubah, mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Tetapi bagaimana dengan pelayanan gereja kita? Sering kali kita melihat bahwa pelayanan kita justru tidak berubah dari waktu ke waktu. Zaman terus berubah, tetapi pelayanan kita sebagai orang Kristen tidak mengalami perubahan yang berarti. Sehingga gereja sangat lambat dan tidak peka dalam mengantisipasi semangat zaman yang berubah. Kita tidak memperhatikan persoalan itu.

Ada kata-kata yang menyindir orang-orang pada zaman ini: if you are not confuse, you probably don’t know what is happening; Jikalau kamu tidak bingung, mungkin kamu tidak tahu apa yang sedang terjadi. Jika Saudara tidak bingung melihat semangat, dan apa yang sedang berlangsung pada zaman ini, tidak berarti bahwa Saudara melihat/memperhatikan zaman ini, melainkan Saudara tidak mengetahui apa yang sedang terjadi.

Pada waktu kita melayani, kita tidak menyadari bahwa zaman sudah berubah, sehingga pelayanan kita semakin lama semakin menurun. Dalam kesempatan sharing antar-gereja nanti*, kita bisa share satu sama lain mengenai pelayanan gereja kita. Mungkin sebagian gereja mengalami penurunan, sebagian gereja mengalami kemajuan. Kita akan melihat faktor-faktornya.

Kalau pelayanan kita menjadi sesuatu yang menurun, maka ini harus membuat kita berpikir: Kenapa orang-orang tidak datang ke persekutuan pemuda? Apa yang harus kita lakukan? Pada akhirnya, yang kita lakukan untuk pelayanan kita adalah bersaing dengan dunia. Bagaimana bersaing dengan dunia? Misalnya: dunia mempunyai bioskop, maka kita juga membuat pertunjukan film. Tetapi bedanya kalau bioskop dapat menarik banyak orang, tetapi film yang kita putar, misalnya Jesus in Campus Crusade, maka seluruh jalan cerita film itu sudah dapat ditebak, sehingga membuat orang lain merasa lebih baik nonton di bioskop.

Jadi apa yang kita lakukan di komisi pemuda adalah bersaing dengan dunia. Mungkin satu saat Saudara berhasil dengan membuat suatu acara yang sangat menarik, misalnya membuat suatu pertunjukan kejutan.

Dari semua acara yang menarik itu, pasti ada acara yang kurang menarik, dan ada acara yang lebih menarik dari acara-acara menarik yang lainnya. Hal itu membuat kita mati-matian dengan tak habis-habisnya berpikir bagaimana membuat suatu acara yang lebih menarik dari acara yang sebelumnya, yang sudah menarik itu. Maka akhirnya, kita tidak akan mampu dan tidak mungkin bekerja sepenuh hidup kita hanyak untuk acara komisi pemuda itu. Akhirnya kita terpuruk pada kesulitan pelayanan. Semakin lama semakin lemah, dan akhirnya persekutuan pemuda kita juga semakin lama semakin merosot. Dalam keadaan seperti demikian, apa yang harus kita lakukan?

Ada satu hal yang harus kita lakukan, yaitu: KEMBALI KE DASAR, back to basics. Kita tidak mungkin bersaing dengan entertainment yang ditawarkan oleh dunia, maka kita harus kembali kepada apa yang Tuhan ingin kita lakukan di dalam kehidupan. Kita harus kembali kepada hal tersebut.

Kita lihat di Pengkhotbah 1:4-8. Kita melihat bahwa Pengkotbah memperhatikan hidup manusia hanya sekedar sebagai lingkaran, yang saya istilahkan, lingkaran kesia-siaan. Semua perputaran dalam alam itulah yang dilihat oleh Pengkotbah sebagai suatu lingkaran kesia-siaan. Dalam ayat 8 dikatakan segala sesuatu menjemukan, karena Pengkotbah melihat segala sesuatu adalah pengulangan dari apa yang pernah terjadi, meskipun tidak selalu persis, tetapi ada a continual beginning, suatu permulaan yang sama terus-menerus, sehingga menjadi suatu lingkaran kesia-siaan.

Manusia dalam proses kehidupannya, dari lahir hingga ia meninggal, kemudian diteruskan ke generasi berikutnya, tidak pernah dapat terlepas dari pola pengulangan yang sama, yang dikatakan Pengkotbah sebagai lingkaran yang menjemukan. Satu-satunya jalan untuk menerobos lingkaran kesia-sian ini adalah dengan melakukan Linearisasi Kehidupan. Artinya di dalam kehidupan, kita tidak hanya berjalan mengikuti lingkaran-lingkaran dalam kehidupan, tapi kita juga berjalan menuju ke sebuah tujuan yang ingin kita capai, dan tujuan yang ingin kita capai adalah CHRIST-LIKENESS, menjadi serupa dengan Kristus. Inilah tujuan utama dari kehidupan orang Kristen dalam suatu lingkaran kehidupannya, di mana ia telah berjumpa dengan Kristus (Roma 8:29). Itulah yang seharusnya menjadi tujuan setiap pribadi yang telah ditebus.

Pada waktu kita bersama-sama mempunyai tujuan yang sama sebagai orang Kristen dan pelayan Kristus dalam komisi pemuda, Saudara harus dapat berperan sebagai fasilitator pertumbuhan orang lain dalam mencapai Christ-likeness. Bagaimana dan hal-hal apa yang harus kita sediakan sebagai aktivis komisi pemuda untuk menolong anggota-anggota kita ini agar bisa menjadi orang-orang yang serupa dengan Kristus?

Untuk itu, kita kemudian melihat satu hal: Spiritual Formation. Pada waktu kita ingin menjadi serupa dengan Kristus, kita ingin mencapai Total Spirituality. Artinya dalam persekutuan pemuda kita tidak mengkotak-kotakan pembinaan anggota kita. Kita tidak hanya membina mereka hanya sekedar agar mereka mengerti firman Tuhan saja, bukan hanya bersifat sebagian saja, tetapi secara total, mencakup keseluruhan kehidupan pribadi mereka di dalam mereka berjalan menuju keserupaan dengan Kristus.

Hal yang dapat kita wujudkan dalam Total Spirituality adalah:

  1. Knowing and Experiencing God in an Intimate Relationship.
  2. Holistic Development toward Holiness and Christ-likeness.
  3. Obeying God and Doing the Work of His Kingdom.

Saya merasakan hal ini merupakan perumusan yang bersifat komprehensif, karena dalam pelaksanaan semuanya ini meliputi: orang itu bertumbuh, mendapatkan suatu pengetahuan, bersifat holistik, menyeluruh.

Dalam ketiga poin tersebut dapat bisa diringkas lagi menjadi:

  1. Knowing
  2. Being
  3. Doing

Bruce Powers melakukan pembagian pertumbuhan hidup manusia berdasarkan usia:

1.   Usia 0-6 tahun: mengalami fase yang disebut fase nurture.

Pada waktu itu, orang tidak terlalu memikirkan dan memperhatikan arti hidup, the meaning of life. Pada fase ini, ia memperhatikan kasih dari orangtuanya dan orang-orang yang merawatnya. Sebenarnya orang tersebut tidak begitu memperhatikan perkataan orangtuanya, tetapi yang diperhatikan adalah apakah orangtua saya memperhatikan saya atau tidak.

2.    Usia 7-18 tahun, disebut sebagai fase indoktrinasi.

Pada usia ini, seseorang mulai diberikan isi iman. Misalnya: seorang anak sebelum makan harus berdoa.

3.    Usia 19-27 tahun, disebut sebagai fase reality testing.

Pada usia ini, seseorang menguji pengetahuan dan teori yang didapatnya dari fase indoktrinasi, bagaimana orang tersebut membuatnya nyata dalam kehidupannya.

4.   Usia 28-35 tahun, orang melakukan making choices.

5.   Usia 36 tahun ke atas, orang mengalami active devotion.

Pada waktu inilah seseorang merasa ia sudah mantap atas pilihan dari pengetahuan dan teori dalam hidupnya, dan secara aktif melakukan kepercayaannya.

Jadi, tahap usia yang paling mudah untuk dimenangkan adalah usia 7-18, pada saat seseorang masih mengalami fase indoktrinasi. Yang paling disulit di-Injili adalah orang yang berusia 36 tahun ke atas, karena di dalam usia ini orang tersebut merasakan segala sesuatu sudah ia dapatkan, jalankan, uji, pengalaman hidupnya sudah berbicara, dan segala sesuatu itu sudah membuktikan bahwa apa yang ia jalani dan percayai saat ini adalah sesuatu yang benar.

Yang dikatakan oleh Bruce Powers ini sebenarnya meliputi ketiga hal tadi: Knowing, Being dan Doing. Dalam usia 7-18 tahun, pada saat inilah proses Knowing terjadi. Dalam usia 19-27 tahun, ia mengalami proses Being. Dan pada waktu sesorang menjadi active devotion, ia sedang melakukan sesuatu (Doing).

Bukan berarti jika seseorang pada usia tertentu, ia berada pada tahapan tertentu pada usia tersebut. Misal: jika usia orang itu 19 tahun, maka tidak berarti ia berada dalam tahap Being. Tahap Knowing, Being, dan Doing ini merupakan suatu lingkaran yang terus berulang dalam kehidupan kita. Knowing saya akan diterjemahkan ke dalam Being, dan Being saya akan diterjemahkan ke dalam Doing. Pada waktu melakukan sesuatu, saya juga mengetahui sesuatu yang baru. Pada waktu saya mengetahui sesuatu yang baru, saya mencoba melakukan sesuatu yang baru. Pada waktu saya melakukan sesuatu yang baru, saya sedang menjadi Being yang baru. Hal ini merupakan suatu lingkaran dalam suatu kehidupan yang terus berulang, hingga kita mencapai tujuan kita, yaitu menjadi serupa dengan Kristus.

Di dalam perkembangan iman (faith development) inilah, sesuatu yang ingin kita capai adalah pertumbuhan di dalam wilayah Knowledge, Character, dan Doing. Di dalam pertumbuhan iman kita, kita ingin mempunyai pertumbuhan iman di dalam :

1.    Pengetahuan

2.   Being, yang diterjemahkan dengan character, dan

3.   Kehidupan aktivitas yang saya lakukan di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia.

Dengan semua ini, kita mengharapkan:

1.   Adanya suatu perubahan yang berelasi dengan pengajaran Alkitab.

Artinya pertumbuhan iman saya adalah pertumbuhan yang positif, yang bersesuaikan dengan pengajaran firman Tuhan, yang sudah saya gumulkan, mengerti, dan menyatukan diri dengan the unique life of each individual. Tiap orang adalah unik. Rencana Tuhan adalah rencana yang unik bagi setiap kita, maka di dalam pertumbuhan iman seseorang, Tuhan menginginkan agar setiap orang boleh bertumbuh ke arah di mana memang Tuhan menghendaki, supaya ia dapat bertumbuh sesuai dengan keunikannya masing-masing. Misal: talenta yang diberikan Tuhan memiliki keunikan masing-masing. Dalam keunikan masing-masing, kita mempunyai pertumbuhan yang terus-menerus di dalam kehidupan kita.

Kita tetap mempunyai satu pertumbuhan di dalam Knowing, Being, dan Doing, sehingga kita mengharapkan suatu perubahan yang nyata bagi setiap orang yang datang bersekutu di persekutuan pemuda kita. Misalnya: ada orang yang iri hati, orang yang sedang bergumul dengan dosanya; kita mengharapkan ada perubahan terjadi pada dirinya. Bukan sekedar suatu acara berlangsung dengan sukses.

2.    Bagaimana kita dapat mengevaluasi pelayanan kita berhasil atau tidak?

Yaitu dengan melihat apakah terjadi perubahan pada hidup seseorang. Kalau ada individu-individu yang berubah dalam sebuah gereja, maka gereja sebagai gambaran tubuh Kristus pun akan menjadi gambaran yang terus-menerus mengalami perubahan dan pertumbuhan, yang menuju kepada keserupaan dengan Kristus secara keseluruhan. Pada waktu kita berada di gereja, kita tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dunia tawarkan kepada kita, tetapi sebaliknya kita mengharapkan adanya perubahan.

Saya boleh mengharapkan perubahan terjadi di dalam kehidupan seseorang, sama halnya pada waktu Saudara datang ke tempat ini sebagai individual. Pada waktu kita menyelesaikan tahun 1998 dan memasuki tahun yang baru, perlu kita tanyakan: Adakah perubahan yang terjadi pada diri saya? Apakah sepuluh tahun sekarang dengan sepuluh tahun yang dulu adalah saya yang tetap sama? Dengan kata lain, apakah tidak ada perubahan yang terjadi dalam hidupku? Pelayanan kita harus terus mengarah kepada hal ini, yaitu Expecting a Change, mengharapkan terjadinya perubahan. Meskipun saat ini kita mempunyai banyak kelemahan, sesuai dengan berjalannya waktu, kita harapkan ada perubahan-perubahan yang terus terjadi dalam kehidupan kita, dengan demikian kita semakin lama semakin menjadi serupa dengan Kristus.

3.    Kalau betul setiap kita mempunyai suatu core (inti) dan visi pelayanan yang jelas dan boleh dipakai Tuhan untuk merubah kehidupan orang-orang, pada waktu kemudian semuanya berhasil, dari waktu ke waktu terus terjadi perubahan-perubahan di dalam kehidupan mereka, maka kita akan melihat gereja masa depan adalah gereja yang gemilang.

Kalau kita tidak terjerumus ke dalam segala sesuatu yang menarik, yang ramai, yang tidak kalah bersaing dengan dunia, kita akan melihat gereja abad ke-21 menjadi gereja yang terpuruk. Mungkin gereja tersebut akan terjun ke dalam sekularisme yang sama sekali tidak mempunyai daya tarik, karena justru apa yang kita lakukan adalah sama dengan apa yang dunia tawarkan.

Kita semua, bersama-sama harus yakin dalam pelayanan dan visi yang jelas, yaitu ingin membawa mereka untuk menjadi serupa dengan Kristus. berdasarkan itu, akan ada perubahan dan pertumbuhan yang terjadi dalam Knowing, Being, dan Doing melalui semua yang kita kerjakan sepanjang tahun di dalam kehidupan pribadi kita dan orang lain yang kita layani. Pada suatu waktu nanti kita boleh bersyukur: Gereja masa depan, apa pun yang terjadi, sekalipun kita memasuki masa penganiayaan di mana gereja kemudian ditekan, mungkin penginjilan tidak boleh dilakukan, akan tetap yakin di dalam imannya. Kita berlomba dengan waktu, dalam waktu tiga tahun kita mendidik orang-orang, sehingga betul-betul terjadi perubahan yang sungguh di dalam kehidupannya. Dengan demikian kita boleh yakin, apa pun yang terjadi di abad ke-21, kita akan dapat menghadapinya. Gereja Tuhan tidak dapat dihancurkan dan kita dapat tetap berdiri tegak, karena kita mempunyai tujuan yang jelas dalam pelayanan kita.

Ingat, engkau adalah masa depan gereja. Perubahan-perubahan yang terjadi dalam dirimu, yang membuat engkau semakin berakar dan terus bertumbuh, menjadi organisme yang tidak mati adalah masa depan yang engkau tanamkan dalam gereja pada abad mendatang. Kalau engkau menanam pohon yang mati, maka gereja yang akan datang adalah gereja yang mati. Kalau engkau menanam iman yang hidup, maka gereja masa depan akan hidup. Gereja masa depan ada di atas pundakmu, langkahmu, tindakanmu. Gereja masa depan ada di tanganmu.

