Home > Ignas Kleden > Rasionalitas Kebudayaan

Rasionalitas Kebudayaan

Oleh: Ignas Kleden

PENGANTAR REDAKSI

Surat Budaya dari Palmerah

Lembaran budaya Bentara yang ada di tangan Anda saat ini dimaksudkan untuk menjadi ajang pertemuan berbagai gagasan kebudayaan-sesuatu yang dikonstatasi absen selama puluhan tahun dalam proses pembodohan rezim Orde Baru. Direncanakan, lembaran budaya Bentara bisa terbit sekali sebulan pada setiap minggu pertama.

Untuk edisi perdana ini, ditampilkan telaah pemikiran Tan Malaka oleh Dr Ignas Kleden. Kemudian juga tentang gagasan-gagasan ahli semiotik yang pemikiran-pemikirannya banyak mempengaruhi para pemikir postmodernis, yaitu Umberto Eco. Telaah mengenai Eco ditulis oleh pencinta kesenian Nirwan Ahmad Arsuka. Sedangkan wartawan sekaligus seniman Syu’bah Asa menulis tentang Rendra, dalam perspektif yang cukup berbeda dari tulisan-tulisan yang pernah ada.

Tak ketinggalan, untuk ikut menyemaikan kehidupan dunia perpuisian di Indonesia, dalam lembaran ini secara rutin akan ditampilkan rubrik puisi. Rubrik ini diasuh oleh presiden-maksudnya penyair yang diberi gelar “Presiden Penyair Indonesia”-Sutardji Calzoum Bachri.

Selamat membaca.

Redaksi

 

BANYAK tokoh nasional semasa Tan Malaka adalah pemikir serius dan penulis yang piawai. Mereka meninggalkan berbagai karya tulis yang sampai hari ini pun dapat dibaca dengan bermanfaat. Pamflet politik (seperti Perjuangan Kita oleh Sjahrir), teks untuk pengajaran di universitas (seperti Pengantar ke Jalan Ekonomi Sosiologi oleh Hatta), naskah untuk pendidikan politik (seperti Sarinah oleh Soekarno), atau berbagai uraian tentang pendidikan nasional (seperti ditulis oleh Ki Hadjar Dewantara) adalah bahan-bahan yang menjadi batu-sendi sejarah intelektual Indonesia.

Sekali pun demikian, di antara semua mereka barangkali hanya Tan Malaka seorang diri yang menulis sebuah traktat lengkap yang komprehensif tentang ideologi yang dianut dan dibelanya. Dengan sedikit berlebihan dapatlah dikatakan bahwa Madilog: Materialisme, Dialektika, Logika, telah ditulis oleh Tan Malaka untuk menguji paham-paham tersebut atas cara yang sama luas dan sama ketatnya seperti, misalnya, Karl Popper menulis The Open Society and Its Enemies untuk menjelaskan, mempertahankan dan menguji ideologi demokrasi liberal, atau Karl Kautsky menulis Die Materialistische Geschichtsauffassung (1927), yang dianggap interpretasi materialistis terlengkap tentang sejarah pada saat terbitnya, meski pun buku itu kurang populer di kalangan Marxis sendiri sebagai akibat konflik antara Kautsky dan Lenin, setelah Kautsky mengritik Revolusi Oktober 1917 di Rusia.

Tentulah hasil akhir yang sampai ke tangan pembaca cukup berbeda. Karl Popper menulis bukunya sebagai dosen filsafat di sebuah universitas di Selandia Baru, ditunjang oleh perpustakaan universitas dan lingkungan akademis (meskipun Popper dan istrinya hidup serba sederhana di sebuah tempat yang mereka namakan half-way to the moon). Sementara itu Tan Malaka menulis karyanya dalam pelarian dan persembunyian, dan hanya sanggup mengutip berbagai sumber dari luar-kepala dengan menggunakan teknik jembatan-keledai sebagai file dalam ingatannya. Atau seperti dengan plastis dilukiskan pengarangnya sendiri: “Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayap pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bajah, Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa Tengah dan ikut menggeleng-gelengkan kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Terakhir sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, sehubungan kasus Tan Malaka palsu… bahkan hampir saja Madilog hilang.”