Saya sangat mengharapkan di dalam seluruh sesi NYC (National Youth Convention) ini, setelah kita mendapat menjelasan mengenai apa yang harus kita lakukan di dalam Knowing, Being, dan Doing, kita akan bersama-sama merumuskannya. Maka pada akhirnya, ada 400 orang boleh dipersatukan dalam satu visi pelayanan, dalam hal-hal yang dilakukan dengan jelas untuk masa yang akan datang; Bagaimana kita bisa bergandengan tangan, saling membantu, supaya apa yang kita pikirkan ini bisa terwujudkan di dalam gereja masing-masing dan terus memajukan gereja. Kita harapkan sesuatu yang besar terjadi di abad ke-21 ini, dengan Saudara-saudara sebagai orang-orang yang dipakai Tuhan di tempat Saudara berada. Engkau akan dipakai Tuhan menjadi pelopor untuk melihat hal ini sambil Saudara melayani dan bekerja. Kita boleh melihat semua itu diwujudkan.

Sumber : artikel di Mimbar Reformed Injili Indonesia (MRII) Melbourne.

Categories: Stephen Tong

The Word (Part 10)

November 24, 2011 Leave a comment

Yohanes 1:1-4

Ketika semua rasul sudah mati martir, hanya tersisa Yohanes yang adalah rasul termuda, namun sekarang sudah berusia lebih dari 90 tahun. Sudah lebih dari 20 tahun yang lalu Paulus mati martir dan Petrus mati dipaku terbalik. Saat itu sudah tidak ada lagi rekan seiman Yohanes yang bisa diajak melawan empat musuh gereja. Akhirnya dia minta Tuhan memberikan kekuatan padanya. Meskipun ia sudah tua dan sudah mulai menjadi orang yang tidak mempunyai kekuatan berdiri sendiri seperti orang muda, dia minta Tuhan memberikan keberanian padanya. Dan dengan perasaan penuh tanggung jawab ia menulis kitab Yohanes. Di usianya yang lanjut, ia berhak untuk pensiun, tapi kalau dia pensiun, dunia ini tidak ada Injil Yohanes dan kitab Wahyu serta gereja saat itu harus berperang sendiri melawan 4 musuhnya. Jangan menghina dirimu! Kita harus selalu pikir, ”Jika bukan saya yang mengerjakan, siapa yang akan mengerjakan? Jika tidak sekarang, bilakah? Jika tidak di sini, di mana?” Kita harus berani memulai dari diri kita sendiri, sekarang, dan di sini. Yohanes menyadari bahwa kini menjadi tugas dan tanggung jawabnya untuk mengerjakan hal itu. Untuk itulah ia diberi usia yang panjang. Dengan semangat sedemikian saya melayani sampai sekarang dan saya rindu semua orang Kristen, khususnya yang mendengar khotbah saya, menerima semangat seperti ini; meneruskan pekerjaan Tuhan, mewarisi api yang diberikan oleh Roh Kudus kepada para rasul, bapa gereja, para misionaris, para reformator, dan sampai di gerakan Reformed Injili di mana hamba-hamba Tuhan sedang menjadi contoh bagi Saudara yang mendengarkan khotbah.

Empat musuh gereja saat itu adalah: 1) Pemerintah Romawi yang menganiaya orang Kristen. Pembunuhan terjadi di mana-mana, pengaliran darah tidak habis-habisnya. Yang memanggil Yesus sebagai  Tuhan, akan dipenggal kepalanya. 2) Para filsuf dan cendekiawan yang menghina iman orang Kristen. Mereka menghujat, mengumpat, dan memfitnah. Mereka menganggap orang Kristen adalah pemberontak kerajaan karena tidak mau menyembah dewa-dewa dalam mitologi mereka. Orang Kristen dianggap bodoh karena percaya hanya kepada satu Tuhan dan menganggap orang biasa yang mati serta bangkit sebagai Tuhan. 3) Pemalsuan injil dari orang gnostik. Gnostisisme memakai nama rasul karena nama rasul dipercaya oleh orang Kristen. Mereka memanipulasi nama rasul untuk memenangkan pembaca. Pada akhir abad pertama selain Matius, Markus, dan Lukas, sudah beredar puluhan injil palsu untuk mengacau-balaukan orang Kristen. 4) Orang Kristen palsu dan munafik, mereka menyelundup ke dalam gereja dan merusak nama Tuhan. Akhirnya orang luar menganggap orang Kristen hidupnya tidak benar, berbuat zinah, berlaku curang, dan tidak jujur dalam perdagangan. Inilah empat musuh dari luar dan dari dalam. Pada waktu itu Injil Matius, Markus, dan Lukas sudah ada, tetapi puluhan injil palsu juga beredar. Maka perlu satu lagi seorang tua yang menulis satu Injil untuk melawan puluhan injil yang palsu, melawan ratusan orang yang menghina, dan ribuan fitnahan kepada kekristenan, dan melawan pemerintah Romawi yang sudah membantai ratusan ribu orang Kristen. Jangan kita hanya sekedar membaca Injil Yohanes. Kita harus mengerti latar belakang Injil ini ditulis dan keadaan saat itu.

Yohanes mengatakan bahwa Firman bukan di lapisan ciptaan, tetapi di lapisan Pencipta. Firman beserta dengan Allah dan Firman itu Allah. Logos ini berbeda dari pengertian Lao Zi, Konfusius, filsafat India, dan Gnostisisme serta semua filsafat Gerika yang merupakan pengertian manusia belaka. Pengungkapan di dalam Yohanes 1:3 sangat jelas. Dengan pembedaan kualitatif, Yohanes memutar balik semua pemikiran yang sudah muncul dalam sejarah. Dalam Yohanes 1:4 muncul satu berita yang penting, yaitu hidup ada di dalam Firman. Semua ajaran mengatakan firman ada di dalam otak hidup. Firman, Logos, Brahman, Tao, yang dikatakan oleh Lao Zi, Konfusius, Hindu dan oleh Zoroasterisme atau oleh Stoisime adalah logos yang ada di dalam pikiran logikos. Firman yang berada dalam pemikiran sebagai hasil rasio manusia. Yohanes membalik semuanya ini. Bukan firman di dalam hidup, tetapi hidup di dalam firman. Semua yang hidup berasal dari Dia, dan dalam Dia ada hidup. Hidup dalam bahasa aslinya menunjuk kepada induk kehidupan. Semua hidup berasal dari Tuhan, bukan Tuhan diciptakan oleh hidup. Jika Tuhan dibayangkan, dispekulasikan, diimajinasikan oleh manusia, berarti di dalam hidup ada tuhan. Yang benar adalah di dalam Tuhan ada hidup dan hidup seluruh dunia berasal dari Dia; maka Dia bukan berasal dari hidup yang memikirkan tentang Tuhan.Yohanes menerima wahyu Tuhan untuk membalikkan semua pikiran di seluruh dunia di sepanjang sejarah. Hidup ada pada Dia dan hidup ini adalah terang dunia. Hidup yang menerangi dunia.

Terang dan hidup merupakan dua unsur kekal dalam Gnostisisme. Gnostisisme  percaya terang dan gelap itu kekal dan ada pada dirinya sendiri (eternal and self-existing). Dari kekal sampai kekal keduanya sama-sama berada. Jadi ajaran Gnostisisme berdasarkan dualisme kosmologi; di dalam alam semesta ada dua hal yang berlawanan yang sama-sama ada, sama-sama penting, dan sama-sama berkuasa. Hal ini berlawanan dengan ajaran Alkitab. Alkitab tidak pernah mengatakan, pada mulanya ada Allah dan setan yang dari dahulu sampai sekarang bermusuhan dan kita terjepit di tengahnya, sehingga kadang-kadang kita mendengar firman Tuhan lalu diganggu oleh suara setan, ketika mendengar suara setan diganggu oleh suara Tuhan. Minggu orang ke gereja dan Senin ke tempat perjudian. Ini semua bukan ajaran Alkitab! Dalam Perjanjian Lama dikatakan, “Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.” Karena ketidaktaatan penghulu malaikat (ciptaan) maka timbullah dosa dan kejahatan yang melawan Tuhan. Inilah yang Tuhan sebut setan. Sejak itulah baru ada setan. Dosa tidak berada dalam kekekalan. Setan tidak ada di kekekalan. Jadi ajaran Kristen dalam Kitab Suci adalah Monisme, bukan Dualisme atau Pluralisme.

Dalam ajaran tradisi Tionghoa, dalam bagian yang hitam dengan titik putih di tengahnya dan dalam bagian yang putih dengan titik hitam di tengahnya. Itu namanya ‘yin-yang’. Berhadapan dan berelatif, ini adalah ajaran Dualisme bukan ajaran Kristen. Demikian juga dalam ajaran Hindu, ada dewa yang baik dan ada dewa yang jahat. Itu pun Dualisme. Zoroasterisme yang merupakan ajaran Persia juga Dualisme. Manichaeisme dan Gnostisisme juga Dualisme. Dalam ajaran Dualisme, ada dewa yang baik dan ada dewa yang jahat; ada terang dan ada gelap. Gelap dan terang itu berinteraksi selama-lamanya tanpa pernah menjadi satu konklusi. Bagi kita Allah mengizinkan dosa berada, tetapi bukan dicipta. Allah akan mengakhiri dosa saat penghakiman yang terakhir di hari kiamat. Setelah sejarah berakhir, dalam kekekalan Allah tetap menang. Ini alasan Yohanes menuliskan kalimat ini. Ia mau memberitahukan kita untuk tidak masuk ke dalam jerat ajaran Dualisme ataupun Pluralisme.

Ajaran Dualisme Kosmologi dalam wilayah supranatural itu dimulai oleh seorang yang bernama Zoroaster. Ia orang Persia. Ada dua versi catatan tahun kehidupannya, ada yang mengatakan ia hidup 600BC dan ada yang mengatakan ia hidup 1.000BC. Dia tinggal di gunung yang tinggi di Persia. Pada suatu hari dia mengaku mendapatkan wahyu lalu dia sadar dan insyaf. Setelah dia mengerti maka dia turun dari gunung dan mengajarkan ajaran: Di dunia ini, dalam alam semesta ada dua kekuatan, dua dewa, dua sifat yang berlawanan. Yang satu adalah dewa yang baik (terang) yang mengajarkan kebajikan. Dan satu lagi dewa yang jahat (kegelapan) mengajarkan kerusakan kepada manusia. Kedua dewa ini bernama Ahura Mazda dan Angra Mainyu. Pertarungan antara dua kekuatan ini belum pernah berhenti. Ajaran Zoroaster akhirnya mempengaruhi orang-orang Gnostisisme dan 350 tahun kemudian mempengaruhi Manichaeisme. Kemudian Manichaeisme  mempengaruhi Agustinus  pada abad ke-4 dan abad ke-5.

Pemikiran Dualisme ini menjadi gejala umum hampir semua agama. Di sinilah perbedaan esensial dengan kekristenan yang bukan merupakan hasil imajinasi spekulasi rasio manusia sebagai ciptaan yang berdosa. Kekristenan yang merupakan ajaran Monotheisme dan Monisme ini adalah ajaran yang langsung diwahyukan oleh Tuhan kepada orang-orang yang dipilih. Jadi jangan heran apabila filsafat Cina, India, Persia, dan seluruh Timur Tengah dipengaruhi Dualisme sampai saat Abraham dipanggil Tuhan untuk mengikut Dia. Abraham menjadi nenek moyang semua orang yang percaya Monotheisme. Dan kemudian wahyu Tuhan turun kepada Musa sebagai orang pertama yang mendapat wahyu Tuhan untuk menulis kitab suci untuk mengajar Monotheisme. Selain itu, seluruh dunia sewaktu masuk dalam pergumulan memikirkan tentang dunia rohani, semua berkecimpung dalam Dualisme.

Sampai hari ini kita melihat negara Persia (sekarang Iran) menghasilkan Dualisme, padahal mayoritas sudah membuang Dualisme. Mereka akhirnya menerima ajaran nabi Mohammad yang mengajarkan hanya satu Allah. Hampir seluruh negara di Timur Tengah hari ini berasal dari keturunan orang Arab. Zoroasterisme hanya dipegang oleh sekelompok kecil saja. Mereka menyembah api.

Ketika Yohanes berbicara tentang terang dan gelap, sebenarnya ia mau memberitahukan kepada dunia bahwa Dualisme bukanlah ajaran Kristen. Orang dunia yang membaca Yohanes harus kembali kepada Allah sejati yang kekal dan inkontingen (dari kekal sampai kekal). Dewa-dewa yang tidak ada menjadi ada hanya karena imajinasi manusia yang terpolusi Dualisme. Manusia menciptakan kemungkinan keberadaan yang sebenarnya tidak ada. Lalu apakah setan itu ada? Ada, tetapi keberadaan setan bukan keberadaan yang inkontingen. Setan ada karena perubahan dari yang dicipta melawan Yang Mencipta; lalu dibuang dari sorga dan diturunkan ke angkasa. Itu namanya Kelompok Pemberontak. Setan adalah si Pemberontak. Istilah ‘setan’ berarti yang melawan, yang menantang kehendak Allah.

Dalam kekekalan tidak ada setan. Dalam kekekalan setan tidak ada lagi kuasanya. Dalam kesementaraan setan diizinkan berada dan diizinkan memberontak. Lalu setelah itu dihakimi untuk kalah selama-lamanya. Untuk melawan injil-injil palsu yang percaya akan Dualisme, Yohanes menulis kalimat, “Di dalam Dia adalah hidup. Hidup itu terang dunia. Terang bersinar ke dalam kegelapan dan kegelapan tidak bisa menguasai terang. Kegelapan tidak menerima terang. Kegelapan tidak bisa menang atas terang.” Ayat ini sekaligus menyatakan fakta Monisme. Ayat ini sekaligus memberikan kepada kita pengharapan kekal, karena dari permulaan memang dosa dan setan itu tidak ada. Kalau sekarang dosa dan setan merajarela, bukan karena dia sama-sama berkuasa, sama-sama bereksistensi, sama-sama kekal dengan Allah. Dia hanya diizinkan Allah untuk sementara sukses pemberontakannya, diizinkan Allah sementara kejahatannya bebas merajalela dalam dunia. Keberadaannya kontingen. Tetapi akhirnya terang akan mengalahkan kegelapan dan kegelapan tidak bisa mengalahkan terang. Karena terang itu permanen dan inkontingen.

Namun 380 tahun kemudian, pengaruh ajaran ini masih berada di dalam orang Kristen sehingga ada seorang yang sangat cerdas, salah satu genius yang paling besar dalam sejarah umat manusia, keracunan filsafat Dualisme ini. Ia adalah  Agustinus yang menyesuaikan pengalaman pergumulan pribadi dengan ajaran yang enak didengar. Agustinus dilahirkan oleh seorang perempuan Kristen (Monica) yang begitu beribadah. Monica adalah seorang perempuan yang cinta Tuhan dan sepanjang hidupnya ia adalah seorang yang berdoa. Namun entah karena dipaksa atau karena faktor lain, ia menikah dengan seorang pria yang meskipun pintar dan gagah, tetapi tidak mengenal Tuhan. Selain suka marah, pria itu suka mabuk-mabukan dan dengan tabiatnya yang keras ia hidup mengikuti kedagingannya sendiri. Istri yang baik menikah dengan suami yang tidak baik, ia memikul salib yang berat sekali. Itu sebabnya Alkitab mengatakan, yang beriman tidak bisa menanggung kuk yang sama dengan orang tidak beriman. Dalam hal pernikahan, wanita Kristen harus hati-hati, jika tidak engkau akan mengalami apa yang dialami Monica. Suaminya pulang dalam keadaan mabuk, marah-marah, dan pergaulannya  sempit. Dia adalah seorang yang kurang bertanggung jawab  khususnya di dalam moral, keluarga, dan iman kepercayaan. Dari pernikahan ini, lahirlah anak lelaki yang namanya Agustinus yang luar biasa genius. Dia mempunyai pengertian yang sangat tajam dan peka. Pada usia 13 tahun ia sudah mengerti retorika, gramatika, dan segala dalil bahasa. Pada usia 14 tahun sudah boleh menjadi guru besar untuk mengajar di universitas. Dia mempelajari semua agama, tata bahasa, dan pengaturan sastra dengan kekuatan luar biasa. Di umur 17 tahun, Agustinus sudah tuntas mempelajari Stoisisme, Epikurianisme, dan Skeptisisme. Lalu dia menjadi seorang guru besar. Umur belasan tahun sudah mempunyai kedudukan dalam masyarakat dan berada di tengah kaum cendekiawan yang tinggi sekali. Tetapi meski otaknya begitu pintar, dia menemukan ada satu kesulitan; otaknya tinggi tapi hatinya rendah. Pikirannya tajam, nafsunya tidak terkendali. Siang menjadi guru besar, malam hidup seksnya memalukan. Pergumulan ini sangat menyusahkan dia; mempunyai seorang ibu yang cinta Tuhan dan rajin ke gereja serta seorang ayah yang meski pintar, tapi suka marah dan tidak bisa mengendalikan nafsu dan tabiatnya yang sangat liar itu. Dua-duanya ada di dalam diri Agustinus yang pintar, tapi tidak bisa mengendalikan seks. Dia belajar filsafat yang tinggi dengan moral yang rendah.  Ia hidup dalam konflik seperti ini selama tiga tahun. Sampai suatu hari Agustinus mengikuti semacam aliran agama yang baru yang didirikan oleh seorang bernama Mani (ajarannya disebut Manichaeisme). Manichaeisme mengajar unsur yang sama dengan Gnostisisme, sama-sama dipengaruhi oleh Zoroasterisme yang menekankan Dualisme, yaitu terang dan gelap. Terang dan gelap sama-sama penting, sama-sama berada, sama-sama kekal, sama-sama bersubstansi yang berlawanan, maka terang dan gelap bertarung tidak habis-habis. Ketika mendengar ajaran ini, ia merasa cocok dengan pergumulannya dan menganggapnya sebagai kebenaran. Menjadi orang Kristen jangan bodoh! Banyak orang Kristen mencari gereja yang yang cocok dengan dirinya, mencari khotbah yang sesuai dengan dirinya. Ini yang menghancurkan sifat manusia. Jangan minta Tuhan cocok dengan pengalamanmu, tetapi tuntutlah supaya pengalamanmu cocok dengan tuntutan Tuhan. Bersyukurlah kalau di dalam hidupmu masih ada khotbah yang melawan kehendakmu. Bersyukur kepada Tuhan, jika masih ada pendeta yang masih berkhotbah keras untuk menuntut kesalahanmu. Karena pimpinan Tuhan melampaui pengalaman dan kehendak yang kau tetapkan untuk rencana hari depan. Bukan itu saja, hari ini banyak orang Kristen kalau diberi kedudukan penting maka ia memilih pergi ke gereja tersebut tanpa berpikir panjang. Banyak orang yang kalau hanya dengar khotbah, tidak diberi pekerjaan merasa tidak ada hati di situ. Jika saat engkau ke satu gereja dan pendeta di situ menyatakan engkau begitu diperlukan, bisa menjadi penerjemah, bisa menjadi guru sekolah minggu, boleh memimpin sekolah, bahkan boleh menjadi majelis, dan kalau engkau sangat kaya, mungkin diundang menjadi ketua majelis. Lalu engkau duduk di situ, dimana pantatmu di situ hatimu. Banyak gereja menjadikan orang merasa penting dengan memberikan kedudukan, lalu timbullahrasa memiliki. Itulah sebabnya banyak orang di GRII kecewa, karena di sini orang kaya tidak diberi tempat khusus, orang yang menganggap diri pintar tetap tidak mendapatkan tempat khusus. Di sini tidak ada tempat untuk orang yang ambisius. Di sini tidak ada tempat khusus untuk orang yang mencari kemuliaan, kekuasaan, penonjolan diri. Yang datang harus mendengar khotbah. Tuhan mau manusia cocok sama Dia, jangan dibalik. Karena Dia Tuhan, engkau manusia yang harus dihakimi.

Alkitab memakai istilah iman 270 kali dalam Perjanjian Baru, di antaranya 99 kali di Injil Yohanes. Iman ada yang anthroposentris (berpusat pada manusia) dan ada yang theosentris (berpusat pada Allah). Yang dimaksud Alkitab dengan iman adalah iman setelah mendengar Firman, yaitu iman khusus. Sebelum mendengarkan Firman, orang memiliki iman yang natural sebagai anugerah Tuhan melalui wahyu umum. Barulah setelah mendengar Firman orang itu mendapat iman khusus melalui wahyu khusus, yaitu saving grace (anugerah yang menyelamatkan), bukan hanya common grace (anugerah umum). Untuk ini kita perlu belajar, sehingga membentuk jalinan struktur theologi secara totalitas yang betul-betul disarikan dari Alkitab untuk menjadi landasan bagi iman kepercayaan kita kepada Allah. Tidak banyak pendeta yang mempunyai beban membentuk iman jemaat seperti itu. Kita perlu belajar sampai berakar kuat di dalam firman, bukan untuk mencari posisi. Kita harus menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab di hadapan Tuhan.

Ketika Agustinus mendapatkan khotbah yang dirasanya cocok, dia meninggalkan gereja orthodox di mana ibunya beribadah. Dia menjadi anggota Manichaeisme  selama sepuluh tahun. Lalu mamanya menangisi dia. Suatu hari seorang uskup mau menutup gereja karena semua orang sudah pulang, tetapi ia masih mendengar suara perempuan. Dia keliling mencari sumber suara itu, akhirnya menemukan seorang perempuan yang sudah tua, berdoa dengan mengalirkan airmata. Ketika ditanya mengapa ia menangis, ia menjawab bahwa anaknya yang berintelektual tinggi hidupnya tidak beres. Dia menjauhkan diri dari Tuhan dan tidak beriman kepada Tuhan, dia terjerumus dalam perzinahan. Bagaimana ia sebagai ibu yang cinta Tuhan harus menyaksikan anaknya akan masuk kebinasaan. Uskup itu melihat, ibu itu mengungkapkan isi hati yang keluar dari hati nurani yang murni dan uskup itu mengeluarkan satu kalimat, “Seorang anak yang didoakan oleh ibu seperti ini, seorang anak muda yang memerlukan pengaliran air mata sebanyak kamu, tidak mungkin binasa. Pulanglah dengan damai, Tuhan beserta engkau.” Monica merasa mendapat penghiburan yang besar.

Agustinus yang hidup baik-baik pada siang hari dan hidup berzinah pada malam hari, menerima ajaran dewa terang dan dewa gelap sedang mempermainkan manusia. Medan peperangan antara pertarungan gelap dan terang ada di dalam hatinya. Hidupnya dirongrong oleh kekuatan yang tidak habis-habisnya, dari kekal sampai kekal, tidak ada yang bisa melepaskan diri. Ini suatu dalil, bahwa dunia tidak bisa lepas dari pertarungan kekal dari dua kekuatan yang sama kuat, dan itulah hidup kita.  Sampai suatu malam Agustinus tidak bisa tidur. Akhirnya dia bangun dan keluar dari kamarnya, lalu dia lihat ke angkasa, hari itu langit jernih sekali. Di tengah kegelapan ia menyaksikan bintang-bintang yang luar biasa indahnya. Waktu dia melihat, dia mendadak sadar, kalau memang pertarungan tidak habis-habis bukankah kekacauan di sorga juga tidak habis-habis? Tetapi mengapa bintang teratur, rotasinya terus teratur dan tidak kacau? Ini berarti pasti ada penguasa yang tidak mengizinkan kekacauan merusak dia. Pasti ada Dia yang mengambil alih dalil itu dan Dia itu berkuasa di atas alam semesta yang Ia ciptakan. Kalau begitu iman mamaku yang benar. Bukan Dualisme melainkan Monisme. Bukan Pluralisme melainkan Monotheisme. Pasti ada Allah yang sungguh. Hari itu menjadi hari yang memutar balik hidupnya. Terkadang, bagi orang pandai seperti ini tidak ada khotbah yang bisa membawa dia kembali, hanya suara Tuhan sendiri yang menyadarkan hatinya. Mungkin sudah lama engkau meninggalkan Tuhan, mungkin kamu perlu satu pukulan baru engkau sadar kembali.

Paul Tillich, di dalam bukunya yang lebih dari seribu halaman, “The Complete History of Christian Thought”, dua pertiga bagiannya berisi bahan kuliah dan sebagian adalah catatan dari muridnya setelah dia mati untuk menyelesaikan seluruh buku. Dalam buku itu banyak hal yang tidak benar, tetapi ada satu kalimat mengenai Agustinus, “Itulah malam yang mengubah seluruh sejarah umat manusia. Sejak malam itu, sejarah umat manusia berubah. Kekristenan mendapatkan seorang yang sungguh mengerti Allah Monotheistik, dan ia sendiri kembali kepada Tuhan dan membentuk sejarah yang baru.” Tuhan memakai astronomi untuk menjadi guru bagi Agustinus, untuk mengoreksi kesalahannya supaya kembali dari kesalahan Dualisme Persia. Anugerah umum datang kepada dia, dia mulai balik, tetapi itu tidak cukup. Beberapa hari kemudian saat dia sedang seorang diri merenungkan hari depannya, ia mendengar seorang anak kecil berbicara dengan anak kecil yang lain di pinggir jalan, “Buku, baca buku!” Agustinus mendengar kalimat itu dan dia menganggap ini suara Tuhan, lalu ia pulang dan membuka Kitab Suci. Ini membuktikan ia bukan orang biasa karena saat itu tidak semua orang bisa punya Kitab Suci di rumahnya. Ia membaca ayat terakhir dari Roma 12 sampai Roma 13, “Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan menggunakan perlengkapan senjata terang.” Malam dan siang? Gelap dan terang? Dia sangat terkejut. Lalu diteruskan, “Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati. Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya.” Inilah berita. Dia menyadari bahwa sekalipun belum sepenuhnya mengerti, tetapi inilah yang dia butuhkan. Dia sadar suka pesta pora, suka mengikuti keinginan daging. Mulai hari itu dia bertobat dan mulai hari itu dia kembali kepada Tuhan Allah yang diimani oleh ibunya. Dia berkata kepada wanita yang dia tiduri sampai melahirkan anak, “Saya menerima anak ini, tetapi engkau pergilah menikah dengan orang lain, hidup saya terlalu rusak. Mulai hari ini saya kembali kepada Tuhan bertobat menjadi orang suci, engkau mempunyai hidupmu sendiri.” Ia memberi uang padanya dan tidak lagi berhubungan dengannya. Tidak lama kemudian anak itu mati. Agustinus menangis dan ia minta ampun pada Tuhan dan menyerahkan seluruh hidupnya menjadi hamba Tuhan, lalu dia masuk biara. Ia dilatih seorang bapa gereja yang bernama Ambrose di Milano. Dia melayani berpuluh-puluh tahun menjadi uskup di Hippo, maka dia disebut Agustinus dari Hippo. Dia adalah orang yang melayani di Afrika Utara yang terbesar di sepanjang sejarah. Ketika dia mati, dia meninggalkan delapan puluh murid yang menjadi uskup untuk melayani seluruh dunia. Dia salah seorang pemimpin besar di sepanjang sejarah. Bagaimana dengan saudara? Sudahkah kita berbalik, mengerti Firman dengan benar, tidak terjebak oleh pemikiran Dualisme, sehingga hidup kita sungguh-sungguh untuk Tuhan?

Categories: Stephen Tong

The Word (Part 9)

November 24, 2011 Leave a comment

Yoh. 1:4-5

Yohanes 1:4 bisa juga diterjemahkan: Di dalam Firman ada hidup, dan hidup ini adalah terang manusia. Terang menerangi kegelapan, tetapi kegelapan tidak mau menerima terang. Kita telah menyinggung sedikit tentang terang. Dan dari pembahasan tentang budaya-budaya yang berkaitan dengan Logos, kita juga telah melihat bahwa pemikiran Yohanes tentang Logos telah melampaui yang lain. Logos dalam pemikiran Yohanes bukan berada di dalam atau di bawah alam. Dia beserta dengan Allah dan Dia adalah Allah. Inilah perbedaan kualitatif antara wahyu Allah dan hasil penemuan atau spekulasi pikiran manusia. Sebagai orang Reformed kita seharusnya mampu menemukan perbedaan kualitatif (qualitative difference) antara kedua pola pikir ini. Di sini membedakan bagaimana kita melihat Alkitab dan orang luar melihat Alkitab. Bagi kebanyakan orang, Alkitab hanyalah salah satu dari beberapa kitab agung yang ada di dunia ini. Orang percaya melihat Alkitab sebagai wahyu Allah dan satu-satunya sumber kebenaran bagi kita. Hanya Yohanes yang menemukan: Firman itu beserta Allah dan Firman itu adalah Allah.

Kita akan melihat pengertian Logos di dalam sejarah. Di zaman Mao Zedong ada satu jenis porselen yang teknik pembuatannya berbeda dari semua porselen yang ada. Di tengah porselen berwarna putih itu dibubuhkan satu cap berwarna, untuk menandakan bahwa porselen itu asli. Cap itu tidak terlihat secara biasa, tetapi bisa dilihat jika diletakkan di bawah cahaya. Sebenarnya, 600 tahun sebelum Mao Zedong, ada kaisar Yongle, kaisar ketiga dan yang paling ambisius dari dinasti Ming. Ia membangun istana terbesar di dunia,Forbidden City, di Beijing. Sejak  dibangun pada tahun 1403, istana itu telah beberapa kali terbakar. Terakhir direnovasi sekitar tahun 2005 untuk menyongsong Olimpiade Beijing 2008. Kaisar Yongle yang pertama kali membuat porselen putih, di dalamnya terdapat naga berwarna biru yang terbuat dari cobalt yang dibakar dengan suhu 1200 derajat Celsius; dan mutiara berwarna merah yang terbuat dari perunggu yang dibakar 1300 derajat Celsius dan perlu pengontrolan oksigen. Cap rahasia itu hanya dapat dilihat di bawah cahaya dan itu merupakan jaminan keaslian karya itu. Demikian juga Tuhan, ketika mencipta segala sesuatu, Ia membubuhkan tanda tangan-Nya. Lalu bangsa Tionghoa, India, Gerika, melalui logika menemukan dalil standar, yang kemudian dikenal dengan bidang-bidang studi, yang diakhiri dengan kata “logi” seperti: geologi, psikologi, biologi, dan lain-lain. Bidang-bidang ilmu ini menemukan tanda tangan Allah di dalam ciptaan-Nya. Namun, Allah Pencipta bukanlah logika, melainkan LogosLogos menandatangani logi, dan ditemukan oleh logikos. Di sini Yohanes menegaskan bahwa Logos itu bukan di dalam alam, tetapi bersama dengan Allah dan adalah Allah. Jadi orang Kristen jangan hanya ingin menjadi kaya, lancar, sukses; tetapi juga harus tahu betapa ajaibnya Tuhan mencipta segala sesuatu. Lebih ajaib lagi, Ia telah mengirimkan Anak-Nya untuk menyelamatkan manusia, engkau dan saya. Dan sebagai buktinya, Allah Roh Kudus tinggal di dalam hati kita.