Betapa pun berbedanya lingkungan dan suasana penulisan, dalam satu hal baik Tan Malaka maupun Karl Popper memperlihatkan satu keyakinan yang sama. Yaitu bahwa suatu paham politik yang kuat dan ideologi yang dianut luas, selayaknya berdiri di atas epistemologi politik yang dapat dipertanggungjawabkan sampai ke dasar yang sedalam-dalamnya, dan diuji konsekuensi-konsekuensinya sampai batas yang terjauh. Tentulah beberapa uraian dalam Madilog sekarang dapat dipertanyakan kembali karena argumen ilmiah yang digunakannya berasal dari tahap perkembangan ilmu pengetahuan 60 atau 70 tahun lalu, saat pendaratan manusia di bulan masih diterima sebagai science fiction belaka dan teleskop berdiameter 2,5 meter masih dianggap teknologi puncak untuk penelitian ilmu astronomi.

Tan Malaka belum dapat membayangkan penerbangan Apollo 11 hanya dalam waktu seminggu sehari (tepatnya 8,1 hari atau 195 jam) dari Bumi ke Bulan, dan mencoba mereka-reka perhitungannya sendiri. Menurut dia, dengan jarak antara Bumi dan Bulan sejauh 250.000 mil atau 400.000 km maka sebuah pesawat terbang dengan kecepatan 400 mil (atau 640 km) per jam dan dapat terbang nonstop, akan mendarat di Bulan setelah penerbangan dari Bumi selama 3,5 minggu (tepatnya 26 hari). Sekali pun demikian, prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan asas-asas filsafat yang digunakannya masih dapat dibenarkan hingga hari ini.

Tanpa harus menerima filsafat materialisme yang dibelanya, pembaca yang kritis dapat mempelajari berbagai persyaratan fisik-materil yang diajukannya agar supaya ada kehidupan di alam semesta ini. Nalar yang dikembangkannya adalah jelas, sederhana dan sistematis (walaupun bahasanya masif karena dia memakai cara berargumentasi yang sangat arsitektonis), sehingga tidak mustahil dapat dipahami bahkan oleh orang-orang yang mentah-mentah menampik paham materialisme. Demikianlah, pertanyaan tentang apakah ada kehidupan di planet lain selain di Bumi kita ini, menurut Tan Malaka, bukanlah pertanyaan yang mengandung misteri yang penuh rahasia. Pertanyaan tersebut dapat dijawab kalau dapat ditetapkan dua hal terlebih dahulu. Pertama, apakah yang menjadi syarat-syarat secara fisik-materil supaya ada kehidupan? Kedua, bagaimana keadaan di suatu planet, dan apakah keadaan di sana memenuhi persyaratan hidup?

Kalau direkonstruksikan maka syarat-syarat fisik-materil supaya ada kehidupan, menurut Tan Malaka, adalah sebagai berikut. 1) Suhu tidak boleh lebih dari 65,5 derajat Celcius atau 150 derajat Fahrenheit, yang berarti jarak sebuah planet dari Matahari tidak boleh terlalu jauh atau terlalu dekat; 2) Ada cukup air baik dalam udara maupun di tanah; 3) Cukup sinar Matahari agar dapat terjadi pengambilan karbon dari CO2 dalam udara dan pembuangan O2 ke udara. Adanya karbon (C) dan oksigen (O) perlu untuk terjadinya pembakaran yang menimbulkan tenaga pada hewan dan manusia; 4) Ada lapisan ozon (O3) untuk menyaring sinar gelombang pendek yang dapat membahayakan mata manusia; 5) Ukuran suatu planet tidak boleh jauh lebih besar atau jauh lebih kecil dari besarnya Bumi kita. Planet yang terlalu kecil mempunyai gravitasi yang terlalu kecil sehingga segala zat/ unsur/elemen akan mudah lolos ke luar planet. Kalau ukuran planet terlalu besar maka terlalu banyak zat/unsur/elemen yang diikat oleh daya-tarik planet itu sehingga akan ada terlalu banyak udara dan air. Atom hidrogen yang bersatu dengan unsur lainnya akan menimbulkan terlalu banyak amoniak dan zat beracun; 6) Tersedia cukup karbohidrat (seperti tepung dan gula), lemak dan minyak serta protein: 7) Ada cukup zat beracun dalam ukuran yang tidak membahayakan.

Sampai di sini mungkin ada pembaca yang barangkali berkeberatan bahwa syarat-syarat di planet lain bisa saja berbeda dari syarat-syarat hidup yang ada di Bumi sehingga sekalipun syarat-syarat hidup di Bumi ini tidak terdapat di planet lain ada kemungkinan terdapat mahluk hidup yang lain jenisnya. Terhadap keberatan ini Tan Malaka sudah menyiapkan jawabannya. Menurut pendapatnya, ilmu pengetahuan sudah menemukan dan membuktikan bahwa 92 zat/unsur/elemen yang ada di Bumi terdapat pula di planet lain bahkan juga di planet-planet dari sistem Matahari yang lain. Demikian pun diketahui juga bahwa semua zat itu bersatu dan berpisah, tarik-menarik dan tolak-menolak dengan hukum yang sama seperti antara zat-zat yang ada di Bumi.

Selain itu sudah diketahui pula bahwa zat-zat atau unsur-unsur tersebut dapat diikat pada suatu planet atau dapat terlepas dari planet bersangkutan. Para ahli telah menghitung dengan teliti bahwa terikatnya suatu zat (misalnya oksigen) pada suatu planet (misalnya Bumi kita) tergantung kepada apa yang dinamakan velocity of escape, yaitu kecepatan gerak dan tenaga yang dibutuhkan untuk dapat bebas dari gravitasi Bumi atau gravitasi planet lain. Istilah velocity of escape diterjemahkan oleh Tan Malaka menjadi kecepatan-lolos, sedangkan Dr Karlina Leksono mengatakan bahwa istilah yang dipakai dalam bahasa Indonesia astronomi adalah kecepatan-lepas. Untuk setia kepada teks Tan Malaka, uraian di sini akan tetap mempertahankan istilah kecepatan-lolos. Dengan demikian sebuah peluru yang ditembakkan ke udara dengan tenaga yang melebihi kecepatan-lolos Bumi kita (yaitu 7,1 mil per detik) tidak akan kembali lagi ke Bumi tetapi akan mencapai ketinggian tak terbatas.

Perhitungan yang dibuat oleh Sir James Jeans dan dikutip oleh Tan Malaka menunjukkan perbandingan antara kecepatan-lolos dan kecepatan gerak molekul. Semakin besar kecepatan-lolos, semakin sulit suatu atom di Bumi lepas dari daya gravitasi Bumi. Sebagai contoh, kecepatan-lolos di Bumi kita adalah 7,1 mil per detik atau 11,3 km per detik. Kalau kecepatan lolos di Bumi kita, misalnya, 5 kali kecepatan gerak molekul, maka dibutuhkan 25 milyar tahun supaya udara di Bumi ini habis. Ternyata, kecepatan-lolos di Bumi kita adalah 7,1 mil per detik, sedangkan kecepatan molekul oksigen adalah 0,2 mil per detik atau hampir 36 kali. Dengan demikian udara Bumi praktis tidak akan habis menurut perhitungan waktu manusia.

Dengan beberapa pengetahuan tersebut sebagai dasar dapatlah diperkirakan dengan cukup pasti ada-tidaknya kehidupan di planet lain. Yupiter misalnya, mempunyai ukuran massa yang jauh lebih besar dari Bumi kita (yaitu 317 kali besarnya bumi). Kecepatan-lolos sangat tinggi, yaitu 38 mil/detik. Akibatnya terlalu banyak zat yang terikat oleh gravitasinya. Udara menjadi terlalu banyak, sedangkan udara itu tidak mengandung O dan CO2. Banyaknya atom H yang bercampur dengan zat lain menimbulkan terlalu banyak amoniak dan paya yang beracun. Suhu di tempat yang terdingin adalah 140 derajat Celsius di bawah nol. Kondisi itu jelas tidak memungkinkan kehidupan.

Merkurius yang paling dekat dengan Matahari mempunyai suhu pada bidang yang menghadap ke Matahari hingga 400 derajat Celcius, dan tidak bisa mengikat CO2 dan O. Kedua keadaan itu saja membuat kehidupan apa pun akan mustahil.

Setelah memberikan uraian ilmiah tentang ada-tidaknya kehidupan di planet lain, Tan Malaka kembali ke pertanyaan filsafat: Apakah hidup itu pada hakikatnya? Dari pandangan materialistis kehidupan didefinisikannya sebagai “tenaga yang bisa mengubah zat asli menjadi zat badannya sebagai hasil penyesuaian badan dan fungsinya terhadap perubahan lingkungan.” Di sini kelihatan kehidupan dikendalikan dari empat koordinat yang mempunyai hubungan timbal-balik, yaitu lingkungan, organisme, fungsi dan adaptasi. Para ahli biologi selalu berdebat tentang bagaimana gerangan hubungan di antara satu koordinat dengan koordinat lainnya. Tan Malaka merujuk kepada tiga pandangan utama dalam perdebatan itu.