Pada zaman ini, kekristenan telah banyak diselewengkan oleh banyak pendeta dan gereja yang tidak bertanggung jawab. Reformed berarti kembali kepada Alkitab. Bagaimana kita bisa membawa banyak orang kembali mengikuti jalan Alkitab, jalur Alkitab, prinsip Alkitab secara benar? Inilah tugas berat yang harus kita emban. Firman itu bersama dengan Allah, tetapi di dalam alam ciptaan-Nya, ada tanda tangan-Nya, prinsip-prinsip dan dalil-dalil-Nya, sebagai tanda bahwa Dia telah berkarya di sini. Dengan demikian memungkinkan manusia mengarahkan imannya dari dunia sini menuju ke surga sana.

Pada mulanya adalah Firman dan Firman beserta dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu diciptakan oleh-Nya, tanpa Dia tidak ada sesuatu yang ada. Di sini kita melihat satu Pencipta, bukan dua lapisan penciptaan. Yohanes menegaskan, tidak perlu ada allah pencipta yang kurang sempurna, karena dunia ini dicipta langsung oleh-Nya. Mengapa Allah yang sempurna mencipta dunia yang tidak sempurna, dijawab oleh Gottfried Leibniz[1], seorang filsuf Jerman, yang reputasinya setara dengan Rene Descartes dan Baruch Spinoza. Ketiganya dikenal sebagai rasionalis tertinggi di dalam sejarah. Dari ketiganya, hanya Leibniz yang lebih cenderung ke Kristen. Leibniz menjawab secara apologetis, jika Allah mencipta dunia identik dan sekualitas dengan Diri-Nya, maka akan ada dua Allah. Dan itu berarti Allah mencipta Allah, padahal Allah tidak mungkin dicipta. Itu mustahil. Jadi ciptaan Allah justru tidak boleh sekualitas dengan Allah. Dengan demikian, kita tidak mungkin boleh dan bisa mengidentikkan dunia yang tidak sempurna ini dengan Allah yang sempurna.

Melalui ayat ini, Yohanes menegaskan relasi antara Allah dan Logos dalam mencipta. Bukannya Allah mencipta Logos, lalu Logos mencipta alam, seperti pada pikiran Stoisisme. Yohanes menyatakan bahwa Allah memakai Logos untuk mencipta alam semesta yang tidak sempurna; sementara Allah dan Logos tetap sempurna. Alam yang dicipta memiliki perbedaan kualitatif dari Allah dan Logos yang mencipta, dan perbedaan kualitatif ini merupakan suatu keharusan mutlak. Namun, melalui ayat ini, bisa timbul kesan bahwa ada dua Allah, yaitu Allah dan Logos. Di sini kita melihat pertama kali Yohanes mulai masuk ke dalam ajaran Allah Tritunggal. Saya rasa, Saksi Yehovah, Arius, Modalisme (Sabellianisme), Manichaeisme, Witness Lee salah mengerti tentang pemikiran Yohanes. Firman itu bukanlah ciptaan. Firman itu adalah Allah. Celakanya, mereka menganggap diri lebih pandai menafsir dan lebih mengerti Kitab Suci. Melihat Logos sebagai ciptaan Allah adalah sebuah kesalahan besar.  Mereka melandaskan ajaran mereka dari Kolose 1 dan Wahyu 3, yang mengatakan: Logos (Kristus) adalah yang utama dari semua ciptaan. Lalu mereka menganggapnya bahwa Kristus adalah ciptaan yang pertama (first created). Sepintas, secara tata bahasa memang bisa dimengerti sedemikian, namun secara theologis hal itu tidak mungkin dapat diartikan demikian, karena Kristus sendiri mengatakan bahwa Aku adalah Alfa dan Omega. Seluruh Kitab Suci juga menunjang Kristus yang tidak berubah, dahulu, sekarang dan selamanya (Ibr. 13). Ia adalah Allah yang kekal. Pengertian “Aku adalah…,” yang dalam bahasa Gerika “ego eimi…” dimengerti dari sejak Perjanjian Lama oleh orang Yahudi sebagai julukan bagi Allah. Istilah itu menunjuk pada Allah Pencipta langit dan bumi. Tuhan berkata kepada Musa: Aku adalah Aku (ego eimi). Frasa ini yang banyak sekali dipakai oleh Injil Yohanes.

Tetapi pemikiran ini belum menyelesaikan bagaimana mengerti “Firman itu bersama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah”. Di dalam pikiran orang Yahudi, Allah itu esa, hanya ada satu Pribadi. Konsep ini salah. Orang Kristen melihat bahwa Yesus yang memberitakan Kerajaan Allah, melakukan mujizat, dipaku di kayu salib, bukanlah manusia biasa, melainkan Allah yang berinkarnasi. Dengan ini, konsep bahwa Allah hanya satu Pribadi haruslah digugurkan. Itu sebabnya Yesus menegakkan pengertian yang benar, dan Ia tidak memilih murid dari Yerusalem, melainkan dari Galilea. Artinya, Ia menentang konsep orang Yahudi yang dibakukan dan diturunkan dari Arus Pemikiran Yerusalem (academical tradition of Jerusalem School). Kita memang tidak membuang Perjanjian Lama, tetapi kita harus membuang tradisi orang Yahudi yang salah. Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru sama-sama adalah firman Tuhan dan keduanya tidak bisa dihilangkan. Allah ingin membuang sikap mereka yang arogan, yang menganggap diri mengerti Kitab Suci, padahal mereka mengerti secara salah. Mereka mengerti hanya secara hurufiah yang mematikan, dan bukan pengertian rohani yang menghidupkan. Itu sebabnya, kita perlu menuntut diri untuk mengerti firman Tuhan seakurat mungkin, bukan menurut apa yang kita inginkan. Dan dalam hal ini, Yohanes sangat peka. Perkataan Yesus, “Anggur yang baru tidak diisikan ke kirbat yang tua,” menandai hadirnya era yang baru, era kehidupan yang bersinar dan Perjanjian Baru yang diwahyukan.

Di dalam filsafat Gerika terdapat Plato. Ia menjadi begitu penting karena pada awalnya filsafat Gerika mengandalkan logika untuk meneliti fisika, metafisika, dan lain-lain. Namun, kemudian Socrates membalikkan ke sebuah paradigma yang baru, yaitu “untuk mengenal segala sesuatu, harus dimulai dari mengenal diri” (gnothi seauton). Socrates adalah guru terbesar zaman kuno yang mendidik umat manusia. Muridnya, Plato, meneliti kosmologi dengan sangat luas. Ia mengadopsi pikiran-pikiran kuno sebelum Socrates. Plato mengembangkan pikirannya bahwa dunia yang tampak ini hanya fenomena, sementara dunia yang asli tidak di sini. Itulah dunia yang sempurna. Dunia itu ada di dalam ide. Ide itu yang menuntut pikiran manusia dan menyadari bahwa di sana ada yang sempurna, sehingga kita yang di sini mau meraih kesempurnaan itu. Namun, akhirnya menemukan bahwa yang di sini tidak sempurna. Manusia dengan ide yang sempurna ini kemudian mau belajar dan menuntut diri dengan cara berguru. Tetapi akhirnya, ia menemukan bahwa tidak ada guru yang sempurna, maka ia terpaksa berkompromi. Ide memang sempurna, tetapi realitas tidak sempurna. Ide tinggi; realitas rendah. Seseorang mencari isteri yang sempurna, ketika ia mendapati orang yang mendekati idenya, ternyata wanita itu begitu cerewet yang membuat dia tidak tahan. Di situ dia harus berkompromi. Bagi Plato, dunia ide ini (form/bentuk) dibedakan dari realitas (matter/materi). Tetapi form yang tak tampak, selalu ada di dalammatter yang tampak. Ketika seseorang mau membuat sebuah gelas, dia memulai dengan ide tentang gelas yang indah. Itu disebut desain. Allah adalah Perancang Agung. Ia meletakkan form (bentuk) menjadi matter (materi). Ia merealisasikan ide menjadi ciptaan. Maka, bagi Plato, ada Form (bentuk), ada Ide di sana, dan ada Matter (materi) di sini. Lalu ia mulai mendirikan sekolah yang diberi nama Akademia. Maka istilah ‘akademi’ dimulai dari Plato.

Pendapat Plato ditentang oleh Aristoteles, seorang muridnya yang sangat pandai. Dia berani menentang pendapat gurunya. Ketika Aristoteles ditanya apakah dia tak mencintai gurunya, jawabnya: “bukan aku tidak mencintai guruku, tetapi aku harus mencintai kebenaran lebih dari mencintai guruku.” Di sini terjadi penerobosan dalam metode pembelajaran (methodology of teaching), yang dimulai dari semangat pemberontakan dan semangat berdebat demi kebenaran oleh Aristoteles. Maka sistem pendidikan di Barat mengizinkan murid berbeda pendapat dengan gurunya. Sistem pendidikan seperti itulah yang membawa Barat, selama 2400 tahun terus maju. Dan itu pula perbedaan signifikan antara pendidikan Tiongkok (Timur) dengan pendidikan Barat. Hal semacam ini harus diperhatikan di dalam kita menerapkan pendidikan di sekolah. Mendirikan sekolah bukan untuk mencari uang, tetapi benar-benar menegakkan kebenaran dan memuliakan Tuhan. Pemikiran Plato ini merajalela selama 1500 tahun, kemudian digantikan oleh pemikiran Aristoteles. Maka selama 600 tahun belakangan ini, Katholik Modern mengikuti Aristotelianisme, di mana terdapat gabungan antara form (bentuk) dan matter (materi). Sebelumnya Katholik menganut paham Neo Platonisme, yang percaya ada materi di sini dan bentuk di sana.

School of Athens adalah satu lukisan Raphaello, yang melukiskan puluhan filsuf. Termasuk di dalamnya Democritus, Socrates, Aristoteles, Herodotus, Euclid, bahkan Averroes (abad ke-13), berada di dalam suatu gedung besar. Hanya dua kepala berlatar belakang angkasa biru yang dihiasi awan-awan, yaitu Plato dan Aristoteles. Plato mewakili Idealisme. Aristoteles mewakili Realisme. Dilukiskan Plato berdebat dengan satu tangan memegang buku besar (Timaeus), tangan yang lain menunjuk ke atas, wajahnya serius. Aristoteles menghadap gurunya, satu tangannya juga memegang buku (Etika), tangan yang lain menunjuk ke bawah. Mereka adalah pemikir agung dengan pemikiran yang universal. Dasar bicara Plato adalah buku Timaeus: bentuk di sana, materi di sini. Dasar pembicaraan Aristoteles adalah buku Etika: bentuk dan materi sama-sama di sini, keduanya menyatu. Perdebatan itu terus berlangsung sampai abad ke-4, bahkan sampai awal abad ke-5. Agustinus pada awalnya menafsir Kitab Suci mengikuti filsafat Plato dan memberi pengaruh pada gereja mula-mula. Namun, kemudian ia berusaha keras untuk melepaskan diri dan berhasil menjadi filsuf Kristen yang pertama, yang mengangkat pentingnya fungsi rasio, sehingga orang yang percaya kepada Tuhan Yesus dapat memiliki pengertian akan apa yang mereka percaya (Credo ut intelligam – aku percaya, maka aku mengerti). Setelah dia, selama 600 tahun tidak ada pemikir yang penting. Baru pada abad ke-11, Anselmus menegakkan doktrin Kristologi, menghapus pengertian theolog sebelumnya yang salah tentang harga penebusan Kristus yang tunai itu dibayarkan kepada setan, dengan menegaskan bahwa harga tebusan tunai itu diberikan pada Allah. Dengan demikian pengertian Kristologi dan Soteriologi menjadi lebih sempurna. Tetapi juga di abad ke-11, gereja Ortodoks pecah dari gereja Katholik, membuat Katholik tak lagi menjadi gereja universal, dan hanya menyandang nama Katholik Roma, karena gereja Katholik itu mengacu pada gereja di Roma. Sementara di luar Roma masih ada banyak orang yang imannya Ortodoks, yang di Rusia disebut Ortodoks Rusia, yang di Yunani disebut Yunani Ortodoks, yang di Persia, Turki dan tempat-tempat lain disebut Ortodoks Timur. Perpecahan gereja yang pertama terjadi pada tahun 1054 antara Katholik Roma dan Ortodoks Timur. Ortodoks Timur lebih menyukai theologi Yohanes, Katholik Roma lebih menyukai Theologi Paulus. Selain di gereja Katholik juga terjadi perdebatan tentang asal usul Roh Kudus keluar dari Bapa dan Anak. Empat ratus tahun kemudian, pada tahun 1517, gereja Katholik mengalami perpecahan lagi dan muncullah Protestan, berkat keberanian Martin Luther, yang menganut arus pikir Agustinus. Dia menentang semua ajaran manusia dan tradisi yang tidak sesuai dengan Kitab Suci, memakai slogan: sola scriptura, sola fide, sola gratia, solus Christos, soli Deo gloria, yang terpampang di atas gedung Reformed Millennium Center di Kemayoran.

Sekitar abad ke-13, pengaruh Aristoteles melejit, melampaui pengaruh Plato, dan merajalela di dunia akademis. Pada abad itu, tiga agama: Kristen, Yahudi, dan Islam, memperebutkan takhta akademis di seluruh tempat pendidikan penting di Eropa. Akibat perpecahan di abad ke-11, Katholik mulai menggalakkan pengajaran doktrin, guna menunjang iman kepercayaan. Maka dimulailah Monastery (Biara). Dan di abad ke-12, Biara (Seminari) berkembang menjadi Universitas, memimpin dunia akademisi. Universitas yang pertama di dunia adalah The University of Paris, di Perancis. Baru disusul Oxford University, Cambridge University, Genoa University, University of Heidelberg, University of Prague, dan kota-kota lain pun mulai mendirikan universitas. Universitas yang tadinya berasal dari biara, menambahkan pelajaran-pelajaran lain, yang mengelilingi satu pelajaran terpenting: theologi. Itu sebabnya, universitas Barat menjadikan fakultas theologi sebagai induk, fakultas lain sebagai subordinat, dan karena itu theologi dijuluki the Queen of Science (Ratu Sains). Tetapi sekarang, universitas-universitas di Jakarta tidak punya fakultas theologi. Bahkan Beijing University, sebelumnya bernama Yanjing University, didirikan oleh misionaris Kristen. Setelah diambil alih oleh orang Tionghoa, fakultas theologi ditiadakan. Dan semua universitas di Asia tidak memandang penting firman Tuhan, hanya mau belajar pengetahuan dunia lalu melawan Tuhan.

Aristoteles menegakkan pentingnya menyelidiki dunia, bukan hanya berspekulasi. Karena menurut dia, segala sesuatu terdiri dari empat unsur: tujuan, materi, alasan, efektivitas. Misalnya, sebelum saya membuat kotak tissue ini, sudah punya tujuan, agar tissue-tissuetak berantakan, maka tissue harus bisa diambil per lembar, bisa muat seratus lebih lembartissue. Baru saya mencari materinya, warnanya dan lain-lain, karena di dalam materi yang nampak pasti ada ide yang tak nampak, maka form dan matter tidak dapat dipisahkan. Aristoteles memang salah seorang yang sangat cerdas, luar biasa, kreatif, dan tajam di sepanjang sejarah. Dia menulis lebih dari seribu buku otoritatif di zamannya di banyak bidang, dari astronomi, meteorologi, pergerakan binatang, anatomi, kedokteran, fisiologi, bagaimana wanita melahirkan anak, dan lain-lain. Dia berusaha menjawab semua perkara yang pernah terlintas di dalam pikiran manusia selama ribuan tahun. Dia hidup pada tahun 380 SM, tetapi baru di abad ke-13, sesudah dia mati hampir 1500 tahun, namanya melejit, pemikirannya jadi signifikan, menggantikan pemikiran Plato.