Pertama, pandangan bahwa organisme ditentukan semata-mata oleh lingkungannya. Anggota badan hewan dan manusia dibentuk oleh lingkungan selama sejarah perkembangan suatu spesies. Pandangan ini dianut oleh Lamarck dan pengikut-pengikutnya. Kedua, pandangan bahwa organisme itu sendirilah yang menentukan perkembangannya sendiri tanpa dipengaruhi lingkungan, berdasarkan prinsip predeterminasi. Ketiga, lingkungan membantu membentuk suatu organisme berdasarkan prinsip survival of the fittest. Ini artinya anggota badan suatu organisme yang cocok dengan lingkungan baru akan bertahan, sedangkan anggota yang gagal menyesuaikan diri akan punah. Inilah inti teori Darwin. Uniknya, Tan Malaka yang demikian percaya kepada materialisme lebih menerima pandangan Darwin daripada Lamarck, dan dengan itu secara tak langsung merelatifkan sedikit kekuatan lingkungan fisik-materil dalam mempengaruhi kehidupan dan perkembangan organisme. Apakah ini berarti dia menyadari risiko determinsme dalam paham Lamarck, tidak dapat disimpulkan begitu saja dari teks bukunya ini.

Seluruh uraian Tan Malaka tentang evolusi kehidupan memang bersifat materialistis. Misalnya diterangkannya bahwa zat-zat yang amat penting untuk kehidupan seperti lemak dan protein sebetulnya berasal dari zat yang lebih tua yaitu karbon. Sedangkan timbulnya karbon berhubung dengan pembentukan sebuah bintang atau planet dari glowing gas (gas bernyala) yang kemudian padam dan meninggalkan arangnya. Dalam pembicaraan dengan Dr Karlina Leksono saya mendapat penjelasan bahwa pandangan Tan Malaka tersebut amat modern, juga kalau ditinjau dari tingkat perkembangan ilmu astronomi sekarang.

Tujuan dari uraian semacam ini, seperti dikemukakannya berulang kali, adalah untuk mengubah pandangan dunia banyak komunitas di Indonesia yang berdasarkan kegaiban. Oleh karena itulah, materialisme Tan Malaka bukanlah pertama-tama propaganda pro kebendaan, melainkan lebih merupakan kampanye anti-mistifikasi pandangan-dunia yang jauh menghunjam dalam berbagai kelompok budaya di Indonesia. Paham ini diperlakukannya lebih sebagai sarana filsafat untuk menentang dan mengikis kesukaan kepada yang serba gaib, dan berfungsi sebagai kritik kebudayaan dan bukannya usul untuk suatu ontologi. Hal ini penting karena tidak banyak gunanya kita mempunyai beberapa doktor fisika nuklir dengan otak yang cemerlang, tetapi sikap hidup dan tingkah lakunya masih dikendalikan oleh tahyul.

Hal ini, dengan cara lain, telah dikatakan juga oleh Karl Popper, bahwa ketidak-mampuan orang untuk menjelaskan gejala alam dan gejala masyarakat secara empiris dan rasional, akan membawa orang kepada metafisika. Dalam pengertian Popper, metafisika adalah pernyataan yang hanya dapat diterima atau ditolak tetapi tidak dapat dibuktikan benar-salahnya. Masalahnya adalah bahwa semakin kurang orang berusaha dan berjuang untuk membuktikan sesuatu, semakin mudah pula dia berpegang pada kepercayaan-kepercayaan gaib, yang membuatnya menjadi tertutup dan keras terhadap kepercayaan lainnya. Perlu dikemukakan bahwa Popper tidak menolak metafisika dalam pengertian ini (yang jelas berbeda sekali dari metafisika dalam pengertian Aristoteles atau Thomas Aquinas). Yang ditegaskannya hanyalah bahwa soal-soal metafisika tidak dapat dipecahkan secara ilmiah, karena ilmu pengetahuan bekerja dengan pembuktian melalui metode-metode yang menguji logika penelitian dan realitas bahan penelitian. Tuduhan bahwa dengan cara itu Popper telah terjebak ke dalam positivisme tidak akan dibahas dalam uraian ini.

Dengan seluruh uraiannya yang jelas dan jernih Tan Malaka, pada hemat saya, tetap belum menjawab sebuah pertanyaan filsafat yang amat penting: bagaimana menerangkan bahwa dari sebuah zat mati kemudian dapat muncul kehidupan? Dapatkah para ahli kimia pada zaman sekarang dengan bahan-bahan kimia dan peralatan yang ada menciptakan campuran unsur-unsur yang menghasilkan sebatang rumput hidup atau seekor anak kelinci? Karbon memang dapat menghasilkan lemak, dan lemak kemudian menghasilkan protein dan protein kemudian menghasilkan telur, – semua ini diuraikan dengan amat baik oleh Tan Malaka. Akan tetapi nampaknya dia terhenyak juga ketika harus menjawab pertanyaan: apakah telur itu merupakan benda mati atau mahluk hidup? Pertanyaan ini tidak dijawabnya secara materil tetapi dijawabnya secara formal dengan mengatakan bahwa masalah ini merupakan suatu kasus dialektika.