Tiga agama berebut takhta akademis, karena masing-masing merasa paling benar. Di Universitas Paris, Katholik merasa paling benar. Namun, sekarang semua bisa masuk. Mengapa Islam bisa masuk? Karena selama 600 tahun lebih orang Kristen sudah meninggalkan ajaran Agustinus, melupakan pentingnya pengetahuan iman, hanya memikirkan dan meminta berkat Tuhan, mujizat Tuhan, mau kaya, mau hidup nyaman, mirip seperti ajaran Karismatik pada masa kini. Maka beberapa ratus tahun kemudian, gereja penuh dengan orang bodoh. Orang yang pandai meninggalkan gereja. Sementara orang Islam muncul sebagai orang yang sangat pandai, sehingga mereka pun diundang mengajar di Eropa. Salah seorang Arab yang diundang menjadi profesor di Paris University, Averroes, merajalela, katanya: Saya mengerti logika, filsafat Aristoteles, epistemologi, silogisme, dan lain-lain, sementara kalian (orang Kristen) tidak mengetahui semua ini. Maka orang Katholik dan orang Yahudi tidak mau kalah, dan mereka mulai mengejar dan belajar filsafat Aristoteles. Setelah bertarung puluhan tahun, Katholik menang.

Mungkin Saudara merasa mengapa kita harus membahas Injil Yohanes serumit itu? Jika kita mau seumur hidup menjadi orang bodoh, memang kita tidak perlu belajar seperti ini. Tetapi jikalau engkau mau belajar dengan sungguh, simaklah dengan seksama, maka engkau akan memperoleh bijaksana dan pengertian. Jagalah agar jangan setelah engkau belajar begitu banyak lalu jadi congkak, sebaliknya, mintalah pimpinan Tuhan dengan rendah hati. Inilah cara kita bisa terus bertumbuh dan semakin dipakai Tuhan. Amin.

[1] Gottfried Wilhelm Leibniz (1646-1716). Lahir di Leipzig, Sachsen. Lulus Universitas Leipzig, kemudian melanjutkan di Universitas Jena. Studi Doktor di Universitas Altdorf, Nurnberg.

Categories: Stephen Tong

The Word (Part 8)

November 24, 2011 Leave a comment

Logos dalam Filsafat Tiongkok dan Filsafat Gerika

Yohanes 1:1-3

Telah diutarakan sebelumnya bahwa di antara sekitar 20 kebudayaan terbesar yang pernah muncul dalam sejarah manusia, hanya 3 kebudayaan yang membicarakan tentang Logos. Dua kebudayaan berada di Asia (Tiongkok dan India) dan satu di Barat (Gerika). Sebenarnya tiga tokoh filsafat Gerika juga bukan berasal dari Barat, melainkan dari Asia Kecil (kota Miletus). Miletus benar-benar meletuskan filsafat dan aliran Miletusmenghasilkan tiga orang yang membicarakan tentang awal mula segala sesuatu. Hal ini menjadi permulaan manusia menyelidiki dengan spekulasi otak manusia tentang hal di luar diri manusia. Tetapi bagaimanapun hebatnya spekulasi manusia dan bagaimana dalamnya pemikiran manusia, tetap bertitik tolak dari manusia sebagai subyek yang memikirkan tentang alam semesta sebagai obyek. Manusia hanya bisa berspekulasi, berimajinasi, berdiskusi, dan mengambil kesimpulan tentang apa dan dari mana alam semesta. Jika demikian, bolehkah kita percaya? Semua teori manusia yang paling hebat ternyata memiliki banyak kelemahan. Dalam krisis ekonomi hebat pada tahun 2008, bank legendaris, Lehman Brothers mengalami keterpurukan; ini membuktikan teori ekonomi yang tidak kuat. Ketika teori yang dipercaya oleh Barat berpuluh-puluh tahun akhirnya runtuh, hal ini langsung mempengaruhi negara-negara lain. Teori ekonomi Keynes, Friedman, dan Alan Greenspan ternyata tidak bisa diandalkan. Kira-kira 19 tahun yang lalu (Red. Khotbah ini dikhotbahkan pada tahun 2008), ketika teori Karl Marx hancur, ekonomi dari negara komunis menjadi bangkrut. Ketika teori Friedman, Keynes, dan Greenspan – yang ternyata juga tidak menjamin – runtuh, manusia mulai goncang, mulai memikirkan bolehkah kita bersandar pada diri sendiri?

Hanya kembali pada firman Tuhan, engkau mendapatkan pangkalan yang tidak berubah. Sekitar 2.400 tahun yang lalu Plato mengatakan, “Di dunia yang terus berubah ini, mungkinkah kita memiliki sandaran yang tidak berubah? Di dunia yang semakin rusak, bisakah kita berpegang pada sesuatu yang tidak bisa rusak? Dalam dunia yang sementara ini, bisakah kita memegang prinsip yang tidak berubah, yang kekal?” Hanya Kitab Suci yang mengatakan “Allah tidak berubah, kekal selama-lamanya. Allah tidak memiliki bayangan pergerakan, Allah senantiasa stabil dan konsisten tidak berubah.”

Filsafat dunia menganut dua aliran. Satu aliran mengatakan: ada prinsip kekal yang tidak berubah. Aliran kedua mengatakan: segala sesuatu berubah sehingga kita harus mengetahui dengan lincah semua dalil perubahan. Pikiran ini dicatat dalam The Book of Changes (Mandarin: Yi Jing). Di dalamnya ada 8 prinsip yang digabung dengan 8 prinsip lain, yang berinteraksi satu dengan yang lain menjadi 64 macam perubahan. Perubahan ini disebut orang bā bā liù shí sì guà, akhirnya diringkas sebagai bā guà (berbentuk segi delapan, sering diletakkan di pintu rumah, dianggap bisa mengusir setan dan supaya rezeki masuk). Sebenarnya, 2.700 tahun yang lalu filsafat ini membicarakan tentang bagaimana mengenal dunia yang berubah. Saat ini kita melihat ketika sistem Barat mulai hancur, sistem Tiongkok mulai berkembang. Ada suatu tradisi yang dahulu dilupakan oleh Barat dan dahulu tidak dijalankan oleh Tiongkok, sekarang mulai dikelola kembali. Ekonomi hanya memiliki dua prinsip: 1) Bagaimana menciptakan harta, 2) Bagaimana memakai dan mendistribusikan dengan baik. Sekarang Amerika hancur karena menciptakan harta tidak lebih cepat daripada menghabiskan harta. Baru untung 5 dolar sudah pakai kartu kredit50 dolar. Lain dengan orang Tionghoa yang kerja berat, kalau makan tidak banyak bicara supaya cepat selesai dan simpan uang sebanyak mungkin. Pada prinsipnya menutup bocor dan membuka sumber. Orang yang tidak mengerti hal ini hanya bisa menghabiskan sumber dan tidak pernah menutup bocor, akhirnya runtuh. Sebenarnya ini adalah suatu pelajaran yang sangat sederhana, tetapi orang Amerika khususnya para pemuda hanya tahu kartu kredit akhirnya hancursendiri. Selain itu mereka berharap tanpa kerja keras bisa mendapatkan uang sebanyak mungkin lalu main saham. Jangan Saudara sembarangan memakai kartu kredit; jika memakainya harus segera melunasinya sehingga tidak terjerat dengan bunga-berbunga yang besar sekali.

Sekitar 2.600 tahun yang lalu, Konfusius mengatakan, “Tambahkanlah umurku 5 atau 10 tahun supaya aku mungkin mempelajari kitab perubahan itu sehingga aku terhindar dari kesalahan yang besar.” Pada saat yang sama, di Gerika juga ada satu orang yang berbicara tentang perubahan. Ia menetapkan suatu filsafat yang disebut School of the philosophy of becoming (Aliran Filsafat Menjadi). Dia mengatakan, “Engkau melihat segala sesuatu seperti tidak berubah. Jika engkau melihat pilar hari ini, itu seperti sama ketika engkau melihatnya minggu yang lalu. Namun itu hanyalah fenomena luar. Engkau melihat semua tidak berubah dari luar. Di dalamnya setiap momen, setiap detik, semuanya sedang berubah.” Penemu filsafat ini namanya Herakleitos atau kadang-kadang disebut sebagai Bapa Aliran Heraklesian. Ia mengatakan segala sesuatu berubah, tidak ada yang tidak berubah. Yang kelihatan tidak berubah itu hanya fenomena, yang berubah itu fakta. Prinsip perubahan ini adalah kebenaran, dan Herakleitos menyebutnya sebagai Logos. Jadi istilah ‘Logos’ sebelum dipakai di Yohanes 1:1, 550 tahun sebelumnya sudah dipakai oleh Herakleitos. 180 tahun setelah Herakleitos, timbullah aliran filsafatyang lebih rumit lagi, yang disebut Stoisisme. Stoisisme berasal dari satu tempat yang banyak tiangnya (Stoa). Filsafat ini begitu penting dan begitu mempengaruhi. Filsafat itu muncul pada abad ke-4 sebelum Kristus dan musnah pada abad ke-4 sesudah Kristus. Berarti Stoisisme pernah merajalela di dalam dunia akademik Gerika selama 750 tahun. Selama 8 abad mempengaruhi orang-orang yang paling pintar, 4 abad sebelum dan 4 abad sesudah, di tengah-tengahnya itulah Yesus dilahirkan, Paulus mengabarkan Injil dan Yohanes menuliskan Injil Yohanes dengan kalimat pertama, “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah”. Ini menjadi halilintar yang merupakan kulminasi, memecahkan kemapanan dan mengubah konsep, karena sebelumnya tidak pernah ada orang yang mengerti kalimat seperti ini. Di dalam sejarah pernah ada satu orang yang mengikut Yesus sejak dari muda sampai tua, ia begitu setia sampai mati. Kalau tidak ada Yohanes, Kitab Suci tidak lengkap, manusia tidak tahu dunia akan ke mana, tidak ada wahyu tentang kiamat, tidak ada ayat yang mengatakan, “Demikian Allah mengasihi isi dunia sehingga dikaruniakan Anak yang tunggal itu, supaya barangsiapa yang percaya kepada Dia tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.”

Pertama, kita melihat Stoisisme Barat. Di masa Yohanes melayani, Stoisisme berada pada puncak kejayaannya. Stoisisme mengajarkan bahwa dunia terbentuk dari dua unsur, yaituunsur aktif dan unsur pasif. Unsur aktif adalah unsur lembut yang tidak kelihatan; unsur pasif adalah semua yang kelihatan dan bisa kita pegang. Namun dunia pasif jika tidak ada yang menikmati, tidak ada pikiran, maka akan selamanya pasif. Maka perlu ada yang aktif untuk mengelola yang pasif. Dari sini dikembangkan bahwa dunia terdiri dari beberapa lapisan. Lapisan paling bawah adalah lapisan yang paling kasar, yaitu lapisan materi. Lapisan yang paling tinggi adalah lapisan pikiran. Pikiran tidak kelihatan dan pikiran memikirkan semua materi, merenungkan tentang kayu, batu, tanah, geografi, dan lain-lain. Pikiran kita bisa memikirkan tentang dunia, tetapi dunia tidak bisa memikirkan pikiran kita. Jadi yang di atas menguasai yang bawah, yang tidak kelihatan lebih penting dari yang kelihatan. Maka, tidak mungkin ada binatang berkata: “Mari kita memikirkan Tuhan yang tidak kelihatan.” Binatang hanya mencari makan. Stoisisme sangat mempengaruhi kebudayaan Gerika. Mereka mengatakan tanah itu pasif, tetapi rumput itu aktif. Kemudian rumput dimakan oleh kuda. Saat itu rumput pasif dan kuda aktif. Kalau rumput lebih aktif dari tanah, maka kucing lebih besar dari rumput, macan lebih aktif dari kucing, maka manusia dianggap yang paling aktif. Sekalipun manusia kecil badannya, manusia bisa membunuh gajah yang jauh lebih besar. Jadi binatang ada di bawah manusia; tumbuh-tumbuhan di bawah binatang; lalu unsur yang lebih kecil, seperti bakteri, di bawah tumbuh-tumbuhan. Setelah itu baru di bawahnya ada materi, batu-batuan, tanah. Lapisan pasif itu materi; lapisan aktif itu hidup. Hidup ada yang berperasaan, berkemauan, dan berpikiran (rasio). Stoisisme berpendapat karena manusia memiliki bibit pikiran, maka pasti manusia berpikir. Ketika saya berpikir, maka saya adalah subyek. Saya memikirkan sesuatu, saya adalah subyek dan sesuatu itu obyek. Tetapi ketika saya memikirkan bagaimana pikiran saya bisa berpikir, maka berarti pikiran saya menjadi subyek dan sekaligus obyek.

Manusia memiliki bibit pikiran, maka manusia bisa berpikir dengan berbagai cara. Ini disebut logika. Manusia mau mengerti Logos, maka perlu memakai logika. Yang menjadikan manusia bisa berlogika adalah logikos. Di sini kita bisa melihat relasi antara LogosLogikosdan Logika. Logikos adalah firman kecil (logos kecil), logika adalah cara untuk mengerti firman, dan Logos adalah Firman Induk. Jadi Firman Induk itu adalah Kebenaran. Manusia adalah makhluk yang mau mengerti kebenaran. Hal itu terjadi karena manusia memiliki bibit kebenaran, yaitu logikos. Jadi Kebenaran itu di luar saya, bibit kebenaran itu di dalam saya. Saya memiliki bibit kebenaran di dalam saya untuk mengerti Kebenaran yang di luar saya. Di sini saya ingin bersatu dengan kebenaran melalui bibit kebenaran. Maka tujuan hidup manusia yang tertinggi adalah menyatunya logikos dengan Logos. Di sini filsafat Gerika mulai memikirkan hubungan antara Pikiran Utama (Mother Thought) dengan anak-anak pikirannya (children of thinking).

Manusia begitu mengagumi Taj Mahal, sebuah monumen pualam yang begitu indah dengan pengerjaan yang begitu rapi dan kualitas seni yang sempurna. Taj Mahal didirikan oleh seorang raja yang menikah dengan seorang wanita yang sangat cantik. Setelah menikah, lahirlah anak pertama mereka, disusul dengan anak-anak yang lain. Hampir setiap tahun istrinya melahirkan seorang anak, bahkan kadang dua anak. Di dalam beberapa tahun mereka dikaruniai 13 anak. Suatu hari di tengah perjalanan, istrinya melahirkan anak dan meninggal. Raja begitu berduka ditinggalkan oleh istrinya, lalu ia mengambil keputusan untuk mendirikan Taj Mahal, kuburan terindah di dalam sejarah manusia. Untuk membangun Taj Mahal, dia memperalat 200.000 orang selama lebih dari 10 tahun untuk satu kuburan. Banyak yang mengatakan inilah the greatest story of love in the history. Tapi bagi saya sama sekali tidak! Demi mencintai istri yang sudah mati, dia menyuruh orang bekerja siang malam tanpa istirahat, banyak yang meninggal dunia karena bekerja terlalu berat. Bahkan barangsiapa yang tidak taat, tangannya akan dipotong. Karena takut pekerjanya bekerja di tempat lain dan menghasilkan bangunan yang lebih indah dari Taj Mahal, maka pekerja-pekerja yang banyak mengerti rahasia pembuatan Taj Mahal dibunuh. Selain cinta kasih Tuhan Allah dalam Kristus, semua cinta kasih di dunia itu adalah kebohongan, kecuali engkau meminta Tuhan menguduskan emosimu. Tanpa pengudusan dari Tuhan, itu tidak mungkin. Manusia bisa mengagumi keindahan Taj Mahal, namun jika engkau berjalan-jalan dengan membawa anjingmu, maka anjing yang engkau bawa tidak akan mungkin mengagumi keindahan Taj Mahal. Anjing tidak tertarik akan Logos.

Stoisisme cukup agung karena ia memakai istilah Logos sebagai aliran filsafat. Ketika Stoisisme memikirkan Logos, mereka mempengaruhi masyarakat sampai setiap lapisan masyarakat kagum kepada mereka. Dari sejak Yesus mati, hingga zaman Agustinus, selama empat abad penginjilan paling sulit menembus orang Stoisisme. Mereka cenderung menganggap diri mereka mengetahui lebih banyak daripada orang Kristen, bahkan etika mereka lebih tinggi daripada orang Kristen. Mereka menganggap bahwa mereka adalah orang yang paling bijaksana di seluruh dunia.

Kini kita bandingkan pengertian Logos menurut Stoisisme dan Yohanes untuk melihat perbedaan kualitatif antara filsafat manusia dan Firman Tuhan. Dengan itu kita melihat bahwa filsafat hanya merangsang dan mendorong kapasitas pengetahuan kita sedangkan Firman Tuhan membawa kita untuk mengenal anugerah keselamatan yang Tuhan berikan bagi kita, yang adalah umat-Nya. Stoisisme mempengaruhi terutama tiga lapisan masyarakat, yaitu: raja (mewakili kekuasaan); sastrawan (mewakili intelektual/cendekiawan); dan budak (mewakili kaum marginal). Ketiga lapisan ini seluruhnya taat serta takluk pada pikiran Stoisisme. Ini terjadi pada abad pertama dan kedua. Ada seorang Stoisisme yang terkenal bernama Epitectus. Dia berasal dari kalangan budak. Epitectus sezaman dengan Paulus. Dia adalah budak yang sangat pandai sehingga menjadi filsuf bahkan memberi pengaruh sampai ke istana. Orang kedua Stoisisme adalah Seneca, seorang sastrawan dan cendekiawan yang brilian. Dia lahir sezaman dengan Tuhan Yesus. Seneca adalah salah satu orang yang paling anggun moralnya dan memiliki kemampuan sastra dan syair yang sangat tinggi pada zaman Romawi abad pertama. Untuk menyatakan kesetiaan dan ketulusan pada raja, ia bunuh diri dengan meloncat ke dalam kawah gunung berapi di Swiss, lalu terbakar di dalam api yang bergolak itu. Pada abad kedua, ada seorang kaisar Romawi yang menjadi Stoisis, yaitu Markus Aurelius. Di sini kita melihat bahwa Stoisisme bisa menaklukkan otak seorang kaisar terbaik dalam sejarah Kekaisaran Romawi. Dalam Capitol Museum di Roma, di tengahnya ada patung besar seorang kaisar yang sedang naik kuda dengan jenggot keriting dan wajahnya terlihat sangat bijaksana. Itulah Markus Aurelius. Maka, kita melihat bahwa berbagai kalangan masyarakat sudah dipengaruhi oleh pikiran Stoisisme.

Stoisisme mengatakan adanya LogosLogos itu induk; logikos itu fragmen. Siapa saya? Saya sebagian kecil dari logikos maka saya memikirkan Logos. Kita adalah seorang yang terkena sedikit cipratan logikos. Kita senang mendengar khotbah yang baik karena logikosingin bertemu dengan Logos, ingin mendengar firman karena manusia yang berlogika mau memakai cara berpikir yang benar untuk bertemu dan menyatu dengan kebenaran itu. Kita melihat orang-orang Gerika mempunyai pikiran bagaimana logikos bertemu dengan Logos.

Orang-orang Gerika mengatakan jika air di dalam botol ini adalah Logos (induknya), makaLogos ini pernah mencipratkan air di banyak tempat. Ini adalah logikos. Ketika Logos induk ini beredar, akhirnya titik-titik kecil dari Logos induk sudah berada di mana-mana. Sebagian kecil ada di dalam pikiranmu, sebagian ada di pikiranku, sehingga kita bisa menikmati hal-hal yang agung, mulai dari musik sampai bangunan yang agung. Anjing tidak memiliki kemampuan ini. Logikos berarti fragmen kecil yang keluar dari induk besar. Stoisismemengatakan, “Jika sampai mati engkau belum mengerti Logos, itu tidak masalah, karena engkau pasti bersatu dengan indukmu, Logos, setelah engkau mati.” Jadi manusia jangan takut mati, karena kematian membawa engkau pulang ke indukmu (Logos yang besar). Markus Aurelius menuliskan kalimat ini kepada saudaranya, ”Jangan kuatir, saya sebagai kaisar tetap sama seperti orang lain, tidak lama kemudian saya akan mati. Tolong waktu saya mati, jangan menangis. Ini bukan suatu hal yang sedih karena aku hanya kembali ke indukku, kembali ke Logos, itu saja.” Ini filsafat Stoisisme di Barat.

Kedua, filsafat Tiongkok. Filsafat Tiongkok memikirkan Logos namun tanpa ada pertemuan, kecuali ide bersatu dengan langit. Dalam filsafat Tiongkok muncul kata Logos (Dao). Dalam bahasa Tionghoa, zhī dao, berarti: mengerti Logos. Mengerti Logos menjadi taraf tertinggi di dalam hidup manusia yang mencari kebenaran. Di situ dia boleh bersatu dengan kebenaran yang asli, yaitu Dao, Firman. 150 tahun sebelum orang Gerika membicarakan tentang ini, pemikiran ini sudah muncul di Tiongkok. Pertama muncul seorang yang lebih tua dari Konfusius, yaitu Laozi. Laozi adalah filsuf yang sangat dikagumi oleh Konfusius. Konfusius mengaku ia tidak mungkin mengerti firman surgawi. Itu terlalu sulit baginya. Dia berkata, “Aku tidak memiliki jalan, cara, atau teknik untuk mengerti Logos surgawi. Dan pengertian tentang Logos tidak terjangkau dan tak dapat dimengerti. Maka tidak mungkin bagiku untuk mengerti Logos.” Konfusius juga mengatakan, “Itulah sebabnya kami berusaha mengerti apa yang lebih rendah dari Logos surgawi itu, yaitu etika manusia.” Inilah sebab Konfusius dan ajaran Tiongkok menjadi sistem etika yang paling rumit dan paling tinggi di dalam dunia. Mereka tidak tahu bagaimana mengerti firman Tuhan, tetapi mereka tahu bagaimana merenungkan hubungan manusia. Konfusius mengajarkan lima relasi di dalam masyarakat: 1) raja dan pejabatnya; 2) ayah dan anak; 3) suami dan istri; 4) antar saudara; 5) antar sahabat. Untuk menjalankan kelima relasi ini ada dua prinsip utama. Konfusius menyatakan, “Pertama, yang bawah harus setia kepada yang atas. Pejabat setia kepada raja, anak-anak setia kepada ayah, yang menjadi istri setia dengan suamimu, yang menjadi saudara setia dengan persaudaraanmu, yang menjadi kawan setia dengan persahabatanmu. Kedua, yang atas harus penuh lapang dada, pengertian, toleransi, pengampunan, dan penampungan ke bawah. Jadi, raja harus mengerti akan pejabat, harus toleransi kepada pejabat, harus mengasihi dan mengerti kelemahan pejabat. Ayah ibu harus tahu kelemahan anak, harus toleransi, harus sabar, harus menampung, harus mengerti anak. Suami harus mengerti istri, harus memperhatikan, dan harus memelihara baik-baik. Kawan dan saudara sama.” Lima prinsip ini menjadikan Konfusius banyak berbicara tentang relasi, tetapi ia tidak tahu Firman surgawi sehingga dia ingin pergi mencari Laozi.

Menurut sejarah, Konfusius pernah mencari Laozi di negeri yang lain dengan melintasi gunung, rimba, hutan, sungai, dan perjalanan yang jauh sekali. Sesudah bertemu, Laozi bertanya, “Mengapa engkau mencari saya?” “Saya mau mengerti firman, saya ingin mengerti kebenaran alam semesta.”Laozi mengatakan, “Kalau engkau tidak kikis habis aroganmu, kalau engkau tidak membuang niatmu yang kurang sungguh-sungguh, tak mungkin engkau mengerti firman.” Saya sangat terkejut mengerti kalimat ini karena kalimat ini cocok untuk setiap zaman. Konfusius pulang dengan terima kasih. Sesampainya ia di tempat asalnya, ketika ia ditanya murid-muridnya tentang apa yang ia pelajari dari Laozi, ia menjawab bahwa ia mendapat pelajaran tentang sikap hidup. Ia berkata, “Kalau bicara tentang burung saya tahu sarangnya di mana, bagaimana terbangnya. Bicara tentang ikan, saya juga ada pengalaman melihat bagaimana mereka berenang. Bicara tentang naga, aku tidak tahu dia dari mana dan ke mana. Hari ini saya ketemu Laozi, sebenarnya saya bertemu naga.” Jadi Konfusius rendah hati sekali, mau tahu firman. Itu sebab, kalimat-kalimat yang paling penting dari filsafat Konfusius adalah dia mengaku dia tidak bisa mengerti firman, “Saya tidak bisa mengerti Logos. Jika suatu pagi saya mengerti firman itu apa, malam itu mati pun aku rela.” Ini filsafat Tiongkok.

Dia mengatakan satu kalimat, tidak ada satu detik pun di mana kita boleh hidup tanpa bergabung dengan firman. Firman yang menjadi pendukung hidup kita. Dengan mengerti filsafat ini, kita akan menemukan bahwa apa yang dikatakan Alkitab dalam kitab Yohanes begitu indah. Kita melihat bagaimana Yohanes membicarakan tentang Logos. Pada mulanya adalah LogosLogos itu bersama-sama dengan Allah, dan Logos itu adalah Allah.

Categories: Stephen Tong

The Word (Part 7)

November 24, 2011 Leave a comment

Yoh. 1:1-3

Injil Yohanes, dapat disebut Injil di dalam Injil. Injil ini merupakan kesaksian Yohanes, yang ia tulis lebih dari dua puluh tahun setelah Paulus dan Petrus meninggal. Oleh karena itu, Injil ini memiliki kesiapan yang matang dalam menyaksikan Kristus; “Logos jadi manusia” merupakan proklamasi yang tidak pernah muncul dalam buku, ajaran agama, kebudayaan, atau filsafat manapun.

Di sepanjang sejarah, hanya ada tiga kebudayaan besar yang membahas tentang “logos”, yaitu Tiongkok, India, dan Yunani. Namun, konsep “logos” yang mereka bahas bukanlah wahyu Tuhan, melainkan respons manusia terhadap wahyu umum. Lao Zi mengatakan, “Manusia hidup menurut prinsip dunia; dan dunia menurut prinsip langit; dan langit taat pada pengaturan firman (logos); dan firman bersandar pada dirinya sendiri menuruti aturan ‘Akulah Aku’”. Namun yang dimaksud dengan “Akulah Aku” adalah suatu kebersandaran pada diri secara kekal, cukup pada dirinya sendiri, dan tak bergantung pada pihak lain. Maka “logos” yang ia bicarakan berasal dari pikiran dan imajinasi manusia, tanpa sedikit pun mengaitkan atau menyebut Allah. Demikian juga di dalam kebudayaan India, Atman (logos) berusaha kembali kepada Brahman. Dan logos dalam filsafat Gerika adalah bagaimana logikos ingin kembali kepada logos. Yang dimaksudkan dengan logos di sini adalah pikiran universal (universal mind). Pemikiran Stoiksisme ini memang sudah melampaui pikiran Heraklitos (aliran Heraklitianisme), namun mereka tetap tidak mengetahui apa itu logos yang sebenarnya.

Sampai Yohanes menulis, “Pada mulanya adalah Firman (Logos). Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Dari sini kita baru melihat perbedaan kualitatif antara Firman Tuhan dan filsafat manusia. Firman memberikan jawaban yang paling akurat karena firman merupakan wahyu Allah sendiri. Kecuali kita menyadari betapa indah dan berharganya firman Tuhan yang jauh berbeda secara kualitas dari semua filsafat manusia, kita tidak bisa bersyukur kepada Tuhan. Firman Tuhan yang Allah wahyukan kepada umat pilihan-Nya mencerahkan kita bahwa pada mulanya adalah Firman (Logos).

Di dalam kitab Yohanes 1:2, dinyatakan bahwa Logos tidak setara atau setingkat dengan alam. Di dalam kitab Efesus 4 tertulis: Allah melampaui segala sesuatu, melintasi segala sesuatu, berdiam di dalam segala sesuatu. Ini adalah pernyataan transendensi Allah. Logosadalah Allah. Itu sebabnya kita mengakui bahwa segala kebenaran adalah kebenaran Allah. Kebenaran itu adalah satu Pribadi. Jadi, Allah adalah subjektivitas kebenaran, keadilan, kasih, dan kesucian dalam pribadi. Konsep ini tidak pernah ada dalam pemikiran Lao Zi, Konfusius, Buddha, Hindu, Upanishad, Zoroasterisme, Stoiksisme Gerika, ataupun aliran Heraklitianisme, karena semua filsafat ini berada di tingkat bawah, di tataran dunia. Paulus menggambarkan: di manakah hikmat dunia? Semua itu hanyalah pelajaran kecil di dunia. Itu sebabnya Paulus sangat meninggikan Kristus jauh di atas filsafat yang diproduksi oleh rasio manusia yang Tuhan cipta. Allah bukanlah produk dari rasio manusia yang dicipta. Rasio manusia yang adalah rasio yang dicipta, terbatas, dan tercemar. Maka, rasio sedemikian tidak mungkin bisa menjangkau Allah. Allah adalah Pencipta rasio yang melampaui rasio, maka manusia tidak mungkin mengerti firman seperti yang diajarkan oleh Panentheisme ataupun ajaran Paul Tillich. Saya tidak tahu sampai di mana pengertian Saudara tentang Allah. Apakah Anda memperalat Dia atau mempermainkan Dia, sambil memuji Tuhan sambil melanggar hukum-Nya? Ataukah Saudara betul-betul sudah bertobat dan berkata dengan serius, “Tuhan, Engkau adalah Tuhanku. Kuasailah aku, kuduskan aku. Buat aku berpaling pada-Mu dengan ikhlas dan sungguh sehingga saat bertemu dengan-Mu nanti, aku mendengar kata-Mu: Engkau adalah hamba-Ku yang baik dan setia.”