KALAU materialisme adalah isi pandangan hidup yang dibela oleh Tan Malaka maka dialektika dan logika adalah caranya menyusun pandangan hidup yang dianggapnya sesuai dengan materialisme dan ilmu pengetahuan. Sekali pun kedua metode filsafat itu sama-sama bersemi dan lahir dari filsafat Yunani Antik, keduanya mempunyai watak yang bukan saja berbeda tetapi bertentangan. Logika adalah metode filsafat untuk menetapkan identitas. Dalam peribahasa filsafat a thing is not its opposite. Rumusnya A tidak mungkin = bukan A. Ini disebabkan karena tugas logika adalah menyingkirkan kontradiksi atau oleh Popper dinamakan error elimination. Dalam arti itu logika dengan jelas membedakan kuantitas dari yang bukan kuantitas (misalnya kualitas). Dalam pengertian logis kuantitas tidak mungkin sama dengan yang bukan kuantitas (A tidak mungkin = bukan A).

Dalam dialektika prinsip itu justru dibalikkan sama sekali. Dalam dialektika kontradiksi tidak disingkirkan tetapi justru diperkuat dan diaktifkan. Dalam dialektika sangat mungkin kuantitas dapat berubah menjadi kualitas, seperti halnya massa dapat berubah menjadi energi. Air dalam panci adalah suatu kuantitas yang diketahui ukurannya, tetapi setelah dipanaskan sampai 100 derajat Celcius maka muncul uap yang bukan lagi kuantitas melainkan kualitas. Contoh yang diberikan oleh Tan Malaka adalah pertempuran antara pasukan berkuda Napoleon dan pasukan berkuda Kalmuk. Lima tentara berkuda Napoleon kira-kira seimbang kekuatannya dengan lima tentara berkuda Kalmuk. Sepuluh tentara Napoleon sudah dapat mengalahkan lima belas tentara berkuda Kalmuk, sedangkan 1.000 tentara berkuda Napoleon sudah dapat memukul mundur 10.000 tentara berkuda Kalmuk. Hal ini terjadi karena penambahan jumlah tentara pada Napoleon sekaligus berarti peningkatan kualitas, sedangkan penambahan pasukan berkuda Kalmuk hanya berarti peningkatan kuantitas.

Jelas bahwa kedua metode ini sama-sama diperlukan dalam ilmu pengetahuan. Logika menentukan misalnya bahwa ilmu pengetahuan berdiri di atas sekurang-kurangnya tiga syarat. Yaitu 1) pengertian yang akurat; 2) adanya bukti-bukti yang tersusun secara sistematis dan 3) kemungkinan untuk melakukan penyederhanaan melalui generalisasi. Selanjutnya generalisasi ini kemudian memungkinkan dua prosedur, yaitu deduksi (yaitu generalisasi dari atas) dan induksi (yaitu generalisasi dari bawah). Sementara itu adanya pengertian yang akurat dan adanya bukti-bukti, memungkinkan verifikasi (kalau bukti yang ada mendukug suatu pernyataan) dan falsifikasi (kalau bukti yang ada menyangkal suatu pernyataan). Adapun seluruh syarat-syarat silogisme disusun untuk menentukan sifat suatu pernyataan dan ada tidaknya pertentangan antara pernyataan yang satu dengan pernyataan lainnya.

Tentulah tidak mungkin menguraikan secara rinci peraturan silogisme secara memadai dalam ruangan yang amat terbatas ini. Sekali pun demikian, patutlah dicatat bahwa Tan Malaka telah membicarakan logika dengan contoh-contoh yang demikian hidup dan praktis, sehingga peraturan-peraturan silogisme yang terkenal kering itu menjadi sangat hidup dalam uraiannya. Kepandaian Tan Malaka bukan hanya terletak pada penguasaan dalil-dalil logika dan peraturan silogisme, tetapi keterampilannya menerapkannya dalam contoh-contoh yang diambil dari berbagai kebudayaan di Tanah Air kita, dan dengan cara itu melakukan suatu kritik logis terhadap berbagai kebiasaan berbahasa dan kebiasaan berbahasa dan berpikir dalam berbagai komunitas. Hal ini menjadi lebih menarik tatkala dia menguraikan berbagai kesalahan berpikir yang biasa dilakukan. Dua contoh saja dikemukakan di sini. Menurut Tan Malaka para politisi biasanya menggunakan kesalahan atau penipuan logis yang dinamakan ignoratio elenchi. Dalam teknik ini jawaban yang diberikan tidak menjawab apa yang ditanyakan tetapi berfungsi membuat pihak yang bertanya kaget, kagum, terpesona atau takut. Wartawan sebuah koran, misalnya, bertanya kepada seorang menteri apakah benar gosip bahwa dia terlibat korupsi Bank Bali. Jawabannya (dengan teknik ignoratio elenchi) adalah: “Masak kamu tidak tahu siapa saya?” atau “Pernah nggak lihat saya meninggalkan sembahyang?” atau juga “Kamu saya kasih Rp 1 milyar, kalau bisa bawa dua bukti korupsi saya”. Semua jawaban itu hanya efektif untuk menimbulkan kesan pada penanya tetapi sama sekali tidak menjawab apa yang ditanyakan.