Yohanes 1:3 terkesan merupakan paparan yang mengulang. Setelah dikatakan, “Segala sesuatu dicipta oleh Dia” mengapa perlu “tanpa Dia tidak ada suatupun ciptaan yang ada”? Di sini Yohanes secara singkat dan jelas memaparkan suatu kebenaran yang sangat mendalam. Yesus tidak memanggil murid dari Yerusalem karena sering kali dunia akademis sedemikian arogan. Yohanes adalah nelayan Galilea, yang dari kecil mempelajari Kitab Suci dan menantikan kedatangan Mesias. Kerohanian mereka belum tentu kalah dengan para lulusan sekolah tinggi di Yerusalem. Allah bukan menolak orang akademis karena Ia juga memanggil Paulus. Tetapi Paulus harus pergi ke padang belantara dulu untuk dibentuk selama tiga setengah tahun. Terkadang Tuhan memindahkan kaki dian dan memakai kita yang mau menaati perintah-Nya. Saya sangat peka akan hal ini dan senantiasa gemetar dan berlutut di hadapan-Nya. Tuhan memanggil Yohanes yang begitu muda agar setelah Petrus dan Paulus mati, Yohanes bisa melanjutkan pekerjaan-Nya. Hal itu nyata di dalam sejarah gereja, yang melanjutkan pelayanan adalah murid-murid Yohanes seperti Polikarpus, Irenaeus, Hippolitus.

Kalimat “tanpa Dia tidak ada suatupun yang dicipta” menyimpan rahasia besar, yang sering tidak disadari oleh banyak penafsir Alkitab. Saat Yohanes tua, ada empat musuh kekristenan, yaitu: (1) Penganiayaan pemerintah Roma, di sini kita melihat begitu banyak martir. Jika orang Kristen abad I rela mati demi imannya pada Kristus, maka orang Kristen abad XXI ingin kaya dengan nama Kristus; (2) Penghinaan dan serangan filsafat. Politik, ekonomi, dan sastra Romawi dipengaruhi oleh filsafat Gerika. Mereka menganggap orang Kristen tidak mempunyai pengetahuan, tidak masuk akal, sampai Agustinus memproklamirkan relasi iman dan pengetahuan: credo ut intelligas (percaya maka mengerti); (3) Fitnah, umpat, dan pemutarbalikan fakta dari musuh orang Kristen; dan (4) Orang non-Kristen yang pura-pura menjadi Kristen, menyusup masuk ke dalam gereja. Inilah bidat-bidat yang berkembang saat itu. Mereka memalsukan Injil sehingga muncul banyak injil palsu, seperti injil Gnostik, injil Filipus, injil Maria Magdalena, injil Thomas, dan lain-lain. Sebelum abad I berakhir, puluhan injil palsu beredar. Hanya empat Injil yang asli, yaitu: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Yang pertama ditulis adalah Injil Markus, lalu Matius, Lukas, dan terakhir Yohanes. Maka Injil Yohanes sangat penting. Yohanes yang sudah tua harus melawan semua musuh kekristenan. Saya bisa membayangkan betapa berat kesulitan dan tantangan yang dia hadapi. Ia dibuang ke pulau Patmos, di mana Tuhan memberikan wahyu tentang akhir zaman kepadanya. Tanpa Yohanes, Kitab Suci tidak lengkap. Ada banyak orang yang studi theologi tetapi mau tetap kaya. Saya lebih menghargai mereka yang rela meninggalkan perahunya hancur, meninggalkan posisi yang bagus, lalu mengikut Yesus menjadi hamba-Nya.

Ayat ini ditulis oleh Yohanes untuk menghadapi serangan ajaran Gnostisisme. Mereka mengajarkan bahwa “dunia ini bukan dicipta oleh Allah, tetapi dicipta oleh pencipta yang kurang sempurna, karena Allah yang sempurna tidak mungkin mencipta sesuatu yang tidak sempurna”. Banyak orang bisa terkecoh dan setuju dengan pandangan ini. Bagaimana mungkin Allah yang sempurna bisa menciptakan bumi yang sedemikian bobrok dan penuh kekurangan. Dunia ini sedemikian tidak sempurna, ini menunjukkan bahwa penciptanya juga tidak sempurna. Di sini kaum yang mengaku intelektual justru sering menerima bisikan setan sehingga pikirannya menjadi kacau. Kelihatannya begitu logis sehingga perlu ada allah ranking dua. Gnostik mengajarkan adanya allah kecil yang tidak sempurna yang menciptakan dunia ini. Teori ini tidak mungkin karena, kalau tidak mungkin Allah yang sempurna mencipta dunia yang tidak sempurna, maka Allah yang sempurna juga tidak mungkin mencipta allah kecil yang tidak sempurna. Hal ini baru terjawab 1.800 tahun kemudian ketika filsuf Jerman, Leibniz mengatakan, “Jika Allah yang sempurna mencipta allah lain yang juga sempurna maka akan terjadi dua Allah. Berarti Allah yang mencipta akan sama dengan allah yang dicipta. Ini tidak mungkin.” Maka harus ada perbedaan kualitatif antara yang mencipta dan yang dicipta. Kalau penciptanya sempurna maka yang dicipta tidak mungkin sama sempurnanya dengan Allah yang mencipta. Di sini sebenarnya yang dinyatakan di dalam ayat 3 ini. Injil Yohanes sedemikian mendalam dan teliti. Banyak orang menganggap firman Tuhan begitu sederhana seolah-olah tanpa isi dan tanpa berita. Saat ini begitu banyak pendeta yang berkhotbah asal-asalan, menghancurkan iman, meracuni kerohanian, dan menipu orang-orang Kristen. Saya akan berjuang untuk melihat dan mengupas setiap kebenaran Injil dengan seteliti dan seakurat mungkin untuk kita bisa mengetahui kedalamannya.

Yohanes 1:3 sedemikian rumitnya. Ia mengatakan, “S” “s0rikan wahyu tentang akhir segalanya dicipta melalui Logos (Firman).” Jadi Allah mencipta melalui Logos. Jadi yang mencipta Allah atau Logos, Allah atau Firman? Kalau yang mencipta adalah Allah maka Firman hanya alat. Kalau yang mencipta adalah Firman maka Allah hanya dalang. Sampai mana peranan Firman? Lalu tertulis, “tanpa Dia tidak ada yang jadi dari semua yang telah dijadikan.” Bagi Yohanes, Logos itu adalah Allah. Melalui ayat ini, Yohanes mau masuk ke dalam doktrin Tritunggal. Segala sesuatu dicipta oleh Allah melalui Firman. Nanti baru dalam Yohanes 14, Yohanes membicarakan Pribadi yang ketiga yang adalahParakletos. Barulah Tritunggal menjadi lengkap, yaitu Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Disini kita melihat bahwa Allah Bapa dan Allah Anak, yaitu Firman, mencipta bersama. Bukan Allah mencipta allah kecil yang mencipta segala sesuatu. Di sini kita perlu dengan saksama mempelajari dan meneliti firman Tuhan.

Allah mencipta segala sesuatu melalui Logos, dan Logos adalah Allah. Jadi Logos adalah Pencipta. Oleh karena itu, kita tidak boleh menerima konsep adanya pencipta yang tidak sempurna. Ayat 3 ini langsung menyatakan perang menentang Gnostisisme. Dari ayat ini, kita melihat bahwa secara konsisten Allah Tritunggal bekerja:

1. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus bekerja sama dalam hal mencipta.

2. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus bekerja sama dalam hal menebus.

3. Allah Bapa, Allah Anak, Allah Roh Kudus bekerja sama dalam hal memberikan wahyu.

Allah Bapa adalah pribadi utama dalam mencipta, melalui Anak dan dengan kuasa Roh Kudus, segala sesuatu dicipta. Allah Bapa merencanakan penebusan; Allah Anak menggenapkan penebusan; dan Allah Roh Kudus mengerjakan penebusan di dalam diri umat pilihan-Nya. Karena Allah Bapa adalah Allah, Allah Anak adalah Allah, dan Allah Roh Kudus adalah Allah, maka Allah Tritunggal bekerja bersama di dalam penciptaan, penebusan, dan memberikan wahyu bagi umat pilihan-Nya. Karena Allah Anak juga merupakan Pencipta maka Dia bukan ciptaan seperti yang diajarkan oleh kaum Gnostik. Kalau Dia dicipta maka Dia hanya salah satu dari antara ciptaan. Tetapi Dia adalah Pencipta bukan yang dicipta. Maka, Yohanes dengan tegas menyatakan bahwa tidak ada yang dicipta tanpa melalui Dia. Dialah Pencipta dan Dia tidak dicipta karena Dia adalah Allah. Di sini kita melihat bahwa yang terlihat seperti pengulangan adalah suatu keharusan yang tidak boleh tidak ada. Kalimat ini sedemikian penting untuk menunjukkan fakta bahwa Yesus adalah Sang Pencipta, Dia tidak dicipta, Dia adalah Allah yang sempurna.

Allah yang sempurna memang menciptakan dunia yang tidak sempurna. Merupakan keharusan mutlak adanya perbedaan kualitatif antara Pencipta dan ciptaan. Ciptaan tidak pernah bisa identik sekualitas dengan Pencipta. Karena hanya Sang Pencipta, satu-satunya Keberadaan yang ada pada diri-Nya, penuh sempurna pada diri-Nya, kekal, dan tidak fana. Ia adalah Allah yang tidak bergantung pada siapapun, Allah yang selama-lamanya. Di lain pihak, semua keberadaan ciptaan selalu bersifat contingent dan bergantung pada yang lain. Setelah kita mengetahui semuanya ini, barulah kita dapat berkata, “Tuhan, sekarang aku tahu bahwa aku hanyalah ciptaan. Engkaulah Pencipta. Logos yang beserta dengan Allah, Dia adalah Allah. Kini, apa yang harus aku perbuat?”

Di dalam kitab Yohanes 1:4 dikatakan, “Di dalam Dia ada terang.” Terang Yesus itu adalah terang dunia. Kita adalah ciptaan yang tidak sempurna maka kita butuh terang. Terang apakah itu? Terang hidup. Tidak satu pun agama di dunia yang membicarakan tentang “terang hidup” ini. Agama-agama berbicara tentang kebajikan (baik atau jahat), sains bicara tentang pengetahuan (tahu atau tidak tahu), filsafat bicara tentang kebijaksanaan (bijak atau bodoh), hanya Kristus yang berbicara tentang kehidupan (hidup atau binasa). Karena begitu besar Allah mengasihi dunia ini sehingga Ia mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal (logos), supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Di sini Yohanes menuliskan tema Kristus, yaitu kasih, firman, hidup, dan terang, yang muncul terus di sepanjang Injil ini. Tema “terang” sangat penting di dalam Injil Yohanes karena dalam ajaran Gnostik, terang dan gelap adalah dua keberadaan yang dualistik. Dunia ini gelap maka terang masuk ke dunia. Iman Kristen tidak pernah jatuh ke dalam pikiran dualisme seperti ini. Pikiran dualisme ini berasal dari Media-Persia, yaitu Zoroasterisme, yang percaya adanya dewa terang yang baik, yaitu Ahura Mazda; dan dewa gelap yang jahat, yaitu Angra Mainyu. Pikiran ini kemudian juga masuk dalam ajaran Manichaeisme. Ajaran bidat ini terus berusaha masuk ke dalam gereja dan menyesatkan ajaran Kristen untuk menghancurkan agama Kristen. Kita tidak percaya ajaran seperti ini. Kita percaya adanya “Yang Asli”, yang utama dan pertama ada hanyalah Allah dan Allah ini adalah Allah yang mutlak baik. Karena ciptaan-Nya tidak taat dan memberontak maka timbullah kegelapan. Pikiran ini beda dari pikiran Gnostisisme yang mengatakan gelap dan terang itu ada sejak awal. Yohanes menentang ajaran seperti ini.

Di sini kita melihat betapa seriusnya Yohanes di dalam menulis Injilnya untuk memerangi ajaran bidat yang berniat menghancurkan kekristenan. Dia seorang diri berani melakukan perlawanan yang sengit atas kejahatan yang mewujudkan diri dalam ajaran yang “pintar”. Gnostisisme menganggap diri lebih tahu dan lebih pintar. Mereka membagi manusia dalam tiga kategori, yaitu: (1) sarkikoi (orang yang hidup menuruti nafsu kedagingan); (2) psykikoi (orang yang hidup menurut jiwa); dan (3) pneumatikoi (orang yang hidup menurut roh). Pikiran ini kemudian diadopsi oleh Watchman Nee dengan memakai 1 Korintus 2-3. Jadi, ini bukan pemikiran orisinil dari Watchman Nee, tetapi sebenarnya pemikiran Gnostik. Kita harus mengikuti dan taat pada pimpinan Roh Kudus, namun bukan Roh Kudus seperti yang diajarkan Karismatik, yang sesat, dan merusak. Saat ini ajaran tentang roh yang palsu sedang merajalela di mana-mana sehingga kita sulit untuk memelihara iman yang sejati. Alkitab mengajarkan bagaimana seluruh hidup kita harus mengikuti dan taat pada Roh Kudus, bukan Roh Kudus yang harus mengikuti roh kita, keinginan kita, dan seterusnya. Orang Gnostik mengategorikan orang Kristen sebagai psykikoi, sedangkan mereka pneumatikoi. Mereka menyebut diri pneumatikoi karena mereka percaya bahwa esensi yang dari atas turun hanya kepada orang-orang Gnostik, sehingga mereka memiliki pengetahuan yang membawa mereka kepada keselamatan. Jadi orang-orang Gnostik selalu merasa mereka lebih tahu, lebih pandai, karena memiliki esensi dari sorga, dan dengan unsur itu mereka mendapat keselamatan. Mereka menolak darah Yesus, mereka tidak mengakui sifat keilahian Kristus, maka dengan Injilnya, Yohanes membawa gereja kembali kepada ajaran Injil yang benar. Hanya di dalam Yesus, melalui darah-Nya, salib-Nya, dan kebangkitan-Nya kita bisa diselamatkan.

Siapkanlah hatimu dengan sungguh untuk mau taat akan pengoreksian yang dari Tuhan. Kalau engkau menemukan apa yang dibahas adalah kebenaran, jalankanlah dengan sungguh. Kalau teguran yang diberikan memang benar, bertobatlah!

Categories: Stephen Tong

The Word (Part 6)

November 24, 2011 Leave a comment

Yoh. 1 : 1 – 3

Formasi di dalam Yohanes 1:1 “Pada mulanya adalah Firman”, merupakan bentuk filsafat Gerika dalam upaya mereka mengerti segala sesuatu. Tiga generasi pertama filsuf Gerika kuno yaitu Thales, Anaximander, Anaximenes, masing-masing mengatakan, “Pada mulanya adalah air,” “Pada mulanya adalah udara,” “Pada mulanya adalah sesuatu yang tidak terbatas.” Sampai suatu waktu Yohanes mengatakan, “Pada mulanya adalah Firman.” Di sini kita langsung melihat perbedaan kualitatif yang ada di antara wahyu Tuhan dan spekulasi manusia. Manusia berspekulasi tentang dunia yang ada di sekelilingnya, mempertanyakan ‘Apa yang pertama-tama ada di dunia dan apa yang memulai alam semesta?’ Manusia terus sibuk meneliti apa, apa dan apa, tidak pernah memikirkan kemungkinan ‘siapa’. Maka baik Atheisme maupun Naturalisme selalu mendasari teorinya di atas egosentris (human-antropocentric). Demikianlah cara manusia berspekulasi akan segala realita alam ini, dari makhluk hidup sampai benda mati. Hal sedemikian sama sekali berbeda dengan apa yang dikatakan oleh wahyu Tuhan. Wahyu Tuhan memberitahukan kepada kita bahwa manusia memiliki rasio, manusia bisa berpikir, berspekulasi akan semua hal yang dilihatnya karena adanya keinginan untuk mengerti yang ada di dalam dirinya. Daya mengerti dan keinginan untuk mengerti sudah Tuhan tanamkan di dalam dirinya. Itulah yang disebut peta teladan Allah. Jadi sebenarnya, Allah bukan objek yang dimengerti, Dia adalah Subjek dari kebenaran, Dialah yang berinisiatif untuk menciptakan manusia, satu-satunya makhluk yang ingin tahu, mungkin mencari, dan mungkin sadar akan adanya kebenaran. Itulah sebabnya di dalam berbagai benua di dunia selalu ada orang-orang yang sungguh-sungguh berusaha mau mencari tahu akan kebenaran, mau mengerti dunia dan kehidupan ini.