Hal yang sama dapat dikatakan tentang kesalahan logis lainnya yang dinamakan petitio principii yang dalam bahasa Inggris disebut begging of the question. Kesalahan yang terjadi adalah bahwa apa yang harus dibuktikan, kemudian diambil sebagai bukti. Menurut Tan Malaka, kebiasaan berpikir ini seringkali muncul dalam cara pikir berdasarkan kepercayaan-kepercayaan yang bersifat metafisik. Dalam paham kekuasaan yang berdasarkan kepercayaan tentang pulung atau wangsit, maka pembuktian legitimasi biasanya dilakukan dengan jalan petitio principii atau logika melingkar. Dengan demikian kalau ditanyakan mengapa Ken Arok dapat menjadi raja sekalipun dia berasal dari kalangan sudra, maka dijawab, karena dia mendapat wangsit. Seterusnya, kalau ditanyakan mana buktinya bahwa dia mendapat wangsit, maka dijawab, karena Ken Arok dapat mencapai kekuasaan seorang raja.

Dengan jalan seperti ini secara tak langsung penerapan logika dalam kehidupan sehari-hari membantu mengukur tingkat rasionalitas suatu kebudayaan, dan seberapa jauh suatu kebudayaan dapat menerima dan menyerap ilmu pengetahuan ke dalam dirinya. Di samping itu, logika juga berguna untuk menerobos kebiasaan dalam kebudayaan yang mengunggulkan dan memuliakan yang serba samar, opaque, atau implisit. Ketakutan kepada kejelasan dan watak eksplisit, sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan modern yang berdiri di atas asas pembuktikan, keberanian membuat proposisi yang seterang mungkin. Karl Popper selalu menekankan bahwa suatu pernyataan ilmiah harus dibuat sejelas dan sesederhana mungkin, sehingga memudahkan orang lain untuk segera melihat baik kebenaran maupun kesalahan yang ada di dalamnya. Kecenderungan kepada yang samar dan implisit, tidak selalu mencerminkan kehati-hatian, tetapi ketakutan untuk melakukan kesalahan dan kesombongan untuk menyembunyikan kesalahan yang mungkin timbul. Dengan kata lain, dipandang dari segi ilmiah, kecenderungan kepada keadaan serba samar, tersirat, dan tidak eksplisit, merupakan tanda ketakutan untuk bertanggung jawab.

Kalau logika dibutuhkan untuk melihat suatu identitas (yaitu jawaban terhadap pertanyaan “apa itu?”) maka dialektik dibutuhkan untuk memahami perubahan, yaitu peralihan dari suatu identitas ke identitas lainnya. Baik Hegel maupun Marx memperkenalkan metode ini sebagai suatu metode bekerjanya sejarah. Apa yang dicoba oleh Tan Malaka, adalah menunjukkan bahwa bahkan gejala-gejala alam pun sering bekerja menurut prinsip dialektika. Setiap identitas selalu dihadapkan dengan non-identitas (atau A selalu diperhadapkan dengan bukan A), dan dari pertentangan keduanya muncul identitas baru. Biji padi adalah sebuah tese dalam alam. Identitas ini hilang ketika biji itu bertumbuh menjadi tunas dan kemudian batang padi yang menjadi antitesenya. Sedangkan sintesenya adalah biji pada yang lebih banyak dari beberapa biji yang ditanamkan si petani di sawahnya. Demikian pula jadinya dengan protein yang merupakan suatu tese. Protein sendiri bukanlah suatu makhluk hidup. Protein ini menghilang dalam antitesenya berupa telur, dan sintesanya adalah seekor anak ayam yang merupakan makhluk hidup.