A. Kelebihan Logos Yohanes

Di dalam filsafat Tiongkok, ada orang-orang seperti Laozi dan Konfusius yang memikirkan tentang logos (dao). Konfusius mengakui dengan jujur ‘fu zi zhi yan xin yu tian dao, bu ke de er wen ye’ (berkenaan dengan alam, berkenaan dengan kebenaran langit, saya sungguh tidak dapat mengerti. Aku tidak mungkin mengerti firman surgawi). Oleh karena itu, dia menurunkan level diskusinya menjadi hanya membahas kebenaran yang bersangkut-paut dengan relasi antar manusia. Dia membagi relasi manusia jadi lima kategori:

  1. jun cheng – antara raja dan para pejabat lainnya
  2. fu zi – antara ayah (orang tua) dan anak
  3. fu qi – antara suami dan isteri
  4. kun zhong – antara saudara dan saudara, saudari dan saudari
  5. peng you — antara kawan dan kawan

Seluruh masyarakat terbentuk dari lima relasi itu: relasi antara raja dan pejabat, relasi antara orang tua dan anak, relasi antara suami dan isteri, relasi antara saudara dan saudara, relasi antara kawan dan kawan. Bentuk relasi masyarakat ini dipandang menjadi wadah manusia melakukan aktivitas hidupnya. Jadi, menurut Konfusius, manusia yang tidak bisa mengerti firman surga paling sedikit harus mengerti akan relasi dirinya dengan orang lain dan mengerti apa yang harus dia lakukan. Seseorang harus tahu apa yang menjadi kewajibannya terhadap pemerintah, terhadap raja, isteri, suami, saudara, kawan, orang tua, dan anak. Karena pengajaran tentang relasi dalam masyarakat inilah Konfusius menjadi salah seorang yang paling agung di bidang etika. Pengajaran Konfusius di bidang etika tidak bisa dilawan atau dilampaui baik oleh filsafat Aristotles, kebudayaan India, Babilonia, atau kebudayaan lain. Tetapi, ajarannya tetap tidak memadai karena dia tidak memberitahukan kepada kita dari mana asal mula dunia, apa yang terjadi setelah kematian, yang seharusnya melandasi pemikiran etika. Konfusius hanya membahas soal sifat dan relasi antar manusia. Konfusius sempat menemui Laozi, ingin mengerti dao lebih dalam. Tetapi, ketika mereka bertemu, Laozi justru menegur Konfusius, “Sikap dan tampangmu yang sombong, arogan, tidak jujur, tidak rendah hati, mana mungkin kau mengerti dao?” Maka, kebudayaan Tiongkok berhenti di sana, tak ada penemuan, pengajaran tentang dao yang lebih dalam.

Adapun filsafat India mengajarkan ‘Di luar manusia ada Brahman, di dalam diri manusia ada Atman, itulah yang menyebabkan manusia menjadi makhluk yang dapat mengerti akan firman yang ada di alam semesta’. Tetapi yang mereka sebut sebagai Brahman itu hanyalah suatu prinsip. Berbeda dengan Alkitab, Yohanes berkata di ayat 1 “Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Tiga pernyataan ini langsung membahas lokasi, identitas, dan sifat dari Firman itu. Jadi, yang Yohanes kemukakan di sini bukanlah sesuatu yang ada di alam semesta, juga bukan prinsip yang berada di alam semesta, dia menjelajah sampai ke dunia metafisika, bahkan ke wilayah supra-alam, dan memberikan satu kesimpulan ‘Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman adalah Allah’ – kesimpulan yang tak pernah ada di buku, di ajaran agama, filsafat, atau kebudayaan manapun. Manusia dengan kepandaian rasionya tidak mungkin dapat mengutarakan apa yang Yohanes ungkapkan melalui ketiga kalimat di dalam Yohanes 1:1 itu.

B. Keunikan Logos Yohanes

Menurut Laozi, firman beredar, berotasi dan bergerak di alam semesta, tetapi tidak melekat, firman terikat oleh alam semesta. Firman itu ada pada dirinya sendiri, tidak bergantung pada siapapun, dan ada sampai selama-lamanya, bersifat kekal. Konsep ini mirip sekali dengan ajaran Alkitab, di mana Tuhan Allah memperkenalkan Diri-Nya sebagai satu Pribadi yang ada pada diri-Nya sendiri, ada dari kekal sampai kekal, bahkan konsep inkontingensi, imortalitas, dan kekal berasal dari Allah sendiri. Allah adalah Allah yang berada dalam Diri-Nya sendiri, Mendukung Diri Sendiri, Cukup pada Diri Sendiri, Allah yang ADA selama-lamanya. Allah ada sampai selama-lamanya, bukan prinsip, juga bukan kuasa yang ada di dalam alam, Dia adalah Pribadi yang unik, Pencipta yang pertama-tama ada di dalam konsep kebudayaan orang Yahudi. Dengan ini, Yohanes sudah memberikan suatu kerangka yang sangat jelas. Dia tidak menyamakan Firman dengan alam semesta, melainkan menyamakan Firman dengan Pencipta alam semesta. Suatu fakta dan pemikiran yang sangat berbeda, baik terhadap filsafat Timur maupun filsafat Barat. Firman itu adalah Allah, dan Firman itu tidak terikat oleh dunia ini. Penting bagi kita untuk mengerti bahwa orang Kristen percaya akan sifat Allah yang transenden (jauh melampaui dan di atas alam) bukan menempel di dunia dan juga bukan tersembunyi di dunia karena Dia melampaui dunia. Di dalam Efesus 4, Paulus mengemukakan tiga kalimat yang sangat hebat yang tidak pernah kita temukan di dalam buku lain “Allah melampaui segala sesuatu, beredar di dalam segala sesuatu, berada di dalam segala sesuatu.” Kalimat pertama langsung memperlihatkan konsep Allah orang Kristen yang amat berbeda dengan semua konsep Allah yang ada di dalam kebudayaan atau agama lain. Misalnya, Pantheisme yang memandang Allah adalah alam dan alam adalah Allah. Artinya, Allah ada di dalam alam, Allah identik dengan totalitas alam; Allah diidentikkan dengan alam itu sendiri. Allah Pantheisme ini mengaktualisasi diri-Nya lewat alam semesta yang terus-menerus berkembang tanpa berhenti. Di kemudian hari, pemikiran ini diadopsi dan dikembangkan oleh seorang filsuf Jerman, Hegel. Hegel, tidak menggunakan istilah Allah melainkan Absolute Spirit (Roh Absolut). Roh yang terus-menerus bergerak dan mengaktualisasikan dirinya di dalam sejarah lewat prinsip silogisme, yaitu adanya tesis akan dilawan oleh anti-tesis dan melahirkan sintesis.

Allah yang sejati bukan diikat dan berada di dalam lingkup alam karena alam adalah alam ciptaan-Nya. Ia berada di luar alam semesta karena Dia yang menciptakan alam semesta ini. Dia juga berkuasa atas alam semesta karena Dia juga merupakan Sang Pemelihara dan Penopang alam semesta. Pengertian yang sedemikian rumit oleh Rasul Yohanes diutarakan hanya di dalam satu ayat: “Pada mulanya adalah Firman. Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu adalah Allah.”

C. Logos dalam Pikiran Yunani

Sebenarnya, istilah logos sudah muncul beberapa ratus tahun sebelum Yohanes menulis Injil Yohanes. Kita pernah membahas dua aliran yang menggunakan istilah logos, yaitu: 1)Heracletian School dan 2) Stoicism. Tapi logos yang dibahas di dalam Philosophy of Becoming (Filsafat Menjadi) yang diwakili ole Heraklitos hanyalah berupa prinsip perubahan yang tak pernah berubah: Dulu dunia berubah, sekarang dunia berubah, dan selama-lamanya dunia akan terus berubah. Prinsip “segala sesuatu terus berubah” yang tak pernah tidak berubah inilah yang disebut “firman” oleh Heraklitos. Jadi “firman” ini bagaikan api yang dari detik ke detik, dari zaman ke zaman tetap sama: menyala, membakar, namun tidak akan pernah ada suatu bentuk api yang permanen, baku, tak berubah. Pengertian yang tidak memiliki kaitan dengan Pribadi Penciptaan dan Penguasa alam semesta ini mengandung bibit pemikiran Atheis. Seluruh konsep Atheis-Materialis yang memberi pengaruh kepada Demokritos, Karl Marx, Komunisme, sampai Atheisme Abad 21 dipengaruhi oleh Philosophy of Becoming.

Di zaman yang sama, sebelum kelahiran Heraklitos di Gerika, di Tiongkok telah ada satu buku yang sedemikian mempengaruhi kaum cendekiawan hingga saat ini: The Book of Changes (I Ching), yang memberikan deskripsi tentang ba gua (segi delapan) yaitu kombinasi 8X8=64. Intinya, perubahan dan perubahan itulah yang mengakibatkan segala sesuatu yang kita lihat mempunyai bentuk yang berbeda. Menurut pemikiran ini, seluruh keragaman di dalam alam semesta ini terjadi dikarenakan prinsip perubahan yang diterangkan dalam buku itu. Buku ini sedemikian dirindukan untuk dipelajari oleh Konfusius. Dia menga­takan “Berikan kepadaku usia lima atau sepuluh tahun lagi maka aku akan mempelajari dengan sungguh-sungguh buku The Book of Changes, agar aku bisa terhindar dan melepaskan diri dari berbuat kesalahan besar di dalam hidupku.” Jadi, sejak lebih dari 2.700 tahun yang lalu di Tiongkok sudah dikenal konsep perubahan yang kita kenal sebagaiba gua (segi delapan). Dan sejak lebih dari 2.500 tahun yang lalu, di Gerika yang diwakili oleh Heraklitos juga sudah mengenal konsep peru­bah­an yang dikenal sebagai Philosophy of Becoming.

180 tahun sesudah Heraklitos mengemukakan pendapatnya tentang perubahan men­dasar dan tentang prinsip tidak berubah, muncul suatu aliran di Gerika yang menamakan diri Stoicisme. Stoicisme dimulai sekitar abad 4 SM dan hilang sekitar abad 4 M. Selama 750 tahun Stoicisme menjadi pemikiran penting di Gerika. Pikiran ini sempat menaklukkan mulai dari istana, seperti Kaisar Markus Aurelius sampai kepada budak-budak yang cerdas seperti Epitectus, yang hidup sezaman dengan Nero dan Seneca, sezaman dengan Tuhan Yesus dan Paulus. Menurut Stoicisme, alam semesta bagaikan tubuh yang berdarah dan berdaging, tetapi tubuh ini tidak berarti apa-apa jika tidak ada jiwanya, yaitu “firman”. Maka, materi di dalam alam semesta ini adalah tubuh kosmis sedangkan firman itu adalah jiwa kosmis. Firman atau logos ini yang bekerja di dunia yang kelihatan, di alam semesta ini, yang menggerakkan bumi, musim, dan berbagai perubahan yang ada. Maka, di sini terdapat alam yang mati dan logos yang hidup. Di manakah posisi manusia? Manusia berada di tengah-tengahnya. Maka, manusia menjadi satu-satunya makhluk yang mempunyai daya pikir, yang memiliki kemungkinan untuk mencari, mengerti, dan sadar akan keberadaan dan khasiat logos. Itu sebabnya, manusia dipandang sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya dari semua makhluk lainnya. Di dalam diri manusia mengandung bagian darilogos, yang disebut sebagai logikosLogikos bagaikan tetesan air yang keluar dari induk atau sumbernya. Karena logikos keluar dari logos maka logikos memiliki sifat yang sama dengan logos. Bukan hanya memiliki sifat yang sama, tetapi juga ingin kembali bersatu dengan logos. Ini merupakan kerinduan untuk menyatu dengan “the mother water” yaitulogos. Itulah sebabnya manusia mau mendengar, memikirkan, mencari, bahkan rela mengeluarkan banyak uang untuk studi ke luar negeri demi menjadi orang yang mengerti dan pandai. Jadi, apa yang seharusnya manusia cari untuk dimengerti tidak lain tidak bukan adalah Logos. Jadi, logikos harus mencari Logos.

Filsafat India (Timur) memiliki kesamaan pemikiran dengan Filsafat Gerika (Barat). Atman yang di dalam hati ingin menyatu dengan Brahman; Logikos ingin menyatu dengan Logos. Tetapi bagi filsafat India, Brahman itu sendiri berada di dalam alam ini. Jika demikian, bukankah itu berarti Brahman ada di level materi? Namun, bukankah Alkitab juga mengatakan hal yang mirip dengan itu “di dalam segala sesuatu engkau melihat bukti bahwa Allah ada.” (Roma 1:12,19)? Bukankah itu berarti kita juga melihat Allah di dalam alam? Di dalam ayat ini dinyatakan bahwa melalui dunia ciptaan yang ada di luar diri dan intuisi yang ada di dalam diri, kita dapat melihat Allah yang tidak tampak. Hal-hal yang mungkin manusia ketahui tentang Allah diletakkan di dalam dua wadah:

  1. wadah eksternal yaitu alam semesta.
  2. wadah internal yaitu intuisi.

Melalui intuisi kita mengetahui bahwa Allah yang menciptakan segala sesuatu. Namun, manusia tetap tidak bisa mengetahui di mana Allah itu berada. Itulah yang dicari oleh filsuf India, filsuf Gerika. Namun Yohaneslah yang menyingkapkan rahasia itu: Allah ada di tempat-Nya bukan di dunia materi. Di sini kita melihat pen­ting­nya Yohanes 1:1 yang menyatakan bahwa Allah tidak menempel atau terikat dengan dunia alam ini. Di dalam Ibrani 11:3 dinyatakan bahwa “dunia ini dicipta oleh Firman Allah.” dan melalui Injil Yohanes maupun surat 1 Yohanes, kita akan menemukan bahwa Logos yang dikatakan di dalam Yohanes 1:1 adalah Logos yang merupakan sumber hidup, yang bersama-sama dengan Allah dan bukan bersama dengan alam. Logos itu juga adalah Allah, bukan alam itu Allah seperti yang diajarkan oleh Pantheisme. Betapa mengherankan ayat ini! Hanya dengan satu ayat ini saja, Alkitab mampu menghancurkan seluruh sistem kebudayaan dan seluruh aliran pemikiran filsafat. Ini membuktikan bahwa kuasa Firman Tuhan itu sedemikian besar.

Saya tidak tahu seberapa banyak orang Kristen yang dapat mengerti sejauh ini. Saya juga tidak tahu seberapa banyak pendeta yang memberi penjelasan serinci ini kepada orang Kristen. Satu hal yang pasti, jika orang Kristen tidak memiliki keinginan untuk mengerti kebenaran, dia hanya mengerti Alkitab dari kulitnya saja. Bagaikan orang yang mengupas kacang, lalu menyerakkan semua kulit kacang yang tipis itu, tetapi orang itu tidak memakan kacangnya. Maka, biarlah kita mau mengerti lebih lanjut akan keunikan Alkitab – firman Tuhan – yang mempunyai perbedaan kualitatif dibandingkan semua agama dan filsafat lain. Soli Deo Gloria.

Categories: Stephen Tong