Dilihat dengan cara itu, mungkin berbagai persoalan yang menyakitkan sekarang di Indonesia dapat dilihat dengan cara yang lebih dialektis dan karena itu memberi harapan. Tese di sini adalah stabilitas dan harmoni Orde Baru yang tidak mengizinkan perbedaan dan konflik. Antitese reformasi adalah konflik dan kekerasan yang tidak mengenal kompromi. Sintese yang kita harapkan adalah kemampuan mengelola konflik dalam suatu suasana terbuka yang lebih demokratis. Atau dalam bentuk lainnya, KKN adalah tese budaya politik Orde Baru yang dilindungi oleh otoritarianisme politik. Antitesenya adalah demonstrasi yang tak berkeputusan terhadap setiap dugaan korupsi dalam birokrasi yang disertai oleh semacam otoritarianisme moral dalam masa reformasi. Sintese yang kita harapkan adalah suatu pemerintahan yang terbuka yang memberi akses kepada kontrol sosial secara demokratis.

Tan Malaka sendiri berpendapat bahwa baik logika maupun dialektika harus dipergunakan secara bersamaan, tergantung apa yang hendak diselidiki. Logika adalah metode untuk mengetahui salah satu keadaan yang dipilih untuk diteliti. Sedangkan dialektika dibutuhkan untuk memahami perubahan keadaan tersebut kepada keadaan lainnya.

Saya sendiri berpendapat bahwa penggunaan bersama logika dan dialektika itu dibutuhkan untuk menghindari beberapa risiko. Pertama, kalau pun ada dialektika dalam sejarah dan dalam alam sekali pun, dialektika itu bukanlah suatu proses alamiah yang berjalan dengan sendirinya (secara otomatis-mekanistis). Khususnya dalam perkembangan sosial, dialektika selalu merupakan dialektika manusia sendiri, yang aktif mengatasi persoalannya dan berusaha memperbaiki kondisi hidupnya. Ini berarti kekerasan yang terjadi di Ambon atau Aceh tidak dapat dibiarkan saja sebagai suatu antitese oleh reformasi terhadap politik Orde Baru, yang akan dengan sendirinya menghasilkan sintese berupa kehidupan demokratis yang lebih terbuka. Antitese itu harus diatasi (di-aufheben, menurut Hegel, dalam bentuk pembatalan dari pembatalan atau Negation der Negation) untuk menghasilkan keadaan atau kualitas baru yang dinamakan sintese. Jadi, kalau kekerasan itu dibiarkan begitu saja dan tidak dibatalkan secara sengaja dengan berbagai usaha aktif (seperti misalnya dilakukan oleh Dr Thamrin Tomagola dan kawan-kawannya dalam kasus Ambon), maka kekerasan itu akan membawa kepada kehancuran dan bukannya kepada kehidupan yang lebih demokratis.

Kedua, sekali pun ada faktor-faktor obyektif dalam sejarah yang menggerakan dialektika, proses ini tidak dapat menghilangkan tanggung jawab orang-orang yang terlibat di dalamnya. Ada semacam ketegangan yang selalu timbul antara kekuatan obyektif sejarah dan tanggungjawab moral pelakunya. Kematian atau, lebih tepat, terbunuhnya Marsinah, tak pelak lagi, besar manfaatnya untuk memperkuat gerakan buruh di Indonesia dalam memperjuangan hak-hak mereka yang lebih sesuai dengan keadilan. Sekali pun demikian, pembunuh Marsinah tidak dapat membusung dada bahwa dia telah berjasa menciptakan suatu antitese yang berguna untuk perbaikan nasib buruh. Pada titik itu si pembunuh harus diperlakukan sebagai makhluk moral dan subyek hukum yang wajib memberikan pertanggungjawaban tentang salah-benar perbuatannya, suatu hal yang tidak bisa lagi dilakukan secara dialektis, tetapi hanya dapat diuraikan dan diperiksa secara logis. Pada titik ini dialektika berakhir, dan logika harus diterapkan kembali. Dalam logika, apa yang baik tidak mungkin sama dengan apa yang tidak baik, dan yang jahat tidak mungkin sama dengan yang tidak jahat. Dialektika barulah berfungsi kalau harus dijelaskan bagaimana seorang pembunuh kemudian berubah menjadi seorang pekerja sosial yang penuh pengabdian, atau bagaimana kejahatannya telah medatangkan kebaikan untuk gerakan buruh di Indonesia.

Pentingnya kedudukan logika dalam kehidupan moral ini merupakan suatu lowong besar yang relatif diabaikan dalam buku yang ditulis dengan pengetahuan luas, disiplin yang tinggi, dan kejujuran yang mendalam. Tetapi kekurangan ini barangkali dapat dijelaskan berdasarkan pandangan sejarah Tan Malaka, bahwa baik-buruknya seseorang sangat dipengaruhi oleh situasi sejarah di mana dia hidup. Kalau benar dugaan ini maka di situlah terdapat suatu inkonsistensi besar dalam pemikiran Tan Malaka. Karena, dalam evolusi biologis dia memberikan kebebasan relatif kepada suatu organisme untuk bertahan terhadap lingkungan fisiknya, tetapi dalam evolusi moral dia malahan tidak memberi kebebasan relatif kepada manusia untuk bertahan terhadap sejarahnya.

URAIAN tentang pemikiran Tan Malaka ini dimungkinkan berkat terbitnya kembali buku Madilog pada tahun 1999 oleh Pusat Data Indikator, Jakarta, dengan Pengantar oleh Wasid Soewarto. Penerbitan kembali naskah ini (juga oleh penerbit lain) patut disambut dengan gembira, karena dengan itu ditemukan kembali suatu matarantai penting dalam sejarah intelektual Indonesia, yang untuk waktu yang lama hanya terpendam dalam gudang, atau disembunyikan bawah tanah. Buku seperti ini akan dikutip berkali-kali ditahun-tahun mendatang sebagai buku sumber. Karena itulah penerbitannya perlu didukung oleh editing yang lebih teliti dan profesional.

Berbagai kutipan bahasa asing (Latin, Inggris, Jerman, Belanda) masih penuh dengan kesalahan besar-kecil, yang pastilah akan diteruskan ke generasi pembaca berikut, kalau tidak dibenahi dari sekarang. Ada berbagai kesalahan penulisan kata atau istilah asing. Di sini tidak tidak akan dibicarakan kesalahan-kesalahan bahasa yang sekali pun memerlukan koreksi, tidak terlalu mengganggu pengertian. Namun demikian, ada beberapa kesalahan yang fatal, karena mengganggu seluruh pengertian dalam uraian Tan Malaka.

Konsep dasar dalam filsafat Marx adalah keaktifan manusia, action, Konsep dasar dalam filsafat Marx adalah keaktifan manusia, action, yang dalam bahasa Jerman disebut Taetigkeit. Manusia, dalam pandangan filsafat Marx, bukanlah pertama-tama makhluk yang berpikir seperti diajarkan oleh Aristoteles dan kemudian dipertajam oleh Descartes. Bagi Marx, manusia pertama-tama adalah homo agens, makhluk yang berbuat, bertindak, bekerja (sebagai makhluk yang taetig). Konsep Taetigkeit boleh dikata menjadi fundamen seluruh filsafat Marx. Dalam edisi ini konsep itu berulangkali ditulis sebagai fatigkeit (hlm 134, 135, 136, 137 dan di beberapa halaman lain), yang sayangnya dalam bahasa Jerman tidak mempunyai arti apa pun.

Demikian pula dalil Hegel tentang sejarah — bahwa sejarah dibentuk oleh ide absolut — (hlm 46), menurut redaksi penerbitan ini berbunyi: Die absolute Idee macht die Gesichte. Pembaca yang tidak mengenal filsafat Hegel tetapi paham bahasa Jerman akan pusing tujuh keliling membaca kalimat itu. Kekeliruan terjadi karena kata Geschichte yang berarti sejarah ditulis sebagai Gesichte yang merupakan bentuk jamak dari kata das Gesicht, yang berarti muka atau wajah orang. Jadi kutipan sebagaimana tertulis dalam edisi ini berarti: ide absolut menciptakan wajah orang-orang. Karena itulah, untuk edisi berikut pada cetak-ulang nanti sangat dianjurkan agar editor dan penerbit meminta nasihat dan keterangan dari orang-orang yang kompeten. Dengan berbuat demikian, mereka telah menyumbang banyak terhadap keberlanjutan sejarah intelektual di Indonesia, bukan saja dengan dedikasi, tetapi juga dengan kritik dan koreksi.

Akhir kata, tanpa hendak melibatkan rekan dalam kekeliruan yang mungkin masih ada dalam tulisan ini, penulis menyampaikan terimakasih kepada Dr Karlina Leksono, sarjana filsafat dan ahli astronomi, yang telah membantu penulis memahami berbagai argumen astronomi yang telah digunakan oleh Tan Malaka dalam sebuah karya yang amat layak disebut sebagai suatu milestone sejarah intelektual Indonesia.

Ignas Kleden, sosiolog, tinggal di Jakarta

Categories: Ignas Kleden
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: